Showing posts with label Simple Thoughts. Show all posts
Showing posts with label Simple Thoughts. Show all posts

Wednesday, April 8, 2015

Pendidikan Tinggi Indonesia di Pasar Internasional?


Abad Asia 2050 dan ASEAN Single Community 2015 akan membawa pola hubungan negara di wilayah ASEAN ke dalam hubungan yang sama sekali baru. Bukan hanya negara-negara di wilayah ASEAN sebenarnya, tetapi juga wilayah di sekitar regional ini seperti Australia dan Selandia Baru. Pada tahun 2013,  Australia bahkan sudah menerbitkan white paper yaitu sebuah naskah yang berisi strategi Australia dalam menyambut tantangan abad Asia 2050. Dalam dokukmen tersebut, Australia benar-benar menempatkan  ASEAN sebagai partner kerjasama regional yang penting. Hal ini bisa dimaklumi. Walaupun secara geografis Australia berada di dalam kelompok negara-negara Melanesia, tetapi dalam percaturan ekonomi, Australia lebih dekat dengan negara-negara ASEAN.

White paper  tersebut diturunkan ke dalam dokumen lain yang tidak  kalah menarik buat saya; Indonesia; Country Strategy. Dokumen ini berisi tentang strategi  dalam hubungan kerjasama dengan Indonesia.

“Each strategy outlines a vision of where Australia’s relationship with the country should be in 2025 and how we, the Australian Community, intend to get there (Indonesia Country Strategy: 2013)

Dalam bidang pendidikan, salah satu strategi  Australia dalam menghadapi tantangan tersebut adalah dengan menjadikan Bahasa Indonesia diajarkan sejak sekolah menengah. Dan tentu saja bukan rahasia apabila banyak universitas-universitas yang menawarkan program Studi Indonesia dan mendirikan research centre yang fokus mengkaji wilayah ASEAN dan juga Indonesia secara khusus. Kita mungkin juga familiar dengan program ACISIS yang mengirimkan mahasiswa-mahasiwa Australia untuk belajar tentang Indonesia langsung di  perguruan tinggi-perguruan tinggi di Indonesia secara langsung, lengkap dengan program-program lapangan dan research project yang langsung bersentuhan dengan masyarakat Indonesia. Bukan hanya Australia, sebenarnya mata negara-negara di dunia tengah tertuju kepada negara-negara Asia. Semua mata tertuju padamu. All eyes are on you.

Kota tempat saya berada saat ini pun, Yogyakarta, diramaikan oleh mahasiswa asing yang hanya khusus datang untuk belajar bahasa Indonesia, maupun belajar tentang politik dan pemerintahan di Indonesia. Bahkan, di Fakultas Bisnis kampus tempat saya kuliah, setiap semester selalu ada sekitar 50 orang mahasiswa yang datang untuk belajar  di sekolah bisnis untuk satu  semester maupun lebih. Tujuan mereka bermacam-macam. Mahasiswa dari Cina dan Korea yang biasanya banyak datang melalui program beasiswa Darmasiswa mungkin pemerintah mereka antusias mengirimkan mereka untuk belajar di Indonesia karena Indonesia adalah pasar yang besar untuk produk-produk mereka. Belajar langsung di negara yang menjadi pasar produk mereka tentu saja akan membuat mereka lebih mengenali dinamika pasar dari dekat. Sebuah aset masa depan.

Seorang teman dari Taiwan yang kuliah di Sekolah Bisnis di Beijing mengatakan dia dimotivasi oleh Bapaknya untuk datang belajar bahasa Indonesia di Yogtakarta untuk mempersiapkan kemungkinan ekspnasi bisnis IT keluarga mereka di Indonesia. Setelah dua semester di Yogyakarta,  teman Hongkong saya tersebut sudah memulai usahanya sendiri di Bidang Tour & Travel yang memfasilitasi para turis China datang ke Indonesia. Seorang teman yang lain lagi, mahasiswa master di Paul H. Nietze School of Advanced Internatioanal Studies, The John Hopkins University yang fokus belajar tentang keuangan internasional dan juga keuangan di Asia datang dua kali ke Indonesia. Yang pertama, dia datang khusus untuk belajar Bahasa Indonesia di Yogyakarta, yang kedua datang ke Jakarta untuk magang di perusahaan Malaysia yang beroperasi di Indonesia. Seorang teman yang lain lagi, berkewarganegaraan Portugal dan Brazil juga datang untuk belajar di sekolah bisnis di kampus saya selama satu semester, untuk mengenali atmosfir bisnis di Asia katanya. Bahkan dia berkongsi menulis paper tentang currency dalam ASEAN Single Community dengan seorang dosen muda di Fakultasnya. Itu akan menjadi nilai plus buat dia ketika terjun ke dunia kerja di Portugal sana, dia berwawasan “asia” dan siap membuat strategi bisnis perusahaan untuk pasar Asia, misalnya.

Percakapan dengan seorang teman Jerman lebih menarik lagi. Kami sedang berbincang tentang dinamika ASEAN Single Community sambil menikmati makan siang di kantin.Kami bercakap dalam bahasa Indonesia yang sangat formal, sesuai dengan KBBI, karena itulah standar bahasa yang diajarkan di sekolah bahasa tempat dia belajar di kota ini. Dia juga mengikuti perkuliahan di FISIP kampus saya.  Ketika pembicaraan menyentuh tentang Filipina, dia tidak punya banyak wawasan tentang negara tersebut. menurut dia, pemerintah mereka mungkin tidak menganggap negara tersebut “penting” dalam kerjasama internasional Jerman. Sebaliknya, Indonesia menurut dia adalah sebuah negara partner yang sangat penting.

Fenomena mobilisasi mahasiswa internasional ke negara kita tersebut sebenarnya menunjukkan bahwa demand untuk pendidikan tinggi di Indonesia sangat besar. Hal tersebut kemudian membawa saya kepada pertanyaan, sudah sejauh mana langkah yang dilakukan oleh Indonesia sebagai negara dalam merespon demand tersebut? Dalam hal visa misalnya, informasi yang menyelurus tentang pendidikan tinggi di Indonesia misalnya, dan hal-hal lainnya yang memudahkan mahasiswa tersebut untuk hidup di Indonesia, ataupun menarik mahasiswa lain di luar sana untuk datang dan belajar di Indonesia. Namun, dari hasil observasi dan wawancara yang dilakukan, belum ditemukan sebuah sistem terpadu yang memudahkan mobilisasi mahasiswa internasional ke Indonesia seperti website yang langsung mengarahkan mahasiswa internasional untuk mengetahui pendidikan tinggi yang ditawarkan oleh Indonesia.

Berdasarkan pengamatan saya terhadap teman-teman mahasiswa Internasional di sini, mereka sangat antusias untuk belajar di Indonesia walaupun dengan segala keribetannya. Mahasiswa dari belahan bumi lain tentu saja senang berada di negara tropis dengan nilai tukar mata uang yang lebih redah dengan mata uang mereka. Siapa sih yang nggak senang bisa kabur ke Bunaken untuk menyelam di akhir pekan. Siapa sih yang tidak senang menjelajah NTT yang eksotis itu di waktu kosong perkuliahan. Malahan, ada seorang teman mahasiswa asing lagi yang practically dia tinggal di Gili  Terawangan dan pantai-pantai di Lombok sana dan hanya terbang ke Jogja untuk mengikuti perkuliahan yang hanya dua hari. Ada low cost carrier ini! Belum lagi gunung-gunung yang menantang untuk didaki ada di mana-mana di negara kita ini. Dengan semua potensi keindahan alam tersebut, seharusnya bisa menjadi bahan marketing yang aduhai untuk menarik pemuda-pemuda benua sebelah tersebut berbondong-bondong belajar ke Indonesia. Belajar sambil menikmati alam tropis dan budaya yang eksotik!

Berbeda dengan Malaysia yang benar-benar melihat kesempatan “semua-mata-tertuju-padamu” itu dengan membuat portal informasi yang menawarkan mahasiswa internasional untuk belajar di Malaysia melalui www.studymalaysia.com, educationmalaysia.gov.my atau pemerintah Belanda yang mempunyai www.nuffic.nl. www.studyinholland.nl , bahkan sebuah institusi lengkap dengan website yang khusus untuk segmen pasar calon mahasiswa dari Indonesia di www. nesoindonesia.or.id. Sementara itu, negara tetangga di Pasifik juga gencar mentargetkan Indonesia sebagai pasar pagi pendidikan tinggi mereka (Autralian White Book: 2013).

Bagaimana dengan di level institusi Perguruan Tinggi? Seharusnya dengan semua sumber daya yang dimiliki, hal tersebut bisa dilakukan. Apalagi untuk perguruan tinggi yang berstatus otonom (PTNBH) yang mempunyai kewenangan memutuskan segala hal tanpa melibatkan pemerintah. Kewenangan yang dimiliki melalui otonomi perguruan tinggi seharusnya cukup untuk melakukan hal tersebut. Salah satu tujuan otonomi tersebut untuk membuat pengambilan keputusan menjadi cepat dan mudah bukan?

Dalam pola system thinking kasus ini bisa diklasifikasikan sebagai growth and under investment. Kondisi ini terjadi dimana sebenarnya sebuah institusi bisa mencapai target tertentu, sementara pengambil kebijakan (biasanya pemimpin) menunda mengambil keputusan besar yang drastis dan nyaman dengan keadaan biasa saja. Penundaan (delay) pengambilan keputusan tersebut tidak kelihatan dampaknya sekarang , tetapi dalam jangka panjang biasanya akan muncul sebuah akumulasi efek yang tidak menguntungkan institusi.

Kasus ini juga sama dengan kondisi Indonesia yang tengah menikmati bonus demografi dimana komposisi usia produktif populasi penduduk Indonesia lebih tinggi daripada populasi usia non-produktif. Kondisi ini hanya berlangsung sementara, yaitu sampai tahun 2020. Investasi kebijakan yang harus dilakukan oleh pemerintah atau siapa pun yang mempunyai kepentingan dengan fakta ini tentunya harus diambil saat ini. Dalam kasus investasi pendidikan yang hasilnya baru akan terlihat dalam jangka panjang, apabila kebijakan pendidikan di level negara, ataupun strategi organisasi di tingkat perguruan tinggi tidak diambil saat ini (seharusnya sudah dari beberapa tahun sebelumnya), menunggu lebih lama lagi tentu akan terlambat.


*Di sela-sela mengetik thesis, Bulaksumur, 8 April 2015

Wednesday, November 6, 2013

Sit-in Class dan Student Mobilization; Unek-Unek Seorang Mahasiswa

Salah satu hal yang membuat peradaban manusia terus berkembang adalah karena adanya mobilisasi manusia baik itu antar kota, antar negara maupun antar benua. Mobilisasi ini kemudian menghasilkan interaksi, interaksi menghasilkan komunikasi dan pertukaran ide dan pada akhirnya mengarah kepada kerjasama.  Bayangkan ketika seandainya dulu Vasco da Gama tidak melakukan perjalanan dengan tim ekspedisinya (mobilization), maka belum tentu peradaban sebesar Amerika sekarang belum tentu ada. Negara ini pun kalau tidak ada mobilisasi orang-orangnya untuk mempelajari kelebihan peradaban negara lain yang lebih maju ataupun juga mengambil pelajaran dari negara yang terbelakang agar tidak melakukan kesalahan seperti negara tersebut, belum tentu Indonesia bisa berada pada posisinya yang sekarang ini.

Pergerakan ekonomi dan politik global membuat mobilisasi antar garis batas teritori semakin mudah dilakukan. Bahkan mobilisasi manusia tersebut menghasilkan kerjasama yang luar biasa seperti yang dilakukan oleh negara-negara Eropa yang membentuk Uni Eropa dimana bukan hanya mobilisasi antar negara yang semakin mudah tetapi juga kerjasama yang semakin tanpa batas. Bahkan mereka kemudian terhubung secara moneter dengan memakai satu mata uang tunggal yakni Euro. Secara regional Asia, kita pun akan menghadapi Asian community 2015 yang akan memberlakukan free transfers on goods and people.  Ada tiga kata kunci yang akan menjadi bahan cerita saya kali ini yaitu Mobilization, connectivity dan Cooperation.

Semua hal di atas tentu saja membutuhkan modal yang besar bukan hanya modal dalam arti sempit yang berupa uang tetapi terlebih mencakump modal manusia dan modal kebijakan. Modal manusia membutuhkan orang-orang yang berpikiran terbuka, melihat dengan perspective opportunity, dan bermental pembelajar. Ketika orang-orang mempunyai karakteristik tersebut mereka tidak akan menjadi orang yang takut dengan perubahan dan mencurigai hal-hal baru sebagai ancaman. Modal kebijakan menurut saya adalah kebijakan yang mengakomodir peluang, fleksibel dan deliberatif. Karakteristik kebijakan yang seperti ini akan menghasilkan peraturan yang tidak mengekang ide-ide baru dan menghalangi pergerakan perubahan.

Semester ini saya berniat mengambil SKS yang tidak terlalu banyak di program Master tempat saya belajar karena saya ingin mengikuti beberapa mata kuliah yang menurut saya sangat saya butuhkan untuk kompetensi saya ke depannya. Untuk itu saya berencana melakukan sit-in yaitu mengambil beberapa mata kuliah di program lain. Saya berniat mengikuti perkuliahan di program lain untuk kompetensi tersebut. Mata kuliah pertama yang ingin saya ikuti adalah Methodologi Penelitian, Analisis Kebijakan Publik dan konsep dan Isu Pembangunan. Mata kuliah yang saya inginkan tersebut tersebar di dua program Master berbeda di dua Fakultas yang berbeda pula. Untuk mata kuliah metodologi penelitian, saya beruntung saya bisa langsung bertemu dengan dosennya pada saat makan siang di kantin. Beliau sangat senang ketika saya mengutarakan keinginan saya untuk sit-in di kelasnya. Segera setelahnya saya bertemu dengan dengan pengelola program Master tempat dosen tersebut mengajar untuk membicarakan prosedur sit-in di program tersebut. Awalnya jawaban yang saya dapatkan adalah bahwa mahasiswa program studi lain bisa melakukan sit-in class di program tersebut dengan persetujuan pengelola. Saya segera menanyakan bagaimana prosedur untuk mendapatkan persetujuan yang menurut saya wajar karena ini hal formal. Akan tetapi pada akhirnya saya sangat kecewa karena setelah lama menunggu, jawaban yang saya perolah adalah bahwa saya tidak diperkenankan untuk melakukan sit-in di program tersebut dengan alasan bahwa sit-in hanya diperbolehkan bagi mahasiswa fakultas tersebut saja.

Saya akhirnya menuju ke Master Administrasi Publik yang mempunyai program master Kebijakan Publik. Sampai di sana, saya diterima dengan sangat ramah oleh bagian akademik yang mendengarkan pemaparan tentang rencana dan keinginan saya. Dia memang tidak memberikan keputusan saat itu karena ia harus membicarakan dengan pengelola program dan berjanji akan menghubungi saya secepatnya.

Benar saja, saya tidak perlu menunggu keesokan harinya untuk mendapatkan keputusan dari pengelola program Master Kebijakan Publik. Bagian akademik menghubungi saya sore itu ketika jam kantor hampir usai. Mereka menerima saya sebagai mahasiswa sit-in dengan beberapa ketentuan procedural. Ib ukepala bagian akademik malah mengatakan salut dengan usaha saya untuk self educating memenuhi pendidikan saya yang tidak bisa disediakan sepenuhnya oleh program master tempat saya belajar. Saya sangat terkesan dengan respon, keterbukaan dan keramahan mereka.

Menurut saya, fleksibilitas untuk bermobilisasi antar jurusan bahkan antar universitas sangat diperlukadengan alasan-alasan sebagai berikut . Pertama, dengan mempunyai mekanisme mobilisasi sebuah universitas memberikan kesempatan kepada mahasiswanya untuk belajar bidang yang di luar dari fokus bidangnya. Hal ini juga bisa membantu mahasiswa memilih untuk mengikuti mata kuliah tertentu yang sama dengan mata kuliah yang ada di jurusannya tapi dengan dosen pengampu yang berbeda yang lebih sesuai dengan pilihannya. Hal ini juga menjadi pilihan bagi mahasiswa yang mengulang mata kuliah tertentu tanpa harus menunggu beberapa semester sampai mata kuliah itu dipasarkan di jurusannya. Kedua, sistem mobilisasi seperti ini ketika diterapkan antar universitas bisa menciptakan kesetaraan dalam hal akses (equity access) terhadap kualitas pendidikan yang baik terhadap mahasiswa di Nusantara ini. Bayangkan berapa besar efek yang didapatkan oleh seorang mahasiswa Kebijakan Publik yang belajar di Universitas Nusa Cendana dengan mendapatkan kesempatan untuk mobilisasi satu semester di jurusan yang sama di Universitas Indonesia misalnya. Saya yakin dia akan mendapatkan pengalaman yang berbeda, cara pandang yang berbeda dan mungkin motivasi karena academic atmosphere dan kualitas perkuliahan yang dia dapatkan jauh lebih bagus daripada yang dia dapatkan di Universitas tempatnya kuliah. Ketika kembali, dia akan menginspirasi teman-temannya yang lain atau bisa jadi dia akan menjadi agen perubah di universitas tersebut. Ketiga, mobilisasi ini akan membuka sekat-sekat ekslusifitas bidang ilmu yang selama ini masih melekat. Dalam tantangan global seperti sekarang ini, perkembangan ilmu pengetahuan semakin inter-disipli (inter-disciplinary) dimana hubungan antar bidang keilmuan membuat seseorang tidak cukup hanya mengusai bidang keilomuan yang menjadi fokusanya saja tapi juga fasih berbicara dalam konteks bidang keilmuan yang lain. Apalagi syarat untuk menjadi expert dan  pemikir zaman ini seseorang dibutuhkan untuk menjadi lebih general. Artinya, kita membutuhkan seorang spesialis yang berwawasan global, seorang ahli pendidikan yang tidak buta ekonomi, kebijakan, dan politik, seorang ahli ekonomi yang mengerti pendidikan dan biodiversity dan sebagainya.


Mungkin luapan pemikiran saya dalam tulisan ini masih sangat emosional sehingga sedikit ruwet. Tapi pada intinya, kita harus terbuka dan fleksibel atau dengan bahasa yang lebih spesifik menghilangkan sekat-sekat yang membatasi seseorang untuk belajar dan mengembangkan interestnya di bidang keilmuan yang dia inginkan.   Saya sendiri sangat merasakan keuntungan sit-in mengikuti perkuliahan Analisis Kebijakan Publik yang sangat membantu saya memahami sisi kebijakan dari bidang keilmuan yang saya pelajari karena semua yang dijalankan dalam pendidikan Tinggi yang menjadi fokus perkuliahan saya adalah produk kebijakan publik. 

Sunday, January 1, 2012

Di Bawah Pohon Kamboja; Hangat


Pada sebuah Café di depan pantai Kuta di sore yang hangat.
Saya duduk di sofa di bawah pohon kamboja dengan buku “Alchemist” English version di tangan. Novel ini saya dapatkan minggu lalu sehabis makan malam di Seminyak Square. Sebuah novel yang mengaduk-aduk semangat dan memaksa saya untuk percaya dan teguh.

Sesekali saya menyeruput orange juice dan kembali fokus ke novel saya. tiba-tiba saya merasa ada seseorang yang memanggil saya. Saya tidak mendengar nama saya dipanggil tapi saya merasa sayalah yang dipanggil di tengah hiruk pikuk kendaraan di jalan depan saya dan lalu lalang orang yang tengah euphoria dengan liburan. Saya mengangkat kepala mengalihkan pandangan dari novel saya dan mendapati seraut wajah tersenyum lebar dari seorang pemuda sebaya dengan saya yang berdiri di trotoar kira-kira 7 meter di depan saya. Senyuman lebarnya mencipta wajah yang berbinar yang dengan cepat menular ke ekspresi saya.

“It’s very cool book, Buddy!” It’s very good! Katanya sambil mengacungkan kedua jempol dan tetap tersenyum.
“Yes, sure! So,  have you read it? saya membalas sambil tersenyum lima jari
“I did. Last week. But then I left it when I swam and someone took it” katanya sambil mengangkat bahu
“too bad!”
“It’s Ok. Since it’s a good book, she/he will get good things” katanya sambil tersenyum.
“Thoughtful!”

Dia tersenyum sambil memainkan alisnya dengan jenaka. 
“Ok, continue reading, I’m leaving” katanya sambil mengacungkan jempol dan melambaikan tangan seraya melangkah kembali menyusuri trotoar.

Tiba-tiba dada saya terasa hangat. Saya tersenyum. Rasa suntuk karena menunggu yang tadi sempat merajai tiba-tiba lenyap.
Hal yang sederhana. Seseorang yang asing memuji pilihan bacaan saya, senyuman yang tulus dan sore yang hangat.  

Ada banyak hal yang membuat orang terhubung. Hobby yang sama, pengetahuan yang sepadan, kesialan yang sama yang menimpa, kepercayaan yang sama dan nasib yang yang sama. Kali ini saya terhubung dengan orang asing yang bahkan saya tidak tahu namanya karena sebuah buku yang dia lihat sepintas sambil jalan.

Dengan langkah kaki ringan saya melangkahkan kaki menuruni undakan tangga kafe dan berjalan menyusuri trotoar. Sejenak saya merasa tolol. Seharusnya saya menawarinya minum dan mengobrol dengannya sejenak. Pasti bakal menyenangkan. Ah sudahlah, ada kalanya orang hanya singgah sebentar dan ada yang singgah dan tinggal.

Taxi biru pertama yang lewat saya cegat. Saya menghempaskan pantat di kursi Taxi dan dengan suara ceria bilang ke pak sopir;
“Airport Pak!
Sepertinya kekhawatiran saya akan suntuk menunggu di Airport tidak akan terjadi.

Saturday, November 26, 2011

Alchemist, Banana Pancake, Personal Calling dan Bali


Pelan-pelan saya mengunyah banana pancake di mulut saya. Menu ini selalu menjadi pilihan menu utama saya ketika sedang berada di Bali. Bahkan kali ini saya mencombo banana pancake dengan scramble eggs, toast, fruit salad plus coffee au lait. Kalau saja abang saya, Christian saat ini ada di sini pasti dia sudah ngedumel sambil meledek porsi makanan saya. Dia pasti akan menggenggam pergelangan tangan saya sambil bilang ‘ you eat so much, but it doesn’t  influence your body at all. Where do all these food go?”. Biasanya saya akan tersenyum lebar sambil terus menyantap makanan saya dengan lahap.

Sesekali  saya menyelingi suapan pancake saya dengan coffee au lait yang kata abang saya menjadi lait au coffee karena saya mencanpur susu terlalu banyak.  Saya sangat betah berlama-lama di restoran ini. Selain harganya yang sangat terjangkau, hobi iseng saya terakomodir di sini. Ada banyak hal yang bisa saya komentari dari ramainya orang yang lalu-lalang di jalan kecil di depan restoran. Kadang  saya tersenyum, kadang kening saya berkerut karena berpikir dan kadang saya miris dengan apa yang saya lihat. Selain orang yang berlalu lalang, tidak ada perubahan yang berarti di jalan sempit tempat restoran favorit (karena murah dan enak) saya ini berada. Selama hampir lima tahun saya duduk di tempat ini paling tidak dua kali setahun. Dan dalam 4 bulan ini melonjak menjadi sepuluh kali. 

Toko-toko dan kios penjual souvenir di depan dan samping restoran masih sama seperti minggu lalu sebelum saya balik ke Malang dan kembali lagi ke sini, bulan lalu, dua bulan yang lalu, 7 bulan yang lalu dan 4 tahun yang lalu. Gadis-gadi yang menawarkan jasa pijat juga masih sama meneriakkan “Hello, massage please!” yang terkadang lesu. Kelesuan yang tercipta karena low session karena wisatawan tidak membludak seperti biasanya, yang artinya mereka harus berjuang lebih keras untuk menggaet pelanggan.

Memperhatikan semua itu membawa pikiran saya pada satu pertanyaan. Apakah mereka tidak bosan menjalani rutinitas yang itu-itu saja selama bertahun-tahun? Well, mungkin tidak itu-itu saja karena saya tidak tahu apa yang mereka lakukan di rumah mereka. Dari pandangan nanar gadis-gadis pemijat kepada wisatawan yang keluar masuk toko dan restoran, otak sok tahu saya bia menangkap sebenarnya mereka bosan dan ingin menikmati suasana berlibur seperti mereka dan juga saya. atau juga memimpikan bisa bertukar posisi dengan para wisatawan itu. Mereka menjadi wisatawan dan bule-bule itu menjadi penjaja jasa pijat seperti mereka.

Saya percaya bahwa sebenarnya semua orang mempunyai mimpi yang tinggi dan ideal untuk dirinya masing-masing. Buktinya, coba tanyakan kepada anak-anak TK atau keponakan anda yang sedang lucu-lucunya. Pasti mereka semua mempunyai cita-cita. Dan saya yakin kita semua pernah di sana, bergembira dengan cita-cita tinggi kita yang sepertinya akan mudah saja diraih. Itu sebelum terkontaminasi oleh pengaruh pesimisme terhadap realitas hidup dan prejudice orang-orang dewasa di lingkungan sekitar kita.

Cita-cita kita pelan-pelan terkubur karen akita diberitahu bahwa tidak semua yang kita inginkan akan tercapai. Kita diingatkan untuk tidak bercita-cita ‘terlalu tinggi’ karena akan menyiksa diri kita sendiri. Kita disuruh untuk melihat si Budi anak tetangga sebelah yang pernah bercita-cita tinggi  tapi sekarang stress karena cita-citanya tidak tercapai. Akan tetapi kita tidak disuruh untuk menengok si Iwan anak tetangga sebelahnya lagi yang sukses mampus dan berbahagia karena konsisten mengejar cita-citanya.

Lama-kelamaan cita-cita itu terkubur semakin dalam karena kita takut dengan konsisten mengejar cita-cita kita akan menyakiti orang-orang yang kit acintai; keluarga, sahabat, ataupun kekasih yang hatinya terpaut dengan hati anda. Padahal seharusnya cinta adalah energi. Kalau saya, saya yakin bahwa orang-orang yang saya cintai akan bahagia melihat saya bahagia karena saya menggapai mimpi-mimpi saya.

Paulo Coelho dalam novel fenomenalnya, Alchemist, menggambarkan dengan indah bahwa semua orang mempunyai keinginan yang disebut “personal calling”. Personal Calling adalah cita-cita atau keinginan setiap manusia seperti yang saya ceritakan tadi. Orang yang setia mendengar personal calling-nya akan menggapai personal legend; kejayaan dan kebahagiaan. They live happily because they live their life to the fullest”. Since they did all their best to achieve what they really want, they have nothing to regret.

Ada banyak orang yang mengubur personal callingnya dan berpikir bahwa penerus keturunannya bisa merealisasikan mimpi itu. Maka muncul lah orang tua yang memaksa anaknya masuk sekolah tertentu dan kuliah di jurusan tertentu untuk menggapai mimpi itu. Padahal anak-anak mereka bukan robot, mereka mempunyai personal callingnya masing-masing. You can put them in the best school in the town, but they have their own toys and interest.

Tugas orang tua adalah member masukan dan pertimbangan atas pilihan anak dan mensupport si anak jika apa yang di aimpikan memang hal yang positif.  Jangan sampai unrealized willing anda dibebankan kepada orang lain. Realisasikan sekarang selagi anda masih bisa. mumpung anda masih punya energy dan polusi pesimisme belum mencemari karena bisingnya suara-suara prejudice di sekeliling anda. Listen your heart, follow your personal calling!

Senada dengan “the Secret”, Melalui Achemist, Paulo Coelho juga mengatakan “ when you really want something, all the universe conspires in helping you to achieve it”.
Kopi di cangkir saya sdah habis. Banana pancake sudah tandas. Gadis-gadis pemijat masih berteriak “Hello massage”. Saya semakin yakin untuk mengikuti personal calling saya. Saya tidak ingin ketika saya tua nanti, saya mengutuk hidup saya karena berhenti berusaha merealisasikan “personal calling” saya.

PS:
Maaf, saya jadi terkesan menggurui. Mungkin karena efek kebanyakan makan banana pancake

Bali, 20 November 2011

Friday, November 25, 2011

It's Feeling Stupid!


It was long time ago my friend, Irma suggested to watch this movie, but I never realized it until my sister copied that movie to my laptop with a gazilion words telling that the movie is so me. They said that I'm a shopaholic so that I need to watch this movie for curing. Lol. I've questioned myself many times whether I'm a shopaholic or not. And the answer was a big big no. I like to do window shopping (and yes, shoping some times). I do shoopping when I'm in a very stucked with my job (or yes my feeling some time). And note it; I only shop when I found a very sexy and nice jeans from Levi's or nudie. And yes, very sexy bermuda or undie (undie is human right anyway. That's why I always wonder when there is a man with a daddy-used-to-be-white undie under their pants. Oh, come on, get enlightment guys!). And also very good fragrance. Okey, I'm too much about this part. It's just a personal side of me. We will not discuss about it.

Back to the "confension of shopaholic". I love the charachter of Rebecca Bloomwood. One schene that I really like is when ... And Luke were in the Gala Dinner. And Bloomingwood told the big boss of a big bank that his bank is very boring. Everyone on the spot was shocked of that bare words to the boss. She suggested to put the umbrella in front of the bank window and give the discount for administration payment to attract the customers. Surprisingly, the bank’s big boss like the idea. What I got from that short dialogue is about little things that usually forgotten. A feeling.


Putting umbrella is aimed to give a customer a good feeling so that they'll be attracted to come to the bank. And the sale or discount give the feeling to the customer that the product is cheap eventhough in logical thought it's not that cheap. These feeling enhancements lead you to the trance condition and then lead you to buy without thinking. It works that simple.


Last month was my birthday. And Christian, my lovely Abang come for a late birthday present. We have had a holiday together. He came along with a very nice book for another present. I felt in love with the book in a first sight. I spontaneously loove the book becouse of the cover's colour; shocking orange. It attracted me to directly open the first page and started reading. I'm sure if the book got a bad colour I would not that interested and enthusiastic to read. And in addition, I was happy to read becouse it was a birthday present. It's about the feeling.


Another story. I and my Abang was bored with the hotel we had been staying in for days. We intended to change. So, there we were, on the motorbike finding the comfortable hotel. The first hotel I stopped, I directly said no becouse the waiter didn't give me even a single smile eventhough the hotel got cheap price. The waiter's response lead me to a bad feeling. Instead of thinking that a hotel got a pretty cheap price, I walked away becouse I did,t feel confortable. Believe me, there is no single normal person in this world want to stay in a free hotel with everyday unconvenient and uncomfortable feeling. It's about feeling. Little things with big effect.


This morning we were sitting for breakfst in the swimmingpool side after an exhausting trip to Ubud a day before. The waiter got us two big white ceramic pot of coffee. One teko for each. A pot contains of about five cup of coffee. The coffee directly wiped away the bad feeling I have about the hotel becouse they provide a not really nice shower room. I was mumbling about it. But these pots of coffee enhance the hotel level from bad to the not so bad.  

Yesterday, we had been in Ubud for a quick visit. Staying there in the what people called a heart of Bali a two days and a night. The accomodation we got was more then expected. A small-six rooms cozy guesthouse with very well arrangement backyard and a big balcony with a free view to the paddy fields and of course with lot of kamboja trees, my favourite flover ever. More then anything, the owner knows how to pemper the customer so well. It's like the popped-up famously boys band lyric which I don't like becouse I'm not into boysband; I know you so well or in singaporean version, I know you so well lah.  Actually the gusthouse didn't really put us as a upper-ordinant or superior position. They consider us as a friend. The owner talked to us like a friend. She tried to build the feeling of being a friend. Small things that lead me to volunterily wanted to promote this guest house. So guys, If once you visit Ubud, do stay there in Kudos Guesthouse. Situated in the top of the hill in the middle of rice field make this place is the best accomodation to enjoy the peace ambience and feeling of being Balinese. It's not so far from Ubud Palace and Rio Helmi's photography gallery.


If you are a boss in a company or a leader in an organization, you can create the comforty feeling for your people by saying thanks to appreciate them, saying sorry if you think you put them in unconvenient situation, taking them to a coffee shop once, or gifting them a chocholate or your homemade carrot cake for the one or who you feel supported you in your work. Simple and appliable things with the gig effect; you'll get a loyal and productive employees. Let them know that you are care. Put them in a good feeling.  


These idea is a common dayly little things that effect big things. Tom Peters proposes in his Little Big Things that 'the toughest part of this message is that to do much with the idea, you need an attitude. For me, attitude is, putting others in the way you want others to put you. That's all.

Double Six Beach, 11-11-11

Saturday, April 23, 2011

Saya, Bali dan Baterai



Hujan deras mengguyur pohon-pohon kamboja di depan kamar hotel saya pagi ini. Iya, sejak tadi malam hujan deras mengguyur Bali membuat suasana di kamar begitu syahdu. Wangi bunga kamboja lamat-lamat menghampiri hidung saya menyeruap bersama aroma Bvlgari Man yang saya semprotkan di belakang kuping aya. Benar-benar perpaduan yang sempurna.


 

Berada dalam kamar tanpa dikejar-kejar hasrat untuk menjelajah pantai dan tempat-tempat wisata membuat saya sedikit merenung. Keputusan mengambil liburan ini memang sedikit membuat saya bimbang di awal. Tapi berhubung saya sudah merencanakannya sejak tahun lalu, saya pikir tidak ada yang salah dengan liburan ini. Saya selalu berusaha menyisihkan pendapatan saya untuk berlibur, sama seperti menyisihkannya untuk kebutuhan yang lain. Saya rela untuk tidak punya gadget keren asalkan bisa kelayapan (baca: travelling). I deserve to have it now. Memang agak sedikit menggoncang pundi-pundi saya mengingat liburan ini cukup lama. Liburan (benar-benar murni liburan) pertama saya setelah bekerja penuh.


 

Sebagai beach whisper, bali menjadi pilihan tepat bagi saya. Walaupun banyak daerah lain di Indonesia dengan pantai-pantai yang lebih keren, saya lebih memilih Bali karena affordable. Kalau kelak pundi-pundi saya sudah mengijinkan saya ingin sekali travelling ke daerah Indonesia Timur (Komodo, Alor, Maluku, Halmahera, Papua dan sekitarnya) Well, just skip the pantai Kuta things karena itu tidak masuk dalam list saya. Pantai kuta sudah terlalu ramai. Saya ingin mengunjungi pantai-pantai di sebelah selatan yang tidak banyak pengunjung. Sudah lama saya melist pantai-pantai itu. Saya juga ingin menyerap energy dari suasana seni para seniman di Ubud. Katanya, Ubud adalah jantungnya Bali.


 

Pantai buat saya adalah charger yang benar-benar ampuh. Saya selalu berbahagia dan rela bermain seharian di pantai sampai kulit saya keling. Searang saja kulit saya sudah very dark caramel. Saya tidak keberatan, malah saya suka dengan warna kulit saya yang item itu. Walaupun dalam keseharian saya belakangan ini pantai bukan hal yang asing, saya ingin benar-benar menikmati pantai dalam suasana liburan. Walaupun saya enjoy banget dengan pekerjaan saya, saya pikir ini saat yang tepat untuk saya berhenti sejenak untuk menyerap energy, menikmati hidup dalam sisi yang lebih spesifik dan merencanakan hal-hal yang besar.


 

Hal-hal yang menghiasi hidup saya belakangn ini benar-benar luar biasa. Saya ingin menangkap, menempatkannya di dalam ruang-ruang kecil hati saya dengan spesial sehingga saya mudah untuk mengambilnya kembali ketika saya butuhkan suatu saat nanti. Mungkin sebagian mengolahnya dengan bumbu-bumbu special resep saya sendiri dan resep para ahli. Dan inilah saatnya.


 

Berlibur adalah seperti mengisi ulang energy laptop tua saya yang bekerja siang malam melayani nafsu workaholic saya. Kata teman saya yang ahli laptop, laptop yang kita pakai sekali-sekali paling tidak harus diistirahatkan total beberapa saat agar ia bisa joss kembali. Katanya kalau batu baterai kita sudah terisi penuh 100% perbudaklah laptop itu sampai tidak berdaya dan jatuh di 0%. Lepaskan baterai, biarkan beberapa saat, kemudian isi lagi sampai mencapai daya 100%.


 

Katanya si laptop, akan tampil kembali dengan performa yang prima. Dalam hidup, ada banyak cara untuk kembali mengisi energi. Setiap orang punya cara-cara yang berbeda. Saya juga punya banyak cara. Dari cara yang sangat simple dan murah meriah sampai yang penuh tantangan dan harus merogoh kantong agak dalam. Kali ini saya memilih untuk merogoh kantong kempis saya.


 

Fourteen Roses B08, Seminyak-Bali, 3 April 2011

Intangibles 4# Did Your Mom Teach You to Behave?

In the end, I have to leave. Berat rasanya harus kembali lagi ke rutinitas pekerjaan setelah sehari-hari hanya berkutat dengan pantai, kolam renang, hotel, sepeda motor, kafe dan sedikit clubbing. Tapi toh saya harus menerima. Semua yang punya awal pasti ada akhirnya. Saya nggak mau meninggalkan kesedihan untuk liburan saya ini. Tujuan utama saya berlibur kan untuk merecharge energy saya biar bisa lebih joss lagi beraktifitas.


 

Seperti biasa, kalau sudah menginjakkan kaki di airport, saya langsung berjalan lurus segaris dengan dada busung dan pandangan lurus ke depan. Apalagi efek bvlgari man yang menjadi aroma saya kali ini membuat saya semakin menjadi-jadi. Biasalah, berasa model busana musim panas dolce and Gabbana saya kalau sudah kayak gini. Tapi sayangnya, saya nggak bisa jalan kayak pas datang kemarin. Tangan kiri saya penuh tentengan. Tangan kanan megang buku. Padahal kemarin kan Cuma bawa backpack buat laptop 14 inchi saja.


 

Namanya juga orang Indonesia, kalau nggak bawa oleh-oleh rasanya nggak afdhol. Walaupun dalam kasus saya, saya mau nggak mau harus bawa karena sms dan status fb saya penuh dengan request oleh-oleh. Padahal buat saya sendiri saya nggak beli apa-apa kecuali cincin silver keren yang sekarang menghiasi jari manis saya (kok, namanya jari manis ya? Bukan jari cincin kayak dalam bahasa Inggris. Ada historisnya nggak?) dan sepasang sepatu yang sekarang juga menghiasi kaki saya yang seksi.


 

Tapi langkah lurus segaris saya terganggu ketika saya samai di boarding pass. Metal detector di tangan mbak-mbak muka judes itu berbunyi nyaring yang kontan mengundang semua mata tertuju pada saya. Semua mata tertuju padamu (Miss Indonesia banget!). eits….buru-buru saya merogoh kantong saya dan mengeluarkan sepotong cokelat yang nggak saya habiskan dan saya masukkan ke kantong. Mana itu cokelat sudah meleleh aja gitu. Cokelat keluar, metal detector masih saja berbunyi. Apa lagi sih? Oalah saya baru sadar, saya juga mengantongi parfum Cartier saya plus Hand and Body Lotion. Dibawah tatapan mata banyak orang saya menggenggam barang-barany yang keluar dari kantong saya. Mungkin mereka pada berpikir, itu kantong apa karung ya?


 

Di tengah kesibukan saya mengeluarkan barang-barang ajaib tadi dari kantor saya, perhatian saya tertujua kepada buku saya yang terjepit di antara dua koper segede bagong ketika melewati pemeriksaaan sinar X-Ray. Saya memandang khawatir ke buku saya dan mengacuhkan mbak-mbak yang masih meraba-raba badan saya (hey..! bayar oii!! Enak aja raba-raba). Si mbak rupanya nggak terima diacuhkan sama saya.


 

"hey Mas. Saya tuh Cuma mau periksa!

"loh, periksa aja! Emangnya saya menghalagi gitu?

"@&**))(_*&^#" ngeremeng nggak jelas.

" nih, ada cokelat, parfum, koin sama lotion" saya menunjukkan tangan saya yang penuh oleh isi kantong saya tadi.

"baru pertama kali naik pesawat ya?" Mbak itu tiba-tiba berucap sinis

"ngomong apa tadi mbak? What did you say?" Saya balas dengan nada tinggi. Inggris saya langsung keluar kalau sudah marah kayak gini. Kurang ajar banget dia ngomong gitu ke saya. Do you know whom you speak with?


 

Saya langsung mendekat kembali ke mbak itu dan ngomong tepat di depan muka dia.

"Heh Mbak, nggak usah judes kayak gitu kalee! Biasa aja! Did your mother tech you how to behave?? Listen! Airplane is like sister to me. Ketika lo sedang berteriak-teriak mengadahkan tangan dengan ingus meleleh minta duit pas pesawat lewat, gw udah bolak balik naik pesawat! You got it??


 

"Oke, gw harus bayar berapa biar lo nggak judes nggak jelas gitu. I'll pay with my platinum credit card! Saya menrogoh kantong dan mengeluarkan dompet saya. (padahal kartu kredit aja saya nggak punya. Apalagi yang platinum).


 

Suara berat saya dengan kalimat panjang langsung di depan mukanya membuat di alngsung mengkerut. Kemarahan saya mengundang perhatian petugas lain, laki-laki berbadan gempal dan dua orang gadis langsung mengerubungi saya.


 

"Ada apa Mas? Suaranya seperti ditegas-tegaskan.

"Is she your staff? Tell her to behave! Dia ngatain gw kalau gw baru pertama kali naik pesawat!

Haha….si bapak-bapak berbadan gempal ikut-ikutan mengkerut.

"Maafkan kami Mas" katanya dengan senyum kaku.

"Oke. Saya maafkan. And you don't need to pay to get my forgiveness!


 

Saya langsung mengangkat backpack saya ke pundak dan memungut buku saya dengn puas. Mungkin saya berlebihan. Mungkin juga si Mbak tadi kecapekan sehingga dia ngomong gitu ke saya. Tapi ngomong kayak gitu keterlaluan banget. Jangan salahkan saya kalau sumbu saya juga tersulut. Ngerusakin mood saya saja orang ini.


 

Lagian ini di Bali gitu loh. Sadar dong, kalau mereka itu harusnya ramah dalam melayani. Yang namanya tourism itu nggak cukup cuma jual pemandangan indah saja. Yang paling penting itu hospitality. Kayaknya Angkasa Pura harus memberikan pendidikan lebih deh sama para karyawannya.

Intangibles 3# Knowledge Management



Education, as well as knowledge, is not preparation for life. They are life themselves (John Dewey)


 

Kota Palembang benar-benar panas pagi itu. Saya dan Agung, manager SBS Palembang sudah mengantri di belakang puluhan mahasiswa dan dosen di Kampus Universitas Sriwijaya Bukit. Kami tidak sedang mengantri pembagian ransum makanan. Kami sedang menunggu giliran untuk bisa naik ke atas bus kampus yang akan membawa kami ke Kampus Universitas Sriwijaya Pusat di Indralaya yang akan menjadi partner kerjasama SBS dalam menggelar Training 6 Minggu Bisa! pertama kami di Sumatera Selatan. Pada pagi seperti ini, kita harus benar-benar gesit kalau ingin dapat tempat duduk yang nyaman. Semua ingin sampai paling cepat untuk mengejar kelas masing-masing. Begitu duduk di kursi bus, suasana menjadi lain. Tidak ada lagi suara hiruk pikuk. Masing-masing sibuk dengan aktifitas masing-masing. Ada yang membaca, melamun dan ada juga yang mencoba melanjutkan kembali tidurnya. Kalau saya, seperti biasa. Observasi iseng!


 

Setelah melewati banyak jembatan dan lahan gambut selama 1 jam, sampailah bus yang membawa kami di Indralaya. Kota ini tidak pernah ada di benak saya sebelumnya. sebuah kota kecil kabupaten hasil pemekaran. Kota ini dilalui oleh jalan lintas Sumatera. Masih agak susah bagi saya untuk menyebutnya kta. Walaupun begitu, ternyata saya mencintainya setelahnya. Buskampus yang saya tumpangi ini tidak akan menaikkan penumpang di tengah jalan dan akan membawa anda langsung masuk ke dalam terminal bus kampus yang luas.


 

Tugas pertama saya sebagai GM adalah membuka kelas dan kelas baru di kota Padang. Didorong oleh naluri travelling saya, kota itu saya pilih sendiri karena saya ingin menginjakkan kaki saya di Pulau Sumatera. Ketika berhasil membentuk tim di Padang, tiba-tiba saya dikirim ke Palembang untuk membuka kelas dan cabang baru di Palembang yang calon pesertanya sudah menunggu. Pada saat itu, waktunya sangat mepet. Saya punya waktu 2 hari sebelum memulai kelas. Ketika pagi sampai di Palembang, pagi itu juga saya langsung bertemu dengan tim untuk melakukan adjustment untuk product knowledge dan quick breefing untuk menghadapi pra-training 6 Minggu Bisa! Hasilnya bisa dibayangkan, saya kelabakan harus memulai kelas dengan tim yang 'disiap-siapin'. Minggu-minggu pertama adalah one man one show. Sangat melelahkan namun juga menantang. Sambil menjalankan program, saya berusaha untuk terus meng-upgrade tim. Untunglah pada waktu itu saya juga membawa satu tim saya dari Padang.


 

Pada minggu kedua training, saya harus meninggalkan Palembang karena training 6 Minggu Bisa! di Padang juga harus segera dimulai dalam hitungan hari. Saya hanya punya waktu 3 hari untuk menyiapkan semuanya sebelum training dimulai. Masa-masa ini benar-benar menjadi masa pembelajaran yang sangat berharga bagi saya. Saya menemukan error dan best practice yang menjadi learning cases bagi saya. Ibaratnya belajar, saya merasa seperti mengambil S2 dalam waktu yang singkat dengan materi yang super padat. Gabungan teori dan porsi kasus yang lebih banyak di lapangan. Saya merasa sangat beruntung melewatinya.


 

Satu hal yang sangat saya suka adalah ketika saya harus meninggalkan Palembang dan mentrasfer semua pekerjaan saya kepada kolega yang menggantikan saya. Karena saya lumayan detail, sebelum kolega saya datang ke Palembang, saya sudah menyiapkan narasi perkembangan pekerjaan yang saya lakukan dan rekomendasi action apa yang harus dia lakukan. Bahkan saya membuatkan dia dekskripsi lengkap per peserta serta narasi extra untuk peserta yang butuh treatment khusus. Saya juga menuliskan panjang lebar ide saya tentang apa yang saya inginkan tentang keberlanjutan program itu. Tebukti itu sangat efektif untuk mentransfer ide dan knowledge.


 

Dalam pekerjaan sering kita menemukan best practice dari suatu kasus yang jawabannya tidak ada dalam manual maupun SOP. Atau juga mungkin ada panduannya tapi kita mengerjakannya dengan inovasi yang berbeda dan hasilnya jauh lebih baik daripada biasanya kita mengerjakan dengan panduan yang biasanya dipakai (SOP/manual guide). inilah yang dinamakan best practice. Disebut 'best' karena yang diambil adalah praktik-praktik yang memberikan hasil (outcome) terbaik atau yang mampu meningkatkan keunggulan dan daya saing perusahaan (Rhenald Kasali, Myelin).


 

Best practice ini biasanya hanya dipahami oleh orang yang mengalaminya. Ia akan menjadi pengetahuan dan keunggulan individu bagi dia tapi tidak akan menjadi sebuah praktek keseluruhan bagi perusahaan. Inilah yang dinamakan dengan tacit knowledge (tidak tertulis). Jika orang itu sakit atau berpindah pekerjaan maka best practice tadi akan ikut bersamanya dan akan hilang begitu saja. Oleh karena itu tidak ada cara lain untuk memindahkan memory dan pengetahuan individu tadi dari tacit (melekat pada manusia dalam bentuk percakapan, memory dan pengalaman) ke dalam bentuk tertulis (explicit). Setiap pengalaman baik itu kegagalan maupun keberhasilan akan memberikan pelajaran. Pelajaran itu akan tetap menjadi pelajaran ketika ia diabadikan dengan tulisan.


 

Ingat kan sama pelajaran sejarah dulu? Zaman sejarah adalah zaman ketika tulisan sudah ditemukan. Makanya menulis itu penting! Saking pentingnya menulis ini, kabarnya di Harvard sana ada satu keahlian khusus yang harus dimiliki; keahlian menulis kasus. Ini masuk menjadi mata kuliah wajib di Harvard Bussiness School. Selain itu, dokter yang sangat berpengalaman dan bertangan dingin dengan track record yang membuatnya dibayar selangitpun, ia tetap butuh rekam medik, yaitu catatan tertulis tentang penangan yang pernahdidapatkan oleh masing-masing pasien, obat yang diberikan maupun pemeriksaan yang dilakukan oleh kolega-koleganya yang lain dengan spesialisasi yang berbeda.


 

Mengutip kata-kata Prof. Rhenald Kasali, dalam Knowledge Management, perusahaan menerapkan cara-cara untuk mengindentifikasi, menciptakan,mengoreksi, mentabulasi, mendistribusikan dan memperkuat upaya untuk mengadopsi segala insights dan pengalaman berharga. Dengan menerapkan knowledge management, banyak hal berharga menadi pengetahuan yang dpat direplikasi oleh orang-orang lain. Oleh karena itu budaya mencatat, sharing, dan budaya belajar, budaya disiplin harus dapat dibentuk dengan Knowledge Management.


 

Dalam pekerjaan saya, menulis untuk evaluasi dan sharing in sebenarnya sudah ada sejak lama. Jauh sebelum perusahaan kami Go National. Setiap personal dalam kantor kami malah harus membuat laporan harian dalam bentuk naratif yang kami namakan Narrative Journal. Setiap laporan juga harus menyertakan narrativenya agar enak dibaca dan mudah untuk memahami kondisi di lapangan mengingat jarak kami yang berjauhan dan jarang bertemu muka. Akan tetapi efek sharingnya belum terasa karena masih sering laporan hanya menjadi urusan pembuat laporan dan atasan (vertikal) belum menjadi sharing
knowledge yang horisontal sehingga personal yang lain tidak mendapatkan pelajaran.


 

Ketika jarak fisik tidak lagi menjadi masalah dengan keberadaan teknologi internet, seharusnya Knowledge Management ini bisa lebih efektif. Kita bisa memanfaatkan berbagai platform di internet seperti mailing list dan facebook. Jangan sampai facebook hanya menjadi sarana untuk eksistensi diri dengan mengupdate status dan saling mengomentari status. Itu penting, tapi seharusnya kita bisa melakukan sesuatu yang lebih.


 

Tulisan ini saya selesaikan di kamar mandi karena teman saya yang sedang sakit nggak bisa tidur dengan lampu menyala. Benar-benar ndeso bule yang satu ini. Jam di laptop saya sudah menunjukkan angka 2, sudah pagi. Tapi mata saya nggak ada tanda-tanda mengantuk.


 

Fourteen Roses, Legian-Bali, 06 April 2011, 02.00 AM

Nggak Lihat Apa Alis Saya

Saya lagi duduk manis menunggu Toast dan Banana Pancake saya. Wangi bunga kamboja yang menjadi peneduh meja saya begitu relaxing. Di depan saya ada jus jeruk dan kopi. Ogah ah, minum jus jeruk yang super asem itu sementara perut saya belum diisi. Kopi itu juga mnegepul-ngepul minta diseruput. Ogah! Maunya Banana pancake! Tiba-tiba datang seseorang dengan langkah kemayu dan senyum malu-malu (kita singkat aja jadi SDLKDSMM ya? Oke, Iya!).


 

SDLKDSMM    : Sir, your Banana pancake is ready!

Saya        : Oh, Terima kasih Mbak. Eh, sorry! Mas maksud saya!

SDLKDSM    : Eh si Mas, yang tadi udah benar. Mbak!

Saya        : Oh ya? (Mengernyitkan dahi)

SDKLSM    : Ini lihat (nunjukkin alis), trus ini (goyang-goyangin dada sampai perutnya yang buncit ikut bergoyang-goyang)

Saya        : Oh gitu ya. Oke deh Mbak (dengan mulut mangap)


 

Saya terpaksa setuju karena takut digampar pake nampan yang dia bawa. Kemudian dengan kemayunya dia melenggok masuk menuju restoran meninggalkan saya yang mangap. Kemudian saya nggak bisa menahan tawa. Bukan karena saya mencemooh. Tapi lucu aja cara dia nunjukkin 'jenis kelaminnya'.


 

Teman saya    : Dia bilang apa tadi?

Saya        : Dia protes karena saya panggil dia Mbak

Teman saya    : jadi dia perempuan?

Saya        : Saya nggak tahu. Tapi dia mengaku perempuan.


 

Sarapan selesai. Perut kenyang. Wangi kamboja lamat-lamat.


 

Teman saya    : Jadi dia perempuan apa laki-laki?

Saya        : Told you! Tapi aku sih yakin dia laki-laki. Nggak ada pere kayak gitu!

Teman saya    : jadi…..(pasang tampang o'on banget)

Saya        : tauk ah! Ayuk…kita kemon!


 

La'Waloon 212, Kuta-Bali, 31 Maret 2011


 


 


 


 


 

Thursday, March 31, 2011

Intangibles 2; Care, do I care?, Like I Care!, Should I care? I Do Care!


 

Saya dulu sering mendengar teman-teman saya yang keluar dari ruangan seminar atau pelatihan entrepreneurship bicara begini; bakar saja ijazah itu!, kuliah itu nggak penting!, kuliah itu bikin orang bodoh!, ijazah itu membelenggu!. Banyak lagi kata-kata yang menempatkan kuliah sebagai hal yang 'buruk' dalam bisnis. Katanya kalau bebisnis nggak usah sekolah, nggak usah berpendidikan tinggi. Dulu saya sempat terpengaruh dan mau berhenti kuliah saja karena ingin berbisnis. Untungnya saya punya ibu yang luar biasa, yang selalu mendorong dan meyakinkan saya.


 

Mungkin benar di banyak tempat pendidikan kita tidak mampu mencetak mahasiswa menjadi pengusaha. Akan tetapi saya tidak bisa membayangkan kalau banyak pengusaha yang tidak makan bangku kuliah. Sepandai-pandainya orang self learning, ada banyak hal yang dia tidak bisa dia pelajari ketika dia tidak kuliah. Kuliah bukan hanya buku, kelas, tugas dan perpustakaan. Yang lebih penting lagi adalah experience ketika kuliah. Experience itulah yang sebenarnya membangun karakter. Karakter seperti apa yang terbentuk, itu tergantung dari bagaimana setiap individu menyikapinya. Mengenai ada pengusaha yang bisa besar tapa kuliah, itu another case. Tidak bisa digeneralisir.


 

Oke, saya tidak akan membahas kuliah atau tidak kuliah. Saya ingin bercerita. Setiap kembali ke hotel dari jalan atau sekedar makan, saya selalu disambut oleh Beli resepsionishotel ((karena ini di Bali, kita manggilnya beli yaJ) dengan senyuman dan langsung menyodorkan sebuah kunci bertuliskan 212. Hehe…kayak Wiro Sableng. Tapi tentu saja saya tidak sedang bersama Wiro Sableng di kamar saya. Yang membuat saya salut adalah dia selalu mengingat saya dan menyodorkan kunci pintu kamar saya dengan senyum lebar tanpa menunggu saya menyebut nomor kamar saya. Padahal kan yang tinggal di hotel itu bukan hanya saya saja.


 

Di pagi hari, resepsionistnya beda lagi. Kali ini mbak-mbak. Setiap saya turun untuk breakfast, dia selalu menyapa dengan selamat pagi yang hangat. Saya menemukan senyuman dan sapaan yang benar-benar hangat. Sapaan yang tulus. Kemudian mengobrol sebentar. Benar-benar hotel yang nyaman. Ini bukan hotel berbintang dengan fasilitas mewah yang wah. It's just another affordable hotel for backpacker like me. Saya benar-benar nyaman dengan suasana hotel ini.


 

Beda resepsionis, beda lagi room boy nya. Kali ini seorang bapak-bapak dan teman-temannya yang masih muda. Biasanya dia datang untuk membereskan kamar ketika saya sedang asyik membaca di balkon. Dengan tersenyum lebar, dia akan menyapa saya. Kadang-kadang mengobrol sebentar sambil berbagi gigitan cokelat di atas meja saya. Ini bukan tipe keramahan 'sok kenal sok dekat' (SKSD) itu loh ya. Dia benar-benar ramah.


 

Lain waktu, saya kelaparan dan terpaksa mampir di food court di depan pantai Kuta sehabis kelayapan ke Uluwatu. Saya makan Turkish Pizza karena harganya paling murah di situ. Tidak lama kemudian, pesanan saya datang. Saya mencuil sepotong kecil dan memasukkan sepotong kecil ke mulut saya. Hmm…enak!


 

Lama saya menunggu di depan pizza yang sangat menggoda itu. Apalagi perut saya sudah bernyanyi-nyanyi protes karena sangat lapar. Saya menunggu sesuatu yang bisa dipakai untuk melahap pizza itu. Iya, saya tahu saya bisa makan pakai mulut. Tapi kan saya nggak mungkin meraup pizza itu pakai tangan saya. akhirnya, saya memanggil beli yang melayani saya. Dia datang tanpa muka bersalah. Di baru tergopoh mengambil pisau dan garpu ketika saya bertanya begini; ini makanan dimakannya gimana?


 

Hoho…! Saya pikir, itu hanya menimpa saya saja. Tapi ternyata teman semeja saya yang makan makanan dengan harga 5 kali harga makanan saya dari stand yang berbeda juga mengalami nasib yang sama. Hal yang sama juga terjadi ketika kami harus membayar. Karena ingin menikmati sunset, kami ingin segera membayar dan pergi setelah makan. Tapi dipanggil-panggil si Mbak dan beli itu, malah asyik mengobrol. Setelah tahu kalau kami ingin membayar pun, responnya luammbbaat banget sampai sunsetnya sudah tidak kelihatan lagi. Dengan bercanda saya bilang ke mbak itu; Mbak, saya tuh keburu karena pingin lihat sunset. Tuh kan sunsetnya dah nggak ada! Balikin!! Hoho…dia hanya tersipu sambil menggerakkan tangannya seperti seolah-olah menggapai kembali matahari yang telah hilang di ujung horizon. Hugh..!


 

Dari semua pengalaman itu saya menarik satu kata singkat tapi sangat penting bagi siapa pun. Bukan hanya buat mereka yang bergerak di bidang hospitality. Kata itu adalah C A R E. Care selalu melahirkan sikap inisiatif dan berusaha memberikan lebih untuk konsumen. Care ini lah yang membuat resepsionist dan room boy hotel tempat saya tinggal bersikap ramah dan hangat yang menyenangkan bagi tamu hotel. Care itulah yang membuat Mbak resepsionis itu pula repot-repot mencari-cari kartu nama Beli Ketut di kamar saya yang saya letakkan entah di mana. Ceritanya, motor yang saya sewa mogok di Nusa Dua karena ketololan saya sendiri. Dan si Mbak resepsionis itu berusaha menolong saya dengan menelepon Beli Ketut yang punya motor tersebut. Tapi dia tidak punya contactnya dan berusaha mencari di kamar saya. Care itu pulalah yang tidak dimiliki oleh Mbak-mbak dan beli-beli di food court yang nggak memberi saya garpu itu.


 

Di dalam bisnis kami, care adalah kunci yang paling penting. Itulah intangibles kami. Bahkan apa yang kami lakukan itu tidak bisa diakomodasi oleh makna care. Karena belum menemukan ungkapannya dalam bahasa Indonesia Abang kami (Big Boss) menyebutnya sehe. Itu bahasa Melayu Pontianak yang saya juga susah untuk menjelaskannya dengan singkat.


 

Kata Pak Rhenald Kasali dalam kuliah umum entrepreneurshipnya yang sempat saya ikuti di Kampus UNAND beberapa waktu yang lalu, ada banyak hal yang dijual oleh orang dalam berbisnis. Ada yang hanya menjual barang saja dan ada yang menjual hal lain yang tidak kelihatan dibelakang barang tersebut. Hal yang intangible tapi bisa dirasakan. Atau mudahnya adalah menjual konsep. Ada juga yang menjual kenyamanan. Nah, sekarang konsep apa yang anda jual? Kalau Kampoenk Jenius, kami menjual nilai (value), care dan kemudahan. Apa pun yang anda jual anda harus memilih kata-kata ini:

  1. Like I care!
  2. Should I care?
  3. Do I care?
  4. I do care!

Dipilih, dipilih!!


 

Nusa Dua, 29 Maret 2011

Monday, March 28, 2011

Intangibles; We Create People!




 

"Ada sebutir "X" kecil di dada kiri anda, tariklah nafas dalam-dalam dan tumbuhkan kepercayaan kepadanya" Prof. Rhenal kasali, Myelin"


 

Cuaca tidak begitu cerah siang ini. Bahkan sebelum saya melaju ke Bandara Internasional Minangkabau (BIM), hujan deras dan angin kencang mengguyur kota Padang. Saya sempat khawatir karena jarak antara tempat saya tinggal dan airport cukup jauh. Akan tetapi ketika pesawat landing dan menembus angkasa, cuaca cukup cerah. Dari jendela di samping saya, pemandangan pulau-pulau kecil yang bertebaran dengan pasir putih di bawah sana sangat memukau. Puas dengan pemandangan, saya mulai merenung. Pertemuan dengan Prof. Rhenald Kasali di kuliah umum kemarin, mendapatkan hadiah buku dari beliau, menghadiahi beliau buku, berinteraksi dengan para peserta training saya yang semakin mengasyikkan, team yang bersemangat dan belajar sangat cepat, itu semua cukup membuat semangat dan optimisme saya memuncak.


 

Kemuadian mata saya mulai menyapu kabin pesawat dan memperhatikan beberapa pramugari yang sepertinya sangat familiar. Ada beberapa pramugari yang sering terbang bersama saya. Melihat pramugari-pramugari itu saya kembali teringat buku hadiah dari Prof. Rhenald Kasali. Judulnya Myelin. Sebenarnya saya tidak tertarik dengan buku itu walaupun sering melihatnya di Gramedia karena terpampang di rak display terdepan. Saya sedang mendalami marketing, jadi saya tidak berniat untuk membaca buku beliau walaupun beliau juga berbicara tentang marketing. Saya memilih untuk membaca buku-buku Hermawan Kartajaya. Akan tetapi karena boosting effect dari bertemu dengan belau kemarin membuat saya penasaran dengan isi buku itu. Saya mulai menelusuri kata per kata, kalimat per kalimat dan tidak terasa saya sudah menyelasaikan hampir separuh isinya ketika flight attendant mengumumkan bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat di Jakarta.


 

Intangibles; X Kecil yang Harus Dirawat

An intangible quality or feeling is difficult to describe exactly. Itu adalah kalimat yang saya dapatkan untuk menjelaskan ketika saya mengecek arti kata intangibles di Longman English Dictionary d laptop saya. Istilah ini sangat terkenal di kalangan para eksekutif dan ahli managemen, marketing maupun strategy. Secara singkat intangibles adalah harta tidak berwujud atau yang tidak kelihatan tetapi sangat menentukan kebesaran dan keberlangsungan sebuah perusahaan maupun prestasi dan pencapaian individu. Ia biasa dikenal dalam wujud reputasi atau goodwill. Reputasi ini tidak akan muncul dalam kumpulan aktiva pada neraca pembukuan. Paling tidak itulah yang tertulis dalam buku Myelin yang saya baca. Ia muncul pada kepuasan konsumen, repeating order, brand image dan brand loyalty. Kalau banyak orang yang memilih produk anda walaupun banyak produk yang sama dengan harga yang sama, kwalitas sama atau harga lebih murah, itu berarti intangibles anda bagus.

Intangibles tidak muncul dengan tiba-tiba. Ia muncul dari budaya dan karakter yang dipupuk terus-menerus. Ia besar dengan proses pembelajaran yang panjang. Ia dihasilkan dari proses seleksi hingga training dan upgrading terus-menerus. Ia terus bisa bersaing dengan upgrade yang perawatan yang teratur. Upgrade yang berjalan seiring dengan perkembangan kemajuan teknogi, selera pasar dan ptemuan-temuan dan pengetahuan baru. Tapi yang paling penting adalah ia muncul dari goodwill untuk membangun nilai. Karena ketika sebuah perusahaan ingin membangun sebuah nilai yang sejalan dengan human spirit ia tidak akan berpikir keuntungan materi semata-mata. Ia ingin menanamkan nilai postif, membangun positive culture bagi bukan hanya lingkungan kerja tapi juga bagi customer.


 

Sebuah perusahaan bisa "membajak" orang-orang bagus di sebuah perusahaan dengan intangibles yang bagus, akan tetapi sulit bagi dia untuk menyaingi perusahaan yang dia bajak orangnya itu. Karena intangibles tidak dibangun hanya dengan satu-dua orang bagus akan tetapi dari rasa kepemilikan, teamwork dan kenyamanan bekerja (pemenuhan kebutuhan materi dan non-materi). Prof. rhenal Kasali menulis bahwa pernah ada media yang membajak wartawan-wartawan dan redaktur pelaksana yang bagus dari majalah Tempo. Hasilnya media "pembajak" tadi tidak mampu untuk menyaingi majalah Tempo. Alih-alih menyaingi majalah terbut malah gulung tikar. Oleh karena itu, value yang bagus didapat dari cara dan proses yang baik dengan niat yang baik pula.


 

Blue Bird Taxi dan Intangibles

Daratan pulau Dewata perlahan-lahan semakin jelas di bawah saya. keindahan lekukan pulau dan pantainya memang membuat saya selalu ingin kembali. Matahari jingga di ufuk barat menyorot badan saya membentuk bayangan panjang ketika saya menlangkahkan kaki saya menuju domestic arrival. Langkah santai saya tidak terganggu oleh barang bawaan yang berjibun sepeti penumpang lainnya karena saya hanya mebawa backpack berisi laptop, buku, majalah, t-shirt dan bermuda. Saya langsung berjalan segaris menyibak kerumunan para tukang taxi dan porter yang menawarkan jasa. Dengan langkah pasti saya berjalan kaki keluar dari gerbang airport.


 

Saya tidak pernah naik Taxi di dalam airport ketika di sini. Saya malas berdebat masalah harga dengan mereka. Saya lebih suka berjalan keluar dan menyetop Blue bird Taxi di luar bandara karena memang Taxi ini tidak menaikkan penumpang di dalam Ngurah Rai International Airport. Saya sekarang makin yakin untuk tetap menggunakan Blue Bird setelah membaca buku Myelin prof. rhenal Kasali tadi. Sopirnya sangat sopan dan ramah. Bahkan ada kisah perhiasan senilai 2 Milyar yang ketinggalan dalam taxi dikembalikan oleh supir Blue Bird taxi kepada penumpangnya selain sederet kisah kejujuran lainnya. Para sopir Blue Bird Taxi memang dididik untuk jujur dan professional dalam segala kondisi. Tak heran kalau mereka selalu menjadi Taxi terbaik yang selalu dipilih. Bahkan duta besar Amerika merekomendasikan semua karyawannya untuk menggunakan Blue Bird Taxi karena ia pernah mengalami kisah kejujuran dengan sopirnya.


 

Intagiblesnya "Indonesia Jenius"

Jalanan macet sepanjang Kuta membuat saya punya banyak waktu untuk mengobrol dengan pak Wayan sangsupir ramah yang membawa saya. dia berkisah bagaimana taxi-taxi pesaing semakin menjamur di Bali. Bukan hanya menjadi pesaing, mereka juga membajak brand "Bali Taxi" yang dipakai Blue Bird Group untuk Taxi mereka di Bali. Sekils memang tidak ada bedanya karena semua logo dan warna hampir sama persis.


 

Kemudia pikiran saya mulai membawa saya kepada usaha yang saya jalankan bersama para "pemimpi besar" yang sekarang semakin mendapatkan tempat. Kami mebawa visi besar untuk memajukan pendidikan dengan mimpi yang membuat sebagian orang menggeleng-gelengkan kepala dan mengerutkan dahi tanda pesimis. Kami menempatkan value dan human spirit diatas material profit. Itu karena kami yakin kami sedang mengambil bagian kami dalam membangun peradaban. Akan tetapi saya sangat yakin kami akan sampai di titik yang kami targetkan. Ini bukan hanya keyakinan dengan optimisme kosong.


 

Saya sangat terkejut ketika membaca buku New Wave Marketingnya Hermawan Kartajaya yang sangat mewakili sosok perusahaan kami. Padahal Mr. Yun, pendiri lembaga Sang Bintang School (nama lembaga pendidikan bahasa Inggris kami) belum membaca buku itu sebelumnya. Para kolega saya baru paham ketika saya berkesempatan untuk menyampaikan materi ini dalam pertemuan nasional kami 1 bulan yang lalu. Menurut Pak Hermawan Kartajaya, hanya perusahaan yang membawa nilai yang sejalan dengan human spirit yang akan bisa menjadi besar dan diterima dan dicintai konsumen. Konsumen sekarang semakin pintar. Mereka tidak lagi melihat barang bagus dan harga murah. Mereka mulai melibatkan emosi dan visi yang mereka bawa atau yang mereka setujui.


 

Saya juga mencoba tertatih memahami teori Z dalam manajemen. Dan lagi-lagi saya menemukan SBS di dalamnya. Kami bekerja dengan nilai-nilai kekeluargaan yang sangat kental dengan nilai profesionalisme yang tetap terjaga.


 

Semakin saya belajar, semakin saya cinta dengan pekerjaan saya. saya sangat yakin, keyakinan yang tidak bisa ditawar-tawar, bahwa kami akan menjadi sangat besar. Tentu saja selama semua personel mulai dari eksekutif sampai tim ujung tombak mau untuk terus belajar dan mengupgrade diri baik dari segi pengetahuan maupun skill. Kalau tidak, tidak menutup kemungkinan orang lain 'mencuri' mimpi itu dan bergerak lebih cepat daripada kita.


 

Berkenaan dengan membangun intangibles saya setuju dengan tulisan Pak Hermawan Kartajaya di buku Grow with Character. Beliau mengatakan, ada tiga hal yang harus dilakukan oleh seseorang apapun tugas dan jabatannya. Pertama, menguasai pekerjaan dan menyempurnakan pekerjaan masing-masing. Kedua, mempersiapkan diri untuk jabatan lebih tinggi dan menambah jabatan baru. Ketiga, menyiapkan pengganti untuk dirinya bila ia dipromosi kelak.


 

Matahari pagi di bali hari ini begitu hangat. Di Balok hotel saya semakin hanyut dalam bacaan saya. wangi lamat-lamat dari bunga kamboja yang sedang bermekaran yang mengitari kolam renang di bawah sana begitu membuat pikiran rileks.


 

Kuta, 28 Maret 2011.

Thursday, March 17, 2011

Dream Job# Take and Love it!


Apa pekerjaan impian anda?

Eksekutif perusahaan besar dengan kantor luas, mobil dinas, bawahan yang siap bergerak, jam meeting padat, supir yang siap menjemput dan bekerja from nine to five? Atau seorang businessman yang pagi di Jakarta, siang di Surabaya dan sore di Singapura? Atau yang lebih keren lagi, actor terkenal dengan nilai kontrak ratusan juta rupiah untuk satu film? Atau mungkin pemain sinetron kejar tayang dengan tuntutan menangis menye-menye sampai 12 season? Hehe…paling tidak pilihan pilihan pertama dan kedua pernah mampir di otak saya ketika kuliah dulu. Sekarang pun masih kadang-kadang.


 

Apapun pekerjaan impian kita, itu akan sangat menyenangkan kalau kita menikmati dan mencintainya. Apalagi kalau pekerjaan itu adalah hobby kita atau ada hubungan dengannya. Tanpa cinta passion tidak akan muncul apalagi nikmat. Yang ada pekerjaan itu akan menjadi beban yang menghantui.


 

Pekerjaan saya sekarang jauh dari apa yang ada di impian saya dulu. Saya tidak mempunyai kantor luas (tapi berniat memilikinya suatu saat), kendaraan pribadi dan jam kerja nine to five. Saya juga tidak harus setiap hari memakai kemeja konservatif, dasi, celana bahan dan sepatu pantofel mengkilat walaupun sering juga diantar dan dijemput setiap berangkat dan pulang kerja. Dengan mengesampingkan alasan kenyaman saya lebih suka memilih naik angkot. Tapi alasan lainnya sih karena saya tidak bisa menyetir. Sehingga pernah ada dua mobil di garasi nganggur dan saya kemana-mana naik angkot karena yang biasa menyupiri saya sedang tidak ada.


 

Banyak orang yang memimpikan mempunyai pekerjaan yang bisa membuatnya travel kemana-mana dan bertemu banyak orang. Saya mempunyai pekerjaan itu sekarang dan sangat menikmati travelling karena itu memang salah satu passion saya.


 

Ketika banyak orang pagi-pagi sudah rush ke tempat kerja masing-masing, saya biasanya sedang menikmati rutinitas pekerjaan saya. kalau saya tidak tidur lagi setelah rutinitas subuh biasanya saya membaca dan menonton berita pagi. Kemudian saya akan menyambar sepatu olahraga saya dan segera menggerak-gerakkan badan kemudian siap untuk jogging. Rasanya aneh juga jogging pagi-pagi ketika kebanyakan orang sudah berpakaian rapid an terburu-buru berangkat bekerja. Saya merasa seperti melawan arus. Kalau di tempat saya sekarang, saya biasanya berlari menyusuri pantai kemudian melakukan pelemasan sambil memandang laut. Setelah puas berimajinasi di pinggir pantai saya akan pulang untuk sarapan. Sarapan saya simple. Saya akan ke warung tenda di ujung jalan yang menyediakan bubur kacang hijau campur kolak dan ketan hitam kesuakaan saya. satu mangkuk bubur campur dan dua buah pancake khas Padang (mereka menyebutnya panekuik), cukup memberi saya energy di pagi hari. Saya akan menghabiskan sarapan saya berlama-lama sambil memperhatikan orang-orang di sekeliling saya. sok-sok menjadi observer.

Jam 9 an saya kembali ke rumah dan mandi. Kalau sempat luluran dulu dengan lulur kopi dan lavender yang baru saya beli. Banyak yang protes karena mandi saya lama. Saya memang berniat mandi lama karena selain kadang harus luluran, ide-ide saya banyak muncul ketika saya di kamar mandi. Biasanya saya akan langsung berimajinasi dan berencana yang hebat-hebat dengan ide saya itu. Saya memang seorang pemimpi.


 

Ketika orang lain mungkin sedang hectic dengan pekerjaan mereka di dengan file-file yang menumpuk di depan mereka,saya juga mulai membuka laptop saya dan mulai bekerja sesuai dengan rencana dan target kerja yang saya buat semalam sebelum tidur.Efek dari tidak mempunyai atasan yang terlibat langsung dengan pekerjaan saya, saya harus mengatur semua jadwal kerja saya seefektif mungkin. Oleh karena itu saya bisa sangat-sangat sibuk sampai tidak mau ditelepon kecuali oleh ibu saya atau sama sekali tidak mempunyai deadline pekerjaan selama satu hari. Kalau memang tidak ada yang dikerjakan, saya hanya akan membaca dan surfing di dunia maya. Kalau sedang bosan di rumah, saya akan memboyong laptop dan file-file pekerjaan saya ke kafe favorit saya dan bekerja di sana.


 

Kadang-kadang saya juga harus ke kantor dengan pakaian rapi jali ala eksekutif muda. Kadang-kadang saya cukup ngantor dengan jeans dan t-shirt atau lebih banyak T-shirt dengan bermuda alias celana pendek sebetis. Seperti sekarang misalnya, saya kadang-kadang harus ke kantor dengan kemeja dan dasi rapi untuk meeting. Tapi setelah meeting selesai saya akan pulang kalau tidak ada lagi yang harus dikerjakan di kantor.


 

Ketika sore beranjak, barulah saya 'benar-benar bekerja' formal seperti yang lainnya. Saya harus masuk ke kelas untuk mengajar selama 2'5-3 jam atau dua kali dari itu kalau saya harus menghandle dua kelas. Kalau ada peserta training yang masih berkonsultasi dan kadang-kadang hanya sekedar mengobrol, saya kadang-kdang harus pulang jam sebelas malam karena melayani mereka. Saya sangat bahagia bisa menjadi kepercayaan mereka untuk member mereka suntikan motivasi atau memecahkan permasalahan belajar mereka.


 

Terkadang saya juga dilanda mellow, down dan sejenisnya. Akan tetapi ketika saya bertemu kembali dengan peserta training saya, semua down, kesedihan dan saudara-saudaranya menguap bitelan keceriaan dan semangat peserta training saya.


 

Efek dari "tidak mempunyai kantor " membuat saya harus pandai-pandai membuat strategi ketika harus mengadakan pelatihan, upgrading atau meeting buat tim saya. terkadang saya mengadakan training buat mereka di kafe atau outdoor sekalian. Saya pernah mentraining tim kerja baru saya di pinggri pantai sore-sore. Menurut saya itu sangat menyenangkan. Tim mendapat training, pikiran segar. Tapi terkadang saya juga harus menyewa tempat ketika saya butuh tempat yang agak luas untuk tim saya.


 

Menurut saya, semakin lama pekerjaan bisa dilakukan di mana saja. Kemajuan teknologi membuat kita tidak harus selalu duduk di belakang meja. Dalam pekerjaan saya misalnya, saya harus berkomunikasi dengan tim yang tidak berinteraksi langsung dengan saya via internet atau telepon. Akan tetapi memang perlu kemampuan manajerial yang cukup karena semua jadwal dan pergerakan tim diatur sendiri. Bebeda dengan pekerja kantoran yang sudah punya alokasi waktu dari jam sekian sampai jam sekian. Nine to five. Saking besarnya authority saya terhadap pekerjaan saya, saya bahkan bisa membuat sendiri liburan saya kapan. Nah, saya punya rencana untuk memanage pekerjaan tim saya dari rumah saya di desa lereng gunung di Bima sana suatu saat, tim saya di Padang dan saya di lereng gunung di Bima.


 

Bagaimana dengan pekerjaan anda? Do you enjoy it?


 


 

Sunday, January 30, 2011

Prepare More!; Puding, Sendok, Mbak Bunga Citra Lestari dan Colokan

Saya sangat surprised ketika menemukan pudding kesukaan saya tersedia di warung kecil yang akhirnya saya temukan ketika berjalan keluar mencari angin di sesi-sesi pelatihan untuk krew baru kantor kami. Di kota lain. Di kota lain, untuk menemukan puding biasanya saya harus ke supermarket besar atau toko kue. Akan tetapi di kota kecil ini, puding bisa ditemukan di warung-warung kecil di banyak tempat.


 

Oke, saya tidak sedangbercerita tentang puding. Saya hanya mau bilang kalau saya sangat suka puding sehingga kalau suatu saat anda ingin memberi saya hadiah makanan berikan saja saya puding dengan aneka rasa. Yang ingin saya ceritakan adalah ketika saya nongrong di warung kecil sebesar lemari baju saya itu, yang memesan puding bukan hanya saya saja. Teman saya juga memesan makanan yang sama. Permasalahannya adalah, sendok yang tersedia untuk memakan puding itu cuma dua. Kedua-duanya terpakai oleh teman saya yang juga memesan puding dan teman saya yang satu lagi. Saya yang sudah tidak bisa menahan air liur saya terpaksa menahan dongkol karena tidak bias makan puding karena sendoknya tidak cukup.


 

Oke, itu terjadi di warung kecil yang pemiliknya mungkin tidak punya visi untuk membuat usahanya menjadi besar. Akan tetapi, saya juga menemukan hal sama dengan kasus yang berbeda di sebuah kafe yang memasang fotonya mbak Bunga Citra Lestari dan beberapa artis lain ketika berada di kafe itu. Maksudnya, pemilik kafe itu mau bilang kalau kafenya pernah didatangi artis-artis terkenal gitu. Dalam bahasa yang lebih singkat mereka mau bilang; kafe kita keren loh, artis aja pernah datang ke sini.


 

Di kafe itu kasusnya begini. Saya dan teman-teman saya sepakat mengerjakan deadline pekerjaan kantor di kafe karena sudah terlalu sumpek melihat suasana kantor yang begitu-begitu saja. Niat itu sedikit terhambat karena di kafe itu tidak tersedia colokan (apa ya, bahasa kerennya?) listrik yang cukup untuk tiga orang. Sebenarnya itu bisa disiasati dengan memakai kabel rol yang mempunyai banyak stekker. Tapi niat itu juga tidak bisa diwujudkan karena waiter maupun teknisinya bilang mereka tidak mempunyai persediaan itu. Mereka juga terkesan cuek dan tidak mencoba memberikan solusi. Atau paling tidak minta maaf atau berikanlah saya ini senyum lima jari biar saya nggak dongkol.


 

Dari dua kejadian di atas, saya mengambil kesipulan bahwa banyak orang yang tidak siap untuk menjadi besar. Mereka tidak punya visi untuk menjadi besar. Sang tukang warung mungkin tidak pernah membayangkan bahwa warungnya akan dikunjungi lebih dari dua orang. Oleh karena itu dia hanya menyiapkan dua sendok karena mungkin itulah jumlah maksimal warungnya pada saat yang bersamaan. Kalau dia punya visi untuk mempunyai warung yang besar dan ramai pengunjung, dia pasti akan menyiapkan sendok yang banyak untuk mengantisipasi pengunjung tersebut. Sementara si coffee shop yang memasang gambar mbak Bunga Citra Lestari dengan harapan agar coffee shopnya dianggap keren itu juga sama. Pengelolanya tidak punya visi untuk membuat coffee shopnya besar karena dia tidak siap untuk melayani kebutuhan pelanggan yang banyak dan bermacam-macam maunya. Itu baru kebutuhan yang simple dan sangat mudah terpikirkan oleh semua orang loh. Bagaimana kalau pelanggannya butuh sesuatu yang lebih complicated dan itu wajar? Rupanya ia hanya dimenangkan oleh lokasinya yang ada di dalam mal yang ramai pengunjung. Dan dia mendapat limpahan dari pengunjung mal itu.


 

Apapun pekerjaan dan usaha anda, sebaiknya sisipkan visi besar dalam pekerjaan dan usaha itu. Kemudian persiapkanlah kemungkinan-kemungkinan untuk visi tersebut. Kalau tidak, pelanggan yang anda harapkan tidak akan dating lagi ke tempat anda karena mereka terlanjur kecewa.


 


 


 


 

Saturday, January 29, 2011

It’s an Encouragement! (Karena Kita Sedang Membangun Karakter)

Saya menyelesaikan semua rangkaian pendidikannya tanpa hambatan berarti. Dukungan penuh orang tua saya membuat saya menyelesaikan pendidikan SD-S1 dengan lancar. Bahkan bisa dibilang bertabur bintang. Juara 1 kelas tidak pernah saya lepas dari tangan saya sejak SD-SMP. Ketika di SMA pun walaupun tertatih saya lulus dengan genggaman juara 1 di tangan. Memasuki bangku kuliah, saya tidak mencetak angka-angka tadi karena di kampus tidak ada laporan yang menyebutkan anda juara atau tidak. Saya tidak merasakan suasana kompetisinya, jadi saya tenang-tenang saja. Di kampus saya (waktu saya kuliah) tidak ada sebuah pengumuman yang menginformasikan siapa yang mendapatkan nilai terbaik (IP tertinggi di akhir semester). Jadi, kalau anda mendapatkan nilai rendah, anda tidak akan merasa terisntimidasi dan terlena dengan nilai anda. Bahkan saya pernah mendapatkan nilai yang amat buruk (dibandingkan dengan nilai anak-anak dig geng saya yang bertabur A). Akan tetapi saya selalu punya motivator ulung; ibu saya. Ibu saya tidak pernah mengomeli saya karena nilai saya buruk. Beliau malah memotivasi dan menambahkan tawaran uang jajan agar saya bias belajar lebih tenang.


 

Sampai akhirnya saya mulai khawatir karena harus menulis skripsi sedangan saya sama sekali tidak menguasai apa yang telah saya pelajari selama bersemester-semester di kampus. Kondisi ini membangunkan saya dari kecuekan saya terhadap kuliah. Saya mulai membaca buku-buku yang berkaitan dengan disiplin ilmu saya dan mencoba membuat fokus untuk saya jadikan skripsi saya. Saya cukup serius membaca buku-buku itu. Saya mulai merasakan nikmatnya berlama-lama membaca di perpustakaan dan membuat note-note kecil untuk bahan skripsi. Dasar saya orangnya dreamy, saya mulai membanding-bandingkan. Mungkin seperti ini nikmatnya belajar ala anak-anak Harvard atau Leiden itu. Pada waktu itu saya benar-benar cinta sama yang namanya perpustakaan dan menulis skripsi.


 

Ketika akan menghadapi sidang akhir skripsi untuk menentukan kelulusan, saya sedikit was-was juga. Pasalnya dari cerita teman-teman saya yang sudah melewati tahap ini, sidang ini adalah semacam pembantaian oleh para dosen penguji yang membuat kebanyakan mahasiswa harus berkeringat dingin bahkan yang mentalnya lemah, menangis. Tapi pada waktu itu saya malah tidak pernah mempersiapkan khusus untuk mendalami materi dalam rangka menghadapi 'pembantaian'. Yang saya lakukan untuk persiapan malah tidak ada hubungannya sama sekali dengan materi skripsi saya. Malam sebelum ujian skripsi saya malah sibuk mutar-mutar di mal mencari outfit yang keren untuk saya pakai pada ujian skripsi saya. Saya juga sibuk diskusi sama mbak-mbak pramuniaga yang jaga outlet parfum tentang aroma parfum apa yang cocok untuk saya. Saya hanya ingin memanjakan diri saya setelah bekerja keras dengan skripsi. Saya ingin menciptakan suasana relaks yang membuat saya juga relaks menjawab pertanyaan-pertanyaan untuk mempertanggungjawabkan apa yang saya tulis di skripsi saya. Saya sangat percaya bahwa 5 menit pertama orang akan melihat pada penampilan kita. Saya mencoba membuat kesan pertama yang baik di hadapan dosen saya besok dengan mempersiapkan penampilan terbaik. Saya malah melanggar pakem berkemeja putih dibawah jas dengan memakai kemeja merah marun yang menurut saya lebih keren daripada kemeja putih yang membosankan karena dipakai oleh setiap mahasiswa.


 

Keesokan harinya saya memasuki ruang sidang skripsi dengan agak was-was walaupun sudah mempersiapkan penampilan yang keren. Apa yang diceritakan oleh teman-teman saya tentang ujian skripsi yang mengerikan itu tidak terbukti sama sekali. Saya malah seperti sedang bercakap-cakap dengan dosen penguji mereka. Hangat dan bersahabat. Saya malah sempat berdiskusi tentang masa depan saya dengan mereka. Mereka malah memotivasi saya.


 

Belakangan ketika pekerjaan saya berhubungan dengan dunia pendidikan, saya menemukan kata kunci tentang kenapa prestasi saya gemilang pada saat SD-SMA dan saya sangat menikmati belajar ketika di akhir-akhir kuliah. Satu kata singkat; Encouragement.


 

Encouragement; Karena Kita Sedang Membangun Karakter

Saya menemukan simpul kata ini ketika saya membaca artikel tulisan Prof. Rhenald Kasali dengan judul yang sama seperti kata pertama sub judul tulisan ini; Encouragement. Artikel itu bercerita tentang pengalaman beliau dengan guru anaknya di Amerika. Pengalaman yang menggambarkan betapa jauhnya cara mendidik guru-guru di sana dengan kebanyakan cara guru-guru di negeri kita.


 

Ketika saya sedang memberi training atau mendampingi trainer magang di tempat saya bekerja, saya selalu mengingatkan mereka untuk berhati-hati memberikan nilai dan mengoreksi pekerjaan siswa. Mereka kadang protes, mengapa saya memberikan nilai B untuk hasil tulisan siswa jelek dan tidak jelas apa tema dan maksudnya.


 

Di dalam kelas kami, nilai bukanlah punishment, kami memfungsikan nilai sebagai encouragement. Nilai bagi kami harus bias memotivasi siswa untuk berbuat lebih. Standar nilai yang kami berikan bukan semata-mata berdasarkan hasil pekerjaan siswa tersebut. Kami sangat menghargai proses dan perbedaan individu. Fatih yang belajar dengan start up 1 misalnya, ketika bisa melaju ke standar 4, itu progress yang bagus. Sedangkan Patrick yang nilai start upnya 5 dan melaju ke ke angka 6, itu bukan progress yang bagus. Yang mempunyai nilai yang lebih tinggi adalah siswa yang strat up nya 1 dan melaju ke angka 4. Nilai bagus yang diberikan kepada Fatih adalah encouragement. Biasanya di bawah nilai itu kami berikan komentar dan pujian atau kata-kata motivasi yang mendorong siswa untuk terus meningkatkan prestasi mereka.


 

Di kelas kami, pada sessi akhir kelas, siswa diminta untuk membuat sebuah karangan dengan bahasa Inggris setiap harinya. Biasanya, siswa akan bersemangat untuk menulis lebih banyak lagi karangan setelah melihat nilai dan kata-kata motivasi di atas hasil karangan mereka. Ketika melihat lagi hasil tulisan selanjutnya di buku karangan mereka keesokan harinya, mereka semakin termotifasi untuk menulis lebih baik ketika mendapatkan nilai yang lebih baik. Pada akhirnya, buku hasil tulisan itu akan menjadi permainan 'lempar –tangkap' motivasi antara guru dan murid maupun trainer dan trainee.


 

Encouragement ini tidak hanya ampuh buat anak-anak. Kebanyakan peserta training saya adalah guru-guru dengan usia 20-56 tahun. Pada awalnya saya sendiri kaget ketika mendapati kaum 'senior' tersebut begitu bersemangat. Semangat yang menghilangkan keluhan-keluhan mereka tentang kemampuan belajar dan daya ingat yang menurut mereka semakin menurun karena mereka sudah tua.


 

Siapa pun orangnya, mereka akan senang dan termotifasi ketika hasil pekerjaannya dihargai. Contoh yang lain adalah dalam dunia kerja. Tak bia dipungkiri, staf yang mendapat penghargaan dari atasannya baik itu berupa pujian ataupun reward dalam bentuk materi akan semakin termotifasi untuk berprestasi.


 

Kalau anda seorang pendidik, guru, trainer, boss atau atasan, sudahkah anda memberikan encouragement kepada murid dan bawahan anda? Atau jangan-jangan kita 'membunuh' karakter mereka dengan memberikan nilai punishment? Kita tidak sedang menghasilkan generasi yang bernilai bagus saja, tapi yang paling penting adalah menghasilkan generasi yang berkarakter unggul, karakter yang kompetitif dan penuh motifasi. Kebanyakan karakter positif didapat dari imput yang positif juga.