Sunday, February 19, 2012

Let's Continue Running!



Saya baru punya waktu buat menikmati “the art of doing nothing “ lagi. Sudah lama saya tidak menyendiri bertapa di kamar saya membaca dan edit-edit foto hasil jepretan saya. Setelah memberikan coaching pagi tadi, saya langsung kembali ke kamar dan mendekam sampai besok pagi kelihatannya. Saya hanya keluar lagi sore tadi, makan dan belanja di Hypermart. Sendiri. Mau ngajak Iqbal, dia sedang galau (katanya). Bungkus biscuit keju mulai menumpuk menandakan saya sudah ngemil banyak. Mug besar saya sudah tandas. Tadi berisi cappuccino. Tidak berani nambah lagi. Takut nggak bisa tidur. Saya resmi kembali rutin minum kopi setelah sempat ‘cuti’ panjang.

Saya jarang update dan menulis belakangan ini. Tidak ada postingan tahun baru. Tidak ada note-note di facebook. Padahal boleh dikatakan sejak bulan November tahun lalu adalah hal-hal besar dalam hidup saya terjadi. Dan juga menjadi hari-hari paling galau. Galau? Iya, saya ngaku, saya pernah keluar masuk pusaran galau belakangan ini. Ada banyak kebimbangan. Tapi Alhamdulillah, saya tidak dinobatkan menjadi Mr. Bimbang 2011. Berikut adalah beberapa kronikel yang saya ingat;

Memilih
Saat itu saya berada nun jauh di ranah minang sana karena urusan pekerjaan. Sampai saya tiba-tiba disadarkan akan umur saya dan saya masih punya mimpi yang harus saya kejar. Saya sangat mencintai pekerjaan saya dan juga mencintai setiap business tripnya. Tapi justru business trip itu ternyata menghambat mimpi saya yang lain. Saya harus tinggal di satu kota dan fokus mengejar mimpi saya; sekolah lagi. Akhirnya keputusan besar di ambil. Saya mundur dari posisi saya sebagai Regional Manager dan terbang ke Bali seminggu kemudian. Saya benar-benar menikmati Bali holiday saya dan menuemukan hal-hal baru. Selalu ada yang berbeda di Bali.

Back to Malang
Sesuai dengan keinginan saya setelah resign dari posisi saya sebelumnya, the big boss menempatkan saya di Malang. Saya langsung ngebut mengupgrade TOEFL untuk mempersiapkan mengejar beasiswa dan langsung apply salah satu program. TOEFL ini membawa saya ke Jogjakarta buat test di sana karena yang terdekat yang sesuia dengan deadline saya adalah di sana. Sambil mempersiapkan TOEFL saya mengisi training yang sedang berlangsung di kantor Malang. Dan kelas ini member saya peserta yang menjadi sahabat juga bagi saya. Hari-hari kosong banyak disi dengan jalan bareng, makan bareng, masak bareng di rumah salah satu peserta, hunting foto,merayakan ulang tahun heboh salah satu peserta, berperahu di selorejo untuk pertama kalinya, latihan vocal (baca; karaoke) dan beberapa kegiatan khas anak muda lainnya. Sampai-sampai kami punya kelompok arisan dengan misi utama; backpacking ke luar negeri!
Satu hal yang belum saya lakukan adalah belajar bahasa Perancis karena Oscar teman saya yang dosen muda nan pintar di kampus tetangga yang rencananya akan belajar bareng itu keburu berangkat ke Thailand untuk fellowship.

Bali Lagi; Big project!
Setelah program training yang saya tangani selesai, saya berangkat ke Bali. Keberangkatan ke Bali kali ini sangat berbeda. Selain ditemani oleh Nandar, sepupu saya, misi yang diemban juga sangat besar. Saya juga menikmati perasaan menjadi “regular balinesse’ dengan tinggal di rumah teman setelah nandar kembali ke Malang.

Ceritanya, ketika saya berjibaku mengejar beasiswa, abang saya khawatir kalau saya gagal. Maka, dengan baik hatinya dia menyarankan untuk membuat plan B yang awalnya saya tentang habis-habisan karena saya tidak ingin punya pilihan lain selain lolos beasiswa. Tapi akhirnya, setelah argumentasi logis dan perdebatan panjang, saya menuruti sarannya. Bentuk plan B itu adalah; sebuah bisnis di Bali yang sebelumnya sudah di explore di internet.

Maka, misi saya kali ini adalah survey. Setelah berlagak menjadi bos besar yang diantar ke sna ke mari untuk melihat-lihat akhirnya misi itu mengerucut menjadi sebuah pilihan besar dan sulit lagi untuk saya. Apakah itu gerangan. Jreng, Jreng, jreng…..! Mengambil alih sebuah hotel. Oke, kata hotel sepertinya mengandung besar, megah dan kompleks. Saya rubah saja menjadi hotel kecil.

Saya tidak pernah punya mimpi untuk memanage sebuah hotel atau sebangsanya. Saya ingin menjadi seorang akademisi dan juga melanjutkan karir di pekerjaan saya yang sekarang. Manusia memang dikutuk untuk terus memilih. Akan mudah urusannya ketika pilihan yang dihadapkan adalah baik dan buruk atau bagus dan tidak bagus. Lah, saat ini saya diibaratkan tengah disuruh untuk memilih antara pour de homme dari chacharel dan Higher Energy dari Christian Dior. Antara I-pad dan Galaxy Note. Antara Alexandre Christie edisi Saphire Classic dan Casio edisi Beside. Antara si Penghuni Puri dan si Sinar Surya. Oke, itu terlalu menggampangkan dan lebay. Maafkan saya. Yang jelas, saya galau edisi kedua (apa ketiga ya?).

Pulang ke Desa
Mumpung sedang berada di Bali dan menunggu perkembangan hasil yang sudah saya lakukan di Bali, saya memutuskan untuk mengunjungi ibu dan saudara-saudara saya di Bima. Saya menikmati waktu saya seperti ketika masih SMP dulu. Mengurus ternak alias menggembala, turun ke dapur sesering mungin, memetik alpukat, ngobrolin bunga sama ibu dan bermain dengan keponakan saya yang semakin lucu dan pintar. Uihh…berat untuk kembali. Ingin berlama-lama menjadi anak desa. Tapi saya ada beberapa appointment di Bali dan juga meeting besar tim nasional kantor saya di Malang.

Bali Business
Hari-hari saya di Bali padat diisi dengan appointment dan appointment. Appointment dengan notaris, arsitek, agen tanah, agen property dan banyak lagi yang sebagian besar adalah bule. Bolak balik konsultasi dengan dua notaries berbeda. Cuapeek!! Tapi saya masih menyempatkan berkunjung ke Ubud sehari penuh sambil membuat analisa bisnis. Saya juga sempat foto-foto ganteng bareng Dewi di Pantai padang-Padang.

Saya juga main ke PPS Udayana sekedar survey tentang program MM yang mereka sediakan. Dengan tidak sopannya saya melenggang ke ruangan-ruangan kantor kampus Universitas Udayana dengan hanya memakai celana pendek saja. Dan tentu saja itu mengakibatkan ‘semua mata tertuju padamu’.

Coaching
Berawal dari speaking coaching yang saya berikan kepada mahasiswi UB yang akan berangkat ke Amerika beberapa waktu yang lalu, dosen dan juga ustadz saya minta di coach untuk persiapan ujian dissertasi beliau yang akan menggunakan bahasa Inggris. Begitu kembali lagi ke Malang, saya langsung memulai coaching yang sempat tertunda 1 minggu karena saya tinggal lebih lama di Bali.

Saya sangat menikmati coaching ini karena secara tidak langsung saya belajar ilmu ekonomi dan juga banyak berdiskusi tentang banyak hal seputar ekonomi dan islam. Banyak hal yang menjadi hikmah selama sessi coaching dengan ustadz yang sangat rendah hati ini. Calon doctor ekonomi yang sangat hangat dan bersahaja.

Bekerja dengan Performance Terbaik
Di tengah ketidakpuasan yang saya alami terhadap banyak hal di kantor saya, saya mencoba untuk memberikan yang terbaik. Sangat sulit memang karena saya harus mencoba membalikkan respon normal menjadi respon luar biasa atas perlakuan yang saya terima. Saya seharusnya melanjutkan kemarahan saya yang kemarin-kemarin muncul. Saya mencoba meredam kemarahan saya. Efeknya, kemarahan saya tertumpah ke abang saya lewat skype yang membuat saya membanting laptop ketika kami berselisih pahams. So, immature. But I’m just a human. Dengan sangat baiknya si Abang hanya menanggapi dengan menyuruh tenang dan menangis melihat kemarahan saya.

Saya juga baru bertemu dang mengobrol panjang dengan senior yang sekarang menjadi dosen di kampus tetangga. Lumayan mendapatkan pencerahan yang membuat saya mantap memilih. Let’s continue life!