Showing posts with label Bahasa. Show all posts
Showing posts with label Bahasa. Show all posts

Thursday, February 4, 2010

Dia Punya Otak Tidak Kasi Main!!!

Salah satu keuntungan tinggal di kota pelajar yang mahasiswanya datang dari sabang sampai Merauke adalah saya jadi bisa mendengar dan sedikit-sedikit tahu bahasa masing-masing daerah. Saya jadi tahu sedikit bahasa Ambon, Papua, Flores, Makassar, Madura, Aceh, Sunda, Tetun (Timor Leste) dan agak banyak bahasa Jawa. Itu baru bahasa yang mayoritas dipakai loh ya. Kabarnya, di NTT sana, beda desa bisa berbeda bahasa. Tetapi biasanya mereka punya bahasa daerah yang menjadi pemersatu. Istilah linguisticnya Parole (benar parole ya?). Dan tentu saja semua bahasa itu mempunyai karakter yang jauh berbeda dan mewakili karakter budaya daerah mereka masing-masing. Dari sekian bahasa yang saya dengar, saya suka mendengarkan orang-orang dari Indonesia Timur bertutur. Logatnya yang khas, struktur kalimat yang sepertinya berbalik dari struktur kalimat yang biasa dipakai oleh penutur di Indonesia tengah dan Barat dan intonasi mereka yang khas membuatnya sangat mudah dikenali. Unik.


 

Ketika kerja part time zaman kuliah dulu, customer saya kebanyakan berasal dari NTT, Timor Leste dan Papua. Saya sering sengaja menyimak percakapan mereka dan menebak-nebak artinya. Nah, diantara semua operator warnet di tempat saya bekerja, saya lah yang paling bisa mengerti pembicaraan mereka. Teman-teman saya sering kebingungan dan mesti nanya dan menyimak berulang-ulang untuk mengerti apa yang mereka katakan. Padahal mereka berbicara pakai bahasa Indonesia loh ya… tapi, ya itu tadi, struktur kalimatnya membuat teman-teman saya susah menangkap maksudnya.

"Minta tolong ini dikasi print kakak. Logo kasi tambah dari komputer. Ada kah?

"Sa mau kirim sa punya foto tara bisa. Kaka tolong saya" eh, belakangan ketahuan ternyata nggak punya email.

"sapu teman tanya fb saya.Sa buka tara bisa. Error terus" oalah, gimana mau punya FB Mas, wong Masnya nulis www.fb.com. Yah, not going anywhere deh…!


 

Kalau anda pernah nonton film denias, percakapan mereka sama seperti itu tapi dengan intonasi yang lebih alami, lebih cepat maksudnya. Ditambah lagi, banyak kata-kata yang dihilangkan.


 

"Sa tra tahu dia su datang apa belum" (saya tidak tahu dia sudah dating atau belum)

"sa pi tinggal dulu ambil flash disk. Sebentar teman saya datang"


 

Nah, teman kos saya sekarang kebanyakan berasal dari Papua dan Ambon. Tetangga kiri dan kanan dari Ambon, tetangga atas (lantai dua) berasal dari papua dua-duanya.


 

Suatu hari saya balik dari jogging dan mendapati rumah dalam keadaan sepi. Sebagian Penghuni sudah berangkat ke tempat aktifitasnya masing-masing dan sisanya lagi masih asik dengan selimutnya masing-masing. Melangkahkan kaki memasuki ruang tengah kok saya mendengar gemericik air yang tidak biasanya saya dengar. Saya hafal banget suara air yang jatuh ke penampungan di samping kamarnya Roni, mahasiswa magister asal Papua itu. Tapi suara ini bukan suara air yang jatuh ke bak penampungan alias tandon. Suaranya gemericik kayak air terjun kecil di tengah hutan dekat rumah saya di Bima sana.


 

Bergegas saya menuju kamar saya di bagian belakang rumah induk yang dihuni keluarga Ibu kos. Dan tadaaa….!


 

Terhamparlah pemandangan nan indah di depan mata saya. Pemandangan yang membuat saya selalu kangen sama desa saya yang di pinggir hutan itu. Ada air terjun yang jatuh di tangga berundak yang menuju lantai dua. Sebagian airnya jatuh lurus mengikuti alur tangga sebagian lagi membentuk aliran ke samping dan keluar dari tangga dan jatuh di taman di depan kamar saya. Rupanya air terjun inilah yang bergemericik ketika saya memasuki rumah tadi. Segera saya menuju ke depan kamar saya tempat sakelar untuk air berada dan mematikannya.


 

Pletak!! Aliran air yang mengisi tendon berhenti seketika tetapi air terjunnya masih terus mengalir.


 

Wah, gawat!!

Setelah erkesima dengan air terjun itu saya tersadar. Kalau airnya sampai turun tangga begini berarti dia juga mengalir kemana-mana dulu dong di lantai atas sana. Segera saya berlari melewati air terjun tadi menuju kamarnya Roni. Pintunya tertutup rapat dan jelas sekali kawan, airnya mengalir sampai jauh memasuki celah di bawah pintu kamar anak Papua yang malang tersebut.


 

Saya gedor kamarnya sambil teriak-teriak.

"Bang Roni..!!bangun oii!!

"Bangun!! Kamarnya kebanjiran tuh!


 

Tak seberapa lama pintu kamar terbuka dan kepala Bang Roni yang tampangnya ternyata lebih keren dari Ne-yo dan Chris Brown itu melongkok keluar. Matanya masih merem.

"Ada apa?

Saya hanya bisa menatapnya dengan muka iba seraya menunjuk ke lantai kamarnya.

"Haaa…!!!!!

"Siapa yang kasi hidup itu air"

"Nggak tahu Bang, saya baru nyampe!

"Siapa itu?!! Tidak kasi main dia punya otak!!


 

Saya langsung ngacir ke kamar saya sambil menahan tawa mendengar kalimat terakhirnya itu.

Jadilah hari itu Bang Roni dan Reu, anak yang punya kamar di depannya yang juga kebanjiran itu seharian mengangkut semua barangnya keluar kamar dan menjemurnya di atap. Mulutnya terus saja merapal kalimat keren itu.


 

"Tidak kasi main itu punya otak!!


 

Wajarlah Bang Roni sedongkol itu. Seluruh kamarnya digenangi air semata kaki, buku-bukunya banyak yang basah, dan tentu saja kasur yang digelar di atas karpet di lantai itu ikut terapung juga. Dan ini yang ketiga kalinya dia kebanjiran seperti ini. Untunglah laptop dan TV ada di atas meja tidak terjangkau banjir lokal itu.


 

Mulai saat itu, "Tidak kasi main itu punya otak" menjadi umpatan favorit kami anak-anak Akono, anak kos Bu Warno.


 


 


 


 

Tuesday, February 2, 2010

Nggahi Sambori a.k.a Bahasa Sambori

Sorry, untuk posting kali ini, netter non Bima alias bukan orang Bima, kena roaming sedikit ya?


 

Fragmen 1

A        : Lao kai ko rambe?

A, B, dan C    : Lao todo uma la hami.

         Oe lao kai ko?

A        : Rae lao sawari uma la Rangga.


 

Fragmen 2

Ina Maria     : Cola apa ko marju?
Marju        : Wara tolu manu we?

Ina Maria    : Wara. Cola saunebe?

Marju        : Sowo mbua.

Tiba-tiba datang Mifta.

Mifta        : ee, Marju. Wara tugas ru kelas emera ka wea ba pak Sedo?

Marju    : Ara wara na. Ame laonggu ka dangga-dangga tese dore tana inggi. Ando lu'u kai kelas ne.

Mifta    : nee, u'u ru? Alae, pacaru ate anewo. Lao to'I mpa ka dangga-dangga ura ame amborakile. Mbosa ate nggu rae ka tana'o lo'o ne le.

Marju    : ma dusa unube ko emera ne ke. Kone ame inggine nonto ba lako me'e sangguna ipi. Nce palai nggurae ka lao ka ne'e roci kai rento due. Painewo ngaka na pak sedo nce.kari pa kari baa me untu ndese rento hadu na kiro kone loko ne.

Mifta    : da dusa unebe te. Nce dabae eme rae, kari unebeni guru ka nonto ba lako ne. ile batu ambora ki, mpewa ba rae lakoneke na kakae-kae!


 

Bahasa apakah gerangan yang dipakai oleh A, B, C, Marju, Ina Maria dan Mifta dalam percakapan diatas?Tau tak??


 

Haha…tenang! Itu bukan bahasa alien. Bukan pula bahasa yang dipakai di Negaranya Dayana Mendoza. Rihanna juga nggak make bahasa kayak gitu kok.

Terus bahasa apa dong?

Itu adalah bahasa Sambori, salah satu rumpun bahasa Bima yang dipakai di Desa Sambori, sebuah desa yang terletak di lereng Gunung Lambitu, sebelah timur kota Bima. Desa ini sekarang masuk dalam wilayah administrasi kecamatan Lambitu, sebuah kecamatan baru hasil pemekaran dari kecamatan Wawo. Bahasa Sambori bukanlah dialek bahasa Bima (Nggahi Mbojo) melainkan sebuah bahasa yang sama sekali berbeda dengan bahasa Bima.


 

Bahasa Sambori juga dipakai juga oleh penutur masyarakat desa di kecamatan Lambitu dengan dialek yang berbeda-beda di tiap desanya. Dialek disini bukan berarti logat (aksen) seperti pemahaman masyarakat umum. Dalam Ilmu linguistik, dialek adalah varian dari sebuah bahasa. Perbedaan dalam varian bahasa Sambori bukan hanya perbedaan dalam hal pengucapan tetapi juga dalam kosa kata. So, itu memang dialek bukan aksen. Dialek-dialek itu adalah bahasa sambori dialek Kuta (melingkupi , Kuta, Dengga dan Kaboro dengan aksen berbeda), (melingkupi teta, Londu dan Oi Wau dengan aksen berbeda), dan Tarlawi.


 

Banyak pendapat yang mengatakan bahwa bahasa Sambori adalah bahasa Asli dou Mbojo (orang Bima) akan tetapi sampai saat ini saya belum mendapati literature sejarah atau hasil penelitian yang membuktikannya.


 

Banyak teman-teman saya termasuk saya sendiri yang gagap berbahasa Bima karena terbiasa bertutur dengan bahasa ibu kami yaitu bahasa Sambori. Makanya, ketika berbicara dengan penutur bahasa Bima saya lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia. Itu karena saya tidak pernah bermukim lama di Bima. Setelah SMP saya langsung melanjutkan sekolah saya di Mataram. Gagap bahasa Bima ini sering menghinggapi teman-teman saya. Mereka sering split menggunakan bahasa Sambori ketika berbahasa Bima dengan penutur Nggahi Mbojo. Bahkan saudara-saudara saya yang sekarang tinggal di Bima masih sering split. Makanya mereka lebih memilih untuk bertutur memakai bahasa Indonesia.


 

Kalau saya sendiri sih, sudah lancar banget bertutur memakai bahasa Bima. Ini buah dari pergaulan saya dengan teman-teman Bima ketika SMA dulu. Tapi ya itu, masih sering saja saya split sehingga sering switch ke Bahasa Sambori.


 

Nah, bagi anda penutur non-sambori yang bisa menerjemahkan teks tadi dengan benar bakal dapat hadiah dari saya. Anyone?