Showing posts with label Cerita Jogja. Show all posts
Showing posts with label Cerita Jogja. Show all posts

Saturday, November 1, 2014

Cerita Jogja; Mari, Ngopi Bareng saya di Lagani



Jarum jam baru menunjukkan angka 9, tetapi  hari sudah panas menyengat di Jogja. Persawahan dan kebun tebu di belakang rumah saya hanya menyajikan warna cokelat tanah retak dan rumput kering. Kemarau berkepanjangan membuat tanah-tanah kering mencipta debu yang diterbangkan angin. Salah satu alasan untuk malas beraktifitas di luar. Meja tulis saya yang menghadap dinding  yang seluruh bagian atas dindingnya adalah deretan empat jendela yang member saya akses pemandangan ke arah taman kecil yang tanamannnya tetap bertahan hanya karena saya sering menyeprotnya langsung dengan shower dari kamar mandi  setiap saya mandi pagi atau sore sangat nyaman untuk tempat mengerjakan tesis sebenarnya. Saya tinggal membuka pintu di samping meja dan pemandangan ke teras belakang yang penuh tanaman tersaji. Akan tetapi saya sedang tidak ingin berada di rumah dan mengerjakan thesis  di rumah hari ini. Godaan untuk turun ke dapur memasak ini itu terlalu beresiko. Saya akan pergi ke Lagani, kedai kopi favorit saya di Jogja.

Tetangga yang tinggal di Apartemen di lantai bawah sana bertambah satu orang, pemuda Rumania berpostur jangkung dan langsing, dan sangat tampan tetapi pacarnya, gadis Indonesia ala-ala itu berbetis buesar, kebalikan dari cowok Rumania yang berpostur langsing dan cool itu.. Sejak saya kembali dari Jakarta, mereka belum pernah berpesta yang selalu membuat gaduh sampai pagi lagi. Tapi Keponakan saya yang menginap di rumah ketika saya pergi ke Jakarta bercerita bahwa mereka pernah membuat pesta yang sangat gaduh sehingga membuat keponakan saya tidak bisa tidur sampai pagi. Dan tentu saja keponakan saya itu tidak berani menggedor pintu mereka dan meminta mereka untuk tidak gaduh seperti yang biasa saya lakukan. 


Oke, saya tidak akan bercerita tentang tetangga saya itu pada postingan ini. Saya akan bercerita tentang sebuah sudut di Jogja yang menjadi tempat favorit saya untuk sekedar menyendiri dengan bacaan, mengerjakan paper, bertemu teman-teman, meeting point buat bertemu teman baru dan sekarang tempat saya menulis tesis kalau saya ingin suasana baru. Kalau saya tidak sempat ngopi di rumah, saya juga datang ke sini untuk mengisi tumbler kopi saya dan membawanya ke kampus. Saya juga berusaha untuk membawa teman yang datang dari luar Jogja untuk menikmati secangkir kopi di sini.  Kadang-kadang saya hanya datang sendiri tanpa alasan-alasan  tadi dan duduk sendiri di kursi di balkon hanya untuk melihat orang yang lalu lalang di depan coffee shop, profiling satu-satu pengunjung coffee shop yang kebanyakan adalah mahasiswa asing baik yang sedang belajar di kampus-kampus di Jogja ataupun yang sedang belajar bahasa Indonesia di sekolah bahasa yang bertebaran di area ini.

Lagani, nama coffee shop ini begitu tenar di kalangan anak-anak muda Jogja terutama di kalangan komunitas kreatif muda dan para pencinta kopi. Berjarak satu blok dari Lagani tempat saya menulis ini, masih di jalan yang sama  ke arah barat anda akan mendapati Lagani yang lain, sebuah coffee shop masih dalam payung manajemen yang sama. Bangunan kedua-duanya sama-sama menyatu dengan distro dengan brand yang ekslusif, handicraft & fashion accessories shop dan tentu saja semuanya produk Indonesia.

Dalam postingan ini saya akan bercerita tentang satu lagani dulu, lagani yang tidak hanya menyajikan kopi tapi juga makanan berat seperti pasta, pizza dan berbagai menu ayam, makanya namanya lebih dikenal dengan Pasta Lagani . Dan menu favorit saya adalah menu sarapan tentu saja. Saya selalu menyukai sarapan, it’s my favourite meal time. Dengan harga yang sangat murah, saya sudah bisa mendapatkan satu menu sarapan dengan pilihan salah satu racikan kopi; cappuccino, Americano atau Coffee au lait.  Menurut pengamatan saya pengunjung biasanya datang untuk kopi dulu dan duduk berlama-lama sibuk di depan laptop atau membaca, atau  seru mengobrol dengan teman-teman. Baru kemudian ketika mereka lapar, mereka memesan makanan berat.  Sepertinya alasan utama datang ke sini adalah kopi dan ambience.  Perpaduan berbagai macam ras, buku-buku tebal, aroma kopi, percakapan dengan berbagai bahasa yang sahut menyahut membuat saya betah berlama-lama di sini. Kalau anda adalah orang yang merasa bahwa a man with book is sexy, anda akan orgasm di sini.

Pertama kali menemukan bangunan coffee shop ini saya langsung suka. Kursi-kursi berwarna hijau mengelilingi  meja putih bundar di teras depan yang terbuat dari kayu yang tidak dicat menggoda saya untuk mampir. Vas bunga  yang terbuat dari botol bening di atas tiap meja memberikan efek manis. Untuk sampai ke coffee shop, anda harus melewati tangga kayu yang akan membawa anda ke teras lantai dua.  Begitu saya membuka pintu kaca geser, saya langsung mendapati sebuah meja bar dari kayu bercat biru yang terkesan rustic di samping pintu . Salah satu dining dicat putih seperti hanya dikapur dengan bata yang tidak diplester dengan gambar tangan biji-biji kopi, rempah yang diselang-selingi dengn kata-kata positif.  Sebelah didnding yang lain dibuat dari jendela-jendela bekas dengan cat biru, putih dan tanpa kayu memberikan kesan retro sekaligus rusty. Ada beberapa mural yang mencolok di tembok  rungan yang lain yang dipisahkan oleh ruangan dengan sekat kayu dan kaca dengan pintu kaca. Rungan ini hanya diisi oleh satu meja panjang dengan delapan kursi dengan karpet yang mengalasi lantai. Mirip dengan sebuah dining room di rumah sendiri.

Sementara di ruangan besar berbentuk huruf L tempat bar berada terdapat sebuah tembok dengan  lemari kayu berkaca yang menempel di sepanjang sisi tembok. Lemari  tersebut diisi oleh barang-barang dari masa lampau seperti kamera LSR manual antik, mesin ketik tua, permainan-permain kartu lama, radio tua dan barang-barang lawas lainnya. Ada sebuah pemutar piringanhitam di atas meja.   Desain meja-meja di dalam ruangan in itidak seragam. Kursi-kursi yang mengelilingi meja di setiap ujung ruangan berbentuk peti kayu yang tidak dicat dengan sofa di sebelah yang lain. Meja lainnya adalah meja kayu seperti meja tua di rumah kakek di desa. Lantainya pun terbuat dari tegel kayu berwarna cokelat dan krem.


Memasuki pintu kaca itu setiap berkunjung ke sini, saya selalu mendapatkan sapaan hangat barista yang berada di meja bar di belakang mesin kopi.
“Sendirian aja Mas?
“Habis dari mana Mas?
“Cappucinno panas ya?
“Rapi banget Mas? Ngedate ya?
“Temannya yang kemarin mana Mas?. Katanya sambil tersenyum.
Nah, kalau dua pertanyaan terakhir ini sudah menjurus kea rah kepo deh. Mungkin mereka kepo karena saya selalu membawa teman baru dengan perwakilan etnis dari berbagai belahan dunia ke sini dan  mengobrol berjam-jam dengan pesanan kopi berulang-ulang. Bisa jadi mereka mengira-ngira, apa hubungan saya dengan orang-orang tersebut. Bisa jadi.


Dengan kopi yang digiling langsung dari biji kopi di situ, sajian kopi yang anda dapatkan benar-benar fresh from the bean. Masalah rasa, mereka sudah terbukti dengan beberapa kali memenangkan kompetisi barista tingkat nasional yang memilih peracik kopi terenak dari seluruh pelosok nusantara. Kopi yang enak, barista yang ramah berpadu dengan suasana yang homey membuat pelanggan selalu kembali. Mereka benar-benar memberikan personal touch dalam menyajikan kopi.

Jogja adalah syurga bagi para pencinta kopi. memang kota ini tidak mempunyai perkebunan kopi, tapi berbagai jenis kopi nusantara maupun belahan dunia lain bermuara dalam cangkir-cangkir kopi hasil racikan para barista andal dapat anda nikmati di ratusan coffee shop yang bertebaran di kota ini. Buat saya, kalau anda menginginkan kopi enak, lupakanlah kedai kopi jaringan internasional maupun nasional itu. Cobalah untuk memasuki kedai kopi di yang bertebaran di antara pemukiman, di dekat kampus atau di area food street seperti Prawirotaman atau Tirtodipuran. Berkaitan dengan kopi dan kafe, satu hal yang membuat Jogjakarta sangat berbeda dengan kota lain  adalah anda akan menemukan coffee shop ketika berjalan-jalan di mana saja, coffee shop tidak melulu berdiri di business area atau eating street. You’ll find your favourite coffee shop in a simple neighbourhood. Dan kebanyakan dari coffee shop ini bukan tempat nongkrong massal. Sepertinya, pencinta kopi mempunyai kedai kopi favorit masing-masing, dan kedai kopi favorit saya adalah Lagani ini. Ini bukan sekedar kopi yang enak, tapi juga ambience dan sedikit flirting. Lihatlah senyum di meja seberang sana. Itu saja sudah cukup menjadi oase buat panasnya Jogja hari ini.



Saturday, November 9, 2013

#Cerita Jogja: Merubah Rutinitas; Obat Anti Malas dan Bosan

Bosan dan malas menjadi hal yang paling menyebalkan ketika sedabg dihadapkan dengan tumpukan deadline pekerjaan maupun tugas kuliah. Pekerjaan dan aktifitas yang dilakukan sehari-hari bisa menjadi jebakan rutinitas yang menyebabkan bosan, malas dan tidak kreatif. Hal inilah yang melanda saya beberapa hari sebelumnya. Saking malasnya, saya sampai malas untuk ngegym, malas hanya untuk pindah dari tempat duduk ke sofa yang lebih nyaman pada saat menonton televise, malas buat mengambil minuman di kulkas padahal jaraknya hanya beberapa langkah, malas melakukan rutinitas cuci muka sebelum tidur dan tentu saja malas menyentuh paper-paper yang dalam hitungan hari akan menghadapi deadline.

Setelah saya berpikir, saya berada di titik jenuh dari semua aktifitas saya. Setelah merenungkan semua rutinitas yang telah saya lalui, saya mendapat ide untuk merubah waktu aktifitas yang bisa saya kendalikan seperti ngegym. Saya merubah waktu ngegym dan berenang di pagi hari sebelum memulai aktifitas yang lain. Konsekuensinya saya harus membiasakan diri untuk tidur lebih awal agar tidak tidur lagi setelah subuh seperti biasanya. Ternyata beraktifitas di tengah  suasana pagi sebelum matahari bersinar terik sangat menyenangkan. Pagi-pagi buta saya sudah mulai membuat sarapan dan kopi kemudian membaca sedikit dan berangkat ke gym setelahnya.

Di gym pagi-pagi seperti itu ternyata sudah sangat ramai. Kebanyakan adalah para pekerja yang ngegym sebelum jam kerja. Berenang pagi-pagi menjadi sangat menyenangkan karena kolam renang seringkali hanya berisi saya. Serasa mempunyai kolam renang pribadi. Saya juga banyak bertemu orang  baru di gym yang tidak saya lihat sebelumnya karena saya biasanya ngegym di sore atau malam hari. Saya jadi tahu kalau mbak-mbak model berkulit eksotis itu ternyata ngegym di situ juga. Saya bertemu bapak-bapak dengan kacamata keren dengan gym bag super gede yang dipenuhi toiletries bermacam-macam. Dan dia selalu ditunggui oleh supirnya. Sepertinya bapak-bapak eksekutif. Tapi satu hal yang membuat saya penasaran, pejabat-pejabat kampus saya ngegym di mana ya? Or mereka tidak ngegym makannya gendut-gendut? Ada banyak sih anak kampus saya yang ngegym di sini, tapi semuanya anak kedokteran yang ke gym pun membawa diktat kuliah yang mereka baca sambil latihan kardio di treadmill.

Hasil dari merubah rutinitas tersebut, cukup memberikan perubahan yang signikan. Paper perlahan tapi pasti mulai terselesaikan karena saya ternyata lebih produktif di pagi, sore dan malam hari. Biasanya malam hari saya mudah tepar karena sehabis ngegym sore atau malam, saya sangat gampang untuk jatuh tertidur.


Mumpung sedang sendiri, saya berencana untuk merubah kebiasaaan sarapan saya dengan safari sarapan ke beberapa kafe yang tersebar di Jogjakarta. Rasanya pasti menyenangkan membaca atau mengerjakan paper sambil menikmati latte di salah satu kafe yang ada. 

Wednesday, November 6, 2013

Sit-in Class dan Student Mobilization; Unek-Unek Seorang Mahasiswa

Salah satu hal yang membuat peradaban manusia terus berkembang adalah karena adanya mobilisasi manusia baik itu antar kota, antar negara maupun antar benua. Mobilisasi ini kemudian menghasilkan interaksi, interaksi menghasilkan komunikasi dan pertukaran ide dan pada akhirnya mengarah kepada kerjasama.  Bayangkan ketika seandainya dulu Vasco da Gama tidak melakukan perjalanan dengan tim ekspedisinya (mobilization), maka belum tentu peradaban sebesar Amerika sekarang belum tentu ada. Negara ini pun kalau tidak ada mobilisasi orang-orangnya untuk mempelajari kelebihan peradaban negara lain yang lebih maju ataupun juga mengambil pelajaran dari negara yang terbelakang agar tidak melakukan kesalahan seperti negara tersebut, belum tentu Indonesia bisa berada pada posisinya yang sekarang ini.

Pergerakan ekonomi dan politik global membuat mobilisasi antar garis batas teritori semakin mudah dilakukan. Bahkan mobilisasi manusia tersebut menghasilkan kerjasama yang luar biasa seperti yang dilakukan oleh negara-negara Eropa yang membentuk Uni Eropa dimana bukan hanya mobilisasi antar negara yang semakin mudah tetapi juga kerjasama yang semakin tanpa batas. Bahkan mereka kemudian terhubung secara moneter dengan memakai satu mata uang tunggal yakni Euro. Secara regional Asia, kita pun akan menghadapi Asian community 2015 yang akan memberlakukan free transfers on goods and people.  Ada tiga kata kunci yang akan menjadi bahan cerita saya kali ini yaitu Mobilization, connectivity dan Cooperation.

Semua hal di atas tentu saja membutuhkan modal yang besar bukan hanya modal dalam arti sempit yang berupa uang tetapi terlebih mencakump modal manusia dan modal kebijakan. Modal manusia membutuhkan orang-orang yang berpikiran terbuka, melihat dengan perspective opportunity, dan bermental pembelajar. Ketika orang-orang mempunyai karakteristik tersebut mereka tidak akan menjadi orang yang takut dengan perubahan dan mencurigai hal-hal baru sebagai ancaman. Modal kebijakan menurut saya adalah kebijakan yang mengakomodir peluang, fleksibel dan deliberatif. Karakteristik kebijakan yang seperti ini akan menghasilkan peraturan yang tidak mengekang ide-ide baru dan menghalangi pergerakan perubahan.

Semester ini saya berniat mengambil SKS yang tidak terlalu banyak di program Master tempat saya belajar karena saya ingin mengikuti beberapa mata kuliah yang menurut saya sangat saya butuhkan untuk kompetensi saya ke depannya. Untuk itu saya berencana melakukan sit-in yaitu mengambil beberapa mata kuliah di program lain. Saya berniat mengikuti perkuliahan di program lain untuk kompetensi tersebut. Mata kuliah pertama yang ingin saya ikuti adalah Methodologi Penelitian, Analisis Kebijakan Publik dan konsep dan Isu Pembangunan. Mata kuliah yang saya inginkan tersebut tersebar di dua program Master berbeda di dua Fakultas yang berbeda pula. Untuk mata kuliah metodologi penelitian, saya beruntung saya bisa langsung bertemu dengan dosennya pada saat makan siang di kantin. Beliau sangat senang ketika saya mengutarakan keinginan saya untuk sit-in di kelasnya. Segera setelahnya saya bertemu dengan dengan pengelola program Master tempat dosen tersebut mengajar untuk membicarakan prosedur sit-in di program tersebut. Awalnya jawaban yang saya dapatkan adalah bahwa mahasiswa program studi lain bisa melakukan sit-in class di program tersebut dengan persetujuan pengelola. Saya segera menanyakan bagaimana prosedur untuk mendapatkan persetujuan yang menurut saya wajar karena ini hal formal. Akan tetapi pada akhirnya saya sangat kecewa karena setelah lama menunggu, jawaban yang saya perolah adalah bahwa saya tidak diperkenankan untuk melakukan sit-in di program tersebut dengan alasan bahwa sit-in hanya diperbolehkan bagi mahasiswa fakultas tersebut saja.

Saya akhirnya menuju ke Master Administrasi Publik yang mempunyai program master Kebijakan Publik. Sampai di sana, saya diterima dengan sangat ramah oleh bagian akademik yang mendengarkan pemaparan tentang rencana dan keinginan saya. Dia memang tidak memberikan keputusan saat itu karena ia harus membicarakan dengan pengelola program dan berjanji akan menghubungi saya secepatnya.

Benar saja, saya tidak perlu menunggu keesokan harinya untuk mendapatkan keputusan dari pengelola program Master Kebijakan Publik. Bagian akademik menghubungi saya sore itu ketika jam kantor hampir usai. Mereka menerima saya sebagai mahasiswa sit-in dengan beberapa ketentuan procedural. Ib ukepala bagian akademik malah mengatakan salut dengan usaha saya untuk self educating memenuhi pendidikan saya yang tidak bisa disediakan sepenuhnya oleh program master tempat saya belajar. Saya sangat terkesan dengan respon, keterbukaan dan keramahan mereka.

Menurut saya, fleksibilitas untuk bermobilisasi antar jurusan bahkan antar universitas sangat diperlukadengan alasan-alasan sebagai berikut . Pertama, dengan mempunyai mekanisme mobilisasi sebuah universitas memberikan kesempatan kepada mahasiswanya untuk belajar bidang yang di luar dari fokus bidangnya. Hal ini juga bisa membantu mahasiswa memilih untuk mengikuti mata kuliah tertentu yang sama dengan mata kuliah yang ada di jurusannya tapi dengan dosen pengampu yang berbeda yang lebih sesuai dengan pilihannya. Hal ini juga menjadi pilihan bagi mahasiswa yang mengulang mata kuliah tertentu tanpa harus menunggu beberapa semester sampai mata kuliah itu dipasarkan di jurusannya. Kedua, sistem mobilisasi seperti ini ketika diterapkan antar universitas bisa menciptakan kesetaraan dalam hal akses (equity access) terhadap kualitas pendidikan yang baik terhadap mahasiswa di Nusantara ini. Bayangkan berapa besar efek yang didapatkan oleh seorang mahasiswa Kebijakan Publik yang belajar di Universitas Nusa Cendana dengan mendapatkan kesempatan untuk mobilisasi satu semester di jurusan yang sama di Universitas Indonesia misalnya. Saya yakin dia akan mendapatkan pengalaman yang berbeda, cara pandang yang berbeda dan mungkin motivasi karena academic atmosphere dan kualitas perkuliahan yang dia dapatkan jauh lebih bagus daripada yang dia dapatkan di Universitas tempatnya kuliah. Ketika kembali, dia akan menginspirasi teman-temannya yang lain atau bisa jadi dia akan menjadi agen perubah di universitas tersebut. Ketiga, mobilisasi ini akan membuka sekat-sekat ekslusifitas bidang ilmu yang selama ini masih melekat. Dalam tantangan global seperti sekarang ini, perkembangan ilmu pengetahuan semakin inter-disipli (inter-disciplinary) dimana hubungan antar bidang keilmuan membuat seseorang tidak cukup hanya mengusai bidang keilomuan yang menjadi fokusanya saja tapi juga fasih berbicara dalam konteks bidang keilmuan yang lain. Apalagi syarat untuk menjadi expert dan  pemikir zaman ini seseorang dibutuhkan untuk menjadi lebih general. Artinya, kita membutuhkan seorang spesialis yang berwawasan global, seorang ahli pendidikan yang tidak buta ekonomi, kebijakan, dan politik, seorang ahli ekonomi yang mengerti pendidikan dan biodiversity dan sebagainya.


Mungkin luapan pemikiran saya dalam tulisan ini masih sangat emosional sehingga sedikit ruwet. Tapi pada intinya, kita harus terbuka dan fleksibel atau dengan bahasa yang lebih spesifik menghilangkan sekat-sekat yang membatasi seseorang untuk belajar dan mengembangkan interestnya di bidang keilmuan yang dia inginkan.   Saya sendiri sangat merasakan keuntungan sit-in mengikuti perkuliahan Analisis Kebijakan Publik yang sangat membantu saya memahami sisi kebijakan dari bidang keilmuan yang saya pelajari karena semua yang dijalankan dalam pendidikan Tinggi yang menjadi fokus perkuliahan saya adalah produk kebijakan publik. 

Monday, November 4, 2013

#Cerita Jogja: My Sanctuary; Tempat Mengamati Orang di Jogja


Saya tengah dilanda jenuh akhir-akhir ini. Jenuh yang menggiring kepada kemalasan yang membuat saya jauh dari kata produktif. Idealnya saya perlu liburan singkat, bukan hanya sekedar libur dalam artian tidak beraktifitas tetapi liburan dalam artian melakukan perjalanan ke suatu tempat. Idealnya sih pantai. Tapi apa daya, saya di tengah-tengah semester yang padat dengan paper-paper yang menumpuk dan persiapan proposal tesis yang ironisnya masih jauh dari kata rampung. Untunglah saya mempunyai tempat yang saya anggap sanctuary yang untuk mencapainya saya tidak perlu melakukan perjalanan jauh ke luar kota, bisa dijangkau dalam waktu kurang dari 20 menit. Tempat tersebut adalah Health Club tempat saya excercise saban hari di Jogja.



Gym ini terletak di seuah hotel dan dikelola dengan sangat baik. Untuk membership selama1 tahun saya mendapakan fasiltas aerobics class, yoga class, body shaping class, sauna dengan whirpool, kolam renang dan tentu saja gym. Saya juga bisa berkonsultasi cuma-Cuma dengan dokter yang disediakan oleh Health Club ini. Hotel ini dikeilngi oleh halaman berumput yang luas  dengan pohon kamboja di mana-mana. Berada di dalam area hotel ini saya seakan berada jauh dari hiruk-pikuk kota Joga. Apalagi ketika berada di kolam renang. Saya merasa benar-benar seperti sedang berlibur karena saya bisa berenang sepuasnya, berbaring di pool chair dengan handuk renang yang seperti di pantai sambil membaca dan kalau saya mau, saya bisa memesan minuman dari bar di tepi kolam renang  dengan diskon 20 % dengan menunnjukkan kartu keanggotaan.


Setelah dua sesi kuliah di dua jurusan yang berbeda hari ini, saya memacu sepeda motor saya menuju Health Club untuk berenang. Saya ingin melakukan exercise seri Monday sesuai dengan panduan di Men’s Health sebenarnya, tapi punggung, paha dan bokong saya masih terasa sangat sakit karena saya mencoba seri Saturday pada sabtu kemarin. Saya butuh pijatan air di whirpool dan berenang untuk membuatnya mereda.


Jogja sangat panas belakangan ini. Kalau bahasa Jawanya, sumuk. Yaitu panas pengap yang membuat keringat mengalir membasahi pakaian walaupun kita tidak melakukan aktifitas apa-apa. Jadi, berenang adalah pilihan yang sangat tepat.


Di kolam renang hanya ada saya, seorang pemuda yang tampaknya international student dari Cina atau Taiwan dan seorang international student bertampang kaukasia. Bagaimana saya bisa tahu mereka adalah mahasiswa. Sangat gampang sebenarnya karena si tampang kaukasia misalnya, ia membawa buku tebal bertuliskan Macroeconomics yang sejak tadi menutupi mukanya di pool chair. Sementara si tampang mongoloid juga membaca buku yang tampak seperti diktat kuliah. Mungkin si tampang kaukasia adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM yang memang menjadi rumah bagi mahasiswa Internasional yang setiap semester selalu berdatangan. Saya rasa, keberadaan berbagai macam ras inilah yang membuat Jogja semakin menarik.


Pool guard yang selalu mengumbar sapaan ramah menyapa saya, menanyakan mengapa saya sendirian. Hahaha. Memangnya saya harus dating dengan siapa. Kalau dipikir-pikir sapaan ini juga menjadi salah satu pertanyaan pertama yang diajukan oleh orang-orang Indonesia ketika bertemu seseorang. Baik sebagai pertanyaan basa-basi maupun pertanyaan sungguhan. Menurut saya ini terbawa dari kebiasaaan orang Indonesia maupun Asia pada umumnya yang komunal, sering pergi beramai-ramai dan kumpul-kumpul. Apalagi ada istilah Jawa yang mengatakan mangan ora mangan sing penting ngumpul. Nggak saya banget. Saya terbiasa sendiri dan tidak terlalu suka kumpul-kumpul ala Indonesia.


Kalau kita perhatikan orang-orang Indonesia memang suka pergi beramai-ramai. Di tempat wisata misalnya, mereka senang bepergian dalam rombongan besar dan sangat rebut walaupun berisiknya masih di bawah level rombongan turis-turis china yang biasanya bepergian dengan tour bus di Bali. Di cafe misalnya, saya sering sekali mendapati rombongan anak-anak muda dengan kumpulannya yang membuat kafe itu menjadi gaduh sekali oleh mereka. Keberadaan mereka yang mayoritas sepertinya memberikan mereka rasa percaya diri untuk mendominasi. Dan tentu saja, selalu ada sesi foto-foto baik dengan kamera DLSR, kamera saku dan tentu saja kamera di ponsel yang semakin hari semakin canggih atau gabungan dari ketiga-tiganya.

Lihat saja tiga laki-laki yang baru dating itu. Sebelum mereka melepas pakaian untuk berenang mereka sibuk bergiliran foto-foto dengan latar belakang kolam renang, foto setengah basah, foto ketika nyebur dan foto ketika mereka hanya dengan swimming suit yang menurut saya hanya cocok dipakai sebagai dalaman untuk celana basket yang gombrong. Sepertinya harus ada yang memberi pengetahuan kepada para laki-laki tentang aturan dalam pakaian renang.


Ketiga lelaki yang tadi sibuk foto-foto sekarang mulai berenang yang ampun membuat kolam renang ini seperti tengah dilanda sunami kecil. Oke, selain harus ada yang mengajari mereka tentang pakaian renang, yang lebih penting sebenarnya adalah mereka harus belajar berenang dengan benar. Tidak harus seperti para atlit renang, tapi paling tidak berenang yang tidak menyebabkan air terciprat sampai ke sini-sini.



Okay, saya harus pergi sebelum buku saya basah oleh cipratan mereka. Lagipula sesi mengunjungi sanctuary saya hari ini cukup. Rasanya saya sudah ingin kembali menyentuh paper-paper saya yang terabaikan. 

Sunday, February 24, 2013

Menikmati Jogja 1# Nyasar di Babarsari

Jiwa muda saya cukup terusik. Apa pasal? Semua berawal Dari kesibukan saya travel bolak-balik Jogjakarta-Surabaya-Malang belakangan ini yang membuat saya lebih banyak menghabiskan akhir pekan untuk menikmati waktu di rumah daripada berada di luar. Minggu lalu misalnya, saya terpaksa memarkir motor berhari-hari di airport yang tentunya membuat saya harus membayar lebih untuk itu. Saya terpaksa melakukannya karena saya takut terlambat kalau harus naik taxi dan memilih ngebut sendiri ke Airport. Nah, pas kembalinya dari Surabaya saya memacu motor saya dari Airport dalam keadaan capek sekali. Gara-gara kecapekan saya nyasar ke suatu sudut kota Jogja yang belum pernah sengaja saya explore walaupun sudah 7 bulan saya tinggal di sini, Babarsari.


Para awalnya, saya berpikir saya tersesat daerah pelosok sampai saya menemukan deretan Kafe berselang seling dengan restoran, butik dan tentu saja angkringan dan kaki lima yang menjadi ciri khas Jogjakarta. Saya langsung menobatkan ini adalah area kehidupan malam yang paling hidup di Jogjakarta. Bertepatan dengan weekend membuat suasananya sangat ramai dengan pasangan-pasangan muda. Dibandingkan dengan area keramaian lain di Jogja seperti Sagan dan jalan Parangtritis misalnya, saya lebih tertarik dengan area ini. Suasananya lebih urban tapi tengan kekhasan Jogja. Keramaiannya tidak bisa dibandingkan dengan keramaian Seminyak di Bali atau Kemang di Jakarta karena sentuhan Jogja denganpopulasi mahasiswa yang padat memberikannya suasana yang berbeda. Suasana muda yang vibrant. Satu hal lagi, bagi Anda fans tampang Indonesia timur seperti Ambon manise, Flores, Timor Leste dan Papua, di sinilah tempat Anda mencuci mata. Dan, saya adalah salah satu dari fans itu!


Selain kehebohan orang-orang, hal yang saya sukai dari daerah ini adalah lokasinya yang memanjang mengikuti selokan Mataram. Itu pulalah yang membuat saya terus saja berkendara walaupun saya tahu saya tersesat. Saya memutuskan untuk terus berkendara pelan-pelan dan tidak bertanya kepada orang bagaimana caranya keluar dari daerah ini dan sampai ke rumah. Saya berkendara pelan-pelan sambil menikmati suasana yang sepertinya sudah lama tidak saya sentuh, kehidupan malam yang menggairahkan.


Saya teringat petunjuk teman saya yang bilang kalau kamu menemukan selokan Mataram, kamu tidak akan pernah tersesat. Ke arah utara, selokan ini akan membawa kita sampai ke Gejayan dan tembus MM UGM dan kalau terus lagi, Anda akan sampai ke dekat Borubudur karena selokan ini yang di uat oleh Sultan Jogja ini berawal di sana.


Benar saja, tidak berapa lama kemudian, saya sampai di daerah yang sangat familiar bagi saya, daerah kampus UGM. Saya langsung melaju menuju ring road yang menuju arah rumah saya dengan janji saya akan menghabiskan malam Minggu di Babarsari suatu saat dalam waktu dekat. Jiwa muda saya terusik oleh keramaian tadi. Saya kembali diingatkan oleh kehidupan malam di Seminyak yang biasa saya nikmati pada episode kehidupan saya yang telah lewat.

Thursday, October 18, 2012

#Cerita Jogja: Catatan Seorang Mahasiswa 1# Tetap Happy dengan Seabrek Tugas Kuliah

Lama tidak update, hidup saya jauh berubah. Saya tidak hanya sibuk bekerja sekarang, saya belajar yang terstruktur dan formal. Iya, saya jadi mahasiswa lagi. Setelah galau dengan berbagai pertimbangan dan membatalkan satu Scholarship, saya memilih untuk kuliah Master di UGM. And you know what? Saya sangat menikmati setiap proses kehidupan saya di Jogja, terutama kehidupan kampusnya. Ngetem di perpustakaan sampai malam, bersepeda dengan sepeda kampus, main ke fakultas lain, dan tentu saja menikmati kopi di EB Kafe punyanya FEB di Pertamina Tower. Saya mau share alasan saya mengapa saya sangat menyukai kuliah di UGM.

1. Sepeda
Jogja adalah salah satu kita di Indonesia yang pengguna sepedanya banyak. Jalanan sangat bekerja friendly karena dilengkapi jalur sepeda dan petunjuk-petunjuk jalur alternatif sepeda. Bayangkan Anda bersepeda dengan sepeda kesayangan Anda menyusuri perkampungan Jogja yang jawa banget itu. Atau Anda bersepeda bersisian racing dengan mahasiswa atau mahasiswi bening. Skenario selanjutnya bayangkan sendiri deh. Kuliah di Jogja tapi nggak pakai sepeda rasanya kurang Afdhol. Apalagi, mahasiswa baru di UGM nggak boleh bawa sepeda motor ke kampus. Pakai tanda tangan surat perjanjian nggak bawa sepeda ke kampus pula. Di atas materai loh.

2. Perpustakaan
Salah satu tempat favorit saya adalah Sampoerna Corner di perpustakaan pusat. Kalau tidak ada agenda lain, saya Bisa dipastikan ada di salah satu sofa di Sampurna Corner. Apa gerangan yang saya lakukan?owh, banyak sekali. Mulai dari baca. Baca jurnalnya 30 menit saja. Tetapi membaca realitasnya Bisa berjam-jam; wow, si Perancis di sofa sebelah kok matanya bagus ya? Igh, itu bule-bule ternyata kerjaannya facebookan doang. Saya juga menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan kantor dari sini. Lumayan, koneksi Internetnya keren. Saya juga mengajar teman-teman saya bahasa Inggris di sini. Waktu sehabis maghrib adalah waktu yang pas untuk Skype-AN di sini karena koneksi yang bagus dan pengunjung yang sepi karena semua sudah pulang. Memang dirimu skype-an sama siapa Rik? Ada duehhhh!

3. Lantai 8 Pertamina Tower
Kalau Anda sedang berjalan di kompleks kampus pusat UGM di Bulaksumur, Anda akan mendapati sebuah bangunan berbentuk tabung dengan warna silver. Bangunan berlantai 8 di lingkungan FEB ini bernama Pertamina Tower. Nah, kalau sudah lihat, segeralah melangkahkan kaki Anda ke sana. Masuk lift dan tekan tombol angka 8. Begitu pintu lift terbuka di lantai 8, aroma khas kopi akan langsung menyergap penciuman Anda. Kalau saya, otak saya langsung merespon dengan berimajinasi tentang sebuah Espresso Bar di Ubud.

Sebuah Espresso Bar yang nyaman dengan taman kecil beratapkan langit di tengahnya langsung membuat saya jatuh cinta dan menempatkan coffee Shop ini menjadi salah satu List tempat favorit saya di Ngayogyakarta Hadiningrat. Ini adalah bangunan paling tinggi se Ngayogyakarta Hadiningrat. Maka, pandangan Anda bebas lepas ke semua penjuru kota. Untuk kemewahan itu, Anda tidak harus membayar mahal karena semua menu terjangkau oleh kantong mahasiswa. Saran saya, pilihlah tempat duduk yang open air dan jangan lupa mencoba klappentart cafe ini.


3. Publicspehere di mana-mana
Salah satu hal yang membedakan kampus UGM secara fisik dengan kampus lain adalah UGM mempunyai publicsphere di mana-mana. Pihak kampus benar-benar memperhatikan kenyamanan mahasiswa. Gazebo bertebaran di mana-mana. Payung-payung dengan meja dan kursi ala kafe pinggir pantai di Bali ada di mana-mana. Setiap gedung selalu menyediakan tempat yang memadai untuk mahasiswa berdiskusi. Dan tentu saja dengan koneksi wi-fi yang selalu tersedia. Hal ini adalah kebalikan dari kampus saya ketika kuliah S1 dulu.

Semasa kuliah S1, saya sering mengeluhkan ketidaktersediaan publicsphere buat mahasiswa. Konsep sederhana di kepala saya, ketersediaan publicsphere yang banyak sangat menunjang produktivitas mahasiswa untuk berkarya. Logikanya, dengan adanya Public space tempat mahasiswa bertemu, maka proses pertukaran ide akan lancar, sharing Knowledge berjalan. Apalagi kalau tempatnya nyaman. Kemudian bayangkan ketika Public space tidak ada. Seusai mengikuti proses belajar di kos, mahasiswa akan langsung kabur ke kost untuk beristirahat. Otomatis, interaksi dengan mahasiswa lain akan jauh berkurang sehingga proses sharing ide dan Knowledge tidak berjalan. Padahal, ilmu yang diserap mahasiswa ketika mengikuti kelas, hanya sekitar 30%. Itupun kalau proses belajar dan mengajar dalam kelas tersebut ideal. Ketika ada proses sharing Knowledge, mahasiswa Bisa menyerap sampai dengan 50%. Ini adalah hasil penelitian loh. Tapi, saya tidak akan banyak menulis itu di sini. Mungkin saya akan menuliskannya menjadi artikel di jurnal.

4. Teman-teman yang gokil
Kalau ini sih, tergantung bagaimana Anda bergaul deh. Saya sangat menyukai gaya mahasiswa di kelas saya. Walaupun kebanyakan mereka menyandang status bapak-bapak dan Mak-Mak, mereka tetap ramai dan gokil seperti ABG macam saya ini. Iyaaa, saya masih ABG kok. Dan satu lagi, mereka punya keterikatan yang kuat dengan dosis tinggi dengan yang namanya kamera alias gila foto. Makanya, isi wall GROUP anak-anak MMPT angkatan ini lebih banyak dipenuhi foto-foto dibandingkan dengan diskusi. Sepertinya porsi foto-foto ini berbagi dengan porsi gosssip. But Hey, that's all make being student is so much fun!

Cerita apa lagi ya? Nanti deh, saya tulis lagi. Saya berencana untuk membuat postingan bersambung khusus tentang keseharian saya menjadi mahasiswa UGM. I enjoy every second of my life here in Jogjakarta. Buktinya, dengan banyak beban tugas kuliah dan juga deadline pekerjaan saya tidak tertekan tuh. Malah, saya enjoy banget. Makanya, saya selalu bersemangat setiap saya bangun pagi.

Pagi-pagi saya sudah sibuk memilih kostum buat ngampus. Iya dong, jadi mahasiswa bukan berarti harus klowor dan nggak terurus. Tapi, karena sering sibuk dengan urusan domestik ini, saya jadi sering telat datang ke kampus. Not good!

Okay, saya mau melanjutkan pertapaan saya di puncak Pertamina Tower. Secara ini zaman modern gitu kan ya? Bertapa nggak lagi di gua-gua di puncak gunung. Ikuti cara saya dong, bertapa di sudut cafe yang cozy!