Tuesday, May 26, 2009

Road to Pulau Sempu Part Two; Segara Anakan, The So Called Laguna



Terbangun karena suara deburan ombak membuatku tersadar akan tempatku tertidur. Tidur diatas pasir tanpa tenda semalaman cukup nyaman walaupun dingin cukup menusuk membuatku enggan untuk menyingkirkan sleeping bag yang membungkus sekujur tubuh. Dalam keremangan fajar, segara anakan mulai terlihat jelas.



Shalat subuh berjama'ah di atas pasir di tepi Segara anakan terasa sangat berbeda. Khusyuk menyatu dengan deburan ombak dan nyanyian burung pagi. Tak sabar lagi rasanya ingin segera menceburkan diri ke dalam Laguna yang sangat bening itu. Tapi kayaknya asyik kalau melihat-lihat sekeliling dan mengambil beberapa gambar.




 

Diatas tebing karang yang memisahkan sisi timur Segara anakan dengan Laut Selatan

(pakai baju hitam dipantai;jangan ditiru!! Bakalan panas banget tuh)



Background Segara Anakan

Dalam siraman mentari pagi Segara Anakan terlihat sangat Memakau. Dikelilingi oleh tebing-tebing karang yang tinggi dan tertutup rapat oleh pohon membuatnya terlihat seperti danau di tengah hutan ketimbang Laguna di tengah Pulau di laut Selatan. Yang enyadarkan kalau ini di tengah Laut selatan adalah, deburan ombak yang menggema menghempas di balik tebing-tebing karang itu. Kalau pernah nonton The Beach yang dibintangi Leonardo Di Caprio, anda akan merasakan De Javu karena Segara anakan mirip banget sama Laguna di Thailand yang menjadi setting film itu. Nah kan, ternyata Indonesia pun punya Laguna yang tak kalah indahnya. Nggak perlu jauh-jauh ke luar negeri.



 


Air Laguna yang hangat diterpa mentari pagi. Nggak renang? Mana tahan!!

Air di Segara anakan ini dipasok dari Laut Selatan oleh ombak yang menerjang masuk lewat lubang karang di sisi barat Laguna. Kata Laguna sendiri berasal dari bahasa Inggris Lagoon yang berarti sebuah danau air asin yang dipisahkan oleh tebing karang atau hamparan pasir dari laut lepas. Nah, Segara anakan ini dipisahkan oleh karang tinggi dari laut lepas sehingga lautnya tidak kelihatan.


 


 


Air mengalir masuk ketika ombak menghempas lubang karang.

Melompat dari atas tebing karang tinggi ketika air itu menerjan masuk merupakan tantangan yang mengasyikkan.




Beruntung kami sempat membeli mata kail dan benang di Sendang biru kemarin. Memancing sambil melihat ikan karang berwarna-warni itu bergerombol dan berebutan memakan umpan yang dipasang merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Kalau mau dapat ikan yang lebih besar, bawalah kail dan umpan yang memadai. Dahulu sebelum tempat ini dikunjungi sesering sekarang, Segara anakan merupakan tempat tinggal bagi berbagai jenis terumbu karang dan habitat yang bergantung padanya. Tapi sekarang keindahan itu sudah terkikis oleh pemboman liar yang dilakukan oleh tangan yang tidak bertanggung jawab. Sayang sekali.



Hasil mancing sambil renang


 

Sebelum pulang kami sempat membersihkan pantai yang mulai kotor oleh sampah yang ditinggalkan oleh pengunjung yang tidak bertanggung jawab. Sayang sekali kan, tempat seindah ini direduksi pesonanya oleh sampah. Andaikan semua punya kesadaran untuk menjaga kelestarian alam, bisa dipastikan masih bisa disaksikan keindahan yang sama berpuluh tahun ke depan. Yang pasti Law of Attraction itu tetap berlaku. Ketika hal negatif yang kita sebarkan, hal negative pula yang akan didapatkan.

***

Travelling Guidance:

Jarak kota malang dengan Pantai Sendangbiru sekitar 71 km. Sendang biru bisa dicapai dengan menumpang angkot AG dari terminal Arjosari/LG&GL dari terminal Landungsari (pokoknya semua angkot yang berletter G akan sampai ke Terminal Gadang) dengan tarif Rp. 2. 300 per orang. Dari terminal Gadang, naik Bus jurusan Turen dengan tarif hanya Rp. 4. 000 per kepala. Perjalanan dari semua keberangkatan tadi ke Turen memakan waktu sekitar 2 jam. Baru kemudian dari Turen menempuh jarak 43 km ke sendang biru dengan angkot yang tarifnya Rp. 15. 000 per kepala. Jalan yang ditempuh berkelok-kelok dan anaik turun gunung. So, prepare yourself.

Bawa air minum yang cukup karena di Pulau Sempu air bersih agak susah didapat. Jaraknya jauh dari Laguna Segara Anakan dan rasanya pun payau. Yang pasti perbekalan dan camilan harus memadai. Saying sekali kalau harus bersenang-senang dengan perut keroncongan.

Pada waktu kami berangkat, ongkos penyeberangan dengan perahu dari Sendang Biru ke Pulau Sempu Rp. 100. 000 dan sudah termasuk fasilitas penjemputan ketika balik dari Pulau.kalau mau lebih hemat, bergabunglah bersama rombongan lain karena tarifnya dihitung per perahu bukan per kepala. Satu perahu bisa membawa sampai dengan 15 penumpang.

Usahakan menyeberang pada siang hari agar tidak kemalaman dalam perjalanan. Kecuali anda suka tantangan berjalan dalam gelap melewati hutan rimba dengan jalan setapak yang becek dan licin pastinya. Normalnya hanya butuh waktu satu jam untuk mencapai Segara Anakan.

Ok, selamat berpetualang and be wise to the nature….!!


 

.

Monday, May 25, 2009

Road to Pulau Sempu Part One



 

Terik mentari pagi itu begitu menyengat walaupun hari baru beranjak dari jam Sembilan pagi. Memang akhir-akhir ini kota Malang mulai terasa panas. Cuaca panas dan demam yang yang melemahkan tenaga dan konsentarasiku terkalahkan oleh keiginan untuk travelling yang sudah tak tertahankan lagi. Padahal kemarin aku matia-matian menolak untuk ikut. Tapi begitu anak-anak packing tadi pagi, aku nggak tahan!! Aku harus ikut ke Pulau Sempu!!

***

Perjalanan panjang dengan berganti angkot dan bus sampai tiga kali yang memakan waktu sekitar lima jam terasa melelahkan. Apalagi dengan medan jalan yang berkelok-kelok naik turun gnung daerah Malang Selatan yang memang berbukit-bukit. Tapi kelelahan itu terbayar ketika angkutan yang kami tumpangi berhenti di bibir pantai Sendang Biru. Benar-benar biru. Sebuah teluk sempit di laut selatan denganlatar belakang pulau kecil yang ditutupi vegetasi hutan tropis yang kelihatannya masih perawan tersaji di depan mata ketika memandang dari bibir pantai. Riak ombak kecil yang terbawa dari laut selatan yang trhaampar di mulut teluk sesekali menggoyang perahu kecil warna-warni bertebaran menghiasi teluk. Akhir pecan begini, pengunjung memang sangat ramai. Perahu-perahu hampir selalu penuh oleh pengunjung yang ingin menyeberang atau sekedar berlayar mengitari pulau sambil singgah di pantai-pantai kecil di pulau Sempu. Para penggemar olahraga dayung berseliweran diantara perahu-perahu motor yang bolak-baik mengantar wisatawan seolah berlomba mewarnai teluk biru yang tenang itu.

Sesaat kami terpaku di tepi pantai sebelum akhirnya menyeberang ke Pulau Sempu yang menajdi tujuan Adventur kami kali ini. Iya, daya tarik utama bagi petualang memang bukanlah pantai Sendang Biru melainkan Pulau Sempu yang ada ditengahnya dengan hutan yang masih menyimpan seribu misteri dan keindahan Laguna (Lagoon) Segara anakan. Kabarnya binatang-binatang liar dan ular phyton seukuran anaconda masih masih menjadikan pulau itu sebagi hunian mereka. Setidaknya seperti itulah yang dijelaskan oleh Pak Hendro, pencinta alam yang usianya tidak muda lagi yang punya perhatian khusus terhadap kelestarian cagar konservasi Pulau Sempu. Jarak Jakarta-Malang tidak menyurutkannya untuk rutin mengunjungi Pulau Sempu. Beliau begitu cinta sama Pulau eksotis degan hutan perawan itu. Apalah artinya jarak ketika cinta sudah tertambat?

Perahu merapat ke Pantai Semut di pulau ketika jarum jam sudah menunjukkan angka 5. Medan pertama yang kami lewati adalah hutan mangrove yang becek. Semakin ke tengah, vegetasinya berganti dengan pohon-pohon besar khas hutan tropis yang tumbuh rapat. Jalan setapak yang dilalui semakin menantang. Medan menanjak dan licin ditambah dengan kegelapan hutan cukup menyulitkan langkah. Beban di punggung jadi berlipat beratnya, apalagi kami membawa air bersih untuk memasak selain masing-masing air minum 3,5 liter di back pack. Disarankan untuk memakai sepatu dan celana lapangan kalau anda berniat mengunjungi pulau Sempu agar langkah anda mantap di tengah medan yang benar-benar bechek. Apalagi nggak ada ojyek. Cyapek kan?

Suara nyayian serangga hutan seolah orchestra alam yang tercipta menjadi soundtrack perjalanan kami sore itu. Sesekali diselingi bunyi berdebum badan beradu dengan tanah lembab yang dihasilkan oleh teman kami yan badannya memang extra itu. Dia sampai jatuh berkali-kali bergiliran dengan Ridho yang membawa tambahan beban 13 liter air di punggungnya. Keadaan ini membuat kami sebentar-sebentar berhenti. Sekarang mata hanya bisa melihat selangkah kedepan. Sinar mentari yang tadi masih samar-samar menembus pepohonan di awal perjalanan kini sudah tidak mampu lagi menembus rapatnya pepohonan. Hitam pekat kegelapan di depan mata meciptakan labirin yang membuat seolah-olah perjalanan malam itu tak berujung. Iya, tidak ada bayangan di benakku seperti apa tujuan akhir perjalanan kami itu karena aku tidak sempat untuk mengeceknya di internet. Bambang yang menjadi penunjuk jalan hanya memberi petunjuk "sebentar lagi sampai, sebentar lagi sampai" ketika teman-teman menanyakan ujung perjalanan kami. Dalam satu sesi istrahat (hampir setiap sepuluh menit setelah melewati 1 jam pertama, Siberat minta istirahat), kami mendengarkan murottal yang diputar Siberat dari Handphone canggihnya. Subhanllah, di tengah kegelapan dan kesunyian hutan itu tidak ada satu suarapun kecuali lantunan Murottal diiringi symphony hutan. Cess….hati mejadi begitu tenang. Hal yang biasa menjadi sangat istimewa ketika bertemu moment yang luar biasa. Beberapa saat aku memejamkan mata merasakan kegelapan dan lantunan yang begitu meyejukkan itu.

Suara gemuruh ombak mulai kedengaran. Tapi tidak terlihat apa-apa selain hitam pekat. Kami semakin girang, ketika suara-suara teriakan dan gitar bersahutan dengan suara hempasan ombak. Dengan bantuan cahaya senter kami mulai mencari tahu. Dari celah dedaunan,tampak warna keperakan air yang tertimpa cahaya bintang. Ternyata kami sudah berjalan di atas tebing, dibawah kaki kami terhampar Segara Anakan yang menjadi ujung perjalanan kami malam itu.

Sampai di hamparan pasir yang lembut, kelelahan itu rasanya sirna. Di tempat itu sudah ada beberapa tenda para campers yang sudah duluan sampai. Setelah menghamparkan alas tenda, masing masing menjatuhkan badan berbaring dalam diam menghadap ke tengah Segara Anakan yang memantulkan kilau cahaya bintang di langit yang cukup cerah malam itu. Kata tak mampu lagi menggambarkan keindahan suasana malam itu. Biarkan diam menanamkannya ke otak untuk meresapi keindahan itu.

Setelah merasa cukup larut dalam keindahan malam di tepi Segara anakan, aku segera mnyiapkan makan malam buat kita semua. perpaduan letih, kegembiraan dan keidahan segara anakan menjadikan mie instan yang menjadi santapan kami malam itu terasa sangat nikmat. Siberat sudah kembali On setelah redup karena perjalan tadi. Masing-masing segelas Cappuccino tak mampu menahan mata untuk terbuka lebih lama. Semua menyusup ke sleeping bag masing-masing, tidur beratapkan langit. Tidur diiringi deburan ombak laut selatan yang mengemuruh di balik tebing karang yang melindungii Segara Anakan dari amukan laut selatan. Tenda dome yang kami bawa teronggok sia-sia. Biarkan diri menyatu dengan alam tanpa ada pembatas.

Sayup-sayup otakku bersenandung sebelum akhirnya terlelap.

Derai berderai

angin ombak di pantai

Bergema badai selatan

tinggi meninggi

gelombang mendatang

merenggut kasih seorang


 

musnah harapan

ditelan gelombang

aduhai alam lindungilah diri hamba

badai selatan

Berikanlah tawaran

harapan cinta bahagia

(Agus Wisman -Badai Selatan- Ost Soe Hoek Gie)

To be continued….


 


 


 

Tuesday, May 19, 2009

Kehilangan


Aku kini menangis

Dikau kini telah pergi

Memberi seribu duka

Lara aku akehilangan dikau

..................kepedihan

Hadirmu seperti dulu

Aku kehilangan

Daku tulus berkata mengucap terima kasih

Segala pengorbanan cinta

Lara aku akehilangan dikau

......................kepedihan

Hadirmu seperti dulu

aku kehilangan

(Ost Heart, Kehilangan_Christina)
ada yang tahu lirik lengkap lagu ini?


 

Kemarin ketika main ke rumah teman ,ada suatu peristiwa yang menyentak pikiranku. ketika duduk-duduk di teras rumah, tiba-tiba dari out of nowhere muncullah iringan pemanggul jenazah yang diikuti oleh pengantar yang memenuhi jalan di depan rumah temanku itu. dengan langkah cepat dan senyap yang mencipta nuansa muram mencekam mereka menuju kuburan di ujung kompleks. Entah hanya aku yang merasakan suasana itu atau yang lainnya jyga merasakan, aku tidak tahu.

Berapa puluh kali kehilangan yang telah menyinggapi kita dalam hidup? Bukan berpuluh kali malah, ribuan bahkan jutaan kali. Mulai dari kehilangan sesuatu yang kecil yang tidak dirasakan sampai kehilangan sesuatu yang mengguncang hidup.

Terkadang kehilangan itu menenggelamkan seseorang ke dalam kedukaan yang berujung. akan tetapi ada yang bangkit kembali dan menemukan sesuatu yang baru setelah kehilangan itu.Siapapun pasti pernah merasakan sakit karena kehilangan. Semakin kuat ikatan kita dengan sesuatu, maka semakin sakit yang kita rasakan ketika ia tercabut dari kita.

Aku termasuk orang yang sangat takut kehilangan dan sudah tak terhitung mengalami yang namanya kehilangan. kehilangan sahabat, kepergian orang yang yang dicintai ketika cinta itu melekat dalam. Tapi toh, life must go on karena hidup sendiri adalah traffic dari kehadiran dan kehilangan yang silih berganti.

ketika melihat kalender, aku sadar kalau ia adalah daftar kehilangan. Kehilangan hari ini untuk menyambut hari yang baru keesokan harinya bukan? Matahari terbenam di ufuk barat supaya kita bisa menikmati suasana baru dalam hidup kita, malam yang tak kalah indahnya dengan siang. Kehilangan sahabat berarti kesempatan untuk mendapat sahabat baru kan?

Kenapa aku masih merasa kehilangan setelah sekian lama itu terjadi? Kenapa meratapi kegelapan karena tengelamnya matahari kalau ternyata dalam gelap itu bakal ada bintang dan bulan yang menerangi? sepertinya aku terus meratapi kehilangan tanpa menyadari banyak yang baru yang muncul tiap harinya. The matter is apakah aku sanggup membiarkan yang telah hilang benar-benar hilang dari hatiku dan segera menyambut yang baru?


 

Btw, lawan kata yang tepat untuk kata 'Kehilangan' apa ya? Anyone know?

Monday, May 11, 2009

Antara Janjiku dan Skripsi


 

Ini tentang skripsiku yang menjadi "center" kehidupanku belakangan ini. Banyak hal yang aku ikrarkan untuk membuat skripsi ini selesai dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Mulai dari tekad untuk nggak keluar rumah sebelum munulis skripsi setiap harinya sampai nggak akan menyentuh kolam renang sebelum skripsi selesai. Tapi toh akhirnya semua janji itu dengan semena-menadan tidak senonoh kulanggar sendiri.

Ini dia janji-janjiku yang aku ikrarkan demi skripsiku yang kalau dia sudah selesai bakal membuat aku senang sekali:

  1. Tidak keluar rumah sebelum menulis skripsi setiap harinya. Ini memang sangat spektakuler. Bayangin aja kalau aku setiap pagi menulis skripsi barang 1,5 jam saja. Paling dua minggu juga sudah kelar. Iya sih, aku ngetem depan laptop pagi-pagi tiap hari. File skripsi tersenyum mengoda menunggu dijamah terpampang di monitorku. Tapi setelah itu banyak hal yang menggodaku untuk selingkuh dari skripsi. Mulai dari memilah-milah file yang penting dan tidak penting buat dihapus sampai lihatin klip yang padahal sudah ditonton berkali-kali. Kalau ada bidang pekerjaan yang spesifikasinya mengatur-ngatur file dan folder, I'm the Expert!!!
  2. Janjiku yang kedua adalah tidak keluar kota buat jalan-jalan sebelum skripsi selesai. Sejauh ini janji ini yang masih kuat aku pertahankan. Pernah sih hampir ikutan Camping sama anak-anak The Gankzs. Tapi untungnya imanku masih kuat. Tinggal tunggu saja apa aku masih kuat menahan godaan anak-anak super- genit -tukang -manas-manasin orang itu buat campin ke Pulau Sempu minggu depan. Soalnya aku mau membayar semua pusa jalan-jalanku itu dengan Liburan Super panjang di Bali(yang panjang-panjan memang menggoda). Sudah janjian sama Chris.
  3. Nggak bakalan nyentuh kolam renang sebelum kelar skripsian. Sepertinya janji yang ini yang paling mengenaskan. Dengan tidak senonoh aku sudah melanggar janji itu sebelum genap seminggu aku mengikrarkannya. Renang dari pagi buta sampai siang sampe mata merah kayak orang mabok. Kayak tadi pagi, aku renang dari jam 7 sampai setengah 11. Pas kelar renang kok aku merasa udara di seputar kolam kog berkabut ya? Asapnya itu seolah-olah memenuhi celah-celah daun palem dan menyentuh tanah. Ah, paling-paling juga asap dari sampah yang dibakar sama petugas kebersihan kompleks pikirku. Tapi kok di shower room juga penuh asap. Ah, paling juga asap dari air yang menguap. Secara kan showernya air panas. Tapi aku tersadar ketika menuju tempat parker, kok mataku jadi kayak rabun gitu. Aduh, pasti gara-gara kelamaan renang nggak pake kacamata! Benar saja sepanjang jalan kok semuanya jadi berkabut. Aku jadi takutsekali. Tidak!! Aku nggak mau pake kacamata sekarang! Akhirnay kukebut motorku dengan penglihatan seadanya dengan tujuan sapai di rumah cepat-cepat dan tidur. Mungkin setelah tidur, akan jadi lebih baik. Huh, untung tadi nggak komplai ke petugas kolam renangnya karena "kabut" itu. Bisa diketawain aku!
  4. Nggak baca novel dan buku-buku yang tidak berkaitan dengan skripsi. Awalnya aku konsisten dengan janji ini. Tapi belakangan aku merasa kering banget tanpa petualangan imajinasi sama sekali. Akhirnya aku malah baca-baca novel baru lagi dan kadang kalau sudah sumpek, semalaman membaca aja pekerjaanku.

Yah, itu janji-janjiku yang ternyata cukup ampuh juga buat aku betah kencan sama si Skripsi. Akan tercapaikah targetku buat menyelesakan skripsi paling lambat tanggal 25 Mei (gampar yang bilang tahun depan!!)? Untungnya aku tidak berkomitmen buat nggak facebookan dan blogging. Bisa merana banget hidupku, macam popeye nggak dikasih bayam.


 

Anak 2004, adu cepat yuk!!! (Abel yang katanya sedang rajin, kalau antum nggak bisa selesai mei ini, keinginan untuk jadi Maba lagi itu diturutin aja! Tantangan ini juga berlaku buat ukhti Anti dkk. Bambang T. juga!!)

Sunday, May 3, 2009

Mimpiku Masih Tertinggal Bersama Deburan Ombak

Kunaiki tangga bus dengan hati berat menggelayut. Aku merasa meninggalkan syurga. Langkahku masih melayang rasanya. Kalaulah bisa kuulang waktu tak akan kusatukan diriku dengan pantai dan kehidupan Kuta yang telah mencuri hatiku. Karena berat untuk mencabut semuanya dari hatiku. Padahal aku tahu penyakitku dari dulu, mudah jatuh cinta dan terlalu maen hati. Kusuntikkan bergalon-galon rasionalisme ke dalam otakku agar mampu memerangi hatiku. Aku harus pergi ke duniaku sendiri,ke kehidupanku yang real. Isn't kuta is real? Yup but too many unreality fact I found. Kucoba mengalihkan pikiranku dengan ngobrol dengan kenalan yang kudapat di terminal tapi slide empat hariku di Kuta selalu datang dan pergi. Deli express kafe dengan hot spotnya yang selalu dipenuhi oleh turis local dan manca, Poppies Lane yang dipenuhi turis, Kuta square, dentuman techo dari Beach club, Mc D's Ice Creams, Samudera Café, where I had dinner with Christ, garis pantai yang landai dan para surfer yang menantang obak. My Jogja and Bali mate. Hhhuahhh….!!Anybody tell me how to erase it, to recycle it. Kalaulah ada penghapus memori nomor satu di dunia akan kubayar ia berapapun harganya. Alunan lagu-lagu mellow menyusup hatiku membuatnya tambah bergerimis. Aku ingin menyanyikan Miss Indpenden-nya Neo, I will Survive, Biarkan ku Sendiri dan lagu-lagu jantan lainnya. Tapi yang mengalun dihatiku justru Yang kutahu cinta itu Indah nya Afgan Ft Nagita slavina,kemudian diselingi Baiknya Ada Band yang tambah mengiris hatiku. Ditambah lagi dengan Show me the Meaning of Being Lonely nya BSB mendayu-dayu di hatiku. Kenapa sih orang banyak menciptakan lagu-lagu Mellow? Melancholic..! Gawat..It seems Im Broken Heart. No…

Show me the meaning of being lonely

So Many words for the broken heart

It's hard to see in a crimson love

So hard to breathe

Walk with me, and maybe

Nights of light so soon become

Wild and free I can feel the sun

Your every wish will be done


 

They tell me...


 

Show me the meaning of being lonely

Is this the feeling I need to walk with

Tell me why, I can't be there where you are

There's something missing in my heart


 

Life goes on as it never ends

Eyes of stone observe the trends

They never say forever gaze if only...

Guilty roads to an endless love

(Endless love)

There's no control

Are you with me now

Your every wish will be done


 

They tell me...

Show me the meaning of being lonely

Is this the feeling I need to walk with

(Tell me why)

Tell me why, I can't be there where you are

There's something missing in my heart


 

There's nowhere to run

I have no place to go

Surrender my heart, body, and soul

How can it be you're asking me to feel the things you never show


 

You are missing in my heart

Tell me why I can't be there where you are


 

Show me the meaning of being lonely

Is this the feeling I need to walk with

(Tell me why)

Tell me why, I can't be there where you are

There's something missing in my heart


 

Show me the meaning of being lonely

(Being lonely)

Is this the feeling I need to walk with

Tell me why, I can't be there where you are

There's something missing in my heart


 

Kucoba untuk langsung memejamkan mata untuk menghapus bayang-bayang Kuta yang selalu menguasaiku (not really that actually. Im crushed on). Aku tidak ingin mnyiksa diri dengan bayangan sepanjang jalan. Untunglah aku lelah sekali sehingga sepanjang jalan aku tertidur dengan mudah. Tapi keesokan harinya ketika bus berhenti di Sebuah Restoran di Situbondo aku terbangun dari mimpi tentang Kuta. Aku bermimpi tentang pantai, Chris, Gandi, Dewi , Indri dan kafe-kafe serta dentuman techno di tepi laut.

Sesampainya di Malang, aku tidak berani berlama-lama di ruangan atau kamar. Rasanya dadaku sesak sekali. Apalagi berada dalam kamar sambil mendengarkan music-music mellow. Sampai hari ini hatiku masih tertinggal di Kuta Bali, pikiranku masih berkelana menyusuri semua tapak yang pernah kutinggalkan.

Hanya butuh 5 menit untuk

Hanya butuh 10 meit untuk jatu h cinta

Butuh waktu bertahun-tahun untuk melupakan (bahkan lifetime)

Saturday, May 2, 2009

In The End, I Have to Leave…

Don't say hello if you don't wan to say goodbye.

Do you agree with these words? Definitely do not. I'm a kind of person yang excite to meet a new person even very hard to say goodbye (aku susah sekali untuk tidak "maen hati" dengan orang-orang yang membuat aku terkesan. Bahkan tempat yang aku suka). Rugi banget kalo aku tidak berani bertemu, make friend dst hanya karena takut untuk berpisah. Bukankah kita bertemu untuk berpisah. So, kenapa kta selalu berat bahkan tidak mau berpisah padahal kita sudah tahu sebelumnya kalo itu bakal terjadi. Yup, we have to say goodbye when its time come. Even it is hard and consumes lot of tears.

Yup, aku harus kembali ke "habitat" asalku to fight for the future. Kali ini aku diantar oleh banyak orang ke terminal bus. Ada Bunda, Abang, Abang iparku, dua sepupuku yang kuliah disana, adik abang iparku (Captain G) dan one of my Uncle. Lucu juga, seperti awal aku harus meninggalkan my lovely town selepas SMP dulu. Padahal sebelumnya aku selalu berangkat sendiri, yang nganter ke terminal cuma my best friend (I didn't meet him this holiday, miss him so much). Aku jadi merasa kepergianku (kembali ding) kali ini sangat penting. Hmm..berat rasanya meninggalkan Mbojo.

Sebenarnya aku ingin cepat-cepat langsung ke Malang. Too much moment I missed there. Tiga kawinan teman nggak aku hadiri coz' I couldn't back to Malang at the time. Tapi sepertinya besok pagi Ayah sudah menunggu aku di terminal bus di Mataram (How the moment will go? I have not seen him bout 18 years…How come? Difficult to tell here…). Sudahlah biarkan mengalir.lihat saja apa yang terjadi besok. Yang pasti aku tidak punya expektasi apa-apa selain ingin berbakti.

Terminal Bus Mataram

Arrgghh…sampai juga aku di Mataram. Teringat 4 tahunan yang lalu saat aku masih begitu ekspect to him. Saat aku masih memikirkannya dengan pikiran anak SMA. Tapi toh aku harus puas dengan tidak bertemu dengannya even the distance of my boarding school to his home is too near to separate me with him. Apalagi untuk ukuran father and son.

Send him a message told that I've arrived. Setelah celingak-celinguk berapa kali di lorong dan peron, did not meet him. Tapi pas aku jalan ke arah pemberhentian bus jurusan Malang I saw the man really similar with my older Bro. My instinct said he is the person I have to meet. He seemed seeking some one too. Pas aku keluar dia masuk dan kita berpapasan di pintu. Is he my dad? I took my phone and dialed his number. Yup, dia merogoh sesuatu dari kantongnya dan kelihatannya akan menerima panggilan di hand phonenya. Cepat aku end my dial di hape ku. Ngak salah, he is my father. Langsung kuhampiri dan kucium tangannya setelah mengucapkan salam. I did so to the lady beside him (must be my "another" mom=hate to say it). The man tertegun surprised. Dan cepat kukatakan I'm Erik Sir. Cepat-cepat ku kuasai suasana dengan duluan untuk menanyakan kabar dst (bagaimanapun wherever I am, still erik with the public relations senseJ)

Akhirnya kita keluar beriringan menuju cidomo dan go to his home. What do you feel Erik?

Just so so. Nothing special. No, 'wow'! it is only as I meet my Uncle and family yang laen wheraeas this man always come to my dream when I was Child till the end of my senior high school. Sekarang, Gak berasa. Mungkin karena aku tidak punya ekspektasi apa-apa. Mungkin karena aku sudah menerima semuanya dulu. Atau rasa itu sudah habi sterkikis harapan-harapanku dulu.

Kulihat ada cairan bening di sudut matanya yang tertahan. Dari sorot mata tuanya kutahu dia menahan haru. Sesampainya di rumah kami ngobrol-ngobrol biasa seperti lazimnya father and son. Dia bercerita bagaiman panglingnya dia saat ada pemuda botak dengan kulit sawo kematengan mencium tangannya di terminal tadi. Karena yang dia tahu, pemuda yang ditunggunya adalah seorang pemuda berkulit agak kuning dengan rambut tersisir rapi dan senyum manis seperti yang diketahuinya di foto (that is 3 years ago, when I was so "green" daddy) Tidak ada suasana kaku seperti orang yang tidak bertemu belasan tahun and have a blocking in their relationship. Aku dengan ringan memanggilnya 'ayah' (kalau saja kau tahu betapa indahnya kata itu kalau kuucapkan 3-18 tahun yang lalu). Even obrolan menyentuh ke hal-hal yang menyangkut masa lalu. Aku tidak bisa banyak berkata a tentang itu karena memang aku tidak tahu apa-apa. Kecuali aku tidak mendapati seorang ayah di rumahku sebagaiman lazimnya sebuah keluarga. Tidak ada yang mengajariku pekerjaan lelaki, beladiri, atau tempatku bertanya masalah lelaki. Semua jawaban pertanyaan tentang "kelelakian ku dapat dari buku-buku, majalah dan novel yang sudah kulahap sejak kelas 3 SD. Ayah bagi kami adalah seorang waita agung yang selalu ada disamping kami, Bunda tercinta.

Sekarang, aku tidak berharap apa-apa. Bagaimanapun he is my father. Itu sudah tertulis disana dan tidak bisa dihapus. Aku sudah menerimanya walau kadang aku masih berandai tetang kehidupan keluarga yang lengkap. Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya sekarang tapi dia menumpahkan semua ekspektasinnya atas aku dan saudara-saudaraku. Aku juga heran, koq bisa aku bersikap se calm itu dalam situasi yang biasanya menguras air mataku.

Setelah mandi makan dan ngorol-ngobrol aku pengen muter-muter kota Mataram, the city where I spent three years of my youth here). Hmm…masih teduh dan hijau seperti dulu. Masih dengan sopir-sopir angkot dan tukang ojek yang ngotot dan suka nipu seperti dulu. Muter-muter di Mataram Mall tapi nggak ada yang menarik. Mal tempat aku biasa minggat dari boarding school kalau lagi bête. Sebenarnya pengen mutarin kota mengunjungi lagi tempat-tempat favorit zaman SMA dulu. Sebenarnya pengen mengunjungi teman-teman SMA juga, tapi nggak jadi. Aku ingin jalan-jalan sendiri aja bernostalgia dengan masa SMa yang indah.

Nanya ke abang yang jaga stand computer "where is the hot spot area here?". Dianya bingung, stelah "ngg..eh..dmana ya" baru deh dia bilang nggak tahu. Kalo nggak tahu, nggak tahu aja. Nggak usah sok-sok mikir gitu. Akhirnya aku dapat info tentang hot spot area dari penjaga "distro Lombok Hardcore" tempat aku beli kaus pesanan si Erik (sebel, ngapain juga namanya sama dngan namaku). Aku meluncur ke area hot spot yang katanya cukup membayar Rp. 5000 untuk pemakaian sepuasnya. Wow, cool!!

Syurga banget, ngenet sepuasnya dengan Rp. 5000 dengan koneksi yang mantap. It's Ok to postpone continuing the trip tomorrow morning. In the end, dimanapun aku berada, internet adalah muaranya. Internet addict (kata lain dari banci ngenetJ)

And that night was my first dinner with the man I have to call daddy after 18 years no touch and no see. And the Lady ask me "is this your first dinner with your father? What do you feel?"

"Yes mom, definitely right (not only the first dinner but also the first being in one table with him)"

Yeah…at least I have met the man I should call "DADDY"


 

PS

Bagi anda yang ingin menempuh rute backpacker dari Lombok ke Bali, here is the line;

Angkot Mataram-Pelabuhan Lembar Rp. 10.000, Ferry Lembar-Padang Bai (Bali) Rp. 32. 000,Ojek Padang Bai-Dempasar Rp. 50.000. setelah itu dari terminal Ubung Dempasar tinggal pilih mau kemana. Naek Bus ke singaraja Rp. 20.000. Ke kawasan Kuta lewat terminal tegal naek angkot Rp. 22.000. atau kalo pengen mudah, naek ojek sampe kuta dengan Rp. 30.000 (normal price) tapi aku dapat Rp. 25.000. tentu saja setelah nawar dan sok tahu ini itu. Tapi kalo nawar lihat-lihat, kadang-kadang mereka marah. Apalagi yang badannya gede dan tampang seram. Pokoknya jangan tampakkan kalo anda lemah. Busungin dada, trus berjalan dengan tegap.

Have nice trip…

Singaraja; 1 Meter ke Pantai, 1 Meter ke Gunung

Hiruk pikuk kota, deburan ombak pantai, kesejukan pegunungan dengan deru air terjun brpadu menjadi satu. Semua bisa anda dapatkan di Kaabupaten Buleleng. Memasuki buleleng kita akan tahu bahwa ternyata bali bukan hanya sanur, kuta, legian, dan seminyak.

Buleleng adalah sebuah daerah tingkat dua di bagian utara Bali. Dengan kontur pantai dan pegunungan yang dipenuhi oleh aneka wahana wisata air terjun dan persawahan yang tersusun mengikuti kontur perbukitan menjadikannya sangat eksotis. Setiap jengkal tanahnya adalah asset wisata yang menjanjikan lembaran rupiah. Ketika zaman colonial dahulu, buleleng adalah ibukota sunda kecil dengan pelabuhan bongkar muat yang sekarang dikenal dengan kawasan dermaga. Bali pun mulanya beribu kota singaraja (ibukota kabupaten buleleng) sebelum dipindah ke Denpasar sekarang. Kerajaan buleleng pada masa lalu terkenal dengan pahlawan-pahlawan perang yang mengobarkan perlawanan rakyat terhadap penjajahan colonial belanda. Sisa-sisa bangunan loji Belanda masih berdiri kokoh di sepanjang pantai di kawasan dermaga Singaraja.

Bergerak sedikit kea rah utara, mendekati pegunungan, suguhan perkebunan cengkeh, rambutan dan durian yang diselang-selingi persawahan yang sedang disapu warna emas sungguh menyejukkan mata. Mendaki sedikit ke daerah pegunungan, kita akan sampai di pedesaan yang bernama gitgit. Vila-vila peristirahatan bertebaran di daerah ini. Disepanjang jalan menuju kawasan gitgit banyak berjejer kedai-kedai traidsional yang meyediakan makanan dan minuman bagi wisatawa sambil menikmati alam pegunungan yang damai dan sejuk. Para penjual ini terkenal dengan ''dakocan" (dagang kopi cantik)karena konon penjualnya cantik-cantik dan menjual kopi plus-plus.

Untuk sampai ke air terjun gitgit kita harus menuruni jalanan setapak yang dipagari oleh art shop-artshop yang menjual brbagai macam barang seni khas bali. Mulai dari kain, patung-patung kecil, aksesoris dan wewangian aroma therapy khas nusantara. Hmm…aroma magis bercampur aroma khas persawahan di desa.

Hawa dingin menyambut ketika mendekati air terjun yg dikelilingi tebing-tebing tinggi dengan bermacam flora yang tumbuh rapat. Perkebunan cengkeh dan buah-buahan yang menghampar d lereng bukit menjadikan hutan disini sumber uang buat penduduk. Nggak lengkap kalo nggak mandi di "tube raksasa" dengan "shower dahsyat" ini. Byur…grrhh…dingin-dingin empuk. Kesegaran kembali merajai diriku member energy jiwa dan raga. Semua lelah dan letih tersapu hilang. Energy dari alam. Kalau saja semua orang menyadari pentingnya alam, pasti semua hutan lestari seperti ini.

Kata Bro Arief sih ini belum seberapa. Masih ada tiga air terjun lagi yang bisa dicapai dengan melanjutkan perjalanan sekitar lima belas menit lagi. Kapan-kapan kita kunjungi lagi. Hmm..Bali memang serpihan syurga yang tertinggal di bumi. Bukti kebesaran Ilahi (bagi yang menyadarinya).

Bagi yang senang dengan suasana malam yang tenang, tinggal melangkah ke sekitar kawasan Dermaga dan mencoba minuman di kafe-kafe di atas dermaga yang menjorok ke tengah laut (namanya juga dermaga). Dulunya dermaga ini tidak terurus, tapi sekarang pemerintah daerah menyulapnya menjadi kafe yang menyenangkan. Tidak seperti pantai-pantai lain di Bali, tempat ini sangat tenang (nggak seperti Lovina, Kuta, Legian, Sanur dan Seminyak yang crowded with all etnic in the world). Merenung dengan soundtrack debur ombak dan semilir angin malam. Music yang sempurna, punyanya Mozart nggak ada apa-apanya.

Kita bisa sampai ke air terjun dengan membayar ojek sekitar 30 ribuan ato kalo pengen lebih free, bisa menyewa sepeda motor yang banyak disewakan seperti di tempat wisata lain di Bali. Dan jangan lupa kalo mau ngenet, di Blue Sky Net at jl. Pattimura 64, Singaraja.

Traveller Guide For Backpackers; Tour West Java, Bali, Lombok, Bima (wordpress , Sept 25, 2008)

Setelah tertunda dua kali, Akhirnya jadi juga aku Going Home. I'm in Bali now. terdampar di syurga hot spot:) (dapet gratisan voucher dari Bro Arief. soalnya dia ngelola warnet di sana). Anyone in Singaraja, u can visit "BLUE SKY NET" , at Jln Pattimura 64, Singaraja. tinggal Clik n' go.. deh. seperti rencana awal, aq mau estafet dari Malang-Banyuwangi-Bali-Lombok-Bima. pingin merasakan bagaimana rasanya jadi Backpacker. kemarin sih aku sudah ngumpulin semua informasi seputar rute perjalanan yang akan aku lewati. mulai dari tarif bus, jarak tempuh plus download peta-petanya. belum cukup itu saja, aku juga sempat ke Gramed beli "Travel Map of Bali". walaupun pernah backpacking beberapa kali, yang ini adalah yang paling menantang menurut aku. masalahnya aku harus estafet berkali-kali. hmm..ternyata sulit juga dapetin informasi yang komplit tentang semua rute yang akan akau lewati. ketika googling, aku malah sampai ke forumnya indobackpacker yang juga lagi nyari informasi rute backpacking ke Bali. akhirnya setelah begadang sampe jam dua di Magnet, aku dapet juga sekilas info tetang rute yang akan aku lewati. apalagi setelah chat sama Bro Arief di Singaraja (thanks a lot Bro) yang ujung-ujungnya ngajakin mampir di tempat di dia di Singaraja. pucuk dicinta ulam tiba. itu baru namanya backpacking. sekaligus maen dulu di Bali.

Rasanya belum siap juga untuk pulang. apalagi untuk kepulangan yang kekal ya? pulang untuk menghadapi semua yang telah kita lakukan di dunia. terkadang kita sibuk mempersiapkan berbagai macam keperluan dunia tetapi melupakan persiapan yang lebih penting, persiapan akhirat.

Ok deh, ada waktu dua jam setelah berbuka buat siap-siap. packing, packing, cek sana, cek sini. beres deh. calling Bro Iqbal, minta dianterin ke Arjosari. tapi dasar akunya belum benar-benar siap. mampir dulu di Butiknya Akh Yanuar, kado cinta buat my Lovely Sista n' Baba Theo (secara mereka baru nikah gitu loh.. n aku belum sempat ngasi hadiah).

The travelling started!!! walopun ngantuk berat kupanggul Si Saphire di pundak trus travel bag di tentengan. Mudik euy…! setelah nunggu lama, busnya berangkat jam 11 malam. tapi aku nggak langsung ke Ketapang karena bus yang tersisa cuma sampai Probolinggo. So, disana harus ganti bus lagi. As I said, It's really backpacking. Tak lama setelah bus bergerak meninggalkan terminal Arjosari, aku tertidur. tadi siang nggak sempat istirahat, muter-muter sama akh Cemet. Malang-Probolingo ternyata jauh juga. It's take time about 2,5 hours.

1.30 am, I arrived in Probolinggo. Khas banget, I hear Madurese spoken everywhere. Cepat-cepat aku cari bus jurusan ketapang. Yup, itu dia paling ujung. Hap, aku melompat naik. Asap dimana-mana di dalam bus. bukan karena kebakaran. Biasalah, bus ekonomi di Indonesia. And everyone spoke Madurese. untunglah malam hari, jadi dengan mudah aku bisa melanjutkan tidurku yang tertuda. estafet tidur lah.

06.30 am, kucek-kucek mata. mimpiku masih tertinggal di Malang. ternyata sudah sampe di Taman baluran, hutan jati yang sednag meranggas. disini tempat satwa endemik Jawa timur dilindungi. di tengah hutan jati, bus tua dengan ruangan penuh asap rokok itu mogok. wadduh, was up? ternyata bannya pecah kawan. It will take time he'eh?

Sambil menunggu ban diganti, aku mencoba membuka obrolan dengan penumpang di belakangku. Biasa naluri orang Public Relation. Seorang laki-laki dengan tampang keras yang mau menyeberang ke Pulau lewat Ketapang.

"Pulau? dimana itu? tanyaku pada sang bapak.

"Sapeken?" cecarku

"Koq tahu?"

Oh itu, saudaraku ada yang dari sepekan. Dialah al akh Usman adhim alias Bkan, sang Penyair dan debater yang mahir berbahasa Arab. Ternyata bapak ini adalah penyedia bibit buat petani rumput laut di Sapeken dan daerah-daerah budidaya rumput laut di Indonesia. Beliau baru samapai dari Maumere, berburu bibit disana. Kembali lewat Tanjung Perak dan menyeberang ke pulau lewat Ketapang. Perjalanan yang panjang demi bibit yang baik.

Menurut beliau devisa kedua Indonesia setelah minyak adalah rumput laut. dari penjelasan beliau, rumputlaut adalah komoditas yang sangat menggiurkan. Importir memasang harga U$ 4 per kilo gram. sedangkan di petani tiap kilonya dihargai Rp. 20. 000. Tinggal pilih tuh, mau jadi exportir, pengepul atau petani. pantesan saja mahasiswa-mahasiswa asal Sapeken "beruang" ya. mereka punya pohon duit di laut yang mengelilingi pulau mereka. bisa dipetik tiap 44 hari pula!

Jadi tertarik untuk dikembangkan di Bima. Bayangkan kalau teluk Bima penuh dengan lahan rumput laut dan pemiliknya aku. Wuih…keren. Bisa buat bahan diskusi sama Bang Theo di Bima nanti. Dia kan master kelautan dari UNDIP.

Seperti yang aku harapkan perjalanan backpacking ini banyak memberiku nilai lebih dibandingkan dengan aku memakai bus yang langsung ke Mataram atau Bima. Dapat link bussines baru, ide segar, plus pengetahuan baru. Setelah tukar kontak, kami berpisah melanjutkan perjalanan masing-masing. aku bergegas menuju ferry yang akan membawaku menyeberangi selat bali dan dia naik ke kapal yang akan membawanya bersama bibit "pohon duit"nya ke Pulau.

Setelah membayar karcis seharga 6 ribu perak, aku bergegas menyuri jembatan penyeberangan dan masuk ke fery Nusa Dua yang sedang bersandar di dermaga. Penumpang tidak terlalu penuh (biasanya full dan antrian panjang terjadi pada jam 02.00 am-05.00 am dan sore hingga malam), mayoritas mereka adalah mahasiswa Lombok, Sumbawa dan bima yang sedang mudik. Kira-kira satu jam adalah watu yang dibutuhkan untuk menempuh selat kecil yang terkenal deras itu.

Menyusuri pesisir utara pulau dewata melewati perkampungan penduduk dengan bentuk rumah yang khas Bali, diselang-selingi oleh pemandangan pantai, persawahan dan kebun anggur membuat perjalanan dngan bus kecil (seperti angkot di Malang) full taste of Bali.

10.00 am, the bus stop in the little bus station (ternyata itu terminal bus Singaraja). celingak-celinguk nunggu Bro Arief ngejemput. nah, itu dia!! Dengan Yamaha Mio (spesies motor yg banyak di Bali) sampai juga aku disini: The Blue Sky Net, warnet dan sekaligus tempat tinggal Bro Arief di Singaraja. dan sekarang aku posting pakai voucher gratis dari si empunya rumah. Thanks a lot Bro Arief..

Trus, ntar malam atau besok bergerak ke Lombok…


 

Ini dia rute yang aku tempuh:

Malang-probolinggo (2 jam, Rp. 16. 000 bus AC), Probolinggo-Ketapang banyuwangi (4,5 jam, 28. 000), Ketapang-gilimanuk (1 jam, Rp. 6000), Gilimanuk-Singaraja (2,5 jam, Rp. 20.000) ato kalo mau langsung dari Gilimanukke Dempasar (2 jam, about Rp. 15.000)