Thursday, March 31, 2011

Intangibles 2; Care, do I care?, Like I Care!, Should I care? I Do Care!


 

Saya dulu sering mendengar teman-teman saya yang keluar dari ruangan seminar atau pelatihan entrepreneurship bicara begini; bakar saja ijazah itu!, kuliah itu nggak penting!, kuliah itu bikin orang bodoh!, ijazah itu membelenggu!. Banyak lagi kata-kata yang menempatkan kuliah sebagai hal yang 'buruk' dalam bisnis. Katanya kalau bebisnis nggak usah sekolah, nggak usah berpendidikan tinggi. Dulu saya sempat terpengaruh dan mau berhenti kuliah saja karena ingin berbisnis. Untungnya saya punya ibu yang luar biasa, yang selalu mendorong dan meyakinkan saya.


 

Mungkin benar di banyak tempat pendidikan kita tidak mampu mencetak mahasiswa menjadi pengusaha. Akan tetapi saya tidak bisa membayangkan kalau banyak pengusaha yang tidak makan bangku kuliah. Sepandai-pandainya orang self learning, ada banyak hal yang dia tidak bisa dia pelajari ketika dia tidak kuliah. Kuliah bukan hanya buku, kelas, tugas dan perpustakaan. Yang lebih penting lagi adalah experience ketika kuliah. Experience itulah yang sebenarnya membangun karakter. Karakter seperti apa yang terbentuk, itu tergantung dari bagaimana setiap individu menyikapinya. Mengenai ada pengusaha yang bisa besar tapa kuliah, itu another case. Tidak bisa digeneralisir.


 

Oke, saya tidak akan membahas kuliah atau tidak kuliah. Saya ingin bercerita. Setiap kembali ke hotel dari jalan atau sekedar makan, saya selalu disambut oleh Beli resepsionishotel ((karena ini di Bali, kita manggilnya beli yaJ) dengan senyuman dan langsung menyodorkan sebuah kunci bertuliskan 212. Hehe…kayak Wiro Sableng. Tapi tentu saja saya tidak sedang bersama Wiro Sableng di kamar saya. Yang membuat saya salut adalah dia selalu mengingat saya dan menyodorkan kunci pintu kamar saya dengan senyum lebar tanpa menunggu saya menyebut nomor kamar saya. Padahal kan yang tinggal di hotel itu bukan hanya saya saja.


 

Di pagi hari, resepsionistnya beda lagi. Kali ini mbak-mbak. Setiap saya turun untuk breakfast, dia selalu menyapa dengan selamat pagi yang hangat. Saya menemukan senyuman dan sapaan yang benar-benar hangat. Sapaan yang tulus. Kemudian mengobrol sebentar. Benar-benar hotel yang nyaman. Ini bukan hotel berbintang dengan fasilitas mewah yang wah. It's just another affordable hotel for backpacker like me. Saya benar-benar nyaman dengan suasana hotel ini.


 

Beda resepsionis, beda lagi room boy nya. Kali ini seorang bapak-bapak dan teman-temannya yang masih muda. Biasanya dia datang untuk membereskan kamar ketika saya sedang asyik membaca di balkon. Dengan tersenyum lebar, dia akan menyapa saya. Kadang-kadang mengobrol sebentar sambil berbagi gigitan cokelat di atas meja saya. Ini bukan tipe keramahan 'sok kenal sok dekat' (SKSD) itu loh ya. Dia benar-benar ramah.


 

Lain waktu, saya kelaparan dan terpaksa mampir di food court di depan pantai Kuta sehabis kelayapan ke Uluwatu. Saya makan Turkish Pizza karena harganya paling murah di situ. Tidak lama kemudian, pesanan saya datang. Saya mencuil sepotong kecil dan memasukkan sepotong kecil ke mulut saya. Hmm…enak!


 

Lama saya menunggu di depan pizza yang sangat menggoda itu. Apalagi perut saya sudah bernyanyi-nyanyi protes karena sangat lapar. Saya menunggu sesuatu yang bisa dipakai untuk melahap pizza itu. Iya, saya tahu saya bisa makan pakai mulut. Tapi kan saya nggak mungkin meraup pizza itu pakai tangan saya. akhirnya, saya memanggil beli yang melayani saya. Dia datang tanpa muka bersalah. Di baru tergopoh mengambil pisau dan garpu ketika saya bertanya begini; ini makanan dimakannya gimana?


 

Hoho…! Saya pikir, itu hanya menimpa saya saja. Tapi ternyata teman semeja saya yang makan makanan dengan harga 5 kali harga makanan saya dari stand yang berbeda juga mengalami nasib yang sama. Hal yang sama juga terjadi ketika kami harus membayar. Karena ingin menikmati sunset, kami ingin segera membayar dan pergi setelah makan. Tapi dipanggil-panggil si Mbak dan beli itu, malah asyik mengobrol. Setelah tahu kalau kami ingin membayar pun, responnya luammbbaat banget sampai sunsetnya sudah tidak kelihatan lagi. Dengan bercanda saya bilang ke mbak itu; Mbak, saya tuh keburu karena pingin lihat sunset. Tuh kan sunsetnya dah nggak ada! Balikin!! Hoho…dia hanya tersipu sambil menggerakkan tangannya seperti seolah-olah menggapai kembali matahari yang telah hilang di ujung horizon. Hugh..!


 

Dari semua pengalaman itu saya menarik satu kata singkat tapi sangat penting bagi siapa pun. Bukan hanya buat mereka yang bergerak di bidang hospitality. Kata itu adalah C A R E. Care selalu melahirkan sikap inisiatif dan berusaha memberikan lebih untuk konsumen. Care ini lah yang membuat resepsionist dan room boy hotel tempat saya tinggal bersikap ramah dan hangat yang menyenangkan bagi tamu hotel. Care itulah yang membuat Mbak resepsionis itu pula repot-repot mencari-cari kartu nama Beli Ketut di kamar saya yang saya letakkan entah di mana. Ceritanya, motor yang saya sewa mogok di Nusa Dua karena ketololan saya sendiri. Dan si Mbak resepsionis itu berusaha menolong saya dengan menelepon Beli Ketut yang punya motor tersebut. Tapi dia tidak punya contactnya dan berusaha mencari di kamar saya. Care itu pulalah yang tidak dimiliki oleh Mbak-mbak dan beli-beli di food court yang nggak memberi saya garpu itu.


 

Di dalam bisnis kami, care adalah kunci yang paling penting. Itulah intangibles kami. Bahkan apa yang kami lakukan itu tidak bisa diakomodasi oleh makna care. Karena belum menemukan ungkapannya dalam bahasa Indonesia Abang kami (Big Boss) menyebutnya sehe. Itu bahasa Melayu Pontianak yang saya juga susah untuk menjelaskannya dengan singkat.


 

Kata Pak Rhenald Kasali dalam kuliah umum entrepreneurshipnya yang sempat saya ikuti di Kampus UNAND beberapa waktu yang lalu, ada banyak hal yang dijual oleh orang dalam berbisnis. Ada yang hanya menjual barang saja dan ada yang menjual hal lain yang tidak kelihatan dibelakang barang tersebut. Hal yang intangible tapi bisa dirasakan. Atau mudahnya adalah menjual konsep. Ada juga yang menjual kenyamanan. Nah, sekarang konsep apa yang anda jual? Kalau Kampoenk Jenius, kami menjual nilai (value), care dan kemudahan. Apa pun yang anda jual anda harus memilih kata-kata ini:

  1. Like I care!
  2. Should I care?
  3. Do I care?
  4. I do care!

Dipilih, dipilih!!


 

Nusa Dua, 29 Maret 2011

Tragedi Liburan; I Need Living Reminder!

Akhir-akhir ini saya punya kebiasaan buruk yang rada mengkhawatirkan. Ini adalah masalah dengan ingatan saya. bukan rahasia umum lagi di antara teman-teman saya kalau saya sering meninggalkan benda-benda kecil di mana-mana. Bukan, bukan karena saya suka nyedekahin barang-barang saya. itu karena saya lupa. Iya, saya suka lupa menaruh barang-barang kecil. Saya pernah meninggalkan kamera kecil, hape, kunci motor, dan jangan tanya benda-benda kecil lainnya. Beberapa yang paling parah dan menimbulkan trouble yang menyebalkan banget adalah sebagai berikut; meninggalkan kamera digital untuk wisuda saya 2 tahun lalu gara-gara exited banget pengen nyobain sepatu, ninggalin hape di warnet trus hilang, ninggalin (lagi-lagi) handphone di mobil dan (lagi-lagi) hilang dan meninggalkan kunci motor tertancap di starter di parkiran yang membuat saya menjadi bulan-bulanan sekuriti yang menyembunyikan motor saya.


 

Pada liburan ini saya menyewa motor untuk mempermudah kelayapan di Bali. Liburan di bali memang paling enak pakai motor. Bebas macet dan bisa menjelajah sampai ke pedalaman, ke pantai-pantai yang jarang dikunjungi oleh orang lain. Saya malas banget kalau harus berenang di Kuta dan Legian yang ramai banget itu. Ditamah lagi sebenatr-sebentar; massage please!, cheap watch, very good for you (memangnya saya kelihatan cheap banget ya?), sunglasses, ice cream, drinks, umbrella dan macam-macam penawaran hiruk pikuk lainnya. Saya lebih memilih mencari pantai-pantai baru dan berenang sepuas-puasnya dengan tenang. Capek berenang saya bisa membaca dan tidur nyenyak di atas pasir. Untuk misi menjelajah pantai-pantai dan merasa-pantai-milik-sendiri itulah, sepeda motor sangat penting. Dengan Vario hijau saya kelayapan kemana-mana dengan modal free map dari hotel dan tanya sama Mbah google dan tanya-tanya penduduk. Hasilnya, saya nyasar lebih dari sepuluh kali.


 

Tapi saya tidak akan bercerita tentang pantai-pantai keren itu. Saya akan bercerita tentang ketololan-ketololan saya berkaitan dengan lupa dan meninggalkan sesuatu.

Saya-Sedang-tidak-Bersahabat-Dengan-Kunci-Motor-Tragedy

Tragedi pertama langsung terjadi pada hari pertama. Saya meninggalkan kunci tertancap semalaman di parkiran. Utungnya pagi-pagi masih ada. Hari kedua, lagi-lagi saya meninggalkan kunci tertancap di jok motor di parkiran Nusa Dua. Saya baru ingat ketika saya sudah berenang dan berjemur berulang kali dan sudah menyusuri pantai sampai jauh banget. Begitu ingat, saya langsung berlari sekencang-kencangnya di atas pasir menuju parkiran. Orang-orang melihat dengan heran kepada anak muda ganteng yang lari ngos-ngosan sambil nenteng sandal sepanjang pantai. Sepertinya ini bukan saat yang tepat untuk jogging. Matahari sedang terik-teriknya.


 

Tragedi kedua, masih berhubungan dengan kunci motor. Ketika saya akhirnya menemukan pantai Suluban yang keren banget itu, saya nggak sadar meninggalkan kunci motor tertancap cantik di jok motor. Saya baru ingat ketika saya sudah puas mengambil foto pemandangan-pemandangan cantik pantai berkarang tinggi dan tebing-tebing keren di pantai Suluban. Saya baru ingat setelah saya menyelsikan dua bab buku bacaan saya dan menghabiskan minuman di Edge Café. Begitu ingat, saua sontak berlari kencang menaiki anak tangga yang berkelok-kelok dan tinggi banget. Gempor rasanya lutut saya. Itu yang parahnya, yang ninggalin sebentar-sebentar sih sering banget.


 

Yang paling parah dari tragedy kunci ini adalah saya nggak bisa kemana-mana dan duduk seperti orang miskin banget dan perut lapar karena saya nggak bisa memutar kunci motor saya di jalan menuju Pantai Geger. Ketika mengambil motor itu dari Beli Ketut, dia mengingatkan saya agar cukup mengunci setang saja, nggak usah mengunci penutup kuncinya karen anggak bisa dibuka kembali. Entah karena apa, saya baru tersadar kunci itu ternyata tertutup ketika saya keluar dari Circle K setelah mebeli air. Saya sampai kalap menotok-notok penutup kunci itu dengan batu.


 

Akhirnya saya menelepon hotel dan minta disambungkan ke pemilik motor biar datang ke tempat saya 'mogok'. Setelah menunggu lama dan makan saya dapat ide untuk mencoba membuka pakai kunci motor yang lain dengan merk yang sama. Setelah terkantuk, kantuk di emperan Circle K, saya melihat seorang laki-laki masuk ke parkiran mengendarai Vario. Segera saya hampiri untuk meminjam kuncinya. Dengan senang hati dia meminjamkan kuncinya. Dengan berdebar saya masukkan kunci tersebut dan meutar penutup kunci motor saya. Tara….! Penutup yang dari tadi nggak bergeming sedikitpun walaupun dihantam pakai batu berkali-kali. Ketika saya tengah gembira karena kunci motor saya bisa terbuka, handphone saya berdering. Ternyata beli ketut telah sampai di tempat itu dengan membawa mekanik. Hffhh…..kenapa datangnya di saaat saya sudah selesai dengan urusan kunci itu? Saya harus membayar waktu mekanik yang telah datang jauh-jauh tapi ditak mengeluarkan setitik keringatpun untuk menyentuh motor saya.


 

Saya sebenarnya tahu mengapa saya mudah sekali meninggalkan barang-barang kecil teritama kunci motor. Biasanya karena saya terlalu exiting sama sesuatu. Ketika menjadi bulan-bulanan security, saya terlalu exited dengan jembatan yang berlatar belakang gunung yang indah. Nah, kalau selama liburan ini, apalagi kalau bukan pantainya yang indah? Tapi sekarang saya menerapkan One Minute Checking yang biasa dipakai di kantor saya untuk mengecek hal-hal yang ketinggalan dalam rapat atau sebelum meninggalkan tempat. Sebelum meninggalkan motor saya akan berdiri diam di samping motor meneliti apa yang kira-kira kurang beres, begitu juga ketika meninggalkan kamar dan seblum mengendarai motor.


 

Salah-Jalan-Tapi-Tenang-Tenang Saja-Tragedy

Saya adalah orang yang sangat mudah ingat pada tempat atau jalan. Saya cukup satu kali datang ke suatu tempat dan ketika datang lagi saya tidak akan nyasar. Tapi ketika liburan kali ini, saya sering salah mengambil jalan walaupun sudah diingatkan berkali-kali sama teman saya. Masalahnya adalah saya ini nggak percaya sama orang lain kalau untuk masalah jalan atau hal-hal yang berkaitan dengan 'kelayapan' (baca travelling). Ketika dia bilang belok kanan, saya malah terus lurus, ketika dia bilang lurus nggak apa-apa, saya malah belok kiri. Tak ayal, ini membuat teman saya marah-marah dan nggak mau ngomong sama saya selama perjalanan. Yang menyebalkan, dia pasti nyindir-nyindir kalau saya salah jalan. Efek capek nyetir, nyasar dan panas disindir-sindir saya juga membalas perang dingin dengan tidak menyahuti setiap pembicaraan dia. Perang dingin itu baru selesai ketika kami lapar banget dan harus makan.


 

Gara-gara saya sering nyasar, teman saya selalu bertanya 'are you sure" ketika saya hendak berbelok atau dengan pede tanpa bertanya ke orang-orang arah tempat yang akan kami kunjungi. Karena saya keponya nggak ketulungan, saya selalu menjawab sure dengan mantap. Padahal saya juga nggak tahu apakah ini jalannya benar atau salah. Seperti ketika saya tergoda akan sebuah pantai yang saya goggling yang kabarnya Michael Learn to Rock pernah buat video clip di sana. Saya nekat berbelok yang akhirnya jalan itu mebawa kami ke jalan setapak kecil tapi beraspal bagus dengan jalanan turun tajam tanpa belokan. Ketika menyetir saya berteriak-teriak menyuruh dia tetap tenang padahal saya takut setengah mati karena rem yang saya tarik nggak mempan. Motor itu melaju aja kencang dari puncak bukit,lurus dan langsung disambut belokan di tempat yang datar. Akhirnya ketika sampai di tempat yang datar, saya cerita kepada teman saya itu kalau saya takut setengah mati ketika melaju kencang menuruni bukit itu. Ketika elaju tadi, saya malah ngeri membayangkan motor kami terpeleset dan nyusruk semak-semak berduri di pinggir jalan dan duri-duinya menusuk muka saya. Hiii….!


 

Setelah berjam-jam mencoba satu-satu jalan setapak di tengah hutan yang kami nggak berpapasan dengan satu kendaraan pun kami akhirnya sampai juga ke pantai setelah berkali-kali bertanya kepada penggembala yng kami temui di hutan. Setelah nyasar-nyasar ini, tragedy lain menyusul pula. Apalagi kalau tidak ketinggalan kunci?


 

Saya juga heran mengapa saya pelupa banget akhir-akhir ini. Anehnya, saya malah ingat pada peristiwa-peristiwa yang saya lalui dengan sangat detail. Sampai-sampai si ini duduk di dekat ini dengan baju ini, jeans merek ini, sepatu warna itu dan bicara tentang ini itu. Saya ingat tahun lalu saya ke sini dan melakukan blab la bla dan orang itu bicara ini itu. Saya bisa mengingat peristiwa dengan sangat detail tapi tidak dengan kunci motor. Saya juga sangat mudah mengingat nama orang sampai nama komplitnya. Very bad!

Monday, March 28, 2011

Intangibles; We Create People!




 

"Ada sebutir "X" kecil di dada kiri anda, tariklah nafas dalam-dalam dan tumbuhkan kepercayaan kepadanya" Prof. Rhenal kasali, Myelin"


 

Cuaca tidak begitu cerah siang ini. Bahkan sebelum saya melaju ke Bandara Internasional Minangkabau (BIM), hujan deras dan angin kencang mengguyur kota Padang. Saya sempat khawatir karena jarak antara tempat saya tinggal dan airport cukup jauh. Akan tetapi ketika pesawat landing dan menembus angkasa, cuaca cukup cerah. Dari jendela di samping saya, pemandangan pulau-pulau kecil yang bertebaran dengan pasir putih di bawah sana sangat memukau. Puas dengan pemandangan, saya mulai merenung. Pertemuan dengan Prof. Rhenald Kasali di kuliah umum kemarin, mendapatkan hadiah buku dari beliau, menghadiahi beliau buku, berinteraksi dengan para peserta training saya yang semakin mengasyikkan, team yang bersemangat dan belajar sangat cepat, itu semua cukup membuat semangat dan optimisme saya memuncak.


 

Kemuadian mata saya mulai menyapu kabin pesawat dan memperhatikan beberapa pramugari yang sepertinya sangat familiar. Ada beberapa pramugari yang sering terbang bersama saya. Melihat pramugari-pramugari itu saya kembali teringat buku hadiah dari Prof. Rhenald Kasali. Judulnya Myelin. Sebenarnya saya tidak tertarik dengan buku itu walaupun sering melihatnya di Gramedia karena terpampang di rak display terdepan. Saya sedang mendalami marketing, jadi saya tidak berniat untuk membaca buku beliau walaupun beliau juga berbicara tentang marketing. Saya memilih untuk membaca buku-buku Hermawan Kartajaya. Akan tetapi karena boosting effect dari bertemu dengan belau kemarin membuat saya penasaran dengan isi buku itu. Saya mulai menelusuri kata per kata, kalimat per kalimat dan tidak terasa saya sudah menyelasaikan hampir separuh isinya ketika flight attendant mengumumkan bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat di Jakarta.


 

Intangibles; X Kecil yang Harus Dirawat

An intangible quality or feeling is difficult to describe exactly. Itu adalah kalimat yang saya dapatkan untuk menjelaskan ketika saya mengecek arti kata intangibles di Longman English Dictionary d laptop saya. Istilah ini sangat terkenal di kalangan para eksekutif dan ahli managemen, marketing maupun strategy. Secara singkat intangibles adalah harta tidak berwujud atau yang tidak kelihatan tetapi sangat menentukan kebesaran dan keberlangsungan sebuah perusahaan maupun prestasi dan pencapaian individu. Ia biasa dikenal dalam wujud reputasi atau goodwill. Reputasi ini tidak akan muncul dalam kumpulan aktiva pada neraca pembukuan. Paling tidak itulah yang tertulis dalam buku Myelin yang saya baca. Ia muncul pada kepuasan konsumen, repeating order, brand image dan brand loyalty. Kalau banyak orang yang memilih produk anda walaupun banyak produk yang sama dengan harga yang sama, kwalitas sama atau harga lebih murah, itu berarti intangibles anda bagus.

Intangibles tidak muncul dengan tiba-tiba. Ia muncul dari budaya dan karakter yang dipupuk terus-menerus. Ia besar dengan proses pembelajaran yang panjang. Ia dihasilkan dari proses seleksi hingga training dan upgrading terus-menerus. Ia terus bisa bersaing dengan upgrade yang perawatan yang teratur. Upgrade yang berjalan seiring dengan perkembangan kemajuan teknogi, selera pasar dan ptemuan-temuan dan pengetahuan baru. Tapi yang paling penting adalah ia muncul dari goodwill untuk membangun nilai. Karena ketika sebuah perusahaan ingin membangun sebuah nilai yang sejalan dengan human spirit ia tidak akan berpikir keuntungan materi semata-mata. Ia ingin menanamkan nilai postif, membangun positive culture bagi bukan hanya lingkungan kerja tapi juga bagi customer.


 

Sebuah perusahaan bisa "membajak" orang-orang bagus di sebuah perusahaan dengan intangibles yang bagus, akan tetapi sulit bagi dia untuk menyaingi perusahaan yang dia bajak orangnya itu. Karena intangibles tidak dibangun hanya dengan satu-dua orang bagus akan tetapi dari rasa kepemilikan, teamwork dan kenyamanan bekerja (pemenuhan kebutuhan materi dan non-materi). Prof. rhenal Kasali menulis bahwa pernah ada media yang membajak wartawan-wartawan dan redaktur pelaksana yang bagus dari majalah Tempo. Hasilnya media "pembajak" tadi tidak mampu untuk menyaingi majalah Tempo. Alih-alih menyaingi majalah terbut malah gulung tikar. Oleh karena itu, value yang bagus didapat dari cara dan proses yang baik dengan niat yang baik pula.


 

Blue Bird Taxi dan Intangibles

Daratan pulau Dewata perlahan-lahan semakin jelas di bawah saya. keindahan lekukan pulau dan pantainya memang membuat saya selalu ingin kembali. Matahari jingga di ufuk barat menyorot badan saya membentuk bayangan panjang ketika saya menlangkahkan kaki saya menuju domestic arrival. Langkah santai saya tidak terganggu oleh barang bawaan yang berjibun sepeti penumpang lainnya karena saya hanya mebawa backpack berisi laptop, buku, majalah, t-shirt dan bermuda. Saya langsung berjalan segaris menyibak kerumunan para tukang taxi dan porter yang menawarkan jasa. Dengan langkah pasti saya berjalan kaki keluar dari gerbang airport.


 

Saya tidak pernah naik Taxi di dalam airport ketika di sini. Saya malas berdebat masalah harga dengan mereka. Saya lebih suka berjalan keluar dan menyetop Blue bird Taxi di luar bandara karena memang Taxi ini tidak menaikkan penumpang di dalam Ngurah Rai International Airport. Saya sekarang makin yakin untuk tetap menggunakan Blue Bird setelah membaca buku Myelin prof. rhenal Kasali tadi. Sopirnya sangat sopan dan ramah. Bahkan ada kisah perhiasan senilai 2 Milyar yang ketinggalan dalam taxi dikembalikan oleh supir Blue Bird taxi kepada penumpangnya selain sederet kisah kejujuran lainnya. Para sopir Blue Bird Taxi memang dididik untuk jujur dan professional dalam segala kondisi. Tak heran kalau mereka selalu menjadi Taxi terbaik yang selalu dipilih. Bahkan duta besar Amerika merekomendasikan semua karyawannya untuk menggunakan Blue Bird Taxi karena ia pernah mengalami kisah kejujuran dengan sopirnya.


 

Intagiblesnya "Indonesia Jenius"

Jalanan macet sepanjang Kuta membuat saya punya banyak waktu untuk mengobrol dengan pak Wayan sangsupir ramah yang membawa saya. dia berkisah bagaimana taxi-taxi pesaing semakin menjamur di Bali. Bukan hanya menjadi pesaing, mereka juga membajak brand "Bali Taxi" yang dipakai Blue Bird Group untuk Taxi mereka di Bali. Sekils memang tidak ada bedanya karena semua logo dan warna hampir sama persis.


 

Kemudia pikiran saya mulai membawa saya kepada usaha yang saya jalankan bersama para "pemimpi besar" yang sekarang semakin mendapatkan tempat. Kami mebawa visi besar untuk memajukan pendidikan dengan mimpi yang membuat sebagian orang menggeleng-gelengkan kepala dan mengerutkan dahi tanda pesimis. Kami menempatkan value dan human spirit diatas material profit. Itu karena kami yakin kami sedang mengambil bagian kami dalam membangun peradaban. Akan tetapi saya sangat yakin kami akan sampai di titik yang kami targetkan. Ini bukan hanya keyakinan dengan optimisme kosong.


 

Saya sangat terkejut ketika membaca buku New Wave Marketingnya Hermawan Kartajaya yang sangat mewakili sosok perusahaan kami. Padahal Mr. Yun, pendiri lembaga Sang Bintang School (nama lembaga pendidikan bahasa Inggris kami) belum membaca buku itu sebelumnya. Para kolega saya baru paham ketika saya berkesempatan untuk menyampaikan materi ini dalam pertemuan nasional kami 1 bulan yang lalu. Menurut Pak Hermawan Kartajaya, hanya perusahaan yang membawa nilai yang sejalan dengan human spirit yang akan bisa menjadi besar dan diterima dan dicintai konsumen. Konsumen sekarang semakin pintar. Mereka tidak lagi melihat barang bagus dan harga murah. Mereka mulai melibatkan emosi dan visi yang mereka bawa atau yang mereka setujui.


 

Saya juga mencoba tertatih memahami teori Z dalam manajemen. Dan lagi-lagi saya menemukan SBS di dalamnya. Kami bekerja dengan nilai-nilai kekeluargaan yang sangat kental dengan nilai profesionalisme yang tetap terjaga.


 

Semakin saya belajar, semakin saya cinta dengan pekerjaan saya. saya sangat yakin, keyakinan yang tidak bisa ditawar-tawar, bahwa kami akan menjadi sangat besar. Tentu saja selama semua personel mulai dari eksekutif sampai tim ujung tombak mau untuk terus belajar dan mengupgrade diri baik dari segi pengetahuan maupun skill. Kalau tidak, tidak menutup kemungkinan orang lain 'mencuri' mimpi itu dan bergerak lebih cepat daripada kita.


 

Berkenaan dengan membangun intangibles saya setuju dengan tulisan Pak Hermawan Kartajaya di buku Grow with Character. Beliau mengatakan, ada tiga hal yang harus dilakukan oleh seseorang apapun tugas dan jabatannya. Pertama, menguasai pekerjaan dan menyempurnakan pekerjaan masing-masing. Kedua, mempersiapkan diri untuk jabatan lebih tinggi dan menambah jabatan baru. Ketiga, menyiapkan pengganti untuk dirinya bila ia dipromosi kelak.


 

Matahari pagi di bali hari ini begitu hangat. Di Balok hotel saya semakin hanyut dalam bacaan saya. wangi lamat-lamat dari bunga kamboja yang sedang bermekaran yang mengitari kolam renang di bawah sana begitu membuat pikiran rileks.


 

Kuta, 28 Maret 2011.

Wednesday, March 23, 2011

Tips Membeli Tiket Pesawat Murah


Sebagai (orang yang mengakui dirinya) traveler, saya selalu mencoba mencari tiket yang paling murah dari penawaran yang ada untuk perjalanan udara saya. Banyak orang yang mengkoleksi banyak contact agen penjualan tiket supaya bisa telepon sana-sini untuk membanding-bandingkan harga tiket, atau ada juga yang mencoba menjalin "pertemanan" dengan para agen tiket untuk mendapatkan tiket murah. Saya pun dulu pernah begitu sebelum 'sadar' bahwa dengan "interconnecting era" seperti ini ada cara yang lebih mudah dan murah. Yups, dengan bantuan internet.


 

Semua maskapai penerbangan (at least di Indonesia), punya website di internet yang melayani pembelian online. Nah, menurut pengalaman saya, membeli tiket online lebih mudah dan murah daripada membeli di agen perjalanan. Selisih harga online dan agen perjalan cukup jauh, sampai Rp. 200.000'- Tapi itu kalau kita tahu strateginya. Ini dia beberapa tips membeli tiket online:


 

Pertama, tentu saja kita harus punya media pembayaran yang online juga. Bisa kartu kredit, debit atau ATM. Ada beberapa maskapai yang hanya menerima pembayaran lewat kartu kredit atau debit saja. Atau ada juga yang mengkhususkan untuk debit atau kartu kredit bank-bank tertentu saja. Keuntungan mempunyai kartu kredit, anda bisa cepat nangkap tiket murah dari Airasia karen amemang hanya bisa dibayar pakai credit card. Kalau anda merasa mengurus kartu kredit itu sulit, punya ATM aja cukup. Sekarang siapa sih yang nggak punya ATM?


 

Kedua, pastinya koneksi internet dong. Anda hanya perlu mengunjungi website maskapai yang anda inginkan atau mengunjungi semuanya untuk membandingkan. Kalau mau pakai Lion Air misalnya, anda cukup mengunjungi http://lionair.co.id dan langah selanjutnya sangat-sangat gampang. Segampang menguteki kuku. Segampang mengoleskan pelembab ke muka. Anda hanya diminta untuk mengisi jadwal perjalanan dan rute yang anda inginkan. Setelah itu, tara….! Muncullah jadwal penerbangan yang tersedia lengkap dengan harganya. Anda hanya perlu memilih kelas dan harga yang paling sesuai dengan kantong anda. Kalau saya mencari yang paling murah pastinya. Setelah itu lanjut ke langkah selanjutnya, anda hanya butuh mengisi data pribadi, nomor kontak, email dan pilihan ATM bank yang sesuai dengan kartu ATM anda. Kalau pilihan kartu ATM anda tidak ada tertera di sana, jangan sedih. Klik aja pilihan "Bank lainnya". Tapi selama anda menggunakan bank-bank nasional, pasti akan tertera di pilihan itu. Setelah selesai semua, catat kode booking dan kode pembayaran ATM anda. Biasanya anda akan diberi batas waktu untuk membayar kira-kira 5 jam (ada tertulis di situ kok).


 

Langkah di internet selesai, anda tinggal melenggang gaya ke ATM terdekat. Masukkan kartu anda dan pilih menu pembayaran dan sub menu "Q-pay". Setelah itu tinggal pilih maskapai yang anda booking online tiketnya tadi. Setelah itu anda akan diminta untuk memamasukkan kode booking ATM yang telah anda salin dari internet tadi. Klik, klik, klik, selesai deh. Struk pembayaran di ATM itu akan menjadi tiket anda yang tinggal anda kipas-kipaskan di depan petugas check in di Airport saat anda berangkat. Kalau strukny hilangpun nggak apa-apa yang penting anda masih menyimpan atau hafal kode booking anda. Sebutkan kode booking, anda bisa check in.


 

Nah, itu tadi langkah-langkahnya. Ini ada beberapa tips untuk mendapatkan harga yang murah:

  1. Booking jauh-jauh hari. Semakin lama-semakin murah. Makanya, rencanakan jadwal perjalan anda dengan matang. Jangan sering-sering membuat keptusan melakukan perjalanan di last minute.yah, keculai anda punya banyak uang dan nggak masalah dengan harga tiket.
  2. Usahakan jangan memilih perjalanan pada saat weekend, hari libur, sehari menjelang hari libur atau senin pagi. Paling bagus sih hari selasa atau rabu. Mengapa? Karena pada hari-hari tersebut tidak banyak orang yang elakukan perjalanan.
  3. Kenali dengan baik budaya mudik daerah tujuan anda. Kalau anda ingin ke Pontianak misalnya, usahakan jangan memilih waktu pada buan-bulan masyarakat Chinese sembahyang kubur. Pada saat itu mereka dari seluruh pelosok Indonesia akan mudik ke Pontianak. Jadi harga tiket pun melambung tinggi. Biasa hokum supply and demand.
  4. Nah, kalau mau yang lebih murah, coba pantengin aja website masakapai yang bersangkutan pada tengah malam. Biasanya harganya lebih murah daripada yang di siang hari. Mengapa? Karena mungkin banyak tiket yang sudah dibooking online di cancel alias nggak jadi dibeli sama calon penumpang.


 

Itu dia trik untuk mendapatkan tiket murah. Zaman serba online kayak gini memang memudahkan banget. Makanya, anda nggak perlu takut untuk travelling dan naik pesawat karena dengan bertebarannya budget airlines seperti sekarang ini, harga tiket bus bahkan hanya berselisih harga sedikit saja dengan tiket pesawat. Bahkan dalam beberapa kasus, bisa lebih murah daripada tiket bus. Lagipula, tiket airasia, sering Rp. 0 atau dibawah Rp. 100.000'- tuh. Yang penting rajin-rajin aja pantengin website nya buat "nangkepin" itu tiket. Dengan Rp. 0, anda sudah bisa pergi ke Singapura, Malaysia atau Jogjakarta.


 

Apakah anda juga punya trik buat ngedapatin tiket murah? Share ya!

Thursday, March 17, 2011

Dream Job# Take and Love it!


Apa pekerjaan impian anda?

Eksekutif perusahaan besar dengan kantor luas, mobil dinas, bawahan yang siap bergerak, jam meeting padat, supir yang siap menjemput dan bekerja from nine to five? Atau seorang businessman yang pagi di Jakarta, siang di Surabaya dan sore di Singapura? Atau yang lebih keren lagi, actor terkenal dengan nilai kontrak ratusan juta rupiah untuk satu film? Atau mungkin pemain sinetron kejar tayang dengan tuntutan menangis menye-menye sampai 12 season? Hehe…paling tidak pilihan pilihan pertama dan kedua pernah mampir di otak saya ketika kuliah dulu. Sekarang pun masih kadang-kadang.


 

Apapun pekerjaan impian kita, itu akan sangat menyenangkan kalau kita menikmati dan mencintainya. Apalagi kalau pekerjaan itu adalah hobby kita atau ada hubungan dengannya. Tanpa cinta passion tidak akan muncul apalagi nikmat. Yang ada pekerjaan itu akan menjadi beban yang menghantui.


 

Pekerjaan saya sekarang jauh dari apa yang ada di impian saya dulu. Saya tidak mempunyai kantor luas (tapi berniat memilikinya suatu saat), kendaraan pribadi dan jam kerja nine to five. Saya juga tidak harus setiap hari memakai kemeja konservatif, dasi, celana bahan dan sepatu pantofel mengkilat walaupun sering juga diantar dan dijemput setiap berangkat dan pulang kerja. Dengan mengesampingkan alasan kenyaman saya lebih suka memilih naik angkot. Tapi alasan lainnya sih karena saya tidak bisa menyetir. Sehingga pernah ada dua mobil di garasi nganggur dan saya kemana-mana naik angkot karena yang biasa menyupiri saya sedang tidak ada.


 

Banyak orang yang memimpikan mempunyai pekerjaan yang bisa membuatnya travel kemana-mana dan bertemu banyak orang. Saya mempunyai pekerjaan itu sekarang dan sangat menikmati travelling karena itu memang salah satu passion saya.


 

Ketika banyak orang pagi-pagi sudah rush ke tempat kerja masing-masing, saya biasanya sedang menikmati rutinitas pekerjaan saya. kalau saya tidak tidur lagi setelah rutinitas subuh biasanya saya membaca dan menonton berita pagi. Kemudian saya akan menyambar sepatu olahraga saya dan segera menggerak-gerakkan badan kemudian siap untuk jogging. Rasanya aneh juga jogging pagi-pagi ketika kebanyakan orang sudah berpakaian rapid an terburu-buru berangkat bekerja. Saya merasa seperti melawan arus. Kalau di tempat saya sekarang, saya biasanya berlari menyusuri pantai kemudian melakukan pelemasan sambil memandang laut. Setelah puas berimajinasi di pinggir pantai saya akan pulang untuk sarapan. Sarapan saya simple. Saya akan ke warung tenda di ujung jalan yang menyediakan bubur kacang hijau campur kolak dan ketan hitam kesuakaan saya. satu mangkuk bubur campur dan dua buah pancake khas Padang (mereka menyebutnya panekuik), cukup memberi saya energy di pagi hari. Saya akan menghabiskan sarapan saya berlama-lama sambil memperhatikan orang-orang di sekeliling saya. sok-sok menjadi observer.

Jam 9 an saya kembali ke rumah dan mandi. Kalau sempat luluran dulu dengan lulur kopi dan lavender yang baru saya beli. Banyak yang protes karena mandi saya lama. Saya memang berniat mandi lama karena selain kadang harus luluran, ide-ide saya banyak muncul ketika saya di kamar mandi. Biasanya saya akan langsung berimajinasi dan berencana yang hebat-hebat dengan ide saya itu. Saya memang seorang pemimpi.


 

Ketika orang lain mungkin sedang hectic dengan pekerjaan mereka di dengan file-file yang menumpuk di depan mereka,saya juga mulai membuka laptop saya dan mulai bekerja sesuai dengan rencana dan target kerja yang saya buat semalam sebelum tidur.Efek dari tidak mempunyai atasan yang terlibat langsung dengan pekerjaan saya, saya harus mengatur semua jadwal kerja saya seefektif mungkin. Oleh karena itu saya bisa sangat-sangat sibuk sampai tidak mau ditelepon kecuali oleh ibu saya atau sama sekali tidak mempunyai deadline pekerjaan selama satu hari. Kalau memang tidak ada yang dikerjakan, saya hanya akan membaca dan surfing di dunia maya. Kalau sedang bosan di rumah, saya akan memboyong laptop dan file-file pekerjaan saya ke kafe favorit saya dan bekerja di sana.


 

Kadang-kadang saya juga harus ke kantor dengan pakaian rapi jali ala eksekutif muda. Kadang-kadang saya cukup ngantor dengan jeans dan t-shirt atau lebih banyak T-shirt dengan bermuda alias celana pendek sebetis. Seperti sekarang misalnya, saya kadang-kadang harus ke kantor dengan kemeja dan dasi rapi untuk meeting. Tapi setelah meeting selesai saya akan pulang kalau tidak ada lagi yang harus dikerjakan di kantor.


 

Ketika sore beranjak, barulah saya 'benar-benar bekerja' formal seperti yang lainnya. Saya harus masuk ke kelas untuk mengajar selama 2'5-3 jam atau dua kali dari itu kalau saya harus menghandle dua kelas. Kalau ada peserta training yang masih berkonsultasi dan kadang-kadang hanya sekedar mengobrol, saya kadang-kdang harus pulang jam sebelas malam karena melayani mereka. Saya sangat bahagia bisa menjadi kepercayaan mereka untuk member mereka suntikan motivasi atau memecahkan permasalahan belajar mereka.


 

Terkadang saya juga dilanda mellow, down dan sejenisnya. Akan tetapi ketika saya bertemu kembali dengan peserta training saya, semua down, kesedihan dan saudara-saudaranya menguap bitelan keceriaan dan semangat peserta training saya.


 

Efek dari "tidak mempunyai kantor " membuat saya harus pandai-pandai membuat strategi ketika harus mengadakan pelatihan, upgrading atau meeting buat tim saya. terkadang saya mengadakan training buat mereka di kafe atau outdoor sekalian. Saya pernah mentraining tim kerja baru saya di pinggri pantai sore-sore. Menurut saya itu sangat menyenangkan. Tim mendapat training, pikiran segar. Tapi terkadang saya juga harus menyewa tempat ketika saya butuh tempat yang agak luas untuk tim saya.


 

Menurut saya, semakin lama pekerjaan bisa dilakukan di mana saja. Kemajuan teknologi membuat kita tidak harus selalu duduk di belakang meja. Dalam pekerjaan saya misalnya, saya harus berkomunikasi dengan tim yang tidak berinteraksi langsung dengan saya via internet atau telepon. Akan tetapi memang perlu kemampuan manajerial yang cukup karena semua jadwal dan pergerakan tim diatur sendiri. Bebeda dengan pekerja kantoran yang sudah punya alokasi waktu dari jam sekian sampai jam sekian. Nine to five. Saking besarnya authority saya terhadap pekerjaan saya, saya bahkan bisa membuat sendiri liburan saya kapan. Nah, saya punya rencana untuk memanage pekerjaan tim saya dari rumah saya di desa lereng gunung di Bima sana suatu saat, tim saya di Padang dan saya di lereng gunung di Bima.


 

Bagaimana dengan pekerjaan anda? Do you enjoy it?


 


 

Sunday, March 6, 2011

Padang 5# Eva dan Payungnya



Setelah sekita dua bulan berpindah-pindah kota di Jawa, sekarang saya kembali berada di Padang. Walaupun sempat kena “mellow-attack”, sekarang saya sudah kembali ceria lagi. Nggak usah Tanya kenapa saya kena mellow attack karena itu siklus tahunan saya. yang terang saya sekarang saya sudah bisa menikmati lagi sekelililng saya. Saya sudah bersemangat lagi untuk jogging sepanjang pantai. Saya sudah bisa menikmati lagi hal-hal kecil di sekitar saya lagi.

Ketika selesai dari meeting dengan client hari minggu yang lalu, hujan tiba-tiba turun dengan lebatnya. Angin kencang yang menderu-deru di tengah hujan menambah kesan seram. Perut saya lapar dan kafe plus tempat makan di sekitar kantor klien saya itu nggak ada yang buka. Sepertinya mereka sudah kebanyakan duit. Ketika saya asyik melamun dan imaginasi saya sudah kemana-mana, saya dikejutkan oleh dua orang anak kecil yang datang menawarkan payung. Wow, di tengah hujan deras berangin begini, dua orang anak perempuan datang menawarkan payung. Pandai sekali mereka melihat kesempatan ya? Mereka tahu sekali apa yang dibutuhkan oleh calon konsumen pada saat-saat seperti ini. Walaupun di Jakarta ini hal biasa, tapi buat saya ini menakjubkan melihat dua bocah perempuan menembus huan untuk menyambut kesemptan mendapatkan uang. Apalagi tempat saya berdiri ini sepi dan lumayan jauh dari main street. Akhirnya saya memutuskan untuk memakai jasa mereka.

Terdorong oleh rasa penasaran, saya membuka obrolan dengan anak perempuan yang memayungi saya. saya hanya perlu bertanya nama dan di mana dia sekolah. Setelah itu tanpa sungkan sedikitpun dia bercerita kepada saya tentang sekolahnya, tentang pelajarannya. Dia juga bertanya kepada saya apa pekerjaan saya, di mana saya tinggal, kok bisa sampai di kota ini. Dia juga meminta saya lebih merapat karena air hujan membasahi backpack saya. Nampaknya anak ini cukup cerdas. Perjalanan menuju jalan utama sambil menahan payung supaya tidak diterbangkan angin menjadi begitu mengasykkan mendengarkan celoteh anak kecil ini.

Kita banyak melihat pengamen cilik di jalanan. Tapi pernahkah kita berpikir kalau mereka itu sebenarnya calon entertainer kalau diarahkan degan baik? Di saat anak-anak lain harus didorong untuk pede tampil di depan umum, para pengamen cilik sudah tampil di depan ribuan penonton. Kita sering melihat pedagang asongan cilik yang lantang menawarkan dagangannya, tapi pernahkan kita berpikir bahwa mereka sedang merintis jalan mereka untuk berbisnis. Di tengah usaha para orang tua untuk menanamkan nilai kemandirian dan bisnis kepada anak-anak mereka, mereka sudah berpraktik di dunia nyata.

Mereka hanya perlu disuntikkan motivasi dan pengetahuan tentang apa yang tengah mereka kerjakan. Kita hanya perlu mendukung mereka dengan menitipkan mimpi besar dalam pekerjaan mereka. Karena bisa jadi si pedagang tidak tahu bahwa yang dilakukannya adalah bagian dari berbisnis. Siapa tahu si tukang payung cilik itu adalah salesman jasa yang gemilang di masa yang akan datang. Siapa tahu si pengamen adalah entertainer ulung nantinya. Itulah yang saya suntikkan kepada Eva, nama gadis kecil tukang payung yang melindungi saya dari basah kuyp karena hujan sore itu. Dalam percakapan singkat saya, saya menanamkan motivasi dan mimpi kepadanya. Dengan bahasa anak-anak tentunya.

Saturday, February 26, 2011

February

23 February 2011; Landing

Saya tidak tahu ada apa dengan bulan February. Akan tetapi saya yang selalu bilang ' I only have two moods; good and very good mood!' hari ini terhempas kalah oleh hati saya sendiri. Ini puncak dari gejolak hati saya belakangan ini. Padahal rasa-rasanya tidak ada lagu 'February' atau tentang February seperti lagu "my December" nya mas-mas Linkin Park. Rasa ini menyerang di saat saya harus terbang antar pulau seperti ini.


 

Begitu pesawat akan landing di BIM (Bandar Udara Minangkabau) pemandangan hijau tanah Minang yang dibelah oleh sungai-sungai yang berkelok meliuk-liuk tampak sangat indah dari jendela. Kawasan yang didominasi oleh gunung-gunung dan bukit-bukit ini ternyata sangat indah. Pulau-pulau kecil yang berserakan di tengah samudera seperti menunggu untuk dijamah. Hamparan hijau itu langsung bersisian dengan birunya samudera hindia yang biru. Bolak-balik terbang ke Padang, baru kali ini saya benar-benar larut dalam pemandangan yang terhampar di bawah sana. Seat yang saya tempati ini saya pesan khusus ke petugas check in ketika transit di Jakarta tadi, seat 32 F. Sangat lapang sehingga saya leluaa untuk menselonjorkan kaki saya. Mas-mas pramugara yang duduk persis di depan saya pun sepertinya tengah hanyut dengan pemandangan bawah sana. Tangannya bertelekan menopang dagu sambil matanya jauh menerawang ke bawah sana. Saya menduga-duga dalam hati, apakah dia juga sedang merasa mellow sepeti saya sekarang? Atau dia tengah memikirkan nasibnya yang terkurung di dalam badan pesawat terbang bolak-balik setiap hari. Beberapa kali mata kami bertemu pandang. Mungkin dia juga mencuri-curi pandang dan mencoba menebak hati saya yang sedari tadi tidak pernah lepas memandang ke luar.


 

Ketika penumpang lain berebutan berdiri untuk meraih bawaan masing-masig, saya masih duduk di kursi saya. Masih di depan mas pramugara yang juga mematung di kursinya. Rasanya saya ingin kembali lagi ke Jakarta dengan pesawat ini. Ketika hampir semua penumpang sudah meninggalkan kabin peswat, saya perlahan-lahan beranjak dari kursi saya dan berjalan keluar merespon senyum mbak pramugari yang tersenyum template melepas penumpang pesawatnya.


 

Keluar dari pintu pesawat saya langsung disambut dengan hawa panas yang menyengat. Matahari sore yang bersekutu dengan hawa dataran rendah tepi laut membangunkan saya dengan kesadaran penuh bahwa di tanah inilah saya akan melewati hari-hari saya sebulan ini. Kesadaran itu membuat saya tambah mellow. Sekarang saya benar-benar berada di dimensi yang berbeda, warna jingga keemasan bayangan matahari sore yang menimpa rerumputan di hadapan saya membuat saya tambah melankolik.


 

Sekarang dada saya sesak, saya butuh untuk bernapas lebih lega. Segera saya mengeluarkan ponsel dari saku celana menelepon ibu saya yang berjarak berpuluh pulau di seberang sana. Seperinya inilah obat yang paling mujarab saat ini. Segera saya juga menelepon kakak saya. mendengar suara mereka cukup mengembalikan udara sehingga saya bisa bernapas lebih lapang. Tak lupa saya juga mengirimkan pesan pendek kepada si sunshine. Apa yang saya lakukan belum cukup menghapus gejolak hati saya saat ini.


 

Di hari yang sama; di tempat saya tinggal (sementara)

Begitu sampai di rumah, setelah mengalirkan air segar di badan saya, saya tenggelam dalam sujud-sujud panjang yang cukup melegakan setelahnya. Alunan panjang ayat-ayat suci setelahnya cukup untuk menjadi energy saya malam ini untuk segera bertemu dengan tim yang akan bekerja bersama saya di sini.


 

Setelah bertemu tim, semangat saya meluap-luap. Saya optimis setelah bertemu langsung dengan tim baru saya. malam itu saya langsung akrab dengan mereka. Setelah bertemu dengan tim, saya bersegera pulang, berharap masih bisa menyaksikan sepakbola Indonesia vs Turkmenistan yang tadi sempat saya tonton. Ketika sampai di rumah, pertandingan sudah selesai dan Indonesia kalah telak! Saya kecewa. Tapi beruntung juga saya tidak menonton sampai akhir, kalau iya pasti saya akan lebih kecewa lagi.


 

24 February 2011; in the Office.

Pagi. Semangat saya penuh pagi ini. Di sela-sela pekerjaan saya menginterview calon peserta training, saya minggat ke kafe yang sedari pertama kali saya ke sini sudah menarik perhatian saya. Sangat menyenangkan mengetahui bahwa kampus ini mempunyai kafe yang sangat cozy seperti ini. Interior café ini didominasi warna merah. Sofa-sofa merah empuk itu begitu menggoda untuk diduduki. Tampak beberapa karyawan dan mahasiswa sedang menghadapi sarapan mereka. Saya mengambil tempat duduk di sudut, melahap perlahan-lahan potongan pizza dan chocolate-orange cake yang menjadi pilihan saran saya pagi ini. Creamy orange juice yang diantarkan oleh waiter tadi semakin menyegarkan pagi saya.


 

24 February 2011; Sore

Siang. Setelah mengganti outfit kantor dengan kaus tipis dan bermuda kesayangan yang saya beli ketika liburan di Malang kemarin, saya melangkahkan kaki di trotoar menuju ke arah pantai. Siang dengan panas yang menyengat. Cukup dengan berjalan kaki sekitar 15 menit dari tempat saya tinggal, pantai sudah di depan mata. Tapi saya sedang tidak berniat ke pantai. Saya ingin ke café di bawah pohon-pohon tua di dekat pantai tempat saya biasanya kabur kalau lagi penat dengan pekerjaan. Saya ingin segera menyelsaikan pekerjaan saya hari ini di kafe itu. Nah, di sinilah saya siang ini di sudut Wadezig dengan segelas orange juice yang menjadi penawar gerah siang ini. Duduk di depan laptop dengan mellow yang tiba-tiba melanda (lagi).


 

Di Hari yang Sama; Bersama Sunset di Pantai Padang

Ketika hati saya semakin bergejolak, seorang teman datang menemui. Dia adalah salah satu dari beberapa orang yang tahu tentang kedatangan saya di kota ini. Obrolan dengan dia selalu bisa membuat saya tersenyum. Setelah satu cup Cadbury, kami melangkahkan kaki ke pantai. Jalan kaki. Menyaksikan bias jingga di ujung senja selalu mengasyikkan buat saya.


 

Entah mengapa mengantarkan perjalanan sang Kala selalu menarik. Menunggunya menyemburatkan cahaya cerah di ujung timur pada pagi hari selalu bisa menyumbangkan keceriaan dan energi buat saya. Rasanya saya bersemangat, sama seperti semangatnya untuk menerangi dunia kembali. Mengantarkannya ke peraduan seperti sore ini selalu membuat saya merenung. Ada kesyahduan yang tercipta di sana.


 

Akan tetapi parahnya, sunset di tepi pantai sore ini membawa aroma rindu buat saya. Aroma rindu yang mempertebal melankolisme saya. Saya rindu pada dia yang pernah duduk di samping saya di tepi pantai menyaksikan sunset seperti ini. Dia yang tidak pernah lagi mau menyaksikan sunset di pantai itu ketika saya tidak bersamanya. Dia yang selalu bisa membuat saya tersenyum ketika menggoda saya yang lagi muram.


 

Masih di Hari yang Sama; Ketika Hari Beranjak Malam

Saya nggak boleh tenggelam dalam rasa ini. Yang saya butuhkan sekarang adalah suntikan semangat, karena saya butuh itu untuk tantangan pekerjaan saya di sini. Saya mengajak teman saa untuk menyusuri pantai. Dua jam berjalan bersama dia sambil berbagi cerita dan canda cukup untuk menipiskan rindu saya. Penat dan capek yang merajai cukup membuat saya melupakan rindu saya malam itu. Kalau saja dia tahu, saya harus berusaha sekeras ini untuk tidak terus mengingat dia.

Sunday, January 30, 2011

Prepare More!; Puding, Sendok, Mbak Bunga Citra Lestari dan Colokan

Saya sangat surprised ketika menemukan pudding kesukaan saya tersedia di warung kecil yang akhirnya saya temukan ketika berjalan keluar mencari angin di sesi-sesi pelatihan untuk krew baru kantor kami. Di kota lain. Di kota lain, untuk menemukan puding biasanya saya harus ke supermarket besar atau toko kue. Akan tetapi di kota kecil ini, puding bisa ditemukan di warung-warung kecil di banyak tempat.


 

Oke, saya tidak sedangbercerita tentang puding. Saya hanya mau bilang kalau saya sangat suka puding sehingga kalau suatu saat anda ingin memberi saya hadiah makanan berikan saja saya puding dengan aneka rasa. Yang ingin saya ceritakan adalah ketika saya nongrong di warung kecil sebesar lemari baju saya itu, yang memesan puding bukan hanya saya saja. Teman saya juga memesan makanan yang sama. Permasalahannya adalah, sendok yang tersedia untuk memakan puding itu cuma dua. Kedua-duanya terpakai oleh teman saya yang juga memesan puding dan teman saya yang satu lagi. Saya yang sudah tidak bisa menahan air liur saya terpaksa menahan dongkol karena tidak bias makan puding karena sendoknya tidak cukup.


 

Oke, itu terjadi di warung kecil yang pemiliknya mungkin tidak punya visi untuk membuat usahanya menjadi besar. Akan tetapi, saya juga menemukan hal sama dengan kasus yang berbeda di sebuah kafe yang memasang fotonya mbak Bunga Citra Lestari dan beberapa artis lain ketika berada di kafe itu. Maksudnya, pemilik kafe itu mau bilang kalau kafenya pernah didatangi artis-artis terkenal gitu. Dalam bahasa yang lebih singkat mereka mau bilang; kafe kita keren loh, artis aja pernah datang ke sini.


 

Di kafe itu kasusnya begini. Saya dan teman-teman saya sepakat mengerjakan deadline pekerjaan kantor di kafe karena sudah terlalu sumpek melihat suasana kantor yang begitu-begitu saja. Niat itu sedikit terhambat karena di kafe itu tidak tersedia colokan (apa ya, bahasa kerennya?) listrik yang cukup untuk tiga orang. Sebenarnya itu bisa disiasati dengan memakai kabel rol yang mempunyai banyak stekker. Tapi niat itu juga tidak bisa diwujudkan karena waiter maupun teknisinya bilang mereka tidak mempunyai persediaan itu. Mereka juga terkesan cuek dan tidak mencoba memberikan solusi. Atau paling tidak minta maaf atau berikanlah saya ini senyum lima jari biar saya nggak dongkol.


 

Dari dua kejadian di atas, saya mengambil kesipulan bahwa banyak orang yang tidak siap untuk menjadi besar. Mereka tidak punya visi untuk menjadi besar. Sang tukang warung mungkin tidak pernah membayangkan bahwa warungnya akan dikunjungi lebih dari dua orang. Oleh karena itu dia hanya menyiapkan dua sendok karena mungkin itulah jumlah maksimal warungnya pada saat yang bersamaan. Kalau dia punya visi untuk mempunyai warung yang besar dan ramai pengunjung, dia pasti akan menyiapkan sendok yang banyak untuk mengantisipasi pengunjung tersebut. Sementara si coffee shop yang memasang gambar mbak Bunga Citra Lestari dengan harapan agar coffee shopnya dianggap keren itu juga sama. Pengelolanya tidak punya visi untuk membuat coffee shopnya besar karena dia tidak siap untuk melayani kebutuhan pelanggan yang banyak dan bermacam-macam maunya. Itu baru kebutuhan yang simple dan sangat mudah terpikirkan oleh semua orang loh. Bagaimana kalau pelanggannya butuh sesuatu yang lebih complicated dan itu wajar? Rupanya ia hanya dimenangkan oleh lokasinya yang ada di dalam mal yang ramai pengunjung. Dan dia mendapat limpahan dari pengunjung mal itu.


 

Apapun pekerjaan dan usaha anda, sebaiknya sisipkan visi besar dalam pekerjaan dan usaha itu. Kemudian persiapkanlah kemungkinan-kemungkinan untuk visi tersebut. Kalau tidak, pelanggan yang anda harapkan tidak akan dating lagi ke tempat anda karena mereka terlanjur kecewa.


 


 


 


 

Saturday, January 29, 2011

It’s an Encouragement! (Karena Kita Sedang Membangun Karakter)

Saya menyelesaikan semua rangkaian pendidikannya tanpa hambatan berarti. Dukungan penuh orang tua saya membuat saya menyelesaikan pendidikan SD-S1 dengan lancar. Bahkan bisa dibilang bertabur bintang. Juara 1 kelas tidak pernah saya lepas dari tangan saya sejak SD-SMP. Ketika di SMA pun walaupun tertatih saya lulus dengan genggaman juara 1 di tangan. Memasuki bangku kuliah, saya tidak mencetak angka-angka tadi karena di kampus tidak ada laporan yang menyebutkan anda juara atau tidak. Saya tidak merasakan suasana kompetisinya, jadi saya tenang-tenang saja. Di kampus saya (waktu saya kuliah) tidak ada sebuah pengumuman yang menginformasikan siapa yang mendapatkan nilai terbaik (IP tertinggi di akhir semester). Jadi, kalau anda mendapatkan nilai rendah, anda tidak akan merasa terisntimidasi dan terlena dengan nilai anda. Bahkan saya pernah mendapatkan nilai yang amat buruk (dibandingkan dengan nilai anak-anak dig geng saya yang bertabur A). Akan tetapi saya selalu punya motivator ulung; ibu saya. Ibu saya tidak pernah mengomeli saya karena nilai saya buruk. Beliau malah memotivasi dan menambahkan tawaran uang jajan agar saya bias belajar lebih tenang.


 

Sampai akhirnya saya mulai khawatir karena harus menulis skripsi sedangan saya sama sekali tidak menguasai apa yang telah saya pelajari selama bersemester-semester di kampus. Kondisi ini membangunkan saya dari kecuekan saya terhadap kuliah. Saya mulai membaca buku-buku yang berkaitan dengan disiplin ilmu saya dan mencoba membuat fokus untuk saya jadikan skripsi saya. Saya cukup serius membaca buku-buku itu. Saya mulai merasakan nikmatnya berlama-lama membaca di perpustakaan dan membuat note-note kecil untuk bahan skripsi. Dasar saya orangnya dreamy, saya mulai membanding-bandingkan. Mungkin seperti ini nikmatnya belajar ala anak-anak Harvard atau Leiden itu. Pada waktu itu saya benar-benar cinta sama yang namanya perpustakaan dan menulis skripsi.


 

Ketika akan menghadapi sidang akhir skripsi untuk menentukan kelulusan, saya sedikit was-was juga. Pasalnya dari cerita teman-teman saya yang sudah melewati tahap ini, sidang ini adalah semacam pembantaian oleh para dosen penguji yang membuat kebanyakan mahasiswa harus berkeringat dingin bahkan yang mentalnya lemah, menangis. Tapi pada waktu itu saya malah tidak pernah mempersiapkan khusus untuk mendalami materi dalam rangka menghadapi 'pembantaian'. Yang saya lakukan untuk persiapan malah tidak ada hubungannya sama sekali dengan materi skripsi saya. Malam sebelum ujian skripsi saya malah sibuk mutar-mutar di mal mencari outfit yang keren untuk saya pakai pada ujian skripsi saya. Saya juga sibuk diskusi sama mbak-mbak pramuniaga yang jaga outlet parfum tentang aroma parfum apa yang cocok untuk saya. Saya hanya ingin memanjakan diri saya setelah bekerja keras dengan skripsi. Saya ingin menciptakan suasana relaks yang membuat saya juga relaks menjawab pertanyaan-pertanyaan untuk mempertanggungjawabkan apa yang saya tulis di skripsi saya. Saya sangat percaya bahwa 5 menit pertama orang akan melihat pada penampilan kita. Saya mencoba membuat kesan pertama yang baik di hadapan dosen saya besok dengan mempersiapkan penampilan terbaik. Saya malah melanggar pakem berkemeja putih dibawah jas dengan memakai kemeja merah marun yang menurut saya lebih keren daripada kemeja putih yang membosankan karena dipakai oleh setiap mahasiswa.


 

Keesokan harinya saya memasuki ruang sidang skripsi dengan agak was-was walaupun sudah mempersiapkan penampilan yang keren. Apa yang diceritakan oleh teman-teman saya tentang ujian skripsi yang mengerikan itu tidak terbukti sama sekali. Saya malah seperti sedang bercakap-cakap dengan dosen penguji mereka. Hangat dan bersahabat. Saya malah sempat berdiskusi tentang masa depan saya dengan mereka. Mereka malah memotivasi saya.


 

Belakangan ketika pekerjaan saya berhubungan dengan dunia pendidikan, saya menemukan kata kunci tentang kenapa prestasi saya gemilang pada saat SD-SMA dan saya sangat menikmati belajar ketika di akhir-akhir kuliah. Satu kata singkat; Encouragement.


 

Encouragement; Karena Kita Sedang Membangun Karakter

Saya menemukan simpul kata ini ketika saya membaca artikel tulisan Prof. Rhenald Kasali dengan judul yang sama seperti kata pertama sub judul tulisan ini; Encouragement. Artikel itu bercerita tentang pengalaman beliau dengan guru anaknya di Amerika. Pengalaman yang menggambarkan betapa jauhnya cara mendidik guru-guru di sana dengan kebanyakan cara guru-guru di negeri kita.


 

Ketika saya sedang memberi training atau mendampingi trainer magang di tempat saya bekerja, saya selalu mengingatkan mereka untuk berhati-hati memberikan nilai dan mengoreksi pekerjaan siswa. Mereka kadang protes, mengapa saya memberikan nilai B untuk hasil tulisan siswa jelek dan tidak jelas apa tema dan maksudnya.


 

Di dalam kelas kami, nilai bukanlah punishment, kami memfungsikan nilai sebagai encouragement. Nilai bagi kami harus bias memotivasi siswa untuk berbuat lebih. Standar nilai yang kami berikan bukan semata-mata berdasarkan hasil pekerjaan siswa tersebut. Kami sangat menghargai proses dan perbedaan individu. Fatih yang belajar dengan start up 1 misalnya, ketika bisa melaju ke standar 4, itu progress yang bagus. Sedangkan Patrick yang nilai start upnya 5 dan melaju ke ke angka 6, itu bukan progress yang bagus. Yang mempunyai nilai yang lebih tinggi adalah siswa yang strat up nya 1 dan melaju ke angka 4. Nilai bagus yang diberikan kepada Fatih adalah encouragement. Biasanya di bawah nilai itu kami berikan komentar dan pujian atau kata-kata motivasi yang mendorong siswa untuk terus meningkatkan prestasi mereka.


 

Di kelas kami, pada sessi akhir kelas, siswa diminta untuk membuat sebuah karangan dengan bahasa Inggris setiap harinya. Biasanya, siswa akan bersemangat untuk menulis lebih banyak lagi karangan setelah melihat nilai dan kata-kata motivasi di atas hasil karangan mereka. Ketika melihat lagi hasil tulisan selanjutnya di buku karangan mereka keesokan harinya, mereka semakin termotifasi untuk menulis lebih baik ketika mendapatkan nilai yang lebih baik. Pada akhirnya, buku hasil tulisan itu akan menjadi permainan 'lempar –tangkap' motivasi antara guru dan murid maupun trainer dan trainee.


 

Encouragement ini tidak hanya ampuh buat anak-anak. Kebanyakan peserta training saya adalah guru-guru dengan usia 20-56 tahun. Pada awalnya saya sendiri kaget ketika mendapati kaum 'senior' tersebut begitu bersemangat. Semangat yang menghilangkan keluhan-keluhan mereka tentang kemampuan belajar dan daya ingat yang menurut mereka semakin menurun karena mereka sudah tua.


 

Siapa pun orangnya, mereka akan senang dan termotifasi ketika hasil pekerjaannya dihargai. Contoh yang lain adalah dalam dunia kerja. Tak bia dipungkiri, staf yang mendapat penghargaan dari atasannya baik itu berupa pujian ataupun reward dalam bentuk materi akan semakin termotifasi untuk berprestasi.


 

Kalau anda seorang pendidik, guru, trainer, boss atau atasan, sudahkah anda memberikan encouragement kepada murid dan bawahan anda? Atau jangan-jangan kita 'membunuh' karakter mereka dengan memberikan nilai punishment? Kita tidak sedang menghasilkan generasi yang bernilai bagus saja, tapi yang paling penting adalah menghasilkan generasi yang berkarakter unggul, karakter yang kompetitif dan penuh motifasi. Kebanyakan karakter positif didapat dari imput yang positif juga.

Monday, January 10, 2011

Padang 3# Simple Box of Happiness

I am kinda man who is very simple. I always take whatever I find instead of whining and expect something that hard to find. I have the simple thought of what is beauty and what is pleasure. Lucky me, these mindset make me be a very adaptable man. Dealing with my recent job, it's very helpful. My jobs required me to be ready to relocate to some different cities in a month or two. Kinda job that I had been dreaming of when I was a student.


 

Two recent months I was relocated to two different cities which are very different each other. One is a metropolitan wannabe city, and another is a city with no fancy café or big malls to escape when I feel tired as I do in my previous town that I have been living in for years. However, I was amazed. I find myself enjoy the living in the no big mall city as same as in the metropolis city. The two cities have their own interesting side, at least based on my paradigm of what is interesting.


 

The Metropolis wannabe has its complete facilities that you need. You'll find yourself easy to transport everywhere with the comfort transportation. When you miss your favorite original delicacies from your own hometown, you'll easily get it available because they open the restaurant with the same taste and even atmosphere with the own you have in your hometown. With the franchise system, it's easy to find your favorite black pepper steak you usually have for your dinner in your hometown. The no big mall and fancy café city won't provide you that easy access and delicacies place to escape, but I find its different interesting side. I amazed when I found myself can do no whining because I couldn't find the good coffee shop with the widescreen home theaters and a cozy sofa. I find that the full decorated 'angkot' is very interesting. I feel that having city tour by that 'angkot' and uproar town bus very interesting. The seashore which is located just a few minutes ride from the central of city is a place to enjoy the very magnificent sunsets. When I need to fulfill the adventure instinct of mine, I'll ride away heading to the rural area which is lies a few kilometers away from my place. No need to ask people to get there. Using a mountain as a spot guide, I'll randomly take the way which is heading there. After getting once or twice lost, I found myself surprised with the green view and clear as a glass river. The nature atmosphere quickly fills my soul and be the fuel for me to continue my-full-of-works-days.


 

I never can stand to see the water. I always want to get myself jumping and swimming, or at least let my feet steeped into the cold fresh water. In my recent wandering to Lubuk Minturun, a clear watered river in suburban area of Padang, I spent five hours to swim in the streams. It was hard flowing streams which take you hundred meters away in a minute. I also tried to jump from the high edge as many little kids did. At first, I thought it was a piece of cake. However, when I got in the tip of edge and looked down the stream water, I felt my heart throbbed quicker. It took more than twenty minutes for me to gather all my bravery to jump down there. I knew, it was only water down there, so no problem if I jump. I also knew, these kids found themselves fine after jumping. No matter how much I tried to inject the logic into my brain it's still born down by my feeling. In the end, when I finally jumped, I addicted to try more. I enjoyed the moment when my bravery bore down my anxiety and took y body drifting from the edge into the stream.


 

Recently, I tried to explore the no big mall town more. After an exhausting week which full of many things to do, I invited my boss to do the city tour. I took him to try the 'angkot' and city bus. As we usually do, we had nice long English discussion along the way. People looked us as we are the stranger because we spoke in English. Actually, it was kinda marketing strategy we always use. In many cases it works. At first, we just wanted to visit the city's beautiful campus which lies on the highland miles away from the central of city. However, when we were wandering around that 'power rangers' quarter' we saw the narrow green valley which is split into two part by a river. My adventure instinct popped up. Without a map and clear direction, we started to walk down the hill of 'power ranger' quarter' went along the earthen path with the bushes in the sides. After 20 minutes, we found the village street and tried to walk along to the foothill. After about 45 minutes, we found a green rice field along the river sides with the green hills background. It was very refreshing to see these views. We kept walking until we arrived in the quit place with no human life but black stones in the middle of rivers. We directly found the big flat stone where we could lay down or body while enjoying our feet steeped in the slow flowing water. The wild tree with the shocking yellow flower above us guarded us from the sun's heat.


 

The symphony of flowing water, singing bird and blowing wind in the natural atmosphere took us into the deep sleeping. We woke up with very fresh body and soul when the afternoon came. We were ready to get back to our daily routine with fresh soul and new spirit.


 

The refreshing for me is that simple. A backyard view for me is magnificent. It depends on how I set my heart and paradigm. I don't really need a luxurious holiday with superb eateries and a cozy accommodation. It doesn't mean I don't want that kinda holiday. I want it but I do not require it for my refreshing. I always try to enjoy each place with its uniqueness without whining about something doesn't exist in my surround. Therefore, when my mother ask me about living in the new places whenever I'm relocated I always happily tell her how beautiful the place I live in.