Monday, March 5, 2012

To Choose; Cinta Tlah Memilih


I’ve been in my recent job for almost complete two years, passing fantastic phases of wandering around some cities in some Island in Indonesia. Being relocated to some different cities or islands several times in a month or two gave me lot of experiences in business, culture, and travelling.  I’ve got myself many chances to speak in front of hundreds of people giving a speech and training. I was in euphoria of a fresh graduate who got his dream job and doing it like doing my hobby. Yes, travelling is my hobby. Speaking in front of others is also fun for me. However, later on I found myself in comfort zone. I started to question myself. Is this really I want. The answer was not really clear. I love the job but I’m not satisfied with the capacity I have.

 My mind took me to the declaration I had with some friends about studying in higher education. I want to pursue a master degree, a post graduate level. I want to find myself in a very academic atmosphere in one of the big universities in the world. I want to find myself busy with research, bunch of books and journal, discussing with friends while having coffee. The awareness of what I really want lead me to the conflict in myself. I passed the day with thinking and amusing. I went depressed.

 The decision taken, I told my boss that I wanted to quit from the position and go back to Java to be an ordinary trainer without managerial position requiring me to always relocate. I want to stay and focus on preparation. I left the regional manager position and chose relocation back to Malang. A week later, I was in the flight to Bali for long holiday, disconnecting myself with all job stuff. At the same time, my mother got a call from stranger demanding for money because they claimed they have kidnapped me. The condition supported by the fact that my mother couldn’t dial my mobile phone. The day after, when she finally connected to my number, she was crying.

In Bali, I forgot all my doubt. I was totally enjoying the beaches and sun. I spent time to enjoy the tranquil Ubud, visiting galleries, cafes, rice fields, as well as walking the villages’ street and exploring the Ubud market. I found a very worth small guest house that value our money. Sounds like “Eat, Pray and love” huh? Little bit. I enjoyed the breeze coast of Bali as well. Spending the day in Padang-Padang, Labuhan Sait, Balangan, Suluban and exploring the Benoa as well.

I got back to Malang with hard-to-leave-feeling. I’ve considered bali as a home. I got back with the decision to focus on one scholarship which would take me to one of UE country. Starting my job in Malang I pushed myself to increase my TOEFL and started the research proposal. Lucky me, I have many friends who are willing to give their hands, even the one who studies in USA didn’t mind to call my phone assessing my letter of statement. He spent his credit to make a-more-than-hour phone call. Others took their time from their hectic job just to discuss with me. I’m blessed to have them.

When I’ve finally submitted my scholarship application, the other option of my future came. I’ve to choose to continue my scholarship plan or go on with my Bali project. I was very confused with the options. All are good; all are big part of my life. I decided to go back to hometown spending a week with my mother and big family and also spending ten days in Bali. I ended up deciding to go on with my Bali project. It means I’ll start new brand, I make “U-Turn” with bunches of consequences. I cried myself for this decision. A part of me judged me as a betrayal of my own dream. Another part cheered up  that what I’ve decided is a wise decision; life is not about taking a long straight street but we must be ready to make “U-turn”. I was forced to accept that ‘Rome is not only can be reached from Soetta Airport, but it can also be reached from Changi, Svarnabhumi, or even from Delhi’. Perhaps, what I’ve done is going to Rome via Ngurah Rai Airport and having transit in Dubai. Eventually, the destination is Rome.

In the end we have to always choose. Sometimes it’s easy option like picking I-pad from ‘Chinese Pad’ but sometimes it’s like choosing between I-pad 2 and Galaxy note. In my case,I love I-pad but I also want the sophisticated galaxy-note. What make me hard to choose is that I-Pad has no USB port or memory card that I need but it has a shiny apple logo and created by Steve Jobs, one of my favorite figure while galaxy note has the USB port and many compatible devices to connect to other gadgets but has no shiny prestigious logo that I love. We have to choose anyway. So, pick one and continue life!





Sunday, March 4, 2012

Jalan-jalan Selorejo



 Walaupun tinggal lama di Malang, saya belum pernah berkunjung ke Bendungan Selorejo yang menjadi salah satu destinasi favorit di Jatim. Saya paling numpang lewat saja dalam perjalanan ke Kediri dan sekitarnya. Bendungan ini biasanya menjadi salah satu dari isi paket perjalanan wisata Malang dan Batu. 

Gara-gara Cepu, Fatiful, dan Chandra memutuskan untuk berburu pemuda-pemuda desa (baca: KKN) di Selorejo dan promosi mereka yang berbusa-busa tentang nikmatnya hidup di desa pada saat musim durian, saya, Fuad, Iqbal dan Ridho memutuskan untuk mengunjungi mereka sekaligus menuntaskan misi mulia teman kami, Ridho. Saya sedang malas bernarasi dan deksripsi ria, saya sajikan foto-fotonya saja ya. Here they are; 

Buat teman saya, Fuad, perjalanan kurang afdhol kalau kendaraannya  belum mengkilap




 



 


 










Batu City Tour





Ada yang tahu di mana kota Batu berada? Pertanyaan ini tidak berlaku untuk anda yang tinggal di wilayah jawa Timur. Yup, kamu benar Panji! Kota Batu adalah kota dingin di dataran tinggi tidak jauh dari Malang. Malang 'numpang' populer dengan 'Apel Malang' yang dihasilkan oleh kota kecil ini.

Hari minggu kemarin saya dan sepupu saya Anna main ke Batu. sudah lama saya tidak duduk lama-lama sambil memandang hamparan kebun bunga, apel dan sayuran di Batu. Dulu, saya sering jalan sendiri hanya untuk keluar masuk ladang bunga dan sayur.

Batu telah berbenah.City branding kota ini cukup berhasil. Kota yang dilabeli kota agrowisata ini telah berubah. alun-alun kota yang dulu tidak terawat sekarang menjadi public sphere yang sangat indah dan menyenangkan.

Walaupun hujan lebat sempat menghambat perjalanan, saya sempat mengambil beberapa gambar di alun-alun kota. Biarkan gambar-gambar itu yang bercerita.

Anna di depan Apple Fountain dengan background ferish wheel

Ada banyak bunga. Termasuk beberapa petak kebun mawar dengan aneka warna.  Ada mawar hitam loh!

Seperti kebanyakan kota di Jawa, alun-alun itu pasti ada taman, mesjid, dan  pusat perbelanjaan. Tampilan alun-alun kota Batu sangat fresh dengan paduan warna bunga-bunga di taman dengan warna bangunan serta latar belakang gunung-gunung yang memagarinya.

Menghabiskan sore dengan bacaan dan secangkir kopi di sini tentu saja sangat menyenangkan. saya suka warna-warna di taman ini. selain bunganya yang berwarna-warni, kursi dan bangunannya juga dicat warna cerah.
Plaza Batu jadi Pinky gitu . matching ya, sama kerudungnya Anna

bangunan rest roomnya lucu, berbentuk apel. Yang berbentuk strawberry itu  adalah lounge dan information centre. Secara teratur akan ada add lips yang menuyuarakan informasi tentang taman ini beserta himbauan untuk menjaga kebersihan. Itu artinya, budaya kita masih kuat budaya lisan. Kalau himbauan tadi dalam bentuk tulisan, paling hanya segelintir yang baca.

Kalau mau minum, bisa langsung dari keran ini. Bersih kok. Kayak yang ada di taman-taman  di negara-negara eropa. Yang kerennya lagi, taman ini adalah NON-SMOKING AREA! Ada juga ruang terbuka publik di negeri ini yang menjadi tempat aman bagi bukan perokok seperti saya:-)
Mau menikmati pemandangan taman dari atas? Naik ini aja. cuma IDR 3.000
Hawa di Batu sangat dingin. Makan soto ayam panas sambil menikmati panorama taman tentulah sangat nikmat.

Konon katanya Kota batu dulunya dijuluki Little Swiss. Mungkin karena gunung-gunung yang memagarinya ya? Saya juga tidak tahu. Tapi yang jelas, jalan-jalan ke Batu selalu menyegarkan. Two tumbs up deh buat bapak Eddy Rumpoko, walikota Batu yang muda dan energik itu. Beliau bisa dibilang cukup berhasil memoles Kota batu menjadi kota agrowisata. Kekecewaan saya karena Batu Flower festival yang 'kok cuma kayak gitu' itu terobati dengan mengunjungi alun-alun kota. Terus berkarya Pak!


Sunday, February 19, 2012

Let's Continue Running!



Saya baru punya waktu buat menikmati “the art of doing nothing “ lagi. Sudah lama saya tidak menyendiri bertapa di kamar saya membaca dan edit-edit foto hasil jepretan saya. Setelah memberikan coaching pagi tadi, saya langsung kembali ke kamar dan mendekam sampai besok pagi kelihatannya. Saya hanya keluar lagi sore tadi, makan dan belanja di Hypermart. Sendiri. Mau ngajak Iqbal, dia sedang galau (katanya). Bungkus biscuit keju mulai menumpuk menandakan saya sudah ngemil banyak. Mug besar saya sudah tandas. Tadi berisi cappuccino. Tidak berani nambah lagi. Takut nggak bisa tidur. Saya resmi kembali rutin minum kopi setelah sempat ‘cuti’ panjang.

Saya jarang update dan menulis belakangan ini. Tidak ada postingan tahun baru. Tidak ada note-note di facebook. Padahal boleh dikatakan sejak bulan November tahun lalu adalah hal-hal besar dalam hidup saya terjadi. Dan juga menjadi hari-hari paling galau. Galau? Iya, saya ngaku, saya pernah keluar masuk pusaran galau belakangan ini. Ada banyak kebimbangan. Tapi Alhamdulillah, saya tidak dinobatkan menjadi Mr. Bimbang 2011. Berikut adalah beberapa kronikel yang saya ingat;

Memilih
Saat itu saya berada nun jauh di ranah minang sana karena urusan pekerjaan. Sampai saya tiba-tiba disadarkan akan umur saya dan saya masih punya mimpi yang harus saya kejar. Saya sangat mencintai pekerjaan saya dan juga mencintai setiap business tripnya. Tapi justru business trip itu ternyata menghambat mimpi saya yang lain. Saya harus tinggal di satu kota dan fokus mengejar mimpi saya; sekolah lagi. Akhirnya keputusan besar di ambil. Saya mundur dari posisi saya sebagai Regional Manager dan terbang ke Bali seminggu kemudian. Saya benar-benar menikmati Bali holiday saya dan menuemukan hal-hal baru. Selalu ada yang berbeda di Bali.

Back to Malang
Sesuai dengan keinginan saya setelah resign dari posisi saya sebelumnya, the big boss menempatkan saya di Malang. Saya langsung ngebut mengupgrade TOEFL untuk mempersiapkan mengejar beasiswa dan langsung apply salah satu program. TOEFL ini membawa saya ke Jogjakarta buat test di sana karena yang terdekat yang sesuia dengan deadline saya adalah di sana. Sambil mempersiapkan TOEFL saya mengisi training yang sedang berlangsung di kantor Malang. Dan kelas ini member saya peserta yang menjadi sahabat juga bagi saya. Hari-hari kosong banyak disi dengan jalan bareng, makan bareng, masak bareng di rumah salah satu peserta, hunting foto,merayakan ulang tahun heboh salah satu peserta, berperahu di selorejo untuk pertama kalinya, latihan vocal (baca; karaoke) dan beberapa kegiatan khas anak muda lainnya. Sampai-sampai kami punya kelompok arisan dengan misi utama; backpacking ke luar negeri!
Satu hal yang belum saya lakukan adalah belajar bahasa Perancis karena Oscar teman saya yang dosen muda nan pintar di kampus tetangga yang rencananya akan belajar bareng itu keburu berangkat ke Thailand untuk fellowship.

Bali Lagi; Big project!
Setelah program training yang saya tangani selesai, saya berangkat ke Bali. Keberangkatan ke Bali kali ini sangat berbeda. Selain ditemani oleh Nandar, sepupu saya, misi yang diemban juga sangat besar. Saya juga menikmati perasaan menjadi “regular balinesse’ dengan tinggal di rumah teman setelah nandar kembali ke Malang.

Ceritanya, ketika saya berjibaku mengejar beasiswa, abang saya khawatir kalau saya gagal. Maka, dengan baik hatinya dia menyarankan untuk membuat plan B yang awalnya saya tentang habis-habisan karena saya tidak ingin punya pilihan lain selain lolos beasiswa. Tapi akhirnya, setelah argumentasi logis dan perdebatan panjang, saya menuruti sarannya. Bentuk plan B itu adalah; sebuah bisnis di Bali yang sebelumnya sudah di explore di internet.

Maka, misi saya kali ini adalah survey. Setelah berlagak menjadi bos besar yang diantar ke sna ke mari untuk melihat-lihat akhirnya misi itu mengerucut menjadi sebuah pilihan besar dan sulit lagi untuk saya. Apakah itu gerangan. Jreng, Jreng, jreng…..! Mengambil alih sebuah hotel. Oke, kata hotel sepertinya mengandung besar, megah dan kompleks. Saya rubah saja menjadi hotel kecil.

Saya tidak pernah punya mimpi untuk memanage sebuah hotel atau sebangsanya. Saya ingin menjadi seorang akademisi dan juga melanjutkan karir di pekerjaan saya yang sekarang. Manusia memang dikutuk untuk terus memilih. Akan mudah urusannya ketika pilihan yang dihadapkan adalah baik dan buruk atau bagus dan tidak bagus. Lah, saat ini saya diibaratkan tengah disuruh untuk memilih antara pour de homme dari chacharel dan Higher Energy dari Christian Dior. Antara I-pad dan Galaxy Note. Antara Alexandre Christie edisi Saphire Classic dan Casio edisi Beside. Antara si Penghuni Puri dan si Sinar Surya. Oke, itu terlalu menggampangkan dan lebay. Maafkan saya. Yang jelas, saya galau edisi kedua (apa ketiga ya?).

Pulang ke Desa
Mumpung sedang berada di Bali dan menunggu perkembangan hasil yang sudah saya lakukan di Bali, saya memutuskan untuk mengunjungi ibu dan saudara-saudara saya di Bima. Saya menikmati waktu saya seperti ketika masih SMP dulu. Mengurus ternak alias menggembala, turun ke dapur sesering mungin, memetik alpukat, ngobrolin bunga sama ibu dan bermain dengan keponakan saya yang semakin lucu dan pintar. Uihh…berat untuk kembali. Ingin berlama-lama menjadi anak desa. Tapi saya ada beberapa appointment di Bali dan juga meeting besar tim nasional kantor saya di Malang.

Bali Business
Hari-hari saya di Bali padat diisi dengan appointment dan appointment. Appointment dengan notaris, arsitek, agen tanah, agen property dan banyak lagi yang sebagian besar adalah bule. Bolak balik konsultasi dengan dua notaries berbeda. Cuapeek!! Tapi saya masih menyempatkan berkunjung ke Ubud sehari penuh sambil membuat analisa bisnis. Saya juga sempat foto-foto ganteng bareng Dewi di Pantai padang-Padang.

Saya juga main ke PPS Udayana sekedar survey tentang program MM yang mereka sediakan. Dengan tidak sopannya saya melenggang ke ruangan-ruangan kantor kampus Universitas Udayana dengan hanya memakai celana pendek saja. Dan tentu saja itu mengakibatkan ‘semua mata tertuju padamu’.

Coaching
Berawal dari speaking coaching yang saya berikan kepada mahasiswi UB yang akan berangkat ke Amerika beberapa waktu yang lalu, dosen dan juga ustadz saya minta di coach untuk persiapan ujian dissertasi beliau yang akan menggunakan bahasa Inggris. Begitu kembali lagi ke Malang, saya langsung memulai coaching yang sempat tertunda 1 minggu karena saya tinggal lebih lama di Bali.

Saya sangat menikmati coaching ini karena secara tidak langsung saya belajar ilmu ekonomi dan juga banyak berdiskusi tentang banyak hal seputar ekonomi dan islam. Banyak hal yang menjadi hikmah selama sessi coaching dengan ustadz yang sangat rendah hati ini. Calon doctor ekonomi yang sangat hangat dan bersahaja.

Bekerja dengan Performance Terbaik
Di tengah ketidakpuasan yang saya alami terhadap banyak hal di kantor saya, saya mencoba untuk memberikan yang terbaik. Sangat sulit memang karena saya harus mencoba membalikkan respon normal menjadi respon luar biasa atas perlakuan yang saya terima. Saya seharusnya melanjutkan kemarahan saya yang kemarin-kemarin muncul. Saya mencoba meredam kemarahan saya. Efeknya, kemarahan saya tertumpah ke abang saya lewat skype yang membuat saya membanting laptop ketika kami berselisih pahams. So, immature. But I’m just a human. Dengan sangat baiknya si Abang hanya menanggapi dengan menyuruh tenang dan menangis melihat kemarahan saya.

Saya juga baru bertemu dang mengobrol panjang dengan senior yang sekarang menjadi dosen di kampus tetangga. Lumayan mendapatkan pencerahan yang membuat saya mantap memilih. Let’s continue life!

Tuesday, January 31, 2012

Disertation Coaching


Saya baru saja selesai meeting dengan salah satu client. Beliau adalah seorang dosen dan juga ustadz yang banyak disenangi mahasiswa. Walaupun tidak pernah mengikuti perkuliahannya, saya pernah rutin mengikuti kajian beliau. Seorang Ustatz yang rendah hati dengan wawasan luas dan pikiran terbuka. Meeting ini agak telat karena saya masih di bali ketika beliau punya waktu dan beliau ada agenda ketika saya sampai di Malang.

Beliau meminta saya untuk coaching  beliau dalam mempersiapkan ujian disertasinya yang akan dilaksanakan dalam bahasa Inggris. Wow, satu lagi tantangan buat saya. Mendengar ujian disertasi saja saya sudah sangat bersemangat.  Saya membayangakn suatu saat nanti saya juga akan melewati masa itu. Okay, sekarang saya harus bersabar menunggu finalisasi rencana kuliah magister saya.

Sebuah kebanggan bagi saya untuk bekerja sama dengan beliau. Paling tidak saya bisa memperdalam wawasan dan memperbanyak vocabulary saya di bidang yang beliau kaji. Beliau akan segera meraih gelar doktornya dalam bidang ilmu ekonomi. Masih satu rumpun dengan bidang yang saya minati untuk program magister yang saya rencanakan. Beliau mengkaji makro saya mengkaji mikro.
Model coaching yang akan saya berikan mirip-mirip dengan coaching untuk Lani yang akan berangkat ke Amerika sebulan yang lalu. Akan tetapi coaching kali ini waktunya lebih panjang.  Mudah-mudahan secemerlang proses coaching dengan Lani. 

Being a Trainer



Ada banyak pendapat yang mengatakan bahwa salah satu penyebab lemahnya sumber daya manusia di Indonesia adalah karena lemahnya penguasaan terhadap bahasa asing terutama bahasa Inggris. Saya sepakat 100 % dong dengan pendapat tersebut. Logikanya simple; kebanyakan informasi, literature dan hal-hal baru disajikan dalam bahasa inggris.  80 sekian persen website di internet menggunakan bahasa Inggris. Sisanya disajikan dalam bermacam-macam bahasa di dunia ini. Berdasarkan pengalaman saya menjadi trainer dan coaching untuk bahsa Inggris, kebanyakan permasalahan yang dihadapi oleh orang yang mempelajari bahasa Inggris adalah masalah mental barier. Oleh karena itu, di lembaga tempat saya bekerja, Sang bintang School kami tidak menyebut produk pembelajaran bahasa Inggris kami dengan kursus tetapi training karena kami tidak hanya mengajar tetapi kami mengembangkan karakter , merubah pola pikir dan melatih peserta kami untuk menguasai bahasa Inggris secara aktif.

Suatu hari, dating seorang gadis kepada saya. Eits, bukan untuk melamar saya! Dia ingin ditraining untuk bias berbicara bahasa Inggris dalam waktu 3 hari karena ia akan menghadapi interview untuk pertukaran mahasiswa ke USA. Dia mengaku belum pernah berbicara bahasa Inggris dengan siapa pun dan belum pernah mengikuti program pembelajaran bahasa Inggris sebelumnya. Wow, tentu saja saya tidak berani menjanjikan apa-apa pada awalnya selain mengukur sejauh mana kemampuan dia dalam bahasa Inggris. Saya mendapati bahwa dia sebenarnya mempunyai kemampuan yang cukup namun pasif. Dia mempunyai kosakata yang cukup hasil dari membaca referensi perkuliahannya di fakultas teknik. Dia juga membaca dengan pronunciation yang cukup baik yang katanya hasil dari mendengarkan music dan menonton film-film holywood. Dia mendapatkan koleksi kosa kata yang cukup dari hasil memaksa dirinya untuk membaca Koran The Jakarta Post setiap hari.

Apa yang saya lakukan setelah mengukur kemampuan bahsa Inggrisnya adalah menanamkan dalam pikirannya bahwa dia sebenarnya bisa berbahasa Inggris. Dia mempunyai kemampuan pasif yang tinggal  diaktifkan. Karena lembaga saya belum mempunya program untuk mengakomodasi pembelajaran untuk dia, saya dengan cepat berpikir untuk membuat program khusus untuknya selama 3 kali pertemuan. Saya membuat program yang dalam bahasa sederhananya adalah kira-kira ‘activate your English!’. Saya dan dia harus menemukan tombol ON untuk mengaktiivasi kemampuan bahasa Inggrisnya. Akhirnya tombol ON itu ditemukan dalam bentuk sedikit sugesti, 30 menit sessi klinik setiap pertemuan , presentasi materi di depan saya, interview dan jalan-jalan sambil mengobrol tentang apa saja.

Hasilnya, amazing! Dia berbicara dengan sangat lancar ketika mempresentasikan pendapatnya tentang energy, budaya Indonesia dan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya tentang apa yang akan dilakukannya untuk mengatasi problem social dan pendidikan. See, itu bukan topic yang ringan loh. Dia menyampaikannya sebaik dia menyampiakan motivasinya mengikuti program pertukaran mahasiswa yang interviewnya kaan dia hadapi sebentar lagi.

Tentu saja saya tidak bisa mengatakan bahwa permasalahan belajar bahasa Inggris bukan semata permasalahan mental barrier tetapi juga kemauan untuk konsisten belajardan motivasi seperti yang dimiliki oleh gadis yang sya ceritakan tadi.                                                      

Sunday, January 22, 2012

My Bali Life; Today's Chronicles

Untuk kesekian kalinya saya bangun pagi dan mendapati percikan-percikan cahaya kilat lewatjendela kamar. Rintik hujan membentuk irama simponi pagi yang berbeda. Saya masih terbaring dengan mata terbuka dan menyadari saya sedang di bali lagi. Baru satu minggu yang lalu saya berada di sini, dan sekarang saya kembaliu lagi. Saya telah benar-benar jatuh cinta pada tanah molek ini. Saya tidak pernah bosan berada di Bali. Bali membuat saya kembali menyukai hal-hal remeh dalam keseharian yang sempat hilang dari hidup saya belakangan ini.

Saya menyukai rutinitas bangun pagi dan berjalan di rumput basah menghirup aroma bunga kamboja yang berguguran. Kalau sedang rajin, saya akan menenteng kamera saya dan mengambil beberapa gambar. Atau cukup memunguti kuntum-kuntum kamboja dan menghirup wanginya berulang-ulang serta menyelipkannya di telinga saya. Sesederhana itu saya menyukai Bali.

Akan tetapi pagi ini saya tidak bisa banyak bersantai-santai. Jarum Alexandre Christie di tangan saya menunjukkan angka  7. Saya sudah mandi dan rapi. Saya punya dua meeting appointment hari ini. Masih berhubungan dengan project property kami. Pertama, saya harus bertemu dengan Beli Made, arsitek keren temannya Dewi. Yang kedua saya akan bertemu dengan Linda, orang Aussie pemilik guest house di Kerobokan.

Saya menyambar netbook saya dan bergegas ke taxi di luar pagar yang sudah menunggu. Karena saya belum menyewa motor, saya harus naik taxi ke halte Trans Sabhagita terdekat; halte Griya Asri. Running text di screen menampilkan informasi bahwa bus selanjutnya masih berada  1 kiliometer dari halte dengan estimasi waktu tempuh sekian menit. Ini adalah mass transportation yang paling

Di Trans Sabhagita
Tampaknya hanya saya yang nekat menantang ingin pagi ini. Semua penumpang berjaket aan pakaian tertutup. Saya dengan bodohnya hanya memakai  t-shirt merah menyala dengan print bendera swiss dan bermuda serta sepatu kanvas. Syal hijau yang melilit di leher saya senada dengan warna gelang di tangan kiri. Naik transportasi umum yang nyaman adalah salah satu hal yang paling saya sukai. Apalagi di tengah hujan seperti ini.

Saya merogoh kantong saya berusaha mendapatkan lembaran ribuan untuk menebus harga tiket. Namun yang saya temui hanya selembar lima puluh ribuan dan sekeping koin lima ratus rupiah. Saya mengacak-acak setiap kantong kecil di backpack saya. Nihil,. Saya tidak menemukan uang yang saya inginkan. Sementara mbak-mbak pramugarinya sudah tidak sabar. Tiba-tiba seorang ibu yang duduk di kursi belakang bersuara. Dia menawarkan untuk membayar tiket buat saya. Saya tidak punya pilihan lain kecuali menerima mengingat saya benar-benar tidak punya uang kecil dan pramugarinya tidak punya kembalian.

Di tengah dinginnya  cuaca dan AC bus, hati saya menghangat. Bertambah keping kebahagiaan saya pagi ini. Di tengah budaya individualis yang semakin menggempur, ada orang yang dengan entengnya mau membantu.

Central Parking Shelter
Keluar dari Sarbhagita di Central parking Shelter saya disambut hujan yang semakin lebat. Saya celingukan menunggu taxi yang sepertinya enggan lewat di tengah hujan yang disertai angin kencang pagi ini. Saya tidak ingin telat di appointment saya. Ketika meeting sama Robert minggu lalu saya sampai telat 15 menit.
Blue Bird muncul ketika saya sudah mulai gelisah menunggu. Saya duduk sambil merenung menatap rintik hujan lewat jendela taxi. Menonton rinai hujan selalu menciptakan desir damai di dada saya. Berkah hujan pagi ini adalah saya cepat sampai karena jalanan tidak ramai diakibatkan oleh hujan.  Dalam waktu kurang dari 10 menit saya sudah sampai di Coco resto & cafĂ© yang menjadi venue appointment pertama saya pagi ini.

Perut saya tiba-tiba keroncongan. Saya bergegas ke cafĂ© Coco ttempat saya janjian dan mulai menghadapi sarapan saya; croissant dan banana pancake serta segelas susu. Rutinitas pagi yang perect! It’s really a daily 
chronicles I really want for my life.

Makanan di hadapan saya tandas. Akan tetapi beli made belum juga muncul. Ketika saya mulai gelisah, hape saya bordering. Beli made. Dia terjebak macet di by pass.

Beli Made
beli made datang tepat ketika saya sudah mulai merasa bosan menunggu. Sesosok pemuda akhir dua puluhan dengan aura semangat yang langsung kelihatan. Tidak sulit bagi saya untuk klik dengan laki-laki ini. Ditemani secangkir cappuccino kami mengobrol tentang rencana project saya. Dugaan saya tidak salah, aura semangatnya menularbicaranya antusias. Muda, sederhana, dedikatif dan profesional. Sosok menantu idaman benar ini orang.

Setelah kopi habis dia mengajak saya melihat contoh project villa dia yang sedang on process. Saya makin ngeh sekarang. Dengan tanah yang seuprit ternyata kita sudah bisa punya villa idaman (dengan modal yang nggak seuprit tentunya) complete dengan kolam renang dan garden yang cantik. Akan tetapi mendapatkan tanah seuprit di daerah ini bukan perkara mudah. Selain harganya yang super mahal, belum tentu ada orang yang menjual.

Linda
Seorang perempuan bule paruh baya menyambut saya begitu saya turun dari taxi di depan sebuah banguan bergaya arsitektur Bali. Saya sudah pernah ke sini minggu lalu untuk mengecek fisik bangunan. Kedatangan kali ini khusus untuk meeting karena minggu kemarin dia masih di Australia.

Meeting kali ini adalah obrolan yang menarik tetang guest house yang dia kelola yang (mudah-mudahan) bisa di handle over oleh saya (siapa lo?!!). Masih banyak informasi yang harus saya gali teantang hotel mungil ini. Sementara Christian sudah tidak sabar lagi untuk cepat-cepat memanage hotel ini. Saya tidak ingin terburu-buru sebelum memastikan semuanya aman dulu. Saya masih harus bertemu notaris, mencari second and thoird opinion dan bertemu dengan pemilik pertama. Ini bukan beli baju di mal!
Saya sendiri langsung jatuh cinta ketika melihat hotel mungil ini pertama kali. Jangan ditanya antusias saya. Saya sangat bersemangat dengan project ini. Semangat yang bercampur was-was. Bisa sukses nggak ya?
Meeting kelar, saya memutuskan jalan kaki ke seminyak atau mungkin lebih jauh lagi. Sekalian saya ingin mencoba mengukur, bisakah client nantinya menjangkau hotel ini dengan jalan kaki. Saya sangat menikmati berjalan menyusuri jalan yang dipenuhi artshop, villa dan sawah-sawah ini. Ternyata cukup berjalan sepuluh menit saya sudah sampai di area seminyak. And I end up walking to Lawaloon Hotel in Kuta. Jarak yang biasanya ditempuh dengan 70 rebuan perjalanan taxi.

Kuta
Setelah mendapatkan motor sewaan dari langganan saya selama 4 tahun ini, saya memutuskan untuk muter-muter dulu di discovery mall. Tempat ini menjadi salah satu tempat favorit saya karena mempunya semacam beach front piazza mungil di belakangnya. Ini adalah etalasse tempat saya biasa memperhatikan berbagai macam tingkah orang datri berbagai macam ras dengan kamera di tangan, siap menjepret begitu ada objek menarik.

Akan tetapi saya juga tergoda oleh promo beli- dua- dapat-satu untuk sandal pantai yang lucu-lucu. Saya akhirnya menenteng pulang sepasang sandal merah menyala dan sepasang berwarna hitam dengan tali merah. Lumayan, bisa dipadukan dengan t-shirt merah sayaJ

Hari beranjak sore ketika saya memutuskan untuk pulang. Saya sudah tidak sabar untuk cepat-cepat mengerjakan laporan kerja saya hari ini dengan ditemani segelas besar cappuccino.

Nah, setelah long shower session, di sinilah saya sekarang. Di depan laptop dan berbagi cerita dengan sepotong tullisan iniJ
Bukit Jimbaran, 21 Jan 2012

Thursday, January 12, 2012

Bali Today; Sarbagita

My night life is such messy lately. I've told myself many times to sleep earlier. But what happened was, I slept above 2 am everyday. The result surely as expected; I woke up late everyday. As today, after subuh praying, I wrapped myself under the blanket to against the cold from stormy raining outside. Bali is always raining lately.
So, here are my rundown today;

Kitchen Time
Kitchen is one of the most important part of home for me. Being in the kitcehn is one of my pleasure. While Dewi made coffee, I was busy with flour and stuffs making pancake. I only had 1 hour to do all morning routine before going for an appointment in Seminyak Square. Robert, a property agent was waiting there. Oh God, I would be late! He was waiting and I just finished my shower. I have 10 minutes to go before it' s late. I didn't want to create a bad image by being late.

First Appointment
It was bright and sunny when I was in Jimbaran. But wen I got the Airport Junction, rain started to splash me. It seem I will be late. It's three minutes to ten, and I couldn't ride too fast becouse of wet road. Too dangerous. Unfortunately, the street was very crowded until I got the Sunset road. As predicted, I got the Seminyak Square 15 minutes late and found Robert waiting anxiously. We directly headed to Robert's car and driving along the Oberoi street to Canggu.

Segara Bayu Villa, Canggu
Robert took me to see one villa on sale near the Canggu Club. Wow, it's just a very luxurious villa. And sure, the price is "lux' too. I like the living room, garden and wall. the wall is made of fiber glass that make you free up yourview to the rice field beside the villa. What make it good is a sliding wall covering the glass wall. So, you can close the view when you don't need it. The villa is equipped with the swimming pool and separated bedrooms with open sky shower.

Seminyak Square
After checking the villa, Robert dropped me at Seminyak Square where I was trapped by heavy rain and wind after. I like rain, but this time it make a strange pain in my heart. I couldn't stand to see that people back and forth with their family and their couple. I hate this insecure feeling!

I rode back my motorbike to Jimbaran once the rain stopped.
Pffhhhh....very tired today. Time to pemper myself with shoer time!

Bali# Green Shawl, Bead Bracelets, and Dialog Dini Hari

I was in  the art cafe Seminyak expecting Dialog Dini Hari, my favorite music group to perform this evening. Unfortunately they didn't perform as written in the schedule like I see from the cafe's website. However, the music group performing was great. While enjoying my Balinese Coffee, Mas Dadang, a lead vocal of Dialog Dini Hari came to my desk and greeted me.I was surprised when he compliment my green shawl I bought three days ago. He thought that I got the shawl from somewhere in India.  He interested in having one. directly tweet  green scarf and got some comments. Cepuk interested to have one too. Then the idea crossed in my mind; why don't I just post the picture here in case some of my friends interested to have and I can get it for them while I'm in Bali. 

So, here are some stuffs that catch my intention during my wandering in Seminyak after working

Remember the girl in green shawl  of "The Confession Shopaholic"? But I think this shawl way better.

The Print in the middle of shawl

Since I don't have mannequin to fit this shawl, i can only provide u this:) 
Here are also some wooden and bead necklaces and bracelets requested by Rizka;
I found these art hand painted bracelet in one small artshop in Seminyak Street. Rizka, which one do you like?


bead bracelet with dragonfly, dolphin, and key pendulum


Sunday, January 1, 2012

Di Bawah Pohon Kamboja; Hangat


Pada sebuah Café di depan pantai Kuta di sore yang hangat.
Saya duduk di sofa di bawah pohon kamboja dengan buku “Alchemist” English version di tangan. Novel ini saya dapatkan minggu lalu sehabis makan malam di Seminyak Square. Sebuah novel yang mengaduk-aduk semangat dan memaksa saya untuk percaya dan teguh.

Sesekali saya menyeruput orange juice dan kembali fokus ke novel saya. tiba-tiba saya merasa ada seseorang yang memanggil saya. Saya tidak mendengar nama saya dipanggil tapi saya merasa sayalah yang dipanggil di tengah hiruk pikuk kendaraan di jalan depan saya dan lalu lalang orang yang tengah euphoria dengan liburan. Saya mengangkat kepala mengalihkan pandangan dari novel saya dan mendapati seraut wajah tersenyum lebar dari seorang pemuda sebaya dengan saya yang berdiri di trotoar kira-kira 7 meter di depan saya. Senyuman lebarnya mencipta wajah yang berbinar yang dengan cepat menular ke ekspresi saya.

“It’s very cool book, Buddy!” It’s very good! Katanya sambil mengacungkan kedua jempol dan tetap tersenyum.
“Yes, sure! So,  have you read it? saya membalas sambil tersenyum lima jari
“I did. Last week. But then I left it when I swam and someone took it” katanya sambil mengangkat bahu
“too bad!”
“It’s Ok. Since it’s a good book, she/he will get good things” katanya sambil tersenyum.
“Thoughtful!”

Dia tersenyum sambil memainkan alisnya dengan jenaka. 
“Ok, continue reading, I’m leaving” katanya sambil mengacungkan jempol dan melambaikan tangan seraya melangkah kembali menyusuri trotoar.

Tiba-tiba dada saya terasa hangat. Saya tersenyum. Rasa suntuk karena menunggu yang tadi sempat merajai tiba-tiba lenyap.
Hal yang sederhana. Seseorang yang asing memuji pilihan bacaan saya, senyuman yang tulus dan sore yang hangat.  

Ada banyak hal yang membuat orang terhubung. Hobby yang sama, pengetahuan yang sepadan, kesialan yang sama yang menimpa, kepercayaan yang sama dan nasib yang yang sama. Kali ini saya terhubung dengan orang asing yang bahkan saya tidak tahu namanya karena sebuah buku yang dia lihat sepintas sambil jalan.

Dengan langkah kaki ringan saya melangkahkan kaki menuruni undakan tangga kafe dan berjalan menyusuri trotoar. Sejenak saya merasa tolol. Seharusnya saya menawarinya minum dan mengobrol dengannya sejenak. Pasti bakal menyenangkan. Ah sudahlah, ada kalanya orang hanya singgah sebentar dan ada yang singgah dan tinggal.

Taxi biru pertama yang lewat saya cegat. Saya menghempaskan pantat di kursi Taxi dan dengan suara ceria bilang ke pak sopir;
“Airport Pak!
Sepertinya kekhawatiran saya akan suntuk menunggu di Airport tidak akan terjadi.