Sunday, March 22, 2015

Cerita Jogja; Little Blond by the Pool

Senang kembali lagi ke Jogjakarta dan blusukan di akhir pekan. Setelah kemarin berbelanja hadiah untuk keluarga di negeri jauh sana, hari ini saya memutuskan untuk mengunjungi Candi Gebang. Candi yang ternyata masih di area seputaran ring road utara ini adalah salah satu dari candi-candi kecil yang bertebaran di wilayah Jogjakarta. Seperti candi-candi kecil lainnya, keadaan candi terpelihara baik dengan taman cantik berhiaskan bunga-bunga kuning bermekaran yang berselang-seling dengan rumpun lydil yang membentuk lorong-lorong kecil. Di luar pagar candi dikelilingi oleh hamparan sawah dan kebun tebu yang menghijau. Rambutan sedang di puncak musim sehingga di sekitar candi pohon-pohon dipenuhi warna merah rambutan yangsedang ranum. Saya memutuskan untuk membagi separuh rambutan yang saya beli di pinggir jalan dari ibu tua tadi dengan dua orang penjaga candi berseragam itu. Mereka ramah.

Hal yang membuat saya tidak merasa tinggal di kota adalah keramahan penduduk sekitar yang rajin menyapa dan bertukar senyum. Kehangatan penduduk, sawah yang terhampar asri, suasana tenang yang jauh dari bising kota menghasilkan kesan bahwa saya sedang berada di desa. Hal seperti ini yang kelak akan dirindukan dari kota ini. 

Setelah puas menikmati ketenangan, saya mengendarai motor menuju ke arah dalam ring road menuju Amplaz. Saya ke sini ingin mendapatkan beberapa butir ubi jalar untuk karbohidrat makan malam nanti. Saya berencana memasak untuk malam ini. Sudah lebih dari dua bulan saya tidak menyambangi mall paling ngehits se-Jogja ini. Kesibukan menulis thesis membuat saya hanya familiar dengan perpustakaan kampus, Madam Tan, Lagani dan Jogjakarta Plaza Hotel tempat gym saya, dan tentu saja rumah yang seringkali hanya dihuni setelah hari gelap ketika saya kembali ke rumah dari tempat-tempat tadi. Apalagi, satu minggu kemarin saya menghabiskan waktu di Jakarta. 

Setelah makan siang, saatnya mendinginkan tubuh dengan berenang. Salah satu yang membuat saya bersikeras memperpanjang keanggotaan saya di gym adalah karena saya bisa bebas menggunakan fasilitas kolam renang di hotel, lengkap dengan diskon 20% dari pembelian makanan atau minuman dari restoran yang terletak di lobby yang menghadap ke kolam renang. Maka, jadilah gym dan kolam renang beserta Langen Suko Park dengan jogging track di antara rumput taman yang hijau dengan semerbak wangi bunga kamboja pink yang tumbuh tersebar di seluruh taman menjadi tempat melepas penat. Ini seperti a liitle sanctuary untuk bersantai dari rutinitas menjadi mahasiswa pascasarjana dengan beban thesis yang cukup menguras otak dan tenaga.

Duduk di pool chair di tepi kolam renang, saya asyik menonton tingkah 3 orang anak bule yang asyik bermain air di kolam untuk anak-anak. Kedua orang tuanya juga nimbrung bermain dengan mereka sesekali ketika mereka berhenti dari aktifitas berenang. Saya tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah anak yang paling kecil. Umurnya kira-kira 2 tahun. Dengan Rambut blonde dan mata biru membuat anak tersebut sangat menggemaskan. Apalagi tingkahnya yang aktif berlarian ke sana kemari, berlari tepat di sepanjang tepi kolam untuk orang dewasa tanpa takut terjatuh. Kemuadian ia berpindah ke seberang kolam dekat tempat saya duduk. Di sini, Ia mengangkat tanda peringatan dan membawanya turun ke tangga taman. Melihat hal tersebut, sang ayah segera mengejar dan mengangkatnya kembali ke tepian kolam. 

Sekarang ia tengah mencoba untuk memakai sandal Crocs yang menyerupai kodok yang entah milik ibunya atau bapaknya. Sandal kebesaran tersebut membuatnya melangkah terseret-seret mengitari kolam renang. Mungkin bosan dengan sandal, ia melempar semua sandal tersebut ke dalam kolam renang dan berlari menuju kursi tempat ayanya berbaring sambil membaca. Ia menarik-narik ujung celana ayahnya untuk menunjukkan sandal-sandal yang mengapung di tengah kolam. Ia seakan-akan ingin menunjukkan betapa ia telah melakukan sesuatu yang luar biasa.

Sekarang Ia berlari ke arah kakaknya yang tengah berenang mencipratkan air ke arah kakaknya dengankaki mungilnya. Sang kakak meladeni dengan mecipratkan air dari arah kolam membuat si kecil berteriak-teriak girang. Ketika si kakak berbalik untuk berenang, si kecil mengambil batu kali yang menjadi hiasan di sepanjang kolam dan melemparkan ke arah sang kakak dan tepat mengenai kepalanya. Si kakak berteriak keras dan menangis mengundang perhatian Ibu mereka yang segera menenangkan si kakak. Sementara si kecil dengan rambul blonde  yangmenggemaskan tersebut berjalan menjauh seakanmelarikan diri dari perbuatannya. Oops, I did something wrong! Mungkin itu yang tengah ia pikirkan. Si, ibu segera mendatangi si kecil yang tiba-tiba sudah memanjat patung gajah yang terbuat dari batu dinpinggir kolam. Sambil menggendongnya ia memberi peringatan serius kepada si kecil sambil menunjuk ke arah si kakak yang masih menangis memegang kepalanya. 

Saya yang menonton sedari tadi tidak bisa menahan senyum melihat tibgkah mereka. Sangat berbeda bagaimana orang tua kebanyakan di negara kita memperlakukan anak-anak mereka saat kecil. Kebanyakan anak-anak kita familiar dengan kata-kata "jangan", "awas" "kamu nakal" dan sebagainya.

"Jangan lari-lari, nanti kamu jatuh! 
" jangan sentuh itu, nanti tangan kamu kotor! 
" ke sini kamu. Igh, susah sekali sih dibilangin. Nakal kamu! 

Kata-kata itu yang membuat anak-anak tidak bebas mengesplorasi sekitar mereka, mengikuti rasa ingin tahu mereka akan lingkungan sekitarnya, belajar dari apa yang ereka lihat dan mereka alami. Anak-anak tumbuh dan belajar secara natural dari apa yang mereka lihat, rasakan dan alami di sekitar mereka. Ketika mereka di iarkan untuk mengeksplorasi dan menuntaskan rasa ingin tahu mereka, mereka akan tumbub mejadi pembelajar yang tidak takut untuk mencoba hal baru, membuka diri terhadap pengalaman-pengalaman baru, tumbuh menjadi jiwa petualang. 

Hiburan tontonan tingkah anak kecil dari pinggiran kolam sore ini cukup menyegarkan otak. Berenang lima belas putaran cukup mengembalikan semangat untuk kembali menghadapi thesis. Selalu ada hal-hal kecil yang menyenangkan di Jogja. 

PS
Saya bingung mau memberi judul apa untuk catatan ini��





Sunday, January 4, 2015

Bali Holiday; A Day in Geger Beach

It's a very bright sunny day today after the raining been pouring on and off since the new year's eve. This is my last day in Bali as I'll fly back to Jogja tomorrow in the dawn.  So, I decided to spend the day in one of my favourite beach, Geger beach. Located in the south coastline between Nusa Dua and Pandawa beach, this is the only few public beach that remained after these big chain resort claimed to have "private" beach in front of their hotel and resort. I remembered back in 2009 the first  time I visited this beach, there was only few local restaurant settled with the whole beach are empty. Everyday you would find a seaweed farmers harvest or nurture their green and red algae to send good food to the world's table. Once you jump to the water, you can see the coral and seaweed plants as the water is very clear and calm. In the top of the reef edge situated a beautiful Pura with white sands beach down there where Balinese held the major prayers or ceremonies.

 It changes a lot now. More than half of the previous empty land is pilled up by a big big chain hotel with green grass yard and big swimming pool and jogging track facing the beach. What I like from this new built Hotel is they let public to use their jogging track and people can freely use the beach in front of their hotel, unlike the Nusa Dua's beach that are strictly prohibited people even to pass the beach area in front of their hotel. This big chain Hotel in Geger beach seems want their guest to blend with people, or they don't pay the government to privatize the beach. I don't know which one is the reason, but this is good for me since I like this beach just to swim, lay down on the sands, wandering with my camera for some good photo snaps.  

I decided to rent canoe and row to the "middle of the sea" to enjoy the scenery of this beach from the sea. It's a different angle of enjoying the beach since now I can see the blue turquoise water, white sands beaches, umbrellas , and building with palm trees everywhere. The lady who sail with  the stand peddle let his peddle flowing on the sea while she is practicing yoga on her peddle. Yoga on a peddle in the sea requires a highly practiced skills I guess. 

Besides of English spoken with Australian accent,  chatters are Russian, french, and Italiano and Japanese. Once in a while a big group of Korean and Mandarin or Cantonese speakers come by. As usual, this big group coming to the beach not to swim or go into the water. With the wide hat and long dress they are busy doing selfie with various of mimics that make me thinking; what so pretty about mimicking your face in that particular way? I don't know. Perhaps it's a new definition of cute, or just a definition in certain part of Asia. You know what kind of mimics I mean, don't you?

I can say the sea foods served in the small restaurants along Geger beach are one of the best in Bali. It's served by 3 restaurants  situated in the public beach. My favorite all the time is Seafood kebab from Yo Spa's restaurant where also they serve my favourite drink fruit punch made of fresh mango, orange, pineapple, grenadine syrup in the bottom which gives the nice aroma and soda water on top which gives the fresh punch. All the menus are very cheap with fresh juices only range from 10 K-15 K.  The nextdoor restaurant, Fleet Bar and Cafe is my second favorite simply because it is the only restaurant or bar in this beach serves coffee from espresso. So, I spend the morning writing my theses in Fleet Bar and Cfae accompanied by cups of fresh brewed coffee and the lunch and after lunch time in Yo Spa's Bar and Cafe for good seafood kebab and fruit punch or geger sunrise. 


When the sun goes down, I decided to take a walk along the beach to the direction of Nusa Dua. I found out that among this luxury resorts and private villas, there are some tiny pieces left for public that not many people know about since they are wrapped among all these" private" beach. 

Geger, January 4th 2015



  

Thursday, December 11, 2014

Catatan dari Batam 1; Coffee Culture

jarum jam baru menunjukkan angka 6 di pagi hari tapi kedai kopinya sudah ramai begini

Coffee culture describes a social atmosphere or series of associated social behaviors that depends heavily upon coffee, particularly as a social lubricant.
(Wikipedia)

Ketika punya kesempatan untuk tinggal di kota ini, bangunlah pagi-pagi, nikmati keindahan sunrise ataupun langsung beraktifitas. Pagi hari adalah waktu yang sayang untuk dilewatkan di kota ini. Buat saya yang tidak bisa alpa dari secangkir atau dua cangkir kopi pada pagi hari, kota ini adalah sekeping kecil syurga. Sebagai bagian dari kebudayaan Melayu, keluar rumah untuk menikmati secangkir kopi dan sarapan adalah hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat kota Batam. Saya tidak terlalu menyadarinya pada kunjungan pertama saya ke kota ini dua tahun yang lalu. Kali ini, berkat seorang kawan yang ingin bertemu untuk mengobrol dan bertukar pikiran, pagi ini saya memacu motor saya ke arah Jodoh, salah satu daerah padat pemukiman dan juga sentra bisnis di Batam. Yang menjadi petunjuk saya hanya satu kata; Morning Bakery.

Berbekal IMap dan ditambah tanya sana-sini dan nyasar, sampailah saya di sebuah bangunan dengan arsitektur yang sama sekali tidak dekoratif, hanya sebuah bangunan berupa beberapa ruko yang digabungkan menjadi satu. Akan tetapi, di bangunan dengan tampilan tidak menarik inilah tersaji apa yang saya cari selama ini; secangkir kopi racikan manual ala Melayu peranakan. Saya menjatuhkan pilihan saya pada sekangkir kopi O. Sama dengan di Sabah, Malaysia, kopi O, berarti kopi saja tanpa campuran apa pun. Pilihan kue-kue fresh from oven yang terpampang di etalase benar-benar membuat saya ngiler. Lapar mata membuat saya memilih 6 jenis kue dengan kue favorit menurut lidah saya adalah cake pisang.

Ramai penikmat kopi di Morning Bakery, Jodoh, Batam

Ngopi pagi di sini bukanlah sekedar menikmati secangkir kopi. Seperti kata mbah Wikipedia tadi, ia adalah social lubricant. Kopi di sini adalah secangkir minuman yang mengumpulkan orang-orang bertemu untuk berbagai kepentingan. Atau mungkin sebaliknya, mereka bertemu untuk kepentingan tertentu, tapi kepentingan itu akan menjadi lancar ketika ada kopi, yah bayangkanlah kopi sebagai lubricant (pelumas). Lihatlah di seberang meja sana; tampak sekelompok kokoh-kokoh muda dengan pakaian rapi yang memberikan kesan professional yang tampaknya mampir sebelum masuk kantor. Seorang bapak muda tengah asyik menyuapkan kue ke mulut anak laki-laki balita. Budaya ngopi pagi tidak melulu domain laki-laki karena di sudut sana sekelompok ibu-ibu tengah asyik ngerumpi, sekelompok gadis-gadis dengan dandanan chic tengah asyik membicarakan pekerjaan. Segerombolan perempuan muda di ujung sebelah sana mungkin adalah ibu-ibu muda yang memutuskan untuk nongkrong dulu sekedar untuk berbagi gossip dan curhatan rumah tangga setelah mengantar anak-anak ke sekolah.. Dan, di meja ini ada saya dan Dave, dua teman lama yang ingin berbagi kisah setelah lama tidak bersua.


Berbeda dengan kebanyakan ngopi ala Amerika yang lebih kepada take away, grab a coffee to go, ngopi di sini berkawin dengan budaya Melayu yang terkesan santai. Jadi, mari nongkrong dulu. Di balik geliat industri manufaktur, bangunan-bangunan berbentuk kotak-kotak ruko yang memenuhi kota, resort-resort mewah dan limpahan pengunjung negara tetangga di akhir pekan, saya jatuh cinta dengan satu geliat masyarakat di pagi hari; Coffee culture, ngopi pagi.


Di daerah lain, ngopi pagi lebih banyak dilakukan di rumah atau kedai kopi kecil yang bertahan di kampung-kampung. Berbeda dengan di derah-daerah dengan akar budaya Melayu dan peranakan, ngopi adalah kegiatan sosial. Memulai pagi dengan sarapan di Bakery dengan kopi dan aneka cake dan sarapan lain yg lebih berat bersama teman-teman, rekan bisnis, atau memboyong satu keluarga. Sungguh, kedai kopi ini tempat untuk semua kalangan social; selama ada lembaran rupiah di dalam kantong untuk sekedar menebus segelas kopi yang kalau memakai standar SG dolar yang banyak dipakai sebagai standar harga di sini, secangkir kopinya tidak sampai satu dolar. Dengan kenikmatan kopi yang saya hirup di cangkir di depan saya plus ambience ini, saya tidak keberatan untuk membayar lebih.




Dari semua kedai kopi di Batam, favorit saya adalah Morning Bakery yang di Jodoh. Akan tetapi kalau saya harus mulai bekerja agak pagi, saya cukup pergi ke Morning Bakery yang berada di daerah Sungai Panas. Kalau kebetulan anda berkunjung di akhir pecan, siap-siap untuk tidak kebagian tempat. 

Saturday, November 1, 2014

Cerita Jogja; Mari, Ngopi Bareng saya di Lagani



Jarum jam baru menunjukkan angka 9, tetapi  hari sudah panas menyengat di Jogja. Persawahan dan kebun tebu di belakang rumah saya hanya menyajikan warna cokelat tanah retak dan rumput kering. Kemarau berkepanjangan membuat tanah-tanah kering mencipta debu yang diterbangkan angin. Salah satu alasan untuk malas beraktifitas di luar. Meja tulis saya yang menghadap dinding  yang seluruh bagian atas dindingnya adalah deretan empat jendela yang member saya akses pemandangan ke arah taman kecil yang tanamannnya tetap bertahan hanya karena saya sering menyeprotnya langsung dengan shower dari kamar mandi  setiap saya mandi pagi atau sore sangat nyaman untuk tempat mengerjakan tesis sebenarnya. Saya tinggal membuka pintu di samping meja dan pemandangan ke teras belakang yang penuh tanaman tersaji. Akan tetapi saya sedang tidak ingin berada di rumah dan mengerjakan thesis  di rumah hari ini. Godaan untuk turun ke dapur memasak ini itu terlalu beresiko. Saya akan pergi ke Lagani, kedai kopi favorit saya di Jogja.

Tetangga yang tinggal di Apartemen di lantai bawah sana bertambah satu orang, pemuda Rumania berpostur jangkung dan langsing, dan sangat tampan tetapi pacarnya, gadis Indonesia ala-ala itu berbetis buesar, kebalikan dari cowok Rumania yang berpostur langsing dan cool itu.. Sejak saya kembali dari Jakarta, mereka belum pernah berpesta yang selalu membuat gaduh sampai pagi lagi. Tapi Keponakan saya yang menginap di rumah ketika saya pergi ke Jakarta bercerita bahwa mereka pernah membuat pesta yang sangat gaduh sehingga membuat keponakan saya tidak bisa tidur sampai pagi. Dan tentu saja keponakan saya itu tidak berani menggedor pintu mereka dan meminta mereka untuk tidak gaduh seperti yang biasa saya lakukan. 


Oke, saya tidak akan bercerita tentang tetangga saya itu pada postingan ini. Saya akan bercerita tentang sebuah sudut di Jogja yang menjadi tempat favorit saya untuk sekedar menyendiri dengan bacaan, mengerjakan paper, bertemu teman-teman, meeting point buat bertemu teman baru dan sekarang tempat saya menulis tesis kalau saya ingin suasana baru. Kalau saya tidak sempat ngopi di rumah, saya juga datang ke sini untuk mengisi tumbler kopi saya dan membawanya ke kampus. Saya juga berusaha untuk membawa teman yang datang dari luar Jogja untuk menikmati secangkir kopi di sini.  Kadang-kadang saya hanya datang sendiri tanpa alasan-alasan  tadi dan duduk sendiri di kursi di balkon hanya untuk melihat orang yang lalu lalang di depan coffee shop, profiling satu-satu pengunjung coffee shop yang kebanyakan adalah mahasiswa asing baik yang sedang belajar di kampus-kampus di Jogja ataupun yang sedang belajar bahasa Indonesia di sekolah bahasa yang bertebaran di area ini.

Lagani, nama coffee shop ini begitu tenar di kalangan anak-anak muda Jogja terutama di kalangan komunitas kreatif muda dan para pencinta kopi. Berjarak satu blok dari Lagani tempat saya menulis ini, masih di jalan yang sama  ke arah barat anda akan mendapati Lagani yang lain, sebuah coffee shop masih dalam payung manajemen yang sama. Bangunan kedua-duanya sama-sama menyatu dengan distro dengan brand yang ekslusif, handicraft & fashion accessories shop dan tentu saja semuanya produk Indonesia.

Dalam postingan ini saya akan bercerita tentang satu lagani dulu, lagani yang tidak hanya menyajikan kopi tapi juga makanan berat seperti pasta, pizza dan berbagai menu ayam, makanya namanya lebih dikenal dengan Pasta Lagani . Dan menu favorit saya adalah menu sarapan tentu saja. Saya selalu menyukai sarapan, it’s my favourite meal time. Dengan harga yang sangat murah, saya sudah bisa mendapatkan satu menu sarapan dengan pilihan salah satu racikan kopi; cappuccino, Americano atau Coffee au lait.  Menurut pengamatan saya pengunjung biasanya datang untuk kopi dulu dan duduk berlama-lama sibuk di depan laptop atau membaca, atau  seru mengobrol dengan teman-teman. Baru kemudian ketika mereka lapar, mereka memesan makanan berat.  Sepertinya alasan utama datang ke sini adalah kopi dan ambience.  Perpaduan berbagai macam ras, buku-buku tebal, aroma kopi, percakapan dengan berbagai bahasa yang sahut menyahut membuat saya betah berlama-lama di sini. Kalau anda adalah orang yang merasa bahwa a man with book is sexy, anda akan orgasm di sini.

Pertama kali menemukan bangunan coffee shop ini saya langsung suka. Kursi-kursi berwarna hijau mengelilingi  meja putih bundar di teras depan yang terbuat dari kayu yang tidak dicat menggoda saya untuk mampir. Vas bunga  yang terbuat dari botol bening di atas tiap meja memberikan efek manis. Untuk sampai ke coffee shop, anda harus melewati tangga kayu yang akan membawa anda ke teras lantai dua.  Begitu saya membuka pintu kaca geser, saya langsung mendapati sebuah meja bar dari kayu bercat biru yang terkesan rustic di samping pintu . Salah satu dining dicat putih seperti hanya dikapur dengan bata yang tidak diplester dengan gambar tangan biji-biji kopi, rempah yang diselang-selingi dengn kata-kata positif.  Sebelah didnding yang lain dibuat dari jendela-jendela bekas dengan cat biru, putih dan tanpa kayu memberikan kesan retro sekaligus rusty. Ada beberapa mural yang mencolok di tembok  rungan yang lain yang dipisahkan oleh ruangan dengan sekat kayu dan kaca dengan pintu kaca. Rungan ini hanya diisi oleh satu meja panjang dengan delapan kursi dengan karpet yang mengalasi lantai. Mirip dengan sebuah dining room di rumah sendiri.

Sementara di ruangan besar berbentuk huruf L tempat bar berada terdapat sebuah tembok dengan  lemari kayu berkaca yang menempel di sepanjang sisi tembok. Lemari  tersebut diisi oleh barang-barang dari masa lampau seperti kamera LSR manual antik, mesin ketik tua, permainan-permain kartu lama, radio tua dan barang-barang lawas lainnya. Ada sebuah pemutar piringanhitam di atas meja.   Desain meja-meja di dalam ruangan in itidak seragam. Kursi-kursi yang mengelilingi meja di setiap ujung ruangan berbentuk peti kayu yang tidak dicat dengan sofa di sebelah yang lain. Meja lainnya adalah meja kayu seperti meja tua di rumah kakek di desa. Lantainya pun terbuat dari tegel kayu berwarna cokelat dan krem.


Memasuki pintu kaca itu setiap berkunjung ke sini, saya selalu mendapatkan sapaan hangat barista yang berada di meja bar di belakang mesin kopi.
“Sendirian aja Mas?
“Habis dari mana Mas?
“Cappucinno panas ya?
“Rapi banget Mas? Ngedate ya?
“Temannya yang kemarin mana Mas?. Katanya sambil tersenyum.
Nah, kalau dua pertanyaan terakhir ini sudah menjurus kea rah kepo deh. Mungkin mereka kepo karena saya selalu membawa teman baru dengan perwakilan etnis dari berbagai belahan dunia ke sini dan  mengobrol berjam-jam dengan pesanan kopi berulang-ulang. Bisa jadi mereka mengira-ngira, apa hubungan saya dengan orang-orang tersebut. Bisa jadi.


Dengan kopi yang digiling langsung dari biji kopi di situ, sajian kopi yang anda dapatkan benar-benar fresh from the bean. Masalah rasa, mereka sudah terbukti dengan beberapa kali memenangkan kompetisi barista tingkat nasional yang memilih peracik kopi terenak dari seluruh pelosok nusantara. Kopi yang enak, barista yang ramah berpadu dengan suasana yang homey membuat pelanggan selalu kembali. Mereka benar-benar memberikan personal touch dalam menyajikan kopi.

Jogja adalah syurga bagi para pencinta kopi. memang kota ini tidak mempunyai perkebunan kopi, tapi berbagai jenis kopi nusantara maupun belahan dunia lain bermuara dalam cangkir-cangkir kopi hasil racikan para barista andal dapat anda nikmati di ratusan coffee shop yang bertebaran di kota ini. Buat saya, kalau anda menginginkan kopi enak, lupakanlah kedai kopi jaringan internasional maupun nasional itu. Cobalah untuk memasuki kedai kopi di yang bertebaran di antara pemukiman, di dekat kampus atau di area food street seperti Prawirotaman atau Tirtodipuran. Berkaitan dengan kopi dan kafe, satu hal yang membuat Jogjakarta sangat berbeda dengan kota lain  adalah anda akan menemukan coffee shop ketika berjalan-jalan di mana saja, coffee shop tidak melulu berdiri di business area atau eating street. You’ll find your favourite coffee shop in a simple neighbourhood. Dan kebanyakan dari coffee shop ini bukan tempat nongkrong massal. Sepertinya, pencinta kopi mempunyai kedai kopi favorit masing-masing, dan kedai kopi favorit saya adalah Lagani ini. Ini bukan sekedar kopi yang enak, tapi juga ambience dan sedikit flirting. Lihatlah senyum di meja seberang sana. Itu saja sudah cukup menjadi oase buat panasnya Jogja hari ini.



Friday, October 10, 2014

Catatan Akhir Kuliah 1: Seandainya Kampus Punya Juice Bar!

Saya memutuskan untuk mulia menulis lagi catatan-catatan kecil kehidupan saya menjadi mahasiswa di Yogyakarta Hadiningrat ini. Berhubung ini adalah menjelang masa akhir kuliah saya, saya akan menamakannya catatan akhir kuliah. Sebenarnya,  catatan ini juga adalah kebutuhan otak saya untuk refreshing dari menulis tesis yang saya inginkan rampung dalam tempo yang sesingkat-singkatnya ini. Begitulah.

Salah satu perkuliahan yang sangat berbekas di ingatan saya  dua semester lalu adalah perkuliahan Strategic Planning for Campus yang diampu oleh professor favorit saya. Profesor yang sudah sepuh ini fisiknya saja yang kelihatan sepuh tapi jiwanya masih muda. Kalau anda melihat gadgetnya maka mulai dari handphone, tablet dan laptopnya maka logo kinclong dari apel kecokot akan langsung nampak. Well, saya tidak sedang melabel bahwa muda itu identik dengan gadget canggih, tapi pemilihan brand beliau mewakilkan semangat anak muda; dinamis dan kreatif. Tapi, pada tulisan ini saya tidak sedang ingin membahas profil beliau. Saya akan bercerita satu tugas sederhana yang beliau berikan pada satu sessi perkuliahan kepada mahasiswa.

Pagi itu beliau meminta mahasiswa menuliskan satu ide tentang pengembangan fasilitas infrastruktur kampus untuk mendukung academic atmosphere. Mahasiswa bebas menuangkan idenya dengan prinsip singkat; what, why, dan how. Saya sendiri waktu itu menulis tentang bagaimana mengakomodir kebutuhan mahasiswa dengan menyediakan student lounge dengan konsep kafe, juice booth, dan convenient store di sudut-sudut strategis kampus. Semua berangkat dari pengalaman saya sendiri yang sangat kesulitan untuk mendapatkan makanan yang 'benar' dan kopi yang enak plus tempat yang nyaman untuk belajar dan bekerja di dalam kampus. Bayangkan kalau saya mempunyai jadwal kuliah jam 8 pagi sampai jam 4 sore dengan banyak waktu break diantaranya. Sangat tidak nyaman untuk keluar dari kampus hanya untuk sekedar mengisi tumbler kopi saya di Lagani atau harus menyeberang ke Pertamina Tower. Waktu yang saya habiskan untuk mengemasi tas dan barang bawaan, turun ke parkiran, menstarter motor, melewati checking di gerbang, terjebak macet, menunggu di coffee shop, kembali lagi ke kampus, terjebak macet, mencari tempat yang pas, membongkar barang dan mempersiapkan komputer, dan mulai kembali lagi menstarter mood untuk kembali belajar atau mengerjakan paper akan sangat banyak terbuang sia-sia. Dan tentu saja ada hambatan tak terduga yang muncul dalam perjalan tersebut. Misalnya, anda bertengkar dengan pengemudi yang menyebalkan di jalanan, ada makhluk bening yang membuat anda harus berhenti dan menyapa dulu, kemudian disambung dengan obrolan, atau mungkin kendaraan mogok di jalan.  Padahal bisa jadi ketika saya meninggalkan kampus untuk mendapatkan secangkir kopi itu, saya sedang dalam puncak mood untuk mengalirkan ide-ide saya ke dalam halaman-halaman iWork namun terputus karena kebutuhan perut atau mata saya yang harus didoping dengan kopi.

Kalau ada coffee booth di setiap sudut, saya bisa dengan gampang mendapatkan kopi saya tanpa membuang banyak waktu ataupun menurunkan mood kerja saya. Kalau ada juice booth, saya bisa mendapatkan fresh juice yang sehat dengan kualitas yang dikontrol oleh kampu. Bayangan saya, ada food & beverages commitee di kampus yang mengontrol standar dari makanan yang disajikan. Atau kalau saja kantin diseting dan dikelola dengan baik sehingga  menjadi pilihan prioritas mahasiswa untuk mendapatkan asupan nutrisi di kampus, mahasiswa akan semakin betah berkegiatan di kampus. Atau, kalau tidak mau repot, kampus bisa menggandeng chain coffee shop, juice bar, fruit bar atau milkbar yang tersebar di seantero Jogjakarta Hadiningrat dan mendapatkan sharing profit dari situ untuk menghindari keruwetan managemen dan resiko bisnis yang besar. Atau kalau mau profit maksimal tapi menanggung resiko bisnis besar, kampus bisa membuat manajemen sendiri untuk mengelola ini.

Kalau anda mengunjunhi kafe-kafe keren atau coffee shop hits di jogja, bisa dipastikan sebagian besar pengunjungnya adalalah mahsisiwa. Maka, ini saja sudah menjadi celah pasar yang besar. Belum lagi mahasiswa internasional yang diuntungkan oleh kurs mata uang mereka yang tidak keberatan untuk menghabiskan sekian puluh euro di kafe-kafe dan restoran di Jogja hanya karena alasan mereka butuh decent food, makanan yang sehat dan higienitasnya terjamin. Harusnya ini dilihat sebagai peluang oleh kampus sebagai usaha untuk menjaga kebutuhan nutrisi mahasiswa sekaligus sebagai peluang untuk mendapatkan profit. Well, membangun generasi itu kan tidak melulu aspek otak ya, tapi juga tubuh dan jiwa yang sehat juga. Kalau mahasiswa sehat, kehidupan akademiknya tidak terhambat.


Saturday, July 5, 2014

Bali Holiday; Anomali Coffee Seminyak







My favourite coffee place, the corner shop in Jalan Laksamana Oberoi is temporarily closed due to the major renovation, that Iknow from the notice written in the wall. Ha, I've come down faraway from Bukit Jimbaran to have good coffee time like I usually do everytime I visit Bali. I decide to drive around Seminyak area to find other cafe when my eyes stumbled on a building just few metres from Corner Shop, the name written in a big block letter was "ANOMALI COFFEE". I've never heard this name before. I decided to stop and go in the building. 





Once I entered the buiilding, I directly fell in love with this place. It's a rustic style interior with big coffee grinder placed in the front corner that all open. Beside the coffee grinder, the sacks of coffee bean piling up in gunny sacks. The smell of coffee that spreading up in the room is like aroma therapy for me. The barista deck is placed in the center of the room joining together with the displays, cashier and the racks for the cakes. Some tables are lining backing the wall and some other higher long tables in the left sides are layed with the face to face lay-out. The walls are full of murals about coffee. It's a great place to escape with bunch of workload. 




The barista who acts as a captain in that coffee shop welcomed me warmly. He asked me whether I been in Anomali before. When I said no, he explain me a brief profile of this coffee shop. It's a coffee shop which serves a fresh own- grinded coffee on the spot which using local coffee bean from all over Indonesia. For you who live in Jakarta, this coffee shop has its brand in the city. 





Once I sipped my cappucino, I decided their cappuccino is as good as the one served by my favourite coffee shop in Jogja, Lagani Coffee. I always try either cappucinno or coffee latte at the coffee shop that I firsly visit. These two variants are my favourite ever. 




I ended up also buying a coffee tumbler as a souvenir from this place. I actually allocated that budget to buy a coffee tumbler from any Starbucks in Bali. 

Bingin Beach; A little Paradise




Terakhir kali ke Bali, saya berpikir bahwa tidak ada lagi pantai baru yang akan bisa dieksplore. Akan tetapi ternyata saya salah setelah kemarin berkunjung ke Pandawa Beach yang bersebelahan dengan Geger Beach. Saya akan bercerita tentang pantai tersebut di postingan yang lain. Kali ini saya akan bercerita tentang sebuah tempat yang saya merasa tidak sedang berada di pantai di Indonesia, bukan karena pemndangan pantainya akan tetapi karena pada hari saya berkunjung ke pantai ini saya tidak menemukan satu pun pengunjung Indonesia. Bahkan pengelola restoran di daerah ini pun tidak banyak yang orang Indonesia. 

Awalnya saya mengetahui pantai ini dari seorang blogger Australia yang pada saat musim panas di Australia berakhir pindah tinggal di sebuah rumah pantai di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, Sally. Pada kunjungan saya ke Bali sebelum-sebelumnya saya tidak tahu mengapa saya tidak tertarik untuk berkunjung ke pantai ini. 





Bermodalkan Imap di Iphone, saya sampai di sebuah area parkir yang cukup luas di antara pepohonan saya mengikuti petunjuk arah yang membawa saya menyusuri lorong-lorong sempit yang penuh dengan tanaman hias merambat di antara villa-villa dan penginapan yang didesain dengan gaya Bali yang berkawin dengan konsep rumah tropis yang terbuka. Suasana. Jalan setapak yang saya lewati kini sampai di jalanan yang menurun di antaratebing-tebing dan restoran, beach bar, villa dengan deck yang luas semua mengahadap ke laut. Di bawah sana mulai terlihat warna ke ilau biru air laut yang tertimpa sinar mentari pagi. Begitu tangga berakhir di atas pantai kecil yang sempit saya melihat sekeliling saya dan sontak saya terkagum-kagum dengan bangunan-bangunan yang menempel di tebing-tebing di atas pantai. Memandang ke sebelah kanan, tampaklah pantai Dreamland yang dipisahkan oleh garis panjang tebing curam.



Inilah model  kompleks pemukiman rumah pantai idaman saya. Rumah-rumah di atas tebing karang yang tinggi  dengan beranda besar menghadap laut lepas, dinding-dinding kaca yang bisa digeser sehingga pada siang hari menjadi sebuah ruang terbuka, jendela-jendela layar yang bis digulung, bahan kayu berwarna cokelat, meja kopi dan sofa yang menghadap ke laut. Buat anda yang sedang punya proyek menulis, tempat ini sepertinya akan mengalirkan inspirasi anda. 



Pantai ini memang sangat cocok buat yang suka menceburkan diri ke laut, berjemur sambil membaca buku dan tidur-tiduran sepanjang hari seperti saya. Dan tentu saja tempat yang sempurna untuk menikmati matahari terbenam karena tempat ini menghadap ke laut lepas tempat matahari menghilang di ujung horison. Batas antara pasir pantai dengan air cukup dalam sehingga kita bisa langsung melopmpat ke dalam air tanpa takut kaki dilukai oleh karang-karang tajam. Hanya beberapa kayuh berenang, kita sudah bisa mencapai kedalaman 3-4 meter. Nah, di sinilah bagian favoritnya. Biarkan badan terlentang mengambang mengahadap ke pantai membiarkan tubuh terayun mengikuti irama ombak.  Di depan sana tampaklah pemandangan sack, deck, restaurant, bar, villa or whatever you name it yang berdiri di atas karang maupun menempel di tebing-tebing yang dihiasi dengan tanaman merambat dan rimbunan bougenville dan pohon kamboja dengan bunga berwarna-warni di sepanjang tebing. Bangunan-bangunan dengan unsur kayu dan desain yang sangat terbuka benar-benar memberikan kesan tropical paradise


Makan siang
Pilihan restaurant beragam di sini. Hampir semua bangunan yang di tebing paling bawah, yang berbatasan dengan pasir adalah restaurant dan bar. Kalau mau yang agak ke atas juga banyak. Beberapa restaurant dan bar ini juga menyediakan kelas Yoga. Melakukan Yoga menghadap lautan lepas tentu saja bernilai lebih buat anda pencinta pantai dan laut. 

Setelah memeriksa beberapa restaurant, saya memutuskan untuk memilih sebuah restaurant yang bernama Didi's place. Tempat yang dikelola oleh pasangan Midle-eastern-Bali ini menarik perhatian saya karena meja-mejanya ditata di luar di bawah pepohonan dan dindingnya adalah tebing batu karang yang dibiarkan alami. Untuk mencapai restaurant tersebut kita harus menaiki 5 undakan tangga batu dan di undakan ketiga tersedia sebuah bak hitam tempat setiap pengunjung harus membasuh kaki agar lantai restaurant tetap bersih. Saya sangat menyukai tempat ini karena pengunjungnya yang easy going dan juga pemiliknya yang ramah yang bisa diajak santai mengobrol sambil dia mempersiapkan makanan. Dari aksen berbicara, kebanyakan pengunjung tempat ini adalah turis Australia. Walaupun banyak teman-teman saya tidak menyukai turis Australia,  karena menurut mereka, mereka terlalu bising dan suka sok akrab. Tapi menurut saya, mereka memang hangat dan bersahabat, terlepas dari memang banyak yang terlalu hippies dan kadang berpikiran sempit. Toh, orang-orang seperti itu ada di mana-mana.





Di meja yang teletak di tempat yanglebih tinggi di samping rimbunan semak yang dinaungi pohon mangga, tampak segerombolan laki-laki dan perempuan tengah berkelompok belajar bahasa Indonesia yang didampingi oleh seorang tutor Indonesia. Yang laki-laki tentu saja rata-rata tidak berbaju, hanya mengenakan surf booty atau shorts, sebenarnya di mana-mana di pantai di Bali mereka turis berpenampilan seperti itu sih. Tapi perhatian saya tersedot karena pakaian-pakian tersebut berpadu dengan badan-badan bagus ala surfer. Ha, very yummmm! Saya? Tentu saja saya juga tidak berbaju dong. Kapan lagi di Indonesia berkeliaran hanya dengan surf booty dan tidak perlu memakai pakaian dalam? Tempat ini adalah tempat sempurna for watching people, judging them, adore their bodies and envy their good surf booty! 


Saya memutuskan untuk tidak menghabiskan sore menikmati sunset di tempat ini karena ingin bersantai di kolam renang di villa kami. Selain itu, kami ingin pergi makan malam ke Nusa Dua malam nanti. Jadi, kami butuh mengembalikan energi dengan bersantai di villa. Saya pasti akan berkunjung ke sini lagi pada kunjungan saya ke Bali berikutnya. And I do need a sexy booty surf or wery sexy swim shorts from Andrew Christian!   

Monday, March 3, 2014

Singapore City Tour; Clarke Quay in My Mind

Langit sore perlahan-lahan memudar menuju gelap. Angin bertiup sepoi-sepoi cukup membawa kesegaran setelah beberapa saat terjebak di ruang-ruang bawah tanah stasiun MRT dan pusat perbelanjaan, The Central. Lampu-lampu kota mulai menyala. Ramai pengunjung yang memenuhi pinggiran Riverside di Clarke Quay menambah semarak sore di pinggiran Singapura river. Beberapa laki-laki muda dengan tampang kaukasia berjalan santai menyandang tas dengan es krim di tangan. Negara ini telah menjadi tujuan pemuda-pemuda negeri barat untuk memulai karir internasional. Tampang India, Bangla, Chinese dan Melayu bercampur dengan lalu lalang wajah Thai dan Vietnam. Para laki-laki dengan balutan kostum Sport dari Nike dan Adidas berlari-lari di sepanjang jogging track di antara lalu lalang wisatawan dan melewati deretan meja-meja restoran yang bertebaran di sepanjang sungai. Campuran aroma parfum yang semerbak dari para  laki-laki wangi tersebut bercampur antara spices, woods, flowers, fruits, dan entah apa lagi. Entah datang dalam kemasan Bvlgary, Armani, Lacoste, Hermes, atau Dior. Entah membawa nama merek mana lagi. Semua ramai menghampiri pembauan saya yang sangat sensitif mengendus wewangian lelaki yang terkirim lewat perantaraan angin senja di tepian sungai ini. Satu yang melekat dalam otak saya; semerbak wangi urban. Beginilah aroma udara urban yang meruap dari badan laki-laki dan perempuan negara berpenghasilan tinggi. Aroma udaranya saja sudah meruapkan kemakmuran. 

Bangunan antik dalam kemasan modern Swiss Merchant Hotel di depan saya menyiratkan bagaimana negara ini menjaga bangunan-bangunan bersejarah agar tetap menjadi bagian keindahan negara kota yang modern.  Semua menyatu dalam kemasan cagar budaya lampau yang terkemas apik berdampingan dengan kehidupan modern. Berjalan menyeberangi Read Bridge seakan diajak untuk kembali meneluri sejarah Temasek masa lampau. Bangunan-bangunan tua yang terjaga apik berdampingan dengan bangunan berarsitektur modern dalam wujud shopping mall, apartement dan taman-taman yang berdampingan menyumbang harmonisasi suasana. Pemusik jalanan melantunkan balada tepat di tengah Read Bridge di antara lalu lalang pejalan kaki dalam senja yang mulai temaram. Flash kamera pijar memijar dari gadget-gadget canggih dan lensa-lensa kaliber tinggi. Semua ingin mengabadikan sore yang rancak di tepian Singapura River di Clarcke Quay. 

Negara ini sangat berhasil menjaga cagar budaya menjadi aset wisata yang menguntungkan. Jembatan tempat saya duduk ini adalah Read Bridge yang dibangun pada masa penjajahan Inggris tahun 1888. Pada waktu itu hiduplah seorang saudagar yang bernama William Henry McLeod yang berhasil mengajukan petisi kepada kerjaan Inggris agar Temasek diposisikan langsung di bawah Kerajaan Inggris sebagai Crown Colony.  Untuk mengenang kebesarannya jembatan yang dibangun menggantikan Merchant Bridge yang terlalu rendah untuk dilewati tongkang-tongkang yang berlayar di Singaporean river inipun dinamakan dengan mengikuti namanya, Read Bridge. 

Menuju gelap hentakan irama Timur tengah dari restoran-restoran dan bar beraroma padang pasir di sepanjang  kompleks restoran di Clarke Quay semakin rancak. Meja-meja restoran di sepanjang sungai maupun di dalam mall dipenuhi orang-orang dengan pakaian terbaik. Komplek bangunan restoran ini adalah bangunan-bangunan toko dan loji tua tempo dulu yang masih terjaga bentuk aslinya di bawah atap konstruksi yang futuristik. Perpaduan yang menarik. Suasana ini sangat kontras dengan kota yang baru beberapa jam yang lalu saya tinggali. Beda Negara memang beda nasib walaupun berangkat dari sejarah yang mirip dan berada di wilayah yang berdekatan. 

Otak saya membawa saya dalam ingatan tentang Asian Century dan ASEAN Community yang saya paparkan di depan ratusan mahasiswa dan pelajar di kota Batam sana, kota dengan jarak tempuh kurang dari 1 jam dari sini. Melihat bagaimana kondisi negara ini dan membandingkannya dengan negara di mana kota yang baru saya tinggalkan berada, rasa-rasanya negara ini akan menang telak dalam kompetisi yang dihasilkan oleh free flow of everything yang menjadi implikasi dari skema kerjasama negara-negara ASEAn dalam platform ASEAN Community. Tentu dengan beberapa negara dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang u ggul seperti Malaysia dan Thailand. Berbicara tentang free flow of people, aneka tampang yang mewakili berbagai macam ras di dunia ini sudah cukup mewakili bahwa arusnya tengah mengalir di negara ini. 

Mata saya beralih kepada sekelompok muda-mudi yang berdiri bergerombol di ujung jembatan. Kelihatannya mereka dalam rentang umur 20an. Umur-umur yang sedang meniti tangga karir. Yang menarik perhatian saya adalah fitur wajah mereka. Belasan pemuda yang masih dalam balutan kemeja kantoran tersebut mewakili beberapa ras kaukasia, dan Asia. Lihatlah, negara ini telah menjadi tempat bertemu berbagai macam ras dalam setingan profesional. 

Dalam balutan kemeriahan tepi sungai Singapura di Clarke Quay, saya semakin asyik terbawa dengan suasana dan pikiran saya sendiri, menyimpulkan simpul-simpul informasi yang saya dapat tentang bagaimana Asia yang tengah menjadi fokus mata dunia dalam sebuah nama optimis Abad Asia. Saya tengah menyaksikannya sendiri dalam suasana urban yang saya selami dari tadi. Lalu munyul pertanyaan dalam pikiran saya; bagaiaman dengan negara kita? Siapkah generasi bangsa kita menyambut Abad Asia? Siapkah pemerintah menyetir bahtera bangsa kita denga kebijakan-kebijakan yang unggul? Tentu saja pertanyaan  tersebut juga adalah pertanyaan untuk diri saya. 

Monday, January 27, 2014

Ethiquette; Ruang Publik

Sore di Jogja hari ini hangat dan menyenangkan. Maka setelah menyelesaikan pekerjaan domestik, saya memutuskan untuk berangkat ke gym untuk beberapa set latihan. Lagipula, saya baru saja menyelesaikan minggu-minggu yang melelahkan dengan beban UAS dan final paper yang menumpuk. Beban saya semester ini jauh lebih banyak dari mahasiswa lain yang malah jauh berkurang karena perkuliahan telah berfokus kepada mata kuliah yang menjadi konsentrasi pilihan. Saya malah mengambil dua mata kuliah di jurusan Kebijakan Publik dengan beban kredit total 9 SKS di luar 14 SKS di jurusan saya sendiri. Dua mata kuliah itu menyumbang beban 5 final paper yang cukup berat, terutama policy paper yang dibuat sebagai skenario menghindari midle-income trap yang menghantui Indonesia. Rasanya setelah melalui minggu berat trsebut saya berhak untuk latihan gym panjang, berenang dan mungkin sauna. 

Saya tergelitik menulis postingan ini karena setelah berenang 10 putaran, saya merasa cukup terganggu dengan sekumpulan anak-anak muda berjumlah 8 orang yang menempati pool chair di sebelah saya. Mereka terdiri dari tampang lokal dan 3 tampang kaukasia yang perkiraan saya adalah mahasiswa asing. Mereka tampan-tampan dan cantik cantik yang dari fitur wajah dan semua yang melekat di tubuh dan gadgetnya, jelas mereka berasal dari peradaban modern. Tapi kecantikan dan ketampan tersebut langsung bernilai nol di mata saya karena perilaku mereka. Selain asap rokok yang mengepul, mereka memutar musik dari Iphone mereka yang disambungkan ke spekaer yang tentu saja menghasilkan suara yang keras. What? Am I in the kind of taman bermain somewhere in coast of Java with a bunch of Kampung people visiting? Selain itu, berkali-kali mereka berenang melintang yang menghalangi perenang lain yang berenang memanjang sebagaimana lazimnya. Well, rasanya dalam konteks seperti ini bukan saatnya untuk tampil beda deh. It doesnt't look creative at all. It's annnoying!

Dalam anggapan saya, mereka bukanlah orang yang tidak terpelajar yang asing dengan istilah common space dan etiket ketika berada di dalamnya. Di ruang publik, kita memang bebas untuk mengekspresikan diri dan melakukan hal yang kita sukai. Tapi hal yang harus diingat adalah, hak tersebut dibatasi oleh hak orang lain. Dalam konteks ini, hak tersebut adalah hak saya untuk menghirup udara yang bebas polusi asap rokok karena saya menjaga kesehatan saya. Saya juga berhak untuk tidak mendengarkan suara bising musik yang bukan selera saya tersebut. Bukankah teknologi sudah canggih sehingga musik tersebut bisa didengarkan melalui headset yang pastinya tidak mengganggu ketenteraman orang lain? Lagipula di pinggir kolam renang hotel ini jelas-jelas tertulis aturan dalam menggunakan fasilitas yang menekankan untuk memperhatikan kenyamanan orang lain, tertulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sekaligus. Well, kecuali mereka tidak memahami kedua bahasa tersebut atau mungkin rabun. 

Akhirnya saya juga tergelitik untuk menulis perilaku orang-orang di gym yang sepertinya tidak tahu tentang gym ethiquette. Atau sebenarnya mereka tahu tapi terlalu angkuh untuk mematuhinya. Dalam tata krama gym, sudah menjadi pengetahuan umum untuk mengembalikan alat dipakai ke tempatnya semula. Selain itu mengembalikan posisi alat ke posisi netral juga sudah menjadi peraturan umum di mana-mana. Tapi entah apa yang ada di pikiran orang-orang itu sehingga mereka meletakkan barbel berserakan dan membiarkan free weight machine dengan beban yang telah mereka set, bukan dikembalikan ke posisi nol. Apakah mereka berpikir bahwa mereka segerombolan makhluk istimewa yang mereka harus dilayani? Hey I'm a gift from God fro you. You have to serve me! Hellowww! Dan entah mengapa harus berbicara sambil berteriak-teriak di dalam ruangan seperti itu. Do you need attention Sir? Menurut saya ini adalah bentuk dari insekuritas sehingga mereka berpikir dengan berbicara ribut bergerombol orang lain akan terintimidasi. Thanks, not for me!

Selain membiarkan alat berserakan, kok mereka santai saja duduk di salah satu alat padahal tidak melakukan aktivitas latihan, malah asyik menekuri layar gadget. Tidakkah berpikir bahwa orang lain mungkin ingin menggunakan alat tersebut? Kalau buat saya sih gampang; saya tinggal menatap langsung ke matanya dan bilang; are you done? Akan tetapi ada orang lain yang entah karena budaya uwuh pakewuh malah mengalah instead of pushing to get what they deserve to. Di locker room juga sama. Selain bercakap-cakap dengan keras dan seringkali berteriak dan tertawa ngakak yang sangat gaduh di dalam shower room, mereka juga membiarkan handuk-handuk yang telah mereka pakai tergeletak di pantai instead of returning them to the towel storage. Sekali lagi kok enak sekali menambah pekerjaan orang lain untuk memungut handuk-handuk itu buat mereka. Yang menari adalah, mereka akan sangat senyap ketika tidak dalam gerombolan. Well, suatu hari saya tidak tahan dan menyelutuk, pindahan dari hutan Mas ya?

Akhirnya, karena saya menghargai hak saya, saya tidak mau hanya diam dan mengelus dada motok hasil latihan keras saya. Saya mendatangi gerombolan pemuda di samping saya dan dengan sangat sopan saya berkata;

"Mas, musiknya bisa didengarin sendiri saja? Kebetulan saya tidak sedang ingin mendengarkan musik sore ini"

Kelihatannya mereka cukup terkejut tidak menyangka akan ada orang yang protes dengan ketidaknyamanan yang mereka timbulkan. Dengan tampang memerah salah seorang yang bertampang bule meminta maaf dengan bahasa Indonesia yang dalam setingan biasa terdengar lucu, tapi tidak untuk saat ini. Sementara yang lainnya hanya memandang dengan pandangan bercampur heran dan takjub. 

Well, someone must stand for his right. Lagipula, perubahan itu dimulai dari hal-hal kecil dan berani untuk menegur ketika melihat hal yang salah. Berani membicarakan hal-hal yang tidak lazim dibicarakan yang biasanya dihindari dengan kekhawatiran akan menyinggung dan merusak hubungan dengan orang lain. Mengalah dan menjaga perasaan orang lain tidak selalu bagus kalau hanya untuk menjaga agar suasana tetap harmoni dengan mengorbankan kenyamanan diri sendiri. Lebih baik mengungkapkan daripada memendam kekesalan di belakang yang hanya akan memberikan energi negatif pada diri sendiri.   Talk the untalkable, discuss the undiscussble. Value yourself, people will value you. 



Sunday, January 12, 2014

Catatan Akhir Semester; Dosen Favorit

Dalam banyak hal saya sangat percaya dengan "Judge the book from it's cover" dan " get the people from its first impression". Berbicara tentang frirst impression, saya bisa langsung memilah-milah mana dosen yang menyenangkan dan mana yang tidak. Definisi menyenangkan di sini  adalah kemampuan sang dosen berkomunikasi dengan mahasiswa, engaging, mempunyai aturan yang jelas, dan memposisikan mahasiswa sebagai equal peer dalam knowledge construction. Sehingga, ketika berinteraksi dalam kelas mahasiswa merasa bebas untuk menyampaikan pendapat, menyanggah ataupun mendebat dosen, tentu saja harus dilakukan dengan ethics. Ada banyak dosen yang ketika seharusnya sessi diskusi, ataupun ketika mahasiswa mengeluarkan pendapat di tengah-tengah sesi kuliah, dia tidak memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menunjukkan kedalaman pengetahuannya dengan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengelaborasi, mengkontekskan, dan memberikan pendapatnya atas sebuah masalah sebelum dia bertanya untuk mengetahui pendapat dosen tersebut atas konteks permasalahan yang didiskusikan. Sang dosen dalam tipe tersebut biasanya akan memotong dengan "inti pertanyaannya apa"? Dan menekan berkali-kali dengan kata intinya. Buat mahasiswa yang nyalinya kecil, ini bisa membuat mereka gugup dan kehilangan kata-kata dan bisa jadi tidak akan mengeluarkan pendapat selama perkuliahan satu semester ke depannya. 

Saya pernah punya pengalaman dalam salah satu kelas profesor senior yang mengajar subjek "change management". Sebenarnya saya dan beberapa teman tidak berminat mengambil mata kuliah tersebut karena pengalaman kami pada semesternya dalam perkuliahan yang berbeda, professor yang mengampu mata kuliah ini pendekatannya dalam kelas tidak bagus. Dari student feedback evaluation yang diisi di akhir semester, professor ini menempati 2 posisi terendah. Akan tetapi, mengingat ini mata kuliah penting yang berhubungan dengan kebijakan, saya bersama beberapa teman teman bersepakat untuk memasukkanke dalam kredit SKS kami dengan komitmen, kami sendiri yang akan menghidupkan kelasnya dengan lebih aktif untuk menanggapi dengan berdiskusi walaupun si profesor belum membuka diskusi seperti yang dia lakukan biasanya. Kami bersepakat untuk selalu membaca jurnal dan referensi sebelum memasuki kelas sebagaimana seharusnya yang dilakukan oleh mahasiswa yang baik. Pada pertemuan pertama sampai ketiga, semua berjalan lancar. Kelas sangat hidup dengan diskusi-diskusi yang menarik. Kami selalu termotivasi untuk membaca jurnal yang berkaitan dengan topik yang akan kami diskusikan pada tiap pertemuan. Sang profesor pun menunjukkan perubahan dibandingkan dengan semester sebelumnya. Dia lebih engaging. Tampaknya feedback review yang kami tulis dan evaluasi dosen membuat dia berusaha untuk berubah. 

Topik perkuliahan pada pertemuan kali ini adalah tentang globalization drive. Topik yang saya sangat sukai. Semalam sebelumnya saya sudah membaca beberapa jurnal dan buku tentang "globalization and higher education". 

Ketika mahasiswa lain mulai menunjukkan kebosanan yang ditandai dengan menekuri layar laptop masing-masing, saya melihat kesempatan untuk menghidupkan kelas karena saya pun tidak akan tahan mendengarkan pembicaraan searah dpprofesor ini selama 2 jam ke depan. Ketika saya mengangkat tangan, prfesor tersebut mengangguk dan meberikan kesempatan kepada saya. Saya mulai menangkat beberapa fakta dan menghubungkan dengan bukunya Thomas Friedman, the World is Flat dan kemudian mengkontekskan dengan disparitas berbagai aspek di Indonesia yang membuatnya sulit untuk menyesuaikan diri dengan tantangan yang ada. Saya belum satu menit berbicara ketika sang profesor memotong dengan berulang-ulang mengatakan "intinya!". Sekarang, semua mahasiswa yang tadi menekuri laptop masing-masing mulai terfokus kepada saya dan si profesor. Saya pun mengajukan kalimat pertanyaan saya. 

Ketika si professor menanggapi, sampai pada 1 menit pertama, saya tidak mendapatkan poin yang berhubungan dengan apa yang saya sampaikan. Melihat hal tersebut, saya menyampaikan bahwa menurut saya apa yang dia bicarakan tidak dalam konteks pertanyaan saya. Maka saya menyampaikan ulang maksud saya dengan menjelaskan lebih detail konteks pertanyaan saya dan apa yang saya harapkan dari tanggapan beliau. Saya juga menyampaikan mengapa dalam diskusi ini saya tidak bertanya, tapi saya meminta pendapat beliau sebagai expert untuk membandingkan dengan apa yang saya baca, apa yang saya sintesa dari fakta dan bacaan dan kemudian saya sintesa lagi dengan pendapat beliau. Sintesis akhir itu adalah hak prerogratif. Saya sedikit menekankan bahwa dalam kelas ini kami tidak melakukan tanya jawab tetapi berdiskusi. 

Sesi tanya jawab adalah sesi untuk proses pembelajaran di sekolah menengah menurut saya. Dalam pembelajaran orang dewasa yang menggunakan prinsip pendekatan andragogy, bukan pedagogy, mahasiswa harus diposisikan sebagai partner. Mahasiswa, apalagi mahasiswa pascasarjana adalah manusia dewasa dengan kemandirian berpikir dan kemampuan analisis yang lebih, begitulah seharusnya. Akan tetapi banyak dosen, terutama dosen dari generasi tua masih mengajar dengan cara yang sangat klasikal dimana mereka menempatkan dirinya pada posisi yang lebih superior dalam hal knowledge. Pembelajaran di universitas seharusnya bukan lagi mengacu kepada knowledge transfer tetapi kepada proses knowledge construct dimana mahasiswa dibekali dengan learning skill dan kemampuan analisis serta critical inquiry yang menjadi slaah satu learning philosophy. Ketika mahasiswa mempunyai bekal ini, mereka akan belajar apa saja dengan lebih mudah. Mereka akan berpikir secara universal, think through.

Satu hal lagi yang sering menjadi hambatan dosen generasi tua adalah kemampuan untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Ini tidak berlaku untuk semua dosen karena saya mempunya beberapa midle-aged profesor yang sangat high tech. Dua orang orofesor favorit saya adalah profesor dengan umur di atas 50 tahun tapi kemampuannya beradaptasi dengan teknologi terbaru tidak kalah dengan mahasiswa yang generasi baru yang memang lahir di era digital. Ketika pertama kali memasuki kelas profesor tersebut, saya langsung menyukai mereka begitu seperangkat gadget keluaran perusahaan Mbah Steve Jobs tergeletak di atas meja mereka. Dan, walaupun saya belum menemukan penelitian yang menunjukkan korelasi antara melek teknologi dengan kemampuan menghidupkan kelas dalam proses perkuliahan, dua profesor ini mempunyai kelas yang sangat hidup. Kelasnya selalu ramai dengan diskusi-diskusi tentang fenomena terbaru yang sesui dengan topik perkuliahan. They also happeneed to be the most engaging professor that I've ever met. 

Saya juga punya cerita berkaitan dengan teknologi. Masih dalam setting yang sama dengan cerita pertama. Salah seorang teman sekelas mengajukan pendapat sambil sesekali matanya melirik ke tablet yang dipegangnya. Sebelum menanggapi pendapat teman saya tersebut, sang profesor dengan nada sinis berkata 

"kalau mau bermain dengan tablet, silahkan di luar kelas saya!"

Mendapati tanggapan seperti itu, teman saya agak tersinggung dan memberikan alasan mengapa ia harus melihat tabletnya. Ia menjelaskan bahwa kasus yang dia bicarakan tertulis di browsing window di tabletnya. Ia harus memastikan data yang dia sampaikan benar seperti yang tertulis dalam laporan yang baru dia dapat di internet yang terkoneksi ke tabletnya tersebut. Kemajuan teknologi membuat semuanya serba real time. Pada saat perkuliahan sedang mendiskusikan topik cross-border student mobility, mahasiswa bisa langsung mencari hasil penelitian terkini tentang topik tersebut dan menyajikannya hangat-hangat di tengah diskusi. Hal ini yang banyak belum dipahami oleh sebagian dosen generasi tua yang lahir dan besar ketika teknologi belum merubah wajah dunia seperti saat ini. Atau sebenarnya mereka paham, hanya kesulitan untuk beradaptasi. Saya mengerti, beradaptasi dengan perubahan yang sedemikian cepat tidaklah gampang, people tend to resist to change.Dan saya angkat topi untuk dosen-dosen generasi tua yang bisa melakukannya. 

Kembali ke judul curhatan saya. Dosen yang bagaimana sih yang menjadi favorit saya. Yang pertama, dosen tersebut masuk ke pertemuan pertama dengan RKKPS yang lengkap terdistribusi ke semua mahasiswa, atau karena ini zaman high tech, silabus dan aturan perkuliahannya bisa dialses di situs pribadinya atau media apapun yang disediakan oleh kampus. Salah satu dosen favorit saya, semua silabus perkuliahan dan bahan perkuliahannya bisa diakses di situs pribadi beliau. Ketika memasuki kelas, anggapannya adalah semua mahasiswa sudah mengakses situs tersebut dan tahu aturan main perkuliah di kelas tersebut. Di sinilah mahasiswa harus berperan aktif untuk reserach tentang perkuliahan dan dosen yang dihadapinya dengan googling atau bertanya ke bagian akademik. Ketika mahasiswa memahami RKKPS dari mata kuliah yang dia ambil, dia akan lebih mudah untuk melakukan self-directed learning, sebagaimana seharusnya pembelajaran pada orang dewasa. 

Yang kedua, dosen favorit dalam versi saya menempatkan mahasiswa dalam posisi setara. Tentu saja dalam koridor etika hubungan dosen-mahasiswa. Ada satu hal mengapa dosen dan mahasiswa harus dalam posisi setara, keduanya adalah insan akademis dengan kemampuan menyerap pengetahuan yang sama dan berada dalam mimbar kebebasan akademik. Yang membedakan keduanya adalah dosen mungkin mempunyai wisdom dan pengalaman yang lebih sehingga mahasiswa belajar dari hal tersebut. 

Yang ketiga, dosen tersebut menempatkan posisinya sebagai inspirator dan motivator. Ketika seseorang mempunyai motivasi yang tinggi, dia akan melakukan apa saja. Maka tugas dosen adalah menajga agar mahasiswa tetap termotivasi untuk belajar dan memperluas pengetahuan mereka, melihat dan mengkritisi fenomena dan kejadian di sekelilingnya dengan pijakan dasar yang kuat dan diterima secara intelektual. 

Yang keempat, pada akhirnya semua skill tadi harus dibungkus dengan kemampuan komunikasi yang baik karena proses perkuliahan adalah interaksi dan komunikasi. Kemampuan komunikasi di sini bukan hanya kemampuan berbicara dan mendeskripsikan. Terkadang kita terpaku bahwa kemampuan komunikasi hanyalah kemampuan berbicara seperti seorang orator ulung yang memukau. Kita melupakan. Salah satu aspek komunikasi yang penting, yaitu kemampuan mendengarkan dan berempati. Dan ini menurut saya adalah kemampuan yang paling sulit. 

Pada akhirnya, tulisan saya ini tidak bermaksud untuk mengeneralisir bahwa dosen-dosen kita berkwalitas seperti gambaran cerita saya tadi. Menarik untuk melihat indikator penilaian perguruan tinggi yang dipakai oleh Times Higher Education yang dipakai untuk menilai perguruan tinggi secara world wide. Sebesar 30% proporsi nilai disumbang oleh indikator "teaching" dengan beberapa sub indikator di bawahnya seperti teaching process dan learning environment. Ketika kita ingin meningkatkan daya saing pendidikan negara kita kita secara global, sudah sepatutnya untuk mengevaluasi dengan jujur kwalitas pengajaran di perguruan tinggi negeri ini. Data Kemendiknas menunjukkan bahwa baru 47% dari ratusan ribu dosen di negeri ini yang tersertifikasi. Tentu saja, kita harus menelisik lebih dalam, apakah yang membuat kwantitas tersebut serendah itu. Apakah karena memang dosennya tidak lolos sertifikasi atau karena sistem yang membuat proses sertifikasi sulit sehingga banyak dosen yang kesulitan untuk mengurus berkas sertifikasi. Seharusnya petanyaan kedua, bisa terjawab oleh dukungan teknologi yang serba online dan juga celah otonomi yang semakin luas diberikan kepada perguruan tinggi.