Wednesday, April 19, 2017
Cerita Jalan Kaki Manjaah diJakarta
Thursday, December 11, 2014
Catatan dari Batam 1; Coffee Culture
![]() |
| jarum jam baru menunjukkan angka 6 di pagi hari tapi kedai kopinya sudah ramai begini |
![]() |
| Ramai penikmat kopi di Morning Bakery, Jodoh, Batam |
Saturday, April 30, 2011
Saya yang Berbunga-Bunga
Fotonya nggak niat banget ya? itu saya ambil buru-buru dari Balkon hotel tempat saya tinggal ketika liburan kemarin. Saya terinspirasi untuk posting foto ini setelah jalan-jalan ke sini
Belakangan saya suka banget sama bunga Kamboja. Bukan kamboja Jepang alias Adenium itu. Saya suka kamboja lokal yang pohonya tinggi-tinggi. Apalagi yang warna kuning-putih seperti di gambar itu. Itu saya ambil dari Balkon kamar hotel. Wanginya itu loh, bikin refreshing banget! Sebelum turun untu sarapan saya selalu menikmati wangi kamboja itu dengan bacaan di tangan di balkon hotel. Jadi ingat kamboja di depan rumah yang ditanam ibu.
Dulu sih nggak terlalu perhatian sama bunga yang satu ini. Akan tetapi semenjak sering ke Bali, saya jadi sangat menyukai kamboja. Di Bali kan Kamboja is everywhere. Jenisnya pun bermacam-macam.
Liburan nanti mau membawakan ibu bibit yang merah, pink, putih polos dan merah agak ungu seperti yang aku lihat di Bali awal bulan kemarin.
Aku juga suka bunga ini. Tidak tahu namanya apa dalam bahasa Indonesia. tapi di desa saya dinamai Bunga Sia. Ada dua jenis. Satu yang pohon-pohonnya besar dan bunga-bunga besar pula, satu lagi pohonnya hanya berupa semak kecil dengan bunga-bunga mungil. Saya senang yang jenis kedua.
Jadi ngat ketika masih kecil dulu. Saya dan teman-teman suka bermain ke bukit kecil di pinggir desa yang dipenuhi dengan bunga ini. Saya dan teman-teman punya klaim bukit sendiri-sendiri. Klaim bukit kecil saya berisi banyak bunga-bunga ini, pohon beringin kecil, rumput hijau dan pohon-pohon buah keramunting. Saya juga pernah menancapkan stek Mawar untuk menambah koleksi tanaman di bkit saya. Tapi sayangnya bunga kesukaan saya itu tidak tidak tumbuh. Ah, masa-masa yang menyenangkan.
Beberapa minggu yang lalu, saya menemukan bunga ini tumbuh liar di kampus Unand, Padang.Langsung saja saya jepret.
Suatu saat saya ingin mempunyai rumah di desa dengan halaman yang luas yang bisa ditanami bunga-bunga beraneka macam. Saya ingin membuat parfum sendiri. kan keren tuh kalau saya dikenal sebagai ahli fragrance dan punya line perfume sendiri*gara-gara nonton "Perfume; The Story of Murderer"*
Saturday, April 23, 2011
Nggak Lihat Apa Alis Saya
Saya lagi duduk manis menunggu Toast dan Banana Pancake saya. Wangi bunga kamboja yang menjadi peneduh meja saya begitu relaxing. Di depan saya ada jus jeruk dan kopi. Ogah ah, minum jus jeruk yang super asem itu sementara perut saya belum diisi. Kopi itu juga mnegepul-ngepul minta diseruput. Ogah! Maunya Banana pancake! Tiba-tiba datang seseorang dengan langkah kemayu dan senyum malu-malu (kita singkat aja jadi SDLKDSMM ya? Oke, Iya!).
SDLKDSMM : Sir, your Banana pancake is ready!
Saya : Oh, Terima kasih Mbak. Eh, sorry! Mas maksud saya!
SDLKDSM : Eh si Mas, yang tadi udah benar. Mbak!
Saya : Oh ya? (Mengernyitkan dahi)
SDKLSM : Ini lihat (nunjukkin alis), trus ini (goyang-goyangin dada sampai perutnya yang buncit ikut bergoyang-goyang)
Saya : Oh gitu ya. Oke deh Mbak (dengan mulut mangap)
Saya terpaksa setuju karena takut digampar pake nampan yang dia bawa. Kemudian dengan kemayunya dia melenggok masuk menuju restoran meninggalkan saya yang mangap. Kemudian saya nggak bisa menahan tawa. Bukan karena saya mencemooh. Tapi lucu aja cara dia nunjukkin 'jenis kelaminnya'.
Teman saya : Dia bilang apa tadi?
Saya : Dia protes karena saya panggil dia Mbak
Teman saya : jadi dia perempuan?
Saya : Saya nggak tahu. Tapi dia mengaku perempuan.
Sarapan selesai. Perut kenyang. Wangi kamboja lamat-lamat.
Teman saya : Jadi dia perempuan apa laki-laki?
Saya : Told you! Tapi aku sih yakin dia laki-laki. Nggak ada pere kayak gitu!
Teman saya : jadi…..(pasang tampang o'on banget)
Saya : tauk ah! Ayuk…kita kemon!
La'Waloon 212, Kuta-Bali, 31 Maret 2011
Thursday, March 17, 2011
Dream Job# Take and Love it!

Apa pekerjaan impian anda?
Eksekutif perusahaan besar dengan kantor luas, mobil dinas, bawahan yang siap bergerak, jam meeting padat, supir yang siap menjemput dan bekerja from nine to five? Atau seorang businessman yang pagi di Jakarta, siang di Surabaya dan sore di Singapura? Atau yang lebih keren lagi, actor terkenal dengan nilai kontrak ratusan juta rupiah untuk satu film? Atau mungkin pemain sinetron kejar tayang dengan tuntutan menangis menye-menye sampai 12 season? Hehe…paling tidak pilihan pilihan pertama dan kedua pernah mampir di otak saya ketika kuliah dulu. Sekarang pun masih kadang-kadang.
Apapun pekerjaan impian kita, itu akan sangat menyenangkan kalau kita menikmati dan mencintainya. Apalagi kalau pekerjaan itu adalah hobby kita atau ada hubungan dengannya. Tanpa cinta passion tidak akan muncul apalagi nikmat. Yang ada pekerjaan itu akan menjadi beban yang menghantui.
Pekerjaan saya sekarang jauh dari apa yang ada di impian saya dulu. Saya tidak mempunyai kantor luas (tapi berniat memilikinya suatu saat), kendaraan pribadi dan jam kerja nine to five. Saya juga tidak harus setiap hari memakai kemeja konservatif, dasi, celana bahan dan sepatu pantofel mengkilat walaupun sering juga diantar dan dijemput setiap berangkat dan pulang kerja. Dengan mengesampingkan alasan kenyaman saya lebih suka memilih naik angkot. Tapi alasan lainnya sih karena saya tidak bisa menyetir. Sehingga pernah ada dua mobil di garasi nganggur dan saya kemana-mana naik angkot karena yang biasa menyupiri saya sedang tidak ada.
Banyak orang yang memimpikan mempunyai pekerjaan yang bisa membuatnya travel kemana-mana dan bertemu banyak orang. Saya mempunyai pekerjaan itu sekarang dan sangat menikmati travelling karena itu memang salah satu passion saya.
Ketika banyak orang pagi-pagi sudah rush ke tempat kerja masing-masing, saya biasanya sedang menikmati rutinitas pekerjaan saya. kalau saya tidak tidur lagi setelah rutinitas subuh biasanya saya membaca dan menonton berita pagi. Kemudian saya akan menyambar sepatu olahraga saya dan segera menggerak-gerakkan badan kemudian siap untuk jogging. Rasanya aneh juga jogging pagi-pagi ketika kebanyakan orang sudah berpakaian rapid an terburu-buru berangkat bekerja. Saya merasa seperti melawan arus. Kalau di tempat saya sekarang, saya biasanya berlari menyusuri pantai kemudian melakukan pelemasan sambil memandang laut. Setelah puas berimajinasi di pinggir pantai saya akan pulang untuk sarapan. Sarapan saya simple. Saya akan ke warung tenda di ujung jalan yang menyediakan bubur kacang hijau campur kolak dan ketan hitam kesuakaan saya. satu mangkuk bubur campur dan dua buah pancake khas Padang (mereka menyebutnya panekuik), cukup memberi saya energy di pagi hari. Saya akan menghabiskan sarapan saya berlama-lama sambil memperhatikan orang-orang di sekeliling saya. sok-sok menjadi observer.
Jam 9 an saya kembali ke rumah dan mandi. Kalau sempat luluran dulu dengan lulur kopi dan lavender yang baru saya beli. Banyak yang protes karena mandi saya lama. Saya memang berniat mandi lama karena selain kadang harus luluran, ide-ide saya banyak muncul ketika saya di kamar mandi. Biasanya saya akan langsung berimajinasi dan berencana yang hebat-hebat dengan ide saya itu. Saya memang seorang pemimpi.
Ketika orang lain mungkin sedang hectic dengan pekerjaan mereka di dengan file-file yang menumpuk di depan mereka,saya juga mulai membuka laptop saya dan mulai bekerja sesuai dengan rencana dan target kerja yang saya buat semalam sebelum tidur.Efek dari tidak mempunyai atasan yang terlibat langsung dengan pekerjaan saya, saya harus mengatur semua jadwal kerja saya seefektif mungkin. Oleh karena itu saya bisa sangat-sangat sibuk sampai tidak mau ditelepon kecuali oleh ibu saya atau sama sekali tidak mempunyai deadline pekerjaan selama satu hari. Kalau memang tidak ada yang dikerjakan, saya hanya akan membaca dan surfing di dunia maya. Kalau sedang bosan di rumah, saya akan memboyong laptop dan file-file pekerjaan saya ke kafe favorit saya dan bekerja di sana.
Kadang-kadang saya juga harus ke kantor dengan pakaian rapi jali ala eksekutif muda. Kadang-kadang saya cukup ngantor dengan jeans dan t-shirt atau lebih banyak T-shirt dengan bermuda alias celana pendek sebetis. Seperti sekarang misalnya, saya kadang-kadang harus ke kantor dengan kemeja dan dasi rapi untuk meeting. Tapi setelah meeting selesai saya akan pulang kalau tidak ada lagi yang harus dikerjakan di kantor.
Ketika sore beranjak, barulah saya 'benar-benar bekerja' formal seperti yang lainnya. Saya harus masuk ke kelas untuk mengajar selama 2'5-3 jam atau dua kali dari itu kalau saya harus menghandle dua kelas. Kalau ada peserta training yang masih berkonsultasi dan kadang-kadang hanya sekedar mengobrol, saya kadang-kdang harus pulang jam sebelas malam karena melayani mereka. Saya sangat bahagia bisa menjadi kepercayaan mereka untuk member mereka suntikan motivasi atau memecahkan permasalahan belajar mereka.
Terkadang saya juga dilanda mellow, down dan sejenisnya. Akan tetapi ketika saya bertemu kembali dengan peserta training saya, semua down, kesedihan dan saudara-saudaranya menguap bitelan keceriaan dan semangat peserta training saya.
Efek dari "tidak mempunyai kantor " membuat saya harus pandai-pandai membuat strategi ketika harus mengadakan pelatihan, upgrading atau meeting buat tim saya. terkadang saya mengadakan training buat mereka di kafe atau outdoor sekalian. Saya pernah mentraining tim kerja baru saya di pinggri pantai sore-sore. Menurut saya itu sangat menyenangkan. Tim mendapat training, pikiran segar. Tapi terkadang saya juga harus menyewa tempat ketika saya butuh tempat yang agak luas untuk tim saya.
Menurut saya, semakin lama pekerjaan bisa dilakukan di mana saja. Kemajuan teknologi membuat kita tidak harus selalu duduk di belakang meja. Dalam pekerjaan saya misalnya, saya harus berkomunikasi dengan tim yang tidak berinteraksi langsung dengan saya via internet atau telepon. Akan tetapi memang perlu kemampuan manajerial yang cukup karena semua jadwal dan pergerakan tim diatur sendiri. Bebeda dengan pekerja kantoran yang sudah punya alokasi waktu dari jam sekian sampai jam sekian. Nine to five. Saking besarnya authority saya terhadap pekerjaan saya, saya bahkan bisa membuat sendiri liburan saya kapan. Nah, saya punya rencana untuk memanage pekerjaan tim saya dari rumah saya di desa lereng gunung di Bima sana suatu saat, tim saya di Padang dan saya di lereng gunung di Bima.
Bagaimana dengan pekerjaan anda? Do you enjoy it?
Sunday, January 30, 2011
Prepare More!; Puding, Sendok, Mbak Bunga Citra Lestari dan Colokan
Saya sangat surprised ketika menemukan pudding kesukaan saya tersedia di warung kecil yang akhirnya saya temukan ketika berjalan keluar mencari angin di sesi-sesi pelatihan untuk krew baru kantor kami. Di kota lain. Di kota lain, untuk menemukan puding biasanya saya harus ke supermarket besar atau toko kue. Akan tetapi di kota kecil ini, puding bisa ditemukan di warung-warung kecil di banyak tempat.
Oke, saya tidak sedangbercerita tentang puding. Saya hanya mau bilang kalau saya sangat suka puding sehingga kalau suatu saat anda ingin memberi saya hadiah makanan berikan saja saya puding dengan aneka rasa. Yang ingin saya ceritakan adalah ketika saya nongrong di warung kecil sebesar lemari baju saya itu, yang memesan puding bukan hanya saya saja. Teman saya juga memesan makanan yang sama. Permasalahannya adalah, sendok yang tersedia untuk memakan puding itu cuma dua. Kedua-duanya terpakai oleh teman saya yang juga memesan puding dan teman saya yang satu lagi. Saya yang sudah tidak bisa menahan air liur saya terpaksa menahan dongkol karena tidak bias makan puding karena sendoknya tidak cukup.
Oke, itu terjadi di warung kecil yang pemiliknya mungkin tidak punya visi untuk membuat usahanya menjadi besar. Akan tetapi, saya juga menemukan hal sama dengan kasus yang berbeda di sebuah kafe yang memasang fotonya mbak Bunga Citra Lestari dan beberapa artis lain ketika berada di kafe itu. Maksudnya, pemilik kafe itu mau bilang kalau kafenya pernah didatangi artis-artis terkenal gitu. Dalam bahasa yang lebih singkat mereka mau bilang; kafe kita keren loh, artis aja pernah datang ke sini.
Di kafe itu kasusnya begini. Saya dan teman-teman saya sepakat mengerjakan deadline pekerjaan kantor di kafe karena sudah terlalu sumpek melihat suasana kantor yang begitu-begitu saja. Niat itu sedikit terhambat karena di kafe itu tidak tersedia colokan (apa ya, bahasa kerennya?) listrik yang cukup untuk tiga orang. Sebenarnya itu bisa disiasati dengan memakai kabel rol yang mempunyai banyak stekker. Tapi niat itu juga tidak bisa diwujudkan karena waiter maupun teknisinya bilang mereka tidak mempunyai persediaan itu. Mereka juga terkesan cuek dan tidak mencoba memberikan solusi. Atau paling tidak minta maaf atau berikanlah saya ini senyum lima jari biar saya nggak dongkol.
Dari dua kejadian di atas, saya mengambil kesipulan bahwa banyak orang yang tidak siap untuk menjadi besar. Mereka tidak punya visi untuk menjadi besar. Sang tukang warung mungkin tidak pernah membayangkan bahwa warungnya akan dikunjungi lebih dari dua orang. Oleh karena itu dia hanya menyiapkan dua sendok karena mungkin itulah jumlah maksimal warungnya pada saat yang bersamaan. Kalau dia punya visi untuk mempunyai warung yang besar dan ramai pengunjung, dia pasti akan menyiapkan sendok yang banyak untuk mengantisipasi pengunjung tersebut. Sementara si coffee shop yang memasang gambar mbak Bunga Citra Lestari dengan harapan agar coffee shopnya dianggap keren itu juga sama. Pengelolanya tidak punya visi untuk membuat coffee shopnya besar karena dia tidak siap untuk melayani kebutuhan pelanggan yang banyak dan bermacam-macam maunya. Itu baru kebutuhan yang simple dan sangat mudah terpikirkan oleh semua orang loh. Bagaimana kalau pelanggannya butuh sesuatu yang lebih complicated dan itu wajar? Rupanya ia hanya dimenangkan oleh lokasinya yang ada di dalam mal yang ramai pengunjung. Dan dia mendapat limpahan dari pengunjung mal itu.
Apapun pekerjaan dan usaha anda, sebaiknya sisipkan visi besar dalam pekerjaan dan usaha itu. Kemudian persiapkanlah kemungkinan-kemungkinan untuk visi tersebut. Kalau tidak, pelanggan yang anda harapkan tidak akan dating lagi ke tempat anda karena mereka terlanjur kecewa.
Monday, January 10, 2011
Padang 3# Simple Box of Happiness
I am kinda man who is very simple. I always take whatever I find instead of whining and expect something that hard to find. I have the simple thought of what is beauty and what is pleasure. Lucky me, these mindset make me be a very adaptable man. Dealing with my recent job, it's very helpful. My jobs required me to be ready to relocate to some different cities in a month or two. Kinda job that I had been dreaming of when I was a student.
Two recent months I was relocated to two different cities which are very different each other. One is a metropolitan wannabe city, and another is a city with no fancy café or big malls to escape when I feel tired as I do in my previous town that I have been living in for years. However, I was amazed. I find myself enjoy the living in the no big mall city as same as in the metropolis city. The two cities have their own interesting side, at least based on my paradigm of what is interesting.
The Metropolis wannabe has its complete facilities that you need. You'll find yourself easy to transport everywhere with the comfort transportation. When you miss your favorite original delicacies from your own hometown, you'll easily get it available because they open the restaurant with the same taste and even atmosphere with the own you have in your hometown. With the franchise system, it's easy to find your favorite black pepper steak you usually have for your dinner in your hometown. The no big mall and fancy café city won't provide you that easy access and delicacies place to escape, but I find its different interesting side. I amazed when I found myself can do no whining because I couldn't find the good coffee shop with the widescreen home theaters and a cozy sofa. I find that the full decorated 'angkot' is very interesting. I feel that having city tour by that 'angkot' and uproar town bus very interesting. The seashore which is located just a few minutes ride from the central of city is a place to enjoy the very magnificent sunsets. When I need to fulfill the adventure instinct of mine, I'll ride away heading to the rural area which is lies a few kilometers away from my place. No need to ask people to get there. Using a mountain as a spot guide, I'll randomly take the way which is heading there. After getting once or twice lost, I found myself surprised with the green view and clear as a glass river. The nature atmosphere quickly fills my soul and be the fuel for me to continue my-full-of-works-days.
I never can stand to see the water. I always want to get myself jumping and swimming, or at least let my feet steeped into the cold fresh water. In my recent wandering to Lubuk Minturun, a clear watered river in suburban area of Padang, I spent five hours to swim in the streams. It was hard flowing streams which take you hundred meters away in a minute. I also tried to jump from the high edge as many little kids did. At first, I thought it was a piece of cake. However, when I got in the tip of edge and looked down the stream water, I felt my heart throbbed quicker. It took more than twenty minutes for me to gather all my bravery to jump down there. I knew, it was only water down there, so no problem if I jump. I also knew, these kids found themselves fine after jumping. No matter how much I tried to inject the logic into my brain it's still born down by my feeling. In the end, when I finally jumped, I addicted to try more. I enjoyed the moment when my bravery bore down my anxiety and took y body drifting from the edge into the stream.
Recently, I tried to explore the no big mall town more. After an exhausting week which full of many things to do, I invited my boss to do the city tour. I took him to try the 'angkot' and city bus. As we usually do, we had nice long English discussion along the way. People looked us as we are the stranger because we spoke in English. Actually, it was kinda marketing strategy we always use. In many cases it works. At first, we just wanted to visit the city's beautiful campus which lies on the highland miles away from the central of city. However, when we were wandering around that 'power rangers' quarter' we saw the narrow green valley which is split into two part by a river. My adventure instinct popped up. Without a map and clear direction, we started to walk down the hill of 'power ranger' quarter' went along the earthen path with the bushes in the sides. After 20 minutes, we found the village street and tried to walk along to the foothill. After about 45 minutes, we found a green rice field along the river sides with the green hills background. It was very refreshing to see these views. We kept walking until we arrived in the quit place with no human life but black stones in the middle of rivers. We directly found the big flat stone where we could lay down or body while enjoying our feet steeped in the slow flowing water. The wild tree with the shocking yellow flower above us guarded us from the sun's heat.
The symphony of flowing water, singing bird and blowing wind in the natural atmosphere took us into the deep sleeping. We woke up with very fresh body and soul when the afternoon came. We were ready to get back to our daily routine with fresh soul and new spirit.
The refreshing for me is that simple. A backyard view for me is magnificent. It depends on how I set my heart and paradigm. I don't really need a luxurious holiday with superb eateries and a cozy accommodation. It doesn't mean I don't want that kinda holiday. I want it but I do not require it for my refreshing. I always try to enjoy each place with its uniqueness without whining about something doesn't exist in my surround. Therefore, when my mother ask me about living in the new places whenever I'm relocated I always happily tell her how beautiful the place I live in.
Thursday, December 23, 2010
India Moment; Senyummu Indahkan Duniaku
I was in rushing from Bandung to catch my flight in Soekarno-Hatta Airport when I wrote this note. I was anxious that I would miss the flight. It was three hours to the flight. I just keep on talking with my mind and regularly saw the clock above the drivers head front there. It was very annoying to think how I could be this late. I tried to keep the positive suggestion in my mind. I've proven this in many times, it was really works. What I kept in my mind was "the bus will get the airport no more than 2 o'clock" intervals with the words "the plane will delay 30 minutes, it's Indonesia men!"
To lose my anxiety I tried to focus on my book I bought in Gramedia Matraman when I was in my quick transit in Jakarta in my arrival from Padang. Unfortunately, instead of "wow, it's a good reading! I enjoy it!" what crossed in my mind was "owh…what kind of writing is this?". I just couldn't focus. Reading was no longer fun at the time. The anxiety of missing the flight broke my concentration. So, I packed back my book to my backpack and take my eyes out of the window in my side.
The shuttle bus I was taking started to enter the city highway which is regularly having the great long traffic jam. At the highway gate heading to the southern part of Jakarta and also Airport, the bus was side by side with another bus. The kind of a common economic bus crowded with the tired-face passenger. Suddenly, my eyes catch the other eyes in that bus. I didn't know why, that eyes create calm in my heart. Eyes on eyes on the side by side running bus. It was just randomly caught. It seems the eyes over there looked into my eyes too. Eyes on eyes lead to another contact. Now smile start to bow on that good looking face (Senyum from Raihan started to play). It's like that I had the 'India moment', the scene that you find in the bollywood movie (ya, ya, I know you'll laugh me because I like to watch Indian movie) when the man meet the girls at the first time. The girls blushingly avoid her sight from the men ayes and does the eyes contact afterwards. It's usually repeated. As you know, the next action will be the chasing each other in the large flower garden while singing. Sometimes hide behind the big tree and keep on singing. This part make Indian movie plays in a long long duration.
Ok, back to my India moment. The two buses rotated to run on before, rushing in the not too crowded highway. When they were running side by side, my India moment repeatedly happened. It's kind of strange to get the feeling from the 'I dunno who' over there. It's just started from the eye contact leaded by the smile. I forgot the anxiety of missing the flight and started to move my finger on my laptop's keyboard when the bus with the nice smiling face running on before my bus. It's an evidence that smile is a universal language, universal communication among us. So, why don't we smile? Who knows the smile on your face gives the cheers on people around you.
Monday, December 13, 2010
Saya, Pesawat dan Nenek-Nenek
Selama melakukan traveling, saya punya macam-macam kisah dengan alat transportasinya. Terutama dengan pesawat. Karena kantong saya ini rada-rada tipis, belum pernah lah saya ini naik burung raksasa aneh yang selalu noleh ke kiri itu. Otak saya selalu mensetting tindakan saya untuk membeli tiket kelas ekonomi dari pesawat-pesawat ekonomi pula atau istilah kerennya budget airlines. Kalau ada yg lebih ekonomi lagi, pasti saya akan mencari tiket itu. Makanya, ketika mendengar uji coba Ryan Air untuk tiket berdiri, saya senang sekali dan berharap segera dilaunching saja.
Naik budget Airlines nggak boleh ngeluh, apalagi complain. Kursinya aja sudah dipadat-padatin kayak gitu hingga lutut saya ini rasanya pegel walaupun Cuma terbang dari Dempasar ke Surabaya. Makanya, bagi anda yang termasuk big sized, tidak disarankan untuk naik budget airlines. Wong saya aja yang slim sexy ini rada tersiksa kok.
Saya Hampir Selalu Duduk di Samping Orang Tuwir
Walaupun ketika check in saya cerewet minta seat yg dekat ini dekat itu, yang duduk di samping saya hamper selalu para senior. Senior banget malah. Kecuali pas penerbangan dari Jakarta ke Padang kemarin, saya duduk di samping uni-uni yang lumayan bisa diajak ngobrol. Tapi itupun hanya sebentar karena uni itu minta pindah karena nggak mau duduk di samping pintu darurat. Akhirnya datanglah laki-laki paruh baya yang kerjaannya tidur melulu menghempaskan pantatnya di seat samping saya.
Dari Jakarta ke Balikpapan, saya duduk di samping ibu-ibu dengan 3 orang Balita. Wuih…! Produktif sekali ibu ini. Jadilah saya sepanjang perjalanan menjadi om yang baik buat anak-anak yang baru saya kenal di pesawat itu. Nggak masalah sih sebenarnya karena saya suka anak-anak. Tapi kan nggak enak juga saya dikira bapak-bapak gara-gara berjalan ke ruangan arrival dengan menggendong anak kecil. Takutnya ntar yang menjemput saya shock karena melihat saya gendong bayi sedangkan saya nggak pernah ngundang-ngundang dia ke pesta pernikahan saya yang memang nggak ada. Apalagi runaway airport adalah tempat saya biasa jalan dengan langkah lurus segaris dan ekspresi minta ditampar. Kalau bawa bayi gini kan nggak ngefek.
Tapi ada enaknya juga duduk di dekat para generasi tua begini. Ketika dari Pontianak ke Jakarta kemarin, saya duduk di tengah-tengah diapit oleh dua senior. Sebelah kiri saya duduk seorang professor yang tidur melulu dan di sebelah kanan saya duduk nenek yang berusia lanjut banget (ya, sekarang regu B. haha…ingat cerdas-cermat di TVRI dulu). Waktu itu saya ke airport dengan mata 5 watt karena masih ngantuk banget gara-gara semalaman begadang packing dan harus mengejar first flight. Saya pun nggak sempat sarapan atau sekedar minum segelas susu. Check in yang kayak orang ngantri naikin muatan ke atas truk membuat saya juga tidak sempat untuk sekedar membeli sepotong pengganjal perut di bandara. Iya check inny rebutan, nggak pake ngantri-ngantri.
Ketika duduk sambil merenungi nasib perut saya di pesawat, saya dikejutkan oleh seorang nenek yang mau duduk di seat dekat jendela. Walaupun saya ingin banget duduk di dekat jendela karena ingin melihat pemandangan sungai Kapuas dan sungai-sungai kecil yang mengular membelah-belah kota Pontianak, saya mempersilahkan nenek itu duduk di seat yang saya duduki. Awalnya hati saya agak dongkol. Tapi melihat keriput di wajah nenek itu kedongkolan saya langsung berganti dengan kasihan. Tapi dalam hati saya tiba-tiba muncul kesimpulan begini; di kereta api kalau ada ibu-ibu tua biasanya mereka bawa bekal makanan banyak. Pasti nenek di samping saya ini pun bawa makanan banyak! Taruhan pisang ambon setandan! (eits… nggak boleh taruhan. Dosa tauk!). Otak saya terus mendendangkan kesimpulan yang lebih merupakan suara perut saya yang udah lapar banget itu.
Ketika saya menoleh nenek di samping saya tengah minum satu kaleng cincau kemasan produk Malaysia itu (di postingan sebelumnya saya sudah sedikit bercerita tentang produk-produk ini). Tak disangka-sangka dia menawarkan satu kaleng buat saya. Alhamdulillah…serasa dapat rezeki nomplok saya. Sekaleng cincau itu bagi saya seperti dapat sekotak banana pancake ketika sedang sakaw BP (banana pancake). Tidak cukup sampai di situ, nenek itu kemudian merogoh lagi tasnya dan mengeluarkan satu kantong aneka cemilan. Sisa cemilan lebaran katanya. Kalau saya mau lagi, katanya di kardus-kardus di kabin itu masih ada banyak kue lapis. Hoho… mendadak tangan saya bergerak aktif berpindah dari kantong itu ke mulut saya. Saya tidak peduli lagi sama jaim atapun malu sama pramugari yang lewat. Sesaat saya merasa seperti berada di atas kereta Matarmaja. Tiba-tiba nenek itu berubah menjadi teman ngobrol yang menyenangkan. Sisa perjalan saya pun diisi dengan having a good conversation with the grandma walapun saya ngomong apa dia ngomong apa. Namanya juga beda generasi. Sampai di Cengkareng, perut saya sudah kenyang. Nenek bahagia karena ada yang endengarkan dia bercerita, saya bahagia karena cacing-cacing di perut saya berhenti memberontak.
Di film-film sering saya mendapati kisah-kisah romantis dengan scene bertatapan mata ketika papasan di ruang tunggu atau book corner airport, terus mengambil majalah yang sama dan dilepas lagi dengan senyum malu dan ketika di pesawat ternyata seatnya sebelah-sebelahan, tukaran nomor handphone atau email dan diakhiri di Pelaminan. Tampaknya, kisah-kisah seperti itu nggak mungkin banget deh. Buktinya saya hamper selalu duduk dekat para 'senior'.
A Million Mile Journey Starts form Two Hours Delay!
Delay, Bukan hal langka lagi kalau kita naik budget airlines. And again, don't bother yourself to complain because you'll find 'maaf bapak…bla..bla..! It's better to keep silent and read your book or enjoy yourself in your favorite music chart from your I-pod. In my case, saya senang kalau ada delay. Itu artinya saya punya banyak waktu buat jalan bolak-balik dengan langkah lurus segaris dengan ekspresi minta ditampar. Itu artinya lagi saya punya waktu buat menghabiskan bacaan saya, tambahan waktu buat memperhatikan orang yang lalu-lalang dan additional time to have a good conversation dengan kenalan yang didapat di situ. Terakhir saya ngobrol asyik adalah di Soekarno-Hatta dengan seorang antropolog swedia pas ketinggalan pesawat ke Surabaya. Saya dan antropolog tua yang sudah melanglang buana itu mengobrol tentang berbagai topic. Kebetulan waktu itu sedang hangat-hangatnya buku 'Atlantis' karya Arysio Nunes dos Santos. Bisa dibilang, ini adalah obrolan paling 'bergizi' saya selama menunggu di airport.
Hmmm….sebenarnya masih banyak yang mau saya ceritakan tentang pengalaman saya dengan pesawat. Termasuk kelanjutan kisah tentang nenek tadi yang ternyata ujung-ujungnya saya harus 'membayar' makanan yang saya makan. Tapi ini sudah jam 2 pagi dan saya ingin istirahat dulu.
Mabok Masakan Padang di Pad
Thursday, June 10, 2010
Srumble Egg Vs Orak Arik
Jadi anak kos harus siap-siap sengsara. Setiap hari sarapan nasi pecel bu Marni, siangnya nasi campur dan malamnya lalapan. Nggak harus gitu juga kok. Kita tetap bisa makan enak walaupun jadi anak kos. Syaratnya Cuma satu; rajin dikit aja!
Sarapan adalah ritual pagi yang tidak bisa saya tinggalkan, kecuali pas puasa tentunya. Sarapan yang paling umum yang tersedia pagi-pagi adalah nasi pecel. Empat tahun disughi masakan asli jawa tersebut rasanya bosan. Saya sangat suka nasi pecel tapi kalau setiap hari, rasanya enek juga. Makanya saya sering berkreasi membuat sarapan di dapur kos saya. Pas musim mangga, saya membuat makanan berbahan dasar mangga. Misalnya, sandwich isi mangga muda. Segerr bener!!
Ketika berlibur di Bali kemarin, sarapan wajib saya adalah scramble egg, french toast, orange juice dan banana pancake. Tapi saya sering merasa sudah cukup kenyang setelah hanya menghabiskan scramble egg. Makanya, ketika balik ke Malang, saya mencoba membuat scramble egg sendiri bermodalkan resep dari internet (hoho...kampung baget ya saya, baru tahu rasanya scrumbled egg). Kata mbak kos saya sih (jadi, ibu kos saya punya anak tunggal perempuan), scramble egg itu sama dengan orak-arik bahasa jawanya. Oalah, ternyata ini masakan jawa juga toh! Karena saya menganggap si Mbak kos pintar karena dia langsung tahu nama resep yang saya maksud dalam bahasa jawanya, saya ikuti saja petunjuk dia bagaimana cara memasaknya.
Crack..cress!! telur dipecah dan dimasukkan ke wajan trus diaduk-aduk.
Tara…!! Jadilah si scramble egg yang si Mbak kos bersikeras kalau itu adalah orak-arik, bukan srumble egg. Jadi sih! Tapi kok dari empat telur yang saya buat jadinya sedikit sekali ya? rasanya pun nggak sama dengan scramble egg yang saya makan walaupun tampilannya mirip.
Akhirnya, keesokan paginya saya mencoba resep yang saya dapatkan dari internet dan mengabaikan petunjuk si mbak kos yang setelah membuat scramble egg idaman saya yang berubah jadi "oraks ariks" dia jadi kelihtan bodoh sekali. Awalnya rada bingung juga melihat banyak versi resep di internet yang berbeda-beda walaupun judulnya satu; Scramble egg. Saya pun memilih satu resep yang menurt saya paling simple. Ternyata memang beda caranya sama memasak orak-arik seperti petunjuk mbak kos saya yang sekarang kelihatan bodoh itu.
Membuat scruble egg itu harus dicampur susu biar creamy dan mengembang. Pantasan saja kemarin saya masak empat telur menyusut jadi tinggal seuprit gitu. Dan hari ini, tiga butir telur bisa menjadi dua porsi jumbo scramble egg.
Nggak sabar, saya langsung membagi scramble egg buatan tangan saya itu menjadi dua. Satu buat saya, satu buat Bro Iqbal yang tadi pagi buta saya paksa buat beli susu untuk bahan scramble egg.
Tusuk, angkat garpu ke mulut, hap! Nyam..nyam..nyam!
Hueks…!! Kok rasanya manis banget gini. Cek ke tempat sampah,aduk-aduk.
Halah! Ternyata susu yang saya campurkan ke adonan telur saya adalah susu kental manis cap uueeenak itu! Hugh…bro Iqbal disuruh beli susu buat masak telur kok beli susu buat mimi adik gini. Pantesan aja manis. Tapi karena itu buatan saya sendiri, tetap saja rasanya enak banget!
Psst…siangnya, si Mbak kos dimarahi sama ibu kos. Apa pasal?
Ketika ibu kos pulang dari pengajian dia nggak menemukan apa pun di atasa meja makan selain berbungkus-bungkus mie instan dan telur mentah tertata rapi. Ternyata si Mbak kos nggak masak apa-apa kecuali telur ceplok buat sarapan dia sendiri lalu main ngabur aja ke kantor. Jadilah saya hari itu telat ke kantor karena mendengarkan curhat ibu kos tentang si Mbak kos yang nggak bisa masak dan nggak tahu ngurus dapur. Mau ninggalin, takutnya ibu kos ngambek dan mogk nyiapin makan siang buat kita.
Hehe…pantasan saja telur empat butir saya berubah jadi seuprit, resepnya dari mbak (udah ibu-ibu loh) kos yang bisanya Cuma masak mie instan sama telur ceplok. Itu mah, saya kelas 1 SD sudah mahir banget!
Karena saya baik hati, ini saya bagi resep scramble egg yang benar, biar sarapan kalian nggak Cuma pecel melulu.
Bahan:
6 butir telur ayam
100 ml susu cair
1 sdt garam
1 sdt merica hitam bubuk
1 1/2 sdm mentega tawar
(takaran bisa sesuai selera n kebutuhan)
Cara membuat:
Campur telur, susu cair, garam, dan merica. Kocok rata. Bagi menjadi 6 bagian. Panaskan 1/2 sdm mentega, masukkan 1 bagian campuran telur, biarkan hingga 1/4 matang. Aduk-aduk hingga 3/4 matang. Angkat.
Tara…! Simple banget kan? Ini bisa dipakai sarapan dengan lima orang teman anda yang satu "paradigma" tentang sarapan. Tapi kalau teman saya yang sarapannya saja kudu 1 porsi nasi goreng buatan ibu kos plus cake, pisang goreng dan lumpia itu sih, jelas-jelas bakal menolak diajak sarapan macam beginian!
Monday, January 25, 2010
Jangan Nunggu, Ntar Diangkutin Truk Sapi Loh!!!
Dalam masa liburan kali ini, saya mengunjungi banyak tempat di kota saya yang sebelumnya saya belum pernah lihat. Banyak hal yang membuat saya takjub maupun menggeleng-gelengkan kepala. Suatu pagi, ketika mengantarkan Ibu tercinta, ke suatu acara saya melewati sebuah komplek perkantoran kecamatan baru hasil pemekaran. Nggak baru-baru amat sih, sudah lima tahun.
Yang membuat saya heran adalah, kok ada ya, yang namanya kantor kayak gitu. Bangunnanya sih baru tapi sudah terkelupas dimana-mana. Jangan tanya halamannya. Mereka memiliki halaman yang cukup luas, maklum masih daerah pinggiran. Tapi halaman yang luas itu, dipenuhi oleh semak-semak liar. Tanpa ada satu pohonpun yang meneduhi. Saya jadi bertanya-tanya, bagaimana mereka bisa betah bekerja dengan suasana seperti itu? Saya termasuk orang yang rewel masalah lingkungan dan suasana kerja. Suasana dan lingkungan harus direkayasa agar bisa meningkatkan semangat kerja. Suasana kerja yang embuat saya selalu semangat untuk bangun pagi agar bersegera ke tempat kerja. Saya tidak tahu bagaimana suasana kerja yang tercipta dari kantor yang baru saya lihat itu. Apakah mereka sedang mengikuti trend back to nature? Ah, saya tidak melihatnya suasana nyaman back to nature, apa yang saya saksikan adalah hasil dari kurangnya inisiatif dan kreatifitas.
Menurut informasi yang saya dapatkan, volume karyawan di setiap kantor di komplek perkantoran pemerintah itu sangat gendut. Bayangkan, satu divisi saja bisa mempunyai 20 orang staf, sampai-sampai mereka tidak punya ruangan dan meja. Dan hampir semua staf itu adalah staf tata usaha dan 'sukarela'. Maklum, budaya orang disini adalah 'mengabdi' untuk di angkat jadi PNS. Tinggal dikalikan saja dengan jumlah divisi yang ada, maka jumlah karyawannya sangat-sangat gendut. Obesitas malah. Saya teringat keluh kesah teman saya tentang sekolah tempatna bekerja. Menurut dia karyawan yang numpuk itu nggak sebanding dengan kebutuhan sekolah. Nggak sebanding karena karyawannya terlalu banyak hanya untuk mengurusi urusan administrasi. Sampai-sampai dia menggambarkan begini; "dua orang staf tata usaha bertugas membunyikan lonceng, dua orang tukang nganterin daftar hadir ke setiap kelas (tiap kelas dua orang maksudnya), dua orang maen game dan beberapa sisanya ngerumpi. Ini real loh…
Inisiatif
Success comes from taking the initiative and following up... persisting... eloquently expressing the depth of your love. What simple action could you take today to produce a new momentum toward success in your life?" Anthony Robbins
Itu tadi kata-katanya Anthony Robbins seorang motivator kelas dunia. Menurut Mas Anthony, inisiatif itu sangat menentukan kesuksesan. Mungkin kita sering mendengar kata inisiatif dalam kehidupan sehari-hari tapi tidak tahu apa artinya. Menurut Victor Hugo, inisiatif adalah melakukan hal yang benar tanpa diberitahu.
Ketika saya masih menjadi ketua sebuah organisasi mahasiswa, inisiatif ini adalah hal yang selalu ditekankan dalam setiap pertemuan pengurus, pembinaan maupun syuro (rapat). Banyak pekerjaan yang tidak terselesaikan karena si A percaya si B bisa melakukannya. So, Si A tidak melakukan apa-apa karena percaya si B akan melakukannya. Eh, ternyata si B pun tidak melakukan apa-apa karena dia beranggapan bahwa pekerjaan itu akan diselesaikan oleh si B. Mereka saling menunggu. Mereka tidak punya inisiatif untuk mengerjakan. Saya teringat sebuah kisahyang saya dapat di dunia maya tentang seorang pekerja yang bekerja pada seorang bangsawan di eropa pada zaman medieval. Suatu hari si istri bangsawan memanggil sang pekerja untuk diajak berbiacara.
"Andrew, berapa lama Anda sudah tinggal dan bekerja bersama kami?", tanya istri bangsawan itu.
"Kira-kira sekitar dua puluh lima tahun, Nyonya" jawab Andrew. "Oiya, saya ingat kalau engkau dipekerjakan untuk memelihara satu-satunya kuda perang waktu itu," kata sang Nyonya.
"Benar sekali, Nyonya," jawab Andrew.
"Andrew, kuda itu sudah mati sepuluh tahun yang lalu", ujar sang Nyonya kepada Andrew. "Benar sekali, Nyonya." Jawab Andrew. "Jadi, apakah yang harus saya lakukan sekarang?", lanjutnya.
Hey! Jangan-jangan kita sama seperti Andrew.
Banyak orang tidak memiliki inisiatif dan menunggu bertahun-tahun orang lain memberitahukannya tentang apa yang yharus dia lakukan. Lah, kalau tidak kunjung ada yang memberitahu, mau menunggu sampai kapan? Sampai sekarang, lima tahun sejak menjadi kecamatan baru, karyawan di kantor yang saya lewati itu masih menunggu. Bapak, Ibu, santabe…ntar ketinggalan kereta loh. Atau mau nunggu diangkutin pakai truk kayak ternak?
Kreatif
Orang-orang yang kreatif biasanya selalu punya inisiatif untuk take action. Mereka tidak akan membiarkan sesuatu membeku tanpa disentuh. Para ahli psikologi mengatakan bahwa sebetulnya setiap manusia memiliki kemampuan kreatifitas. Para pakar kreatifitas menegaskan bahwa setiap orang memiliki potensi kreatif dan kreatifitas itu sendiri dapat dipelajari dan ditingkatkan. Memang, faktor-faktor seperti pengetahuan, penguasaan teknik, pengalaman praktis, dan motivasi sangat penting peranannya dalam membuka dan mengembangkan potensi kreatifitas. Namun, tak kalah penting adalah pengembangan kebiasaan-kebiasaan positif yang merangsang cara berpikir atau tindakan kreatif.
Kalau saja para karyawan kantor yang saya temui itu punya kreatifitas sedikit saja, pasti kantor itu akan menjadi tempat bekerja yang menyenangkan. Efeknya adalah para karyawan bersemangat, pekerjaan tuntas, target terlaksanakan, pembangunan meningkat, dan tentu saja daerah jadi maju. See…,dahsyat kan efek dari kreatif ini?
Karena kreatif itu bisa dipelajari, dibutuhkan contoh buat mereka agar kreatif. Hanya butuh satu orang untuk menjadi masinis lokomotif. Kalau ada satu orang kreatif dalam lingkungan kantor yang saya lihat itu, ia akan menjadi model bagi yang lain. Menurut teori psikologi, modeling adalah proses belajar terbaik. Bukan belajar jadi model loh ya, tapi belajar berdasarkan apa yang kita lihat alias mencontoh. Lama-lama kreatif itu akan menjadi watak dan kebiasaan kok, nggak perlu contoh lagi. Creative will be their middle name.
Ketika saya pulang nanti, mudah-mudahan kantor yang saya lewati itu sudah berubah menjadi tempat yang asri dan menyejukkan buat para penghuninya sehingga bekerja menjadi hal yang menyenangkan disana. Atau mau menunggu saya pulang?
Dibilangin jangan nunggu, ntar diangkut truk pengangkut sapi loh!!



