Abad Asia 2050 dan ASEAN Single Community 2015 akan membawa pola hubungan negara di wilayah ASEAN ke dalam hubungan yang sama sekali baru. Bukan hanya negara-negara di wilayah ASEAN sebenarnya, tetapi juga wilayah di sekitar regional ini seperti Australia dan Selandia Baru. Pada tahun 2013, Australia bahkan sudah menerbitkan white paper yaitu sebuah naskah yang berisi strategi Australia dalam menyambut tantangan abad Asia 2050. Dalam dokukmen tersebut, Australia benar-benar menempatkan ASEAN sebagai partner kerjasama regional yang penting. Hal ini bisa dimaklumi. Walaupun secara geografis Australia berada di dalam kelompok negara-negara Melanesia, tetapi dalam percaturan ekonomi, Australia lebih dekat dengan negara-negara ASEAN.
Wednesday, April 8, 2015
Pendidikan Tinggi Indonesia di Pasar Internasional?
Abad Asia 2050 dan ASEAN Single Community 2015 akan membawa pola hubungan negara di wilayah ASEAN ke dalam hubungan yang sama sekali baru. Bukan hanya negara-negara di wilayah ASEAN sebenarnya, tetapi juga wilayah di sekitar regional ini seperti Australia dan Selandia Baru. Pada tahun 2013, Australia bahkan sudah menerbitkan white paper yaitu sebuah naskah yang berisi strategi Australia dalam menyambut tantangan abad Asia 2050. Dalam dokukmen tersebut, Australia benar-benar menempatkan ASEAN sebagai partner kerjasama regional yang penting. Hal ini bisa dimaklumi. Walaupun secara geografis Australia berada di dalam kelompok negara-negara Melanesia, tetapi dalam percaturan ekonomi, Australia lebih dekat dengan negara-negara ASEAN.
Wednesday, November 6, 2013
Sit-in Class dan Student Mobilization; Unek-Unek Seorang Mahasiswa
Sunday, January 1, 2012
Di Bawah Pohon Kamboja; Hangat
Saturday, November 26, 2011
Alchemist, Banana Pancake, Personal Calling dan Bali
Friday, November 25, 2011
It's Feeling Stupid!
Saturday, April 23, 2011
Saya, Bali dan Baterai
Hujan deras mengguyur pohon-pohon kamboja di depan kamar hotel saya pagi ini. Iya, sejak tadi malam hujan deras mengguyur Bali membuat suasana di kamar begitu syahdu. Wangi bunga kamboja lamat-lamat menghampiri hidung saya menyeruap bersama aroma Bvlgari Man yang saya semprotkan di belakang kuping aya. Benar-benar perpaduan yang sempurna.
Berada dalam kamar tanpa dikejar-kejar hasrat untuk menjelajah pantai dan tempat-tempat wisata membuat saya sedikit merenung. Keputusan mengambil liburan ini memang sedikit membuat saya bimbang di awal. Tapi berhubung saya sudah merencanakannya sejak tahun lalu, saya pikir tidak ada yang salah dengan liburan ini. Saya selalu berusaha menyisihkan pendapatan saya untuk berlibur, sama seperti menyisihkannya untuk kebutuhan yang lain. Saya rela untuk tidak punya gadget keren asalkan bisa kelayapan (baca: travelling). I deserve to have it now. Memang agak sedikit menggoncang pundi-pundi saya mengingat liburan ini cukup lama. Liburan (benar-benar murni liburan) pertama saya setelah bekerja penuh.
Sebagai beach whisper, bali menjadi pilihan tepat bagi saya. Walaupun banyak daerah lain di Indonesia dengan pantai-pantai yang lebih keren, saya lebih memilih Bali karena affordable. Kalau kelak pundi-pundi saya sudah mengijinkan saya ingin sekali travelling ke daerah Indonesia Timur (Komodo, Alor, Maluku, Halmahera, Papua dan sekitarnya) Well, just skip the pantai Kuta things karena itu tidak masuk dalam list saya. Pantai kuta sudah terlalu ramai. Saya ingin mengunjungi pantai-pantai di sebelah selatan yang tidak banyak pengunjung. Sudah lama saya melist pantai-pantai itu. Saya juga ingin menyerap energy dari suasana seni para seniman di Ubud. Katanya, Ubud adalah jantungnya Bali.
Pantai buat saya adalah charger yang benar-benar ampuh. Saya selalu berbahagia dan rela bermain seharian di pantai sampai kulit saya keling. Searang saja kulit saya sudah very dark caramel. Saya tidak keberatan, malah saya suka dengan warna kulit saya yang item itu. Walaupun dalam keseharian saya belakangan ini pantai bukan hal yang asing, saya ingin benar-benar menikmati pantai dalam suasana liburan. Walaupun saya enjoy banget dengan pekerjaan saya, saya pikir ini saat yang tepat untuk saya berhenti sejenak untuk menyerap energy, menikmati hidup dalam sisi yang lebih spesifik dan merencanakan hal-hal yang besar.
Hal-hal yang menghiasi hidup saya belakangn ini benar-benar luar biasa. Saya ingin menangkap, menempatkannya di dalam ruang-ruang kecil hati saya dengan spesial sehingga saya mudah untuk mengambilnya kembali ketika saya butuhkan suatu saat nanti. Mungkin sebagian mengolahnya dengan bumbu-bumbu special resep saya sendiri dan resep para ahli. Dan inilah saatnya.
Berlibur adalah seperti mengisi ulang energy laptop tua saya yang bekerja siang malam melayani nafsu workaholic saya. Kata teman saya yang ahli laptop, laptop yang kita pakai sekali-sekali paling tidak harus diistirahatkan total beberapa saat agar ia bisa joss kembali. Katanya kalau batu baterai kita sudah terisi penuh 100% perbudaklah laptop itu sampai tidak berdaya dan jatuh di 0%. Lepaskan baterai, biarkan beberapa saat, kemudian isi lagi sampai mencapai daya 100%.
Katanya si laptop, akan tampil kembali dengan performa yang prima. Dalam hidup, ada banyak cara untuk kembali mengisi energi. Setiap orang punya cara-cara yang berbeda. Saya juga punya banyak cara. Dari cara yang sangat simple dan murah meriah sampai yang penuh tantangan dan harus merogoh kantong agak dalam. Kali ini saya memilih untuk merogoh kantong kempis saya.
Fourteen Roses B08, Seminyak-Bali, 3 April 2011
Intangibles 4# Did Your Mom Teach You to Behave?
In the end, I have to leave. Berat rasanya harus kembali lagi ke rutinitas pekerjaan setelah sehari-hari hanya berkutat dengan pantai, kolam renang, hotel, sepeda motor, kafe dan sedikit clubbing. Tapi toh saya harus menerima. Semua yang punya awal pasti ada akhirnya. Saya nggak mau meninggalkan kesedihan untuk liburan saya ini. Tujuan utama saya berlibur kan untuk merecharge energy saya biar bisa lebih joss lagi beraktifitas.
Seperti biasa, kalau sudah menginjakkan kaki di airport, saya langsung berjalan lurus segaris dengan dada busung dan pandangan lurus ke depan. Apalagi efek bvlgari man yang menjadi aroma saya kali ini membuat saya semakin menjadi-jadi. Biasalah, berasa model busana musim panas dolce and Gabbana saya kalau sudah kayak gini. Tapi sayangnya, saya nggak bisa jalan kayak pas datang kemarin. Tangan kiri saya penuh tentengan. Tangan kanan megang buku. Padahal kemarin kan Cuma bawa backpack buat laptop 14 inchi saja.
Namanya juga orang Indonesia, kalau nggak bawa oleh-oleh rasanya nggak afdhol. Walaupun dalam kasus saya, saya mau nggak mau harus bawa karena sms dan status fb saya penuh dengan request oleh-oleh. Padahal buat saya sendiri saya nggak beli apa-apa kecuali cincin silver keren yang sekarang menghiasi jari manis saya (kok, namanya jari manis ya? Bukan jari cincin kayak dalam bahasa Inggris. Ada historisnya nggak?) dan sepasang sepatu yang sekarang juga menghiasi kaki saya yang seksi.
Tapi langkah lurus segaris saya terganggu ketika saya samai di boarding pass. Metal detector di tangan mbak-mbak muka judes itu berbunyi nyaring yang kontan mengundang semua mata tertuju pada saya. Semua mata tertuju padamu (Miss Indonesia banget!). eits….buru-buru saya merogoh kantong saya dan mengeluarkan sepotong cokelat yang nggak saya habiskan dan saya masukkan ke kantong. Mana itu cokelat sudah meleleh aja gitu. Cokelat keluar, metal detector masih saja berbunyi. Apa lagi sih? Oalah saya baru sadar, saya juga mengantongi parfum Cartier saya plus Hand and Body Lotion. Dibawah tatapan mata banyak orang saya menggenggam barang-barany yang keluar dari kantong saya. Mungkin mereka pada berpikir, itu kantong apa karung ya?
Di tengah kesibukan saya mengeluarkan barang-barang ajaib tadi dari kantor saya, perhatian saya tertujua kepada buku saya yang terjepit di antara dua koper segede bagong ketika melewati pemeriksaaan sinar X-Ray. Saya memandang khawatir ke buku saya dan mengacuhkan mbak-mbak yang masih meraba-raba badan saya (hey..! bayar oii!! Enak aja raba-raba). Si mbak rupanya nggak terima diacuhkan sama saya.
"hey Mas. Saya tuh Cuma mau periksa!
"loh, periksa aja! Emangnya saya menghalagi gitu?
"@&**))(_*&^#" ngeremeng nggak jelas.
" nih, ada cokelat, parfum, koin sama lotion" saya menunjukkan tangan saya yang penuh oleh isi kantong saya tadi.
"baru pertama kali naik pesawat ya?" Mbak itu tiba-tiba berucap sinis
"ngomong apa tadi mbak? What did you say?" Saya balas dengan nada tinggi. Inggris saya langsung keluar kalau sudah marah kayak gini. Kurang ajar banget dia ngomong gitu ke saya. Do you know whom you speak with?
Saya langsung mendekat kembali ke mbak itu dan ngomong tepat di depan muka dia.
"Heh Mbak, nggak usah judes kayak gitu kalee! Biasa aja! Did your mother tech you how to behave?? Listen! Airplane is like sister to me. Ketika lo sedang berteriak-teriak mengadahkan tangan dengan ingus meleleh minta duit pas pesawat lewat, gw udah bolak balik naik pesawat! You got it??
"Oke, gw harus bayar berapa biar lo nggak judes nggak jelas gitu. I'll pay with my platinum credit card! Saya menrogoh kantong dan mengeluarkan dompet saya. (padahal kartu kredit aja saya nggak punya. Apalagi yang platinum).
Suara berat saya dengan kalimat panjang langsung di depan mukanya membuat di alngsung mengkerut. Kemarahan saya mengundang perhatian petugas lain, laki-laki berbadan gempal dan dua orang gadis langsung mengerubungi saya.
"Ada apa Mas? Suaranya seperti ditegas-tegaskan.
"Is she your staff? Tell her to behave! Dia ngatain gw kalau gw baru pertama kali naik pesawat!
Haha….si bapak-bapak berbadan gempal ikut-ikutan mengkerut.
"Maafkan kami Mas" katanya dengan senyum kaku.
"Oke. Saya maafkan. And you don't need to pay to get my forgiveness!
Saya langsung mengangkat backpack saya ke pundak dan memungut buku saya dengn puas. Mungkin saya berlebihan. Mungkin juga si Mbak tadi kecapekan sehingga dia ngomong gitu ke saya. Tapi ngomong kayak gitu keterlaluan banget. Jangan salahkan saya kalau sumbu saya juga tersulut. Ngerusakin mood saya saja orang ini.
Lagian ini di Bali gitu loh. Sadar dong, kalau mereka itu harusnya ramah dalam melayani. Yang namanya tourism itu nggak cukup cuma jual pemandangan indah saja. Yang paling penting itu hospitality. Kayaknya Angkasa Pura harus memberikan pendidikan lebih deh sama para karyawannya.
Intangibles 3# Knowledge Management
Education, as well as knowledge, is not preparation for life. They are life themselves (John Dewey)
Kota Palembang benar-benar panas pagi itu. Saya dan Agung, manager SBS Palembang sudah mengantri di belakang puluhan mahasiswa dan dosen di Kampus Universitas Sriwijaya Bukit. Kami tidak sedang mengantri pembagian ransum makanan. Kami sedang menunggu giliran untuk bisa naik ke atas bus kampus yang akan membawa kami ke Kampus Universitas Sriwijaya Pusat di Indralaya yang akan menjadi partner kerjasama SBS dalam menggelar Training 6 Minggu Bisa! pertama kami di Sumatera Selatan. Pada pagi seperti ini, kita harus benar-benar gesit kalau ingin dapat tempat duduk yang nyaman. Semua ingin sampai paling cepat untuk mengejar kelas masing-masing. Begitu duduk di kursi bus, suasana menjadi lain. Tidak ada lagi suara hiruk pikuk. Masing-masing sibuk dengan aktifitas masing-masing. Ada yang membaca, melamun dan ada juga yang mencoba melanjutkan kembali tidurnya. Kalau saya, seperti biasa. Observasi iseng!
Setelah melewati banyak jembatan dan lahan gambut selama 1 jam, sampailah bus yang membawa kami di Indralaya. Kota ini tidak pernah ada di benak saya sebelumnya. sebuah kota kecil kabupaten hasil pemekaran. Kota ini dilalui oleh jalan lintas Sumatera. Masih agak susah bagi saya untuk menyebutnya kta. Walaupun begitu, ternyata saya mencintainya setelahnya. Buskampus yang saya tumpangi ini tidak akan menaikkan penumpang di tengah jalan dan akan membawa anda langsung masuk ke dalam terminal bus kampus yang luas.
Tugas pertama saya sebagai GM adalah membuka kelas dan kelas baru di kota Padang. Didorong oleh naluri travelling saya, kota itu saya pilih sendiri karena saya ingin menginjakkan kaki saya di Pulau Sumatera. Ketika berhasil membentuk tim di Padang, tiba-tiba saya dikirim ke Palembang untuk membuka kelas dan cabang baru di Palembang yang calon pesertanya sudah menunggu. Pada saat itu, waktunya sangat mepet. Saya punya waktu 2 hari sebelum memulai kelas. Ketika pagi sampai di Palembang, pagi itu juga saya langsung bertemu dengan tim untuk melakukan adjustment untuk product knowledge dan quick breefing untuk menghadapi pra-training 6 Minggu Bisa! Hasilnya bisa dibayangkan, saya kelabakan harus memulai kelas dengan tim yang 'disiap-siapin'. Minggu-minggu pertama adalah one man one show. Sangat melelahkan namun juga menantang. Sambil menjalankan program, saya berusaha untuk terus meng-upgrade tim. Untunglah pada waktu itu saya juga membawa satu tim saya dari Padang.
Pada minggu kedua training, saya harus meninggalkan Palembang karena training 6 Minggu Bisa! di Padang juga harus segera dimulai dalam hitungan hari. Saya hanya punya waktu 3 hari untuk menyiapkan semuanya sebelum training dimulai. Masa-masa ini benar-benar menjadi masa pembelajaran yang sangat berharga bagi saya. Saya menemukan error dan best practice yang menjadi learning cases bagi saya. Ibaratnya belajar, saya merasa seperti mengambil S2 dalam waktu yang singkat dengan materi yang super padat. Gabungan teori dan porsi kasus yang lebih banyak di lapangan. Saya merasa sangat beruntung melewatinya.
Satu hal yang sangat saya suka adalah ketika saya harus meninggalkan Palembang dan mentrasfer semua pekerjaan saya kepada kolega yang menggantikan saya. Karena saya lumayan detail, sebelum kolega saya datang ke Palembang, saya sudah menyiapkan narasi perkembangan pekerjaan yang saya lakukan dan rekomendasi action apa yang harus dia lakukan. Bahkan saya membuatkan dia dekskripsi lengkap per peserta serta narasi extra untuk peserta yang butuh treatment khusus. Saya juga menuliskan panjang lebar ide saya tentang apa yang saya inginkan tentang keberlanjutan program itu. Tebukti itu sangat efektif untuk mentransfer ide dan knowledge.
Dalam pekerjaan sering kita menemukan best practice dari suatu kasus yang jawabannya tidak ada dalam manual maupun SOP. Atau juga mungkin ada panduannya tapi kita mengerjakannya dengan inovasi yang berbeda dan hasilnya jauh lebih baik daripada biasanya kita mengerjakan dengan panduan yang biasanya dipakai (SOP/manual guide). inilah yang dinamakan best practice. Disebut 'best' karena yang diambil adalah praktik-praktik yang memberikan hasil (outcome) terbaik atau yang mampu meningkatkan keunggulan dan daya saing perusahaan (Rhenald Kasali, Myelin).
Best practice ini biasanya hanya dipahami oleh orang yang mengalaminya. Ia akan menjadi pengetahuan dan keunggulan individu bagi dia tapi tidak akan menjadi sebuah praktek keseluruhan bagi perusahaan. Inilah yang dinamakan dengan tacit knowledge (tidak tertulis). Jika orang itu sakit atau berpindah pekerjaan maka best practice tadi akan ikut bersamanya dan akan hilang begitu saja. Oleh karena itu tidak ada cara lain untuk memindahkan memory dan pengetahuan individu tadi dari tacit (melekat pada manusia dalam bentuk percakapan, memory dan pengalaman) ke dalam bentuk tertulis (explicit). Setiap pengalaman baik itu kegagalan maupun keberhasilan akan memberikan pelajaran. Pelajaran itu akan tetap menjadi pelajaran ketika ia diabadikan dengan tulisan.
Ingat kan sama pelajaran sejarah dulu? Zaman sejarah adalah zaman ketika tulisan sudah ditemukan. Makanya menulis itu penting! Saking pentingnya menulis ini, kabarnya di Harvard sana ada satu keahlian khusus yang harus dimiliki; keahlian menulis kasus. Ini masuk menjadi mata kuliah wajib di Harvard Bussiness School. Selain itu, dokter yang sangat berpengalaman dan bertangan dingin dengan track record yang membuatnya dibayar selangitpun, ia tetap butuh rekam medik, yaitu catatan tertulis tentang penangan yang pernahdidapatkan oleh masing-masing pasien, obat yang diberikan maupun pemeriksaan yang dilakukan oleh kolega-koleganya yang lain dengan spesialisasi yang berbeda.
Mengutip kata-kata Prof. Rhenald Kasali, dalam Knowledge Management, perusahaan menerapkan cara-cara untuk mengindentifikasi, menciptakan,mengoreksi, mentabulasi, mendistribusikan dan memperkuat upaya untuk mengadopsi segala insights dan pengalaman berharga. Dengan menerapkan knowledge management, banyak hal berharga menadi pengetahuan yang dpat direplikasi oleh orang-orang lain. Oleh karena itu budaya mencatat, sharing, dan budaya belajar, budaya disiplin harus dapat dibentuk dengan Knowledge Management.
Dalam pekerjaan saya, menulis untuk evaluasi dan sharing in sebenarnya sudah ada sejak lama. Jauh sebelum perusahaan kami Go National. Setiap personal dalam kantor kami malah harus membuat laporan harian dalam bentuk naratif yang kami namakan Narrative Journal. Setiap laporan juga harus menyertakan narrativenya agar enak dibaca dan mudah untuk memahami kondisi di lapangan mengingat jarak kami yang berjauhan dan jarang bertemu muka. Akan tetapi efek sharingnya belum terasa karena masih sering laporan hanya menjadi urusan pembuat laporan dan atasan (vertikal) belum menjadi sharing
knowledge yang horisontal sehingga personal yang lain tidak mendapatkan pelajaran.
Ketika jarak fisik tidak lagi menjadi masalah dengan keberadaan teknologi internet, seharusnya Knowledge Management ini bisa lebih efektif. Kita bisa memanfaatkan berbagai platform di internet seperti mailing list dan facebook. Jangan sampai facebook hanya menjadi sarana untuk eksistensi diri dengan mengupdate status dan saling mengomentari status. Itu penting, tapi seharusnya kita bisa melakukan sesuatu yang lebih.
Tulisan ini saya selesaikan di kamar mandi karena teman saya yang sedang sakit nggak bisa tidur dengan lampu menyala. Benar-benar ndeso bule yang satu ini. Jam di laptop saya sudah menunjukkan angka 2, sudah pagi. Tapi mata saya nggak ada tanda-tanda mengantuk.
Fourteen Roses, Legian-Bali, 06 April 2011, 02.00 AM
Nggak Lihat Apa Alis Saya
Saya lagi duduk manis menunggu Toast dan Banana Pancake saya. Wangi bunga kamboja yang menjadi peneduh meja saya begitu relaxing. Di depan saya ada jus jeruk dan kopi. Ogah ah, minum jus jeruk yang super asem itu sementara perut saya belum diisi. Kopi itu juga mnegepul-ngepul minta diseruput. Ogah! Maunya Banana pancake! Tiba-tiba datang seseorang dengan langkah kemayu dan senyum malu-malu (kita singkat aja jadi SDLKDSMM ya? Oke, Iya!).
SDLKDSMM : Sir, your Banana pancake is ready!
Saya : Oh, Terima kasih Mbak. Eh, sorry! Mas maksud saya!
SDLKDSM : Eh si Mas, yang tadi udah benar. Mbak!
Saya : Oh ya? (Mengernyitkan dahi)
SDKLSM : Ini lihat (nunjukkin alis), trus ini (goyang-goyangin dada sampai perutnya yang buncit ikut bergoyang-goyang)
Saya : Oh gitu ya. Oke deh Mbak (dengan mulut mangap)
Saya terpaksa setuju karena takut digampar pake nampan yang dia bawa. Kemudian dengan kemayunya dia melenggok masuk menuju restoran meninggalkan saya yang mangap. Kemudian saya nggak bisa menahan tawa. Bukan karena saya mencemooh. Tapi lucu aja cara dia nunjukkin 'jenis kelaminnya'.
Teman saya : Dia bilang apa tadi?
Saya : Dia protes karena saya panggil dia Mbak
Teman saya : jadi dia perempuan?
Saya : Saya nggak tahu. Tapi dia mengaku perempuan.
Sarapan selesai. Perut kenyang. Wangi kamboja lamat-lamat.
Teman saya : Jadi dia perempuan apa laki-laki?
Saya : Told you! Tapi aku sih yakin dia laki-laki. Nggak ada pere kayak gitu!
Teman saya : jadi…..(pasang tampang o'on banget)
Saya : tauk ah! Ayuk…kita kemon!
La'Waloon 212, Kuta-Bali, 31 Maret 2011
Thursday, March 31, 2011
Intangibles 2; Care, do I care?, Like I Care!, Should I care? I Do Care!
Saya dulu sering mendengar teman-teman saya yang keluar dari ruangan seminar atau pelatihan entrepreneurship bicara begini; bakar saja ijazah itu!, kuliah itu nggak penting!, kuliah itu bikin orang bodoh!, ijazah itu membelenggu!. Banyak lagi kata-kata yang menempatkan kuliah sebagai hal yang 'buruk' dalam bisnis. Katanya kalau bebisnis nggak usah sekolah, nggak usah berpendidikan tinggi. Dulu saya sempat terpengaruh dan mau berhenti kuliah saja karena ingin berbisnis. Untungnya saya punya ibu yang luar biasa, yang selalu mendorong dan meyakinkan saya.
Mungkin benar di banyak tempat pendidikan kita tidak mampu mencetak mahasiswa menjadi pengusaha. Akan tetapi saya tidak bisa membayangkan kalau banyak pengusaha yang tidak makan bangku kuliah. Sepandai-pandainya orang self learning, ada banyak hal yang dia tidak bisa dia pelajari ketika dia tidak kuliah. Kuliah bukan hanya buku, kelas, tugas dan perpustakaan. Yang lebih penting lagi adalah experience ketika kuliah. Experience itulah yang sebenarnya membangun karakter. Karakter seperti apa yang terbentuk, itu tergantung dari bagaimana setiap individu menyikapinya. Mengenai ada pengusaha yang bisa besar tapa kuliah, itu another case. Tidak bisa digeneralisir.
Oke, saya tidak akan membahas kuliah atau tidak kuliah. Saya ingin bercerita. Setiap kembali ke hotel dari jalan atau sekedar makan, saya selalu disambut oleh Beli resepsionishotel ((karena ini di Bali, kita manggilnya beli yaJ) dengan senyuman dan langsung menyodorkan sebuah kunci bertuliskan 212. Hehe…kayak Wiro Sableng. Tapi tentu saja saya tidak sedang bersama Wiro Sableng di kamar saya. Yang membuat saya salut adalah dia selalu mengingat saya dan menyodorkan kunci pintu kamar saya dengan senyum lebar tanpa menunggu saya menyebut nomor kamar saya. Padahal kan yang tinggal di hotel itu bukan hanya saya saja.
Di pagi hari, resepsionistnya beda lagi. Kali ini mbak-mbak. Setiap saya turun untuk breakfast, dia selalu menyapa dengan selamat pagi yang hangat. Saya menemukan senyuman dan sapaan yang benar-benar hangat. Sapaan yang tulus. Kemudian mengobrol sebentar. Benar-benar hotel yang nyaman. Ini bukan hotel berbintang dengan fasilitas mewah yang wah. It's just another affordable hotel for backpacker like me. Saya benar-benar nyaman dengan suasana hotel ini.
Beda resepsionis, beda lagi room boy nya. Kali ini seorang bapak-bapak dan teman-temannya yang masih muda. Biasanya dia datang untuk membereskan kamar ketika saya sedang asyik membaca di balkon. Dengan tersenyum lebar, dia akan menyapa saya. Kadang-kadang mengobrol sebentar sambil berbagi gigitan cokelat di atas meja saya. Ini bukan tipe keramahan 'sok kenal sok dekat' (SKSD) itu loh ya. Dia benar-benar ramah.
Lain waktu, saya kelaparan dan terpaksa mampir di food court di depan pantai Kuta sehabis kelayapan ke Uluwatu. Saya makan Turkish Pizza karena harganya paling murah di situ. Tidak lama kemudian, pesanan saya datang. Saya mencuil sepotong kecil dan memasukkan sepotong kecil ke mulut saya. Hmm…enak!
Lama saya menunggu di depan pizza yang sangat menggoda itu. Apalagi perut saya sudah bernyanyi-nyanyi protes karena sangat lapar. Saya menunggu sesuatu yang bisa dipakai untuk melahap pizza itu. Iya, saya tahu saya bisa makan pakai mulut. Tapi kan saya nggak mungkin meraup pizza itu pakai tangan saya. akhirnya, saya memanggil beli yang melayani saya. Dia datang tanpa muka bersalah. Di baru tergopoh mengambil pisau dan garpu ketika saya bertanya begini; ini makanan dimakannya gimana?
Hoho…! Saya pikir, itu hanya menimpa saya saja. Tapi ternyata teman semeja saya yang makan makanan dengan harga 5 kali harga makanan saya dari stand yang berbeda juga mengalami nasib yang sama. Hal yang sama juga terjadi ketika kami harus membayar. Karena ingin menikmati sunset, kami ingin segera membayar dan pergi setelah makan. Tapi dipanggil-panggil si Mbak dan beli itu, malah asyik mengobrol. Setelah tahu kalau kami ingin membayar pun, responnya luammbbaat banget sampai sunsetnya sudah tidak kelihatan lagi. Dengan bercanda saya bilang ke mbak itu; Mbak, saya tuh keburu karena pingin lihat sunset. Tuh kan sunsetnya dah nggak ada! Balikin!! Hoho…dia hanya tersipu sambil menggerakkan tangannya seperti seolah-olah menggapai kembali matahari yang telah hilang di ujung horizon. Hugh..!
Dari semua pengalaman itu saya menarik satu kata singkat tapi sangat penting bagi siapa pun. Bukan hanya buat mereka yang bergerak di bidang hospitality. Kata itu adalah C A R E. Care selalu melahirkan sikap inisiatif dan berusaha memberikan lebih untuk konsumen. Care ini lah yang membuat resepsionist dan room boy hotel tempat saya tinggal bersikap ramah dan hangat yang menyenangkan bagi tamu hotel. Care itulah yang membuat Mbak resepsionis itu pula repot-repot mencari-cari kartu nama Beli Ketut di kamar saya yang saya letakkan entah di mana. Ceritanya, motor yang saya sewa mogok di Nusa Dua karena ketololan saya sendiri. Dan si Mbak resepsionis itu berusaha menolong saya dengan menelepon Beli Ketut yang punya motor tersebut. Tapi dia tidak punya contactnya dan berusaha mencari di kamar saya. Care itu pulalah yang tidak dimiliki oleh Mbak-mbak dan beli-beli di food court yang nggak memberi saya garpu itu.
Di dalam bisnis kami, care adalah kunci yang paling penting. Itulah intangibles kami. Bahkan apa yang kami lakukan itu tidak bisa diakomodasi oleh makna care. Karena belum menemukan ungkapannya dalam bahasa Indonesia Abang kami (Big Boss) menyebutnya sehe. Itu bahasa Melayu Pontianak yang saya juga susah untuk menjelaskannya dengan singkat.
Kata Pak Rhenald Kasali dalam kuliah umum entrepreneurshipnya yang sempat saya ikuti di Kampus UNAND beberapa waktu yang lalu, ada banyak hal yang dijual oleh orang dalam berbisnis. Ada yang hanya menjual barang saja dan ada yang menjual hal lain yang tidak kelihatan dibelakang barang tersebut. Hal yang intangible tapi bisa dirasakan. Atau mudahnya adalah menjual konsep. Ada juga yang menjual kenyamanan. Nah, sekarang konsep apa yang anda jual? Kalau Kampoenk Jenius, kami menjual nilai (value), care dan kemudahan. Apa pun yang anda jual anda harus memilih kata-kata ini:
- Like I care!
- Should I care?
- Do I care?
- I do care!
Dipilih, dipilih!!
Nusa Dua, 29 Maret 2011
Monday, March 28, 2011
Intangibles; We Create People!
"Ada sebutir "X" kecil di dada kiri anda, tariklah nafas dalam-dalam dan tumbuhkan kepercayaan kepadanya" Prof. Rhenal kasali, Myelin"
Cuaca tidak begitu cerah siang ini. Bahkan sebelum saya melaju ke Bandara Internasional Minangkabau (BIM), hujan deras dan angin kencang mengguyur kota Padang. Saya sempat khawatir karena jarak antara tempat saya tinggal dan airport cukup jauh. Akan tetapi ketika pesawat landing dan menembus angkasa, cuaca cukup cerah. Dari jendela di samping saya, pemandangan pulau-pulau kecil yang bertebaran dengan pasir putih di bawah sana sangat memukau. Puas dengan pemandangan, saya mulai merenung. Pertemuan dengan Prof. Rhenald Kasali di kuliah umum kemarin, mendapatkan hadiah buku dari beliau, menghadiahi beliau buku, berinteraksi dengan para peserta training saya yang semakin mengasyikkan, team yang bersemangat dan belajar sangat cepat, itu semua cukup membuat semangat dan optimisme saya memuncak.
Kemuadian mata saya mulai menyapu kabin pesawat dan memperhatikan beberapa pramugari yang sepertinya sangat familiar. Ada beberapa pramugari yang sering terbang bersama saya. Melihat pramugari-pramugari itu saya kembali teringat buku hadiah dari Prof. Rhenald Kasali. Judulnya Myelin. Sebenarnya saya tidak tertarik dengan buku itu walaupun sering melihatnya di Gramedia karena terpampang di rak display terdepan. Saya sedang mendalami marketing, jadi saya tidak berniat untuk membaca buku beliau walaupun beliau juga berbicara tentang marketing. Saya memilih untuk membaca buku-buku Hermawan Kartajaya. Akan tetapi karena boosting effect dari bertemu dengan belau kemarin membuat saya penasaran dengan isi buku itu. Saya mulai menelusuri kata per kata, kalimat per kalimat dan tidak terasa saya sudah menyelasaikan hampir separuh isinya ketika flight attendant mengumumkan bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat di Jakarta.
Intangibles; X Kecil yang Harus Dirawat
An intangible quality or feeling is difficult to describe exactly. Itu adalah kalimat yang saya dapatkan untuk menjelaskan ketika saya mengecek arti kata intangibles di Longman English Dictionary d laptop saya. Istilah ini sangat terkenal di kalangan para eksekutif dan ahli managemen, marketing maupun strategy. Secara singkat intangibles adalah harta tidak berwujud atau yang tidak kelihatan tetapi sangat menentukan kebesaran dan keberlangsungan sebuah perusahaan maupun prestasi dan pencapaian individu. Ia biasa dikenal dalam wujud reputasi atau goodwill. Reputasi ini tidak akan muncul dalam kumpulan aktiva pada neraca pembukuan. Paling tidak itulah yang tertulis dalam buku Myelin yang saya baca. Ia muncul pada kepuasan konsumen, repeating order, brand image dan brand loyalty. Kalau banyak orang yang memilih produk anda walaupun banyak produk yang sama dengan harga yang sama, kwalitas sama atau harga lebih murah, itu berarti intangibles anda bagus.
Intangibles tidak muncul dengan tiba-tiba. Ia muncul dari budaya dan karakter yang dipupuk terus-menerus. Ia besar dengan proses pembelajaran yang panjang. Ia dihasilkan dari proses seleksi hingga training dan upgrading terus-menerus. Ia terus bisa bersaing dengan upgrade yang perawatan yang teratur. Upgrade yang berjalan seiring dengan perkembangan kemajuan teknogi, selera pasar dan ptemuan-temuan dan pengetahuan baru. Tapi yang paling penting adalah ia muncul dari goodwill untuk membangun nilai. Karena ketika sebuah perusahaan ingin membangun sebuah nilai yang sejalan dengan human spirit ia tidak akan berpikir keuntungan materi semata-mata. Ia ingin menanamkan nilai postif, membangun positive culture bagi bukan hanya lingkungan kerja tapi juga bagi customer.
Sebuah perusahaan bisa "membajak" orang-orang bagus di sebuah perusahaan dengan intangibles yang bagus, akan tetapi sulit bagi dia untuk menyaingi perusahaan yang dia bajak orangnya itu. Karena intangibles tidak dibangun hanya dengan satu-dua orang bagus akan tetapi dari rasa kepemilikan, teamwork dan kenyamanan bekerja (pemenuhan kebutuhan materi dan non-materi). Prof. rhenal Kasali menulis bahwa pernah ada media yang membajak wartawan-wartawan dan redaktur pelaksana yang bagus dari majalah Tempo. Hasilnya media "pembajak" tadi tidak mampu untuk menyaingi majalah Tempo. Alih-alih menyaingi majalah terbut malah gulung tikar. Oleh karena itu, value yang bagus didapat dari cara dan proses yang baik dengan niat yang baik pula.
Blue Bird Taxi dan Intangibles
Daratan pulau Dewata perlahan-lahan semakin jelas di bawah saya. keindahan lekukan pulau dan pantainya memang membuat saya selalu ingin kembali. Matahari jingga di ufuk barat menyorot badan saya membentuk bayangan panjang ketika saya menlangkahkan kaki saya menuju domestic arrival. Langkah santai saya tidak terganggu oleh barang bawaan yang berjibun sepeti penumpang lainnya karena saya hanya mebawa backpack berisi laptop, buku, majalah, t-shirt dan bermuda. Saya langsung berjalan segaris menyibak kerumunan para tukang taxi dan porter yang menawarkan jasa. Dengan langkah pasti saya berjalan kaki keluar dari gerbang airport.
Saya tidak pernah naik Taxi di dalam airport ketika di sini. Saya malas berdebat masalah harga dengan mereka. Saya lebih suka berjalan keluar dan menyetop Blue bird Taxi di luar bandara karena memang Taxi ini tidak menaikkan penumpang di dalam Ngurah Rai International Airport. Saya sekarang makin yakin untuk tetap menggunakan Blue Bird setelah membaca buku Myelin prof. rhenal Kasali tadi. Sopirnya sangat sopan dan ramah. Bahkan ada kisah perhiasan senilai 2 Milyar yang ketinggalan dalam taxi dikembalikan oleh supir Blue Bird taxi kepada penumpangnya selain sederet kisah kejujuran lainnya. Para sopir Blue Bird Taxi memang dididik untuk jujur dan professional dalam segala kondisi. Tak heran kalau mereka selalu menjadi Taxi terbaik yang selalu dipilih. Bahkan duta besar Amerika merekomendasikan semua karyawannya untuk menggunakan Blue Bird Taxi karena ia pernah mengalami kisah kejujuran dengan sopirnya.
Intagiblesnya "Indonesia Jenius"
Jalanan macet sepanjang Kuta membuat saya punya banyak waktu untuk mengobrol dengan pak Wayan sangsupir ramah yang membawa saya. dia berkisah bagaimana taxi-taxi pesaing semakin menjamur di Bali. Bukan hanya menjadi pesaing, mereka juga membajak brand "Bali Taxi" yang dipakai Blue Bird Group untuk Taxi mereka di Bali. Sekils memang tidak ada bedanya karena semua logo dan warna hampir sama persis.
Kemudia pikiran saya mulai membawa saya kepada usaha yang saya jalankan bersama para "pemimpi besar" yang sekarang semakin mendapatkan tempat. Kami mebawa visi besar untuk memajukan pendidikan dengan mimpi yang membuat sebagian orang menggeleng-gelengkan kepala dan mengerutkan dahi tanda pesimis. Kami menempatkan value dan human spirit diatas material profit. Itu karena kami yakin kami sedang mengambil bagian kami dalam membangun peradaban. Akan tetapi saya sangat yakin kami akan sampai di titik yang kami targetkan. Ini bukan hanya keyakinan dengan optimisme kosong.
Saya sangat terkejut ketika membaca buku New Wave Marketingnya Hermawan Kartajaya yang sangat mewakili sosok perusahaan kami. Padahal Mr. Yun, pendiri lembaga Sang Bintang School (nama lembaga pendidikan bahasa Inggris kami) belum membaca buku itu sebelumnya. Para kolega saya baru paham ketika saya berkesempatan untuk menyampaikan materi ini dalam pertemuan nasional kami 1 bulan yang lalu. Menurut Pak Hermawan Kartajaya, hanya perusahaan yang membawa nilai yang sejalan dengan human spirit yang akan bisa menjadi besar dan diterima dan dicintai konsumen. Konsumen sekarang semakin pintar. Mereka tidak lagi melihat barang bagus dan harga murah. Mereka mulai melibatkan emosi dan visi yang mereka bawa atau yang mereka setujui.
Saya juga mencoba tertatih memahami teori Z dalam manajemen. Dan lagi-lagi saya menemukan SBS di dalamnya. Kami bekerja dengan nilai-nilai kekeluargaan yang sangat kental dengan nilai profesionalisme yang tetap terjaga.
Semakin saya belajar, semakin saya cinta dengan pekerjaan saya. saya sangat yakin, keyakinan yang tidak bisa ditawar-tawar, bahwa kami akan menjadi sangat besar. Tentu saja selama semua personel mulai dari eksekutif sampai tim ujung tombak mau untuk terus belajar dan mengupgrade diri baik dari segi pengetahuan maupun skill. Kalau tidak, tidak menutup kemungkinan orang lain 'mencuri' mimpi itu dan bergerak lebih cepat daripada kita.
Berkenaan dengan membangun intangibles saya setuju dengan tulisan Pak Hermawan Kartajaya di buku Grow with Character. Beliau mengatakan, ada tiga hal yang harus dilakukan oleh seseorang apapun tugas dan jabatannya. Pertama, menguasai pekerjaan dan menyempurnakan pekerjaan masing-masing. Kedua, mempersiapkan diri untuk jabatan lebih tinggi dan menambah jabatan baru. Ketiga, menyiapkan pengganti untuk dirinya bila ia dipromosi kelak.
Matahari pagi di bali hari ini begitu hangat. Di Balok hotel saya semakin hanyut dalam bacaan saya. wangi lamat-lamat dari bunga kamboja yang sedang bermekaran yang mengitari kolam renang di bawah sana begitu membuat pikiran rileks.
Kuta, 28 Maret 2011.
Thursday, March 17, 2011
Dream Job# Take and Love it!

Apa pekerjaan impian anda?
Eksekutif perusahaan besar dengan kantor luas, mobil dinas, bawahan yang siap bergerak, jam meeting padat, supir yang siap menjemput dan bekerja from nine to five? Atau seorang businessman yang pagi di Jakarta, siang di Surabaya dan sore di Singapura? Atau yang lebih keren lagi, actor terkenal dengan nilai kontrak ratusan juta rupiah untuk satu film? Atau mungkin pemain sinetron kejar tayang dengan tuntutan menangis menye-menye sampai 12 season? Hehe…paling tidak pilihan pilihan pertama dan kedua pernah mampir di otak saya ketika kuliah dulu. Sekarang pun masih kadang-kadang.
Apapun pekerjaan impian kita, itu akan sangat menyenangkan kalau kita menikmati dan mencintainya. Apalagi kalau pekerjaan itu adalah hobby kita atau ada hubungan dengannya. Tanpa cinta passion tidak akan muncul apalagi nikmat. Yang ada pekerjaan itu akan menjadi beban yang menghantui.
Pekerjaan saya sekarang jauh dari apa yang ada di impian saya dulu. Saya tidak mempunyai kantor luas (tapi berniat memilikinya suatu saat), kendaraan pribadi dan jam kerja nine to five. Saya juga tidak harus setiap hari memakai kemeja konservatif, dasi, celana bahan dan sepatu pantofel mengkilat walaupun sering juga diantar dan dijemput setiap berangkat dan pulang kerja. Dengan mengesampingkan alasan kenyaman saya lebih suka memilih naik angkot. Tapi alasan lainnya sih karena saya tidak bisa menyetir. Sehingga pernah ada dua mobil di garasi nganggur dan saya kemana-mana naik angkot karena yang biasa menyupiri saya sedang tidak ada.
Banyak orang yang memimpikan mempunyai pekerjaan yang bisa membuatnya travel kemana-mana dan bertemu banyak orang. Saya mempunyai pekerjaan itu sekarang dan sangat menikmati travelling karena itu memang salah satu passion saya.
Ketika banyak orang pagi-pagi sudah rush ke tempat kerja masing-masing, saya biasanya sedang menikmati rutinitas pekerjaan saya. kalau saya tidak tidur lagi setelah rutinitas subuh biasanya saya membaca dan menonton berita pagi. Kemudian saya akan menyambar sepatu olahraga saya dan segera menggerak-gerakkan badan kemudian siap untuk jogging. Rasanya aneh juga jogging pagi-pagi ketika kebanyakan orang sudah berpakaian rapid an terburu-buru berangkat bekerja. Saya merasa seperti melawan arus. Kalau di tempat saya sekarang, saya biasanya berlari menyusuri pantai kemudian melakukan pelemasan sambil memandang laut. Setelah puas berimajinasi di pinggir pantai saya akan pulang untuk sarapan. Sarapan saya simple. Saya akan ke warung tenda di ujung jalan yang menyediakan bubur kacang hijau campur kolak dan ketan hitam kesuakaan saya. satu mangkuk bubur campur dan dua buah pancake khas Padang (mereka menyebutnya panekuik), cukup memberi saya energy di pagi hari. Saya akan menghabiskan sarapan saya berlama-lama sambil memperhatikan orang-orang di sekeliling saya. sok-sok menjadi observer.
Jam 9 an saya kembali ke rumah dan mandi. Kalau sempat luluran dulu dengan lulur kopi dan lavender yang baru saya beli. Banyak yang protes karena mandi saya lama. Saya memang berniat mandi lama karena selain kadang harus luluran, ide-ide saya banyak muncul ketika saya di kamar mandi. Biasanya saya akan langsung berimajinasi dan berencana yang hebat-hebat dengan ide saya itu. Saya memang seorang pemimpi.
Ketika orang lain mungkin sedang hectic dengan pekerjaan mereka di dengan file-file yang menumpuk di depan mereka,saya juga mulai membuka laptop saya dan mulai bekerja sesuai dengan rencana dan target kerja yang saya buat semalam sebelum tidur.Efek dari tidak mempunyai atasan yang terlibat langsung dengan pekerjaan saya, saya harus mengatur semua jadwal kerja saya seefektif mungkin. Oleh karena itu saya bisa sangat-sangat sibuk sampai tidak mau ditelepon kecuali oleh ibu saya atau sama sekali tidak mempunyai deadline pekerjaan selama satu hari. Kalau memang tidak ada yang dikerjakan, saya hanya akan membaca dan surfing di dunia maya. Kalau sedang bosan di rumah, saya akan memboyong laptop dan file-file pekerjaan saya ke kafe favorit saya dan bekerja di sana.
Kadang-kadang saya juga harus ke kantor dengan pakaian rapi jali ala eksekutif muda. Kadang-kadang saya cukup ngantor dengan jeans dan t-shirt atau lebih banyak T-shirt dengan bermuda alias celana pendek sebetis. Seperti sekarang misalnya, saya kadang-kadang harus ke kantor dengan kemeja dan dasi rapi untuk meeting. Tapi setelah meeting selesai saya akan pulang kalau tidak ada lagi yang harus dikerjakan di kantor.
Ketika sore beranjak, barulah saya 'benar-benar bekerja' formal seperti yang lainnya. Saya harus masuk ke kelas untuk mengajar selama 2'5-3 jam atau dua kali dari itu kalau saya harus menghandle dua kelas. Kalau ada peserta training yang masih berkonsultasi dan kadang-kadang hanya sekedar mengobrol, saya kadang-kdang harus pulang jam sebelas malam karena melayani mereka. Saya sangat bahagia bisa menjadi kepercayaan mereka untuk member mereka suntikan motivasi atau memecahkan permasalahan belajar mereka.
Terkadang saya juga dilanda mellow, down dan sejenisnya. Akan tetapi ketika saya bertemu kembali dengan peserta training saya, semua down, kesedihan dan saudara-saudaranya menguap bitelan keceriaan dan semangat peserta training saya.
Efek dari "tidak mempunyai kantor " membuat saya harus pandai-pandai membuat strategi ketika harus mengadakan pelatihan, upgrading atau meeting buat tim saya. terkadang saya mengadakan training buat mereka di kafe atau outdoor sekalian. Saya pernah mentraining tim kerja baru saya di pinggri pantai sore-sore. Menurut saya itu sangat menyenangkan. Tim mendapat training, pikiran segar. Tapi terkadang saya juga harus menyewa tempat ketika saya butuh tempat yang agak luas untuk tim saya.
Menurut saya, semakin lama pekerjaan bisa dilakukan di mana saja. Kemajuan teknologi membuat kita tidak harus selalu duduk di belakang meja. Dalam pekerjaan saya misalnya, saya harus berkomunikasi dengan tim yang tidak berinteraksi langsung dengan saya via internet atau telepon. Akan tetapi memang perlu kemampuan manajerial yang cukup karena semua jadwal dan pergerakan tim diatur sendiri. Bebeda dengan pekerja kantoran yang sudah punya alokasi waktu dari jam sekian sampai jam sekian. Nine to five. Saking besarnya authority saya terhadap pekerjaan saya, saya bahkan bisa membuat sendiri liburan saya kapan. Nah, saya punya rencana untuk memanage pekerjaan tim saya dari rumah saya di desa lereng gunung di Bima sana suatu saat, tim saya di Padang dan saya di lereng gunung di Bima.
Bagaimana dengan pekerjaan anda? Do you enjoy it?
Sunday, January 30, 2011
Prepare More!; Puding, Sendok, Mbak Bunga Citra Lestari dan Colokan
Saya sangat surprised ketika menemukan pudding kesukaan saya tersedia di warung kecil yang akhirnya saya temukan ketika berjalan keluar mencari angin di sesi-sesi pelatihan untuk krew baru kantor kami. Di kota lain. Di kota lain, untuk menemukan puding biasanya saya harus ke supermarket besar atau toko kue. Akan tetapi di kota kecil ini, puding bisa ditemukan di warung-warung kecil di banyak tempat.
Oke, saya tidak sedangbercerita tentang puding. Saya hanya mau bilang kalau saya sangat suka puding sehingga kalau suatu saat anda ingin memberi saya hadiah makanan berikan saja saya puding dengan aneka rasa. Yang ingin saya ceritakan adalah ketika saya nongrong di warung kecil sebesar lemari baju saya itu, yang memesan puding bukan hanya saya saja. Teman saya juga memesan makanan yang sama. Permasalahannya adalah, sendok yang tersedia untuk memakan puding itu cuma dua. Kedua-duanya terpakai oleh teman saya yang juga memesan puding dan teman saya yang satu lagi. Saya yang sudah tidak bisa menahan air liur saya terpaksa menahan dongkol karena tidak bias makan puding karena sendoknya tidak cukup.
Oke, itu terjadi di warung kecil yang pemiliknya mungkin tidak punya visi untuk membuat usahanya menjadi besar. Akan tetapi, saya juga menemukan hal sama dengan kasus yang berbeda di sebuah kafe yang memasang fotonya mbak Bunga Citra Lestari dan beberapa artis lain ketika berada di kafe itu. Maksudnya, pemilik kafe itu mau bilang kalau kafenya pernah didatangi artis-artis terkenal gitu. Dalam bahasa yang lebih singkat mereka mau bilang; kafe kita keren loh, artis aja pernah datang ke sini.
Di kafe itu kasusnya begini. Saya dan teman-teman saya sepakat mengerjakan deadline pekerjaan kantor di kafe karena sudah terlalu sumpek melihat suasana kantor yang begitu-begitu saja. Niat itu sedikit terhambat karena di kafe itu tidak tersedia colokan (apa ya, bahasa kerennya?) listrik yang cukup untuk tiga orang. Sebenarnya itu bisa disiasati dengan memakai kabel rol yang mempunyai banyak stekker. Tapi niat itu juga tidak bisa diwujudkan karena waiter maupun teknisinya bilang mereka tidak mempunyai persediaan itu. Mereka juga terkesan cuek dan tidak mencoba memberikan solusi. Atau paling tidak minta maaf atau berikanlah saya ini senyum lima jari biar saya nggak dongkol.
Dari dua kejadian di atas, saya mengambil kesipulan bahwa banyak orang yang tidak siap untuk menjadi besar. Mereka tidak punya visi untuk menjadi besar. Sang tukang warung mungkin tidak pernah membayangkan bahwa warungnya akan dikunjungi lebih dari dua orang. Oleh karena itu dia hanya menyiapkan dua sendok karena mungkin itulah jumlah maksimal warungnya pada saat yang bersamaan. Kalau dia punya visi untuk mempunyai warung yang besar dan ramai pengunjung, dia pasti akan menyiapkan sendok yang banyak untuk mengantisipasi pengunjung tersebut. Sementara si coffee shop yang memasang gambar mbak Bunga Citra Lestari dengan harapan agar coffee shopnya dianggap keren itu juga sama. Pengelolanya tidak punya visi untuk membuat coffee shopnya besar karena dia tidak siap untuk melayani kebutuhan pelanggan yang banyak dan bermacam-macam maunya. Itu baru kebutuhan yang simple dan sangat mudah terpikirkan oleh semua orang loh. Bagaimana kalau pelanggannya butuh sesuatu yang lebih complicated dan itu wajar? Rupanya ia hanya dimenangkan oleh lokasinya yang ada di dalam mal yang ramai pengunjung. Dan dia mendapat limpahan dari pengunjung mal itu.
Apapun pekerjaan dan usaha anda, sebaiknya sisipkan visi besar dalam pekerjaan dan usaha itu. Kemudian persiapkanlah kemungkinan-kemungkinan untuk visi tersebut. Kalau tidak, pelanggan yang anda harapkan tidak akan dating lagi ke tempat anda karena mereka terlanjur kecewa.
Saturday, January 29, 2011
It’s an Encouragement! (Karena Kita Sedang Membangun Karakter)
Saya menyelesaikan semua rangkaian pendidikannya tanpa hambatan berarti. Dukungan penuh orang tua saya membuat saya menyelesaikan pendidikan SD-S1 dengan lancar. Bahkan bisa dibilang bertabur bintang. Juara 1 kelas tidak pernah saya lepas dari tangan saya sejak SD-SMP. Ketika di SMA pun walaupun tertatih saya lulus dengan genggaman juara 1 di tangan. Memasuki bangku kuliah, saya tidak mencetak angka-angka tadi karena di kampus tidak ada laporan yang menyebutkan anda juara atau tidak. Saya tidak merasakan suasana kompetisinya, jadi saya tenang-tenang saja. Di kampus saya (waktu saya kuliah) tidak ada sebuah pengumuman yang menginformasikan siapa yang mendapatkan nilai terbaik (IP tertinggi di akhir semester). Jadi, kalau anda mendapatkan nilai rendah, anda tidak akan merasa terisntimidasi dan terlena dengan nilai anda. Bahkan saya pernah mendapatkan nilai yang amat buruk (dibandingkan dengan nilai anak-anak dig geng saya yang bertabur A). Akan tetapi saya selalu punya motivator ulung; ibu saya. Ibu saya tidak pernah mengomeli saya karena nilai saya buruk. Beliau malah memotivasi dan menambahkan tawaran uang jajan agar saya bias belajar lebih tenang.
Sampai akhirnya saya mulai khawatir karena harus menulis skripsi sedangan saya sama sekali tidak menguasai apa yang telah saya pelajari selama bersemester-semester di kampus. Kondisi ini membangunkan saya dari kecuekan saya terhadap kuliah. Saya mulai membaca buku-buku yang berkaitan dengan disiplin ilmu saya dan mencoba membuat fokus untuk saya jadikan skripsi saya. Saya cukup serius membaca buku-buku itu. Saya mulai merasakan nikmatnya berlama-lama membaca di perpustakaan dan membuat note-note kecil untuk bahan skripsi. Dasar saya orangnya dreamy, saya mulai membanding-bandingkan. Mungkin seperti ini nikmatnya belajar ala anak-anak Harvard atau Leiden itu. Pada waktu itu saya benar-benar cinta sama yang namanya perpustakaan dan menulis skripsi.
Ketika akan menghadapi sidang akhir skripsi untuk menentukan kelulusan, saya sedikit was-was juga. Pasalnya dari cerita teman-teman saya yang sudah melewati tahap ini, sidang ini adalah semacam pembantaian oleh para dosen penguji yang membuat kebanyakan mahasiswa harus berkeringat dingin bahkan yang mentalnya lemah, menangis. Tapi pada waktu itu saya malah tidak pernah mempersiapkan khusus untuk mendalami materi dalam rangka menghadapi 'pembantaian'. Yang saya lakukan untuk persiapan malah tidak ada hubungannya sama sekali dengan materi skripsi saya. Malam sebelum ujian skripsi saya malah sibuk mutar-mutar di mal mencari outfit yang keren untuk saya pakai pada ujian skripsi saya. Saya juga sibuk diskusi sama mbak-mbak pramuniaga yang jaga outlet parfum tentang aroma parfum apa yang cocok untuk saya. Saya hanya ingin memanjakan diri saya setelah bekerja keras dengan skripsi. Saya ingin menciptakan suasana relaks yang membuat saya juga relaks menjawab pertanyaan-pertanyaan untuk mempertanggungjawabkan apa yang saya tulis di skripsi saya. Saya sangat percaya bahwa 5 menit pertama orang akan melihat pada penampilan kita. Saya mencoba membuat kesan pertama yang baik di hadapan dosen saya besok dengan mempersiapkan penampilan terbaik. Saya malah melanggar pakem berkemeja putih dibawah jas dengan memakai kemeja merah marun yang menurut saya lebih keren daripada kemeja putih yang membosankan karena dipakai oleh setiap mahasiswa.
Keesokan harinya saya memasuki ruang sidang skripsi dengan agak was-was walaupun sudah mempersiapkan penampilan yang keren. Apa yang diceritakan oleh teman-teman saya tentang ujian skripsi yang mengerikan itu tidak terbukti sama sekali. Saya malah seperti sedang bercakap-cakap dengan dosen penguji mereka. Hangat dan bersahabat. Saya malah sempat berdiskusi tentang masa depan saya dengan mereka. Mereka malah memotivasi saya.
Belakangan ketika pekerjaan saya berhubungan dengan dunia pendidikan, saya menemukan kata kunci tentang kenapa prestasi saya gemilang pada saat SD-SMA dan saya sangat menikmati belajar ketika di akhir-akhir kuliah. Satu kata singkat; Encouragement.
Encouragement; Karena Kita Sedang Membangun Karakter
Saya menemukan simpul kata ini ketika saya membaca artikel tulisan Prof. Rhenald Kasali dengan judul yang sama seperti kata pertama sub judul tulisan ini; Encouragement. Artikel itu bercerita tentang pengalaman beliau dengan guru anaknya di Amerika. Pengalaman yang menggambarkan betapa jauhnya cara mendidik guru-guru di sana dengan kebanyakan cara guru-guru di negeri kita.
Ketika saya sedang memberi training atau mendampingi trainer magang di tempat saya bekerja, saya selalu mengingatkan mereka untuk berhati-hati memberikan nilai dan mengoreksi pekerjaan siswa. Mereka kadang protes, mengapa saya memberikan nilai B untuk hasil tulisan siswa jelek dan tidak jelas apa tema dan maksudnya.
Di dalam kelas kami, nilai bukanlah punishment, kami memfungsikan nilai sebagai encouragement. Nilai bagi kami harus bias memotivasi siswa untuk berbuat lebih. Standar nilai yang kami berikan bukan semata-mata berdasarkan hasil pekerjaan siswa tersebut. Kami sangat menghargai proses dan perbedaan individu. Fatih yang belajar dengan start up 1 misalnya, ketika bisa melaju ke standar 4, itu progress yang bagus. Sedangkan Patrick yang nilai start upnya 5 dan melaju ke ke angka 6, itu bukan progress yang bagus. Yang mempunyai nilai yang lebih tinggi adalah siswa yang strat up nya 1 dan melaju ke angka 4. Nilai bagus yang diberikan kepada Fatih adalah encouragement. Biasanya di bawah nilai itu kami berikan komentar dan pujian atau kata-kata motivasi yang mendorong siswa untuk terus meningkatkan prestasi mereka.
Di kelas kami, pada sessi akhir kelas, siswa diminta untuk membuat sebuah karangan dengan bahasa Inggris setiap harinya. Biasanya, siswa akan bersemangat untuk menulis lebih banyak lagi karangan setelah melihat nilai dan kata-kata motivasi di atas hasil karangan mereka. Ketika melihat lagi hasil tulisan selanjutnya di buku karangan mereka keesokan harinya, mereka semakin termotifasi untuk menulis lebih baik ketika mendapatkan nilai yang lebih baik. Pada akhirnya, buku hasil tulisan itu akan menjadi permainan 'lempar –tangkap' motivasi antara guru dan murid maupun trainer dan trainee.
Encouragement ini tidak hanya ampuh buat anak-anak. Kebanyakan peserta training saya adalah guru-guru dengan usia 20-56 tahun. Pada awalnya saya sendiri kaget ketika mendapati kaum 'senior' tersebut begitu bersemangat. Semangat yang menghilangkan keluhan-keluhan mereka tentang kemampuan belajar dan daya ingat yang menurut mereka semakin menurun karena mereka sudah tua.
Siapa pun orangnya, mereka akan senang dan termotifasi ketika hasil pekerjaannya dihargai. Contoh yang lain adalah dalam dunia kerja. Tak bia dipungkiri, staf yang mendapat penghargaan dari atasannya baik itu berupa pujian ataupun reward dalam bentuk materi akan semakin termotifasi untuk berprestasi.
Kalau anda seorang pendidik, guru, trainer, boss atau atasan, sudahkah anda memberikan encouragement kepada murid dan bawahan anda? Atau jangan-jangan kita 'membunuh' karakter mereka dengan memberikan nilai punishment? Kita tidak sedang menghasilkan generasi yang bernilai bagus saja, tapi yang paling penting adalah menghasilkan generasi yang berkarakter unggul, karakter yang kompetitif dan penuh motifasi. Kebanyakan karakter positif didapat dari imput yang positif juga.
