Thursday, September 2, 2010

Pontianak 5 #Street and Transportation

Hari ketiga tinggal di kota ini, kebutuhan yang harus saya penuhi semakin bermunculan. Oleh karena itu, sore sehabis dari kantor saya memutuskan untuk membeli beberapa kebutuhan sehari-hari. Dari informasi yang saya dapatkan dari teman-teman saya, di kota ini ada sebuah pusat perbelanjaan bernama Mega Mall. Nah, ke sanalah tujuan saya sore ini.


 

Bayangan saya tentang sebuah kota adalah sebuah daerah urban dengan fasilitas umum yang lengkap. Oleh karen itu saya memutuskan untuk naik bus kota untuk menuju ke Mega Mall. Setelah berjalan beberapa saat berjalan kaki dari kantor, saya menunggu bus di dekat sebuah tugu di pertigaan yang menuju kantor saya. 15 menit berlalu. Tidak ada tanda-tanda bus kota ataupun angkot (di sini disebut oplet) yang lewat. Satu jam menunggu, saya mulai gelisah. Saya kemudian memutuskan untuk bertanya kepada abang penjual kelapa muda yang sedang melayani pembeli yang tampaknya akan mempersiapakn makanan buat berbuka. Dan jawaban yang saya dapatkan adalah; ada sih Bang, tapi jarang.


 

Aduh...! ini sih bukan jarang lagi. Ini langka. Satu jam lebih saya menunggu, saya tidak melihat satu bus atau oplet pun yang lewat. Untunglah, seorang dear friend lewat pakai motor dan mengantarkan saya ke Mega Mall.


 

Gara-gara keterbatasan mass-transportation juga yang membuat saya harus berjalan kaki setiap hari dari tempat saya tinggal ke kantor. Lumayan, dengan gaya jalan saya yang sering dkeluhkan teman-teman saya karena karena seperti dikejar-kejar, saya hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai ke kantor. Yang nggak tahan, kalau saya ke kantor agak telat. Matahari tanah khatulistiwa yang begitu membakar sukses membuat saya bermandikan keringat ketika sampai di kantor. Makanya, saya selalu ke kantor memakai topi fedora, celana pendek, t-shirt dan sepatu sport. Berjalan sendiri di tengah orang-orang yang berkendaraan yang gaya berkendaranya menakutkan pejalan kaki, cukup aneh. Sepertinya, hanya saya sendiri yang nekat jalan kaki di kota ini. Selama ini saya belum menemukan pejalan kaki yang lain. Kata teman saya sih, kalau tinggal di Pontianak harus punya kendaraan sendiri karena keterbatasan angkutan umum. Efeknya buat saya, saya jadi nggak bisa kelayapan lagi seperti ketika di Malang.


 

Menurut saya, sistem transportasi di kota ini melawan local wisdom. Sebagai kota yang dilintasi oleh ratusan parit dan dua sungai besar, transportasi air seharusnya tidak ditinggalkan. Nama-nama tempat saja disini menggunakan nama-nama sungai dan parit (kanal). Saya pikir transportasi air juga bisa mengendalikan kepemilikan kendaraan bermotor yang membuat macet kota dan tentu saja hemat energi. Membagun jalan raya sangat high cost disini. Dengan kondisi tanah gambut yang berlumpur, jalan yang dibangun mudah amblas dan bergelombang. Makanya, hampir setiap hari selalu ada perbaikan jalan.


 

Untunglah buat kemana-mana saya punya banyak tebengan. Bisa motor teman-teman atau mobil Mr. Boss. Makanya, thanks banget buat Mr. Boss Bang Aji dan teman-teman SBS Pontianak.


 

Pontianak 4# Mie Sagu dan Pisang Pontianak

    Selain aneka macam kue dan Es Cincau, menu berbuka bersama keluarga sahabat saya, Ridho adalah Mie Sagu. Menu yang asing buat saya. Karena selama ini saya cuma pernah merasakan sagu mutiara sebagai makanan olahan dari sagu. Selain itu, ustadz saya juga sering cerita tentang kelezatan papeda yang disiram dengan kuah ikan kuning, makanan khas di kampung halaman saya yang berasal dari ambon itu. Nah, Mie sagu baru saya lihat wujudnya hari ini.


 

Bentuknya mirip dengan bihun tapi lebih besar. Biasanya mie sagu yang dijual di pasar ada yang siap dinikmati dan ada juga yang hanya ditumis dan kuahnya dibuat sendiri di rumah. Makanan ini hand made dan khas pontinak banget. Sore ini, dengan semangat (padahal saya malu-malu sungkan gitu. Ini hanya untk efek dramatisasi sajaJ) saya menyendokkan mie ke sagu ke piring saya dan menuangkan kuah setelahnya. Tak sabar tangan saya langsung mnyendokkan mie ke mulut saya dan merasakannya.


 

Hmm...rasanya kenyal-kenyal gimana. Kuah nikmat berpadu dengan mie sagu yang kenyal ternyata sangat nikmat. Selain itu, makanan ini cukup mengenyangkan dan tidak membuat perut perih seperti sehabis memakan mie instan. Tapi kayaknya mereka harus mencoba variasi resep mie sagu deh. Kalau kuahnya dibuat manis kayak kuah kolak atau cendol gitu, kayaknya enak juga deh.


 

Selain terkenal karena jeruknya yang manis (sebenarnya sih penghasil jeruk itu bukan Pontianak tetapi Sambas. Sama halnya dengan Malang yang terkenal karena Apel walaupun yang mengasilkannya adalah kota Batu), yang sering saya dengar adalah pisang goreng pontianak. Katanya, pisang dari pontianak itu enak. Dan pisang adalah buat favorit saya. Love banana! Makanya, saya pengen banget merasakan makanan berbahan pisang. Dengan modal penasaran tadi saya mencoba menyusuri jalan-jalan mencari penjual pisang bakar atau syukur-syukur kalau ketemu banana pancake kesukaan saya itu.


 

Hampir semua jalan "kuliner saya lewati dan saya tidak menemukan satu pun penjual pisang bakar atau kafe yang bertuliskan pisang bakar sebagai menunya. Malahan, akhirnya pisang bakar itu saya temukan di sebuah coffee shop di Mega Mall. Dan yup...pisangnya enak banget. Tebal dan empuk. Makanya bagi yang mau buka bisnis kuliner di Pontianak, menyediakan pisang bakar sebagai menu is strongly recommended deh. Jangan lupa juga untuk menyediakan banana pancake. How come they don't know this kinda heaven food. Yup, it is a heaven food which is scattered on the earth. You have to try people!

Thursday, August 19, 2010

Pontianak 3# Sotong Pangkong, Teh Es dan Kecap Ayam


 

Saya tergesa menuruni eskalator di Mega Mall Pontianak begitu azan maghrib terdengar. Tujuan saya adalah gerai Es Teller di ground floor. Saya ingin berbuka dengan semangkuk Es Teller yang segar itu sore ini.


 

Sambil menikmati Es Teller saya perlahan, saya memasang telinga mendengarkan pembicaraan para pengunjung maupun para pelayan yang sibuk menyiapkan pesanan pengunjung yang lumayan ramai sore ini. Saya selalu suka mendengar logat Melayu yang lembut mendayu. Saya langsung teringat potongan-potongan percakapan Upin dan Ipin daam film kartun besutan Malaysia yang digandrungi di tanah air. Kalau ada perempuan yang ngomong, pasti saya langsung teringat sosok kak Ros. Dan kalau perempuan yang sudah tua bicara, saya langsung ingat atuk.


 

Tiba-tiba datanglah serombongan ABG yang langsung berkerumun melihat daftar menu. Seorang cewek langsung meneriakkan pesanannya.


 

"Kecap Ayamnya satu kak"

Hah? Kecap ayam? Makanan macam apa pula lah itu?


 

Yang satu kemudian meneriakkan pesanan minuman yang juga langsung membuat telinga saya terbuka lebih lebar.


 

"Teh es dua!

Nah, kalau ini saya tahu. Soalnya, teman saya Ridho mengucapkan pesanannya persis sama dengan ABG tadi ketika pertama kali ke Malang. Teh Es adalah sebutan untuk Es teh. Dan kecap ayam pastilah ayam kecap kan?


 

Es Teller di mangkuk saya sudah tandas, licin. Porsinya terlalu kecil buat saya. Rasanya pun jauh di bawah es Teller favorit saya di Malang. Mana harganya mahal pula. Untuk semangkuk Es Teller dan sebotol mini air mineral, saya harus membayar 20 ribu rupiah. Eits....! ini ramadhan Erik, syukurilah makanan yang kamu makan. Oke deh, alhamdulillah ya Rob, Es tadi telah menyegarkan tenggorokan hamba. Tapi, harganya terlalu mahal ya Robb!

Sotong Pangkong

Sejak mendengar nama makanan ini saya langsung penasaran ingin mencoba mencicipinya. Katanya, ini khas pontianak banget. Tapi kok teman kantor saya, ada yang tidaj tahu rupa makanan ini. Apalagi mencobanya. Padahal dia asli Pontianak loh.


 

Sepulang taraweh di masjid kecil beratap sirap khas Melayu dengan menara kayu dan dinding kayu berukir di dekat Pontianak Convention Center, saya langsung menghampiri penjual Sotong Pangkong di dekat kantor saya yang sedang raai dikunjungi pembeli.


 

Penjualnya menawari saya pilihan Sotong Pangkong yang 5 ribu rupiah per buah atau yang sepuluh ribu rupiah. Saya memilih membeli dua Sotong pangkong dengan yang 5 ribu rupiah per buah. And do you know what Sotong pangkong is?


 

Sotong adalah sebutan masyarakat Pontianak untuk ikan cumi-cumi. Sedangkan pangkong adalah sebuah aktifitas memukul-mukul dengan palu. Nah, sotong pangkong ini adalah, cumi-cumi kering yang digongseng kemudian dipangkong sampai pipih. Cara memakanya, sotong pangkong dicelupkan ke dalam saos yang serupa dengan saos cilok di jawa. Seperti apa rasanya? Lumayan sih. Sama dengan makan cumi-cumi kering bakar yang biasa dibawakan oleh teman saya yang suku bajo dari Sepeken itu. Yang beda hanya sausnya saja.

Akhirnya, kesampaian juga saya makan sotong pangkong alias cumi-cumi bakar itu. Lumayan buat senam mulut. Tahu sendiri kan bagaimana mengunyah cumi-cumi kering? Makanya, biar nggak alot, makanan ini harus langsung dinikmati selagi hangat.

Pontianak 2# Ke Kantor Naik Pelampung

Pagi-pagi sekali saya sudah berbaur dengan para penduduk pontianak yang sudah memenuhi jalan berkendara ke berbagai tujuan di kota ini. Ada koko-koko dan cici-cici yang berboncengan menuju pasar. Sayuran dan buah segar hasil tangan dingin dan kerja ulet para chinese petani (di sini lebih dikenal dengan istilah "Cina kebun") tampak tersususun rapi di lapak-lapak pinggir jalan. Di seberang jalan sana saya melihat sekeluarga Chinese berpakaian rapi sedang menyetop bus jurusan Pontianak-Serawak. Bus eksekutif dengan tujuan Brunei Darussalam juga tampak melaju dari arah jembatan. Pedagang pakaian second hand mulai menata dagangannya menyambut para pembeli. Semua tampak sibuk. Di atas boncengan Honda Win 100 yang melaju perlahan saya merekam semua aktifitas di sekeliling saya dengan antusias. Kemacetan segera saja terjadi akibat dari kendaraan yang memadati jalan dengan berbagai macam tujuan itu.


 

Membayangkan kemacetan yang akan terjadi sepanjang jalan menuju seberang (sebutan untuk pusat kota yang memang berada di seberang sungai), Ridho segera saja membelokkan motor ke arah pinggir sungai. Untuk menghemat waktu, kami akan naik Ferry saja ke seberang. Memang lebih hemat, karena menyeberang dengan ferry hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Satu kendaraan dikenai Rp. 4.000 sekali naik ferry. Sedangkan kalau kami harus melewati jalan darat, waktu tempuhnya lebih lama arena harus memutar dan melewati dua jembatan panjang. Belum lagi kemacetan yang biasanya mengular ditambah dengan pengendara sepeda motr yang sangat tidak kenal rambu-rambu lalu lintas. Serobot sana-serobot sini dan berbelok seenaknya tanpa memberi tanda.


 

Dari atas ferry saya bisa lebih leluasa memperhatikan semua aktifitas di sungai yang menjadi jalur pelayaran nasional ini. Rumah-rumah kapal dengan penghuninya yang sedang sibuk beraktifitas pagi; madi dan mencuci dari atas kapal mereka. Para laki-laki chinese dan abang-abang melayu eksotis memenuhi 'anjungan mandi' dengan tubuh hampir telanjang. Anjungan mandi adalah sebutan saya untuk bangunan semacam dermaga kecil yang terbuat dari kayu sebagai tempat warga pinggi sungai melakukan aktifitas mandi dan mencuci. Anjungan speed boat yang sedang tertambat di pinggir sungai pun tidak luput menjadi tempat seorang perempuan melakukan aktifitas yang sama dengan kaum lelaki tadi.


 

Sementara itu perahu-perahu motor tempel seukuran perahu dayung bolak-balik mengantar penumpang yang ingin berbelanja ke pasar yang terletak di pinggir sungai di seberang sana. Hmm...saya ingin sekali mencoba naik perahu seperti itu menyusuri sungai ini.


 

Istana Qadariyah, istana kesultanan Pontianak tampak berdiri megah di atas tanggul tepat di persimpangan sungai Kapuas. Atap khas rumah melayu yang dimiliki mesjid istana tampak mencolok sekali terlihat dari anjungan ferry tempat saya berdiri. Sebuah tempat mengendalikan pemerintahan yang sempurna untuk sebuah peradaban sungai di masa lampau. Menurut sahabat saya, Ridho, kita bisa menyewa perahu-perahu motor kecil yang banyak tertambat di sepanjang sungai ini untuk river tour sepanjang sungai ini. Dan biasanya, para pengunjung memasukkan istana Qadariyah sebagai salah satu menu river tour ini.


 

Merapat ke dermaga kecil di seberang, saya langsung disambut oleh bangunan-banunan tua yang semakin mengokohkan ketuaannya dengan lumut-lumut yang menepel di tembok rumah. Begitu juga dengan rumah-rumah kapal dengan penghuninya yang tampak sedang bersantai menikmati pagi. Kapal yang merapat langsung disambut oleh arus penumpang yang ingin ke seberang.


 

Ternyata, di balik gedung-gedung tadi membujur jalan raya yang mengubungkan pelabuhan dengan pusat kota dan bagian-bagian lain kota ini. Dengan berkendara sebentar, sampai lah saya di kantor.

"Naik apa kesini Mr. Erik?"

"Naik Ferry"

'Ooo...naik pelampung!

"hah..???


 

Woalah, ternyata pelampung itu sebutan oarng-orang disini untuk kapal ferry. Padahal kapalnya sebesar ferry yang menghubungkan banyuwangi dan bali loh. Masih baru pula. Tidak seperti ferry Ketapang-Gili Meno yang tua seperti kaleng rombeng itu. Yah, begitulah. Hari pertama ke kantor, saya naik pelampung!

Monday, August 16, 2010

Pontianak #1; Love at the First Sight

Saya sampai di kota ini hampir tengah malam. Jadi, saya tidak bisa melihat banyak dalam remang-remang kota. Tapi yang pasti, kota ini mempunyai banyak sungai dan kanal. Itu saya simpulkan karena dalam perjalanan dari pelabuhan ke rumah sahabat saya, Ridho, saya melewati beberapa jembatan besar dan kecil beserta kanal-kanal kecil di kiri kanan jalan.


 

Keesokan harinya lah saya baru bisa melihat kota ini secara jelas. Hal yang paling menonjol adalah jalur sungai Kapuas yang membelah kota. Selain sungai Kapuas, sungai besar yang membelah kota ini adalah sungai landak. Makanya, untuk mencapai rumah sahabat saya itu, saya harus melewati dua jembatan panjang. Selain sungai besar tadi, hampir di kiri-kanan setiap jalan terdapat kanal-kanal (mau dibilang parit, terlalu besar) kecil.


 

Saya membayangkan kanal-kanal dan sungai di kota ini ditata dan dijadikan wahana wisata seperti kota air Venesia. Pasti tidak kalah cantik. Lagu opera yang dinyanyikan oleh mas-mas pendayung Italia itu diganti dengan dendang Melayu dengan iringan akordion. Wuihh....eksotis banget deh!


 

Tata kotanya hampir-hampir sama dengan kota Samarinda di Kalimantan Timur. Bedanya, Samarinda hanya dibelah sungai Mahakam sedangan Pontinak selain dibelah oleh sungai Kapuas juga dilintasi oleh sungai-sungai kecil dan kanal-kanal yang bejibun. Kalau di Samarinda, ada jalan besar yang langsung menyusuri sungai, disini tanggul sungai dipenuhi oleh bangunan.


 

Satu lagi yang membuat kota ini benar-benar unik adalah keberadaan etnis Cina yang begitu mendominasi. Di sepanjang jalan pasti bisa dijumpai koko-koko dan cici bermata sipit. Bedanya dengan etnis Cina di Jawa, chinese di Pontianak sangat berbaur. Profesi mereka pun bermacam-macam. Mulai dari petani, buruh pabrik, tukang becak sampai tauke-tauke besar. Dan tentu saja mereka adalah penguasa Ekonomi disini. Hanya di Pontianak saya melihat koko-koko putih bermata sipit sedang memanggul sayuran dari kebun atau mandi pagi di tepi sungai Kapuas. Begitu juga di sekolah umum yang menjadi client kantor saya, saya mendapati beberapa guru yang beretnis Cina. Agak susah juga sih membedakan mana etnis cina dan mana yang etnis dayak. Maklum, kulit dan mata mereka serupa. Putih-putih dan sipit. Tapi kata teman saya, kulit etnis dayak putihnya beda. Lebih pucat.


 


 


 

Setelah mengobrol dengan salah satu penduduk lokal, saya jadi tahu mengapa tiket pesawat dari Jakarta maupun Surabaya dengan tujuan Pontianak menjadi mahal gila. Rupanya ini high season karena Chinese yang ada di Jakarta dan Surabaya ramai-ramai mudik ke Pontianak untuk sembahyang kubur. Sebuah ritual rutin dua tahunan.


 

Dengan jumlah etnies Cina yang begitu banyak, jumlah warga Muslim di Pontianak hanya sekitar 52%. Itu yang saya dengar dari kajian di sebuah masjid yang saya ikuti pada hari kedua saya tiba di kota ini.

Hmm....saya masih punya waktu lebih dari 1 bulan untuk mengeksplore kota ini lebih dalam. Saya rasa, saya jatuh cinta dengan keunikannya.


 

Road to Pontianak 1# Kapal Ekonomi dan Kapal Pesiar Ternyata Sama!

Saya sudah pernah menyaksikan potret masyarakat kebanyakan Indonesia melalui wajah kereta ekonomi. Dan menurut saya, itu sangat parah dan tidak manusiawi. Manusia berjubel dengan unggas dan barang yang bertumpuk-tumpuk yang melebihi muatan gerbong yang tidak berpendingin dengan perjalanan lebih dari 18 jam.


 

Ternyata pemandangan dalam kapal penumpang di dek ekonomi sebelas dua belas dengan pemandangan di kereta ekonomi. Dua belasnya kapal penumpang kelas ekonomi. Dalam kata lain, dek kapal penumpang ekonomi lebih parah. Saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana penumpang dengan anak-anak kecil kumal berjejal dalam dek yang panas dan pengap. Berasa masuk ke dalam bunker tentara jepang pada zaman penjajahan dulu (paling tidak seperti itulah yang saya tangkap dari cerita kakek saya). Bayangkan, menghabiskan waktu lebih dari 50 jam di dalam dek pengap dengan aroma bau badan yang beraneka ragam. Jangan tanya deh ada wangi Fahrenheit atau Higher Energy nya Christian Dior.


 

Bagaimana ceritanya saya yang selalu merasa "sok-bukan-kelas-ekonomi-mode-on" ini bisa terdampar ke dalam kapal penumpang kelas "bunker jepang" itu? Semuanya berawal dari tugas kantor ke Pontianak dengan dana pas-pasan dan harga tiket pesawat yang melambung tinggi sehingga menghempaskan saya ke dalam kapal penumpang kelas ekonomi.


 

Ketika memutuskan membeli tiket saja saya sudah merasa was-was. Menghabiskan waktu 2 hari 2 malam di tengah lautan dengan bayangan tenggelamnya kapal penumpang yang sering menjadi menu berita layar kaca, tidak pernah masuk dalam bayangan saya. Apalagi agen tiket itu bilang kalau selain kapal PELNI tidak ada yang berlayar dengan alasan gelombangnya sedang tinggi. Hhhh....makin bergidik lah saya. Saya hampir saja memutuskan untuk membeli tiket pesawat kalau di otak saya tidak terbayang barang-barang yang bisa saya beli dengan uang sebanyak itu. Ada sepatu Mas Yongki, jeans keren, jam tangan, parfum dan banyak lagi yang lainnya terus-menerus menyesaki otak saya.


 

Akhirnya toh saya harus tetap berangkat dengan kapal laut. Berbekal buku tebal, majalah berjibun, botol parfum di tangan dan Hand sanitizer beserta list mp3 yang sudah saya select, saya dan Ridho melangkah memasuki dek kapal. Dan tada....!


 

Saya langsung dihadapkan dengan penumpang yang bergelimpangan memenuhi dek ekonomi yang panas, berkabut karena asap rokok dan tentu saja sangat bau. Saya langsung shock membayangkan kalau saya harus melewati kondisi seperti itu selama lebih dari 48 jam.


 

Saya sangat beruntung karena tidak lama kemudian datang seorang ABK menawarkan kamar kepada kami. Akhirnya setelah merogoh-rogoh dompet dan mengucek-ngucek kantong kami menambah 125 ribu untuk bisa tinggal di kamar ABK dengan konsekuensi uang di dompet tinggal tidak lebih dari 20 ribu. Worth it lah! Saya jadi tahu ternyata ABK itu tinggal dalam kamar seperti dalam rumah biasa; ada kulkas, washtafel dan tempat tidur susun serta lemari pakaian. Tapi tetap saja tinggal dalam kapal dengan pemandangan ke depan biru, belakang biru, samping biru dan ke atas biru membuat saya merasa bete habis. Untunglah saya berhasil menghibur diri saya dengan merubah pandangan saya terhadap kenyataan seperti yang disarankan Mas Jack Canfield.


 

Saya mencoba menganggap ini dalam perjalanan liburan dengan kapal pesiar. Makanya saya berdandan dengan gaya liburan. Kaus V-neck berdada rendah, celana sebetis warna putih, sneaker putih, slayer di kepala yang dipadukan dengan topi fedora dan telinga yang dibekap oleh headset. Lumayanlah, saya bisa menghabiskan waktu di geladak dengan bacaan di tangan dan suasana santai seperti liburan walaupun berada di tengah lalu lalang penumpang yang dandanannya ya, gitu deh itu. Hasilnya saya mabok buku dan mabok music. Tapi toh saya akhirnya menghibur diri saya dengan kata-kata; Ternyata naik kapal ekonomi itu menyenangkan!


 

Thursday, June 10, 2010

Srumble Egg Vs Orak Arik

Jadi anak kos harus siap-siap sengsara. Setiap hari sarapan nasi pecel bu Marni, siangnya nasi campur dan malamnya lalapan. Nggak harus gitu juga kok. Kita tetap bisa makan enak walaupun jadi anak kos. Syaratnya Cuma satu; rajin dikit aja!


 

Sarapan adalah ritual pagi yang tidak bisa saya tinggalkan, kecuali pas puasa tentunya. Sarapan yang paling umum yang tersedia pagi-pagi adalah nasi pecel. Empat tahun disughi masakan asli jawa tersebut rasanya bosan. Saya sangat suka nasi pecel tapi kalau setiap hari, rasanya enek juga. Makanya saya sering berkreasi membuat sarapan di dapur kos saya. Pas musim mangga, saya membuat makanan berbahan dasar mangga. Misalnya, sandwich isi mangga muda. Segerr bener!!


 

Ketika berlibur di Bali kemarin, sarapan wajib saya adalah scramble egg, french toast, orange juice dan banana pancake. Tapi saya sering merasa sudah cukup kenyang setelah hanya menghabiskan scramble egg. Makanya, ketika balik ke Malang, saya mencoba membuat scramble egg sendiri bermodalkan resep dari internet (hoho...kampung baget ya saya, baru tahu rasanya scrumbled egg). Kata mbak kos saya sih (jadi, ibu kos saya punya anak tunggal perempuan), scramble egg itu sama dengan orak-arik bahasa jawanya. Oalah, ternyata ini masakan jawa juga toh! Karena saya menganggap si Mbak kos pintar karena dia langsung tahu nama resep yang saya maksud dalam bahasa jawanya, saya ikuti saja petunjuk dia bagaimana cara memasaknya.


 

Crack..cress!! telur dipecah dan dimasukkan ke wajan trus diaduk-aduk.

Tara…!! Jadilah si scramble egg yang si Mbak kos bersikeras kalau itu adalah orak-arik, bukan srumble egg. Jadi sih! Tapi kok dari empat telur yang saya buat jadinya sedikit sekali ya? rasanya pun nggak sama dengan scramble egg yang saya makan walaupun tampilannya mirip.


 

Akhirnya, keesokan paginya saya mencoba resep yang saya dapatkan dari internet dan mengabaikan petunjuk si mbak kos yang setelah membuat scramble egg idaman saya yang berubah jadi "oraks ariks" dia jadi kelihtan bodoh sekali. Awalnya rada bingung juga melihat banyak versi resep di internet yang berbeda-beda walaupun judulnya satu; Scramble egg. Saya pun memilih satu resep yang menurt saya paling simple. Ternyata memang beda caranya sama memasak orak-arik seperti petunjuk mbak kos saya yang sekarang kelihatan bodoh itu.


 

Membuat scruble egg itu harus dicampur susu biar creamy dan mengembang. Pantasan saja kemarin saya masak empat telur menyusut jadi tinggal seuprit gitu. Dan hari ini, tiga butir telur bisa menjadi dua porsi jumbo scramble egg.


 

Nggak sabar, saya langsung membagi scramble egg buatan tangan saya itu menjadi dua. Satu buat saya, satu buat Bro Iqbal yang tadi pagi buta saya paksa buat beli susu untuk bahan scramble egg.


 

Tusuk, angkat garpu ke mulut, hap! Nyam..nyam..nyam!

Hueks…!! Kok rasanya manis banget gini. Cek ke tempat sampah,aduk-aduk.

Halah! Ternyata susu yang saya campurkan ke adonan telur saya adalah susu kental manis cap uueeenak itu! Hugh…bro Iqbal disuruh beli susu buat masak telur kok beli susu buat mimi adik gini. Pantesan aja manis. Tapi karena itu buatan saya sendiri, tetap saja rasanya enak banget!


 

Psst…siangnya, si Mbak kos dimarahi sama ibu kos. Apa pasal?

Ketika ibu kos pulang dari pengajian dia nggak menemukan apa pun di atasa meja makan selain berbungkus-bungkus mie instan dan telur mentah tertata rapi. Ternyata si Mbak kos nggak masak apa-apa kecuali telur ceplok buat sarapan dia sendiri lalu main ngabur aja ke kantor. Jadilah saya hari itu telat ke kantor karena mendengarkan curhat ibu kos tentang si Mbak kos yang nggak bisa masak dan nggak tahu ngurus dapur. Mau ninggalin, takutnya ibu kos ngambek dan mogk nyiapin makan siang buat kita.

Hehe…pantasan saja telur empat butir saya berubah jadi seuprit, resepnya dari mbak (udah ibu-ibu loh) kos yang bisanya Cuma masak mie instan sama telur ceplok. Itu mah, saya kelas 1 SD sudah mahir banget!


 

Karena saya baik hati, ini saya bagi resep scramble egg yang benar, biar sarapan kalian nggak Cuma pecel melulu.


 

Bahan:

6 butir telur ayam

100 ml susu cair

1 sdt garam

1 sdt merica hitam bubuk

1 1/2 sdm mentega tawar

(takaran bisa sesuai selera n kebutuhan)

Cara membuat:

Campur telur, susu cair, garam, dan merica. Kocok rata. Bagi menjadi 6 bagian. Panaskan 1/2 sdm mentega, masukkan 1 bagian campuran telur, biarkan hingga 1/4 matang. Aduk-aduk hingga 3/4 matang. Angkat.


 

Tara…! Simple banget kan? Ini bisa dipakai sarapan dengan lima orang teman anda yang satu "paradigma" tentang sarapan. Tapi kalau teman saya yang sarapannya saja kudu 1 porsi nasi goreng buatan ibu kos plus cake, pisang goreng dan lumpia itu sih, jelas-jelas bakal menolak diajak sarapan macam beginian!

Thursday, May 27, 2010

Bali Sekali Lagi; Turis Aussie dan Bir Bintang

Kalau ditanya tempat paling favorit di Indonesia, saya akan langsung menjawab Bali. Sebenarnya banyak tempat wisata yang jauh lebih indah daripada pantai-pantai di Bali. Tapi bagi saya, Bali tetap terfavorit karena hanya di Bali saya bisa menikmati pantai yang indah sekaligus entertainment yang lain. Bali adalah syurga belanja, syurganya hotel-hotel mewah maupun hotel tidak mewah namun sangat nyaman sampai kepada hostel-hostel kelas Backpacker yang hanya Rp. 40.000 per malam.


 

Kali ini adalah kunjungan saya yang kelima kalinya ke Bali. Oleh karena itu saya ingin menulis tentang Bali sekali lagi. Bali dimata saya, dengan paradigma saya, dan tentu saja pujian-pujian saya tentang Bali sesuai dengan selera dan ukuran "keren: menurut saya. Oke, Bali terlalu luas karena saya belum mengunjungi semua tempat di Bali. Jadi mulai sekarang Bali yang saya maksud adalah seputaran daerah pantai bagian selatan.


 

Hari pertama saya habiskan dengan bermain ombak dan menikmati sunset di pantai Kuta. Ditemani seorang teman dari Swiss yang setiap tahunnya selalu berlibur ke Bali, saya meresapi keindahan lembayung sore di ujung cakrawala pantai kuta. Kawasan pantai inilah salah satu penyebab yang membuat Bali nggak ada matinya. Pantai ini juga yang paling terkenal di anatara para wisatawan pengunjung Bali. Tidak heran kalau pantai ini selalu padat pengunjung. Untuk surfer pemula ataupun yang ingin belajar surfing, di sini tempatnya. Hmm…lagu lawas "Lembayung Bali" adalah Soundtrack hati saya saat ini.


 

Kawasan Kuta adalah base point yang bagus untuk berwisata di Bali karena tempatnya yang strategis, berada di tengah-tengah semua wisata pantai di Bali. Ditambah lagi, semua fasilitas yang dibutuhkan wisatawan tersedia lengkap di sini. Kawasan Kuta Square dengan butik-butik dan department store, café-café dan restoran serta hotel sangat memanjakan para wisatawan. Begitu juga jalan Legian yang dipenuhi deretan resto, butik dan bar-bar tempat dugem.


 

Turis Australia dan Bir Bintang

Bermula dari scaning setiap orang yang lewat di depan tempat kami berbaring di pasir, Christian, teman Swiss saya itu kemudian ngomong sambil menunjuk kepada segerombolan turis asing yang lewat di depan kami.


 

"Kamu tahu asal mereka darimana?

"Nggak. Emangnya darimana?

"Aussie. Mereka turis Australia"

"Kok tahu?


 

Obrolan nggak penting kami itu kemudian membawa teman saya kepada kuliah singkat beberapa karakteristik turis Australia yang menurut teman saya itu sangat menyebalkan. Penasaran kenapa teman saya itu begitu sebalnya sama turis-turis Australia, saya pun menyimak.

Nah, inilah catatan singkat saya dari kuliah teman saya tentang mengapa turis Australia itumenyebalkan:

  • Speaking Out Loud! Bagi teman saya yang suka ketenangan itu, turis Ausralia sangat berisik. Menurut dia, kalau ada suara-suara keras di sekita anda di Bali, mereka adalah turis Australia. Kalau saya sih, senang-senang saja dengan keributan mereka karena saya suka menyimak pembicaraan mereka. Lagian di Bali kan kebanyakan turisnya dari Aussie. Dekat sih!


     

  • SKSD. Mereka sangat suka menyapa semua orang-orang yang mereka temui dengan gaya akrab. "Hi...Guys!", "Hi man!" How was your day?!" itu adalah beberapa sapaan yang biasa keluar dari mulut mereka. Bagi teman saya yang di negaranya orang terbiasa dengan "mind your own bussiness", ini sangat mengganggu. Akan tetapi bagi saya, itu menyenangkan karena menurut saya mereka ramah. Menurut teman saya, itu bukan ramah tapi sengak.


     


     

  • Telanjang dada dengan bad
    tatto. Turis-turis Australia memang suka banget telanjang dada dan benar kata teman saya, tato-tato mereka sama sekali nggak artistik. Kebanyakan tatto nya mencolok dan hampir mrnutupi satu bagian tubuh, bahkan seluruh badan plus kaki dan tangan.


     

  • Kalau pakai baju, bajunya pasti kaus dengan logo bir bintang besar-besar dan mencolok. Memang benar, hanya turis Autralia lah yang begitu suka dengan baju dan celana bir bintang. Tattonya pun sering berganbar logo bir bintang. Si Christian curiga kalau turis Australia itu suka patungan beli bir bintang biar dapat kompliment kaus, celana dan tatto gratis dari bir tersebut.


     


     

  • Selalu menenteng botol bir Bintang kemana-mana dan minum nggak henti-hentinya. I wonder, sebenarnya bir Bintang itu memabukkan nggak sih? Soalnya mereka kemana-kemana membawa botol itu sambil jalan normal.


     

Saya banyak menemukan turis-turis muda Australia tadi tinggal di Poppies Lane 1 dan 2. Kalau malam hari, ributnya minta ampun. Emperan toko-toko di "gang" itu dipenuhi oleh turis-turis dengan tatto buruk yang mabuk dengan bir Bintang di tangan sambil teriak-teriak dan nyanyi-nyanyi nggak karuan. Sebagian lagi, menghabiskan malam sampai drop di klub dan bar yang tersebar sepanjang jalan Legian maupun daerah seminyak.


 

Apakah lima karakteristik yang diberikan oleh teman saya itu terbukti benar? Yup, saya banyak menemukan kecocokannya. Seperti suatu malam ketika saya bersantai di kolam renang hotel, saya dikagetkan oleh seorang turis bertatto buruk dengan bir Bintang di tangan. Setelah menyapa akrab, dia menawarkan bir bintangnya kepada saya dan Christian.


 

"Sorry man, we don't drink! Kata saya dan Chris aklamatif.

Beberapa menit saya dibuat cengo karena saya harus menimak betul apa yang dia omongkan. Kayaknya sih dia pakai bahasa Inggris, tapi kok yang kedengaran hanya "blub, blub, blub". Bicaranya nggak nyambung pula.


 

Halah, setelah saya perhatikan, ternyata dia mabuk berat. Iya iayalah, pasti mabuk karena dari tadi saya lihat dia hanya duduk di balkon sambil memegang erat si Bir Bintang. Dan dia jauh-jauh nyamperin kita hanya buat nyapa-nyapa tadi. Hmm….benar-benar turis yang ramah!


 

Next Episod: Saya akan menulis tentang tempat-tempat dugem di seputaran Kuta dan Seminyak beserta kekhasannya masing-masing!

Wednesday, May 5, 2010

Three Idiots; Being an Idiot is Cool!!

Pernahkah anda berhadapan dengan seorang guru, dosen atau professor yang sangat tekts book? Maksud saya, pengajar yang sangat terpaku pada buku teks sehingga apa yang disampaikannya tidak ada yang baru karena buku rujukannya itu-itu saja dan warisan dari guru dia ketika kuliah dulu. Ketika mahasiswa menyampaikan pendapat atau menjawab pertanyaan harus sesuai plek dengan yang ada di buku.


 

Saya pernah bertemu dengan pengajar yang seperti itu dua kali. Satu kali ketika saya belajar di SMP dan satu kali lagi ketika saya menjadi mahasiswa. Guru geografi saya sewaktu SMP selalu menerangkan pelajaran dengan buku teks di tangan dan ketika dia menanyakan sebuah definisi, maka kami harus menjawab sesuai dengan yang tertulis di buku. Tidak boleh lebih, apalagi kurang. Lengkap dengan itu, yaitu, adalah dan kawan-kawannya dan tidak boleh tertukar antara adalah dan ialah. Saya pikir, guru yang sperti itu adalah warisan orde baru dan saya tidak akan menemukan lagi dalam kehidupan saya setelah SMP. Secara sudah zaman reformasi kan? Ternyata saya salah. Ketika kuliah saya bertemu lagi dengan pengajar yang serupa walaupun tidak sesaklek guru SMP saya tadi.


 

Sosok mereka berdualah yang langsung terbayang ketika saya menonton film "Three Idiots". Film Bollywood ini bercerita tentang kehidupan mahasiswa di sebuah kampus teknik yang paling bergengsi di India,
ICE (Imperial College of Engineering)-saya tidak tahu apakah kampus ini benar-benar eksis atau tidak, belum sempat googling. Tokoh sentral film ini adalah
Ranchoddas Syhamaldas Chancad (Amir Khan),
Farhan Qureshi
(Madhavan),
Raju Rastogi
(Sharman Joshi),
Cathur Ramalingam (Omi Vaidya) dan Virus-panggilan mereka untuk
Viru Shahastrabuddhi
rektor mereka yang diperankan dengan apik oleh
Boman Irani. Sebentar dulu, anda tidak alergi dengan fil India kan? Kalau iya, jangan alergi dulu, lanjutkan dulu bacanya sampai selesai! Ini berbeda dengan film india kebanyakan yang melodrama dan super lebay.


 

Rancho adalah seorang pemuda yang jenius.
Catet! Jenius, bukan sekedar cerdas dan pintar!!

Ia langsung menarik perhatian mahasiswa baru yang sedang diospek dengan sadis oleh senior mereka karena datang terlambat dan bisa menghindari peloncoan. Sebaliknya, ia bisa membuat kapok sang senior dengan sebuah alat sederhana yang dia ciptakan dengan singkat di dalam kamar tempat ia kabur sembari menghitung waktu berapa menit lagi kesabaran sang senior habis dan mendobrak pintu kamar untuk menyeretnya. IPA kelas dua SD katanya memberi kata kunci pada ala sederhana yang membuat nyali sang senior langsung ciut.


 

Sosok jenius Ranco membuat Raju dan Farhan langsung jatuh hati dan mengidolakannya. Mereka memanggilnya dengan panggilan kehormatan
"Bapa Ranchodas". Sebaliknya, Catur, mahasiswa dengan
otak alat perekam yang metode belajarnya adalah menghafalkan semua materi perkuliahan meskipun tidak memahami apa maksudnya. Mahasiswa india kelahiran Uganda yang kesulitan berbahasa India tapi bahsa Inggrisnya pun "kumur-kumur" dengan aksen India sekental adonan dodol garut. Dia percaya ada dua cara untuk menjadi juara;
Tingkatkan nilaimu, atau turunkan nlai orang!


 


Rancho sangat menentang system pendidikan di kampus itu yang menurutnya kuno. Dosen adalah "nabi" yang tidak pernah salah dan buku adalah kitab suci yang tidak bisa diganggu gugat. Menurutnya kampus ini hanya mengajarkan bagaimana untuk mendapatkan nilai bagus sehingga nama kampus berwibawa dan menjadi patokan keberhasilan mahasiswa di India. Hari pertama belajar, Rancho langsung membuat "kekacauan" di kelas karena berdebat dengan dosen sehingga sang professor mengusirnya dari kelas. Tapi hal itu malah membuat si professor kehilangan muka di depan mahasiswanya. Apa pasal?

Ketika Rancho berbalik untuk mengambil buku-buku di mejanya, professor menghardiknya:

"Hei, kenapa kau kembali!!!

"Aku lupa sesuatu Pak"

"Apa?

"Instrument and record, analyse, summarize, organize, debate ad explained information that are elastative and non-elastative hard bound paper bag jacketed non jacketed with forward introduction, table of content index that are intented for the enlightenment understanding enhancement and education human brains of sense in root of vision sometimes touch!!" jawab Rancho tenang tanpa putus.

Sang professor dan mahasiswa satu kelas mendengarkan dengan mulut terbuka, melongo heran dan tidak mampu mencerna apa yang disampaikan oleh mahasiswa yang telah membuat murka sang professor.

"Apa yang barusan kau katakana?

"Buku, Pak, buku! Saya lupa buku saya. Boleh saya ambil?

Kontan seisi kelas kecuali professor dan Chatur ngakak mendengar jawaban polos Rancho. Sementara Sang professor tidak bisa menahan kesal.

"tak bisakah kau sederhanakan penjelasanmu?!! Hardiknya dengan kemurkaan tingkat tinggi.

"Saya sudah melakukannya, tapi anda tidak suka bahasa yang sederhana" jawab Rancho tenang sambil tersenyum.

Kembali seisi kelas riuh oleh cekikikan mahasiswa yang tidak bisa menahan geli mendengar skak dari Rancho dan professor yang semakin murka.


 

Hari-hari berikutnya Profesor lebih banyak menyuruh Rancho untuk berada di luar kelas karena tidak tahan dengan argumnnya yang selalu menohok. Tapi bagi Rancho itu bukan masalah. Diusir dari kelas yang satu, kelas yang lainnya masih terbuka pintunya. Yang penting belajar.


 

Menjelang hari ujian semester, Catur mulai menjalankan prinsipnya untuk menjadi juara.
"Turunkan nilai orang! Ia berusaha memecah konsentrasi belajar mahasiswa lain dengan menyelipkan majalah dewasa ke setiap kamar mahasiswa seluruh asrama. Aksi busuk ini memicu otak jenius Ranco untuk mencari cara untuk memberikan pelajaran kepada ambisi Chatur.


 

Akkhirnya ditemukanlah cara untuk member pelajaran kepada si chatur sekaligus professor Virus sang rektor yang sadisnya minta ampun. Kesadisannya yang membuat Joy, seorang mahasiswa pintar memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di kamar yang nahasnnya bertepatan dengan selesai disempurnaknnya oleh Rancho tugas akhir Joy yang ditolak oleh Virus karena menurutnya tugas itu tidak sempurna. Bukan Cuma itu saja, anak laki-laki satu-satunya juga bunuh diri dengan melompat dari kereta api karena tertekan oleh ambisi ayahnya yang memaksanya untuk menjadi engineer padahal ia sangat mencintai dunia kesusastraan.


 

Sebagai mahasiswa kesayangan para dosen, Chatur dipercaya untuk mewakili mahasiswa berpidato di hari guru yang diadakan oleh kampus dan dihadiri oleh menteri pendidikan. Otak jenius Rancho yang sedikit jahil langsung berpijar. Dengan fasilitas "replace" di Ms Word ia merubah teks pidato yang akan disampaikan oleh Chatur.
Kata-kata "ajaib dan keajaiban" digantinya dengan kata "cabul dan kecabulan". Kata-kata "uang" digantinya dengan kata "susu". Sedangkan puisi berbahasa Sansekerta yang memuji-muji pak menteri menjadi puisi yang berisi puji-pujian tentang kehebatan kentut si Chatur sendiri. Chatur yang tidak lancar berbahasa India itu menelan mentah-mentah teks pidato itu dengan kekuatan menghafal tape-recorder nya.


 

Inilah isi pidato itu:

Hari ini ICE menggapai langit tertinggi. Itu adalah jasa satu orang Shri Viru Sahastrabuddhi. Applaus untuk beliau! Selama 32 tahun beliau sentiasa memperjuangkan kampus. Beliau terus menciptakan cabul demi cabul. Semoga beliau terus melakukannya. Kami berfikir, bagaimana bisa seseorang selama hiduppnya menciptakan begitu banyak pencabulan. Dengan kedisiplinan tinggi beliau mampu melakukannya. Pemanfaatan setiap kesempatan, keteraturan jadwal, semua belajar dari beliau. Ya, dari beliau!

Hari ini, kita semua adalah mahasiswa. Esok, kita akan tersebar ke segala penjuru negeri. Aku berjanji pada kalian semua! Dimanapun kita berada pasti ada pencabulan. Kita akan mengharumkan nama ICE!


 


 

Kita akan tunjukkan pada dunia, kemampuan mencetak mahasiswa cabul disini yang tidak akan ditemukan pada mahasiswa manapun di seluruh penjuru dunia. Mahasiswa manapun!!

Bapak menteri yang terhormat, anda telah menyumbangkan sesuatu yang sangat kami butuhkan. Susu!!

Susu bagi semua orang yang kebanyakan mereka menyembunyikannya, jarang ada yang mau memberikannya. Anda memberikan susu ke tangan orang yang penuh cabul ini. Kita akan lihat, bagaimana beliau akan memanfaatkannya.

Dalam perayaan emas ini, saya akan mempersembahkan sebuah sajak.

    Beri kami kentut yang sempurna

    Kentut besar…tuchuk..tuchuk..!!

    Kentut Thud thudiya kecil

    Nafas utama kehidupan


 

Alhasil pidato yang seharusnya megah itu menjadi bahan tertawaan mahasiswa dan kemarahan menteri dan Virus walaupun Chatur sudah menyampaikannya dengan semangat berapi-api dan wajah mengulas senyum kebangaan atas kehormatan yang diberikan pada dirinya.

Satu pukulan, langsung kena 3 sasaran.


 

Yang paling terpukul atas kejadian itu tentu saja Chathur. Ia merasa seperti mukanya seperti dilempari dengan kotoran sapi padat. Sakit dan kotor. Ia sangat terhina. Ia mendatangi Farhan dan Rancho di atap gedung kampus dan menantang mereka bertaruh.


 

"Ayo kita bertaruh! Berani??!! Suatu hari dengan metodeku ini akan kutunjukkan kesuksesanku pada semua orang . Lalu aku akan tertawa dan kalian menangis! 10 tahun lagi di sini di tanggal yang sama kita akan bertemu. Kita buktikan siapa yang lebih sukses!!

"kawan, kau salah memilih jalan. Jangan mengejar kesuksesan. Jadilah orang besar, kesuksesan akan mengikutimu" Rancho mencoba menenangkan Chathur.

"Idealismemu tidak berlaku di dunia nyata Chanchad. Kau lalui jalanmu, aku lalui jalanku!! Chatur meraih pecahan botl minuman yang dilemparkannya ke tembok kemudian menuju tiang di tengah atap. Dengan penuh kemarahan dia menggoreskan tanngal mereka bertemu denga kaca ke tembok itu. Tanggal yang sama untuk mereka bertemu 10 tahun lagi.


 

Perjalan 10 tahun ini penuh dengan berbagai macam kejadian yang merubah hidup mereka, mengantarkan mereka menjadi manusia dewasa dengan pilihan jalan hidup masing-masing. Kejadian-kejadian yang kocak tapi sangat filosofis dan penuh makna. Apa saja kejadiannya? Tonton aja sendiri! Kalau nggak punya, request saja ke saya.


 

Saya sangat menyukai alur cerita film ini. Serupa dengan alur film
"Slumdog Millionaire", film Hollywood peraih banyak Academy Award yang juga mengambil setting di India. Mengalir,padat, filosif, kritik tajam yang dibungkus dengan lelucon yang menohok. Khususnya kritikan untuk dunia pendidikan dan motivasi belajar.


 

Soundtracknya juga bagus-bagus. Ada dua lagu yang paling saya sukai;
"Give me Some Sunshine" dan "All izz Well". Lagu pertama sangat acoustic, dengan cita rasa India yang samar, berisi tentang curahan hati para mahasiswa yang ingin melawan kehendak arus paradigma orang tua kebanyakan di India; be an engineer and your life will be superb! Lagu kedua adalah mantra penguat hati; All izz well (All is well-semua baik-baik saja)


 

Tokoh "Rancho"das Syamaldas Chanchad sangat pas diperankan oleh Amir Khan. Disini anda tidak akan menemukan actor-aktor ganteng Hollywood seperti di Melodrama india. Actor-aktornya lebih mewakili kebanyakan masyarakat India.


 

Sayangnya film ini tidak mendapat satu nominasi apapun di India sana. Yang masuk nominasi adalah melodrama super lebay ahay yang menjamur itu. Yah, mungkin melodrama memang mewakili kondisi masyarakat India saat ini.

Kenapa judulnya Three Idiots? Sebabnya karena mereka tidak tekstual. Yang tidak bisa menjawab sesuai dengan buku dianggap idiot di ICE!


 

Untuk rating, film ini patut mendapat 5 bintang untuk 1-5. Strongly recommended to watch pokoknya.


 


 


 


 


 

    

Monday, May 3, 2010

Kereta Ekonomi

Kereta api adalah salah satu moda transportasi yag paling saya sukai untuk bepergian. Berbeda dengan naik bus yangrasanya berada dalam sangkar kaca dan berasa sempit, naik kereta api seperti duduk di sofa ruang tengah. Apalagi kalau beruntung mendapat tempat duduk di samping jendela. Rasanya seperti duduk di ruang tengah rumah sambil melihat ke luar jendela. Kenapa saya merasa begitu padahal kondisi kursi kereta jauh dari sofa ruang tengah rumah saya? Mungkin karena ada meja kecilnya ya? Kondisi 'sofa ruang tengah' tadi bisa saya rasakan kalau naik kereta bisnis atau eksekutif.


 

Dua minggu yang lalu saya naik kereta ekonomi dengan rute Malang-Tulungagung. Perjalanan saya kali ini adalah dalam rangka menjadi panitia pernikahan seorang sahabat yang beruntung sekali sudah mendapatkan tambatan hati. Karena harus menyiapkan banyak hal untuk acara akad dan walimahan keesokan harinya kami berangkat 1 hari sebum hari H dengan menumpang kereta ekonomi siang dengan membawa 80 kg apel merah yang menjadi tanggung jawab kami. Berbeda dengan pengalaman naik kereta api yang biasanya berdesak-desakan dengan penumpang lain, copet, pengamen dan penjual asongan, kali ini kereta sama sekali tidak sesak. Saya bahkan duduk sendiri di satu deret kursi dekat jendela bgitu juga dengan bro Iqbal yang memilih mmenempati sendiri kursi samping jendela yang lainnya. Kondisi ini membuat saya bebas memainkan kamera di tangan saya membidik pemandangan yang menurut saya semuanya aindah terlihat dari jendela kereta. Apalagi daerah yang dilewati kebanyakan hamparan hijau tanah pertanian yang terhampar di ngarai-ngarai yang indah.


 

Objek dalam kereta pun tak luput dari jepretan kamera saya.

Sampai di Tulungagung kami langsung disambut oleh hawa yang kotras dengan hawa kota Malang yang adem. Secara keseluruhan, kota kecil ini bisa dikatakan indah. Indah menurut saya adalah ketika tata kotanya rapi dan lingkungannya bersih. Seperti kebanyakan kota di Jawa, stasiun kereta api, alun-alun dan masjid jami' menjadi unsur utama. Jalan-jalan di pusat kota bersih dan bebas dari pedagang kaki lima. Tapi seperti pemasalahan kotakecil lainnya, sulit untuk mendapatkan pilihan barang yang beragan ketika akan membeli sesuatu.


 

Kenikmatan saya naik kereta ekonomi rupanya tidak bisa dirasakan ketika saya harus balik ke Malang. Inilah rupanya wajah kereta api kelas ekonomi yang sesungguhnya. Ketika saya naik di stasiun Tulungagung gerbong sudah penuh sesak. Saya pun harus puas dengan berdiri di pintu gerbong. Dan saya harus berdiri 4 jam di tengah polusi bau badan manusia dengan aneka aroma di tengah hawa super panas. Berasa lagi di sauna. Tapi tentu saja tidak nikmat seperti di sauna.


 

Setiap stasiun kereta berhenti dan terus menaikkan penumpang.

"oo…itu masih kosong!

"ayo ke tengah! Di tengah masih kosong!


 

Saya melongokkan kepala ke tengah gerbang mencari tempat kosong namun yang saya dapati malah kursi gerbong yang sesak dan lorong yang penuh dengan penumpang yang nasibnya sama seperti saya, berdiri. Ternyata kosong versi penumpang ekonomi adalah celah di tengah jepitan badan penumpang lain yang sudah menyesaki gerbong.


 

"Mohon perhatian! Dari arah timur akan lewat kereta Matarmaja Express tujuan Jakarta memasuki platform 3!

Hah..?? Sejak kapan Matarmaja jadi kereta express? Bukannnya itu kereta ekonomi yang tiap stasiun sepanjang Malang-Jakarta berhenti buat menaikkan penumpang dan tidak mengenal istilah penuh?


 

Hmm…rupanya istilah express itu tergantung tempatnya, bukan istilah yang sudah tetap. Kalau ada kereta ekonomi bertemu kereta ekonomi yang lain, kereta ekonomi yang melayani rute yang lebih jauh seperti Matarmaja menjadi kereta Express. Ajaib!!