Aih, menulis yang beginian di tengah keinginan untuk segera
menyelesaikan thesis itu sungguh menyebalkan. Akan tetapi kalau tidak
ditulis akan mengganggu pikiran dan bikin sebal terus menerus.
Jadi,
kan kartu ATM BRI Syariah saya hilang beserta dompet dan seabrek kartu
lain termasuk 3 biji ATM lainnya. Proses menyebalkan sudah dimulai dari
kantor polisi yang menolak membuatkan surat keterangan kehilangan untuk
saya karena menurut mereka saya berpakaian yang tidak pantas. Entah
standar dari mana yang dipakai untuk menilai pakaian yang pantas dan
tidak untuk memasuki kantor polisi itu. Dan helloww, saya sedang dalam
perjalanke gym untuk berolahraga gitu loh, you expect me to wear long
sleeve and tie?. Akan tetapi berdebat dengan orang bebal kadang-kadang
lebih baik mengalah.
Nah, urusan ATM dari Bank yang lain
diurus kelar dalam waktu tidak lebih dari satu jam dengan obrolan santai
dan tertawa-tawa dengan mbak teller yang memang sudah disetel untuk
tampil ramah dengan senyum selalu merekah itu. Saya sudah mendapatkan
ATM BNI, BCA dan UGM BNI Student card saya semuanya hanya dalam satu
hari.
Nah, berhubung karena Bank BRI Syariah letaknya agak
jauh dari kedua bank dan kampus saya tempat mengurus semua kartu ATM
tadi saya mengurus penggantian BRI Syariah saya sehari setelahnya. Dalam
perjalanan ke gym, saya mampir ke kantor BRI syariah. Believe me, kali
ini saya berpakaian dengan sangat rapi, kemeja putih bergaris-garis biru
dimasukkan. Jadi, please jangan ada lagi alasan tolol untuk menolak
melayani saya karena pakaian saya tidak memenuhi harapan mereka. Kecuali
tiba-tiba ada larangan memakai chinos warna merah sih.
Setelah
menunggu beberapa saat, seorangt teller yang sepertinya setingan senyum
teller bank mana saja pasti sama. Sapaannya juga standar membosankan
gitu kan. Sudahlah, saya sudah membalasnya dengan senyum yang tidak
kalah lebar kok. Dengan singkat saya menjelaskan bahwa saya ingin
mengganti kartu ATM saya yang hilang.
“Oh okay bapak Erik, boleh saya pinjam buku tabungan dan kartu identitasnya?
“Sure,
sure”. Saya mengeluarkan buku tabungan saya beserta passport,
satu-satunya kartu identitas yang selamat dari kehilangan tersebut.
“Pak Erik buka rekeningnya di Malang ya?
“Iyap benar mbak”
“Maaf
Bapak Erik, karena rekeningnya dibuka di Malang, maka penggantian kartu
ATM nya juga harus di cabang tempat buka, di Malang
“Wow! Saya kaget dengan suara wow yang cukup keras membuat hampir semua pengunjung menoleh kea rah saya.
“Kok bisa gitu Mbak, bukannya sistemnya sudah online ya di mana-mana?
“Iya pak, tapi untuk penggantian ATM, ATM tertelan, dan lupa nomor pin harus kembali ke cabang tempat membuka rekening”
“Mbak,
are you sure? Soalnya di dua Bank lain yang juga saya urus penggantian
kartunya, bisa diurus di kantor cabang mana saja tuh, dan selesai dalam
waktu hitungan jam”
“Iya pak Erik, tapi di bank kami tidak bisa?
“Coba anda Tanya ke manajer anda deh, atau saya mau bicara dengan manajer anda sekalian”
Dengan
tetap tersenyum yang sepertinya sangat dipaksakan, teller itu pun
berlalu dan kembali dengan seorang laki-laki yang dia akui sebagai
manajernya.
Penjelasan dari manajer itu hampir sama persis dengan penjelasan si Mbak-mbak teller.
“Jadi, Bapak Erik harus kembali ke Malang untuk mengurus penggantian kartu ATM bapak Erik”
“Gila,
lo pikir ke Malang itu sama dengan ke Prawirotaman, butuh paling tidak
dua hari pulang pergi tahu” saya membatin dengan kesal.
Saya kemudian bilang dengan keras;
“Wow,
bank ini amazing banget ya! Coba bayangkan kalau saat ini saya sedang
berada di sebuah kota di Sumatera dan saya harus terbang ke Malang hanya
untuk mengurus kartu ATM saya! Kok, bisa sih Bank di zaman modern kayak
gini segini ribetnya?
Si mbak customer service dan manajer hanya tersenyum dipaksakan dan meminta maaf.
“Kalau buka rekening baru mbak?”
“Bisa pak, bapakbutuh kartu identitas dan surat keterangan domisili di Jogjakarta”
“kalau passport saja, bisa?
“Tidak bisa pak, harus dengan surat keterangan domisili”
“Forget it! Ribet banget. Terima kasih anyway”
Saya
meninggalkan meja customer service dengan sebal. Come on, I mean dengan
sistem komunikasi yang super canggih dimana bisnis dan urusan antar
manusia tidak lagi terbatas oleh jarak masih ada ya sinstitusi keuangan
yang masih ribet begini. Menurut ngana, itu sistem informasi dibuat dan
dikembangkan terus menerus untuk apa? Padahal saya pernah membaca di
sebuah majalah keuangan kalau bank ini pernah meraih award apa gitu. Ah,
jangan-jangan award sebagai bank paling ribet.
Well, saya
belum yakin bahwa saya harus kembali ke malang hanya untuk mengganti
ATM. Setahu saya, di Bank-bank lain, kita hanya perlu ke kantor cabang
tempat membuka rekening ketika hanya kita utuh untuk menutup rekening.
Tapi saya sudah tidak tahan berdebat dengan petugas bak siang-siang
panas seperti ini. Saya hanya butuh berenang saat ini.
Sangat
disayangkan sebenarnya karena alasan saya memilih untuk mempertahankan
rekening bank yang satu ini adalah karena sistemnya yang syariah, halal.
Tapi sepertinya bank ini harus tahu kalau kata HALAL itu berdampingan
dengan THOYYIBAN. Kalau seperti ini tidak thoyyiban deh. Lagipula
kebanyakan pegawainya masih muda-muda dan cakep-cakep, secara bank baru
kan. Satpamnya aja cakep-cakep banget waktu saya buka rekening di Malang
dulu. Okay, itu tidak berhubungan sama sekali. Eits, secara marketing
sangat penting kali. Well, saya mau buka website bank ini dulu untuk
melihat policy mereka.
Bagi teman-teman nasabah BRI Syariah, sharing dong.
Jogja, 1 April 2014
Saturday, September 26, 2015
Wednesday, April 8, 2015
Pendidikan Tinggi Indonesia di Pasar Internasional?
Abad Asia 2050 dan ASEAN Single Community 2015 akan membawa pola hubungan negara di wilayah ASEAN ke dalam hubungan yang sama sekali baru. Bukan hanya negara-negara di wilayah ASEAN sebenarnya, tetapi juga wilayah di sekitar regional ini seperti Australia dan Selandia Baru. Pada tahun 2013, Australia bahkan sudah menerbitkan white paper yaitu sebuah naskah yang berisi strategi Australia dalam menyambut tantangan abad Asia 2050. Dalam dokukmen tersebut, Australia benar-benar menempatkan ASEAN sebagai partner kerjasama regional yang penting. Hal ini bisa dimaklumi. Walaupun secara geografis Australia berada di dalam kelompok negara-negara Melanesia, tetapi dalam percaturan ekonomi, Australia lebih dekat dengan negara-negara ASEAN.
White
paper tersebut diturunkan ke dalam
dokumen lain yang tidak kalah menarik
buat saya; Indonesia; Country Strategy. Dokumen
ini berisi tentang strategi dalam
hubungan kerjasama dengan Indonesia.
“Each strategy outlines a vision of where
Australia’s relationship with the country should be in 2025 and how we, the
Australian Community, intend to get there (Indonesia Country Strategy: 2013)
Dalam
bidang pendidikan, salah satu strategi Australia
dalam menghadapi tantangan tersebut adalah dengan menjadikan Bahasa Indonesia diajarkan
sejak sekolah menengah. Dan tentu saja bukan rahasia apabila banyak
universitas-universitas yang menawarkan program Studi Indonesia dan mendirikan research centre yang fokus mengkaji
wilayah ASEAN dan juga Indonesia secara khusus. Kita mungkin juga familiar
dengan program ACISIS yang mengirimkan mahasiswa-mahasiwa Australia untuk
belajar tentang Indonesia langsung di
perguruan tinggi-perguruan tinggi di Indonesia secara langsung, lengkap
dengan program-program lapangan dan research
project yang langsung bersentuhan dengan masyarakat Indonesia. Bukan hanya
Australia, sebenarnya mata negara-negara di dunia tengah tertuju kepada negara-negara
Asia. Semua mata tertuju padamu. All eyes
are on you.
Kota
tempat saya berada saat ini pun, Yogyakarta, diramaikan oleh mahasiswa asing
yang hanya khusus datang untuk belajar bahasa Indonesia, maupun belajar tentang
politik dan pemerintahan di Indonesia. Bahkan, di Fakultas Bisnis kampus tempat
saya kuliah, setiap semester selalu ada sekitar 50 orang mahasiswa yang datang
untuk belajar di sekolah bisnis untuk
satu semester maupun lebih. Tujuan mereka
bermacam-macam. Mahasiswa dari Cina dan Korea yang biasanya banyak datang
melalui program beasiswa Darmasiswa mungkin pemerintah mereka antusias
mengirimkan mereka untuk belajar di Indonesia karena Indonesia adalah pasar
yang besar untuk produk-produk mereka. Belajar langsung di negara yang menjadi
pasar produk mereka tentu saja akan membuat mereka lebih mengenali dinamika
pasar dari dekat. Sebuah aset masa depan.
Seorang
teman dari Taiwan yang kuliah di Sekolah Bisnis di Beijing mengatakan dia
dimotivasi oleh Bapaknya untuk datang belajar bahasa Indonesia di Yogtakarta
untuk mempersiapkan kemungkinan ekspnasi bisnis IT keluarga mereka di
Indonesia. Setelah dua semester di Yogyakarta,
teman Hongkong saya tersebut sudah memulai usahanya sendiri di Bidang
Tour & Travel yang memfasilitasi para turis China datang ke Indonesia. Seorang
teman yang lain lagi, mahasiswa master di Paul
H. Nietze School of Advanced
Internatioanal Studies, The John Hopkins University yang fokus belajar
tentang keuangan internasional dan juga keuangan di Asia datang dua kali ke
Indonesia. Yang pertama, dia datang khusus untuk belajar Bahasa Indonesia di
Yogyakarta, yang kedua datang ke Jakarta untuk magang di perusahaan Malaysia
yang beroperasi di Indonesia. Seorang teman yang lain lagi, berkewarganegaraan
Portugal dan Brazil juga datang untuk belajar di sekolah bisnis di kampus saya
selama satu semester, untuk mengenali atmosfir bisnis di Asia katanya. Bahkan dia
berkongsi menulis paper tentang currency dalam
ASEAN Single Community dengan seorang dosen muda di Fakultasnya. Itu akan
menjadi nilai plus buat dia ketika terjun ke dunia kerja di Portugal sana, dia
berwawasan “asia” dan siap membuat strategi bisnis perusahaan untuk pasar Asia,
misalnya.
Percakapan
dengan seorang teman Jerman lebih menarik lagi. Kami sedang berbincang tentang
dinamika ASEAN Single Community sambil menikmati makan siang di kantin.Kami
bercakap dalam bahasa Indonesia yang sangat formal, sesuai dengan KBBI, karena
itulah standar bahasa yang diajarkan di sekolah bahasa tempat dia belajar di
kota ini. Dia juga mengikuti perkuliahan di FISIP kampus saya. Ketika pembicaraan menyentuh tentang Filipina,
dia tidak punya banyak wawasan tentang negara tersebut. menurut dia, pemerintah
mereka mungkin tidak menganggap negara tersebut “penting” dalam kerjasama
internasional Jerman. Sebaliknya, Indonesia menurut dia adalah sebuah negara
partner yang sangat penting.
Fenomena mobilisasi mahasiswa internasional ke
negara kita tersebut sebenarnya menunjukkan bahwa demand untuk pendidikan tinggi di Indonesia sangat besar. Hal tersebut
kemudian membawa saya kepada pertanyaan, sudah sejauh mana langkah yang
dilakukan oleh Indonesia sebagai negara dalam merespon demand tersebut? Dalam hal visa misalnya, informasi yang menyelurus
tentang pendidikan tinggi di Indonesia misalnya, dan hal-hal lainnya yang memudahkan
mahasiswa tersebut untuk hidup di Indonesia, ataupun menarik mahasiswa lain di
luar sana untuk datang dan belajar di Indonesia. Namun, dari hasil observasi
dan wawancara yang dilakukan, belum ditemukan sebuah sistem terpadu yang
memudahkan mobilisasi mahasiswa internasional ke Indonesia seperti website yang
langsung mengarahkan mahasiswa internasional untuk mengetahui pendidikan tinggi
yang ditawarkan oleh Indonesia.
Berdasarkan pengamatan saya terhadap
teman-teman mahasiswa Internasional di sini, mereka sangat antusias untuk
belajar di Indonesia walaupun dengan segala keribetannya. Mahasiswa dari
belahan bumi lain tentu saja senang berada di negara tropis dengan nilai tukar
mata uang yang lebih redah dengan mata uang mereka. Siapa sih yang nggak senang
bisa kabur ke Bunaken untuk menyelam di akhir pekan. Siapa sih yang tidak
senang menjelajah NTT yang eksotis itu di waktu kosong perkuliahan. Malahan,
ada seorang teman mahasiswa asing lagi yang practically
dia tinggal di Gili Terawangan dan
pantai-pantai di Lombok sana dan hanya terbang ke Jogja untuk mengikuti
perkuliahan yang hanya dua hari. Ada low
cost carrier ini! Belum lagi gunung-gunung yang menantang untuk didaki ada
di mana-mana di negara kita ini. Dengan semua potensi keindahan alam tersebut,
seharusnya bisa menjadi bahan marketing yang aduhai untuk menarik pemuda-pemuda
benua sebelah tersebut berbondong-bondong belajar ke Indonesia. Belajar sambil menikmati alam tropis dan
budaya yang eksotik!
Berbeda dengan Malaysia yang benar-benar
melihat kesempatan “semua-mata-tertuju-padamu” itu dengan membuat portal
informasi yang menawarkan mahasiswa internasional untuk belajar di Malaysia
melalui www.studymalaysia.com,
educationmalaysia.gov.my atau pemerintah Belanda yang mempunyai www.nuffic.nl. www.studyinholland.nl , bahkan sebuah
institusi lengkap dengan website yang khusus untuk segmen pasar calon mahasiswa
dari Indonesia di www. nesoindonesia.or.id. Sementara itu, negara tetangga di
Pasifik juga gencar mentargetkan Indonesia sebagai pasar pagi pendidikan tinggi
mereka (Autralian White Book: 2013).
Bagaimana dengan di level institusi Perguruan
Tinggi? Seharusnya dengan semua sumber daya yang dimiliki, hal tersebut bisa
dilakukan. Apalagi untuk perguruan tinggi yang berstatus otonom (PTNBH) yang
mempunyai kewenangan memutuskan segala hal tanpa melibatkan pemerintah. Kewenangan
yang dimiliki melalui otonomi perguruan tinggi seharusnya cukup untuk melakukan
hal tersebut. Salah satu tujuan otonomi tersebut untuk membuat pengambilan
keputusan menjadi cepat dan mudah bukan?
Dalam
pola system thinking kasus ini bisa
diklasifikasikan sebagai growth and under
investment. Kondisi ini terjadi dimana sebenarnya sebuah institusi bisa
mencapai target tertentu, sementara pengambil kebijakan (biasanya pemimpin)
menunda mengambil keputusan besar yang drastis dan nyaman dengan keadaan biasa
saja. Penundaan (delay) pengambilan
keputusan tersebut tidak kelihatan dampaknya sekarang , tetapi dalam jangka
panjang biasanya akan muncul sebuah akumulasi efek yang tidak menguntungkan institusi.
Kasus
ini juga sama dengan kondisi Indonesia yang tengah menikmati bonus demografi
dimana komposisi usia produktif populasi penduduk Indonesia lebih tinggi
daripada populasi usia non-produktif. Kondisi ini hanya berlangsung sementara,
yaitu sampai tahun 2020. Investasi kebijakan yang harus dilakukan oleh
pemerintah atau siapa pun yang mempunyai kepentingan dengan fakta ini tentunya
harus diambil saat ini. Dalam kasus investasi pendidikan yang hasilnya baru
akan terlihat dalam jangka panjang, apabila kebijakan pendidikan di level
negara, ataupun strategi organisasi di tingkat perguruan tinggi tidak diambil
saat ini (seharusnya sudah dari beberapa tahun sebelumnya), menunggu lebih lama
lagi tentu akan terlambat.
*Di sela-sela mengetik thesis, Bulaksumur, 8
April 2015.
Sunday, March 22, 2015
Cerita Jogja; Little Blond by the Pool
Senang kembali lagi ke Jogjakarta dan blusukan di akhir pekan. Setelah kemarin berbelanja hadiah untuk keluarga di negeri jauh sana, hari ini saya memutuskan untuk mengunjungi Candi Gebang. Candi yang ternyata masih di area seputaran ring road utara ini adalah salah satu dari candi-candi kecil yang bertebaran di wilayah Jogjakarta. Seperti candi-candi kecil lainnya, keadaan candi terpelihara baik dengan taman cantik berhiaskan bunga-bunga kuning bermekaran yang berselang-seling dengan rumpun lydil yang membentuk lorong-lorong kecil. Di luar pagar candi dikelilingi oleh hamparan sawah dan kebun tebu yang menghijau. Rambutan sedang di puncak musim sehingga di sekitar candi pohon-pohon dipenuhi warna merah rambutan yangsedang ranum. Saya memutuskan untuk membagi separuh rambutan yang saya beli di pinggir jalan dari ibu tua tadi dengan dua orang penjaga candi berseragam itu. Mereka ramah.
Hal yang membuat saya tidak merasa tinggal di kota adalah keramahan penduduk sekitar yang rajin menyapa dan bertukar senyum. Kehangatan penduduk, sawah yang terhampar asri, suasana tenang yang jauh dari bising kota menghasilkan kesan bahwa saya sedang berada di desa. Hal seperti ini yang kelak akan dirindukan dari kota ini.
Setelah puas menikmati ketenangan, saya mengendarai motor menuju ke arah dalam ring road menuju Amplaz. Saya ke sini ingin mendapatkan beberapa butir ubi jalar untuk karbohidrat makan malam nanti. Saya berencana memasak untuk malam ini. Sudah lebih dari dua bulan saya tidak menyambangi mall paling ngehits se-Jogja ini. Kesibukan menulis thesis membuat saya hanya familiar dengan perpustakaan kampus, Madam Tan, Lagani dan Jogjakarta Plaza Hotel tempat gym saya, dan tentu saja rumah yang seringkali hanya dihuni setelah hari gelap ketika saya kembali ke rumah dari tempat-tempat tadi. Apalagi, satu minggu kemarin saya menghabiskan waktu di Jakarta.
Setelah makan siang, saatnya mendinginkan tubuh dengan berenang. Salah satu yang membuat saya bersikeras memperpanjang keanggotaan saya di gym adalah karena saya bisa bebas menggunakan fasilitas kolam renang di hotel, lengkap dengan diskon 20% dari pembelian makanan atau minuman dari restoran yang terletak di lobby yang menghadap ke kolam renang. Maka, jadilah gym dan kolam renang beserta Langen Suko Park dengan jogging track di antara rumput taman yang hijau dengan semerbak wangi bunga kamboja pink yang tumbuh tersebar di seluruh taman menjadi tempat melepas penat. Ini seperti a liitle sanctuary untuk bersantai dari rutinitas menjadi mahasiswa pascasarjana dengan beban thesis yang cukup menguras otak dan tenaga.
Duduk di pool chair di tepi kolam renang, saya asyik menonton tingkah 3 orang anak bule yang asyik bermain air di kolam untuk anak-anak. Kedua orang tuanya juga nimbrung bermain dengan mereka sesekali ketika mereka berhenti dari aktifitas berenang. Saya tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah anak yang paling kecil. Umurnya kira-kira 2 tahun. Dengan Rambut blonde dan mata biru membuat anak tersebut sangat menggemaskan. Apalagi tingkahnya yang aktif berlarian ke sana kemari, berlari tepat di sepanjang tepi kolam untuk orang dewasa tanpa takut terjatuh. Kemuadian ia berpindah ke seberang kolam dekat tempat saya duduk. Di sini, Ia mengangkat tanda peringatan dan membawanya turun ke tangga taman. Melihat hal tersebut, sang ayah segera mengejar dan mengangkatnya kembali ke tepian kolam.
Sekarang ia tengah mencoba untuk memakai sandal Crocs yang menyerupai kodok yang entah milik ibunya atau bapaknya. Sandal kebesaran tersebut membuatnya melangkah terseret-seret mengitari kolam renang. Mungkin bosan dengan sandal, ia melempar semua sandal tersebut ke dalam kolam renang dan berlari menuju kursi tempat ayanya berbaring sambil membaca. Ia menarik-narik ujung celana ayahnya untuk menunjukkan sandal-sandal yang mengapung di tengah kolam. Ia seakan-akan ingin menunjukkan betapa ia telah melakukan sesuatu yang luar biasa.
Sekarang Ia berlari ke arah kakaknya yang tengah berenang mencipratkan air ke arah kakaknya dengankaki mungilnya. Sang kakak meladeni dengan mecipratkan air dari arah kolam membuat si kecil berteriak-teriak girang. Ketika si kakak berbalik untuk berenang, si kecil mengambil batu kali yang menjadi hiasan di sepanjang kolam dan melemparkan ke arah sang kakak dan tepat mengenai kepalanya. Si kakak berteriak keras dan menangis mengundang perhatian Ibu mereka yang segera menenangkan si kakak. Sementara si kecil dengan rambul blonde yangmenggemaskan tersebut berjalan menjauh seakanmelarikan diri dari perbuatannya. Oops, I did something wrong! Mungkin itu yang tengah ia pikirkan. Si, ibu segera mendatangi si kecil yang tiba-tiba sudah memanjat patung gajah yang terbuat dari batu dinpinggir kolam. Sambil menggendongnya ia memberi peringatan serius kepada si kecil sambil menunjuk ke arah si kakak yang masih menangis memegang kepalanya.
Saya yang menonton sedari tadi tidak bisa menahan senyum melihat tibgkah mereka. Sangat berbeda bagaimana orang tua kebanyakan di negara kita memperlakukan anak-anak mereka saat kecil. Kebanyakan anak-anak kita familiar dengan kata-kata "jangan", "awas" "kamu nakal" dan sebagainya.
"Jangan lari-lari, nanti kamu jatuh!
" jangan sentuh itu, nanti tangan kamu kotor!
" ke sini kamu. Igh, susah sekali sih dibilangin. Nakal kamu!
Kata-kata itu yang membuat anak-anak tidak bebas mengesplorasi sekitar mereka, mengikuti rasa ingin tahu mereka akan lingkungan sekitarnya, belajar dari apa yang ereka lihat dan mereka alami. Anak-anak tumbuh dan belajar secara natural dari apa yang mereka lihat, rasakan dan alami di sekitar mereka. Ketika mereka di iarkan untuk mengeksplorasi dan menuntaskan rasa ingin tahu mereka, mereka akan tumbub mejadi pembelajar yang tidak takut untuk mencoba hal baru, membuka diri terhadap pengalaman-pengalaman baru, tumbuh menjadi jiwa petualang.
Hiburan tontonan tingkah anak kecil dari pinggiran kolam sore ini cukup menyegarkan otak. Berenang lima belas putaran cukup mengembalikan semangat untuk kembali menghadapi thesis. Selalu ada hal-hal kecil yang menyenangkan di Jogja.
PS
Saya bingung mau memberi judul apa untuk catatan ini😃
Sunday, January 4, 2015
Bali Holiday; A Day in Geger Beach
It's a very bright sunny day today after the raining been pouring on and off since the new year's eve. This is my last day in Bali as I'll fly back to Jogja tomorrow in the dawn. So, I decided to spend the day in one of my favourite beach, Geger beach. Located in the south coastline between Nusa Dua and Pandawa beach, this is the only few public beach that remained after these big chain resort claimed to have "private" beach in front of their hotel and resort. I remembered back in 2009 the first time I visited this beach, there was only few local restaurant settled with the whole beach are empty. Everyday you would find a seaweed farmers harvest or nurture their green and red algae to send good food to the world's table. Once you jump to the water, you can see the coral and seaweed plants as the water is very clear and calm. In the top of the reef edge situated a beautiful Pura with white sands beach down there where Balinese held the major prayers or ceremonies.
It changes a lot now. More than half of the previous empty land is pilled up by a big big chain hotel with green grass yard and big swimming pool and jogging track facing the beach. What I like from this new built Hotel is they let public to use their jogging track and people can freely use the beach in front of their hotel, unlike the Nusa Dua's beach that are strictly prohibited people even to pass the beach area in front of their hotel. This big chain Hotel in Geger beach seems want their guest to blend with people, or they don't pay the government to privatize the beach. I don't know which one is the reason, but this is good for me since I like this beach just to swim, lay down on the sands, wandering with my camera for some good photo snaps.
I decided to rent canoe and row to the "middle of the sea" to enjoy the scenery of this beach from the sea. It's a different angle of enjoying the beach since now I can see the blue turquoise water, white sands beaches, umbrellas , and building with palm trees everywhere. The lady who sail with the stand peddle let his peddle flowing on the sea while she is practicing yoga on her peddle. Yoga on a peddle in the sea requires a highly practiced skills I guess.
Besides of English spoken with Australian accent, chatters are Russian, french, and Italiano and Japanese. Once in a while a big group of Korean and Mandarin or Cantonese speakers come by. As usual, this big group coming to the beach not to swim or go into the water. With the wide hat and long dress they are busy doing selfie with various of mimics that make me thinking; what so pretty about mimicking your face in that particular way? I don't know. Perhaps it's a new definition of cute, or just a definition in certain part of Asia. You know what kind of mimics I mean, don't you?
I can say the sea foods served in the small restaurants along Geger beach are one of the best in Bali. It's served by 3 restaurants situated in the public beach. My favorite all the time is Seafood kebab from Yo Spa's restaurant where also they serve my favourite drink fruit punch made of fresh mango, orange, pineapple, grenadine syrup in the bottom which gives the nice aroma and soda water on top which gives the fresh punch. All the menus are very cheap with fresh juices only range from 10 K-15 K. The nextdoor restaurant, Fleet Bar and Cafe is my second favorite simply because it is the only restaurant or bar in this beach serves coffee from espresso. So, I spend the morning writing my theses in Fleet Bar and Cfae accompanied by cups of fresh brewed coffee and the lunch and after lunch time in Yo Spa's Bar and Cafe for good seafood kebab and fruit punch or geger sunrise.
When the sun goes down, I decided to take a walk along the beach to the direction of Nusa Dua. I found out that among this luxury resorts and private villas, there are some tiny pieces left for public that not many people know about since they are wrapped among all these" private" beach.
Geger, January 4th 2015
Thursday, December 11, 2014
Catatan dari Batam 1; Coffee Culture
![]() |
| jarum jam baru menunjukkan angka 6 di pagi hari tapi kedai kopinya sudah ramai begini |
Coffee culture describes a social atmosphere or series of
associated social behaviors that depends heavily upon coffee, particularly as a social
lubricant.
(Wikipedia)
Ketika punya kesempatan untuk tinggal di
kota ini, bangunlah pagi-pagi, nikmati keindahan sunrise ataupun langsung
beraktifitas. Pagi hari adalah waktu yang sayang untuk dilewatkan di kota ini.
Buat saya yang tidak bisa alpa dari secangkir atau dua cangkir kopi pada pagi
hari, kota ini adalah sekeping kecil syurga. Sebagai bagian dari kebudayaan
Melayu, keluar rumah untuk menikmati secangkir kopi dan sarapan adalah hal yang
tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat kota Batam. Saya tidak terlalu
menyadarinya pada kunjungan pertama saya ke kota ini dua tahun yang lalu. Kali ini,
berkat seorang kawan yang ingin bertemu untuk mengobrol dan bertukar pikiran,
pagi ini saya memacu motor saya ke arah Jodoh, salah satu daerah padat
pemukiman dan juga sentra bisnis di Batam. Yang menjadi petunjuk saya hanya
satu kata; Morning Bakery.
Berbekal IMap dan ditambah tanya sana-sini dan nyasar, sampailah saya di
sebuah bangunan dengan arsitektur yang sama sekali tidak dekoratif, hanya
sebuah bangunan berupa beberapa ruko yang digabungkan menjadi satu. Akan
tetapi, di bangunan dengan tampilan tidak menarik inilah tersaji apa yang saya
cari selama ini; secangkir kopi racikan manual ala Melayu peranakan. Saya
menjatuhkan pilihan saya pada sekangkir kopi O. Sama dengan di Sabah, Malaysia,
kopi O, berarti kopi saja tanpa campuran apa pun. Pilihan kue-kue fresh from oven yang terpampang di
etalase benar-benar membuat saya ngiler.
Lapar mata membuat saya memilih 6 jenis kue dengan kue favorit menurut lidah
saya adalah cake pisang.
![]() |
| Ramai penikmat kopi di Morning Bakery, Jodoh, Batam |
Ngopi pagi di sini bukanlah sekedar
menikmati secangkir kopi. Seperti kata mbah Wikipedia tadi, ia adalah social lubricant. Kopi di sini adalah secangkir
minuman yang mengumpulkan orang-orang bertemu untuk berbagai kepentingan. Atau
mungkin sebaliknya, mereka bertemu untuk kepentingan tertentu, tapi kepentingan
itu akan menjadi lancar ketika ada kopi, yah bayangkanlah kopi sebagai lubricant (pelumas). Lihatlah di
seberang meja sana; tampak sekelompok kokoh-kokoh muda dengan pakaian rapi yang
memberikan kesan professional yang tampaknya mampir sebelum masuk kantor. Seorang bapak muda tengah asyik menyuapkan kue
ke mulut anak laki-laki balita. Budaya ngopi
pagi tidak melulu domain laki-laki karena di sudut sana sekelompok ibu-ibu
tengah asyik ngerumpi, sekelompok gadis-gadis dengan dandanan chic tengah asyik
membicarakan pekerjaan. Segerombolan perempuan muda di ujung sebelah
sana mungkin adalah ibu-ibu muda yang memutuskan untuk nongkrong dulu sekedar
untuk berbagi gossip dan curhatan rumah tangga setelah mengantar anak-anak ke
sekolah.. Dan, di meja ini ada
saya dan Dave, dua teman lama yang ingin berbagi kisah setelah lama tidak
bersua.
Berbeda dengan kebanyakan ngopi ala Amerika yang lebih kepada take away, grab a coffee to go, ngopi di
sini berkawin dengan budaya Melayu yang terkesan santai. Jadi, mari nongkrong
dulu. Di balik geliat
industri manufaktur, bangunan-bangunan berbentuk kotak-kotak ruko yang memenuhi
kota, resort-resort mewah dan limpahan pengunjung negara tetangga di akhir
pekan, saya jatuh cinta dengan satu geliat masyarakat di pagi hari; Coffee culture, ngopi pagi.
Di daerah lain, ngopi pagi lebih
banyak dilakukan di rumah atau kedai kopi kecil yang bertahan di
kampung-kampung. Berbeda dengan di derah-daerah dengan akar budaya Melayu dan peranakan, ngopi adalah kegiatan sosial. Memulai pagi
dengan sarapan di Bakery dengan kopi dan aneka cake dan sarapan lain yg lebih
berat bersama teman-teman, rekan bisnis, atau memboyong satu keluarga. Sungguh, kedai kopi
ini tempat untuk semua kalangan social; selama ada lembaran rupiah di dalam
kantong untuk sekedar menebus segelas kopi yang kalau memakai standar SG dolar
yang banyak dipakai sebagai standar harga di sini, secangkir kopinya tidak
sampai satu dolar. Dengan kenikmatan kopi yang saya hirup di cangkir di depan
saya plus ambience ini, saya tidak keberatan untuk membayar lebih.
Dari semua kedai kopi di Batam, favorit
saya adalah Morning Bakery yang di Jodoh. Akan tetapi kalau saya harus mulai
bekerja agak pagi, saya cukup pergi ke Morning
Bakery yang berada di daerah Sungai Panas. Kalau kebetulan anda berkunjung
di akhir pecan, siap-siap untuk tidak kebagian tempat.
Saturday, November 1, 2014
Cerita Jogja; Mari, Ngopi Bareng saya di Lagani
Jarum jam baru menunjukkan angka
9, tetapi hari sudah panas menyengat di
Jogja. Persawahan dan kebun tebu di belakang rumah saya hanya menyajikan warna
cokelat tanah retak dan rumput kering. Kemarau berkepanjangan membuat
tanah-tanah kering mencipta debu yang diterbangkan angin. Salah satu alasan
untuk malas beraktifitas di luar. Meja tulis saya yang menghadap dinding yang seluruh bagian atas dindingnya adalah
deretan empat jendela yang member saya akses pemandangan ke arah taman kecil
yang tanamannnya tetap bertahan hanya karena saya sering menyeprotnya langsung
dengan shower dari kamar mandi setiap
saya mandi pagi atau sore sangat nyaman untuk tempat mengerjakan tesis
sebenarnya. Saya tinggal membuka pintu di samping meja dan pemandangan ke teras
belakang yang penuh tanaman tersaji. Akan tetapi saya sedang tidak ingin berada
di rumah dan mengerjakan thesis di rumah
hari ini. Godaan untuk turun ke dapur memasak ini itu terlalu beresiko. Saya akan
pergi ke Lagani, kedai kopi favorit saya di Jogja.
Tetangga yang tinggal di
Apartemen di lantai bawah sana bertambah satu orang, pemuda Rumania berpostur
jangkung dan langsing, dan sangat tampan tetapi pacarnya, gadis Indonesia
ala-ala itu berbetis buesar, kebalikan dari cowok Rumania yang berpostur
langsing dan cool itu.. Sejak saya kembali dari Jakarta, mereka belum pernah
berpesta yang selalu membuat gaduh sampai pagi lagi. Tapi Keponakan saya yang
menginap di rumah ketika saya pergi ke Jakarta bercerita bahwa mereka pernah
membuat pesta yang sangat gaduh sehingga membuat keponakan saya tidak bisa
tidur sampai pagi. Dan tentu saja keponakan saya itu tidak berani menggedor
pintu mereka dan meminta mereka untuk tidak gaduh seperti yang biasa saya
lakukan.
Oke, saya tidak akan bercerita
tentang tetangga saya itu pada postingan ini. Saya akan bercerita tentang sebuah
sudut di Jogja yang menjadi tempat favorit saya untuk sekedar menyendiri dengan
bacaan, mengerjakan paper, bertemu
teman-teman, meeting point buat
bertemu teman baru dan sekarang tempat saya menulis tesis kalau saya ingin
suasana baru. Kalau saya tidak sempat ngopi
di rumah, saya juga datang ke sini untuk mengisi tumbler kopi saya dan
membawanya ke kampus. Saya juga berusaha untuk membawa teman yang datang dari
luar Jogja untuk menikmati secangkir kopi di sini. Kadang-kadang saya hanya datang sendiri tanpa
alasan-alasan tadi dan duduk sendiri di
kursi di balkon hanya untuk melihat orang yang lalu lalang di depan coffee shop,
profiling satu-satu pengunjung coffee shop yang kebanyakan adalah mahasiswa
asing baik yang sedang belajar di kampus-kampus di Jogja ataupun yang sedang belajar
bahasa Indonesia di sekolah bahasa yang bertebaran di area ini.
Lagani, nama coffee shop ini
begitu tenar di kalangan anak-anak muda Jogja terutama di kalangan komunitas
kreatif muda dan para pencinta kopi. Berjarak satu blok dari Lagani tempat saya
menulis ini, masih di jalan yang sama ke
arah barat anda akan mendapati Lagani yang lain, sebuah coffee shop masih dalam
payung manajemen yang sama. Bangunan kedua-duanya sama-sama menyatu dengan
distro dengan brand yang ekslusif, handicraft & fashion accessories shop
dan tentu saja semuanya produk Indonesia.
Dalam postingan ini saya akan bercerita tentang satu lagani dulu, lagani yang tidak hanya menyajikan kopi tapi juga makanan berat seperti pasta, pizza dan berbagai menu ayam, makanya namanya lebih dikenal dengan Pasta Lagani . Dan menu favorit saya adalah menu sarapan tentu saja. Saya selalu menyukai sarapan, it’s my favourite meal time. Dengan harga yang sangat murah, saya sudah bisa mendapatkan satu menu sarapan dengan pilihan salah satu racikan kopi; cappuccino, Americano atau Coffee au lait. Menurut pengamatan saya pengunjung biasanya datang untuk kopi dulu dan duduk berlama-lama sibuk di depan laptop atau membaca, atau seru mengobrol dengan teman-teman. Baru kemudian ketika mereka lapar, mereka memesan makanan berat. Sepertinya alasan utama datang ke sini adalah kopi dan ambience. Perpaduan berbagai macam ras, buku-buku tebal, aroma kopi, percakapan dengan berbagai bahasa yang sahut menyahut membuat saya betah berlama-lama di sini. Kalau anda adalah orang yang merasa bahwa a man with book is sexy, anda akan orgasm di sini.
Dalam postingan ini saya akan bercerita tentang satu lagani dulu, lagani yang tidak hanya menyajikan kopi tapi juga makanan berat seperti pasta, pizza dan berbagai menu ayam, makanya namanya lebih dikenal dengan Pasta Lagani . Dan menu favorit saya adalah menu sarapan tentu saja. Saya selalu menyukai sarapan, it’s my favourite meal time. Dengan harga yang sangat murah, saya sudah bisa mendapatkan satu menu sarapan dengan pilihan salah satu racikan kopi; cappuccino, Americano atau Coffee au lait. Menurut pengamatan saya pengunjung biasanya datang untuk kopi dulu dan duduk berlama-lama sibuk di depan laptop atau membaca, atau seru mengobrol dengan teman-teman. Baru kemudian ketika mereka lapar, mereka memesan makanan berat. Sepertinya alasan utama datang ke sini adalah kopi dan ambience. Perpaduan berbagai macam ras, buku-buku tebal, aroma kopi, percakapan dengan berbagai bahasa yang sahut menyahut membuat saya betah berlama-lama di sini. Kalau anda adalah orang yang merasa bahwa a man with book is sexy, anda akan orgasm di sini.
Pertama kali menemukan bangunan coffee
shop ini saya langsung suka. Kursi-kursi berwarna hijau mengelilingi meja putih bundar di teras depan yang terbuat
dari kayu yang tidak dicat menggoda saya untuk mampir. Vas bunga yang terbuat dari botol bening di atas tiap
meja memberikan efek manis. Untuk sampai ke coffee
shop, anda harus melewati tangga kayu yang akan membawa anda ke teras
lantai dua. Begitu saya membuka pintu
kaca geser, saya langsung mendapati sebuah meja bar dari kayu bercat biru yang
terkesan rustic di samping pintu . Salah
satu dining dicat putih seperti hanya dikapur dengan bata yang tidak diplester
dengan gambar tangan biji-biji kopi, rempah yang diselang-selingi dengn
kata-kata positif. Sebelah didnding yang
lain dibuat dari jendela-jendela bekas dengan cat biru, putih dan tanpa kayu
memberikan kesan retro sekaligus rusty. Ada beberapa mural yang mencolok di
tembok rungan yang lain yang dipisahkan
oleh ruangan dengan sekat kayu dan kaca dengan pintu kaca. Rungan ini hanya
diisi oleh satu meja panjang dengan delapan kursi dengan karpet yang mengalasi
lantai. Mirip dengan sebuah dining room
di rumah sendiri.
Sementara di ruangan besar
berbentuk huruf L tempat bar berada terdapat sebuah tembok dengan lemari kayu berkaca yang menempel di
sepanjang sisi tembok. Lemari tersebut
diisi oleh barang-barang dari masa lampau seperti kamera LSR manual antik,
mesin ketik tua, permainan-permain kartu lama, radio tua dan barang-barang
lawas lainnya. Ada sebuah pemutar piringanhitam di atas meja. Desain meja-meja di dalam ruangan in itidak
seragam. Kursi-kursi yang mengelilingi meja di setiap ujung ruangan berbentuk
peti kayu yang tidak dicat dengan sofa di sebelah yang lain. Meja lainnya
adalah meja kayu seperti meja tua di rumah kakek di desa. Lantainya pun terbuat
dari tegel kayu berwarna cokelat dan krem.
Memasuki pintu kaca itu setiap
berkunjung ke sini, saya selalu mendapatkan sapaan hangat barista yang berada
di meja bar di belakang mesin kopi.
“Sendirian aja Mas?
“Habis dari mana Mas?
“Cappucinno panas ya?
“Rapi banget Mas? Ngedate ya?
“Temannya yang kemarin mana Mas?.
Katanya sambil tersenyum.
Nah, kalau dua pertanyaan
terakhir ini sudah menjurus kea rah kepo deh. Mungkin mereka kepo karena saya
selalu membawa teman baru dengan perwakilan etnis dari berbagai belahan dunia
ke sini dan mengobrol berjam-jam dengan
pesanan kopi berulang-ulang. Bisa jadi mereka mengira-ngira, apa hubungan saya
dengan orang-orang tersebut. Bisa jadi.
Dengan kopi yang digiling
langsung dari biji kopi di situ, sajian kopi yang anda dapatkan benar-benar
fresh from the bean. Masalah rasa, mereka sudah terbukti dengan beberapa kali
memenangkan kompetisi barista tingkat nasional yang memilih peracik kopi
terenak dari seluruh pelosok nusantara. Kopi yang enak, barista yang ramah
berpadu dengan suasana yang homey
membuat pelanggan selalu kembali. Mereka benar-benar memberikan personal touch
dalam menyajikan kopi.
Jogja adalah syurga bagi para
pencinta kopi. memang kota ini tidak mempunyai perkebunan kopi, tapi berbagai
jenis kopi nusantara maupun belahan dunia lain bermuara dalam cangkir-cangkir
kopi hasil racikan para barista andal dapat anda nikmati di ratusan coffee shop yang bertebaran di kota ini.
Buat saya, kalau anda menginginkan kopi enak, lupakanlah kedai kopi jaringan
internasional maupun nasional itu. Cobalah untuk memasuki kedai kopi di yang
bertebaran di antara pemukiman, di dekat kampus atau di area food street seperti Prawirotaman atau
Tirtodipuran. Berkaitan dengan kopi dan kafe, satu hal yang membuat Jogjakarta
sangat berbeda dengan kota lain adalah
anda akan menemukan coffee shop ketika berjalan-jalan di mana saja, coffee shop
tidak melulu berdiri di business area
atau eating street. You’ll find your favourite coffee shop in a
simple neighbourhood. Dan kebanyakan dari coffee shop ini bukan tempat nongkrong massal. Sepertinya, pencinta
kopi mempunyai kedai kopi favorit masing-masing, dan kedai kopi favorit saya
adalah Lagani ini. Ini bukan sekedar kopi yang enak, tapi juga ambience dan
sedikit flirting. Lihatlah senyum di
meja seberang sana. Itu saja sudah cukup menjadi oase buat panasnya Jogja hari
ini.
Friday, October 10, 2014
Catatan Akhir Kuliah 1: Seandainya Kampus Punya Juice Bar!
Saya memutuskan untuk mulia menulis lagi catatan-catatan kecil
kehidupan saya menjadi mahasiswa di Yogyakarta Hadiningrat ini. Berhubung ini
adalah menjelang masa akhir kuliah saya, saya akan menamakannya catatan akhir
kuliah. Sebenarnya, catatan ini juga
adalah kebutuhan otak saya untuk refreshing dari menulis tesis yang saya
inginkan rampung dalam tempo yang sesingkat-singkatnya ini. Begitulah.
Salah
satu perkuliahan yang sangat berbekas di ingatan saya dua semester lalu adalah perkuliahan Strategic Planning for Campus yang
diampu oleh professor favorit saya. Profesor yang sudah sepuh ini fisiknya saja
yang kelihatan sepuh tapi jiwanya masih muda. Kalau anda melihat gadgetnya maka
mulai dari handphone, tablet dan laptopnya maka logo kinclong dari apel kecokot
akan langsung nampak. Well, saya tidak sedang melabel bahwa muda itu identik
dengan gadget canggih, tapi pemilihan brand beliau mewakilkan semangat anak
muda; dinamis dan kreatif. Tapi, pada tulisan ini saya tidak sedang ingin
membahas profil beliau. Saya akan bercerita satu tugas sederhana yang beliau
berikan pada satu sessi perkuliahan kepada mahasiswa.
Pagi
itu beliau meminta mahasiswa menuliskan satu ide tentang pengembangan fasilitas
infrastruktur kampus untuk mendukung academic atmosphere. Mahasiswa bebas
menuangkan idenya dengan prinsip singkat; what, why, dan how. Saya sendiri
waktu itu menulis tentang bagaimana mengakomodir kebutuhan mahasiswa dengan
menyediakan student lounge dengan konsep kafe, juice booth, dan convenient store di sudut-sudut
strategis kampus. Semua berangkat dari pengalaman saya sendiri yang sangat
kesulitan untuk mendapatkan makanan yang 'benar' dan kopi yang enak plus tempat
yang nyaman untuk belajar dan bekerja di dalam kampus. Bayangkan kalau saya
mempunyai jadwal kuliah jam 8 pagi sampai jam 4 sore dengan banyak waktu break
diantaranya. Sangat tidak nyaman untuk keluar dari kampus hanya untuk sekedar
mengisi tumbler kopi saya di Lagani
atau harus menyeberang ke Pertamina Tower. Waktu yang saya habiskan untuk mengemasi
tas dan barang bawaan, turun ke parkiran, menstarter motor, melewati checking
di gerbang, terjebak macet, menunggu di coffee
shop, kembali lagi ke kampus, terjebak macet, mencari tempat yang pas,
membongkar barang dan mempersiapkan komputer, dan mulai kembali lagi menstarter
mood untuk kembali belajar atau
mengerjakan paper akan sangat banyak terbuang sia-sia. Dan tentu saja ada
hambatan tak terduga yang muncul dalam perjalan tersebut. Misalnya, anda
bertengkar dengan pengemudi yang menyebalkan di jalanan, ada makhluk bening
yang membuat anda harus berhenti dan menyapa dulu, kemudian disambung dengan
obrolan, atau mungkin kendaraan mogok di jalan.
Padahal bisa jadi ketika saya meninggalkan kampus untuk mendapatkan
secangkir kopi itu, saya sedang dalam puncak mood untuk mengalirkan ide-ide
saya ke dalam halaman-halaman iWork namun terputus karena kebutuhan perut atau
mata saya yang harus didoping dengan kopi.
Kalau
ada coffee booth di setiap sudut,
saya bisa dengan gampang mendapatkan kopi saya tanpa membuang banyak waktu
ataupun menurunkan mood kerja saya. Kalau ada juice booth, saya bisa
mendapatkan fresh juice yang sehat dengan kualitas yang dikontrol oleh kampu. Bayangan
saya, ada food & beverages commitee
di kampus yang mengontrol standar dari makanan yang disajikan. Atau kalau saja
kantin diseting dan dikelola dengan baik sehingga menjadi pilihan prioritas mahasiswa untuk
mendapatkan asupan nutrisi di kampus, mahasiswa akan semakin betah berkegiatan di
kampus. Atau, kalau tidak mau repot, kampus bisa menggandeng chain coffee shop, juice bar, fruit bar atau
milkbar yang tersebar di seantero
Jogjakarta Hadiningrat dan mendapatkan sharing
profit dari situ untuk menghindari keruwetan managemen dan resiko bisnis
yang besar. Atau kalau mau profit maksimal tapi menanggung resiko bisnis besar,
kampus bisa membuat manajemen sendiri untuk mengelola ini.
Kalau
anda mengunjunhi kafe-kafe keren atau coffee
shop hits di jogja, bisa dipastikan sebagian besar pengunjungnya adalalah mahsisiwa.
Maka, ini saja sudah menjadi celah pasar yang besar. Belum lagi mahasiswa
internasional yang diuntungkan oleh kurs mata uang mereka yang tidak keberatan
untuk menghabiskan sekian puluh euro di kafe-kafe dan restoran di Jogja hanya
karena alasan mereka butuh decent food,
makanan yang sehat dan higienitasnya terjamin. Harusnya ini dilihat sebagai
peluang oleh kampus sebagai usaha untuk menjaga kebutuhan nutrisi mahasiswa
sekaligus sebagai peluang untuk mendapatkan profit. Well, membangun generasi
itu kan tidak melulu aspek otak ya, tapi juga tubuh dan jiwa yang sehat juga.
Kalau mahasiswa sehat, kehidupan akademiknya tidak terhambat.
Saturday, July 5, 2014
Bali Holiday; Anomali Coffee Seminyak
Once I entered the buiilding, I directly fell in love with this place. It's a rustic style interior with big coffee grinder placed in the front corner that all open. Beside the coffee grinder, the sacks of coffee bean piling up in gunny sacks. The smell of coffee that spreading up in the room is like aroma therapy for me. The barista deck is placed in the center of the room joining together with the displays, cashier and the racks for the cakes. Some tables are lining backing the wall and some other higher long tables in the left sides are layed with the face to face lay-out. The walls are full of murals about coffee. It's a great place to escape with bunch of workload.
The barista who acts as a captain in that coffee shop welcomed me warmly. He asked me whether I been in Anomali before. When I said no, he explain me a brief profile of this coffee shop. It's a coffee shop which serves a fresh own- grinded coffee on the spot which using local coffee bean from all over Indonesia. For you who live in Jakarta, this coffee shop has its brand in the city.
Once I sipped my cappucino, I decided their cappuccino is as good as the one served by my favourite coffee shop in Jogja, Lagani Coffee. I always try either cappucinno or coffee latte at the coffee shop that I firsly visit. These two variants are my favourite ever.
I ended up also buying a coffee tumbler as a souvenir from this place. I actually allocated that budget to buy a coffee tumbler from any Starbucks in Bali.
Monday, March 3, 2014
Singapore City Tour; Clarke Quay in My Mind
Langit sore perlahan-lahan memudar menuju gelap. Angin bertiup sepoi-sepoi cukup membawa kesegaran setelah beberapa saat terjebak di ruang-ruang bawah tanah stasiun MRT dan pusat perbelanjaan, The Central. Lampu-lampu kota mulai menyala. Ramai pengunjung yang memenuhi pinggiran Riverside di Clarke Quay menambah semarak sore di pinggiran Singapura river. Beberapa laki-laki muda dengan tampang kaukasia berjalan santai menyandang tas dengan es krim di tangan. Negara ini telah menjadi tujuan pemuda-pemuda negeri barat untuk memulai karir internasional. Tampang India, Bangla, Chinese dan Melayu bercampur dengan lalu lalang wajah Thai dan Vietnam. Para laki-laki dengan balutan kostum Sport dari Nike dan Adidas berlari-lari di sepanjang jogging track di antara lalu lalang wisatawan dan melewati deretan meja-meja restoran yang bertebaran di sepanjang sungai. Campuran aroma parfum yang semerbak dari para laki-laki wangi tersebut bercampur antara spices, woods, flowers, fruits, dan entah apa lagi. Entah datang dalam kemasan Bvlgary, Armani, Lacoste, Hermes, atau Dior. Entah membawa nama merek mana lagi. Semua ramai menghampiri pembauan saya yang sangat sensitif mengendus wewangian lelaki yang terkirim lewat perantaraan angin senja di tepian sungai ini. Satu yang melekat dalam otak saya; semerbak wangi urban. Beginilah aroma udara urban yang meruap dari badan laki-laki dan perempuan negara berpenghasilan tinggi. Aroma udaranya saja sudah meruapkan kemakmuran.
Bangunan antik dalam kemasan modern Swiss Merchant Hotel di depan saya menyiratkan bagaimana negara ini menjaga bangunan-bangunan bersejarah agar tetap menjadi bagian keindahan negara kota yang modern. Semua menyatu dalam kemasan cagar budaya lampau yang terkemas apik berdampingan dengan kehidupan modern. Berjalan menyeberangi Read Bridge seakan diajak untuk kembali meneluri sejarah Temasek masa lampau. Bangunan-bangunan tua yang terjaga apik berdampingan dengan bangunan berarsitektur modern dalam wujud shopping mall, apartement dan taman-taman yang berdampingan menyumbang harmonisasi suasana. Pemusik jalanan melantunkan balada tepat di tengah Read Bridge di antara lalu lalang pejalan kaki dalam senja yang mulai temaram. Flash kamera pijar memijar dari gadget-gadget canggih dan lensa-lensa kaliber tinggi. Semua ingin mengabadikan sore yang rancak di tepian Singapura River di Clarcke Quay.
Negara ini sangat berhasil menjaga cagar budaya menjadi aset wisata yang menguntungkan. Jembatan tempat saya duduk ini adalah Read Bridge yang dibangun pada masa penjajahan Inggris tahun 1888. Pada waktu itu hiduplah seorang saudagar yang bernama William Henry McLeod yang berhasil mengajukan petisi kepada kerjaan Inggris agar Temasek diposisikan langsung di bawah Kerajaan Inggris sebagai Crown Colony. Untuk mengenang kebesarannya jembatan yang dibangun menggantikan Merchant Bridge yang terlalu rendah untuk dilewati tongkang-tongkang yang berlayar di Singaporean river inipun dinamakan dengan mengikuti namanya, Read Bridge.
Menuju gelap hentakan irama Timur tengah dari restoran-restoran dan bar beraroma padang pasir di sepanjang kompleks restoran di Clarke Quay semakin rancak. Meja-meja restoran di sepanjang sungai maupun di dalam mall dipenuhi orang-orang dengan pakaian terbaik. Komplek bangunan restoran ini adalah bangunan-bangunan toko dan loji tua tempo dulu yang masih terjaga bentuk aslinya di bawah atap konstruksi yang futuristik. Perpaduan yang menarik. Suasana ini sangat kontras dengan kota yang baru beberapa jam yang lalu saya tinggali. Beda Negara memang beda nasib walaupun berangkat dari sejarah yang mirip dan berada di wilayah yang berdekatan.
Otak saya membawa saya dalam ingatan tentang Asian Century dan ASEAN Community yang saya paparkan di depan ratusan mahasiswa dan pelajar di kota Batam sana, kota dengan jarak tempuh kurang dari 1 jam dari sini. Melihat bagaimana kondisi negara ini dan membandingkannya dengan negara di mana kota yang baru saya tinggalkan berada, rasa-rasanya negara ini akan menang telak dalam kompetisi yang dihasilkan oleh free flow of everything yang menjadi implikasi dari skema kerjasama negara-negara ASEAn dalam platform ASEAN Community. Tentu dengan beberapa negara dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang u ggul seperti Malaysia dan Thailand. Berbicara tentang free flow of people, aneka tampang yang mewakili berbagai macam ras di dunia ini sudah cukup mewakili bahwa arusnya tengah mengalir di negara ini.
Mata saya beralih kepada sekelompok muda-mudi yang berdiri bergerombol di ujung jembatan. Kelihatannya mereka dalam rentang umur 20an. Umur-umur yang sedang meniti tangga karir. Yang menarik perhatian saya adalah fitur wajah mereka. Belasan pemuda yang masih dalam balutan kemeja kantoran tersebut mewakili beberapa ras kaukasia, dan Asia. Lihatlah, negara ini telah menjadi tempat bertemu berbagai macam ras dalam setingan profesional.
Dalam balutan kemeriahan tepi sungai Singapura di Clarke Quay, saya semakin asyik terbawa dengan suasana dan pikiran saya sendiri, menyimpulkan simpul-simpul informasi yang saya dapat tentang bagaimana Asia yang tengah menjadi fokus mata dunia dalam sebuah nama optimis Abad Asia. Saya tengah menyaksikannya sendiri dalam suasana urban yang saya selami dari tadi. Lalu munyul pertanyaan dalam pikiran saya; bagaiaman dengan negara kita? Siapkah generasi bangsa kita menyambut Abad Asia? Siapkah pemerintah menyetir bahtera bangsa kita denga kebijakan-kebijakan yang unggul? Tentu saja pertanyaan tersebut juga adalah pertanyaan untuk diri saya.
Monday, January 27, 2014
Ethiquette; Ruang Publik
Sore di Jogja hari ini hangat dan menyenangkan. Maka setelah menyelesaikan pekerjaan domestik, saya memutuskan untuk berangkat ke gym untuk beberapa set latihan. Lagipula, saya baru saja menyelesaikan minggu-minggu yang melelahkan dengan beban UAS dan final paper yang menumpuk. Beban saya semester ini jauh lebih banyak dari mahasiswa lain yang malah jauh berkurang karena perkuliahan telah berfokus kepada mata kuliah yang menjadi konsentrasi pilihan. Saya malah mengambil dua mata kuliah di jurusan Kebijakan Publik dengan beban kredit total 9 SKS di luar 14 SKS di jurusan saya sendiri. Dua mata kuliah itu menyumbang beban 5 final paper yang cukup berat, terutama policy paper yang dibuat sebagai skenario menghindari midle-income trap yang menghantui Indonesia. Rasanya setelah melalui minggu berat trsebut saya berhak untuk latihan gym panjang, berenang dan mungkin sauna.
Saya tergelitik menulis postingan ini karena setelah berenang 10 putaran, saya merasa cukup terganggu dengan sekumpulan anak-anak muda berjumlah 8 orang yang menempati pool chair di sebelah saya. Mereka terdiri dari tampang lokal dan 3 tampang kaukasia yang perkiraan saya adalah mahasiswa asing. Mereka tampan-tampan dan cantik cantik yang dari fitur wajah dan semua yang melekat di tubuh dan gadgetnya, jelas mereka berasal dari peradaban modern. Tapi kecantikan dan ketampan tersebut langsung bernilai nol di mata saya karena perilaku mereka. Selain asap rokok yang mengepul, mereka memutar musik dari Iphone mereka yang disambungkan ke spekaer yang tentu saja menghasilkan suara yang keras. What? Am I in the kind of taman bermain somewhere in coast of Java with a bunch of Kampung people visiting? Selain itu, berkali-kali mereka berenang melintang yang menghalangi perenang lain yang berenang memanjang sebagaimana lazimnya. Well, rasanya dalam konteks seperti ini bukan saatnya untuk tampil beda deh. It doesnt't look creative at all. It's annnoying!
Dalam anggapan saya, mereka bukanlah orang yang tidak terpelajar yang asing dengan istilah common space dan etiket ketika berada di dalamnya. Di ruang publik, kita memang bebas untuk mengekspresikan diri dan melakukan hal yang kita sukai. Tapi hal yang harus diingat adalah, hak tersebut dibatasi oleh hak orang lain. Dalam konteks ini, hak tersebut adalah hak saya untuk menghirup udara yang bebas polusi asap rokok karena saya menjaga kesehatan saya. Saya juga berhak untuk tidak mendengarkan suara bising musik yang bukan selera saya tersebut. Bukankah teknologi sudah canggih sehingga musik tersebut bisa didengarkan melalui headset yang pastinya tidak mengganggu ketenteraman orang lain? Lagipula di pinggir kolam renang hotel ini jelas-jelas tertulis aturan dalam menggunakan fasilitas yang menekankan untuk memperhatikan kenyamanan orang lain, tertulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sekaligus. Well, kecuali mereka tidak memahami kedua bahasa tersebut atau mungkin rabun.
Akhirnya saya juga tergelitik untuk menulis perilaku orang-orang di gym yang sepertinya tidak tahu tentang gym ethiquette. Atau sebenarnya mereka tahu tapi terlalu angkuh untuk mematuhinya. Dalam tata krama gym, sudah menjadi pengetahuan umum untuk mengembalikan alat dipakai ke tempatnya semula. Selain itu mengembalikan posisi alat ke posisi netral juga sudah menjadi peraturan umum di mana-mana. Tapi entah apa yang ada di pikiran orang-orang itu sehingga mereka meletakkan barbel berserakan dan membiarkan free weight machine dengan beban yang telah mereka set, bukan dikembalikan ke posisi nol. Apakah mereka berpikir bahwa mereka segerombolan makhluk istimewa yang mereka harus dilayani? Hey I'm a gift from God fro you. You have to serve me! Hellowww! Dan entah mengapa harus berbicara sambil berteriak-teriak di dalam ruangan seperti itu. Do you need attention Sir? Menurut saya ini adalah bentuk dari insekuritas sehingga mereka berpikir dengan berbicara ribut bergerombol orang lain akan terintimidasi. Thanks, not for me!
Selain membiarkan alat berserakan, kok mereka santai saja duduk di salah satu alat padahal tidak melakukan aktivitas latihan, malah asyik menekuri layar gadget. Tidakkah berpikir bahwa orang lain mungkin ingin menggunakan alat tersebut? Kalau buat saya sih gampang; saya tinggal menatap langsung ke matanya dan bilang; are you done? Akan tetapi ada orang lain yang entah karena budaya uwuh pakewuh malah mengalah instead of pushing to get what they deserve to. Di locker room juga sama. Selain bercakap-cakap dengan keras dan seringkali berteriak dan tertawa ngakak yang sangat gaduh di dalam shower room, mereka juga membiarkan handuk-handuk yang telah mereka pakai tergeletak di pantai instead of returning them to the towel storage. Sekali lagi kok enak sekali menambah pekerjaan orang lain untuk memungut handuk-handuk itu buat mereka. Yang menari adalah, mereka akan sangat senyap ketika tidak dalam gerombolan. Well, suatu hari saya tidak tahan dan menyelutuk, pindahan dari hutan Mas ya?
Akhirnya, karena saya menghargai hak saya, saya tidak mau hanya diam dan mengelus dada motok hasil latihan keras saya. Saya mendatangi gerombolan pemuda di samping saya dan dengan sangat sopan saya berkata;
"Mas, musiknya bisa didengarin sendiri saja? Kebetulan saya tidak sedang ingin mendengarkan musik sore ini"
Kelihatannya mereka cukup terkejut tidak menyangka akan ada orang yang protes dengan ketidaknyamanan yang mereka timbulkan. Dengan tampang memerah salah seorang yang bertampang bule meminta maaf dengan bahasa Indonesia yang dalam setingan biasa terdengar lucu, tapi tidak untuk saat ini. Sementara yang lainnya hanya memandang dengan pandangan bercampur heran dan takjub.
Well, someone must stand for his right. Lagipula, perubahan itu dimulai dari hal-hal kecil dan berani untuk menegur ketika melihat hal yang salah. Berani membicarakan hal-hal yang tidak lazim dibicarakan yang biasanya dihindari dengan kekhawatiran akan menyinggung dan merusak hubungan dengan orang lain. Mengalah dan menjaga perasaan orang lain tidak selalu bagus kalau hanya untuk menjaga agar suasana tetap harmoni dengan mengorbankan kenyamanan diri sendiri. Lebih baik mengungkapkan daripada memendam kekesalan di belakang yang hanya akan memberikan energi negatif pada diri sendiri. Talk the untalkable, discuss the undiscussble. Value yourself, people will value you.
Subscribe to:
Posts (Atom)


















