Showing posts with label Tour de Batam. Show all posts
Showing posts with label Tour de Batam. Show all posts

Thursday, December 11, 2014

Catatan dari Batam 1; Coffee Culture

jarum jam baru menunjukkan angka 6 di pagi hari tapi kedai kopinya sudah ramai begini

Coffee culture describes a social atmosphere or series of associated social behaviors that depends heavily upon coffee, particularly as a social lubricant.
(Wikipedia)

Ketika punya kesempatan untuk tinggal di kota ini, bangunlah pagi-pagi, nikmati keindahan sunrise ataupun langsung beraktifitas. Pagi hari adalah waktu yang sayang untuk dilewatkan di kota ini. Buat saya yang tidak bisa alpa dari secangkir atau dua cangkir kopi pada pagi hari, kota ini adalah sekeping kecil syurga. Sebagai bagian dari kebudayaan Melayu, keluar rumah untuk menikmati secangkir kopi dan sarapan adalah hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat kota Batam. Saya tidak terlalu menyadarinya pada kunjungan pertama saya ke kota ini dua tahun yang lalu. Kali ini, berkat seorang kawan yang ingin bertemu untuk mengobrol dan bertukar pikiran, pagi ini saya memacu motor saya ke arah Jodoh, salah satu daerah padat pemukiman dan juga sentra bisnis di Batam. Yang menjadi petunjuk saya hanya satu kata; Morning Bakery.

Berbekal IMap dan ditambah tanya sana-sini dan nyasar, sampailah saya di sebuah bangunan dengan arsitektur yang sama sekali tidak dekoratif, hanya sebuah bangunan berupa beberapa ruko yang digabungkan menjadi satu. Akan tetapi, di bangunan dengan tampilan tidak menarik inilah tersaji apa yang saya cari selama ini; secangkir kopi racikan manual ala Melayu peranakan. Saya menjatuhkan pilihan saya pada sekangkir kopi O. Sama dengan di Sabah, Malaysia, kopi O, berarti kopi saja tanpa campuran apa pun. Pilihan kue-kue fresh from oven yang terpampang di etalase benar-benar membuat saya ngiler. Lapar mata membuat saya memilih 6 jenis kue dengan kue favorit menurut lidah saya adalah cake pisang.

Ramai penikmat kopi di Morning Bakery, Jodoh, Batam

Ngopi pagi di sini bukanlah sekedar menikmati secangkir kopi. Seperti kata mbah Wikipedia tadi, ia adalah social lubricant. Kopi di sini adalah secangkir minuman yang mengumpulkan orang-orang bertemu untuk berbagai kepentingan. Atau mungkin sebaliknya, mereka bertemu untuk kepentingan tertentu, tapi kepentingan itu akan menjadi lancar ketika ada kopi, yah bayangkanlah kopi sebagai lubricant (pelumas). Lihatlah di seberang meja sana; tampak sekelompok kokoh-kokoh muda dengan pakaian rapi yang memberikan kesan professional yang tampaknya mampir sebelum masuk kantor. Seorang bapak muda tengah asyik menyuapkan kue ke mulut anak laki-laki balita. Budaya ngopi pagi tidak melulu domain laki-laki karena di sudut sana sekelompok ibu-ibu tengah asyik ngerumpi, sekelompok gadis-gadis dengan dandanan chic tengah asyik membicarakan pekerjaan. Segerombolan perempuan muda di ujung sebelah sana mungkin adalah ibu-ibu muda yang memutuskan untuk nongkrong dulu sekedar untuk berbagi gossip dan curhatan rumah tangga setelah mengantar anak-anak ke sekolah.. Dan, di meja ini ada saya dan Dave, dua teman lama yang ingin berbagi kisah setelah lama tidak bersua.


Berbeda dengan kebanyakan ngopi ala Amerika yang lebih kepada take away, grab a coffee to go, ngopi di sini berkawin dengan budaya Melayu yang terkesan santai. Jadi, mari nongkrong dulu. Di balik geliat industri manufaktur, bangunan-bangunan berbentuk kotak-kotak ruko yang memenuhi kota, resort-resort mewah dan limpahan pengunjung negara tetangga di akhir pekan, saya jatuh cinta dengan satu geliat masyarakat di pagi hari; Coffee culture, ngopi pagi.


Di daerah lain, ngopi pagi lebih banyak dilakukan di rumah atau kedai kopi kecil yang bertahan di kampung-kampung. Berbeda dengan di derah-daerah dengan akar budaya Melayu dan peranakan, ngopi adalah kegiatan sosial. Memulai pagi dengan sarapan di Bakery dengan kopi dan aneka cake dan sarapan lain yg lebih berat bersama teman-teman, rekan bisnis, atau memboyong satu keluarga. Sungguh, kedai kopi ini tempat untuk semua kalangan social; selama ada lembaran rupiah di dalam kantong untuk sekedar menebus segelas kopi yang kalau memakai standar SG dolar yang banyak dipakai sebagai standar harga di sini, secangkir kopinya tidak sampai satu dolar. Dengan kenikmatan kopi yang saya hirup di cangkir di depan saya plus ambience ini, saya tidak keberatan untuk membayar lebih.




Dari semua kedai kopi di Batam, favorit saya adalah Morning Bakery yang di Jodoh. Akan tetapi kalau saya harus mulai bekerja agak pagi, saya cukup pergi ke Morning Bakery yang berada di daerah Sungai Panas. Kalau kebetulan anda berkunjung di akhir pecan, siap-siap untuk tidak kebagian tempat. 

Tuesday, July 5, 2011

Tanjungpinang Trip; jalan Bareng Mak-Mak

Bar semangat dan bahagia saya sedang penuh. Ada banyak hal yang ternyata luput dari perhatian saya yang seharusnya membuat saya bahagia dan bersemangat. Saya bersyukur karena sekrang sudah menyadari dan menjadi booster semangat saya. Selain hal-hal kecil yang terabaikan tadi, satu anugerah yang membuat saya bahagia adalah karena memdapatkan seorang teman. Thanks berat seberat barbell 30 kilo deh buat Kak Dian Prima yang sudah mengenalkan saya dengan Nyonya Jumi the expat's wife itu. Baiklah, untuk membuat the expat's wife merasa muda kita ganti saja panggilan nyonyo dengan mbak ya. Sungguh, saya senang sekali bisa ngobrol-ngobrol sama beliau. Tapi pertanyaannya, beliau senang nggak ya? Hehe…anggap saja senang.


 

Setelah pertemuan pertama yang diisi dengan nonton "Serdadu Kumbang"nya Ari Sihasale, kami sepakat bertiga untuk jalan ke Tanjung Pinang. Membayangkan akan melakukan perjalanan melintas perairan, saya senang sekali. Prinsip saya, kalau jalan-jalan naik perahu, pasti bakal menyenangkan.


 

Ketika Kak Dian dan Mbak Nita the expatsSaya sudah siap dengan sling bag besar berisi kamera, buku, majalah dan perlatan 'kegantengan' serta tidak ketinggalan 1 botol air minum ukuran 1 liter berwarna hijau ngejreng dari Tupperware yang belakangan ini menjadi barang bawaan wajib saya kemana-mana. Sementara Mbak Nita sudah menyiapkan satu kotak kacang telor yang sumpah enak sekali di kotak tupperwarenya. Kotak Tupperware warna ungu beliau terus-terusan nangkring di pangkuan saya dan menjadi saksi kekatifan tangan dan mulut saya yang mencomot kacang tanpa jeda. Ternyata enak ya, jalan sama mak-mak:)


 

Memasuki kabin boat, hawa dingin langsung menyerang. Hfffhhhh….seharusnya saya membawa jaket atau minimal ham deh. Masalahnya saya tidak tahu kalau bakal berada dalam boat tertutup dengan AC yang menggigit begini. Seat terisi penuh dengan penumpang segala macam rupa. Ada ibi-ibu dengan anak-anak kecil yang tangannya aktif seperti saya; suka bantuin nyomot kacang dari Tupperware. Ada bapak-bapak yang tampaknya gold eddicted dengan dandanan eksekutif. Atau pejabat? Ah, mungkin dua-duanya.


 

Dengan nista saya diam-diam memandangi bapak berperut buncit yang menggenggam dua smart phone sekalgus itu. Jam tangannya berwarna emas menyala. Ada dua cincin emas berkilau-kilau di masing-masing jari manis kedua tangannya. Sya masih bertanya-tanya, mengapa sih namanya jari manis? Kenapa bukan jari cincin saja? Atau karena si jari itu dipakaikan cincin terus jadi manis? Wah, sepertinya penyebutan itu itu tidak cocok dialamatkan kepada jari laki-laki deh. Buktinya si Bapak itu walaupun sudah memakai dua cincin sekaligus, besar-besar pula, tapi jari-jarinya tidak tampak manis sama sekali. Kembali saya menelusuri aksesoris yang melekat di Bapak emas itu. Saku bajunya juga dihiasi dengan pulpen berwarna emas. Di lehernya juga mengintip malu-malu kalung emas segede rantai kaleng bisuit lebaran zaman saya kecil dulu. Tidak cukup sampai di situ, ketika saya menuju geladak untuk beraksi dengan kamera, saya melihat si bapak juga sedang berdiri di geladak sambil menghembus asap rokoknya dengan nikmat. Dan rokok itu pun berbungkus dengan kertas timah emas di setiap batangnya. Sepertinya bapak itu anggota sekte pemuja emas.


 

Beridiri di geladak menyaksikan laut yang terbelah karena dilewati oleh badan boat yang melaju kencang sangat menyenangkan. Laut biru,langit biru! Kita memang harus bersyukur ditakdirkan tinggal di Indonesia. Pengen merasakan perjalanan laut dengan pemandangan spektakuler begini saja tidak perlu menunggu liburan panjang dan terbang melintasi benua. Cukup berkunjung ke pulau tetangga dengan jarak tempuh tidak lebih dari satu jam.


 

Melangkahkan kaki keluar dari gerbang pelabuhan Tanjungpinang, saya merasa mendadak jadi seleb. Ada banyak orang yang melambai-lambaikan tangan dan memanggil-manggil. Ada juga yang langsung datang mengerubuti. Woiiii…wake up man! Itu tukang taxi yang berebut menawarkan jasa. Sesuai dengan pesan keramat yang kita jaga, bayar Taxi tidak boleh lebih dari Rp. 20.000. Tapi saya tidak membayangkan kalau kalau Mbak Nita the expats wife bakal sesadis itu menawar taxi; 20 rebu, take it or leave it! Love his way! Hoho….si Bapak Taxi tanpa banyak cingcong langsung membawa kami meluncur menyusuri jalanan sepanjang pantai menuju gubernuran tempat teman saya akan menyelsaikan urusannya sebelum kita city tour.


 

Kantor gubenrnur Kepri terletak di atas sebuah bukit kecil yang membuat kita leluasa memandang ke penjuru kota. Menunggu ibu-ibu itu menyelesaikan urusannya, saya memilih nongkrong di kantin gubernuran. Dari hanya tertarik mencoba ngopi di bawah payung-payung di bawah kerindangan pohon keinginan saya bergeser ke mencoba soto yang sepertinya menggoda seperti yang dilahap oleh bapak-bapak di sebelah saya. Wow! Rasanya boleh juga. Berbeda dengan rasa soto-soto di Jawa. Kuahnya juga berbeda.


 

Urusan selesai, saatnya makan-makan. Melalui panduan referensi terpercaya yang ditelfon bolak-balik berulangkali karena kami sempat bingung ketika sampai di simpang enam. Oalah…ternyata restoran yang dituju hanya berapa koprolan saja dari kantor gubernur. Sebuah restoran yang menyajikan makan secara prasmanan. Otak saya sudah bersorak-sorak melihat seafood dengan berbgai olahan yang seperti berlomba-lomba berteriak minta dicicipi.


 

Dengan pertimbangan tidak mau ribet, saya memilih makan cumi-cumi dengan kuah hitam pekat. Satu jenis makanan yang tidak boleh dilupakan kalau anda makan makanan khas suatu daerah. Sambal! Saking sukanya sama sambal, saya sering memaafkan rasa makanannya kalau sambalnya enak. Itu buah dari pengalaman 3 tahun tinggal di Lombok. Di restoran ini ada tiga pilihan sambal yang karena bingung memilih yang mana, saya ambil ketiga-tiganya. Di sambal yang pertama lidah saya langsung mendeteksi rasa nanas yang segar. Hmmm…saya suka yang ini. Sambal kedua cukup familiar; rasa udang-udang kecil yang lebih kecil dari ebi yang kalau di kota saya disebut sepi (dibaca seperti membaca 'semi' pada kata 'semi permanen'). Sambal yang ketiga yang paling pedas. Berisi irisan bawang merah dengan aroma ikan yang menggigit. Sayangnya saya lupa nama setiap jenis sambal itu. Tapi kalau anda ke Tanjungpinang, wajib dicoba.


 

Saya agak menyesal karena makan soto sebelumya. Akibatnya perut saya tidak bisa lagi mengakomodir keinginan otak saya untuk mencicipi makanan-makanan laut yang membuat ngiler itu lebih banyak lagi. Akan tetapi kami masih sempat mencomot beberapa potong kue untuk bekal dalam perjalanan pulang. Biasa mak-mak. Harus tetap jinjing sana dan sini. Dan saya bersyukur dengan kebiasaan bagus banget itu. Saya nggak bakal kelaparan.


 

Hari sudah beranjak sore ketika kami kembali menyusuri jalan di tengah kota Tanjungpinang. Dengan pertimbangan bijak dari dua orang mak-mak teman perjalanan saya, kita memutuskan untuk segera kembali pulang ke pelabuhan agar bisa menyeberang kembali ke Batam sebelum hari gelap. Tapi kami menyempatkan untuk duduk-duduk ngopi ganteng di pinggir pantai yang tidak landai tapi berangin sepoi asoy geboy itu. Sebuah keputusan yang dikutuk oleh salah satu mak-mak setelah hujan dengan lebatnya mengguyur pantai. Kalau saya sih malah senang banget. I love rain! Hujan selalu memberi saya syahdu.


 

Walaupun ada sedikit tragedi lupa yang selalu menghampiri saya kalau sedang trance dengan rasa senang ketika jalan-jalan, perjalanan kali ini sangat menyenangkan. Kali ini saya meninggalkan botol minum Tupperware kesayangan saya di restoran. Dengan tersipu-sipu malu yang membuat saya tambah ganteng kinyis-kinyis (oke, bagi yang tidak setuju, harap maklum dan diam), saya harus kembali naik angkot untuk menjemput si Tupperware itu.


 


 


 


 

Monday, June 20, 2011

The Beach



I love beach. For me, it's a most enjoyably place that existence in the words. Therefore, whenever I want to go for holiday I'll choose beach for my destination. Feeling the breeze wind on your face, clear away all the problem that i have. Lucky me, Indonesia has abundant beach surround. Unlike my Abang who always whine about beach but only can visit Bali once until twice a year.

Last week I and some collegial friends were having a good time outing to the the beach. Here are the pic:

Usually it's difficult to find my pic when I go out with friends. It's because I always be a photographer. But this time, I had lot. Thanks to Tika for taking my place being a photographer:)


Free up your step. Feel the breezy, feel the rush of the ocean

Having such kind of veranda like this is just so perfect! It should be you there sitting in my side, Sunshine:)

Jumping into the Blue



Sunday, June 19, 2011

Saturday Night Story; Whether it’s a SWOT or a TOWS We Have to Dream

Saturday Night. What so special of it? It sounds like a pathetic question from a single guy who doesn't have someone to hang out with*lol*. No, it's not about it. In my case, I never been considering a Saturday night as a special night in my life. However, when I was in Malang, I always went to my favorite café, Coffee Time to enjoy life music performances. Do not imagine a crowded atmosphere like you have in the night club or disco. It's a cozy café with tranquil atmosphere and nice people surround. It was a place where I had been my thesis when I was a student. Therefore, the cafés in Malang commonly is a place to serene your soul or to finish your college project. I miss these places so much now.


 

I couldn't find that kind of place here in Batam. Therefore, I planned to spend my time to enjoy the art of doing anything in my place. Having my own created coffee and pancakes until a friend of mine offered me to go with him to a 'remaja mesjid' gathering. He wanted me to share and give a motivation session for them. So, there we go.


 

When I got there, I only found few teenagers waiting. A few minute later, other teenager came. With a bunch of 'gorengan' accompanied I gave them some insight. I just felt that they need to expand their horizon and to know themselves well. When there were some of them couldn't describe themselves, I joked; okey guys you better to introduce yourself to yourself first.


 

Knowing yourself is one of the key to be a success man. Knowing yourself mean you know what do you want in this life and what are your weakness and strength. Based on that knowledge, we can dream what we could be; we can set the strategy to reach that dream. For more sophisticated strategy we can use the classical mapping of SWOT or the more recent one TOWS. I like Hermawan Kertajaya's explanation about this mapping in his awesome book, Grow with Character.


 

These both mapping strategy actually included of same point. What differ between them is in the paradigm. TOWS Paradigm tend to make the make the footing on past. It's a bias. It means, when we list your strength you tend to look back the strength you had in the past and define our strategy on it. SWOT put the strength and weakness (SW) that are the internal aspect for the footing to define the strategy. Therefore, we'll never think out of your condition. We cannot make a breakthrough strategy. You are limited by the weaknesses and strength that you have listed. The strategy we make tends to be a defendant strategy.


 

However, when you use TOWS mapping you put the Threat and opportunity (TO) as a footing to decide our strategy. The strategy that you make is based on the threat and opportunity that always change. Therefore, this paradigm is a future paradigm. Instead of rushing with our weakness and strength problem, we are 'forced' to improve our strength to meet the threat and opportunity. We will think to manage our weakness so we can face the threat and fulfill the opportunities. The strategy we produced is progressive. Though, it hard anyway. However, it's always needed more trial and effort to get the best things, isn't it?


 

However, What I presented to these teenagers in not this sophisticated theory. I just hope that they have awareness about what happen outside. I want them to look outside their window and motivated to involve in the change that happen. I want them to prepare themselves to meet these changes. I want to encourage them to dream high because the fact we found is the higher education we got the lowest dream we have.


 

It's my Saturday night story. What about yours?


 

Saturday, June 18, 2011

Weekend; Second Hand Underwear

Apa arti weekend buat anda? Kalau saya, weekend adalah waktu dimana saya bisa total mengerjakan hal-hal yangsaya suka di luar rutinitas pekerjaan. Itu bisa berarti saya melakukan evaluasi penuh terhadap program kerja saya, merapikan file-file, membuat perencanaan, edit-edit foto, masak, baca buku sepuasnya atau jalan-jalan sendiri buat hunting foto dan berenang. Saya sangat menikmati weekend saya. Akan tetapi weekend belakangan ini saya jarang lagi jalan sendiri. Saya sedang tidak siap untuk menyendiri sekarang. Pengaruh umur kali ya? Ah, tidaklah. Saya kan masih sangat mudaJ


 

Rutinitas weekend saya kalau tidak ada perencanaan spesifik untuk suatu kegiatan sangat-sangat santai dan terkesan malas-malasan. Tapi saya sangat menikmatinya. Kalau kata orang Italia sih, 'Dolce jauh niente' dan dalam bahasa pangeran William kira-kira artinya 'the sweetness of doing nothing'. Terkadang banyak orany yang merasa bersalah karena telah menggunakan waktunya untuk bersenang-senang dan bermalas-malasan. Menurut saya sih rasa bersalah itu muncul karena mereka tidak meniatkan untuk bermalas-malasan dan belum mengerti the sweetness of doing nothing.


 

The sweetness of doing nothing akan bisa dinikmati kalau anda tidak mempunyai tunggakan pekerjaan lagi. Makanya sebelum anda akhir pekan, selesaikan semua sisa pekerjaan anda atau kalau tidak targetkan jadwal untuk menyelesaikannya sebelum masuk lagi ke minggu berikutnya. Jika tidak, alih-alih menikmati the sweetness of doing nothing, anda malah akan dihantui oleh pekerjaan yang anda tangguhkan dalam setiap aktifitas anda. Makanya, ada namanya prinsip penggenapan. Ada banyak kesuksesan dan kebahagiaan yang tidak bisa diraih karena masih ada yang belum genap diselesaikan dalam proses untuk mencapai kesuksesan itu. Mungkin saja itu hanya masalah kecil atau juga mungkin maslah hati.


 

Weekend minggu lalu, saya full jalan-jalan. Pagi harinya, setelah membaca, saya ke flea market untuk membeli tas kamera dan hunting-hunting foto. Ada satu hal yang membuat saya miris, jijik dan sekaligus merasa lucu dan malu. Di flea market yang besar banget dan super komplit itu memang menyediakan kebutuhan apa saja mulai dari perabot, mainan, kitchen set, bunga-bunga plastik dan clothing item dari A-Z. melihatnya saya membayangkan semua barang itu didapat dari mengosongkan satu rumah saking lengkapnya. Hampir semuanya limpahan dari Singapore. Yang membuat saya miris dan harga diri serasa dilecehkan adalah melihat underwear yang juga second hand bergelantungan di sebuah lapak besar yang kelihatannya memang specialist underwear.


 

Dari beberapa yang sempat saya perhatikan sih underwear-underwear buat bapak-bapak itu memang branded. Kalau saya bilang branded, put away that crocodile, GT Man, HINGS from your mind. Itu hanya cocok dipakai oleh bapak-bapak ya. Branded itu ya, 21st, D&G, GAP, Banana Republic, Calvin Klein atau paling tidak Pierre Cardin. So boys, now check out what are you wearing right now!

Walaupun barang-barang itu branded tapi kan second hand alias pernah melekat di kulit orang lain. Bagaimana kalau dia panuan. Bagaimana kalau dia punya penyakit kulit menular. Atau walaupun dia tidak punya penyakit kulit, memakai underwear bekas orang lain itu kan benar-benar merendahkan harga diri ya. Padahal kan harga underwear di pasaran kan nggak mahal. Bawa duit 50 rebu kan sudah dapat yang cukup bagus di department store sana. Atau bisa juga beli yang digelar emak-emak di pasar yang saya sering dengar dari teriakan-teriaknnya sih ada yang 10 rebu dapat dua apa tiga gitu.


 

Hari Minggu saya diajak kumpul-kumpul sama teman dengan para anggota dan simpatisan partainya. Karena saya butuh teman buat ngobrol-ngobrol sekaligus bertemu ustadz saya buat kasi senyum karena paginya n\tidak datang ke pertemuan pekanan, saya sambut dengan gembira. Apalagi kumpul-kumpulnya di restoran sunda. Pastinya bakal bertaburan makanan sunda dong? Dugaan saya benar 100%. Karena banyak yang tidak datang, jatah makanan yang disediakan restoran untuk 100 orang harus dihabiskan oleh beberapa puluh orang saja. Tidak sanpai setengah dari target.


 

Setelah mabuk makanan sunda, saya diajak jalan sama teman. Dia mengajak saya melihat-lihat ruko yang akan jadi calon kantor kami yang baru. Setelah itu saya diajak untuk melihat Singapore dari pantai. Melihat bangunan di Negara seberang yang hanya tampak siluetnya karena mendung, saya teringat barang-barang di flea market kemarin. Saya merasa miris karena orang-orang Singapore sehari-harinya memenuhi mal-mal di sini untuk berbelanja. Setelah mereka bosan engan barang-barang yang mereka beli di Batam, barang-barang itu dilempar ke bursa barang loak dan dilempar kembali ke Indonesia utuk diperebutkan oleh sebagian masyarakat kita.


 

Itu cerita weekend saya. bagaimana cerita weekend anda?


 

Friday, June 3, 2011

Omelan buat Celcius Fashion dan Marketing 3.0


Tempat tinggal saya di kota ini dekat dengan sebuah mal besar, Mega Mal namanya. Walaupun Mal ini besar dan terletak di pinggir pantai, malnya nggak asyik. Hanya ada dua hal yang menarik di sini menurut saya; Coffee Town dan Butik Celcius. Mal ini mempunyai pintu yang langsung terhubung dengan pelabuhan internasional batam centre yang ramai dilewati orang yang datang ataupun pergi ke Singapore. Setap hari, warga Singapore dan Malaysia datang berbelanja ke mal ini. Lucu ya? Orang Indonesia suka belanja ke Singapore dan orang Singapore kabur belanja ke Indonesia. Memang, rumput tetangga selalu lebih hijau.


Tadi malam, sepulang dari Extra day buat beberapa peserta training, saya langsung meluncur ke Mega Mal buat belanja bahan makanan untuk sarapan harian saya; roti, telur dan susu. Sarapan ala bujangan banget! Ketika mau pulang, saya bertemu teman serumah yang store manager Celcius, butik pakaian jadi asli Indonesia. Karena saya suka koleksi bermudanya dan sering menyambangi butiknya di beberapa kota, saya ngobrol-ngobrol dengan dia tentang butiknya. saya cerita kalau saya susah sekali mendapatkan informasi tentang updatean koleksi maupun informasi tetang keberadaan butiknya di suatu kota yang baru saya kunjungi. Misalnya di Bali kemarin, saya sampai nyasar masuk ke kafe dengan nama yang persis sama. Padahal teman saya yang orang swiss itu ngebet banget pengen punya bermuda celcius seperti yang saya pakai.


Setelah susah payah tanya Mbah goggle pun saya hanya sampai di sebuh situs yang berisi tentang informasi korporat yang membawahi butik ini. Parahnya lagi, updatenya entah kapan. Intinya saya cerita ke si store manager ini kalau internet itu bisa jadi sarana marketing yang bagus. Apalagi dengan maraknya penggunaan situs jejaring social semacam twitter dan facebook. Belum lagi media youtube yang bisa membuat orang biasa menjadi bintang tanpa perlu casting.


Setahu saya, banyak sekali clothing line besar dengan brand yang sudah melekat di hampir semua penduduk bumi menggunakan media online untuk berpromosi. Levi's misalnya. Brand ini sampai membuat fasilitas untuk meng-costumize sendiri ukuran jeans yang diinginkan. Malahan mereka membuat kompetisi film pendek tentang produk mereka. Tujuannya tentu saja satu; membuat konsumen punya ikatan emosi dengan brand ini yang akhirnya konsumen tadi menjadi konsumen loyal yang rela menjadi 'marketer' buat produk ini tanpa diminta.


Di Indonesia sendiri, penggunaan media online untuk media marketing sudah sangat gencar. Bahkan ada banyak toko yang hanya memanfaatkan facebook sebagai 'tempat'nya. Sampai sebuah produk sepeda motorpun menjual online produknya. Semua berlomba-lomba untuk menerapkan low budget high impact marketing. Semua berlomba-lomba menjadi top of mind di benak konsumen yang semakin 'connect'.


Seiring dengan perkembangan 'konektivitas' antar manusia dengan dunia online yang real time, landscape marketing pun berubah. Kalau dulu, orang membeli barang karena harga dan kwalitas. Barang Bagus berharga terjangkau dikejar-kejar. Jadi strategi marketingnya cukup dengan permainan harga.Pada tahap ini marketing masih marketing 1.0. Tapi setelah itu orang mulai mengedepankan ego dan prestige. Barang bagus dan harga murah belum tentu dibeli kalau tidak mampu menyentuh emosi konsumen. Makanya banyak produk berlomba-lomba mengiklankan produk mereka dengan model-model dan public figur yang merepresentasikan idealitas konsumen dalam hidup mereka. Pada tahap ini marketing sangat high cost karena dilakukan lewat mass media konvesional dan memakai public figur yang berharga selangit. Marketing pada tahapan ini disebut Marketing 2.0.


Ketika hampir semua orang interconnected dengan media internet, pikiran orang semakin terbuka. Informasi-informasi mudah diakses. Pertukaran pikiran tidak lagi mengenal batas teritori dan perbedaan waktu. Pergeraan opini semakin semakin cepat. Perubahan semakin tidak terprediksi. Konsumen pun semakin pintar. Mereka tidak lagi membeli barang karena pengaruh brand semata. Konsumen yang brand minded menjadi snobbish consumer. Smart consumer bermunculan. Mereka tidak lagi membeli sebuah produk karena semata-mata harga dan brand. Mereka mulai mempertimbangkan nilai apa yang dibawa oleh sebuah produk. kalau nilai itu mengusung human spirit, mereka akan mencintai produk tersebut dan malahan mereka tidak akan menjadi konsumen semata. Mereka juga akan menjadi 'marketing agent' yang dengan sukarela mempromosikan produk tersebut kepada orang lain. Era marketing ini disebut marketing 3.0. Media internet menjadi media utama untuk marketing. Strateginya pun mulai melibatkan konsumen, mulai horisontal. Konsumen tidak hanya dicekoki tapi diajak berpartisipasi. Rasa keterikatan konsumen kepada sebuah brand pun semakin erat. Makanya Levi's mengadakan short movie competition untuk tetap memantapkan brand mereka di benak generasi kreatif, anak muda. Kelihatannya sih itu bukan marketing padahal sebenarnya itulah marketing yang paling efektif.


Brand-brand besar mulai menggaung-gaungkan visi mereka ke tengah konsumen. Makanya, ada yang mengusung go green, Nokia dengan human tools dan connecting people, Levi's yang mendorong youth creativity dan sebagainya. Ada yang sebatas mempercantik kata-kata di iklan tapi banyak juga yang langsung konkret membangun 'peradaban'. Nah, menurut para ahli managemen strategi dan ahli marketing, perusahan yang akan bertahan adalah perusahaan yang membangun peradaban atau mendukung human spirit tadi.


Lah, mengapa pula saya harus ngomel-ngomel seperti ini? Toh itu perusahaan orang lain kan. toh, mereka tetap bertahan dan bisa punya butik di mana-mana kan? Saya bukannya mengomel, saya hanya gemas saja karena susah mendapatkan updatean bermuda dari brand itu. Saya juga sebal karena gagal membuat bermuda itu melanglang sampai ke swiss menjadi busana musim panas teman saya itu. Kalau sampai teman saya memakai celana itu keluyuran di Swiss kan, paling tidak ada orang yang tertarik sama celana itu dan tanya beli di mana. Otomatis, produk Indonesia jadi terkenal sampai ke Swiss kan?


Sebenarnya saya hanya gregetan karena masih ada gitu orang yang tidak memanfaatkan media murah meriah bernama internet untuk merangkul konsumennya. Sepertinya mereka perlu diberi petuah sama Mbah Hermawan Kartajaya dulu deh. Atau kalau mengundang saya juga boleh, Bratis kok. Cukup kasih voucher belanjadi Celcius saja.


http://erikmarangga.blogspot.com



Saturday, May 28, 2011

Malayan Dancer

As I haven't knew the place to go, I mostly spent my time in Mal here in Batam. From a Mal to other Mal. One afternoon I went there after a long meeting with my team. found the Malayan Dance Performance. Love their costume's color.





Stunning


Like their arranged position


Helping friends

Friday, May 27, 2011

Monday, May 16, 2011

Sunday in Batam; Perjalanan Melintasi Tiga Pulau


di atas jembatan pertama yang menghubungkan Pulau Batam dengan Pulau Barelang

Minggu ini sepertinya minggu yang banyak ditunggu-tunggu orang. Ada weekend yang digandeng dengan cuti bersama. Tentu buat para PNS ini sangat menyenangkan sekali. Tapi bagi saya sih biasa saja karena pada saat orang lain kerja saya libur tapi konsekuensinya juga, saya harus siap kerja keras pada saat PNS libur. Being a bussinessman, you have to be ready to work anytimeJ


 

Pagi-pagi saya sudah jalan kaki keluar kompleks tempat saya tinggal buat nyegat busway. Saya akan mengunjungi tempat sahabat saya, Ridho, sekaligus mengambil kemeja saya yang kemarin dikecilkan ke penjahit sekaligus mau potong rambut juga. Saya harus berjalan cukup jauh untuk sampai di halte busway karena angkutan umum tidak lewat di jalan depan kompleks walaupun itu jalan besar. Inilah salah satu kelemahan kota Batam, transportasi umumnyanya susah.


 

Halte di depan Politeknik Batam sepi pagi ini. Maklum hari minggu. Hanya saya sendiri yang nagkring menunggu busway lewat. Jalanan pun lengang. Menyenangkan sekali. Beberapa pesepeda merayakan kelengangan ini dengan bersepeda santai sepanjang jalan. Arrggg….pengen punya sepeda.


 

Saya tenggelam dalam bacaan saya sampai busway datang dan hap, saya melompat naik. Lagi-lagi sepi. Hanya ada saya dan satu orang penumpang lain. Perjalanan yang akan saya tempuh cukup jauh. Saya kembali menekuri buku saya. Kesempatan seperti ini adalah kesempatan yang paling saya sukai. Membaca dalam perjalanan. Mau di pesawat ataupun di angkot, sama-sama nikmatnya. Makanya, jarang saya mengeluh karena perjalanan yang jauh selama saya masih punya persediaan bacaan.


 

Hari ini saya tidak ingin bersentuhan dengan laptop dan file-file pekerjaan. Mau menikmati punggung yang bebas tanpa backpack yang berisi laptop, buku-buku dan file-file pekerjaan yang berat. Saya hanya menyandang tas kamera saya. Saya dan Ridho akan melakukan perjalanan dengan sepeda motor melintasi jembatan Barelang menikmati keindahan pulau-pulau yang berserakan di perairan Batam. Sesuai dengan namanya, jembatan ini menghubungkan pulau Batam, Pulau Rempang dan Pulau Galang.


 

Sepanjang jalan yang membelah bukit-bukit kecil itu, saya berusaha menikmati pemandangan di kiri kanan jalan. Saya sangat suka melihat lembah yang penuh hamparan hutan bakau yang menghijau. Hamparan itu sangat luas.


 

Berdiri di atas jembatan pertama yang menghubungkan pulau Batam dengan Pulau Rempang, saya memandang lepas ke kanan dan mendapati hamparan pulau-pulau kecil yang berserakan. Air laut berwarna biru jernih yang kelihatnannya tenang seolah mengundang saya untuk segera menanggalkan pakaian dan melompat. Tapi sayangnya saya tidak membawa pakaian renang. Lagipula, saya tidak melihat satu orang pun yang berenang. Ighhh….ada buaya kali ya?




 

Memasuki Pulau Rempang, di ujung Pulau, masih terdapat beberapa bangunan pemerintahan. Akan tetapi ketika perjalanan sampai ke tengah, pulau ini didominasi oleh bukit-bukit dengan pepohonan yang lumayan masih hijau dan lembah-lembah kecil berawa dengan hutan bakau yang rapat. Jalanan yang lagi-lagi membelah bukit naik turun ini, beraspal mulus. Jadi, kalau ingin menantang adrenalin untuk 'seolah-olah' merasa seperti Valentino Rossi, di sinilah tempatnya.





 

Sementara itu, ketika memasuki Pulau Galang, mata saya disughi pemandangan yang berbeda. Di kiri-kanan jalan terhampar lahan pertanian yang diselang-selingi dengan bukit berhutan. Lahan pertanian berisi jagung, ubi, tanaman sayuran dan buah ini terhampar berkelompok-kelompok kecil sesui dengan ketersediaan air.


 

Pulau Galang sempat menjadi kamp pengungsian korban perang Vietnam yang berlayar dengan kapal kayu melintasi lau China Selatan untuk penghidupan yang lebih baik. Kamp itu sekarang masih terawatt baik lengkap dengan kantor UHNCR yang menangani pengungsi itu sampai tahun 1996. Pada tahun 1996 pula UHNCR memutuskan untuk menutup kamp pengungsian ini dan mengembalikan para penghuni kamp terakhir kembali ke Vietnam. Banyak tahaan yang bunuh diri karen atakut dikembalikan ke Vietnam tanah air yang telah menciptakan trauma untuk hidup mereka.


 

Sayangnya, perjalanan saya siang itu tidak mencapai kamp pengungsian manusia perahu dari Vietnam itu karena hujan lebat yang menghalangi.


 

Di balik gaung Batam sebagai kota Industri dan wisata belanja, sebenarnya ia menyimpan potensi wisata laut yang menjanjikan. Serakan pulau-pulau kecil itu berpotensi menjadi tempat leisure yang tenang dengan akses yang cukup dekat ke Pulau Batam sebagai pusat Keramaian. Sayangnya, potensi itu belum tergarap. Padahal turis asing terutama dari Negara tetangga, Malaysia dan Singapura berdatangan mengunjungi Batam setiap harinya. Mereka datang karena daya tarik wisata belanja yang ditawarkan kota Batam dengan fasilitas pusat perbelanjaan yang berserak di mana-mana. Alangkah menguntungkannya kalau wisata belanja itu dipadukan dengan wisata alam laut Batam yang mempesona. Digarap seperti Pulau Lagoi yang dekat pulau bintan itu misalnya.


 


Sunday, May 15, 2011

Batam (Bukan) Dalam Kenangan


Batam Centre dari seberang teluk. Pantai kecil tempat saya mengambil foto ini hanya berjarak beberapa koprolan saja dari Mega Mall Batam Centre

Sudah lima hari ini asya berada di Batam. Di 'kota pulau' industry ini saya diutus oleh kantor saya untuk membuka cabang baru institusi kami. Saya terbang dari Padang karena baru menyelesaikan pekerjaan di sana juga. Ternyata terbang dari Padang ke Batam itu dekat sekalee saudara. Saya sampai kecewa karena terpaksa menutup bacaan saya yang belum kelar. Nampaknya bule di samping saya itu pun kecewa karena cuma nonton filmnya sepotong kecil saja.


 

Sudah lima hari tapi baru nulis? Biasanya begitu sampai di suatu tempat baru langsung menulis. Hehe…saya kesulitan menulis karena soul saya belum sepenuhnya menyatu dengan atmosphere kota ini. Maklum, kemarin-kemarin saya kembali dilanda badai jiwa (again). Tapi sekarang badai itu telah menjelma menjadi riak-riak ombak kecil yang memungkinkan saya untuk menikmati setiap detail seperti biasanya .


 

Saya tidak melakukan riset sebelum berangkat ke kota ini karena saya ingin merasakan surpsise. Lagipula saya percaya penuh kepada sahabat saya, Ridho yang sudah terlebih dahulu berada di sini. Tapi sebelum saya ke kota ini, ada satu hal yang saya lakukan. Menghafal kembali lagu 'Batam dalam Kenangan' dari SP. Itu lagu favorit saya dan Ridho ketika kulih dulu. Dulu kami sering menyanyikan dengan suara kami yang keren-keren itu pagi-pagi di rumah kontrakan kami. Biasanya kalau satu orangsudah nyanyi, yang lain pada ngikut dan akan berlanjut ke lagu-lagu lainnya sampai pake side A side B segala *oke, ini lebay*


 

Akhirnya kejadian juga saya menyanyikan lagu itu persis di daerah Nagoya.

Dipagi itu Nagoya berseri
Di muka kuning kudapatkan rumah suci

Disana kulabuhkan sejenak dipesanggrahan hati
Sambil menganyam gaun rindu sanubari
Menguak takbir kebesaran Illahi


 

Teman saya yang menyetir sampai geleng-geleng kepala 'menikmati' suara merdu saya dan Ridho. Satu minggu ini lagu itu masuk dalam playlist favorit saya. Lagu ini keren banget loh. Apalagi kalau anda orang Batam, wajib masuk dalam favorit playlist deh.


 

Banyak hal menakjubkan yang saya dapat dari Batam. Saya bertemu dengan orang yang sedari dulu cuma berhubungan dengan lewat orang lain untuk masalah pekerjaan. Saya juga tidak tahu nama orang tersebut. Eh, ketika sampai di Batam, orang inilah yang menjadi partner kerja saya. Seorang perempuan luar biasa. What a small world, eh?

Selain itu, saya juga bertemu dengan orang satu tanah kelahiran dengan saya, Bima yang juga kenal dan dekat dengan partner kerja saya tadi. Tidak berhenti di situ, saya juga akan bertemu dengan partner kerja, teman satu aktifitas di kampus dulu yang ternyata juga tanpa berada di kota ini mengikuti suaminya yang bekerja di sini. Hmmm….besok-besok ada kejutan apa lagi ya?


 

Karena baru mulai bisa menyatukan jiwa saya dengan atmosphere kota ini, saya belum bisa menulis banyak. Yang pasti, fisik kota ini adalah bangunan-bangunan menjulang dan mal-mal megah di mana-mana. Ruko-ruko juga menjadi bangunan yg mendominasi. Kalau sama mal sih, sya sangat familiar karena tempat pertama yang saya kunjungi beberapa jam setelah landing adalah Nagoya Hill Mall, saya menghabiskan malam ngobrol dengan Ridho di Coffee Town. Ruang Kerja, ruang tamu dan sekaligus ruang tengah kami di sini. Mau apa pun nama mallnya, Coffee
Town tetap menjadi tujuan kami. Coffee Shop ini ada di hampir semua mall seantero Batam.




Sudut Coffee Town, Ruang kerja, ruang tamu dan ruang tengah baru saya

 

Oke, mulai sekarang saya akan menulis sedikit-sedikit tenatng batam. Kalau saya malas menulis pun, saya akan memposting gambar-gambar tangkapan saya untuk bercerita.


 

Eh, dari tadi kan saya menulisnya specific product placement gitu ya. Coffee Town Bakal ngasih saya diskon nggak ya kalau saya bawa tulisan ini?



Pelabuhan Ferry Internasional, batam Centre. Ada sekitar 4 Pelabuhan seperti ini di Batam yg melayani perjalanan ke Singapore