Showing posts with label Kafe Review. Show all posts
Showing posts with label Kafe Review. Show all posts

Saturday, November 1, 2014

Cerita Jogja; Mari, Ngopi Bareng saya di Lagani



Jarum jam baru menunjukkan angka 9, tetapi  hari sudah panas menyengat di Jogja. Persawahan dan kebun tebu di belakang rumah saya hanya menyajikan warna cokelat tanah retak dan rumput kering. Kemarau berkepanjangan membuat tanah-tanah kering mencipta debu yang diterbangkan angin. Salah satu alasan untuk malas beraktifitas di luar. Meja tulis saya yang menghadap dinding  yang seluruh bagian atas dindingnya adalah deretan empat jendela yang member saya akses pemandangan ke arah taman kecil yang tanamannnya tetap bertahan hanya karena saya sering menyeprotnya langsung dengan shower dari kamar mandi  setiap saya mandi pagi atau sore sangat nyaman untuk tempat mengerjakan tesis sebenarnya. Saya tinggal membuka pintu di samping meja dan pemandangan ke teras belakang yang penuh tanaman tersaji. Akan tetapi saya sedang tidak ingin berada di rumah dan mengerjakan thesis  di rumah hari ini. Godaan untuk turun ke dapur memasak ini itu terlalu beresiko. Saya akan pergi ke Lagani, kedai kopi favorit saya di Jogja.

Tetangga yang tinggal di Apartemen di lantai bawah sana bertambah satu orang, pemuda Rumania berpostur jangkung dan langsing, dan sangat tampan tetapi pacarnya, gadis Indonesia ala-ala itu berbetis buesar, kebalikan dari cowok Rumania yang berpostur langsing dan cool itu.. Sejak saya kembali dari Jakarta, mereka belum pernah berpesta yang selalu membuat gaduh sampai pagi lagi. Tapi Keponakan saya yang menginap di rumah ketika saya pergi ke Jakarta bercerita bahwa mereka pernah membuat pesta yang sangat gaduh sehingga membuat keponakan saya tidak bisa tidur sampai pagi. Dan tentu saja keponakan saya itu tidak berani menggedor pintu mereka dan meminta mereka untuk tidak gaduh seperti yang biasa saya lakukan. 


Oke, saya tidak akan bercerita tentang tetangga saya itu pada postingan ini. Saya akan bercerita tentang sebuah sudut di Jogja yang menjadi tempat favorit saya untuk sekedar menyendiri dengan bacaan, mengerjakan paper, bertemu teman-teman, meeting point buat bertemu teman baru dan sekarang tempat saya menulis tesis kalau saya ingin suasana baru. Kalau saya tidak sempat ngopi di rumah, saya juga datang ke sini untuk mengisi tumbler kopi saya dan membawanya ke kampus. Saya juga berusaha untuk membawa teman yang datang dari luar Jogja untuk menikmati secangkir kopi di sini.  Kadang-kadang saya hanya datang sendiri tanpa alasan-alasan  tadi dan duduk sendiri di kursi di balkon hanya untuk melihat orang yang lalu lalang di depan coffee shop, profiling satu-satu pengunjung coffee shop yang kebanyakan adalah mahasiswa asing baik yang sedang belajar di kampus-kampus di Jogja ataupun yang sedang belajar bahasa Indonesia di sekolah bahasa yang bertebaran di area ini.

Lagani, nama coffee shop ini begitu tenar di kalangan anak-anak muda Jogja terutama di kalangan komunitas kreatif muda dan para pencinta kopi. Berjarak satu blok dari Lagani tempat saya menulis ini, masih di jalan yang sama  ke arah barat anda akan mendapati Lagani yang lain, sebuah coffee shop masih dalam payung manajemen yang sama. Bangunan kedua-duanya sama-sama menyatu dengan distro dengan brand yang ekslusif, handicraft & fashion accessories shop dan tentu saja semuanya produk Indonesia.

Dalam postingan ini saya akan bercerita tentang satu lagani dulu, lagani yang tidak hanya menyajikan kopi tapi juga makanan berat seperti pasta, pizza dan berbagai menu ayam, makanya namanya lebih dikenal dengan Pasta Lagani . Dan menu favorit saya adalah menu sarapan tentu saja. Saya selalu menyukai sarapan, it’s my favourite meal time. Dengan harga yang sangat murah, saya sudah bisa mendapatkan satu menu sarapan dengan pilihan salah satu racikan kopi; cappuccino, Americano atau Coffee au lait.  Menurut pengamatan saya pengunjung biasanya datang untuk kopi dulu dan duduk berlama-lama sibuk di depan laptop atau membaca, atau  seru mengobrol dengan teman-teman. Baru kemudian ketika mereka lapar, mereka memesan makanan berat.  Sepertinya alasan utama datang ke sini adalah kopi dan ambience.  Perpaduan berbagai macam ras, buku-buku tebal, aroma kopi, percakapan dengan berbagai bahasa yang sahut menyahut membuat saya betah berlama-lama di sini. Kalau anda adalah orang yang merasa bahwa a man with book is sexy, anda akan orgasm di sini.

Pertama kali menemukan bangunan coffee shop ini saya langsung suka. Kursi-kursi berwarna hijau mengelilingi  meja putih bundar di teras depan yang terbuat dari kayu yang tidak dicat menggoda saya untuk mampir. Vas bunga  yang terbuat dari botol bening di atas tiap meja memberikan efek manis. Untuk sampai ke coffee shop, anda harus melewati tangga kayu yang akan membawa anda ke teras lantai dua.  Begitu saya membuka pintu kaca geser, saya langsung mendapati sebuah meja bar dari kayu bercat biru yang terkesan rustic di samping pintu . Salah satu dining dicat putih seperti hanya dikapur dengan bata yang tidak diplester dengan gambar tangan biji-biji kopi, rempah yang diselang-selingi dengn kata-kata positif.  Sebelah didnding yang lain dibuat dari jendela-jendela bekas dengan cat biru, putih dan tanpa kayu memberikan kesan retro sekaligus rusty. Ada beberapa mural yang mencolok di tembok  rungan yang lain yang dipisahkan oleh ruangan dengan sekat kayu dan kaca dengan pintu kaca. Rungan ini hanya diisi oleh satu meja panjang dengan delapan kursi dengan karpet yang mengalasi lantai. Mirip dengan sebuah dining room di rumah sendiri.

Sementara di ruangan besar berbentuk huruf L tempat bar berada terdapat sebuah tembok dengan  lemari kayu berkaca yang menempel di sepanjang sisi tembok. Lemari  tersebut diisi oleh barang-barang dari masa lampau seperti kamera LSR manual antik, mesin ketik tua, permainan-permain kartu lama, radio tua dan barang-barang lawas lainnya. Ada sebuah pemutar piringanhitam di atas meja.   Desain meja-meja di dalam ruangan in itidak seragam. Kursi-kursi yang mengelilingi meja di setiap ujung ruangan berbentuk peti kayu yang tidak dicat dengan sofa di sebelah yang lain. Meja lainnya adalah meja kayu seperti meja tua di rumah kakek di desa. Lantainya pun terbuat dari tegel kayu berwarna cokelat dan krem.


Memasuki pintu kaca itu setiap berkunjung ke sini, saya selalu mendapatkan sapaan hangat barista yang berada di meja bar di belakang mesin kopi.
“Sendirian aja Mas?
“Habis dari mana Mas?
“Cappucinno panas ya?
“Rapi banget Mas? Ngedate ya?
“Temannya yang kemarin mana Mas?. Katanya sambil tersenyum.
Nah, kalau dua pertanyaan terakhir ini sudah menjurus kea rah kepo deh. Mungkin mereka kepo karena saya selalu membawa teman baru dengan perwakilan etnis dari berbagai belahan dunia ke sini dan  mengobrol berjam-jam dengan pesanan kopi berulang-ulang. Bisa jadi mereka mengira-ngira, apa hubungan saya dengan orang-orang tersebut. Bisa jadi.


Dengan kopi yang digiling langsung dari biji kopi di situ, sajian kopi yang anda dapatkan benar-benar fresh from the bean. Masalah rasa, mereka sudah terbukti dengan beberapa kali memenangkan kompetisi barista tingkat nasional yang memilih peracik kopi terenak dari seluruh pelosok nusantara. Kopi yang enak, barista yang ramah berpadu dengan suasana yang homey membuat pelanggan selalu kembali. Mereka benar-benar memberikan personal touch dalam menyajikan kopi.

Jogja adalah syurga bagi para pencinta kopi. memang kota ini tidak mempunyai perkebunan kopi, tapi berbagai jenis kopi nusantara maupun belahan dunia lain bermuara dalam cangkir-cangkir kopi hasil racikan para barista andal dapat anda nikmati di ratusan coffee shop yang bertebaran di kota ini. Buat saya, kalau anda menginginkan kopi enak, lupakanlah kedai kopi jaringan internasional maupun nasional itu. Cobalah untuk memasuki kedai kopi di yang bertebaran di antara pemukiman, di dekat kampus atau di area food street seperti Prawirotaman atau Tirtodipuran. Berkaitan dengan kopi dan kafe, satu hal yang membuat Jogjakarta sangat berbeda dengan kota lain  adalah anda akan menemukan coffee shop ketika berjalan-jalan di mana saja, coffee shop tidak melulu berdiri di business area atau eating street. You’ll find your favourite coffee shop in a simple neighbourhood. Dan kebanyakan dari coffee shop ini bukan tempat nongkrong massal. Sepertinya, pencinta kopi mempunyai kedai kopi favorit masing-masing, dan kedai kopi favorit saya adalah Lagani ini. Ini bukan sekedar kopi yang enak, tapi juga ambience dan sedikit flirting. Lihatlah senyum di meja seberang sana. Itu saja sudah cukup menjadi oase buat panasnya Jogja hari ini.



Thursday, May 17, 2012

My Bali Life# ; Carrot Cake and Lemon Tart in Mango Tree Cafe



One of my favourite beach destination in Bali is Padang-padang beach. Despite of its beautiful white sands, scattered rock and clear water, I also love the road takes me there. Unlike thestreet of  the Kuta and other urban areas which fulled of buildings, this road is still quit like the other country side road. The road takes you down from the hill of Bukit Jimbaran to the south coastal. Therefore, along the way you can see the blue ocean down there. However, the things I like most are the small boutiques, cafes, and restaurants popped up among the forest and bushes. It's worth to stop for Mango Juice and carrot cake in outdoor seats in the breeze wind after swimming and sunbathing in the beach. It's kind of place where I want to spend all day enjoying the breeze with good reading in hand.  

That afternoon we decided for the second stop at Mango Tree Cafe. Situated just in the slope road near the Padang-Padang beach car park.




There we were. I and Mr. Shine took the outdoor seat under the Mango tree with Mango Juice and Mango smoothie that were not good becouse they blend the unripe mango I guess. It's not the Mango season like our prevoius visit to this place.

Mangoo Tree's carrot cake. The most delicious carrot cake I've ever tried!

The carrot cake and Lemon tart were superb, especially the carrot cake. It's our reason to stop. The smell of cinnamon, domminant ingredient of carrot, chocholate and almonds went so right.

Mango Tree's Lemon Tart. I'm not the fan of lemon tart anyway.

Thanks to the kitchen master who created this heavenly taste cake. I will definitely stop by for anothe carrot cake next time.

Saturday, May 12, 2012

My Bali Life; Breakfast with Style in Tuckshop Seminyak

Since I didn't have my camera with me, I took all the pics in this post from this cool blog; Crema and Crumbs. So, the photo credits are on him/her


Breakfast is one of the most important thing for my day. for me, good breakfast creates a good whole day. Anytime I visit my mother, it will be me who prepare the breakfast for the big family. What I prepared range from simple pancakes or the pancakes that i made by trying mixing this and that. And the last time, I made a pumpkin pancakes with the freshly picked pumpkin from my sister's garden. Preparing the breakfast is one of my "Joie de vivre".

When I was in my recent stay in Bali, I was addicted to 'breakfast around'. I and my friend tried several places for the breakfast around Seminyak and also Ubud. It started becouse the fancy budget hotel in Seminyak where we stayed for some days didn't serve the breakfast in the hotel package.

Riding the motorbike along the small street in Seminyak we tried to find the restaurant serving breakfast took us uncoincidely to a small place in the corner of Laksamana Oberoi Street and Kayu Aya street. Coming back and forth passing this street before, I never realized that this is a reastaurant. I wondered it was a boutique becouse what i see from Laksamana Oberoi Street are the display of fashion items. This place is more wellknown as Corner Shop wich is the name of the boutique, while the real name of the restaurant is Tuck Shop. It's a combination between cafe, deli, boutique and gallery.



Once we entered the restaurant, i was welcomed by the smell of coffee from the busy grinding coffee machine operated by two man beside the door. That smell somehow created a tranquil feeling on my soul. I always love the smell of cofee!


The interior is really fancy. Tables are situated among the manequinn and fancy clothes hunging with designed forms.I love the place more and more when I sat in the big table in front of shell that full of books, magazines, dayly newspapers and the display of some organic product like jam, coffee bean, and tea.

I was confuse which breakfast I wanted. All are tempting and mouth watering. I ended up taking the baguette sandwich, and Cappuccinno. Wow, it was a very big plate contained of baguette and two pieces of sadwich that I thought I couldn't eat them all. Both I and mr. Shine, was amazed when in the end we found my plate was clean!

What I like most from this restaurant is the atmosphere. You know what, almost everyone I saw was busy with their Apple stuff. See that man in the corner table near the tank top t-shirt collection! His cuteness improving some bars becouse of that Mac Book Pro. Dressing in a fade orange t-hirt, dark blue very short pant and flat make him looks georgous. And that ellegant expensive looks lady with her  new I-pad sitting with two men occupied with their Mac Book beside me just made me soooo jealous. It seems they worked on their business while having their breakfast. In the other corner, a group of mothers with their baby seems enjoying their gossip time.


This fancy place are commonly fulled up by expats who are based in Seminyak area. Therefore, just few locals can be found here.

I've pick this place as one of my favourite breakfast place in Bali. It's really reccomended place for you to end up your jogging in the morning or just simply the place to see and to be seen. and don't worry, you can have your breakfast even in the afternoon here becouse the restaurant serve the breakfast until 18.00. It's all day breakfast!

For me, I'll visist back this boutique resto with more preparation; good dress and fancy gadget!





Saturday, April 7, 2012

My Bali Life; All Day Breakfast in Cafe Seminyak

Pagi adalah sepotong waktu yang paling saya sukai dari semua potongan waktu. Ucapan pagi adalah ucapan paling bersemangat dari semua sapaan yang berhubungan dengan waktu. Pagi datang dengan semangat dan janji-janji kehidupan baru. Termasuk diantaranya, saya suka sarapan yang menjadi rutinitas pagi. Menurut literatur yang saya baca, orang yahudi menyisihkan makanan terbaik mereka hari itu untuk sarapan. 

Sejak sering bolak-balik Bali saya jadi sangat menyukai sarapan. Mungkin karena pilihan menu breakfast yang beragam.Diantara semua menu breakfast yang pernah saya coba, favorit saya tetaplah banana pancake dan Srumble Egg. Akan tetapi itu sebelum saya mencoba sarapan di Cafe Seminyak. Ayo, sarapan bareng saya di Kafe Seminyak sambil merasakan suasana Bali berpadu dengan menu-menu dari berbagai belahan dunia. Wangi dupa dan setanggi bercampur dengan aroma fresh baked bread dari dapur cafe. Alunan gamelan Bali yang mengiringi suapan baguette. Gadis-gadis berkebaya Bali diantara turis-turis bule dengan busana santai khas pantai. Perpaduan ini yang selalu membuat Bali unik bukan?

Saya memilih French breakfast hari ini. Suasana french makin terasa karena saya juga langsung belajar bahasa Prancis dari penutur aslinya yang selalu meledek lidah saya yang payah.
                                                                                                                                                                                                                                                                            
French Breakfast saya. Croissant, mini baguette yang renyah, french butter, Bali coffee dan watermelon juice. Seperti biasa, coffee au lait (kopi susu) selalu berubah menjadi Lait au Coffee (susu kopi) di tangan saya. Hal yang selalu diprotes teman saya katrena saya merusak pakem katanya. 


Saya jatuh cinta dengan cangkirnya. 
Cafe ini menyatu dengan butik kecil. Sarapan sambil menghayati karya fashion yang berkelas:)
Salah satu hal yang sayaq sukai dari cafe-cafe di sini. lukisan-lukisan lucu itu. Apoa namanya ya? Ada poster promosi garuda, coffee shop tetangga, restoran di Swiss, grup band. Semuanya lukisan tangan.

Saya selalu jatuh cinta kepada cafe atau coffee shop yang menyediakan pilihan cakes yang banyak. Bukan pilihan standar. Sepertinya saya butuh nongkrong setiap hari selama 1 bulan di cafe ini untuk mencoba semua cakes ini.

Tampak luarnya sih biasa. Kafenya juga kecil. lebih besar coffee time, kafe favorit saya di Malang.

Bagaimana? Sudah tergoda untuk mampir di kafe ini? 


Tuesday, October 11, 2011

Ubud Writers and Readers Festival 2#; Rendevouz Deux



Susana Puri Ubud sangat sibuk dari tadi pagi. Para volunteer dan panitia Ubud Writers and Rreaders Festival sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk Gala opening acara ini nanti sore. Festival yang disebut oleh Bazar UK Magazine sebagai one of the top six best literary festival in the world ini diadakan setiap tahun di Ubud. Saya sudah berancang-ancang mencari cara bagaimana caranya agar bisa masuk karena acara ini terbatas. Lucky me, saya mempunyai sahabat yang restorannya menjadi sponsor dan mengajak saya masuk bersama dia.

Sambil menunggu sore, saya berjalan-jalan menyusuri jalanan Ubud, mengagumi karya seni, interior butik dan art shop, eksterior kafe dan resto yang semuanya saya rekam dengan jepretan lensa kamera saya.Gabungan culture, alam, café-café, artshop, restoran, handicraft dan senyum dan keramahan khas Bali membuat Ubud menjadi magnet.Saya banyak menemukan alam yang juga indah namun terasa biasa karena tidak mempunyai budaya yang mempesona seperti di Ubud.Pantas saja hermawan Kertajaya menulis buku dengan judul yang sangat menyanjung Ubud, Ubud; The spirit of Bali.

Langkah saya terhenti di depan sebuah bangunan sederhana yang dari jendela kacanya menyajikan barang-barang yang menarik buat saya. Jejeran rak buku dan kursi-kursi cozy dan sebuah meja bar yang mungil. Saya membaca plang nama di depan bangunan. Sebuah tulisan berbahasa Perancis tereja oleh saya; Rendevouz Deux.

Kaki saya langsung menapaki tangga berundak dan membuka pintu.Saya langsung jatuh cinta dengan tempat ini.Gabungan sebuah toko buku dan kafe.Ini adalah konsep toko buku yang selama ini ada dalam angan-angan saya yang ingin saya punyai kelak.Kafe tidak selalu harus berkawin dengan musik.Ia bisa berpadu sempurna dengan jejeran buku di rak-rak tinggi.
Pemilik kafe yang sedari tadi berbahasa Prancis dengan beberapa pengunjung lansung menyapa saya begitu saya meletakkan backpack di sebuah meja di ujung ruangan. Saya menelusuri  seluruh isi kafe dengan mata berbinar. Buku-buku yang hampir semuanya berbahasa asing memenuhi rak yang melapisi semua dinding.

Setelah memesan segelas jus saya tidak sabar segera meraih beberapa buku.Saya ingin mengambil beberapabuku sekaligus.Tapi mata saya hanya sepasang.Saya harus merelakan yang lainnya mengantri.Sambil menelusuri halaman-halaman buku, saya meneguk jus saya perlahan-lahan. Sensasi rasa buah mint dan jahe mengaliri lidah saya dan memberikan sensasi rasa dingin mint di tenggorokan. Benar-benar nikmat.
Gelas tinggi berisi jus di depan saya sekarang kosong dan berganti dengan Balinese Coffe di cangkir putih yang mengeluarkan aroma khas kopi panas. Itu artinya saya masih akan tinggal lebih lama lagi di sini.

Sesekali saya mengalihkan perhatian dari bacaan di dean saya mendengarkan pembicaraan para pengunjug yang berbaur dengan percakapan waiter yang melayani pesanan.Beragam bahasa asing menerpa gendang telinga saya. Saya geli melihat kesalahpahaman turis korea dengan waiter. Turis korea berusaha dengan bahasa Inggris yang sangat minim untuk mengutarakan keinginannya. Sementara waiter kebingungan memahami maksud si turis korea. Akhirnya si turis mengalah dengan keterbatasan bahasanya.

Segerombolan turis berwajah oriental lain masuk.Kedatangan mereka membuat kafe menjadi gaduh.Merk berbicara cang cung cang cung dengan sangat gaduh. Oh, rupanya mereka berebutan ingin memakai toilet. Muka ramah para waiter berubah masam melihat tingkah para turis itu. Tipikal turis  koreadi sini adalah suka bergerombol. Mereka mengunjungi satu tempat dengan rombongan besar dengan bus pariwisata dan dipandu oleh guide.Saya tidak tah uapakah itu karena keterbatasan bahasa atau karena mereka dasarnya senang bergerombol.Tapi yang pasti, di mana ada mereka pasti suasananya menjadi gaduh.Kebiasaan komunal mereka menjadikan ada satu pantai yang mayoritas pengunjungnya adalah wajah-wajah oriental.Ketika kemarin saya jalan pantai dreamland, mata saya selalu tertumbuk kepada wajah-wajah oriental. Saya seperti sedang menyaksikan adegan live Boys Before Flower. 

Kalau masalah gaduh dan manner, saya lebih suka dengan turis-turis dari benua Eropa.Mereka tidak pernah gaduh di tempat umum.Kalau ada bule yang gaduh, bisa dipastikan mereka adalah orang-orang Australia.Tiga teman Perancis saya selalu bilang kalauorang-orang Australia adalah tukang bikin ribut. Biasanya mereka berjalan sambil menenteng botol bir bintang dengan celana hawaian super melorot pendek dan kaus katung atau tidak memakai kaus sama sekali. Sampai si Pascal teman perancis dengan sangat judgmental bilang kalau orang Australia itu uneducated.Padahal kan orang Indonesia berbondong-bondong kuliah ke Aussie.

Karena kafe semakin gaduh, saya berkemas dan segera bergegas keluar. Lagipula sebentar lagi Gala Openingakan dimulai. Sebuah SMS masuk ke handphone saya; Erik, sorry! Ternyata tiket masuknya hanya boleh untuk satu orang.

Oops berita buruk. Ah, masa iya sih nggak bisa masuk. Sekarang mari kita pakai prinsip teman saya Fuad, everything is negotiable. Saya bergegas ke arah Puri dan mendapati teman saya, Dewi  yang tadi mengirim SMS juga sedang berjalan ke arah Puri. Dia reflek menoleh karena saya mengejutkannya dari belakang. Begitu samai di depan pintu Puri orang sudah ramai mengantri untuk masuk. Saya agak berdebar, takut tidak bisa masuk.

Dewi berbicara dengan seorang petugas yang tampaknya dia sudah kenal baik seorang petugas lagi menyapanya dengan riang.Dua orang tadi mengatakan tidak apa-apa kami masuk berdua.

Masalah muncul ketika kami melewati pemeriksaan tiket dan x-ray.Dewi sudah melewati pemeriksanan ketika petugas perempuan meminta undangan saya.
“I’m with her!” kata saya dengan cepat dan tegas sambil menunjuk ke arah Dewi yang sudah masuk. Petugas tadi melepas sayadengan senyum manis. Pengalaman saya, bahasa Inggris sangat memudahkan urusan di sini.Kalau ingin pelayanan di restoran tidak lama, berbicaralah pakai bahasa Inggris kepada waiternya. Biasanya waiternya akan cepat dan lebih ramah daripada ketika menggunakanbahasa Indonesia. Kenapa bisa begitu?

Menurut saya sih ini hanya karena masalah mental orang Indonesia yang selalu melihat orang asing lebih daripada orang Indonesia.Pengaruh dari sikap inferior.Lah, terus wlaupun saya berbahasa Inggris, kanwajah saya Asia banget. Haha…! Saya sering dikira orang Thailand di sini.


Monday, May 2, 2011

Celcius Cafe; Menikmati Sajian Plus, Plus!


Memandang laut dari Celcius Cafe. Foto diambil dari sini karena waktu itu sy lupa bawa kamera

Kafe adalah salah satu public sphere yang selalu saya cari kalau mengunjungi sebuah kota. Saya mendapatkan banyak hal dari tempat tersebut. Biasanya kopi yang enak, tempat yang nyaman dan juga kalau beruntung teman baru yang asyik. Bahkan di Padang, kafe itu menjadi 'kantor' saya karena di sanalah saya menyelesaikan banyak pekerjaan saya dan juga bertemu dengan client dan juga tim saya.


 

Walaupun Kuta Bali terkenal dengan pantainya, banyak juga kok tempat selain pantai yang bisa dikunjungi untuk menikmati suasana. Salah satunya menikmati suasana di kafe-kafe yang bertebaran di pinggir pantai maupun seputar Kuta Square ataupun Seminyak. Ini bisa menjadi alternatif kalau anda tidak suka berada di luaran karena hujan atau memang sengaja ingin menikmati suasana.


 

Ketika liburan kemarin, saya tidak sengaja mengunjungi sebuah kafe yang keren banget di Discovery Mall. Awalnya saya salah masuk karena saya mengira itu butik karena namanya sama dengan butik tempat saya membeli pakaian di Malang. Karena judulnya mengantarkan teman yang ingin membeli bermuda, saya mengajak dia ke butik celcius karena dia menyukai bermuda yang saya pakai yang saya dapatkan dari butik itu.




 

Kafenya sih kecil saja. Terletak di lantai 3 Dicovery Mall, sebelah barat dengan balkon yang langsung menghadap ke laut dan restoran-restoran dan ruang terbuka yang menjadi tempat lalu-lalang orang di bawah sana. Tentu saja ini tempat yang sangat perfect buat saya yang suka memperhatikan orang-orang. Mengomentari satu-satu penampilan orang yang lewat dan kadang-kadang berteriak kecil kalau pakaiannya saya suka dan saya kepingin punya juga.


pemandangan di bawah sana. Biasanya ramai orang duduk-duduk dan lalu lalang


 

Dengan kursi bar dan meja tinggi tanpa penghalang membuat mata leluasa memandang ke laut menikmati ombak yang berkejaran atau sunset pada sore hari. Angin sepoi-sepoi yang meniup wajah yang bersekutu dengan pemandangan spektakuler itu membuat rasa cappuccino saya berlipat-lipat nikmatnya. Berlama-lama duduk di situ membuat imajinasi saya berkelana dengan bebas. Ide-ide juga mengalir deras.


 

Saya suka sekali berada di sana ketika sehabis hujan dan sore hari ketika sunset. Dan saya nggak jadi masuk kalau kursi yang berjejer menghadap laut itu penuh terisi . Tujuan utama saya kan melihat laut itu. Cappuccinonya hanya alat untuk bisa berada di sana lama-lama saja. Kafe ini akan menjadi tempat berkunjung wajib setiap saya ke Bali. Kafe ini akan menjadi tempat berkunjung wajib setiap saya ke Bali. Tempat menikmati sajian plus, plus.

 
 


 

Adakah teman-teman yang pernah ke tempat ini? Share your experience!


 


 

Wednesday, April 27, 2011

Padang 7# Place to Escape


Sudah dua hari ini saya berkutat dengan file-file pekerjaan yang menumpuk. Akhir program seperti ini memang tumpukan pekerjaan langsung menggunung. Membuat laporan program, evaluasi, mengecek hasil kejuan peserta program dan mempersiapkan rencana business trip selanjutnya. Itu artinya saya harus sering-sering angkat telephon untuk koordinasi dengan tim di tempat baru yang akan didatangi, mencocokkan jadwal, mengejar deadline pekerjaan di tempat yang sekarang dan juga sering-sering berkoordinasi dengan tim.


 

Karena program ini adalah kerjasama dengan institusi lain, maka saya harus membuat laporan dobel. Di sela-sela itu pula saya harus menyelesaikan follow up kemungkinan kerjasama dengan beberapa calon investor di kota tetangga. Hfffhh…benar-benar dituntut untuk multi tasking. Untunglah teknologi membuat connecting menjadi mudah. Tapi namanya manusia, melihat yang lebih mudah, saya ingin juga dong memakai fasilitas yang lebih memudahkan pekerjaan seperti I-Pad, i-Phone atau paling tidak Balckberry*ngarep.com. Eits, tapi ini juga semacam suara hati buat Mr. YunJ *


 

Dengan beban kerja yang menguras otak dan tenaga itu saya tidak bbetah kalau harus bekerja di rumah, di kamar yang sama tempat saya tidur dan melakukan aktifitas lain. Maklum anak kos. Mau ngerjain di kantor, saya malas harus berkemeja rapid dan berdasi.


 

Untunglah saya menemukan tempat yang bisa menampung keberatan-keneratan saya tadi. Sebuah kafe yang cukup cozy di Taplau (nama pantai di tengah kota Padang). Sebenarnya kafe ini baru buka jam 3 sore. Akan tetapi karena waiternya baik sekali, dia mengijinkan saya untuk nongkrong pagi-pagi di kafenya dengan konsekuensi tidak boleh berharap ada menu apa-apa selain soft drink. Nggak ada kopi karena saya datang terlalu pagi. Tapi buat saya, saya diperbolehkan nongkrong seharian dari pagi bahkan sebelum mereka buka sudah sangat menyenangkan.


 

Sudah dua hari saya merajai sofa di sudut kafe ini dengan tumpukan pekerjaan. Kalau saya merasa agak penat, saya tinggal melangkahkan kaki ke luar dan mendapati hamparan laut biru yang berkilau ditimpa sinar matahari. Saya biasanya akan menjepretkan kamera DLSR saya ke beberapa objek menarik. Refreshing sekaligus belajar fotografy. Nah, ketika sore, saya akan bergabung bersama-sama dengan fotografer yang lain berusaha mengabadikan moment sunset yang banyak diburu.


 

Selain itu, kafe ini mempunyai seorang waiter yang sangat ramah. Tapi nampaknya ia bukan waiter karena tidak pernah mengenakan seragam waiter seperti yang lainnya. Dia sangat friendly mengobrol dengan pengunjung café. Itu pulalah yang membuat saya kembali lagi hari ini. Kekuatan sebuah service.


 

Jadi, kalau anda datang ke padang dan butuh tempat untuk escape atau seedar menikmati sore di pinggir pantai, sambangi langsung aja café ini. Kafe Homey dan Uda Dikdik yang ramah.