Monday, March 3, 2014

Singapore City Tour; Clarke Quay in My Mind

Langit sore perlahan-lahan memudar menuju gelap. Angin bertiup sepoi-sepoi cukup membawa kesegaran setelah beberapa saat terjebak di ruang-ruang bawah tanah stasiun MRT dan pusat perbelanjaan, The Central. Lampu-lampu kota mulai menyala. Ramai pengunjung yang memenuhi pinggiran Riverside di Clarke Quay menambah semarak sore di pinggiran Singapura river. Beberapa laki-laki muda dengan tampang kaukasia berjalan santai menyandang tas dengan es krim di tangan. Negara ini telah menjadi tujuan pemuda-pemuda negeri barat untuk memulai karir internasional. Tampang India, Bangla, Chinese dan Melayu bercampur dengan lalu lalang wajah Thai dan Vietnam. Para laki-laki dengan balutan kostum Sport dari Nike dan Adidas berlari-lari di sepanjang jogging track di antara lalu lalang wisatawan dan melewati deretan meja-meja restoran yang bertebaran di sepanjang sungai. Campuran aroma parfum yang semerbak dari para  laki-laki wangi tersebut bercampur antara spices, woods, flowers, fruits, dan entah apa lagi. Entah datang dalam kemasan Bvlgary, Armani, Lacoste, Hermes, atau Dior. Entah membawa nama merek mana lagi. Semua ramai menghampiri pembauan saya yang sangat sensitif mengendus wewangian lelaki yang terkirim lewat perantaraan angin senja di tepian sungai ini. Satu yang melekat dalam otak saya; semerbak wangi urban. Beginilah aroma udara urban yang meruap dari badan laki-laki dan perempuan negara berpenghasilan tinggi. Aroma udaranya saja sudah meruapkan kemakmuran. 

Bangunan antik dalam kemasan modern Swiss Merchant Hotel di depan saya menyiratkan bagaimana negara ini menjaga bangunan-bangunan bersejarah agar tetap menjadi bagian keindahan negara kota yang modern.  Semua menyatu dalam kemasan cagar budaya lampau yang terkemas apik berdampingan dengan kehidupan modern. Berjalan menyeberangi Read Bridge seakan diajak untuk kembali meneluri sejarah Temasek masa lampau. Bangunan-bangunan tua yang terjaga apik berdampingan dengan bangunan berarsitektur modern dalam wujud shopping mall, apartement dan taman-taman yang berdampingan menyumbang harmonisasi suasana. Pemusik jalanan melantunkan balada tepat di tengah Read Bridge di antara lalu lalang pejalan kaki dalam senja yang mulai temaram. Flash kamera pijar memijar dari gadget-gadget canggih dan lensa-lensa kaliber tinggi. Semua ingin mengabadikan sore yang rancak di tepian Singapura River di Clarcke Quay. 

Negara ini sangat berhasil menjaga cagar budaya menjadi aset wisata yang menguntungkan. Jembatan tempat saya duduk ini adalah Read Bridge yang dibangun pada masa penjajahan Inggris tahun 1888. Pada waktu itu hiduplah seorang saudagar yang bernama William Henry McLeod yang berhasil mengajukan petisi kepada kerjaan Inggris agar Temasek diposisikan langsung di bawah Kerajaan Inggris sebagai Crown Colony.  Untuk mengenang kebesarannya jembatan yang dibangun menggantikan Merchant Bridge yang terlalu rendah untuk dilewati tongkang-tongkang yang berlayar di Singaporean river inipun dinamakan dengan mengikuti namanya, Read Bridge. 

Menuju gelap hentakan irama Timur tengah dari restoran-restoran dan bar beraroma padang pasir di sepanjang  kompleks restoran di Clarke Quay semakin rancak. Meja-meja restoran di sepanjang sungai maupun di dalam mall dipenuhi orang-orang dengan pakaian terbaik. Komplek bangunan restoran ini adalah bangunan-bangunan toko dan loji tua tempo dulu yang masih terjaga bentuk aslinya di bawah atap konstruksi yang futuristik. Perpaduan yang menarik. Suasana ini sangat kontras dengan kota yang baru beberapa jam yang lalu saya tinggali. Beda Negara memang beda nasib walaupun berangkat dari sejarah yang mirip dan berada di wilayah yang berdekatan. 

Otak saya membawa saya dalam ingatan tentang Asian Century dan ASEAN Community yang saya paparkan di depan ratusan mahasiswa dan pelajar di kota Batam sana, kota dengan jarak tempuh kurang dari 1 jam dari sini. Melihat bagaimana kondisi negara ini dan membandingkannya dengan negara di mana kota yang baru saya tinggalkan berada, rasa-rasanya negara ini akan menang telak dalam kompetisi yang dihasilkan oleh free flow of everything yang menjadi implikasi dari skema kerjasama negara-negara ASEAn dalam platform ASEAN Community. Tentu dengan beberapa negara dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang u ggul seperti Malaysia dan Thailand. Berbicara tentang free flow of people, aneka tampang yang mewakili berbagai macam ras di dunia ini sudah cukup mewakili bahwa arusnya tengah mengalir di negara ini. 

Mata saya beralih kepada sekelompok muda-mudi yang berdiri bergerombol di ujung jembatan. Kelihatannya mereka dalam rentang umur 20an. Umur-umur yang sedang meniti tangga karir. Yang menarik perhatian saya adalah fitur wajah mereka. Belasan pemuda yang masih dalam balutan kemeja kantoran tersebut mewakili beberapa ras kaukasia, dan Asia. Lihatlah, negara ini telah menjadi tempat bertemu berbagai macam ras dalam setingan profesional. 

Dalam balutan kemeriahan tepi sungai Singapura di Clarke Quay, saya semakin asyik terbawa dengan suasana dan pikiran saya sendiri, menyimpulkan simpul-simpul informasi yang saya dapat tentang bagaimana Asia yang tengah menjadi fokus mata dunia dalam sebuah nama optimis Abad Asia. Saya tengah menyaksikannya sendiri dalam suasana urban yang saya selami dari tadi. Lalu munyul pertanyaan dalam pikiran saya; bagaiaman dengan negara kita? Siapkah generasi bangsa kita menyambut Abad Asia? Siapkah pemerintah menyetir bahtera bangsa kita denga kebijakan-kebijakan yang unggul? Tentu saja pertanyaan  tersebut juga adalah pertanyaan untuk diri saya. 

Monday, January 27, 2014

Ethiquette; Ruang Publik

Sore di Jogja hari ini hangat dan menyenangkan. Maka setelah menyelesaikan pekerjaan domestik, saya memutuskan untuk berangkat ke gym untuk beberapa set latihan. Lagipula, saya baru saja menyelesaikan minggu-minggu yang melelahkan dengan beban UAS dan final paper yang menumpuk. Beban saya semester ini jauh lebih banyak dari mahasiswa lain yang malah jauh berkurang karena perkuliahan telah berfokus kepada mata kuliah yang menjadi konsentrasi pilihan. Saya malah mengambil dua mata kuliah di jurusan Kebijakan Publik dengan beban kredit total 9 SKS di luar 14 SKS di jurusan saya sendiri. Dua mata kuliah itu menyumbang beban 5 final paper yang cukup berat, terutama policy paper yang dibuat sebagai skenario menghindari midle-income trap yang menghantui Indonesia. Rasanya setelah melalui minggu berat trsebut saya berhak untuk latihan gym panjang, berenang dan mungkin sauna. 

Saya tergelitik menulis postingan ini karena setelah berenang 10 putaran, saya merasa cukup terganggu dengan sekumpulan anak-anak muda berjumlah 8 orang yang menempati pool chair di sebelah saya. Mereka terdiri dari tampang lokal dan 3 tampang kaukasia yang perkiraan saya adalah mahasiswa asing. Mereka tampan-tampan dan cantik cantik yang dari fitur wajah dan semua yang melekat di tubuh dan gadgetnya, jelas mereka berasal dari peradaban modern. Tapi kecantikan dan ketampan tersebut langsung bernilai nol di mata saya karena perilaku mereka. Selain asap rokok yang mengepul, mereka memutar musik dari Iphone mereka yang disambungkan ke spekaer yang tentu saja menghasilkan suara yang keras. What? Am I in the kind of taman bermain somewhere in coast of Java with a bunch of Kampung people visiting? Selain itu, berkali-kali mereka berenang melintang yang menghalangi perenang lain yang berenang memanjang sebagaimana lazimnya. Well, rasanya dalam konteks seperti ini bukan saatnya untuk tampil beda deh. It doesnt't look creative at all. It's annnoying!

Dalam anggapan saya, mereka bukanlah orang yang tidak terpelajar yang asing dengan istilah common space dan etiket ketika berada di dalamnya. Di ruang publik, kita memang bebas untuk mengekspresikan diri dan melakukan hal yang kita sukai. Tapi hal yang harus diingat adalah, hak tersebut dibatasi oleh hak orang lain. Dalam konteks ini, hak tersebut adalah hak saya untuk menghirup udara yang bebas polusi asap rokok karena saya menjaga kesehatan saya. Saya juga berhak untuk tidak mendengarkan suara bising musik yang bukan selera saya tersebut. Bukankah teknologi sudah canggih sehingga musik tersebut bisa didengarkan melalui headset yang pastinya tidak mengganggu ketenteraman orang lain? Lagipula di pinggir kolam renang hotel ini jelas-jelas tertulis aturan dalam menggunakan fasilitas yang menekankan untuk memperhatikan kenyamanan orang lain, tertulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sekaligus. Well, kecuali mereka tidak memahami kedua bahasa tersebut atau mungkin rabun. 

Akhirnya saya juga tergelitik untuk menulis perilaku orang-orang di gym yang sepertinya tidak tahu tentang gym ethiquette. Atau sebenarnya mereka tahu tapi terlalu angkuh untuk mematuhinya. Dalam tata krama gym, sudah menjadi pengetahuan umum untuk mengembalikan alat dipakai ke tempatnya semula. Selain itu mengembalikan posisi alat ke posisi netral juga sudah menjadi peraturan umum di mana-mana. Tapi entah apa yang ada di pikiran orang-orang itu sehingga mereka meletakkan barbel berserakan dan membiarkan free weight machine dengan beban yang telah mereka set, bukan dikembalikan ke posisi nol. Apakah mereka berpikir bahwa mereka segerombolan makhluk istimewa yang mereka harus dilayani? Hey I'm a gift from God fro you. You have to serve me! Hellowww! Dan entah mengapa harus berbicara sambil berteriak-teriak di dalam ruangan seperti itu. Do you need attention Sir? Menurut saya ini adalah bentuk dari insekuritas sehingga mereka berpikir dengan berbicara ribut bergerombol orang lain akan terintimidasi. Thanks, not for me!

Selain membiarkan alat berserakan, kok mereka santai saja duduk di salah satu alat padahal tidak melakukan aktivitas latihan, malah asyik menekuri layar gadget. Tidakkah berpikir bahwa orang lain mungkin ingin menggunakan alat tersebut? Kalau buat saya sih gampang; saya tinggal menatap langsung ke matanya dan bilang; are you done? Akan tetapi ada orang lain yang entah karena budaya uwuh pakewuh malah mengalah instead of pushing to get what they deserve to. Di locker room juga sama. Selain bercakap-cakap dengan keras dan seringkali berteriak dan tertawa ngakak yang sangat gaduh di dalam shower room, mereka juga membiarkan handuk-handuk yang telah mereka pakai tergeletak di pantai instead of returning them to the towel storage. Sekali lagi kok enak sekali menambah pekerjaan orang lain untuk memungut handuk-handuk itu buat mereka. Yang menari adalah, mereka akan sangat senyap ketika tidak dalam gerombolan. Well, suatu hari saya tidak tahan dan menyelutuk, pindahan dari hutan Mas ya?

Akhirnya, karena saya menghargai hak saya, saya tidak mau hanya diam dan mengelus dada motok hasil latihan keras saya. Saya mendatangi gerombolan pemuda di samping saya dan dengan sangat sopan saya berkata;

"Mas, musiknya bisa didengarin sendiri saja? Kebetulan saya tidak sedang ingin mendengarkan musik sore ini"

Kelihatannya mereka cukup terkejut tidak menyangka akan ada orang yang protes dengan ketidaknyamanan yang mereka timbulkan. Dengan tampang memerah salah seorang yang bertampang bule meminta maaf dengan bahasa Indonesia yang dalam setingan biasa terdengar lucu, tapi tidak untuk saat ini. Sementara yang lainnya hanya memandang dengan pandangan bercampur heran dan takjub. 

Well, someone must stand for his right. Lagipula, perubahan itu dimulai dari hal-hal kecil dan berani untuk menegur ketika melihat hal yang salah. Berani membicarakan hal-hal yang tidak lazim dibicarakan yang biasanya dihindari dengan kekhawatiran akan menyinggung dan merusak hubungan dengan orang lain. Mengalah dan menjaga perasaan orang lain tidak selalu bagus kalau hanya untuk menjaga agar suasana tetap harmoni dengan mengorbankan kenyamanan diri sendiri. Lebih baik mengungkapkan daripada memendam kekesalan di belakang yang hanya akan memberikan energi negatif pada diri sendiri.   Talk the untalkable, discuss the undiscussble. Value yourself, people will value you. 



Sunday, January 12, 2014

Catatan Akhir Semester; Dosen Favorit

Dalam banyak hal saya sangat percaya dengan "Judge the book from it's cover" dan " get the people from its first impression". Berbicara tentang frirst impression, saya bisa langsung memilah-milah mana dosen yang menyenangkan dan mana yang tidak. Definisi menyenangkan di sini  adalah kemampuan sang dosen berkomunikasi dengan mahasiswa, engaging, mempunyai aturan yang jelas, dan memposisikan mahasiswa sebagai equal peer dalam knowledge construction. Sehingga, ketika berinteraksi dalam kelas mahasiswa merasa bebas untuk menyampaikan pendapat, menyanggah ataupun mendebat dosen, tentu saja harus dilakukan dengan ethics. Ada banyak dosen yang ketika seharusnya sessi diskusi, ataupun ketika mahasiswa mengeluarkan pendapat di tengah-tengah sesi kuliah, dia tidak memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menunjukkan kedalaman pengetahuannya dengan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengelaborasi, mengkontekskan, dan memberikan pendapatnya atas sebuah masalah sebelum dia bertanya untuk mengetahui pendapat dosen tersebut atas konteks permasalahan yang didiskusikan. Sang dosen dalam tipe tersebut biasanya akan memotong dengan "inti pertanyaannya apa"? Dan menekan berkali-kali dengan kata intinya. Buat mahasiswa yang nyalinya kecil, ini bisa membuat mereka gugup dan kehilangan kata-kata dan bisa jadi tidak akan mengeluarkan pendapat selama perkuliahan satu semester ke depannya. 

Saya pernah punya pengalaman dalam salah satu kelas profesor senior yang mengajar subjek "change management". Sebenarnya saya dan beberapa teman tidak berminat mengambil mata kuliah tersebut karena pengalaman kami pada semesternya dalam perkuliahan yang berbeda, professor yang mengampu mata kuliah ini pendekatannya dalam kelas tidak bagus. Dari student feedback evaluation yang diisi di akhir semester, professor ini menempati 2 posisi terendah. Akan tetapi, mengingat ini mata kuliah penting yang berhubungan dengan kebijakan, saya bersama beberapa teman teman bersepakat untuk memasukkanke dalam kredit SKS kami dengan komitmen, kami sendiri yang akan menghidupkan kelasnya dengan lebih aktif untuk menanggapi dengan berdiskusi walaupun si profesor belum membuka diskusi seperti yang dia lakukan biasanya. Kami bersepakat untuk selalu membaca jurnal dan referensi sebelum memasuki kelas sebagaimana seharusnya yang dilakukan oleh mahasiswa yang baik. Pada pertemuan pertama sampai ketiga, semua berjalan lancar. Kelas sangat hidup dengan diskusi-diskusi yang menarik. Kami selalu termotivasi untuk membaca jurnal yang berkaitan dengan topik yang akan kami diskusikan pada tiap pertemuan. Sang profesor pun menunjukkan perubahan dibandingkan dengan semester sebelumnya. Dia lebih engaging. Tampaknya feedback review yang kami tulis dan evaluasi dosen membuat dia berusaha untuk berubah. 

Topik perkuliahan pada pertemuan kali ini adalah tentang globalization drive. Topik yang saya sangat sukai. Semalam sebelumnya saya sudah membaca beberapa jurnal dan buku tentang "globalization and higher education". 

Ketika mahasiswa lain mulai menunjukkan kebosanan yang ditandai dengan menekuri layar laptop masing-masing, saya melihat kesempatan untuk menghidupkan kelas karena saya pun tidak akan tahan mendengarkan pembicaraan searah dpprofesor ini selama 2 jam ke depan. Ketika saya mengangkat tangan, prfesor tersebut mengangguk dan meberikan kesempatan kepada saya. Saya mulai menangkat beberapa fakta dan menghubungkan dengan bukunya Thomas Friedman, the World is Flat dan kemudian mengkontekskan dengan disparitas berbagai aspek di Indonesia yang membuatnya sulit untuk menyesuaikan diri dengan tantangan yang ada. Saya belum satu menit berbicara ketika sang profesor memotong dengan berulang-ulang mengatakan "intinya!". Sekarang, semua mahasiswa yang tadi menekuri laptop masing-masing mulai terfokus kepada saya dan si profesor. Saya pun mengajukan kalimat pertanyaan saya. 

Ketika si professor menanggapi, sampai pada 1 menit pertama, saya tidak mendapatkan poin yang berhubungan dengan apa yang saya sampaikan. Melihat hal tersebut, saya menyampaikan bahwa menurut saya apa yang dia bicarakan tidak dalam konteks pertanyaan saya. Maka saya menyampaikan ulang maksud saya dengan menjelaskan lebih detail konteks pertanyaan saya dan apa yang saya harapkan dari tanggapan beliau. Saya juga menyampaikan mengapa dalam diskusi ini saya tidak bertanya, tapi saya meminta pendapat beliau sebagai expert untuk membandingkan dengan apa yang saya baca, apa yang saya sintesa dari fakta dan bacaan dan kemudian saya sintesa lagi dengan pendapat beliau. Sintesis akhir itu adalah hak prerogratif. Saya sedikit menekankan bahwa dalam kelas ini kami tidak melakukan tanya jawab tetapi berdiskusi. 

Sesi tanya jawab adalah sesi untuk proses pembelajaran di sekolah menengah menurut saya. Dalam pembelajaran orang dewasa yang menggunakan prinsip pendekatan andragogy, bukan pedagogy, mahasiswa harus diposisikan sebagai partner. Mahasiswa, apalagi mahasiswa pascasarjana adalah manusia dewasa dengan kemandirian berpikir dan kemampuan analisis yang lebih, begitulah seharusnya. Akan tetapi banyak dosen, terutama dosen dari generasi tua masih mengajar dengan cara yang sangat klasikal dimana mereka menempatkan dirinya pada posisi yang lebih superior dalam hal knowledge. Pembelajaran di universitas seharusnya bukan lagi mengacu kepada knowledge transfer tetapi kepada proses knowledge construct dimana mahasiswa dibekali dengan learning skill dan kemampuan analisis serta critical inquiry yang menjadi slaah satu learning philosophy. Ketika mahasiswa mempunyai bekal ini, mereka akan belajar apa saja dengan lebih mudah. Mereka akan berpikir secara universal, think through.

Satu hal lagi yang sering menjadi hambatan dosen generasi tua adalah kemampuan untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Ini tidak berlaku untuk semua dosen karena saya mempunya beberapa midle-aged profesor yang sangat high tech. Dua orang orofesor favorit saya adalah profesor dengan umur di atas 50 tahun tapi kemampuannya beradaptasi dengan teknologi terbaru tidak kalah dengan mahasiswa yang generasi baru yang memang lahir di era digital. Ketika pertama kali memasuki kelas profesor tersebut, saya langsung menyukai mereka begitu seperangkat gadget keluaran perusahaan Mbah Steve Jobs tergeletak di atas meja mereka. Dan, walaupun saya belum menemukan penelitian yang menunjukkan korelasi antara melek teknologi dengan kemampuan menghidupkan kelas dalam proses perkuliahan, dua profesor ini mempunyai kelas yang sangat hidup. Kelasnya selalu ramai dengan diskusi-diskusi tentang fenomena terbaru yang sesui dengan topik perkuliahan. They also happeneed to be the most engaging professor that I've ever met. 

Saya juga punya cerita berkaitan dengan teknologi. Masih dalam setting yang sama dengan cerita pertama. Salah seorang teman sekelas mengajukan pendapat sambil sesekali matanya melirik ke tablet yang dipegangnya. Sebelum menanggapi pendapat teman saya tersebut, sang profesor dengan nada sinis berkata 

"kalau mau bermain dengan tablet, silahkan di luar kelas saya!"

Mendapati tanggapan seperti itu, teman saya agak tersinggung dan memberikan alasan mengapa ia harus melihat tabletnya. Ia menjelaskan bahwa kasus yang dia bicarakan tertulis di browsing window di tabletnya. Ia harus memastikan data yang dia sampaikan benar seperti yang tertulis dalam laporan yang baru dia dapat di internet yang terkoneksi ke tabletnya tersebut. Kemajuan teknologi membuat semuanya serba real time. Pada saat perkuliahan sedang mendiskusikan topik cross-border student mobility, mahasiswa bisa langsung mencari hasil penelitian terkini tentang topik tersebut dan menyajikannya hangat-hangat di tengah diskusi. Hal ini yang banyak belum dipahami oleh sebagian dosen generasi tua yang lahir dan besar ketika teknologi belum merubah wajah dunia seperti saat ini. Atau sebenarnya mereka paham, hanya kesulitan untuk beradaptasi. Saya mengerti, beradaptasi dengan perubahan yang sedemikian cepat tidaklah gampang, people tend to resist to change.Dan saya angkat topi untuk dosen-dosen generasi tua yang bisa melakukannya. 

Kembali ke judul curhatan saya. Dosen yang bagaimana sih yang menjadi favorit saya. Yang pertama, dosen tersebut masuk ke pertemuan pertama dengan RKKPS yang lengkap terdistribusi ke semua mahasiswa, atau karena ini zaman high tech, silabus dan aturan perkuliahannya bisa dialses di situs pribadinya atau media apapun yang disediakan oleh kampus. Salah satu dosen favorit saya, semua silabus perkuliahan dan bahan perkuliahannya bisa diakses di situs pribadi beliau. Ketika memasuki kelas, anggapannya adalah semua mahasiswa sudah mengakses situs tersebut dan tahu aturan main perkuliah di kelas tersebut. Di sinilah mahasiswa harus berperan aktif untuk reserach tentang perkuliahan dan dosen yang dihadapinya dengan googling atau bertanya ke bagian akademik. Ketika mahasiswa memahami RKKPS dari mata kuliah yang dia ambil, dia akan lebih mudah untuk melakukan self-directed learning, sebagaimana seharusnya pembelajaran pada orang dewasa. 

Yang kedua, dosen favorit dalam versi saya menempatkan mahasiswa dalam posisi setara. Tentu saja dalam koridor etika hubungan dosen-mahasiswa. Ada satu hal mengapa dosen dan mahasiswa harus dalam posisi setara, keduanya adalah insan akademis dengan kemampuan menyerap pengetahuan yang sama dan berada dalam mimbar kebebasan akademik. Yang membedakan keduanya adalah dosen mungkin mempunyai wisdom dan pengalaman yang lebih sehingga mahasiswa belajar dari hal tersebut. 

Yang ketiga, dosen tersebut menempatkan posisinya sebagai inspirator dan motivator. Ketika seseorang mempunyai motivasi yang tinggi, dia akan melakukan apa saja. Maka tugas dosen adalah menajga agar mahasiswa tetap termotivasi untuk belajar dan memperluas pengetahuan mereka, melihat dan mengkritisi fenomena dan kejadian di sekelilingnya dengan pijakan dasar yang kuat dan diterima secara intelektual. 

Yang keempat, pada akhirnya semua skill tadi harus dibungkus dengan kemampuan komunikasi yang baik karena proses perkuliahan adalah interaksi dan komunikasi. Kemampuan komunikasi di sini bukan hanya kemampuan berbicara dan mendeskripsikan. Terkadang kita terpaku bahwa kemampuan komunikasi hanyalah kemampuan berbicara seperti seorang orator ulung yang memukau. Kita melupakan. Salah satu aspek komunikasi yang penting, yaitu kemampuan mendengarkan dan berempati. Dan ini menurut saya adalah kemampuan yang paling sulit. 

Pada akhirnya, tulisan saya ini tidak bermaksud untuk mengeneralisir bahwa dosen-dosen kita berkwalitas seperti gambaran cerita saya tadi. Menarik untuk melihat indikator penilaian perguruan tinggi yang dipakai oleh Times Higher Education yang dipakai untuk menilai perguruan tinggi secara world wide. Sebesar 30% proporsi nilai disumbang oleh indikator "teaching" dengan beberapa sub indikator di bawahnya seperti teaching process dan learning environment. Ketika kita ingin meningkatkan daya saing pendidikan negara kita kita secara global, sudah sepatutnya untuk mengevaluasi dengan jujur kwalitas pengajaran di perguruan tinggi negeri ini. Data Kemendiknas menunjukkan bahwa baru 47% dari ratusan ribu dosen di negeri ini yang tersertifikasi. Tentu saja, kita harus menelisik lebih dalam, apakah yang membuat kwantitas tersebut serendah itu. Apakah karena memang dosennya tidak lolos sertifikasi atau karena sistem yang membuat proses sertifikasi sulit sehingga banyak dosen yang kesulitan untuk mengurus berkas sertifikasi. Seharusnya petanyaan kedua, bisa terjawab oleh dukungan teknologi yang serba online dan juga celah otonomi yang semakin luas diberikan kepada perguruan tinggi. 

Monday, November 18, 2013

#Cerita Jogja: Catatan Awal Musim Hujan Seorang Mahasiswa Jogja

Guest house baru di seberang sawah di belakang rumah kami sudah rampung dibangun. Tapi setiap hari masih ada saja pekerja yang mengerjakan hal-hal kecil untuk merapikan guest house itu. Balkonnya berhadap-hadapan dengan porch belakang rumah kami sehingga ketika saya sarapan atau bersantai di teras saya bebas memperhatikan kegiatan di sana. Thomas mengusulkan agar setengah balkon saya dipasangi tirai bambu dengan alasan bisa bebas bertelanjang ria di sana. Padahal selama ini kalau saya sedang sendiri di rumah, saya pasti berkeliaran telanjang sampai ke balkon itu. Saya suka merasakan kehangatan matahari pagi tanpa selembar benangpun menghalangi. Setelah benar-benar rampung, guest house di seberang sawah itu jadi mirip pom bensin karena cat merahnya yang mencolok sama persis. Di halamannya ditanami pohon-pohon yang menurut perkiraan saya setinggi lebih dari sepuluh meter yang ketika ditanam diderek dengan alat derek dari kendaraan konstruksi yang sebagai tetangga tentu saya juga mendengar kebisingan yang ditimbulkan dari pembangunan guest house ini. Bahkan pada pesta yang mereka adakan untuk meresmikan guest house ini mereka  menimbulkan kebisingan sampai jauh malam.

Sawah yang memisahkan rumah saya dengan guest house itu kini mulai ditanam mengikuti hujan lebat yang beberapa hari ini mengguyur Jogja. Musim hujan telah resmi datang. Seperi biasanya, nenek tua yang mengerjakan segalanya sendiri itu menggemburkan tanah dan menanami lahannya sendiri. Beberapa hari kemudian tumbuhan-tumbuhan hijau yang sepertinya kacang tanah sudah menghijau menutupi tanah cokelat yang beberapa minggu sebelumnya kering. Tinggal menunggu kurang lebih tiga bulan kemudian setelah mereka panen, maka tanamannya akan berganti dengan padi. Buah-buah pepaya yang hanya berjarak seuluran tangan dari pagar balkon saya menguning ranum.

Bunga-bunga kamboja di depan rumah yang pada musim panas kemarin melimpah sekarang berkurang dan komposisi daun menempati porsi terbanyak. Entah kenapa ibu-ibu yang sering memunguti bunga kamboja dari luar pagar tidak pernah muncul lagi. Maka, halaman rumput yang sepetak di bawah pohon kamboja itu penuh dengan bunga kamboja yang kering, setengah layu dan yang masih segar. Suyono sudah jarang datang untuk merapikan taman kecil itu, saya juga tidak pernah lagi mengumpulkan bunga kamboja untuk saya tata di kamar mandi dan beberapa meja di rumah seperti dulu. 

Tetangga baru kami, Chris adalah seorang pemuda Amerika yang bekerja di Jogja. Ia tinggal dengan pacarnya. Selang beberapa minggu kemudian pacarnya berganti dengan gadis asli Jogja yang ketika pagi hari bau masakannya sangat mengganggu. Entah apa yang dia masak. Suatu hari ketika saya di kamar mandi, saya tidak sengaja melihat keluar jendela yang pemandangannya langsung ke kolam ikan dan dapur mereka di bawah sana. Pemandangan yang saya dapatkan benar-benar menimbulkan suasana canggung setelahnya. Saya melihat si Chris dan pacarnya tengah bergulat di atas meja makan tanpa selembar benang pun melekat di tubuh mereka dan pandangan mata saya tertumbuk dengan mata pacarnya. Ketika saya ceritakan ini kepada Dad, dia mengomel panjang lebar dan mengira saya sengaja mengintip. Hahaha, sebaiknya tidak bercerita.

Hal yang paling menyenangkan adalah mangga sudah memenuhi kotak-kotak buah di Supermarket. Harganya turun drastis dari harga ketika di luar musim yang mencapai 15 ribu per buah. Kemarin kami membeli 4 buah yang besar-besar dan ketika ditimbang price tag yang tertempel hanya 13 ribu saja. Akhirnya pesta mangga dimulai lagi. Lupakan buah-buah alternatif seperti apel, semangka, dan melon. Keranjang buah di rumah kami akan selalu penuh dengan mangga dan pisang sekarang. Tidak ada yang bisa menggantikan pisang. Maka, makan siang kami sebelum gym session kemarin adalah protein shake dengan mangga dan pisang.

Topik Demographic Window, Midle-income trap, ASEAN Community dan Asian Century sedang menjadi topik seru di Jurusan Kebijakan Publik dan forum-forum mahasiswa jurusan sosial. Topik yang tidak terlalu dipahami di jurusan utama yang saya ambil. Beruntung semester ini saya mengambil kuliah di Jurusan Kebijakan Publik juga. Maka, hampir semua paper saya untuk tugas di jurusan utama saya ada kaitannya dengan topik di atas. Dan itu sangat memberi warna dan memancing diskusi panas di kelas. Sayangnya, topik connectivity, infrastructure and investment yang saya ramu menjadi policy paper untuk scenario menghindarkan Indonesia dari middle-income trap tidak disambut hangat oleh sang professor pengampu mata kuliah Analisis Kebijakan Publik. Sepertinya dia secara tidak langsung mengarahkan semua kelompok mahasiswa di kelas kami untuk membahas skenario pembangunan modal manusia melalui pendidikan. Berkutat dengan data-data statistik dari World Bank dan Economic Forum membuat saya menyadari saya membutuhkan keahlian untuk meramu angka-angka ini untuk menjadi paragraf-paragraf fakta yang menarik. Dad adalah orang yang sangat ahli mengawinkan data-data statistik dengan konsep-konsep teori, baik demografi maupun ekonomi. Saya harus belajar darinya.

Minggu kemarin ditutup dengan dua buah seminar yang sangat luar biasa. Semiar pertama diadakan oleh mahasiswa Hubungan Internasional dengan topik Asian Community di mana saya terlibat debat panas dengan salah satu pembicaranya. Seminar ini berbahasa Inggris. Bukannya saya tidak menyukai bahasa Indonesia, untuk beberapa kasus bebicara dengan bahasa Inggris terasa lebih bebas dan efektif termasuk dalam debat saya dengan salah satu pembicara seminar itu. Di akhir sessi saya berkesempatan untuk berdiskusi dengan pembicara yang lainnya seorang doktor muda Australia dari Melbourne University yang fokus pada studi ASEAN. Beda diskusi dengan para akademisi asing adalah mereka menempatkan kita pada posisi yang setara tidak seperti kebanyakan akademis kita.

Hari berikutnya saya mengikuti seminar internasional yang lain yang menghadirkan direktur World Bank, menteri perencanaan pembangunan nasional, dosen muda FEB UGM, direktur BRI dan kepala kantor perpajakan. Seminar ini juga ful berbahasa Inggris dan dimoderatori oleh seprang penyiar Metro TV favorit saya Dalton Tanonaka. Saya beruntung berkesempatan untuk mengemukakan pendapat dan mengajukan pertanyaan di seminar ini. Pembicara favorit saya adalah ibu muda yang menjadi direktur World Bank itu, Vivi Alatas. Kemampuannya menggabungkan angka-angka statistic dengan retorika yang menawan benar-benar memukau. Di akhir seminar saya sempat terlibat obrolan dengan Dalton Tanonaka dan tentunya berfoto bersama. Seminar ini benar-benar terorganisir dengan sangat baik dan professional. Sponsor-sponsor besar yang mendukung acara ini mengingatkan saya akan bagaimana beratnya mencari sponsor sebuah seminar ketika masih kuliah S1 dulu. Seminar atau acara apapun yang diadakan oleh mahasiswa fakultas ekonomi dan bisnis selalu lebih wah. Mereka bahkan menyediakan wall lengkap dengan fotografer pro untuk sesi foto dan menawarkannya kepada setiap peserta untuk berfoto yang akan memasuki ruang seminar. Semua paniatianya memakai dress code yang menawan. Jalan masuk dari meja registrasi ke ruang coffee break sampai ke hall tempat seminar dipagari oleh gadis-gadis cantik bergaun ungu. Setiap pembicara diantar oleh seorang liaison officer.

Penutupan minggu ini adalah sesi latihan panjang di gym ketika hujan lebat mengguyur di luar sana. Mengendarai sepeda motor di tengah hujan lebat dimana sebagian jalanan berubah menjadi sungai benar-benar pengalaman yang menyenangkan. Berendam di whirpool air panas setelah gym session yang menguras tenaga di tengah  cuaca dingin seperti ini benar-benar mengembalikan energi. Saatnya menghadapi ujian mid yang penuh dengan tugas-tugas paper. Selamat menyambut musim hujan Jogja!



Monday, November 11, 2013

#Cerita Jogja: EB Cafe; Academic Atmosphere di Langit Jogjakarta

Pic is taken from EB Cafe's twiiter account; @EB_cafe

Kuliah Prof. Sofyan Effendi hari ini kosong. Kabarnya beliau masih sakit. Saya tetap berangkat pagi-pagi dari rumah. Tujuan saya pagi ini adalah Pertamina Tower lantai 8. Dari majalah FEB, saya dapat informasi kalau di sana ada coffee Shop yang cozy. Dengan kemeja denim biru vintage dan celana Chinos merah marun, saya bergegas ke Pertamina Tower setelah memarkir sepeda motor. Jalan aja deh, nggak sempat ambil sepeda.

Sempat nyasar karena saya salah mengingat lantai tempat Coffee Shop ini berada. Begitu pintu lift terbuka di Lantai 8, hidung saya langsung menangkap aroma khas kesukaan saya. Aroma kopi. Sontak bibir saya melengkung kan senyum. Otak saya bersorak kegirangan. Saya selalu mengalami ‘trance’ ketika mendapati hal-hal yang saya sukai sekali. Kadang-kadang hal-hal simpel. Coffee Shop yang bagus, sudut nyaman di perpustakaan, lagu bagus di headset ketika bersepeda mengejar kuliah, pantai favorit saya di Bali sedang lengang dan kursi favorit saya di samping jendela darurat pesawat tersedia. Sesederhana itu.

Saya terbelalak ketika melihat ruangan coffee Shop di hadapan saya. Para barista, sofa cozy di sudut ruangan, papan bertuliskan kapur, taman kecil di tengah-tengah dengan lampu taman, halaman rumput dengan batu kali yang ditata di pinggirnya. Otak saya langsung merespon dengan membawa memori saya ke Bali. Owh, I really Miss Bali now. And when I Miss Bali, it must be you in my Mind! Yes, it's you, blue eyes!

Saya tidak sempat bersama-lama larut dalam kerinduan saya dengan Bali karena pendangan yang tersaji di hadapan saya benar-benar spektakular. Well, saya belum pernah berada di bangunan tertinggi di kota ini. Makanya, melihat pemandangan lepas ke seluruh penjuru Jogja dari dinding kaca dan jendela kafe ini begitu membuat saya takjub. Gunung Merapi di sebelah utara tampak menjulang dengan separuh badannya tertutup kabut. Bangunan-banguan padat yang berujung di pegunungan sebelah selatan menciptakan perspektif di otak saya bahwa kota ini tidak terlalu besar. Ia kota kecil yang vibrant dan berjiwa yang denyutnya dipompa oleh nuansa akademis dari berbagai perguruan tinggi yang tersebar di penjuru kota, ia dihidupkan oleh denyut-denyut kegiatan seni di berbagai sanggar, galeri, kafe-kafe, komunitas dan keseharian penduduknya. Ia adalah pusat beradaban tua, peradaban Jawa. Sekilas dari ketinggian ini saya melihat kota ini seperti sebuah kuwali yang pinggirannya adalah gunng-gunung dan bukit-bukit. Melihat sebuah kota dari atas langit seperti ini membuat kita seolah berkuasa dan mengendalikan. Rasa yang banyak menghanyutkan manusia sehingga menjadi sewenang-wenang.

Puas melayangkan pandangan ke seluruh penjuru Jogja, saya segera memesan secangkir Vanilla latte. Sejujurnya, saya tidak terlalu mempedulikan rasa kopi di hadapan saya karena saya lebih tertarik dengan apa yang ada di sekeliling saya. Mahasiswa-mahasiswa muda yang tengah asyik berdiskusi atau sekedar mengobrol melepas penat dari perkuliahan yang padat, seorang mahasiswa asing berambut pirang yang tengah asyik dengan diktat kuliah, beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang tengah seru berdiskusi sambil sesekali menyeruput minuman, para barista yang bercakap-cakap ramah dengan beberapa pelanggan yang diselingi suara lengkingan atau bas barista yang meneriakkan pesanan yang sudah siap,  dan pelanggan yang bolak-balik menuju bar mengambil pesanan mereka. Ini adalah suasana sempurna yang saya inginkan dari sebuah cafĂ© di kampus. Setidaknya, saya merasakan atmosfer sebuah kampus modern meruap di tempat ini.

Menciptakan academic atmosphere tidak melulu melaui pertemuan antara mahasisw dan dosen dalam sessi kuliah. Malahan public space yang asyik seperti ini di mana para akademisi bertemu dengan tidak formal dan terlibat dalam percakapan santai kan melahirkan ide-ide yang mungkin akan menjadi proyek yang dikerjakan bersama. Proyek research misalnya. Pertemuan kelas yang formal apalagi jika suasana yang tercipta tidak interaktif dan kaku hanya akan mengekang otak sehingga ide-ide kreatif tidak tercetus. Saya malah membayangkan kafe ini membuka booth-booth di setiap fakultas atau tempat mahasiswa beraktifitas seprti perpustakaan dan sekretariat UKM where people can easily grab their morning coffee while rushing for the next class or their first class in the morning. In certain extent, caffeine is really healthy. Believe me! Tentu saja variasi menu seprti fresh juice, cocktail, dan buah segar juga bisa menjadi pilihan alternatif bagi yang tidak suka kopi. And yes, real cake please!

Memperhatikan pengunjung beserta atributnya menjadi keasyikan tersendiri buat saya. Memperhatikan apa yang mereka kenakan, gadget yang mereka tenteng, dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Tentu saja saya menginginkan sepatu boot yang dipakai mahasiswa yang duduk sendiri di sudut dekat bar itu. Saya juga senang melihat paduan busana yang dikenakan oleh gadis dengan rambut teruai sebahu yang tertawa lepas di meja dekat taman.


Matahari mulai meninggi. Udara sudah terlalu hangat untuk dinikmati. Saatnya menuju ke kelas selanjutnya. Saya bersemangat karena merasa amat senang menemukan salah satu sudut lagi yang menjadi favorit saya di kampus ini. Sepertinya, saya akan sangat mudah untuk menyukai kampus ini.l mudah-mudahan itu juga membuat saya mulai menyukai Jogja. Tempat ini akan menjadi salah satu saksi perjuangan saya menuntut ilmu di kota ini.  

*Catatan awal masuk kuliah tahun lalu yang terselip di antara file-file paper dan bahan kuliah*

Saturday, November 9, 2013

#Cerita Jogja: Merubah Rutinitas; Obat Anti Malas dan Bosan

Bosan dan malas menjadi hal yang paling menyebalkan ketika sedabg dihadapkan dengan tumpukan deadline pekerjaan maupun tugas kuliah. Pekerjaan dan aktifitas yang dilakukan sehari-hari bisa menjadi jebakan rutinitas yang menyebabkan bosan, malas dan tidak kreatif. Hal inilah yang melanda saya beberapa hari sebelumnya. Saking malasnya, saya sampai malas untuk ngegym, malas hanya untuk pindah dari tempat duduk ke sofa yang lebih nyaman pada saat menonton televise, malas buat mengambil minuman di kulkas padahal jaraknya hanya beberapa langkah, malas melakukan rutinitas cuci muka sebelum tidur dan tentu saja malas menyentuh paper-paper yang dalam hitungan hari akan menghadapi deadline.

Setelah saya berpikir, saya berada di titik jenuh dari semua aktifitas saya. Setelah merenungkan semua rutinitas yang telah saya lalui, saya mendapat ide untuk merubah waktu aktifitas yang bisa saya kendalikan seperti ngegym. Saya merubah waktu ngegym dan berenang di pagi hari sebelum memulai aktifitas yang lain. Konsekuensinya saya harus membiasakan diri untuk tidur lebih awal agar tidak tidur lagi setelah subuh seperti biasanya. Ternyata beraktifitas di tengah  suasana pagi sebelum matahari bersinar terik sangat menyenangkan. Pagi-pagi buta saya sudah mulai membuat sarapan dan kopi kemudian membaca sedikit dan berangkat ke gym setelahnya.

Di gym pagi-pagi seperti itu ternyata sudah sangat ramai. Kebanyakan adalah para pekerja yang ngegym sebelum jam kerja. Berenang pagi-pagi menjadi sangat menyenangkan karena kolam renang seringkali hanya berisi saya. Serasa mempunyai kolam renang pribadi. Saya juga banyak bertemu orang  baru di gym yang tidak saya lihat sebelumnya karena saya biasanya ngegym di sore atau malam hari. Saya jadi tahu kalau mbak-mbak model berkulit eksotis itu ternyata ngegym di situ juga. Saya bertemu bapak-bapak dengan kacamata keren dengan gym bag super gede yang dipenuhi toiletries bermacam-macam. Dan dia selalu ditunggui oleh supirnya. Sepertinya bapak-bapak eksekutif. Tapi satu hal yang membuat saya penasaran, pejabat-pejabat kampus saya ngegym di mana ya? Or mereka tidak ngegym makannya gendut-gendut? Ada banyak sih anak kampus saya yang ngegym di sini, tapi semuanya anak kedokteran yang ke gym pun membawa diktat kuliah yang mereka baca sambil latihan kardio di treadmill.

Hasil dari merubah rutinitas tersebut, cukup memberikan perubahan yang signikan. Paper perlahan tapi pasti mulai terselesaikan karena saya ternyata lebih produktif di pagi, sore dan malam hari. Biasanya malam hari saya mudah tepar karena sehabis ngegym sore atau malam, saya sangat gampang untuk jatuh tertidur.


Mumpung sedang sendiri, saya berencana untuk merubah kebiasaaan sarapan saya dengan safari sarapan ke beberapa kafe yang tersebar di Jogjakarta. Rasanya pasti menyenangkan membaca atau mengerjakan paper sambil menikmati latte di salah satu kafe yang ada. 

Wednesday, November 6, 2013

Sit-in Class dan Student Mobilization; Unek-Unek Seorang Mahasiswa

Salah satu hal yang membuat peradaban manusia terus berkembang adalah karena adanya mobilisasi manusia baik itu antar kota, antar negara maupun antar benua. Mobilisasi ini kemudian menghasilkan interaksi, interaksi menghasilkan komunikasi dan pertukaran ide dan pada akhirnya mengarah kepada kerjasama.  Bayangkan ketika seandainya dulu Vasco da Gama tidak melakukan perjalanan dengan tim ekspedisinya (mobilization), maka belum tentu peradaban sebesar Amerika sekarang belum tentu ada. Negara ini pun kalau tidak ada mobilisasi orang-orangnya untuk mempelajari kelebihan peradaban negara lain yang lebih maju ataupun juga mengambil pelajaran dari negara yang terbelakang agar tidak melakukan kesalahan seperti negara tersebut, belum tentu Indonesia bisa berada pada posisinya yang sekarang ini.

Pergerakan ekonomi dan politik global membuat mobilisasi antar garis batas teritori semakin mudah dilakukan. Bahkan mobilisasi manusia tersebut menghasilkan kerjasama yang luar biasa seperti yang dilakukan oleh negara-negara Eropa yang membentuk Uni Eropa dimana bukan hanya mobilisasi antar negara yang semakin mudah tetapi juga kerjasama yang semakin tanpa batas. Bahkan mereka kemudian terhubung secara moneter dengan memakai satu mata uang tunggal yakni Euro. Secara regional Asia, kita pun akan menghadapi Asian community 2015 yang akan memberlakukan free transfers on goods and people.  Ada tiga kata kunci yang akan menjadi bahan cerita saya kali ini yaitu Mobilization, connectivity dan Cooperation.

Semua hal di atas tentu saja membutuhkan modal yang besar bukan hanya modal dalam arti sempit yang berupa uang tetapi terlebih mencakump modal manusia dan modal kebijakan. Modal manusia membutuhkan orang-orang yang berpikiran terbuka, melihat dengan perspective opportunity, dan bermental pembelajar. Ketika orang-orang mempunyai karakteristik tersebut mereka tidak akan menjadi orang yang takut dengan perubahan dan mencurigai hal-hal baru sebagai ancaman. Modal kebijakan menurut saya adalah kebijakan yang mengakomodir peluang, fleksibel dan deliberatif. Karakteristik kebijakan yang seperti ini akan menghasilkan peraturan yang tidak mengekang ide-ide baru dan menghalangi pergerakan perubahan.

Semester ini saya berniat mengambil SKS yang tidak terlalu banyak di program Master tempat saya belajar karena saya ingin mengikuti beberapa mata kuliah yang menurut saya sangat saya butuhkan untuk kompetensi saya ke depannya. Untuk itu saya berencana melakukan sit-in yaitu mengambil beberapa mata kuliah di program lain. Saya berniat mengikuti perkuliahan di program lain untuk kompetensi tersebut. Mata kuliah pertama yang ingin saya ikuti adalah Methodologi Penelitian, Analisis Kebijakan Publik dan konsep dan Isu Pembangunan. Mata kuliah yang saya inginkan tersebut tersebar di dua program Master berbeda di dua Fakultas yang berbeda pula. Untuk mata kuliah metodologi penelitian, saya beruntung saya bisa langsung bertemu dengan dosennya pada saat makan siang di kantin. Beliau sangat senang ketika saya mengutarakan keinginan saya untuk sit-in di kelasnya. Segera setelahnya saya bertemu dengan dengan pengelola program Master tempat dosen tersebut mengajar untuk membicarakan prosedur sit-in di program tersebut. Awalnya jawaban yang saya dapatkan adalah bahwa mahasiswa program studi lain bisa melakukan sit-in class di program tersebut dengan persetujuan pengelola. Saya segera menanyakan bagaimana prosedur untuk mendapatkan persetujuan yang menurut saya wajar karena ini hal formal. Akan tetapi pada akhirnya saya sangat kecewa karena setelah lama menunggu, jawaban yang saya perolah adalah bahwa saya tidak diperkenankan untuk melakukan sit-in di program tersebut dengan alasan bahwa sit-in hanya diperbolehkan bagi mahasiswa fakultas tersebut saja.

Saya akhirnya menuju ke Master Administrasi Publik yang mempunyai program master Kebijakan Publik. Sampai di sana, saya diterima dengan sangat ramah oleh bagian akademik yang mendengarkan pemaparan tentang rencana dan keinginan saya. Dia memang tidak memberikan keputusan saat itu karena ia harus membicarakan dengan pengelola program dan berjanji akan menghubungi saya secepatnya.

Benar saja, saya tidak perlu menunggu keesokan harinya untuk mendapatkan keputusan dari pengelola program Master Kebijakan Publik. Bagian akademik menghubungi saya sore itu ketika jam kantor hampir usai. Mereka menerima saya sebagai mahasiswa sit-in dengan beberapa ketentuan procedural. Ib ukepala bagian akademik malah mengatakan salut dengan usaha saya untuk self educating memenuhi pendidikan saya yang tidak bisa disediakan sepenuhnya oleh program master tempat saya belajar. Saya sangat terkesan dengan respon, keterbukaan dan keramahan mereka.

Menurut saya, fleksibilitas untuk bermobilisasi antar jurusan bahkan antar universitas sangat diperlukadengan alasan-alasan sebagai berikut . Pertama, dengan mempunyai mekanisme mobilisasi sebuah universitas memberikan kesempatan kepada mahasiswanya untuk belajar bidang yang di luar dari fokus bidangnya. Hal ini juga bisa membantu mahasiswa memilih untuk mengikuti mata kuliah tertentu yang sama dengan mata kuliah yang ada di jurusannya tapi dengan dosen pengampu yang berbeda yang lebih sesuai dengan pilihannya. Hal ini juga menjadi pilihan bagi mahasiswa yang mengulang mata kuliah tertentu tanpa harus menunggu beberapa semester sampai mata kuliah itu dipasarkan di jurusannya. Kedua, sistem mobilisasi seperti ini ketika diterapkan antar universitas bisa menciptakan kesetaraan dalam hal akses (equity access) terhadap kualitas pendidikan yang baik terhadap mahasiswa di Nusantara ini. Bayangkan berapa besar efek yang didapatkan oleh seorang mahasiswa Kebijakan Publik yang belajar di Universitas Nusa Cendana dengan mendapatkan kesempatan untuk mobilisasi satu semester di jurusan yang sama di Universitas Indonesia misalnya. Saya yakin dia akan mendapatkan pengalaman yang berbeda, cara pandang yang berbeda dan mungkin motivasi karena academic atmosphere dan kualitas perkuliahan yang dia dapatkan jauh lebih bagus daripada yang dia dapatkan di Universitas tempatnya kuliah. Ketika kembali, dia akan menginspirasi teman-temannya yang lain atau bisa jadi dia akan menjadi agen perubah di universitas tersebut. Ketiga, mobilisasi ini akan membuka sekat-sekat ekslusifitas bidang ilmu yang selama ini masih melekat. Dalam tantangan global seperti sekarang ini, perkembangan ilmu pengetahuan semakin inter-disipli (inter-disciplinary) dimana hubungan antar bidang keilmuan membuat seseorang tidak cukup hanya mengusai bidang keilomuan yang menjadi fokusanya saja tapi juga fasih berbicara dalam konteks bidang keilmuan yang lain. Apalagi syarat untuk menjadi expert dan  pemikir zaman ini seseorang dibutuhkan untuk menjadi lebih general. Artinya, kita membutuhkan seorang spesialis yang berwawasan global, seorang ahli pendidikan yang tidak buta ekonomi, kebijakan, dan politik, seorang ahli ekonomi yang mengerti pendidikan dan biodiversity dan sebagainya.


Mungkin luapan pemikiran saya dalam tulisan ini masih sangat emosional sehingga sedikit ruwet. Tapi pada intinya, kita harus terbuka dan fleksibel atau dengan bahasa yang lebih spesifik menghilangkan sekat-sekat yang membatasi seseorang untuk belajar dan mengembangkan interestnya di bidang keilmuan yang dia inginkan.   Saya sendiri sangat merasakan keuntungan sit-in mengikuti perkuliahan Analisis Kebijakan Publik yang sangat membantu saya memahami sisi kebijakan dari bidang keilmuan yang saya pelajari karena semua yang dijalankan dalam pendidikan Tinggi yang menjadi fokus perkuliahan saya adalah produk kebijakan publik. 

Monday, November 4, 2013

#Cerita Jogja: My Sanctuary; Tempat Mengamati Orang di Jogja


Saya tengah dilanda jenuh akhir-akhir ini. Jenuh yang menggiring kepada kemalasan yang membuat saya jauh dari kata produktif. Idealnya saya perlu liburan singkat, bukan hanya sekedar libur dalam artian tidak beraktifitas tetapi liburan dalam artian melakukan perjalanan ke suatu tempat. Idealnya sih pantai. Tapi apa daya, saya di tengah-tengah semester yang padat dengan paper-paper yang menumpuk dan persiapan proposal tesis yang ironisnya masih jauh dari kata rampung. Untunglah saya mempunyai tempat yang saya anggap sanctuary yang untuk mencapainya saya tidak perlu melakukan perjalanan jauh ke luar kota, bisa dijangkau dalam waktu kurang dari 20 menit. Tempat tersebut adalah Health Club tempat saya excercise saban hari di Jogja.



Gym ini terletak di seuah hotel dan dikelola dengan sangat baik. Untuk membership selama1 tahun saya mendapakan fasiltas aerobics class, yoga class, body shaping class, sauna dengan whirpool, kolam renang dan tentu saja gym. Saya juga bisa berkonsultasi cuma-Cuma dengan dokter yang disediakan oleh Health Club ini. Hotel ini dikeilngi oleh halaman berumput yang luas  dengan pohon kamboja di mana-mana. Berada di dalam area hotel ini saya seakan berada jauh dari hiruk-pikuk kota Joga. Apalagi ketika berada di kolam renang. Saya merasa benar-benar seperti sedang berlibur karena saya bisa berenang sepuasnya, berbaring di pool chair dengan handuk renang yang seperti di pantai sambil membaca dan kalau saya mau, saya bisa memesan minuman dari bar di tepi kolam renang  dengan diskon 20 % dengan menunnjukkan kartu keanggotaan.


Setelah dua sesi kuliah di dua jurusan yang berbeda hari ini, saya memacu sepeda motor saya menuju Health Club untuk berenang. Saya ingin melakukan exercise seri Monday sesuai dengan panduan di Men’s Health sebenarnya, tapi punggung, paha dan bokong saya masih terasa sangat sakit karena saya mencoba seri Saturday pada sabtu kemarin. Saya butuh pijatan air di whirpool dan berenang untuk membuatnya mereda.


Jogja sangat panas belakangan ini. Kalau bahasa Jawanya, sumuk. Yaitu panas pengap yang membuat keringat mengalir membasahi pakaian walaupun kita tidak melakukan aktifitas apa-apa. Jadi, berenang adalah pilihan yang sangat tepat.


Di kolam renang hanya ada saya, seorang pemuda yang tampaknya international student dari Cina atau Taiwan dan seorang international student bertampang kaukasia. Bagaimana saya bisa tahu mereka adalah mahasiswa. Sangat gampang sebenarnya karena si tampang kaukasia misalnya, ia membawa buku tebal bertuliskan Macroeconomics yang sejak tadi menutupi mukanya di pool chair. Sementara si tampang mongoloid juga membaca buku yang tampak seperti diktat kuliah. Mungkin si tampang kaukasia adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM yang memang menjadi rumah bagi mahasiswa Internasional yang setiap semester selalu berdatangan. Saya rasa, keberadaan berbagai macam ras inilah yang membuat Jogja semakin menarik.


Pool guard yang selalu mengumbar sapaan ramah menyapa saya, menanyakan mengapa saya sendirian. Hahaha. Memangnya saya harus dating dengan siapa. Kalau dipikir-pikir sapaan ini juga menjadi salah satu pertanyaan pertama yang diajukan oleh orang-orang Indonesia ketika bertemu seseorang. Baik sebagai pertanyaan basa-basi maupun pertanyaan sungguhan. Menurut saya ini terbawa dari kebiasaaan orang Indonesia maupun Asia pada umumnya yang komunal, sering pergi beramai-ramai dan kumpul-kumpul. Apalagi ada istilah Jawa yang mengatakan mangan ora mangan sing penting ngumpul. Nggak saya banget. Saya terbiasa sendiri dan tidak terlalu suka kumpul-kumpul ala Indonesia.


Kalau kita perhatikan orang-orang Indonesia memang suka pergi beramai-ramai. Di tempat wisata misalnya, mereka senang bepergian dalam rombongan besar dan sangat rebut walaupun berisiknya masih di bawah level rombongan turis-turis china yang biasanya bepergian dengan tour bus di Bali. Di cafe misalnya, saya sering sekali mendapati rombongan anak-anak muda dengan kumpulannya yang membuat kafe itu menjadi gaduh sekali oleh mereka. Keberadaan mereka yang mayoritas sepertinya memberikan mereka rasa percaya diri untuk mendominasi. Dan tentu saja, selalu ada sesi foto-foto baik dengan kamera DLSR, kamera saku dan tentu saja kamera di ponsel yang semakin hari semakin canggih atau gabungan dari ketiga-tiganya.

Lihat saja tiga laki-laki yang baru dating itu. Sebelum mereka melepas pakaian untuk berenang mereka sibuk bergiliran foto-foto dengan latar belakang kolam renang, foto setengah basah, foto ketika nyebur dan foto ketika mereka hanya dengan swimming suit yang menurut saya hanya cocok dipakai sebagai dalaman untuk celana basket yang gombrong. Sepertinya harus ada yang memberi pengetahuan kepada para laki-laki tentang aturan dalam pakaian renang.


Ketiga lelaki yang tadi sibuk foto-foto sekarang mulai berenang yang ampun membuat kolam renang ini seperti tengah dilanda sunami kecil. Oke, selain harus ada yang mengajari mereka tentang pakaian renang, yang lebih penting sebenarnya adalah mereka harus belajar berenang dengan benar. Tidak harus seperti para atlit renang, tapi paling tidak berenang yang tidak menyebabkan air terciprat sampai ke sini-sini.



Okay, saya harus pergi sebelum buku saya basah oleh cipratan mereka. Lagipula sesi mengunjungi sanctuary saya hari ini cukup. Rasanya saya sudah ingin kembali menyentuh paper-paper saya yang terabaikan. 

Sunday, November 3, 2013

Simple Box of Happiness 2; Enjoying the People

I'm writing this posting in the departure lounge in Ngurah Rai Airport of Bali after rushing from Seminyak in the slow running traffic. I acted as a manual GPS to lead the taxi driver finding the shortcut to the airport since both of usual way sunset road and Tuban are in the bad traffic. It's the first time I flew to and from Bali after the airport's major renovation to welcome the delegation of APEC conference that will be held in Bali next few months. My feeling is mixed between gloomy and excited. I'm excited because I will visit my mother's home and meet all the families. The gloomy feeling is because I have to leave Bali and wonderful people I've met.

I stayed two days in Bali in this quick stop by. I never get bored to enjoy Bali even though some friends get sick with the reason it becomes too crowded and commercial. For me, I enjoy Bali with my own way, a very simple way. I'm very happy just to walk along the beachwalk in the afternoon while watching people. I'm very excited just to ride the motorbike shirtless along the Pecatu area. I'm happy that I just need to wear nothing but surf shorts, no underwear. I also happy to jog along the beach while other people are enjoying their extra morning sleep that led by the holiday atmosphere.  Yes, it feels like every day is holiday in Bali.

Yesterday I finally made it to have lunch with David, a nice guy from Brisbane. At first we didn't seem to be able to have lunch together since the available time both we have was only enough for eating. What we wanted was having lunch and also conversation since we found that we have lot of things in common. Furthermore, I had to pick him from his place which is quit far from my place. We have agreed not to meet until I changed my mind. I said to him That I don't mind to meet even just for lunch. So, there were we in one of my favorite restaurant in Kerobokan, Litut. 

I love the ambience of the restaurant. Located in the middle of rice field, this rustic styled wooden building creates a tranquiling ambience. Our just-having- dinner turned out to be extra drinks with a very great unstoppable conversation. We talked about culture, economy, language, and of course about people and our life.

David just came back from around South-east Asia trip for total 6 months. What amazed me was how he managed his accommodation. Almost all of the accommodations he stayed in were the houses or apartments of friends.  It really reflects that he is the kind of guy who is warm and really easy to make friends. Yes, from the 3 hours of our interaction, I know that he is lovable guy. He has that kind of quality that attracts people to get close to him.


In the end, I have to separate with David that afternoon when his friend, Komang, a Balinese guy came to pick him up for the 'curhat session with him. Komang is passing hard time after the break up with his boyfriend and He needed David to tell his story. When we were standing outside the restaurant saying good bye, David pulled me to his arm and hug me tightly. I can see clearly that both of us wanted more time together but unfortunately we couldn't make it.  Dinner should be perfect time. However, that lunch meeting energized me and increased the bars of happiness in me. Dad will be very happy to see that I am animated like how usually I was. His animated happy boy is back!

Thursday, June 27, 2013

Dikutuk Naik Kereta Ekonomi

Ketika menulis postingan ini, saya sedang duduk di kursi gerbong ekonomi kereta Api Malabar, perjalanan balik ke Jogja. Awal perjalanan ini saja hawa-hawanya sudah tidak enak, penuh dengan kekacauan yang disebabkan oleh kecerobohan saya sendiri. Kecerobohan pertama adalah ketika saya akan membeli tiket di stasiun. 

Jam setengah sebelas siang Malang masih dingin yang membuat saya malas mandi. Berani mencuci muka saja sudah keren sekali. Di sini paginya awet sekali. Udara berkabut dan hawa dingin seperti ini bisa bertahan sampai sore. Saya ngebut ke stasiun Malang untuk membeli tiket Malioboro Ekspress yang menurut saya keberangkatannya adalah Jam 11.30 siang. Kebiasaan buruk saya adalah selalu membeli tiket kereta api go show. 

Di loket stasiun, dengan percaya diri saya minta  satu tiket Malioboro Ekspress. Mas-mas  penjual tiket memandang saya dengan pandangan heran bercampur kasihan. Rupanya saya salah mengingat jadwal keberangkatan kereta yang saya inginkan. Malioboro Ekspress berangkat dari Malang jam 8 pagi saudara-saudara. Tidak lebih dan tidak kurang. So, saya harus dihadapkan dengan kenyataan saya harus kembali naik kereta Api Malabar tujuan akhir Bandung yang saya benci banget. Apa pasal? Saya nggak rela disuruh membayar tiket tujuan Jogjakarta seharga tiket jurusan Bandung yang mana harga tiket untuk kelas Bisnis dua kali lipat harga tiket Malioboro Ekspress. Karena saya sudah terlalu kangen rumah di Jogja, saya akhirnya merogoh kantong dengan berat hati untuk menebus tiket yang saya benci itu. 

Stasiun Malang; Kekacauan Tingkat Dewa (Mabuk)
Saya benar-benar shock ketika melangkahkan kaki memasuki stasiun Malang. Manusia berjubel mengular bengkok-bengkok seperti ular keseleo mengantri tiket dengan dikawal banyak petugas berseragam. Orang-orang bergelesotan duduk di atas lantai dengan buntalan-buntalan besar, koper-koper obesitas atau carrier-carrier segede bagong. Petugas ceking berseragam security berteriak-teriak melalui mikrofon meneriakkan nomor antrian pembelian tiket dan loket tempat pembeliannya. Oalah, mengapa seribet ini ya? 


Bayangakan, untuk membeli satu tiket, pertama-tama saya harus mengisi form pembelian tiket dengan kolom-kolom bejibun di meja yang dihuni oleh dua orang mbak-mbak yang sudah kehilangan senyum. Setelah itu saya harus mengantri di loket dan menyerahkan form yang saya isi ke petugas loket dan kemudian menunggu petugas loket tertaih-tatih mengetik menyalin isi form yang saya serahkan. Setelah itu, saya harus menunggu dan kalau rela harus duduk di atas lantai seperti penumpang lain menunggu pintu ruang tunggu dibuka, dan tentu saja mengantri lagi menunggu untuk mendapatkan stempel di atas tiket saya dan mencocokkan tiket dengan kartu identitas. Baru deh saya bisa berjalan melenggang ganteng di ruang tunggu. Padahal kan saya sangat suka ruang tunggu, terutama ruang tunggu stasiun besar dan airport. Menurut saya ini benar-benar penistaan terhadap ilmu manajemen dan prinsip efisiensi. 


Untuk melayani 1 orang masuk ke ruang tunggu stasiun kereta api saja membutuhkan 7 tenaga manusia; 2 di bagian pengisian form pembelian, 1 petugas yang berdiri di samping antrian di depan loket, 1 di loket, dan 3 di pintu masuk ruang tunggu. Itu baru di satu stasiun. Bisa anda bayangkan berapa anggaran yang harus dikeluarkan oleh PT. Kereta Api Indonesia untuk menggaji karyawan yang begitu banyak. Sekali lagi, menurut saya yang penuh perhitungan ini, itu benar-benar penistaan terhadap efisiensi. Oportunity costnya terlalu besar untuk selembar tiket. Coba kalau kita putar ulang adegan saya membeli tiket tadi dengan versi ideal yang menurut saya lebih efisien dan menyenangkan. 

Versi 1
Saya berjalan lurus segaris memasuki peron dengan langkah-langkah panjang, kemudian mengantri di loket pembelian tiket. Ketika giliran saya, saya tersenyum manis ke petugas loket, menyebutkan tiket yang saya inginkan, menunjukkan kartu identitas kemudian bayar deh. Langkah selanjutnya tentu saja melenggang masuk ke ruang tunggu, duduk di coffee shop dan menyeruput kopi dengan ganteng. 

Versi 2
Saya melenggang santai sambil kipas-kipas muka pakai Ipad 4 (ditampar pakai Ipad), berhenti di depan sebuah mesin, tekan sana-tekan sini, masukkan sejumlah uang, dan akhirnya dengan ganteng mengambil tiket yang diprint otomatis oleh mesin. Langkah selanjutnya tentu saja melangkah lurus segaris ke ruang tunggu setelah menscan tiket di X-ray pintu masuk. Kemudian saya bisa duduk-duduk di coffee shop sambil cuci-cuci mata. 

Mungkin inefisiensi ini hanya terjadi di beberapa stasiun saja karena di Stasiun Tugu di Yogyakarta saya membeli tiket dan memasuki ruang tunggu dengan sangat gampang. Mungkin penerapan manajemen di stasiun tertentu terhalang oleh cultural barrier, budaya orang yang tidak gampang mengikuti aturan, budaya orang yang susah untuk mengantri. Dan believe me diselak orang diantrian itu membuat anda rajin-rajin mengelus dada (montok hasil latihan keras di gym). Hambatan besar dalam menerapkan manajemen memang adalah merubah mental orang. You can apply gorgeously good system but it doesnt constantly change your people. 

Nah kembali ke cerita saya. Mengapa saya bisa berakhir dengan naik kereta api ekonomi? Semua bermula dari kebiasaan saya membeli tiket go show dengan anggapan bahwa rute perjalanan Malang-Bandung bukanlah rute yang padat. Ketika berdiri di depan loket, dengan manisnya si Mbak penjual tiket bilang kalau yang tersisa hanyalah tiket kereta api kelas ekonomi. Sekali lagi, saya tidak rela membayar tiket kelas ekonomi yang lebih mahal daripada tiket Malioboro ekspress yang sayangnya sudah berangkat dan saya ketinggalan gara-gara lecerobohan saya sendiri.

Setelah mengantongi tiket, saya mengendarai motor menuju ke Baker's King. Menunggu keberangkatan tentu akan menyenangkan jika sambil baca-baca di sofa merah menyala pojok favorit saya sambil ditemani secangkir besar Vanilla latte (ini benar-benar besar, sebesar mangkuk sup di rumah saya). Hujan rintik-rintik, pagi yang awet dan sofa yang cozy membuat saya dan teman saya mengobrol dengan asyiknya. Sampai saya tersadar dan melihat jam. Oh my God, jam 12.33. Keretanya berangkat pukul 12.45. 

Secepat kilat saya berlari ke luar menuju tempat parkir. Sambil menghitung-hitung jumlah lampu lalu lintas yang akan dilewati dan titik kemacetan yang mungkin akan menghadang saya menarik gas sepeda motor dan ngebut semampunya menuju stasiun. Dan tentu saja saya mengutuk diri saya sendiri mengapa saya sampai sebegini ceroboh. Sampai di stasiun kereta mulai bergerak dan petugas pintu ruang tunggu tidak mengizinkan saya masuk.

Oh tidak. Saya tidak mau ketinggalan kereta. Not again! 
Sebersit ide melintas di benak saya. Ojek! Iya, ojek. Dengan harap-harap cemas saya akhirnya duduk di boncengan abang-abang tukang ojek dengan misi mulia mengejar kereta yang meninggalakan saya ke stasiun berikutnya, which is di kota lain, Kepanjen. Segenap doa-doa yang saya hafal terus saya bisikkan. Bukan do'a supaya tidak ketinggalan kereta tapi do'a supaya selamat dari kecelakaan. You know lah bagaimana kalau tukang ojek stasiun ngebut. Semua wangi parfum di badan saya hilang tertiup angin berganti dengan aroma tukang ojek. Rambut jingkrak menantang langit saya sudah tidak berbentuk lagi. Dan buruknya lagi, saya terlihat romantis dengan abang tukang ojek itu karena saya semakin erat memeluk pinggangnya. Saya tidak mau ambil resiko terlempar dari motor yang dikendarai dengan gila ini. 

Akan tetapi, si abang ojek memang pahlawan saya hari ini. Dia berhasil membawa saya sampai di depan stasiun dan masih ada waktu 3 menit lagi sebelum kereta berangkat. Tapi lihatlah nasib saya. Saya harus membayar dia dengan mahal kan untuk misi mulia nan gagah berani ini. Total duit yang saya keluarkan untuk membayar ojek ditambah harga tiket sudah menyamai harga tiket untuk kelas eksekutif. Selamat datang di gerbong ekonomi deh. 

Oh ya, gerbong kelas ekonomi itu artinya anda harus duduk berhadap-hadapan di kursi panjang yang masing-masing kursi diisi oleh 3 orang. So, di sepetak ruang kecil itu ada 6 orang yang duduk berhadap-hadapan. Kadang-kadang saling lirik kemudian melengos. Dan, gerbong ekonomi sekarang pakai AC loh. Tapi entah kenapa AC nya membuat saya nekat mencopot kemeja sehingga yang tersisa hanya tank top sexy saja. Nggak boleh protes lah. Namanya juga AC kelas ekonomi. 

Sampai di rumah nanti, kira-kira beginilah dialog yang akan terjadi;
"How was your trip?
"Owh, it so much fun! I enjoyed it!

Bohong banget kan? Mana berani saya cerita runutan sebenarnya. Bisa habis saya diceramahin tentang keteraturan, planning dan menghargai waktu. Dan itu bisa jadi bahan ceramah di kali lain ketika saya tidak sengaja melakukan kecerobohan lagi. Enggak lah, ini yang terakhir kok.