Sunday, June 3, 2012

My Bali Life; An Afternoon in Kuta Bali

Good Afternoon to ride
I,m alone and I enjoy my life
Brother and Sister
When the sun goes down
Mempertahankan tradisi




Thursday, May 17, 2012

My Bali Life# ; Carrot Cake and Lemon Tart in Mango Tree Cafe



One of my favourite beach destination in Bali is Padang-padang beach. Despite of its beautiful white sands, scattered rock and clear water, I also love the road takes me there. Unlike thestreet of  the Kuta and other urban areas which fulled of buildings, this road is still quit like the other country side road. The road takes you down from the hill of Bukit Jimbaran to the south coastal. Therefore, along the way you can see the blue ocean down there. However, the things I like most are the small boutiques, cafes, and restaurants popped up among the forest and bushes. It's worth to stop for Mango Juice and carrot cake in outdoor seats in the breeze wind after swimming and sunbathing in the beach. It's kind of place where I want to spend all day enjoying the breeze with good reading in hand.  

That afternoon we decided for the second stop at Mango Tree Cafe. Situated just in the slope road near the Padang-Padang beach car park.




There we were. I and Mr. Shine took the outdoor seat under the Mango tree with Mango Juice and Mango smoothie that were not good becouse they blend the unripe mango I guess. It's not the Mango season like our prevoius visit to this place.

Mangoo Tree's carrot cake. The most delicious carrot cake I've ever tried!

The carrot cake and Lemon tart were superb, especially the carrot cake. It's our reason to stop. The smell of cinnamon, domminant ingredient of carrot, chocholate and almonds went so right.

Mango Tree's Lemon Tart. I'm not the fan of lemon tart anyway.

Thanks to the kitchen master who created this heavenly taste cake. I will definitely stop by for anothe carrot cake next time.

Saturday, May 12, 2012

My Bali Life; Breakfast with Style in Tuckshop Seminyak

Since I didn't have my camera with me, I took all the pics in this post from this cool blog; Crema and Crumbs. So, the photo credits are on him/her


Breakfast is one of the most important thing for my day. for me, good breakfast creates a good whole day. Anytime I visit my mother, it will be me who prepare the breakfast for the big family. What I prepared range from simple pancakes or the pancakes that i made by trying mixing this and that. And the last time, I made a pumpkin pancakes with the freshly picked pumpkin from my sister's garden. Preparing the breakfast is one of my "Joie de vivre".

When I was in my recent stay in Bali, I was addicted to 'breakfast around'. I and my friend tried several places for the breakfast around Seminyak and also Ubud. It started becouse the fancy budget hotel in Seminyak where we stayed for some days didn't serve the breakfast in the hotel package.

Riding the motorbike along the small street in Seminyak we tried to find the restaurant serving breakfast took us uncoincidely to a small place in the corner of Laksamana Oberoi Street and Kayu Aya street. Coming back and forth passing this street before, I never realized that this is a reastaurant. I wondered it was a boutique becouse what i see from Laksamana Oberoi Street are the display of fashion items. This place is more wellknown as Corner Shop wich is the name of the boutique, while the real name of the restaurant is Tuck Shop. It's a combination between cafe, deli, boutique and gallery.



Once we entered the restaurant, i was welcomed by the smell of coffee from the busy grinding coffee machine operated by two man beside the door. That smell somehow created a tranquil feeling on my soul. I always love the smell of cofee!


The interior is really fancy. Tables are situated among the manequinn and fancy clothes hunging with designed forms.I love the place more and more when I sat in the big table in front of shell that full of books, magazines, dayly newspapers and the display of some organic product like jam, coffee bean, and tea.

I was confuse which breakfast I wanted. All are tempting and mouth watering. I ended up taking the baguette sandwich, and Cappuccinno. Wow, it was a very big plate contained of baguette and two pieces of sadwich that I thought I couldn't eat them all. Both I and mr. Shine, was amazed when in the end we found my plate was clean!

What I like most from this restaurant is the atmosphere. You know what, almost everyone I saw was busy with their Apple stuff. See that man in the corner table near the tank top t-shirt collection! His cuteness improving some bars becouse of that Mac Book Pro. Dressing in a fade orange t-hirt, dark blue very short pant and flat make him looks georgous. And that ellegant expensive looks lady with her  new I-pad sitting with two men occupied with their Mac Book beside me just made me soooo jealous. It seems they worked on their business while having their breakfast. In the other corner, a group of mothers with their baby seems enjoying their gossip time.


This fancy place are commonly fulled up by expats who are based in Seminyak area. Therefore, just few locals can be found here.

I've pick this place as one of my favourite breakfast place in Bali. It's really reccomended place for you to end up your jogging in the morning or just simply the place to see and to be seen. and don't worry, you can have your breakfast even in the afternoon here becouse the restaurant serve the breakfast until 18.00. It's all day breakfast!

For me, I'll visist back this boutique resto with more preparation; good dress and fancy gadget!





Sunday, April 22, 2012

Pernak-Pernik Perjalanan



Ada banyak hal yang seharusnya dibekukan beberapa waktu belakangan ini. Ada banyak cerita bahagia dan kisah sedih yang seharusnya terangkum. Berikut adalah beberapa hal yang saya rangkum dari perjalanan saya. Yang saya maksud dengan perjalanan adalah to travel.
11. Kejadian di maskapai Indonesia; saya datang ke airport 2 jam sebelum boarding time. Ketika akan check in, petugas mengatakan kalau pesawatnya sudah take off. Saya mencocokkan tiket saya. Saya tidak terlambat. Petugas check-in menyuruh saya menemui petugas office maskapai tersebut dan saya mendapati beberapa orang leklaki berseragam yang dikerubuti oleh sekitar 20 orang dengan wajah marah. Rupanya mereka penumpang yang terlantar seperti saya. Complain saya ditanggapi bahwa mereka sudah melakukan prosedur dengan mengirimkan pemberitahuan ke handphone saya tentang pemajuan jadwal. Pemberitahuan yang tidak pernah saya terima. Mereka tidak punya solusi apa-apa. Tidak juga bisa menjamin saya bisa terbang dengan pesawat mereka keesokan harinya. Daripada berdebat menguras emosi dengan mereka dengan hasil sama; tidur di airport, saya memilih untuk membeli tiket last minute dari maskapai lain dengan harga 3 kali lipat.
22.  Untuk pertama kalinya saya menemukan flight attendant kulit hitam khas ambon manise.  Saya iri dengan warna kulit dan hidung mancungnya. Juga jam tangan kerennya. Ups, bodinya juga ding. Ini hikmah ditinggal Batavia dan terpaksa beli tiket Garuda.
33. Hal yang saya sukai dari terbang malam dengan Garuda adalah karena flight attendantnya laki-laki. Saya merasa lebih secure.
44. Mengapa headphone Garuda bentuknya begitu? Mengapa tidak seperti headset nya KLM yang bisa dibawa pulang dan compatible untuk banyak gadget?

a5. Saya lebih suka flight attendant garuda yang umurnya lebih senior ketimbang flight attendant lion air yang muda-muda dan cantik tapi bertampang judes. 
66. Saya selalu suka naik pesawat kecil berbaling-baling. Alasannya sederhana. Pengaturan penumpangnya tidak seribet peswat besar. Pesawat besar yang tidak professional loh ya. Take off dan landing juga lebih cepat. Tapi hal yang saya tidak sukai adalah saat mengantri naik ke pesawat. Panas mesinnya menyembur muka pas di tangga naik. Belum lagi kalau hari sedang panas-panasnya.
77. Saya tidak menyangka bahwa pramugari favorit saya ternyata pramugari pesawat wWings Air yang masih pakai baling-baling dan bersuara bising itu. Tidak seperti flight attendant kakaknya, flight attendant Wings Air lebih ramah, dan Rika Diana, flight attendant yang menemani 25 menit perjalanan saya dari Bali ke Lombok benar-benar ramah. Bukan ramah yang dibuat-buat. Saya sengaja meninggalkan kabin pesawat paling akhir untuk khusus berterima kasih dan memuji senyumnya yang menentramkan. Thanks Miss Rika Diana, flight attendant Wings Air.
88. Saya deg-degan ketika akan memuji senyum Miss Rika Diana dan kesulitan untuk mengungkapkannya dengan bahasa Indonesia. Ternyata lebih ringan mengungkapkannya dalam bahasa Inggris. Anyway, you’ve got avery nice smile. It’s curing. Thanks.
99. Saya selalu suka berada di airport. Suasana bepergian membuat saya bersemangat. Dan otomatis saya akan berjalan dengan langkah lurus segaris dan dau terangkat. Ekspresi minta ditampar.
110.  Terbang paling horror yang pernah saya alami adalah terbang dari Jakarta ke Padang jam 10 malam pakai Lion Air dan terbang dari Surabaya ke Denpasar pakai Garuda. Dalam penerbangan dengan Garuda itu penumpang perempuan di sebelah saya sampai menangis.
111. Saya  selalu merasa coming home ketika menginjakkan kaki di Ngurah Rai International Airport di Bali.
112.   Kayaknya Airport paling sibuk itu adalah Ngurah Rai Airport, Soetta dan Juanda deh.
113.   Saya hanya berurusan dengan bagian lost and Found dua kali dari semua perjalanan saya. Satu kali karena meninggalkan tripod kamera yang sampai sekarang tidak balik-balik dan kali lainnya ketika saya lupa menaruh pisau lipat Swiss Army saya dalam baggage luggage sehingga harius dimasukkan ke dalam amplop barang-barang terlarang dan harus diambil di Lost and Found.
114.   Oh ya, ini tidak ada hubungannya dengan perjalanan. Saya mempunyai pisau lipat Swiss Army yang resmi dikeluarkan oleh militer Swiss. Bagaimana saya mendapatkannya? Tanya dehhh!
115.   Kalau saya lagi usil menjawab pertanyaan tentang asal negara saya, saya akan menjawab cepat bahwa saya berasal dari Timbuktu. Banyak yang percaya dan biasanya tidak akan bertanya banyak setelah itu.
116.   Mengapa orang-orang sibuk dengan telepon justru ketika boarding time atau ketika pesawat baru take off? Bahkan dalam satu penerbangan horror karena turbulence ke Padang, suasana horror itu ditambah dengan seorang penumpang laki-laki dengan aksen Makassar yang kental berbicara keras-keras lewat telefon genggamnya selama perjalanan. Orang itu baru berhenti ketika pramugari cantik nan judes itu mematikan telfon bapak itu dengan paksa.
117.   Mengapa sering ada penumpang bodoh yang duduk seenaknya di kursi yang tidak sesuai dengan tiketnya? Paling sering tempat duduk saya yang window seat kena serobot. Tapi menyerobot kursi saya adalah sama dengan mempermalukan diri sendiri karena saya akan ngotot. Kasus terakhir ketika saya terbang dari bali ke Lombok dua hari yang lalu. Penumpang bodoh itu malah tidak mau pindah dan mengatakan; kan kamu bisa duduk di mana saja! Saya: ibu, saya sengaja minta kursi itu pas check in. Akhirnya pramugari cantik mbak Rika Diana itu meminta orang lain untuk mengalah agar saya tetap bisa duduk di window seat.
118.   Dari semua airport di Indonesia, saya paling sering menginjakkan kaki di Ngurah rai airport di Bali. Bisa 6 kali sebulan.
119.   Paling seru kalau menginap di hostel (yang mengaku hotel) di kota-kota kecil deh. Sebaiknya set your expectation low. Saya pernah menginap di sebuah hotel di Payakumbuh yang tempat tidurnya terbuat dari semen. Tampak seperti kuburan yang ditinggikan. Selimutnya warna hijau seperti karpet mushola. Jangan Tanya service deh. Hostel di Bali dengan harga dua kali lebih murah dari hotel tersebut masih jauuhhh lebih nyaman.
220.   Ada hotel bagus banget. Interior dan eksteriornya adalah favorit saya. Tapi hotel ini jatuh nilainya karena sarapannya yang sangat biasa saja. Pas dicek di trip advisor, banyak yang “mengutuk “ hotel ini. Tapi buat saya, ini tetap menjadi hotel favorit karena saya suka interior, eksterior dan suasananya yang sunyi. Saya pernah menginap di hotel ini dan ketika sarapan saya hanya menemukan sepasang tamu lain yang menghuni hotel ini. Puas-puasin deh berenang dengan perasaan kolam renang pribadi.
221.   Pemandangan paling spektakuler dari udara menurut saya adalah pemandangan ranah minang. Daratan maupun lautannya breathtaking.
222.   Betapapun indahnya tempat-tempat lain di Indonesia, still I love bali most. I love to stay in Ubud, the tranquil heart of Bali or just simply spending the time in the rocky beach along the pecatu area. Owhhh, I have stated this, haven’t I?
223.   Travelling selalu meberikan efek mellow kepada saya setelahnya. Efek yang paling besar biasanya (ah, sepertinya selalu!) setelah traveling ke Bali.
224.   Saya jarang membawa oleh-oleh dari suatu tempat yang saya kunjungi. Saya selalu bingung mencari oleh-oleh apa yang tepat. Pada akhirnya, saya tidak membeli oleh-oleh sama sekali.
225.   Saya jarang membuat foto diri di tempat wisata yang saya kunjungi. Misalnya, saya tidak pernah membuat foto di depan Hard Rock Café Bali walaupun saya beberapa kali nongkrong di sana.
226.   Saya tidak mengerti mengapa banyak wisatawan harus pergi berombongan naik bus-bus besar di tempat wisata yang umum seperti di Bali. Maksud saya, apa enaknya mengunjungi pantai bergerombolan satu bus dan ditunggui oleh guide? I just don’t get it!
227.   Menurut saya, pergi ke pantai dengan jeans, jaket dan sepatu lengkap sangatlah aneh. Apalagi kalau pakaian tersebut berwarna hitam. Biasanya orang Indonesia banyak yang seperti itu.
228.   Entah dimulai kapan, perjalanan saya ke pantai-pantai di Bali selalu diwarnai dengan perburuan carrot cake. Dan carrot cake terlezat menurut saya adalah di Manggo Tree Café dekat pantai Padang-padang tempat MLTR membuat video clip mereka.
229.   Kafe terbaik di Bali menurut saya adalah Seminyak Café. Kue-kuenya enak banget. Saya paling suka banana crumble, apple pie dan apple crumble. Sarapannya juga super enak. Favorit saya adalah French breakfast.
330.   Mau breakfast with style dengan freshly roasted coffee? Tuckshop café yang menyatu dengan butik di jalan Laksamana Oberoi seminyak Bali adalah tempat yang pas. Kalau anda mempunyai sesuatu dari Apple seperti MacBook atau I-pad, harus anda bawa. Soalnya hamper setiap pengunjung membawa benda-benda tersebut. In mky case, saya ngiler karena benda-benda tersebut bukan karena makanannya. Bayangkan diri anda dengan secangkir kopi di meja cantik di antara mannequin dan display baju-baju bagus sambil sesekali menggerakkan jari anda dengan gaya di layar I-pad 3, owwhhh!
331.   Waktu tempuh penerbangan Lombok-Bali jauh lebih singkat daripada waktu yang diperlukan untuk menunggu bagasi setelah penerbangan tersebut.
Apalagi ya? Hmmm….cukup sekian dulu deh. Kalau pernak-pernik perjalanan anda bagaimana?

Ubud, 22 April 2012, sambil nongkrong bareng Dee dan Billy di Oops Reastaurant & Bar

Saturday, April 7, 2012

My Bali Life; All Day Breakfast in Cafe Seminyak

Pagi adalah sepotong waktu yang paling saya sukai dari semua potongan waktu. Ucapan pagi adalah ucapan paling bersemangat dari semua sapaan yang berhubungan dengan waktu. Pagi datang dengan semangat dan janji-janji kehidupan baru. Termasuk diantaranya, saya suka sarapan yang menjadi rutinitas pagi. Menurut literatur yang saya baca, orang yahudi menyisihkan makanan terbaik mereka hari itu untuk sarapan. 

Sejak sering bolak-balik Bali saya jadi sangat menyukai sarapan. Mungkin karena pilihan menu breakfast yang beragam.Diantara semua menu breakfast yang pernah saya coba, favorit saya tetaplah banana pancake dan Srumble Egg. Akan tetapi itu sebelum saya mencoba sarapan di Cafe Seminyak. Ayo, sarapan bareng saya di Kafe Seminyak sambil merasakan suasana Bali berpadu dengan menu-menu dari berbagai belahan dunia. Wangi dupa dan setanggi bercampur dengan aroma fresh baked bread dari dapur cafe. Alunan gamelan Bali yang mengiringi suapan baguette. Gadis-gadis berkebaya Bali diantara turis-turis bule dengan busana santai khas pantai. Perpaduan ini yang selalu membuat Bali unik bukan?

Saya memilih French breakfast hari ini. Suasana french makin terasa karena saya juga langsung belajar bahasa Prancis dari penutur aslinya yang selalu meledek lidah saya yang payah.
                                                                                                                                                                                                                                                                            
French Breakfast saya. Croissant, mini baguette yang renyah, french butter, Bali coffee dan watermelon juice. Seperti biasa, coffee au lait (kopi susu) selalu berubah menjadi Lait au Coffee (susu kopi) di tangan saya. Hal yang selalu diprotes teman saya katrena saya merusak pakem katanya. 


Saya jatuh cinta dengan cangkirnya. 
Cafe ini menyatu dengan butik kecil. Sarapan sambil menghayati karya fashion yang berkelas:)
Salah satu hal yang sayaq sukai dari cafe-cafe di sini. lukisan-lukisan lucu itu. Apoa namanya ya? Ada poster promosi garuda, coffee shop tetangga, restoran di Swiss, grup band. Semuanya lukisan tangan.

Saya selalu jatuh cinta kepada cafe atau coffee shop yang menyediakan pilihan cakes yang banyak. Bukan pilihan standar. Sepertinya saya butuh nongkrong setiap hari selama 1 bulan di cafe ini untuk mencoba semua cakes ini.

Tampak luarnya sih biasa. Kafenya juga kecil. lebih besar coffee time, kafe favorit saya di Malang.

Bagaimana? Sudah tergoda untuk mampir di kafe ini? 


Monday, March 26, 2012

Silent Day in Bali; Ogoh-Ogoh Festival

Pertama kali saya mengenal ogoh-ogoh adalah ketika dulu saya sekolah di Lombok. Saya 'kabur' dari boarding school buat nonton. 

Sebelum Nyepi (silent Day) kemarin, malamnya saya bergabung dengan kemeriahan festival ogoh-ogoh di sepanjang jalan Legian di antara penduduk Lokal dan Turis yang berbaur. Sangat menarik menyimak berbagai macam bahasa dan ekspresi yang bercampur menjadi satu dalam wadah yang sangat lokal; Ogoh-Ogoh.

Equipment kamera saya pas-pasan. Tapi saya berusaha menampilkan keriaan masyarakat bali sebelum hari Nyepi.

Kalau dulu, ogoh-ogoh ini dipanggul beramai-ramai. sekarang cukup didorong karena telah dilengkapi dengan 4 roda kecil.
Pemuda cilik ini mecoba memberikan pose terbaiknya ketika saya mengarahkan kamera kepadanya. Ia bersama teman-teman sebayanya akan mengusung ogoh-ogoh kecil
Ogoh-Ogoh kecil mereka berwarna biru
Memantapkan latihan gamelan bali sebelum masuk ke iring-iringan
Para puteri tengah bersiap-siap
Helping friend
On fire
 
I was a lousy fotographer coz i didn't melt will the entire festival from beginning to the end. I also was too tired to find fascinating capture:(

Hopefully you enjoy it!



Sunday, March 4, 2012

Jalan-jalan Selorejo



 Walaupun tinggal lama di Malang, saya belum pernah berkunjung ke Bendungan Selorejo yang menjadi salah satu destinasi favorit di Jatim. Saya paling numpang lewat saja dalam perjalanan ke Kediri dan sekitarnya. Bendungan ini biasanya menjadi salah satu dari isi paket perjalanan wisata Malang dan Batu. 

Gara-gara Cepu, Fatiful, dan Chandra memutuskan untuk berburu pemuda-pemuda desa (baca: KKN) di Selorejo dan promosi mereka yang berbusa-busa tentang nikmatnya hidup di desa pada saat musim durian, saya, Fuad, Iqbal dan Ridho memutuskan untuk mengunjungi mereka sekaligus menuntaskan misi mulia teman kami, Ridho. Saya sedang malas bernarasi dan deksripsi ria, saya sajikan foto-fotonya saja ya. Here they are; 

Buat teman saya, Fuad, perjalanan kurang afdhol kalau kendaraannya  belum mengkilap




 



 


 










Batu City Tour





Ada yang tahu di mana kota Batu berada? Pertanyaan ini tidak berlaku untuk anda yang tinggal di wilayah jawa Timur. Yup, kamu benar Panji! Kota Batu adalah kota dingin di dataran tinggi tidak jauh dari Malang. Malang 'numpang' populer dengan 'Apel Malang' yang dihasilkan oleh kota kecil ini.

Hari minggu kemarin saya dan sepupu saya Anna main ke Batu. sudah lama saya tidak duduk lama-lama sambil memandang hamparan kebun bunga, apel dan sayuran di Batu. Dulu, saya sering jalan sendiri hanya untuk keluar masuk ladang bunga dan sayur.

Batu telah berbenah.City branding kota ini cukup berhasil. Kota yang dilabeli kota agrowisata ini telah berubah. alun-alun kota yang dulu tidak terawat sekarang menjadi public sphere yang sangat indah dan menyenangkan.

Walaupun hujan lebat sempat menghambat perjalanan, saya sempat mengambil beberapa gambar di alun-alun kota. Biarkan gambar-gambar itu yang bercerita.

Anna di depan Apple Fountain dengan background ferish wheel

Ada banyak bunga. Termasuk beberapa petak kebun mawar dengan aneka warna.  Ada mawar hitam loh!

Seperti kebanyakan kota di Jawa, alun-alun itu pasti ada taman, mesjid, dan  pusat perbelanjaan. Tampilan alun-alun kota Batu sangat fresh dengan paduan warna bunga-bunga di taman dengan warna bangunan serta latar belakang gunung-gunung yang memagarinya.

Menghabiskan sore dengan bacaan dan secangkir kopi di sini tentu saja sangat menyenangkan. saya suka warna-warna di taman ini. selain bunganya yang berwarna-warni, kursi dan bangunannya juga dicat warna cerah.
Plaza Batu jadi Pinky gitu . matching ya, sama kerudungnya Anna

bangunan rest roomnya lucu, berbentuk apel. Yang berbentuk strawberry itu  adalah lounge dan information centre. Secara teratur akan ada add lips yang menuyuarakan informasi tentang taman ini beserta himbauan untuk menjaga kebersihan. Itu artinya, budaya kita masih kuat budaya lisan. Kalau himbauan tadi dalam bentuk tulisan, paling hanya segelintir yang baca.

Kalau mau minum, bisa langsung dari keran ini. Bersih kok. Kayak yang ada di taman-taman  di negara-negara eropa. Yang kerennya lagi, taman ini adalah NON-SMOKING AREA! Ada juga ruang terbuka publik di negeri ini yang menjadi tempat aman bagi bukan perokok seperti saya:-)
Mau menikmati pemandangan taman dari atas? Naik ini aja. cuma IDR 3.000
Hawa di Batu sangat dingin. Makan soto ayam panas sambil menikmati panorama taman tentulah sangat nikmat.

Konon katanya Kota batu dulunya dijuluki Little Swiss. Mungkin karena gunung-gunung yang memagarinya ya? Saya juga tidak tahu. Tapi yang jelas, jalan-jalan ke Batu selalu menyegarkan. Two tumbs up deh buat bapak Eddy Rumpoko, walikota Batu yang muda dan energik itu. Beliau bisa dibilang cukup berhasil memoles Kota batu menjadi kota agrowisata. Kekecewaan saya karena Batu Flower festival yang 'kok cuma kayak gitu' itu terobati dengan mengunjungi alun-alun kota. Terus berkarya Pak!