Saturday, November 1, 2014

Cerita Jogja; Mari, Ngopi Bareng saya di Lagani



Jarum jam baru menunjukkan angka 9, tetapi  hari sudah panas menyengat di Jogja. Persawahan dan kebun tebu di belakang rumah saya hanya menyajikan warna cokelat tanah retak dan rumput kering. Kemarau berkepanjangan membuat tanah-tanah kering mencipta debu yang diterbangkan angin. Salah satu alasan untuk malas beraktifitas di luar. Meja tulis saya yang menghadap dinding  yang seluruh bagian atas dindingnya adalah deretan empat jendela yang member saya akses pemandangan ke arah taman kecil yang tanamannnya tetap bertahan hanya karena saya sering menyeprotnya langsung dengan shower dari kamar mandi  setiap saya mandi pagi atau sore sangat nyaman untuk tempat mengerjakan tesis sebenarnya. Saya tinggal membuka pintu di samping meja dan pemandangan ke teras belakang yang penuh tanaman tersaji. Akan tetapi saya sedang tidak ingin berada di rumah dan mengerjakan thesis  di rumah hari ini. Godaan untuk turun ke dapur memasak ini itu terlalu beresiko. Saya akan pergi ke Lagani, kedai kopi favorit saya di Jogja.

Tetangga yang tinggal di Apartemen di lantai bawah sana bertambah satu orang, pemuda Rumania berpostur jangkung dan langsing, dan sangat tampan tetapi pacarnya, gadis Indonesia ala-ala itu berbetis buesar, kebalikan dari cowok Rumania yang berpostur langsing dan cool itu.. Sejak saya kembali dari Jakarta, mereka belum pernah berpesta yang selalu membuat gaduh sampai pagi lagi. Tapi Keponakan saya yang menginap di rumah ketika saya pergi ke Jakarta bercerita bahwa mereka pernah membuat pesta yang sangat gaduh sehingga membuat keponakan saya tidak bisa tidur sampai pagi. Dan tentu saja keponakan saya itu tidak berani menggedor pintu mereka dan meminta mereka untuk tidak gaduh seperti yang biasa saya lakukan. 


Oke, saya tidak akan bercerita tentang tetangga saya itu pada postingan ini. Saya akan bercerita tentang sebuah sudut di Jogja yang menjadi tempat favorit saya untuk sekedar menyendiri dengan bacaan, mengerjakan paper, bertemu teman-teman, meeting point buat bertemu teman baru dan sekarang tempat saya menulis tesis kalau saya ingin suasana baru. Kalau saya tidak sempat ngopi di rumah, saya juga datang ke sini untuk mengisi tumbler kopi saya dan membawanya ke kampus. Saya juga berusaha untuk membawa teman yang datang dari luar Jogja untuk menikmati secangkir kopi di sini.  Kadang-kadang saya hanya datang sendiri tanpa alasan-alasan  tadi dan duduk sendiri di kursi di balkon hanya untuk melihat orang yang lalu lalang di depan coffee shop, profiling satu-satu pengunjung coffee shop yang kebanyakan adalah mahasiswa asing baik yang sedang belajar di kampus-kampus di Jogja ataupun yang sedang belajar bahasa Indonesia di sekolah bahasa yang bertebaran di area ini.

Lagani, nama coffee shop ini begitu tenar di kalangan anak-anak muda Jogja terutama di kalangan komunitas kreatif muda dan para pencinta kopi. Berjarak satu blok dari Lagani tempat saya menulis ini, masih di jalan yang sama  ke arah barat anda akan mendapati Lagani yang lain, sebuah coffee shop masih dalam payung manajemen yang sama. Bangunan kedua-duanya sama-sama menyatu dengan distro dengan brand yang ekslusif, handicraft & fashion accessories shop dan tentu saja semuanya produk Indonesia.

Dalam postingan ini saya akan bercerita tentang satu lagani dulu, lagani yang tidak hanya menyajikan kopi tapi juga makanan berat seperti pasta, pizza dan berbagai menu ayam, makanya namanya lebih dikenal dengan Pasta Lagani . Dan menu favorit saya adalah menu sarapan tentu saja. Saya selalu menyukai sarapan, it’s my favourite meal time. Dengan harga yang sangat murah, saya sudah bisa mendapatkan satu menu sarapan dengan pilihan salah satu racikan kopi; cappuccino, Americano atau Coffee au lait.  Menurut pengamatan saya pengunjung biasanya datang untuk kopi dulu dan duduk berlama-lama sibuk di depan laptop atau membaca, atau  seru mengobrol dengan teman-teman. Baru kemudian ketika mereka lapar, mereka memesan makanan berat.  Sepertinya alasan utama datang ke sini adalah kopi dan ambience.  Perpaduan berbagai macam ras, buku-buku tebal, aroma kopi, percakapan dengan berbagai bahasa yang sahut menyahut membuat saya betah berlama-lama di sini. Kalau anda adalah orang yang merasa bahwa a man with book is sexy, anda akan orgasm di sini.

Pertama kali menemukan bangunan coffee shop ini saya langsung suka. Kursi-kursi berwarna hijau mengelilingi  meja putih bundar di teras depan yang terbuat dari kayu yang tidak dicat menggoda saya untuk mampir. Vas bunga  yang terbuat dari botol bening di atas tiap meja memberikan efek manis. Untuk sampai ke coffee shop, anda harus melewati tangga kayu yang akan membawa anda ke teras lantai dua.  Begitu saya membuka pintu kaca geser, saya langsung mendapati sebuah meja bar dari kayu bercat biru yang terkesan rustic di samping pintu . Salah satu dining dicat putih seperti hanya dikapur dengan bata yang tidak diplester dengan gambar tangan biji-biji kopi, rempah yang diselang-selingi dengn kata-kata positif.  Sebelah didnding yang lain dibuat dari jendela-jendela bekas dengan cat biru, putih dan tanpa kayu memberikan kesan retro sekaligus rusty. Ada beberapa mural yang mencolok di tembok  rungan yang lain yang dipisahkan oleh ruangan dengan sekat kayu dan kaca dengan pintu kaca. Rungan ini hanya diisi oleh satu meja panjang dengan delapan kursi dengan karpet yang mengalasi lantai. Mirip dengan sebuah dining room di rumah sendiri.

Sementara di ruangan besar berbentuk huruf L tempat bar berada terdapat sebuah tembok dengan  lemari kayu berkaca yang menempel di sepanjang sisi tembok. Lemari  tersebut diisi oleh barang-barang dari masa lampau seperti kamera LSR manual antik, mesin ketik tua, permainan-permain kartu lama, radio tua dan barang-barang lawas lainnya. Ada sebuah pemutar piringanhitam di atas meja.   Desain meja-meja di dalam ruangan in itidak seragam. Kursi-kursi yang mengelilingi meja di setiap ujung ruangan berbentuk peti kayu yang tidak dicat dengan sofa di sebelah yang lain. Meja lainnya adalah meja kayu seperti meja tua di rumah kakek di desa. Lantainya pun terbuat dari tegel kayu berwarna cokelat dan krem.


Memasuki pintu kaca itu setiap berkunjung ke sini, saya selalu mendapatkan sapaan hangat barista yang berada di meja bar di belakang mesin kopi.
“Sendirian aja Mas?
“Habis dari mana Mas?
“Cappucinno panas ya?
“Rapi banget Mas? Ngedate ya?
“Temannya yang kemarin mana Mas?. Katanya sambil tersenyum.
Nah, kalau dua pertanyaan terakhir ini sudah menjurus kea rah kepo deh. Mungkin mereka kepo karena saya selalu membawa teman baru dengan perwakilan etnis dari berbagai belahan dunia ke sini dan  mengobrol berjam-jam dengan pesanan kopi berulang-ulang. Bisa jadi mereka mengira-ngira, apa hubungan saya dengan orang-orang tersebut. Bisa jadi.


Dengan kopi yang digiling langsung dari biji kopi di situ, sajian kopi yang anda dapatkan benar-benar fresh from the bean. Masalah rasa, mereka sudah terbukti dengan beberapa kali memenangkan kompetisi barista tingkat nasional yang memilih peracik kopi terenak dari seluruh pelosok nusantara. Kopi yang enak, barista yang ramah berpadu dengan suasana yang homey membuat pelanggan selalu kembali. Mereka benar-benar memberikan personal touch dalam menyajikan kopi.

Jogja adalah syurga bagi para pencinta kopi. memang kota ini tidak mempunyai perkebunan kopi, tapi berbagai jenis kopi nusantara maupun belahan dunia lain bermuara dalam cangkir-cangkir kopi hasil racikan para barista andal dapat anda nikmati di ratusan coffee shop yang bertebaran di kota ini. Buat saya, kalau anda menginginkan kopi enak, lupakanlah kedai kopi jaringan internasional maupun nasional itu. Cobalah untuk memasuki kedai kopi di yang bertebaran di antara pemukiman, di dekat kampus atau di area food street seperti Prawirotaman atau Tirtodipuran. Berkaitan dengan kopi dan kafe, satu hal yang membuat Jogjakarta sangat berbeda dengan kota lain  adalah anda akan menemukan coffee shop ketika berjalan-jalan di mana saja, coffee shop tidak melulu berdiri di business area atau eating street. You’ll find your favourite coffee shop in a simple neighbourhood. Dan kebanyakan dari coffee shop ini bukan tempat nongkrong massal. Sepertinya, pencinta kopi mempunyai kedai kopi favorit masing-masing, dan kedai kopi favorit saya adalah Lagani ini. Ini bukan sekedar kopi yang enak, tapi juga ambience dan sedikit flirting. Lihatlah senyum di meja seberang sana. Itu saja sudah cukup menjadi oase buat panasnya Jogja hari ini.



Friday, October 10, 2014

Catatan Akhir Kuliah 1: Seandainya Kampus Punya Juice Bar!

Saya memutuskan untuk mulia menulis lagi catatan-catatan kecil kehidupan saya menjadi mahasiswa di Yogyakarta Hadiningrat ini. Berhubung ini adalah menjelang masa akhir kuliah saya, saya akan menamakannya catatan akhir kuliah. Sebenarnya,  catatan ini juga adalah kebutuhan otak saya untuk refreshing dari menulis tesis yang saya inginkan rampung dalam tempo yang sesingkat-singkatnya ini. Begitulah.

Salah satu perkuliahan yang sangat berbekas di ingatan saya  dua semester lalu adalah perkuliahan Strategic Planning for Campus yang diampu oleh professor favorit saya. Profesor yang sudah sepuh ini fisiknya saja yang kelihatan sepuh tapi jiwanya masih muda. Kalau anda melihat gadgetnya maka mulai dari handphone, tablet dan laptopnya maka logo kinclong dari apel kecokot akan langsung nampak. Well, saya tidak sedang melabel bahwa muda itu identik dengan gadget canggih, tapi pemilihan brand beliau mewakilkan semangat anak muda; dinamis dan kreatif. Tapi, pada tulisan ini saya tidak sedang ingin membahas profil beliau. Saya akan bercerita satu tugas sederhana yang beliau berikan pada satu sessi perkuliahan kepada mahasiswa.

Pagi itu beliau meminta mahasiswa menuliskan satu ide tentang pengembangan fasilitas infrastruktur kampus untuk mendukung academic atmosphere. Mahasiswa bebas menuangkan idenya dengan prinsip singkat; what, why, dan how. Saya sendiri waktu itu menulis tentang bagaimana mengakomodir kebutuhan mahasiswa dengan menyediakan student lounge dengan konsep kafe, juice booth, dan convenient store di sudut-sudut strategis kampus. Semua berangkat dari pengalaman saya sendiri yang sangat kesulitan untuk mendapatkan makanan yang 'benar' dan kopi yang enak plus tempat yang nyaman untuk belajar dan bekerja di dalam kampus. Bayangkan kalau saya mempunyai jadwal kuliah jam 8 pagi sampai jam 4 sore dengan banyak waktu break diantaranya. Sangat tidak nyaman untuk keluar dari kampus hanya untuk sekedar mengisi tumbler kopi saya di Lagani atau harus menyeberang ke Pertamina Tower. Waktu yang saya habiskan untuk mengemasi tas dan barang bawaan, turun ke parkiran, menstarter motor, melewati checking di gerbang, terjebak macet, menunggu di coffee shop, kembali lagi ke kampus, terjebak macet, mencari tempat yang pas, membongkar barang dan mempersiapkan komputer, dan mulai kembali lagi menstarter mood untuk kembali belajar atau mengerjakan paper akan sangat banyak terbuang sia-sia. Dan tentu saja ada hambatan tak terduga yang muncul dalam perjalan tersebut. Misalnya, anda bertengkar dengan pengemudi yang menyebalkan di jalanan, ada makhluk bening yang membuat anda harus berhenti dan menyapa dulu, kemudian disambung dengan obrolan, atau mungkin kendaraan mogok di jalan.  Padahal bisa jadi ketika saya meninggalkan kampus untuk mendapatkan secangkir kopi itu, saya sedang dalam puncak mood untuk mengalirkan ide-ide saya ke dalam halaman-halaman iWork namun terputus karena kebutuhan perut atau mata saya yang harus didoping dengan kopi.

Kalau ada coffee booth di setiap sudut, saya bisa dengan gampang mendapatkan kopi saya tanpa membuang banyak waktu ataupun menurunkan mood kerja saya. Kalau ada juice booth, saya bisa mendapatkan fresh juice yang sehat dengan kualitas yang dikontrol oleh kampu. Bayangan saya, ada food & beverages commitee di kampus yang mengontrol standar dari makanan yang disajikan. Atau kalau saja kantin diseting dan dikelola dengan baik sehingga  menjadi pilihan prioritas mahasiswa untuk mendapatkan asupan nutrisi di kampus, mahasiswa akan semakin betah berkegiatan di kampus. Atau, kalau tidak mau repot, kampus bisa menggandeng chain coffee shop, juice bar, fruit bar atau milkbar yang tersebar di seantero Jogjakarta Hadiningrat dan mendapatkan sharing profit dari situ untuk menghindari keruwetan managemen dan resiko bisnis yang besar. Atau kalau mau profit maksimal tapi menanggung resiko bisnis besar, kampus bisa membuat manajemen sendiri untuk mengelola ini.

Kalau anda mengunjunhi kafe-kafe keren atau coffee shop hits di jogja, bisa dipastikan sebagian besar pengunjungnya adalalah mahsisiwa. Maka, ini saja sudah menjadi celah pasar yang besar. Belum lagi mahasiswa internasional yang diuntungkan oleh kurs mata uang mereka yang tidak keberatan untuk menghabiskan sekian puluh euro di kafe-kafe dan restoran di Jogja hanya karena alasan mereka butuh decent food, makanan yang sehat dan higienitasnya terjamin. Harusnya ini dilihat sebagai peluang oleh kampus sebagai usaha untuk menjaga kebutuhan nutrisi mahasiswa sekaligus sebagai peluang untuk mendapatkan profit. Well, membangun generasi itu kan tidak melulu aspek otak ya, tapi juga tubuh dan jiwa yang sehat juga. Kalau mahasiswa sehat, kehidupan akademiknya tidak terhambat.


Saturday, July 5, 2014

Bali Holiday; Anomali Coffee Seminyak







My favourite coffee place, the corner shop in Jalan Laksamana Oberoi is temporarily closed due to the major renovation, that Iknow from the notice written in the wall. Ha, I've come down faraway from Bukit Jimbaran to have good coffee time like I usually do everytime I visit Bali. I decide to drive around Seminyak area to find other cafe when my eyes stumbled on a building just few metres from Corner Shop, the name written in a big block letter was "ANOMALI COFFEE". I've never heard this name before. I decided to stop and go in the building. 





Once I entered the buiilding, I directly fell in love with this place. It's a rustic style interior with big coffee grinder placed in the front corner that all open. Beside the coffee grinder, the sacks of coffee bean piling up in gunny sacks. The smell of coffee that spreading up in the room is like aroma therapy for me. The barista deck is placed in the center of the room joining together with the displays, cashier and the racks for the cakes. Some tables are lining backing the wall and some other higher long tables in the left sides are layed with the face to face lay-out. The walls are full of murals about coffee. It's a great place to escape with bunch of workload. 




The barista who acts as a captain in that coffee shop welcomed me warmly. He asked me whether I been in Anomali before. When I said no, he explain me a brief profile of this coffee shop. It's a coffee shop which serves a fresh own- grinded coffee on the spot which using local coffee bean from all over Indonesia. For you who live in Jakarta, this coffee shop has its brand in the city. 





Once I sipped my cappucino, I decided their cappuccino is as good as the one served by my favourite coffee shop in Jogja, Lagani Coffee. I always try either cappucinno or coffee latte at the coffee shop that I firsly visit. These two variants are my favourite ever. 




I ended up also buying a coffee tumbler as a souvenir from this place. I actually allocated that budget to buy a coffee tumbler from any Starbucks in Bali. 

Monday, March 3, 2014

Singapore City Tour; Clarke Quay in My Mind

Langit sore perlahan-lahan memudar menuju gelap. Angin bertiup sepoi-sepoi cukup membawa kesegaran setelah beberapa saat terjebak di ruang-ruang bawah tanah stasiun MRT dan pusat perbelanjaan, The Central. Lampu-lampu kota mulai menyala. Ramai pengunjung yang memenuhi pinggiran Riverside di Clarke Quay menambah semarak sore di pinggiran Singapura river. Beberapa laki-laki muda dengan tampang kaukasia berjalan santai menyandang tas dengan es krim di tangan. Negara ini telah menjadi tujuan pemuda-pemuda negeri barat untuk memulai karir internasional. Tampang India, Bangla, Chinese dan Melayu bercampur dengan lalu lalang wajah Thai dan Vietnam. Para laki-laki dengan balutan kostum Sport dari Nike dan Adidas berlari-lari di sepanjang jogging track di antara lalu lalang wisatawan dan melewati deretan meja-meja restoran yang bertebaran di sepanjang sungai. Campuran aroma parfum yang semerbak dari para  laki-laki wangi tersebut bercampur antara spices, woods, flowers, fruits, dan entah apa lagi. Entah datang dalam kemasan Bvlgary, Armani, Lacoste, Hermes, atau Dior. Entah membawa nama merek mana lagi. Semua ramai menghampiri pembauan saya yang sangat sensitif mengendus wewangian lelaki yang terkirim lewat perantaraan angin senja di tepian sungai ini. Satu yang melekat dalam otak saya; semerbak wangi urban. Beginilah aroma udara urban yang meruap dari badan laki-laki dan perempuan negara berpenghasilan tinggi. Aroma udaranya saja sudah meruapkan kemakmuran. 

Bangunan antik dalam kemasan modern Swiss Merchant Hotel di depan saya menyiratkan bagaimana negara ini menjaga bangunan-bangunan bersejarah agar tetap menjadi bagian keindahan negara kota yang modern.  Semua menyatu dalam kemasan cagar budaya lampau yang terkemas apik berdampingan dengan kehidupan modern. Berjalan menyeberangi Read Bridge seakan diajak untuk kembali meneluri sejarah Temasek masa lampau. Bangunan-bangunan tua yang terjaga apik berdampingan dengan bangunan berarsitektur modern dalam wujud shopping mall, apartement dan taman-taman yang berdampingan menyumbang harmonisasi suasana. Pemusik jalanan melantunkan balada tepat di tengah Read Bridge di antara lalu lalang pejalan kaki dalam senja yang mulai temaram. Flash kamera pijar memijar dari gadget-gadget canggih dan lensa-lensa kaliber tinggi. Semua ingin mengabadikan sore yang rancak di tepian Singapura River di Clarcke Quay. 

Negara ini sangat berhasil menjaga cagar budaya menjadi aset wisata yang menguntungkan. Jembatan tempat saya duduk ini adalah Read Bridge yang dibangun pada masa penjajahan Inggris tahun 1888. Pada waktu itu hiduplah seorang saudagar yang bernama William Henry McLeod yang berhasil mengajukan petisi kepada kerjaan Inggris agar Temasek diposisikan langsung di bawah Kerajaan Inggris sebagai Crown Colony.  Untuk mengenang kebesarannya jembatan yang dibangun menggantikan Merchant Bridge yang terlalu rendah untuk dilewati tongkang-tongkang yang berlayar di Singaporean river inipun dinamakan dengan mengikuti namanya, Read Bridge. 

Menuju gelap hentakan irama Timur tengah dari restoran-restoran dan bar beraroma padang pasir di sepanjang  kompleks restoran di Clarke Quay semakin rancak. Meja-meja restoran di sepanjang sungai maupun di dalam mall dipenuhi orang-orang dengan pakaian terbaik. Komplek bangunan restoran ini adalah bangunan-bangunan toko dan loji tua tempo dulu yang masih terjaga bentuk aslinya di bawah atap konstruksi yang futuristik. Perpaduan yang menarik. Suasana ini sangat kontras dengan kota yang baru beberapa jam yang lalu saya tinggali. Beda Negara memang beda nasib walaupun berangkat dari sejarah yang mirip dan berada di wilayah yang berdekatan. 

Otak saya membawa saya dalam ingatan tentang Asian Century dan ASEAN Community yang saya paparkan di depan ratusan mahasiswa dan pelajar di kota Batam sana, kota dengan jarak tempuh kurang dari 1 jam dari sini. Melihat bagaimana kondisi negara ini dan membandingkannya dengan negara di mana kota yang baru saya tinggalkan berada, rasa-rasanya negara ini akan menang telak dalam kompetisi yang dihasilkan oleh free flow of everything yang menjadi implikasi dari skema kerjasama negara-negara ASEAn dalam platform ASEAN Community. Tentu dengan beberapa negara dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang u ggul seperti Malaysia dan Thailand. Berbicara tentang free flow of people, aneka tampang yang mewakili berbagai macam ras di dunia ini sudah cukup mewakili bahwa arusnya tengah mengalir di negara ini. 

Mata saya beralih kepada sekelompok muda-mudi yang berdiri bergerombol di ujung jembatan. Kelihatannya mereka dalam rentang umur 20an. Umur-umur yang sedang meniti tangga karir. Yang menarik perhatian saya adalah fitur wajah mereka. Belasan pemuda yang masih dalam balutan kemeja kantoran tersebut mewakili beberapa ras kaukasia, dan Asia. Lihatlah, negara ini telah menjadi tempat bertemu berbagai macam ras dalam setingan profesional. 

Dalam balutan kemeriahan tepi sungai Singapura di Clarke Quay, saya semakin asyik terbawa dengan suasana dan pikiran saya sendiri, menyimpulkan simpul-simpul informasi yang saya dapat tentang bagaimana Asia yang tengah menjadi fokus mata dunia dalam sebuah nama optimis Abad Asia. Saya tengah menyaksikannya sendiri dalam suasana urban yang saya selami dari tadi. Lalu munyul pertanyaan dalam pikiran saya; bagaiaman dengan negara kita? Siapkah generasi bangsa kita menyambut Abad Asia? Siapkah pemerintah menyetir bahtera bangsa kita denga kebijakan-kebijakan yang unggul? Tentu saja pertanyaan  tersebut juga adalah pertanyaan untuk diri saya. 

Monday, January 27, 2014

Ethiquette; Ruang Publik

Sore di Jogja hari ini hangat dan menyenangkan. Maka setelah menyelesaikan pekerjaan domestik, saya memutuskan untuk berangkat ke gym untuk beberapa set latihan. Lagipula, saya baru saja menyelesaikan minggu-minggu yang melelahkan dengan beban UAS dan final paper yang menumpuk. Beban saya semester ini jauh lebih banyak dari mahasiswa lain yang malah jauh berkurang karena perkuliahan telah berfokus kepada mata kuliah yang menjadi konsentrasi pilihan. Saya malah mengambil dua mata kuliah di jurusan Kebijakan Publik dengan beban kredit total 9 SKS di luar 14 SKS di jurusan saya sendiri. Dua mata kuliah itu menyumbang beban 5 final paper yang cukup berat, terutama policy paper yang dibuat sebagai skenario menghindari midle-income trap yang menghantui Indonesia. Rasanya setelah melalui minggu berat trsebut saya berhak untuk latihan gym panjang, berenang dan mungkin sauna. 

Saya tergelitik menulis postingan ini karena setelah berenang 10 putaran, saya merasa cukup terganggu dengan sekumpulan anak-anak muda berjumlah 8 orang yang menempati pool chair di sebelah saya. Mereka terdiri dari tampang lokal dan 3 tampang kaukasia yang perkiraan saya adalah mahasiswa asing. Mereka tampan-tampan dan cantik cantik yang dari fitur wajah dan semua yang melekat di tubuh dan gadgetnya, jelas mereka berasal dari peradaban modern. Tapi kecantikan dan ketampan tersebut langsung bernilai nol di mata saya karena perilaku mereka. Selain asap rokok yang mengepul, mereka memutar musik dari Iphone mereka yang disambungkan ke spekaer yang tentu saja menghasilkan suara yang keras. What? Am I in the kind of taman bermain somewhere in coast of Java with a bunch of Kampung people visiting? Selain itu, berkali-kali mereka berenang melintang yang menghalangi perenang lain yang berenang memanjang sebagaimana lazimnya. Well, rasanya dalam konteks seperti ini bukan saatnya untuk tampil beda deh. It doesnt't look creative at all. It's annnoying!

Dalam anggapan saya, mereka bukanlah orang yang tidak terpelajar yang asing dengan istilah common space dan etiket ketika berada di dalamnya. Di ruang publik, kita memang bebas untuk mengekspresikan diri dan melakukan hal yang kita sukai. Tapi hal yang harus diingat adalah, hak tersebut dibatasi oleh hak orang lain. Dalam konteks ini, hak tersebut adalah hak saya untuk menghirup udara yang bebas polusi asap rokok karena saya menjaga kesehatan saya. Saya juga berhak untuk tidak mendengarkan suara bising musik yang bukan selera saya tersebut. Bukankah teknologi sudah canggih sehingga musik tersebut bisa didengarkan melalui headset yang pastinya tidak mengganggu ketenteraman orang lain? Lagipula di pinggir kolam renang hotel ini jelas-jelas tertulis aturan dalam menggunakan fasilitas yang menekankan untuk memperhatikan kenyamanan orang lain, tertulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sekaligus. Well, kecuali mereka tidak memahami kedua bahasa tersebut atau mungkin rabun. 

Akhirnya saya juga tergelitik untuk menulis perilaku orang-orang di gym yang sepertinya tidak tahu tentang gym ethiquette. Atau sebenarnya mereka tahu tapi terlalu angkuh untuk mematuhinya. Dalam tata krama gym, sudah menjadi pengetahuan umum untuk mengembalikan alat dipakai ke tempatnya semula. Selain itu mengembalikan posisi alat ke posisi netral juga sudah menjadi peraturan umum di mana-mana. Tapi entah apa yang ada di pikiran orang-orang itu sehingga mereka meletakkan barbel berserakan dan membiarkan free weight machine dengan beban yang telah mereka set, bukan dikembalikan ke posisi nol. Apakah mereka berpikir bahwa mereka segerombolan makhluk istimewa yang mereka harus dilayani? Hey I'm a gift from God fro you. You have to serve me! Hellowww! Dan entah mengapa harus berbicara sambil berteriak-teriak di dalam ruangan seperti itu. Do you need attention Sir? Menurut saya ini adalah bentuk dari insekuritas sehingga mereka berpikir dengan berbicara ribut bergerombol orang lain akan terintimidasi. Thanks, not for me!

Selain membiarkan alat berserakan, kok mereka santai saja duduk di salah satu alat padahal tidak melakukan aktivitas latihan, malah asyik menekuri layar gadget. Tidakkah berpikir bahwa orang lain mungkin ingin menggunakan alat tersebut? Kalau buat saya sih gampang; saya tinggal menatap langsung ke matanya dan bilang; are you done? Akan tetapi ada orang lain yang entah karena budaya uwuh pakewuh malah mengalah instead of pushing to get what they deserve to. Di locker room juga sama. Selain bercakap-cakap dengan keras dan seringkali berteriak dan tertawa ngakak yang sangat gaduh di dalam shower room, mereka juga membiarkan handuk-handuk yang telah mereka pakai tergeletak di pantai instead of returning them to the towel storage. Sekali lagi kok enak sekali menambah pekerjaan orang lain untuk memungut handuk-handuk itu buat mereka. Yang menari adalah, mereka akan sangat senyap ketika tidak dalam gerombolan. Well, suatu hari saya tidak tahan dan menyelutuk, pindahan dari hutan Mas ya?

Akhirnya, karena saya menghargai hak saya, saya tidak mau hanya diam dan mengelus dada motok hasil latihan keras saya. Saya mendatangi gerombolan pemuda di samping saya dan dengan sangat sopan saya berkata;

"Mas, musiknya bisa didengarin sendiri saja? Kebetulan saya tidak sedang ingin mendengarkan musik sore ini"

Kelihatannya mereka cukup terkejut tidak menyangka akan ada orang yang protes dengan ketidaknyamanan yang mereka timbulkan. Dengan tampang memerah salah seorang yang bertampang bule meminta maaf dengan bahasa Indonesia yang dalam setingan biasa terdengar lucu, tapi tidak untuk saat ini. Sementara yang lainnya hanya memandang dengan pandangan bercampur heran dan takjub. 

Well, someone must stand for his right. Lagipula, perubahan itu dimulai dari hal-hal kecil dan berani untuk menegur ketika melihat hal yang salah. Berani membicarakan hal-hal yang tidak lazim dibicarakan yang biasanya dihindari dengan kekhawatiran akan menyinggung dan merusak hubungan dengan orang lain. Mengalah dan menjaga perasaan orang lain tidak selalu bagus kalau hanya untuk menjaga agar suasana tetap harmoni dengan mengorbankan kenyamanan diri sendiri. Lebih baik mengungkapkan daripada memendam kekesalan di belakang yang hanya akan memberikan energi negatif pada diri sendiri.   Talk the untalkable, discuss the undiscussble. Value yourself, people will value you. 



Saturday, November 9, 2013

#Cerita Jogja: Merubah Rutinitas; Obat Anti Malas dan Bosan

Bosan dan malas menjadi hal yang paling menyebalkan ketika sedabg dihadapkan dengan tumpukan deadline pekerjaan maupun tugas kuliah. Pekerjaan dan aktifitas yang dilakukan sehari-hari bisa menjadi jebakan rutinitas yang menyebabkan bosan, malas dan tidak kreatif. Hal inilah yang melanda saya beberapa hari sebelumnya. Saking malasnya, saya sampai malas untuk ngegym, malas hanya untuk pindah dari tempat duduk ke sofa yang lebih nyaman pada saat menonton televise, malas buat mengambil minuman di kulkas padahal jaraknya hanya beberapa langkah, malas melakukan rutinitas cuci muka sebelum tidur dan tentu saja malas menyentuh paper-paper yang dalam hitungan hari akan menghadapi deadline.

Setelah saya berpikir, saya berada di titik jenuh dari semua aktifitas saya. Setelah merenungkan semua rutinitas yang telah saya lalui, saya mendapat ide untuk merubah waktu aktifitas yang bisa saya kendalikan seperti ngegym. Saya merubah waktu ngegym dan berenang di pagi hari sebelum memulai aktifitas yang lain. Konsekuensinya saya harus membiasakan diri untuk tidur lebih awal agar tidak tidur lagi setelah subuh seperti biasanya. Ternyata beraktifitas di tengah  suasana pagi sebelum matahari bersinar terik sangat menyenangkan. Pagi-pagi buta saya sudah mulai membuat sarapan dan kopi kemudian membaca sedikit dan berangkat ke gym setelahnya.

Di gym pagi-pagi seperti itu ternyata sudah sangat ramai. Kebanyakan adalah para pekerja yang ngegym sebelum jam kerja. Berenang pagi-pagi menjadi sangat menyenangkan karena kolam renang seringkali hanya berisi saya. Serasa mempunyai kolam renang pribadi. Saya juga banyak bertemu orang  baru di gym yang tidak saya lihat sebelumnya karena saya biasanya ngegym di sore atau malam hari. Saya jadi tahu kalau mbak-mbak model berkulit eksotis itu ternyata ngegym di situ juga. Saya bertemu bapak-bapak dengan kacamata keren dengan gym bag super gede yang dipenuhi toiletries bermacam-macam. Dan dia selalu ditunggui oleh supirnya. Sepertinya bapak-bapak eksekutif. Tapi satu hal yang membuat saya penasaran, pejabat-pejabat kampus saya ngegym di mana ya? Or mereka tidak ngegym makannya gendut-gendut? Ada banyak sih anak kampus saya yang ngegym di sini, tapi semuanya anak kedokteran yang ke gym pun membawa diktat kuliah yang mereka baca sambil latihan kardio di treadmill.

Hasil dari merubah rutinitas tersebut, cukup memberikan perubahan yang signikan. Paper perlahan tapi pasti mulai terselesaikan karena saya ternyata lebih produktif di pagi, sore dan malam hari. Biasanya malam hari saya mudah tepar karena sehabis ngegym sore atau malam, saya sangat gampang untuk jatuh tertidur.


Mumpung sedang sendiri, saya berencana untuk merubah kebiasaaan sarapan saya dengan safari sarapan ke beberapa kafe yang tersebar di Jogjakarta. Rasanya pasti menyenangkan membaca atau mengerjakan paper sambil menikmati latte di salah satu kafe yang ada. 

Wednesday, November 6, 2013

Sit-in Class dan Student Mobilization; Unek-Unek Seorang Mahasiswa

Salah satu hal yang membuat peradaban manusia terus berkembang adalah karena adanya mobilisasi manusia baik itu antar kota, antar negara maupun antar benua. Mobilisasi ini kemudian menghasilkan interaksi, interaksi menghasilkan komunikasi dan pertukaran ide dan pada akhirnya mengarah kepada kerjasama.  Bayangkan ketika seandainya dulu Vasco da Gama tidak melakukan perjalanan dengan tim ekspedisinya (mobilization), maka belum tentu peradaban sebesar Amerika sekarang belum tentu ada. Negara ini pun kalau tidak ada mobilisasi orang-orangnya untuk mempelajari kelebihan peradaban negara lain yang lebih maju ataupun juga mengambil pelajaran dari negara yang terbelakang agar tidak melakukan kesalahan seperti negara tersebut, belum tentu Indonesia bisa berada pada posisinya yang sekarang ini.

Pergerakan ekonomi dan politik global membuat mobilisasi antar garis batas teritori semakin mudah dilakukan. Bahkan mobilisasi manusia tersebut menghasilkan kerjasama yang luar biasa seperti yang dilakukan oleh negara-negara Eropa yang membentuk Uni Eropa dimana bukan hanya mobilisasi antar negara yang semakin mudah tetapi juga kerjasama yang semakin tanpa batas. Bahkan mereka kemudian terhubung secara moneter dengan memakai satu mata uang tunggal yakni Euro. Secara regional Asia, kita pun akan menghadapi Asian community 2015 yang akan memberlakukan free transfers on goods and people.  Ada tiga kata kunci yang akan menjadi bahan cerita saya kali ini yaitu Mobilization, connectivity dan Cooperation.

Semua hal di atas tentu saja membutuhkan modal yang besar bukan hanya modal dalam arti sempit yang berupa uang tetapi terlebih mencakump modal manusia dan modal kebijakan. Modal manusia membutuhkan orang-orang yang berpikiran terbuka, melihat dengan perspective opportunity, dan bermental pembelajar. Ketika orang-orang mempunyai karakteristik tersebut mereka tidak akan menjadi orang yang takut dengan perubahan dan mencurigai hal-hal baru sebagai ancaman. Modal kebijakan menurut saya adalah kebijakan yang mengakomodir peluang, fleksibel dan deliberatif. Karakteristik kebijakan yang seperti ini akan menghasilkan peraturan yang tidak mengekang ide-ide baru dan menghalangi pergerakan perubahan.

Semester ini saya berniat mengambil SKS yang tidak terlalu banyak di program Master tempat saya belajar karena saya ingin mengikuti beberapa mata kuliah yang menurut saya sangat saya butuhkan untuk kompetensi saya ke depannya. Untuk itu saya berencana melakukan sit-in yaitu mengambil beberapa mata kuliah di program lain. Saya berniat mengikuti perkuliahan di program lain untuk kompetensi tersebut. Mata kuliah pertama yang ingin saya ikuti adalah Methodologi Penelitian, Analisis Kebijakan Publik dan konsep dan Isu Pembangunan. Mata kuliah yang saya inginkan tersebut tersebar di dua program Master berbeda di dua Fakultas yang berbeda pula. Untuk mata kuliah metodologi penelitian, saya beruntung saya bisa langsung bertemu dengan dosennya pada saat makan siang di kantin. Beliau sangat senang ketika saya mengutarakan keinginan saya untuk sit-in di kelasnya. Segera setelahnya saya bertemu dengan dengan pengelola program Master tempat dosen tersebut mengajar untuk membicarakan prosedur sit-in di program tersebut. Awalnya jawaban yang saya dapatkan adalah bahwa mahasiswa program studi lain bisa melakukan sit-in class di program tersebut dengan persetujuan pengelola. Saya segera menanyakan bagaimana prosedur untuk mendapatkan persetujuan yang menurut saya wajar karena ini hal formal. Akan tetapi pada akhirnya saya sangat kecewa karena setelah lama menunggu, jawaban yang saya perolah adalah bahwa saya tidak diperkenankan untuk melakukan sit-in di program tersebut dengan alasan bahwa sit-in hanya diperbolehkan bagi mahasiswa fakultas tersebut saja.

Saya akhirnya menuju ke Master Administrasi Publik yang mempunyai program master Kebijakan Publik. Sampai di sana, saya diterima dengan sangat ramah oleh bagian akademik yang mendengarkan pemaparan tentang rencana dan keinginan saya. Dia memang tidak memberikan keputusan saat itu karena ia harus membicarakan dengan pengelola program dan berjanji akan menghubungi saya secepatnya.

Benar saja, saya tidak perlu menunggu keesokan harinya untuk mendapatkan keputusan dari pengelola program Master Kebijakan Publik. Bagian akademik menghubungi saya sore itu ketika jam kantor hampir usai. Mereka menerima saya sebagai mahasiswa sit-in dengan beberapa ketentuan procedural. Ib ukepala bagian akademik malah mengatakan salut dengan usaha saya untuk self educating memenuhi pendidikan saya yang tidak bisa disediakan sepenuhnya oleh program master tempat saya belajar. Saya sangat terkesan dengan respon, keterbukaan dan keramahan mereka.

Menurut saya, fleksibilitas untuk bermobilisasi antar jurusan bahkan antar universitas sangat diperlukadengan alasan-alasan sebagai berikut . Pertama, dengan mempunyai mekanisme mobilisasi sebuah universitas memberikan kesempatan kepada mahasiswanya untuk belajar bidang yang di luar dari fokus bidangnya. Hal ini juga bisa membantu mahasiswa memilih untuk mengikuti mata kuliah tertentu yang sama dengan mata kuliah yang ada di jurusannya tapi dengan dosen pengampu yang berbeda yang lebih sesuai dengan pilihannya. Hal ini juga menjadi pilihan bagi mahasiswa yang mengulang mata kuliah tertentu tanpa harus menunggu beberapa semester sampai mata kuliah itu dipasarkan di jurusannya. Kedua, sistem mobilisasi seperti ini ketika diterapkan antar universitas bisa menciptakan kesetaraan dalam hal akses (equity access) terhadap kualitas pendidikan yang baik terhadap mahasiswa di Nusantara ini. Bayangkan berapa besar efek yang didapatkan oleh seorang mahasiswa Kebijakan Publik yang belajar di Universitas Nusa Cendana dengan mendapatkan kesempatan untuk mobilisasi satu semester di jurusan yang sama di Universitas Indonesia misalnya. Saya yakin dia akan mendapatkan pengalaman yang berbeda, cara pandang yang berbeda dan mungkin motivasi karena academic atmosphere dan kualitas perkuliahan yang dia dapatkan jauh lebih bagus daripada yang dia dapatkan di Universitas tempatnya kuliah. Ketika kembali, dia akan menginspirasi teman-temannya yang lain atau bisa jadi dia akan menjadi agen perubah di universitas tersebut. Ketiga, mobilisasi ini akan membuka sekat-sekat ekslusifitas bidang ilmu yang selama ini masih melekat. Dalam tantangan global seperti sekarang ini, perkembangan ilmu pengetahuan semakin inter-disipli (inter-disciplinary) dimana hubungan antar bidang keilmuan membuat seseorang tidak cukup hanya mengusai bidang keilomuan yang menjadi fokusanya saja tapi juga fasih berbicara dalam konteks bidang keilmuan yang lain. Apalagi syarat untuk menjadi expert dan  pemikir zaman ini seseorang dibutuhkan untuk menjadi lebih general. Artinya, kita membutuhkan seorang spesialis yang berwawasan global, seorang ahli pendidikan yang tidak buta ekonomi, kebijakan, dan politik, seorang ahli ekonomi yang mengerti pendidikan dan biodiversity dan sebagainya.


Mungkin luapan pemikiran saya dalam tulisan ini masih sangat emosional sehingga sedikit ruwet. Tapi pada intinya, kita harus terbuka dan fleksibel atau dengan bahasa yang lebih spesifik menghilangkan sekat-sekat yang membatasi seseorang untuk belajar dan mengembangkan interestnya di bidang keilmuan yang dia inginkan.   Saya sendiri sangat merasakan keuntungan sit-in mengikuti perkuliahan Analisis Kebijakan Publik yang sangat membantu saya memahami sisi kebijakan dari bidang keilmuan yang saya pelajari karena semua yang dijalankan dalam pendidikan Tinggi yang menjadi fokus perkuliahan saya adalah produk kebijakan publik. 

Monday, November 4, 2013

#Cerita Jogja: My Sanctuary; Tempat Mengamati Orang di Jogja


Saya tengah dilanda jenuh akhir-akhir ini. Jenuh yang menggiring kepada kemalasan yang membuat saya jauh dari kata produktif. Idealnya saya perlu liburan singkat, bukan hanya sekedar libur dalam artian tidak beraktifitas tetapi liburan dalam artian melakukan perjalanan ke suatu tempat. Idealnya sih pantai. Tapi apa daya, saya di tengah-tengah semester yang padat dengan paper-paper yang menumpuk dan persiapan proposal tesis yang ironisnya masih jauh dari kata rampung. Untunglah saya mempunyai tempat yang saya anggap sanctuary yang untuk mencapainya saya tidak perlu melakukan perjalanan jauh ke luar kota, bisa dijangkau dalam waktu kurang dari 20 menit. Tempat tersebut adalah Health Club tempat saya excercise saban hari di Jogja.



Gym ini terletak di seuah hotel dan dikelola dengan sangat baik. Untuk membership selama1 tahun saya mendapakan fasiltas aerobics class, yoga class, body shaping class, sauna dengan whirpool, kolam renang dan tentu saja gym. Saya juga bisa berkonsultasi cuma-Cuma dengan dokter yang disediakan oleh Health Club ini. Hotel ini dikeilngi oleh halaman berumput yang luas  dengan pohon kamboja di mana-mana. Berada di dalam area hotel ini saya seakan berada jauh dari hiruk-pikuk kota Joga. Apalagi ketika berada di kolam renang. Saya merasa benar-benar seperti sedang berlibur karena saya bisa berenang sepuasnya, berbaring di pool chair dengan handuk renang yang seperti di pantai sambil membaca dan kalau saya mau, saya bisa memesan minuman dari bar di tepi kolam renang  dengan diskon 20 % dengan menunnjukkan kartu keanggotaan.


Setelah dua sesi kuliah di dua jurusan yang berbeda hari ini, saya memacu sepeda motor saya menuju Health Club untuk berenang. Saya ingin melakukan exercise seri Monday sesuai dengan panduan di Men’s Health sebenarnya, tapi punggung, paha dan bokong saya masih terasa sangat sakit karena saya mencoba seri Saturday pada sabtu kemarin. Saya butuh pijatan air di whirpool dan berenang untuk membuatnya mereda.


Jogja sangat panas belakangan ini. Kalau bahasa Jawanya, sumuk. Yaitu panas pengap yang membuat keringat mengalir membasahi pakaian walaupun kita tidak melakukan aktifitas apa-apa. Jadi, berenang adalah pilihan yang sangat tepat.


Di kolam renang hanya ada saya, seorang pemuda yang tampaknya international student dari Cina atau Taiwan dan seorang international student bertampang kaukasia. Bagaimana saya bisa tahu mereka adalah mahasiswa. Sangat gampang sebenarnya karena si tampang kaukasia misalnya, ia membawa buku tebal bertuliskan Macroeconomics yang sejak tadi menutupi mukanya di pool chair. Sementara si tampang mongoloid juga membaca buku yang tampak seperti diktat kuliah. Mungkin si tampang kaukasia adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM yang memang menjadi rumah bagi mahasiswa Internasional yang setiap semester selalu berdatangan. Saya rasa, keberadaan berbagai macam ras inilah yang membuat Jogja semakin menarik.


Pool guard yang selalu mengumbar sapaan ramah menyapa saya, menanyakan mengapa saya sendirian. Hahaha. Memangnya saya harus dating dengan siapa. Kalau dipikir-pikir sapaan ini juga menjadi salah satu pertanyaan pertama yang diajukan oleh orang-orang Indonesia ketika bertemu seseorang. Baik sebagai pertanyaan basa-basi maupun pertanyaan sungguhan. Menurut saya ini terbawa dari kebiasaaan orang Indonesia maupun Asia pada umumnya yang komunal, sering pergi beramai-ramai dan kumpul-kumpul. Apalagi ada istilah Jawa yang mengatakan mangan ora mangan sing penting ngumpul. Nggak saya banget. Saya terbiasa sendiri dan tidak terlalu suka kumpul-kumpul ala Indonesia.


Kalau kita perhatikan orang-orang Indonesia memang suka pergi beramai-ramai. Di tempat wisata misalnya, mereka senang bepergian dalam rombongan besar dan sangat rebut walaupun berisiknya masih di bawah level rombongan turis-turis china yang biasanya bepergian dengan tour bus di Bali. Di cafe misalnya, saya sering sekali mendapati rombongan anak-anak muda dengan kumpulannya yang membuat kafe itu menjadi gaduh sekali oleh mereka. Keberadaan mereka yang mayoritas sepertinya memberikan mereka rasa percaya diri untuk mendominasi. Dan tentu saja, selalu ada sesi foto-foto baik dengan kamera DLSR, kamera saku dan tentu saja kamera di ponsel yang semakin hari semakin canggih atau gabungan dari ketiga-tiganya.

Lihat saja tiga laki-laki yang baru dating itu. Sebelum mereka melepas pakaian untuk berenang mereka sibuk bergiliran foto-foto dengan latar belakang kolam renang, foto setengah basah, foto ketika nyebur dan foto ketika mereka hanya dengan swimming suit yang menurut saya hanya cocok dipakai sebagai dalaman untuk celana basket yang gombrong. Sepertinya harus ada yang memberi pengetahuan kepada para laki-laki tentang aturan dalam pakaian renang.


Ketiga lelaki yang tadi sibuk foto-foto sekarang mulai berenang yang ampun membuat kolam renang ini seperti tengah dilanda sunami kecil. Oke, selain harus ada yang mengajari mereka tentang pakaian renang, yang lebih penting sebenarnya adalah mereka harus belajar berenang dengan benar. Tidak harus seperti para atlit renang, tapi paling tidak berenang yang tidak menyebabkan air terciprat sampai ke sini-sini.



Okay, saya harus pergi sebelum buku saya basah oleh cipratan mereka. Lagipula sesi mengunjungi sanctuary saya hari ini cukup. Rasanya saya sudah ingin kembali menyentuh paper-paper saya yang terabaikan. 

Thursday, June 27, 2013

Dikutuk Naik Kereta Ekonomi

Ketika menulis postingan ini, saya sedang duduk di kursi gerbong ekonomi kereta Api Malabar, perjalanan balik ke Jogja. Awal perjalanan ini saja hawa-hawanya sudah tidak enak, penuh dengan kekacauan yang disebabkan oleh kecerobohan saya sendiri. Kecerobohan pertama adalah ketika saya akan membeli tiket di stasiun. 

Jam setengah sebelas siang Malang masih dingin yang membuat saya malas mandi. Berani mencuci muka saja sudah keren sekali. Di sini paginya awet sekali. Udara berkabut dan hawa dingin seperti ini bisa bertahan sampai sore. Saya ngebut ke stasiun Malang untuk membeli tiket Malioboro Ekspress yang menurut saya keberangkatannya adalah Jam 11.30 siang. Kebiasaan buruk saya adalah selalu membeli tiket kereta api go show. 

Di loket stasiun, dengan percaya diri saya minta  satu tiket Malioboro Ekspress. Mas-mas  penjual tiket memandang saya dengan pandangan heran bercampur kasihan. Rupanya saya salah mengingat jadwal keberangkatan kereta yang saya inginkan. Malioboro Ekspress berangkat dari Malang jam 8 pagi saudara-saudara. Tidak lebih dan tidak kurang. So, saya harus dihadapkan dengan kenyataan saya harus kembali naik kereta Api Malabar tujuan akhir Bandung yang saya benci banget. Apa pasal? Saya nggak rela disuruh membayar tiket tujuan Jogjakarta seharga tiket jurusan Bandung yang mana harga tiket untuk kelas Bisnis dua kali lipat harga tiket Malioboro Ekspress. Karena saya sudah terlalu kangen rumah di Jogja, saya akhirnya merogoh kantong dengan berat hati untuk menebus tiket yang saya benci itu. 

Stasiun Malang; Kekacauan Tingkat Dewa (Mabuk)
Saya benar-benar shock ketika melangkahkan kaki memasuki stasiun Malang. Manusia berjubel mengular bengkok-bengkok seperti ular keseleo mengantri tiket dengan dikawal banyak petugas berseragam. Orang-orang bergelesotan duduk di atas lantai dengan buntalan-buntalan besar, koper-koper obesitas atau carrier-carrier segede bagong. Petugas ceking berseragam security berteriak-teriak melalui mikrofon meneriakkan nomor antrian pembelian tiket dan loket tempat pembeliannya. Oalah, mengapa seribet ini ya? 


Bayangakan, untuk membeli satu tiket, pertama-tama saya harus mengisi form pembelian tiket dengan kolom-kolom bejibun di meja yang dihuni oleh dua orang mbak-mbak yang sudah kehilangan senyum. Setelah itu saya harus mengantri di loket dan menyerahkan form yang saya isi ke petugas loket dan kemudian menunggu petugas loket tertaih-tatih mengetik menyalin isi form yang saya serahkan. Setelah itu, saya harus menunggu dan kalau rela harus duduk di atas lantai seperti penumpang lain menunggu pintu ruang tunggu dibuka, dan tentu saja mengantri lagi menunggu untuk mendapatkan stempel di atas tiket saya dan mencocokkan tiket dengan kartu identitas. Baru deh saya bisa berjalan melenggang ganteng di ruang tunggu. Padahal kan saya sangat suka ruang tunggu, terutama ruang tunggu stasiun besar dan airport. Menurut saya ini benar-benar penistaan terhadap ilmu manajemen dan prinsip efisiensi. 


Untuk melayani 1 orang masuk ke ruang tunggu stasiun kereta api saja membutuhkan 7 tenaga manusia; 2 di bagian pengisian form pembelian, 1 petugas yang berdiri di samping antrian di depan loket, 1 di loket, dan 3 di pintu masuk ruang tunggu. Itu baru di satu stasiun. Bisa anda bayangkan berapa anggaran yang harus dikeluarkan oleh PT. Kereta Api Indonesia untuk menggaji karyawan yang begitu banyak. Sekali lagi, menurut saya yang penuh perhitungan ini, itu benar-benar penistaan terhadap efisiensi. Oportunity costnya terlalu besar untuk selembar tiket. Coba kalau kita putar ulang adegan saya membeli tiket tadi dengan versi ideal yang menurut saya lebih efisien dan menyenangkan. 

Versi 1
Saya berjalan lurus segaris memasuki peron dengan langkah-langkah panjang, kemudian mengantri di loket pembelian tiket. Ketika giliran saya, saya tersenyum manis ke petugas loket, menyebutkan tiket yang saya inginkan, menunjukkan kartu identitas kemudian bayar deh. Langkah selanjutnya tentu saja melenggang masuk ke ruang tunggu, duduk di coffee shop dan menyeruput kopi dengan ganteng. 

Versi 2
Saya melenggang santai sambil kipas-kipas muka pakai Ipad 4 (ditampar pakai Ipad), berhenti di depan sebuah mesin, tekan sana-tekan sini, masukkan sejumlah uang, dan akhirnya dengan ganteng mengambil tiket yang diprint otomatis oleh mesin. Langkah selanjutnya tentu saja melangkah lurus segaris ke ruang tunggu setelah menscan tiket di X-ray pintu masuk. Kemudian saya bisa duduk-duduk di coffee shop sambil cuci-cuci mata. 

Mungkin inefisiensi ini hanya terjadi di beberapa stasiun saja karena di Stasiun Tugu di Yogyakarta saya membeli tiket dan memasuki ruang tunggu dengan sangat gampang. Mungkin penerapan manajemen di stasiun tertentu terhalang oleh cultural barrier, budaya orang yang tidak gampang mengikuti aturan, budaya orang yang susah untuk mengantri. Dan believe me diselak orang diantrian itu membuat anda rajin-rajin mengelus dada (montok hasil latihan keras di gym). Hambatan besar dalam menerapkan manajemen memang adalah merubah mental orang. You can apply gorgeously good system but it doesnt constantly change your people. 

Nah kembali ke cerita saya. Mengapa saya bisa berakhir dengan naik kereta api ekonomi? Semua bermula dari kebiasaan saya membeli tiket go show dengan anggapan bahwa rute perjalanan Malang-Bandung bukanlah rute yang padat. Ketika berdiri di depan loket, dengan manisnya si Mbak penjual tiket bilang kalau yang tersisa hanyalah tiket kereta api kelas ekonomi. Sekali lagi, saya tidak rela membayar tiket kelas ekonomi yang lebih mahal daripada tiket Malioboro ekspress yang sayangnya sudah berangkat dan saya ketinggalan gara-gara lecerobohan saya sendiri.

Setelah mengantongi tiket, saya mengendarai motor menuju ke Baker's King. Menunggu keberangkatan tentu akan menyenangkan jika sambil baca-baca di sofa merah menyala pojok favorit saya sambil ditemani secangkir besar Vanilla latte (ini benar-benar besar, sebesar mangkuk sup di rumah saya). Hujan rintik-rintik, pagi yang awet dan sofa yang cozy membuat saya dan teman saya mengobrol dengan asyiknya. Sampai saya tersadar dan melihat jam. Oh my God, jam 12.33. Keretanya berangkat pukul 12.45. 

Secepat kilat saya berlari ke luar menuju tempat parkir. Sambil menghitung-hitung jumlah lampu lalu lintas yang akan dilewati dan titik kemacetan yang mungkin akan menghadang saya menarik gas sepeda motor dan ngebut semampunya menuju stasiun. Dan tentu saja saya mengutuk diri saya sendiri mengapa saya sampai sebegini ceroboh. Sampai di stasiun kereta mulai bergerak dan petugas pintu ruang tunggu tidak mengizinkan saya masuk.

Oh tidak. Saya tidak mau ketinggalan kereta. Not again! 
Sebersit ide melintas di benak saya. Ojek! Iya, ojek. Dengan harap-harap cemas saya akhirnya duduk di boncengan abang-abang tukang ojek dengan misi mulia mengejar kereta yang meninggalakan saya ke stasiun berikutnya, which is di kota lain, Kepanjen. Segenap doa-doa yang saya hafal terus saya bisikkan. Bukan do'a supaya tidak ketinggalan kereta tapi do'a supaya selamat dari kecelakaan. You know lah bagaimana kalau tukang ojek stasiun ngebut. Semua wangi parfum di badan saya hilang tertiup angin berganti dengan aroma tukang ojek. Rambut jingkrak menantang langit saya sudah tidak berbentuk lagi. Dan buruknya lagi, saya terlihat romantis dengan abang tukang ojek itu karena saya semakin erat memeluk pinggangnya. Saya tidak mau ambil resiko terlempar dari motor yang dikendarai dengan gila ini. 

Akan tetapi, si abang ojek memang pahlawan saya hari ini. Dia berhasil membawa saya sampai di depan stasiun dan masih ada waktu 3 menit lagi sebelum kereta berangkat. Tapi lihatlah nasib saya. Saya harus membayar dia dengan mahal kan untuk misi mulia nan gagah berani ini. Total duit yang saya keluarkan untuk membayar ojek ditambah harga tiket sudah menyamai harga tiket untuk kelas eksekutif. Selamat datang di gerbong ekonomi deh. 

Oh ya, gerbong kelas ekonomi itu artinya anda harus duduk berhadap-hadapan di kursi panjang yang masing-masing kursi diisi oleh 3 orang. So, di sepetak ruang kecil itu ada 6 orang yang duduk berhadap-hadapan. Kadang-kadang saling lirik kemudian melengos. Dan, gerbong ekonomi sekarang pakai AC loh. Tapi entah kenapa AC nya membuat saya nekat mencopot kemeja sehingga yang tersisa hanya tank top sexy saja. Nggak boleh protes lah. Namanya juga AC kelas ekonomi. 

Sampai di rumah nanti, kira-kira beginilah dialog yang akan terjadi;
"How was your trip?
"Owh, it so much fun! I enjoyed it!

Bohong banget kan? Mana berani saya cerita runutan sebenarnya. Bisa habis saya diceramahin tentang keteraturan, planning dan menghargai waktu. Dan itu bisa jadi bahan ceramah di kali lain ketika saya tidak sengaja melakukan kecerobohan lagi. Enggak lah, ini yang terakhir kok. 





Sunday, February 24, 2013

Menikmati Jogja 1# Nyasar di Babarsari

Jiwa muda saya cukup terusik. Apa pasal? Semua berawal Dari kesibukan saya travel bolak-balik Jogjakarta-Surabaya-Malang belakangan ini yang membuat saya lebih banyak menghabiskan akhir pekan untuk menikmati waktu di rumah daripada berada di luar. Minggu lalu misalnya, saya terpaksa memarkir motor berhari-hari di airport yang tentunya membuat saya harus membayar lebih untuk itu. Saya terpaksa melakukannya karena saya takut terlambat kalau harus naik taxi dan memilih ngebut sendiri ke Airport. Nah, pas kembalinya dari Surabaya saya memacu motor saya dari Airport dalam keadaan capek sekali. Gara-gara kecapekan saya nyasar ke suatu sudut kota Jogja yang belum pernah sengaja saya explore walaupun sudah 7 bulan saya tinggal di sini, Babarsari.


Para awalnya, saya berpikir saya tersesat daerah pelosok sampai saya menemukan deretan Kafe berselang seling dengan restoran, butik dan tentu saja angkringan dan kaki lima yang menjadi ciri khas Jogjakarta. Saya langsung menobatkan ini adalah area kehidupan malam yang paling hidup di Jogjakarta. Bertepatan dengan weekend membuat suasananya sangat ramai dengan pasangan-pasangan muda. Dibandingkan dengan area keramaian lain di Jogja seperti Sagan dan jalan Parangtritis misalnya, saya lebih tertarik dengan area ini. Suasananya lebih urban tapi tengan kekhasan Jogja. Keramaiannya tidak bisa dibandingkan dengan keramaian Seminyak di Bali atau Kemang di Jakarta karena sentuhan Jogja denganpopulasi mahasiswa yang padat memberikannya suasana yang berbeda. Suasana muda yang vibrant. Satu hal lagi, bagi Anda fans tampang Indonesia timur seperti Ambon manise, Flores, Timor Leste dan Papua, di sinilah tempat Anda mencuci mata. Dan, saya adalah salah satu dari fans itu!


Selain kehebohan orang-orang, hal yang saya sukai dari daerah ini adalah lokasinya yang memanjang mengikuti selokan Mataram. Itu pulalah yang membuat saya terus saja berkendara walaupun saya tahu saya tersesat. Saya memutuskan untuk terus berkendara pelan-pelan dan tidak bertanya kepada orang bagaimana caranya keluar dari daerah ini dan sampai ke rumah. Saya berkendara pelan-pelan sambil menikmati suasana yang sepertinya sudah lama tidak saya sentuh, kehidupan malam yang menggairahkan.


Saya teringat petunjuk teman saya yang bilang kalau kamu menemukan selokan Mataram, kamu tidak akan pernah tersesat. Ke arah utara, selokan ini akan membawa kita sampai ke Gejayan dan tembus MM UGM dan kalau terus lagi, Anda akan sampai ke dekat Borubudur karena selokan ini yang di uat oleh Sultan Jogja ini berawal di sana.


Benar saja, tidak berapa lama kemudian, saya sampai di daerah yang sangat familiar bagi saya, daerah kampus UGM. Saya langsung melaju menuju ring road yang menuju arah rumah saya dengan janji saya akan menghabiskan malam Minggu di Babarsari suatu saat dalam waktu dekat. Jiwa muda saya terusik oleh keramaian tadi. Saya kembali diingatkan oleh kehidupan malam di Seminyak yang biasa saya nikmati pada episode kehidupan saya yang telah lewat.