Showing posts with label Padang. Show all posts
Showing posts with label Padang. Show all posts

Saturday, May 14, 2011

Tour de West Sumatra; Snap Shoot 2



Saya masih berbagi foto-foto perjalanan saya mengelilingi beberapa kota di Sumatra Barat minggu lalu. Sekarang saya sudah berada di Batam, sedang berusaha menyelami kehidupan dan suasan kota industri ini. Foto-foto di postingan yang lalu adalah foto-foto kunjungan saya pada hari pertama.


Setelah menghabiskan sore di kota Bukittinggi, menikmati sulur-sulur matahari yang turun di ngarai Sianok saya melanjutkan perjalanan menuju kabupaten Lima Puluh Koto melewati kota Payakumbuh. Tujuan perjalanan malam itu adalah sebuah desa kecil bernama Sabarang Aiah (seberang Air), sebuh desa agraris yang permai di kaki lembah yang dikelilingi oleh Gunung Singalang dan jajaran bukit Barisan.

Saya tidak berani mandi di desa ini. Dinginnya benar-benar menusuk tulang. Setelah menikmati makan malam yang super duper nikmat yang disediakan oleh ibu teman saya, Rafnel,. Tidur di bawah selimut tebal dalam udara desa yang dingin benar-benar nikmat. Penat karena perjalanan panjang hilang ketika saya terjaga keesokan harinya.



Pagi di desa Seberang Aiah.



si Kebo baru selesai mandi

Setelah makan pagi (bukan sarapan) dengan menu nasi putih yang masih mengepul dan beraroma pandan wangi, kami segera melanjutkan perjalanan. Kali ini kami akan kembali Pulang ke Padang melewati rute yang berbeda, melewati Lembah Harau, istana Pagaruyung di batusangkar dan danau Singkarak di Solok.

a>

Air terjun di lembah Harau.


Memasuki lembah Harau saya langsung melihat tebing-tebing tinggi memagari lembah. Tinggal di sini sepertinya menyenangkan banget ya. bangun pagi-pagi langsung disuguhi pemandangan spekatakuler. Pagi dan sore bisa jogging menyusuri jalan sepanjang tebing dengan pemandangan hutan tropis.

Kalau mau, kita ibsa tinggal di home stay yang terdapat di dasar lembah ini. Banyak wisatawan asing yang menikmati hari-harinya di sini.



Puas enikmati alam lembah Harau, saya melanjutkan perjalanan saya ke arah Kota Batusangkar. Kota ini terkenal dengan istana pagaruyug. Di sinilah pemerintahan Mingkabau tempoe doeloe berpusat. Kalau anda pernah membaca novel "Mestika Pagaruyung" di sinilah settingnya. Tempat BUndo Kanduang, ratu termasyhur Istana Pagaruyung.



Istana ini teletak di atas bukit kecil yang dilindungi oleh barisan tebing batu di belakangnya. Pikiran saya melayang kepada Bundo Kanduang,Bujang Selamat, Linduang Bulan, Cindua Mato dan suasana kehidupan istana tempo dulu.



Dari Pagaruyuang, perjalan kami lanjutkan ke Singkarak yang berada di Tanah datar dan Solok sekaligus. Danau Singkarak adalah danau terluas di Sumatera Barat.Jalan raya di sini menyusuri tepi danau. Begitu juga rel kereta api.

Senja membayang ketika saya menuruni gunung menuju Kota Padang. Perjalan dua hari yang menyenangkan sekaligus melelahkan. Total perjalan yang kami tempuh hari ini adalah 11 jam.


Inilah rute perjalanan saya sejak kemarin: Padang-Padang Pariaman-padang Panjang-Tanah Datar-Bukittinggi-Agam (Koto Gadang)-Payakubuh-Lima Puluh koto-Batusangkar-Solok-Padang. Perjalanan berlawanan dengan jarum jam mengiringi perjalanan Matahari.

Monday, May 9, 2011

Tour de West Sumatra; Snap Shoot



Dua hari yang lalu saya menuntaskan keinginan saya untuk travelling ke beberapa kota di Sumatera Barat. Perjalanan panjang selama dua hari ini menggunakan sepeda motor. Saya mengunjungi air terjun Lembah Anai yang terkenal, Ngarai Sianok, Pandai Sikek, Ngarai Sianok, Koto Gadang, Payakumbuh dan Menginap di sebuah desa pertanian kecil di lembah di Kaki bukit Barisan. Desa yang membuat saya tidak berani mandi saking dinginnya hawa di sana.

Hari kedua saya melanjutkan perjalanan menuju Batusangkar mengunjungi Istana Pagaruyung. Istana yang menjadi pusat pemerintahan kerajaan minangkbau Tempo dulu. Setelah itu perjalanan membawa saya kembali ke Padang melewati Danau Singkarak. jadi, perjalanan saya bergerak searah jarum jam dan embali lagi ke tempat yang sama.



Saya menemukan ini di Piggir jalan di Padang Panjang. Sepanjang jalan kota sejuk ini saya terpaku pada bunga berwarna-warni yang bermekaran. Dan Kamboja adalah salah satu fave flower saya. jepret...!



Mampir di Air Terjun Lembah Anai. Air terjun ini terletak persis di pinggri jalan dan rel kereta api yang menuju Bukittinggi. Karena yang melakukan perjalanan adalah saya, nggak apa-apalah ya saya nampang sedikit. Nampang kok sedikit, sedikit2 kok nampang:)



Bayangkan, para noni-noni belanda dulu pasti berebutan duduk di kursi kereta yang bersisian dengan air terjun ini. Melakukan perjalanan dengan kereta api sambil menikmati Alam Sumatra yang permai.



Jembatan-jembatan kereta api peninggalan Belanda ini banyak kita jumpai dalam perjalanan dari Padang ke Bukittinggi.



Di tanah Datar saya mampir ke Sepuluh Koto, tepatnya di pandai Sikek. Di sinilah para maestro tenun songket, ukir dan bordir Minang bermukim. Sebuah desa di lembah kaki gunung yang sejuk dan permai.

Saya menyempatkan mampir ke "Rumah Tenun Pusako", sebuah galleri songket, bordir dan sulam yang mewarisi keahlian seni tiga generasi. galeri ini berbentuk Rumah Gadang koto Piliang



Songket pandai Sikek. Hasil tenunan masyarakat Pandai Sikek. Biasanya warna motif adalah warna emas yang dihasilkan dari benang emas import dari India. Songket-songket ini mengingatkan saya akan songket Bima, di tanah kelahiran saya. Mirip. Pada zaman Belanda dan Jepang, benang-benang emas ini diimpor dari Macau. Kwalitasnya lebih bagus. Begitulah yang dituturkan Hj. Sanuar, pemilik galeri ini. Seorang pebisnis yang sudah tua tapi masih energik.



Salah satu sudut galeri yang dipenuhi oleh ukiran, kain tenunan dan sulaman



mampir di galeri lain untuk membeli oleh-oleh kerudung bordir. galeri-galeri ini berdiri anggun di tengah hamparan padi yang menguning. Menikmati karya seni, berbelanja dan mendalami budaya Minang di lembah gunung Singgalang




Bahan baju kurung bordir. Menyulam, bordir mengukir dan menenun adalah keseharian masyarakat di sini. Anak-anak perempuan menyulam, menenun dan membordir dan anak laki-laki mengukir.

Psst...gadis-gadis di sini cantik2 loh. Anggun. Style kerudung mereka berbeda. sangat anggun:)



Mengunjungi sebuah kota, tidaklah afdho kalau tidak mencicipi kuliner khasnya. Atas rekomendasi seorang teman, saya mencicipi "Pisang panggang'. Ternyata makanan ini ueennakk tenan. Pisang matang dipanggang dengan kulitnya kemudian disiram dengan kuah yang rasanya manis-manis asin gitu. I love banana



Bukittinggi terkenal sebagai Pusat fashion Sumatera Barat. Bahkan prdoduk dari kota dingin peninggalan Belanda ini dipasok sampai ke Pekanbaru, Medan dan Jambi.

Cincin perak yang cantik-cantik ini benar-benar menggoda. Pilihan bejibun, design keren dan harga murah. makanya di tangan laki-laki Minang paling tidak anda akan menjumpi 1 cincin.

Koto gadang adalah suatu tempat di seberang ngarai sianok yang menjadi penghasil kerajinan perak bermutu tinggi. perhiasan handmade bermutu tinggi dengan karat mencapai 9,6. Jauh lebih tinggi dari cincin yang saya beli di Bali dengan harga lebih mahal.

I'll get one for my Sunshine. Need to find the fit one:)




Aksesoris yang saya suka dari permpuan Minang adalah hiasan kerudung yang menjuntai dari atas kepala mereka. Saya membelinya beberapa untuk Ibunda saya tercinta. Pas sekali dipadukan dengan kerudung bordir yang saya beli di Pandai Sikek.

Ada yang mau pesen juga? Contact me:)




Hotel The Hill.Hotel peninggalan Belanda ini adalah perpaduan sempurna gaya arsitek spanyol (Moorish) dan Minang. Bisa dijangkau dengan berjalan kaki 3 enit dari Jam gadang. HOtel ini memunggungi Gunung Singgalang dan Ngarai Sianok di bawahnya.

Jalan Laras Datuk Bandaro, Bukittinggi
Sumatera Barat.
Telp. 0752-35000



Senja di Ngarai Sianok. Ngarai ini berada di tengah kota Bukittinggi. Terbentuk karena gempa dahsyat ribuan tahun yang lalu.. Gempa yang membentuk patahan yang dalam.



mengunjungi pengrajin perak di Koto Gadang. Saya histeris dengan cincin yang cantik-cantik itu. Kerajinan perk handmade bermutu tinggi. Saya sampai bingung harus membeli yang mana. Karena uang saya terbatas, saya harus memilih, nggak bisa dapat semuanya:)

Berbicara tentang Koto Gadang, Soekarno pernah berkata
"Koto Gadang memang kecil tapi hatinnya gadang (besar). Ini karena kota (walaupun namanya koto, tempat ini adl sebuah desa kecil) tua di kaki gunung Singalang yang bisa dicapai dengan menyusuri dan menadaki Ngarai Sianok

Monday, May 2, 2011

Padang 8# We Love Aladdin’s Shoes


Apa yang menarik dari sebuah tempat atau kota yang anda kunjungi? Kalau bagi saya semuanya menarik. Tapi yang paling menarik buat saya adalah memperhatikan orang-orangnya. Duduk diam di sebuah sudut public sphere sambil memperhatikan tingkah laku orang yang lalu lalang. Cara mereka berpakaian dan gadget apa yang mereka bawa juga tidak luput dari perhatian saya.


 

Selain memperhatikan dari suatu tempat alias tidak terlibat langsung, saya akan berkeliling kota dengan angkutan umum dan memperhatikan dan membanding-bandingkan dengan angkutan umum di tempat lain. Selain itu yang tidak boleh dilewatkan adalah mencicipi kuliner khas tempt tersebut.


 

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Bandara Internasional Minangkabau, saya langsung merasakan atmosphere yang sangat berbeda. Berikut ini adalah ….hal yang menurut saya sangat khas dari ota Padang.

  1. They are really into Fashion!

Uda-uda dan uni-uni di sini sangat pandai memadu padankan pakaian. Saya sangat suka melihat kerudung uni-uni di sini. Cara mereka memakai kerudung sangat anggun. Pilihan warnanya juga keren-keren. Yang paling umum adalah kerudung dibiarkan menjuntai ke dada setelah dilipat di kepala. Haha…saya agak susah mendeskripsikannya. Biasanya di atas kepala itu dihiasi dengan bros yang jatuh menjuntai. Saya paling suka melihat mereka memakai bros perak yang diproduksi di Kota Bukittinggi.


 

Hal yang paling umum untuk uda-uda adalah memakai jeans dan kemeja rapi. Kebanyakan merek yang saya temukan sih masih Levi's. Walaupun banyak juga versi bajakannya alias palsu. Bagi saya sangat mudah membedakan yang asli dan palsu. Cukup melihat detail di kantongnya saja. Saking Levi's begitu popular di sini, outletnya saja ada empat. Setahu saya, di kota saya tidak ada satu pun. Saya suka melihat uda-uda berkemeja rapi fit body pagi-pagi ketika rush hour. Warna-warna kostum uni-uni di sini sangat-sangat keren. Kantor saya pernah bekerja sama dengan sebuh sekolah. Dan saya sangat suka melihat kostum para ibu guru. Potongannya cantik, perpaduan warnanya apik, mereka pun luwes memakainya.


 

Nah, yang paling mencolok adalah sepatu uda-uda di sini. Rata-rata memakai sepatu pantofel yang runcing dan mengkilap. Daddy-daddy juga nggak mau kalah. Sampai-sampai saya sering menemukan para teenager dengan sepatu seperti itu. Berkaitan dengan sepatu, saya suka ilfil melihat anak-anak muda dengan selop runcing warna putih. Hello….! You are still young gitu loh. No need to be a daddy alike. Ntar juga pasti jadi bapak-bapak kan?


 

Eitss….satu lagi. Saya suka silau kalau kebetulan mata saya tertumbuk ke leher uda-uda. Kalungnya bo!

Tapi walaupun begitu, ada banyak juga dong yang fashion tastenya keren. Seperti sahabat saya si Mr. PJ yang dalam kondisi apapun, fashion adalah in the first place!


 

Saya pernah dong diundang prom night. Karena sudah keburu ngantuk saya tidak terlalu peduli penampilan. Lagipula, pengalaman saya kalau pesta mahasiswa gini, bisa berpakaian bebasa lah. Akhirnya bergegaslah saya dengan kemeja yang kancingnya dibiarkan terbuka dan sneaker kebanggan plus jeans. Sampai di sana, saya benar-benar shock karena melihat teman-teman saya yang perempuan semuanya ber night gown dan laki-lakinya berjas rapi. Saya tiba-tiba mengkerut. Seorang teman yang senasib dengan saya merengek-rengek minta pulang karena tidak pede. Haha…. Saya sih cuek saja. Dan jadilah saya malam itu seperti tukang foto.


 

  1. Angkot

Mau merasakan pengalaman balapan di jalan dengan dentuman music hip-hop atau teriakan Lady Gaga? Atau mau menikmati suasana Music Box atau Mini Bar sambil melakukan City Tour t dengan ongkos murah meriah? Naiklah angkot di Kota Padang. Angkot di sini benar-benar amazing! Untuk cerita betapa kerennya angkot di kota Padang, saya menulisnya di sini.


 

  1. Masakan Padang

Berbicara padang pasti tidak lepas dari masakan Padang. Wong di mana-mana di Indonesia ini pasti ada rumah makan Padang. Malahan di luar negeri pun ada. Masakan favorit saya adalah dendeng dan sambal hijau. Nah, ternyata sambal hijau ini tidak dibuat seperti membuat sambal-sambal lainnya. Tidak diulek. Tapi di masak di air tajin sampai lembut. Aromanya saja sudah membuat saya langsung meneteskan air liur. Sluurrrp….!


 

Tapi, karena ini kota Padang, ya masakannya hampir semua seperti yang ada di warung-warung Padang di luar padang dong. Kebayang kan saya harus berhadapan dengan masakan berbumbu tajam itu setiap hari? Kangen sayur bening, kangen pecel, kangen urapan, kangen tempe penyet, kangen ayam madu di Malang. Kangen kedai Assalamu 'alaikum.


 

Hoho…! Satu lagi. Bukan hanya orang betawi yang senang makan Jengkol. Di masakan Padang pun Jengkol bertaburan dengan aroma yang menggoda. Saya penasaran banget pengen nyobain makan jengkol tapi nggak ah. Saya nggak mau membuat aroma toilet jadi aduhai begitu. Bayangin toilet di Mall jadi berbau jengkol.


 

Eitss…cerita saya masalah makanan belum berakhir. Saya kesulitan masalah sarapan saudara-saudara. Saya bangun pagi dan langsung membayangkan akan sarapan dengan "lontong pical" dan "lontong gulai". Hoho…no banana pancake, no scrambled egg, no burjo, no pecel, no tempe penyet, no sayur bayam. Hoho…tapi kalau ingat harus bersyukur, sarapan juga walaupun malas-malasan. Nggak mau ngundang penyakit!


 

Tambah dikit lagi ya, soal makanan. Kalau anda makan, pelayan warungnya akan menanyai begini; pakai sambal apa Uda? Artinya, dia menanyakan mau pakai lauk apa. Sambal=lauk!


 

  1. We Have Taplau Here; Ngesot Sedikit Bisa Sunbathing Sepuasnya.

Padang teletak di pesisir Samudera Hindia. Kotanya langsung terletak di tepi pantai Samudera. Malahan ada beberapa kampus yang langsung halamannya pantai. Makanya pas ada isu sunami, mahasiswa-mahasiswa pada pindah kos. Tapi anehnya nggak banyak loh yang berenang di sini. Saya juga akhirnya kebawa untuk nggak pengen renang juga. Pernah sih dulu sekali dan ditontonin orang. Saya juga nggak ada keinginan untuk sunbathing seperti kalau lagi di Bali. As most of Indonesian, local people nggak mau dong item0itemin kulit. Makanya kemana-mana pakai jaket. Hal yang dianggap aneh oleh teman bule saya yang ngejar-ngejar matahari.


 

Kebanyakan pantai ini hanya dipakai untuk nongkrong-nongrong di bawah payung. Jadi pantainya dipenuhi payung beraneka warna. Kafe favorit saya yang menjadi 'ruang tengah' dan 'kantor' saya juga adanya di tepi pantai ini. Sebuah kafe yang lumayan nyaman. At least dibandingkan dengan kafe-kafe yang lain. Apalagi Uda yang kelola kafe itu ramah banget.


 

  1. Hah??!! Am I in Italy?

Pernah dengar kata cubadak? Cubadak dalam bahasa Minang artinya nangka. Makanya kalau ada menu gulai cubadak, itu artinya sayur nangka. Tapi saya tidak berbicara tentang cubadak yang itu. Ini nama sebuah Pulau yang tersohor banget di Italia sana. Jadi, pulau ini dipenuhi oleh senora cakep dan senorita ganteng dan jarang ada orang berkulit eksotis macam saya.


 

Inilah sekepingsurga yang tercecer. Pantai pasir putih yang dibelai ombak samudera Hindia. Warna biru jernih denga latar belakang bukit kecil membentuk huruf U dengan hutan padat. Pulau ini dikelola oleh orang Italia dan jarang orang Indonesia yang pernah ke sini. Orang Padang saja saya tanyai, jarang yang tahu tempat ini. Jadi kalau anda ingin menenagkan diri sambil belajar bahasa Italia, di sinilah tempatnya. Molto simpatico! Mama mia!


 

Selain pulau Cubadak, masih banyak pulau-pulau 'syurga' bertebaran di perairan sekitar Padang. Ada pulau Sikuwai dan Juga Pulau Pagang. Kalau mau berselancar dengan ombak nomor satu impian para peselancar dunia, ngesot aja ke Mentawai dan pergilah ke Botti island. Saya pernah sih diundang oleh pesera training saya yang orang asli mentawai untuk berkunjung ke sana. Tapi waktu nggak mengijinkan.


 

Psstt….! Minggu ini saya akan menginjakkan kaki di Pulau Cubadak yang permai itu. Bareng orang asli daerah sekitar pulau itu sih *mengerling Miss Lindri*


 

  1. I Love Ice Cream!

Haha…judul poin nomor ini sama dengan dialog drama Korea "Choon Hyang, Sassy Girl" ketika Choon Hyang dan Mon Ryong (haha…! What a name!) selesai main 'petak umpet'. Aduh, ini nggak penting deh ya.


 

Jadi, kalau anda pencinta ice cream di sinilah tempatnya. Hampir setiap minuman ada penambahan menu ice cream. Di kantin kampus yang menjadi klient saya saja, ada menu Cappuccino Shake with Cincau n Ice Cream yang murah banget. Tapi rasanya mak! Selangit! Mau ke tepi pantai, mobil-mobil ice cream berderet. Warung-warung kecil pun menyediakan ice cream. Favorit saya dalah di DR Resto di jati, depan fakultas Kedokteran Unand. Mereka punya Es campur special dengan topping ice cream yang banyak dan lezat.


 

Sebenarnya, masih banyak yang ingin saya tuliskan tentang kesan saya akan kota ini. Tapi capek ah, saya masih ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Nantilah saya nyambung lagi kalau saya nggak malas.


 

Buat uda-uda dan uni-uni, jangan marah sama saya kalau ada yang tidak berkenan ya. Ini hanya kesan pribadi dan sedikit 'shock culture' yang saya rasakan. No Offence! Peace!


 


 

Wednesday, April 27, 2011

Padang 7# Place to Escape


Sudah dua hari ini saya berkutat dengan file-file pekerjaan yang menumpuk. Akhir program seperti ini memang tumpukan pekerjaan langsung menggunung. Membuat laporan program, evaluasi, mengecek hasil kejuan peserta program dan mempersiapkan rencana business trip selanjutnya. Itu artinya saya harus sering-sering angkat telephon untuk koordinasi dengan tim di tempat baru yang akan didatangi, mencocokkan jadwal, mengejar deadline pekerjaan di tempat yang sekarang dan juga sering-sering berkoordinasi dengan tim.


 

Karena program ini adalah kerjasama dengan institusi lain, maka saya harus membuat laporan dobel. Di sela-sela itu pula saya harus menyelesaikan follow up kemungkinan kerjasama dengan beberapa calon investor di kota tetangga. Hfffhh…benar-benar dituntut untuk multi tasking. Untunglah teknologi membuat connecting menjadi mudah. Tapi namanya manusia, melihat yang lebih mudah, saya ingin juga dong memakai fasilitas yang lebih memudahkan pekerjaan seperti I-Pad, i-Phone atau paling tidak Balckberry*ngarep.com. Eits, tapi ini juga semacam suara hati buat Mr. YunJ *


 

Dengan beban kerja yang menguras otak dan tenaga itu saya tidak bbetah kalau harus bekerja di rumah, di kamar yang sama tempat saya tidur dan melakukan aktifitas lain. Maklum anak kos. Mau ngerjain di kantor, saya malas harus berkemeja rapid dan berdasi.


 

Untunglah saya menemukan tempat yang bisa menampung keberatan-keneratan saya tadi. Sebuah kafe yang cukup cozy di Taplau (nama pantai di tengah kota Padang). Sebenarnya kafe ini baru buka jam 3 sore. Akan tetapi karena waiternya baik sekali, dia mengijinkan saya untuk nongkrong pagi-pagi di kafenya dengan konsekuensi tidak boleh berharap ada menu apa-apa selain soft drink. Nggak ada kopi karena saya datang terlalu pagi. Tapi buat saya, saya diperbolehkan nongkrong seharian dari pagi bahkan sebelum mereka buka sudah sangat menyenangkan.


 

Sudah dua hari saya merajai sofa di sudut kafe ini dengan tumpukan pekerjaan. Kalau saya merasa agak penat, saya tinggal melangkahkan kaki ke luar dan mendapati hamparan laut biru yang berkilau ditimpa sinar matahari. Saya biasanya akan menjepretkan kamera DLSR saya ke beberapa objek menarik. Refreshing sekaligus belajar fotografy. Nah, ketika sore, saya akan bergabung bersama-sama dengan fotografer yang lain berusaha mengabadikan moment sunset yang banyak diburu.


 

Selain itu, kafe ini mempunyai seorang waiter yang sangat ramah. Tapi nampaknya ia bukan waiter karena tidak pernah mengenakan seragam waiter seperti yang lainnya. Dia sangat friendly mengobrol dengan pengunjung café. Itu pulalah yang membuat saya kembali lagi hari ini. Kekuatan sebuah service.


 

Jadi, kalau anda datang ke padang dan butuh tempat untuk escape atau seedar menikmati sore di pinggir pantai, sambangi langsung aja café ini. Kafe Homey dan Uda Dikdik yang ramah.


 


 

Saturday, April 23, 2011

Padang 6# Saya dan Pisang alias Banana


Cihuyy…! Hari minggu neh. Asyik! Saya sudah berencana untuk jalan-jalan bareng Shine hari ini. Mau hunting-hunting. Mau icip-icip. Sebenarnya mau ngajak Mr. PJ. Tapi orang itu memang lagi tidak beruntung karena pada saat orang lain berlibur di hari minggu, dia malah asyik dengan dosen dan buku-buku kuliahnya. Soalnya dia hobi kuliah, kuliah dua sekaligus. Ejoy aja Mr. PJ, insya Allah hasilnya manis kok dudeJ


 

Mutar-mutar mengayun langkah menyusuri jalan kota, saya tidak menemukan objek menarik. Yang ada saya banyak melamun. Mana bisa ketemu objek menarik kalau melamun kayak gitu. Saya juga ngesot ke Pinngir pantai alias Taplau. Begitu saya sampai di sana, mendung menggantung. Mau shoot splashing wave, malas! Soalnya objeknya bukan saya:)


 

Akhirnya saya jalan pulang lagi naik angkot. Ketika berjalan menyusuri jalan di samping Toko Buku anggrek saya menemukan penjual Pisang Bakar. Wow, ini baru fantastis! Bukan, bukan buat difoto. Tapi buat saya makan. Saya suka semua yang berbau pisang, berasa pisang atau berbentuk pisang. Mulai dari pisang goreng, pisang rebus, pisang segar, sale pisang, banana pancake, pisang kayang (banana split), saya suka semua. Apalagi pisang bakar. Makanya ini penemuan yang fantastis, melebihi penemuan Dewi Persik oleh Kerajaan Cintrong!



 

Pisang bakarnya dibakar di atas pemanggangan di atas bara api dari kayu. Wanginya menyebar kemana-mana membuat saya tergoda untuk merogoh kantong. Ketika lidah saya bertemu dengan itu pisang, mata saya langsung merem melek keenakan. Nyummy banget! Kenyal-kenyal empuk! Pisangnya pisang kapok yang masih agak keras. Setelah dibakar di atas bara panas merah menyala tadi, dihantam (digeprok, apa sih namanya?) pake kayu bulat sampe gepeng. Dimakan dengan taburan parutan kelapa dan gula merah. Bisa pilih gula putih juga sih.




 

Sayangnya mereka nggak jualan pagi. Padahal ini kan bisa jadi pengganti lontong gulai yang memebuat saya mabok itu. Nggak apa-apalah bukan Banana Pancake. Pisang Bakar pun jadilah. Tapi memang budaya berbeda coy! Orang sini sukanya sarapan lontong, bukan pisang bakar. Padahal kan kalau dia jualan terus tiap pagi, pasti ada orang yang mau sarapan pisang bakar. Dan tentu saja saya akan jadi pelanggan setia.


Sunday, March 6, 2011

Padang 5# Eva dan Payungnya



Setelah sekita dua bulan berpindah-pindah kota di Jawa, sekarang saya kembali berada di Padang. Walaupun sempat kena “mellow-attack”, sekarang saya sudah kembali ceria lagi. Nggak usah Tanya kenapa saya kena mellow attack karena itu siklus tahunan saya. yang terang saya sekarang saya sudah bisa menikmati lagi sekelililng saya. Saya sudah bersemangat lagi untuk jogging sepanjang pantai. Saya sudah bisa menikmati lagi hal-hal kecil di sekitar saya lagi.

Ketika selesai dari meeting dengan client hari minggu yang lalu, hujan tiba-tiba turun dengan lebatnya. Angin kencang yang menderu-deru di tengah hujan menambah kesan seram. Perut saya lapar dan kafe plus tempat makan di sekitar kantor klien saya itu nggak ada yang buka. Sepertinya mereka sudah kebanyakan duit. Ketika saya asyik melamun dan imaginasi saya sudah kemana-mana, saya dikejutkan oleh dua orang anak kecil yang datang menawarkan payung. Wow, di tengah hujan deras berangin begini, dua orang anak perempuan datang menawarkan payung. Pandai sekali mereka melihat kesempatan ya? Mereka tahu sekali apa yang dibutuhkan oleh calon konsumen pada saat-saat seperti ini. Walaupun di Jakarta ini hal biasa, tapi buat saya ini menakjubkan melihat dua bocah perempuan menembus huan untuk menyambut kesemptan mendapatkan uang. Apalagi tempat saya berdiri ini sepi dan lumayan jauh dari main street. Akhirnya saya memutuskan untuk memakai jasa mereka.

Terdorong oleh rasa penasaran, saya membuka obrolan dengan anak perempuan yang memayungi saya. saya hanya perlu bertanya nama dan di mana dia sekolah. Setelah itu tanpa sungkan sedikitpun dia bercerita kepada saya tentang sekolahnya, tentang pelajarannya. Dia juga bertanya kepada saya apa pekerjaan saya, di mana saya tinggal, kok bisa sampai di kota ini. Dia juga meminta saya lebih merapat karena air hujan membasahi backpack saya. Nampaknya anak ini cukup cerdas. Perjalanan menuju jalan utama sambil menahan payung supaya tidak diterbangkan angin menjadi begitu mengasykkan mendengarkan celoteh anak kecil ini.

Kita banyak melihat pengamen cilik di jalanan. Tapi pernahkah kita berpikir kalau mereka itu sebenarnya calon entertainer kalau diarahkan degan baik? Di saat anak-anak lain harus didorong untuk pede tampil di depan umum, para pengamen cilik sudah tampil di depan ribuan penonton. Kita sering melihat pedagang asongan cilik yang lantang menawarkan dagangannya, tapi pernahkan kita berpikir bahwa mereka sedang merintis jalan mereka untuk berbisnis. Di tengah usaha para orang tua untuk menanamkan nilai kemandirian dan bisnis kepada anak-anak mereka, mereka sudah berpraktik di dunia nyata.

Mereka hanya perlu disuntikkan motivasi dan pengetahuan tentang apa yang tengah mereka kerjakan. Kita hanya perlu mendukung mereka dengan menitipkan mimpi besar dalam pekerjaan mereka. Karena bisa jadi si pedagang tidak tahu bahwa yang dilakukannya adalah bagian dari berbisnis. Siapa tahu si tukang payung cilik itu adalah salesman jasa yang gemilang di masa yang akan datang. Siapa tahu si pengamen adalah entertainer ulung nantinya. Itulah yang saya suntikkan kepada Eva, nama gadis kecil tukang payung yang melindungi saya dari basah kuyp karena hujan sore itu. Dalam percakapan singkat saya, saya menanamkan motivasi dan mimpi kepadanya. Dengan bahasa anak-anak tentunya.

Monday, January 10, 2011

Padang 3# Simple Box of Happiness

I am kinda man who is very simple. I always take whatever I find instead of whining and expect something that hard to find. I have the simple thought of what is beauty and what is pleasure. Lucky me, these mindset make me be a very adaptable man. Dealing with my recent job, it's very helpful. My jobs required me to be ready to relocate to some different cities in a month or two. Kinda job that I had been dreaming of when I was a student.


 

Two recent months I was relocated to two different cities which are very different each other. One is a metropolitan wannabe city, and another is a city with no fancy café or big malls to escape when I feel tired as I do in my previous town that I have been living in for years. However, I was amazed. I find myself enjoy the living in the no big mall city as same as in the metropolis city. The two cities have their own interesting side, at least based on my paradigm of what is interesting.


 

The Metropolis wannabe has its complete facilities that you need. You'll find yourself easy to transport everywhere with the comfort transportation. When you miss your favorite original delicacies from your own hometown, you'll easily get it available because they open the restaurant with the same taste and even atmosphere with the own you have in your hometown. With the franchise system, it's easy to find your favorite black pepper steak you usually have for your dinner in your hometown. The no big mall and fancy café city won't provide you that easy access and delicacies place to escape, but I find its different interesting side. I amazed when I found myself can do no whining because I couldn't find the good coffee shop with the widescreen home theaters and a cozy sofa. I find that the full decorated 'angkot' is very interesting. I feel that having city tour by that 'angkot' and uproar town bus very interesting. The seashore which is located just a few minutes ride from the central of city is a place to enjoy the very magnificent sunsets. When I need to fulfill the adventure instinct of mine, I'll ride away heading to the rural area which is lies a few kilometers away from my place. No need to ask people to get there. Using a mountain as a spot guide, I'll randomly take the way which is heading there. After getting once or twice lost, I found myself surprised with the green view and clear as a glass river. The nature atmosphere quickly fills my soul and be the fuel for me to continue my-full-of-works-days.


 

I never can stand to see the water. I always want to get myself jumping and swimming, or at least let my feet steeped into the cold fresh water. In my recent wandering to Lubuk Minturun, a clear watered river in suburban area of Padang, I spent five hours to swim in the streams. It was hard flowing streams which take you hundred meters away in a minute. I also tried to jump from the high edge as many little kids did. At first, I thought it was a piece of cake. However, when I got in the tip of edge and looked down the stream water, I felt my heart throbbed quicker. It took more than twenty minutes for me to gather all my bravery to jump down there. I knew, it was only water down there, so no problem if I jump. I also knew, these kids found themselves fine after jumping. No matter how much I tried to inject the logic into my brain it's still born down by my feeling. In the end, when I finally jumped, I addicted to try more. I enjoyed the moment when my bravery bore down my anxiety and took y body drifting from the edge into the stream.


 

Recently, I tried to explore the no big mall town more. After an exhausting week which full of many things to do, I invited my boss to do the city tour. I took him to try the 'angkot' and city bus. As we usually do, we had nice long English discussion along the way. People looked us as we are the stranger because we spoke in English. Actually, it was kinda marketing strategy we always use. In many cases it works. At first, we just wanted to visit the city's beautiful campus which lies on the highland miles away from the central of city. However, when we were wandering around that 'power rangers' quarter' we saw the narrow green valley which is split into two part by a river. My adventure instinct popped up. Without a map and clear direction, we started to walk down the hill of 'power ranger' quarter' went along the earthen path with the bushes in the sides. After 20 minutes, we found the village street and tried to walk along to the foothill. After about 45 minutes, we found a green rice field along the river sides with the green hills background. It was very refreshing to see these views. We kept walking until we arrived in the quit place with no human life but black stones in the middle of rivers. We directly found the big flat stone where we could lay down or body while enjoying our feet steeped in the slow flowing water. The wild tree with the shocking yellow flower above us guarded us from the sun's heat.


 

The symphony of flowing water, singing bird and blowing wind in the natural atmosphere took us into the deep sleeping. We woke up with very fresh body and soul when the afternoon came. We were ready to get back to our daily routine with fresh soul and new spirit.


 

The refreshing for me is that simple. A backyard view for me is magnificent. It depends on how I set my heart and paradigm. I don't really need a luxurious holiday with superb eateries and a cozy accommodation. It doesn't mean I don't want that kinda holiday. I want it but I do not require it for my refreshing. I always try to enjoy each place with its uniqueness without whining about something doesn't exist in my surround. Therefore, when my mother ask me about living in the new places whenever I'm relocated I always happily tell her how beautiful the place I live in.

Thursday, December 23, 2010

Padang 4# Padang in My Mind

I tried to look out of the aircraft window in my side. I wondered what kind of place that I will visit. Yes, I've learnt about this city from many books. I've googled the information for several times to make sure about the city. However, what I got in my mind was still blurring. What crossed in my mind was Siti Nurbaya, Sutan Takdir Alisyahbana, Agus Salim, Bunda Kanduang and many names that I got from the novel I had been reading when I was a child. The recent imagination about this city was related to the remarkable tourism place which is operated by the Italian; Cubadak Island. The Island I'm willing to visit during my stay in Padang. The view from the aircraft window was only the white cloud that was covered the land far down there.


 

Once the plane landed in International Airport of Minangkabau, I could see clearly the land outside. It was very different with the city I just left. I saw the green covered land surrounded by the forested hill. I was served with these tremendously beautiful views at my very first visit. Once I can directly conclude that the city is very beautiful with these natural landscapes. Yes, beautiful nature for me is a forest, hill and river.


 

It's proven when I was on the ride to the place where I stay now. I really enjoyed the ride along the way to the central of city. It was really different with the cities I had visited recently. I could feel the city would be very interesting. In addition, the people I met were very warm and friendly. It's kind of nice culture that Minang people have.


 

It didn't take a long time for me to adapt with the life here. Even I only knew little about 'bahasa Minang', it didn't take me to the 'lost in the city experiences'. It is very easy to get the information you need here. The people will gladly tell you the way home if you are lost. So, nothing to worry here.


 

Recently, I found my big pleasure in this city. I love to take the 'Angkot' wherever I go. It is not like the 'Angkot' I found in many cities in Indonesia, the old ugly public transportation that people try to avoid. Unlike the fact in other cities, Angkot in Padang is my favorite transportation. Whenever I needed the escape from my hectic job, I would directly head to the street and take Angkot to do the city tour. What I like is the good music, comfort seat and the artistic decoration. Sometimes, I thought that I got the ride from the gangsta black man driver that is figured in the Hollywood movie. The combination of good music, decoration, and speed driving make my imagination take me to the scene of Fust and furious movie. In some 'Angkot', I found the wide flat LCD screen which played Justin Bieber or Akon video. And in one lucky day, the driver played me Lady Gaga's songs along the way in my city tour. With what I've found, there is no reason not to enjoy the living in this city.


 

Monday, December 13, 2010

Padang 2# Angkot; Lady Gaga

Dalam setiap trip ke suatu kota, hal pertama yang saya lakukan adalah mencari informasi sedetail-detailnya tentang angkutan umum kota tersebut. Informai yang saya butuhkan sih seputar tariff angkot, rutenya kemana saja dan cara menyetop angkotnya seperti apa. Selain itu saya juga akan bertanya apakah aman bertanya kepada supir angkot bila kita ingin ke suatu tempat. Saya butuh informasi detail seperti itu biar saya mudah pergi kemana-mana walaupun saya tinggal bilang sama tim saya di sini dan aya akan diantar kemana-mana. Tapi untuk urusan jalan, saya lebih suka suka jalan sendiri tanpa merepotkan orang lain. Pasalnya saya suka jalan kaki lama-lama, duduk diam di sebuah warung pinggir jalan sambil menikmati suasana sekitar dan hal-hal sepela lainnya yang sering diprote oleh teman jalan saya. Selain itu dengan mempunyai informasi yang lengkap anda tidak akan kelihatan seperti orang asing di sebuah tempat yang baru. Peluang anda untuk ditipu orang pun semakin kecil.


 

Walaupun saya sudah mengumpulkan informasi lengkap seperti tadi, biasanya saya masih juga nyasar. Tapi selama itu nyasar di tengah kota dan bukan di tengah hutan Amazon, saya sih oke-oke saja. Hitung-hitung bisa melihat tempat yang baru. I don't really buy malu bertanya sesat di jalan. Di kota yang baru kita kunjungi menurut saya banyak bertanya berarti siap-siap ditipu. Kalaupun bertanya saya memilih bertanya kepada bapak polisi atau ibu-ibu.


 

Kesukaan saya memakai transportasi umum membuat saya tahu beberapa hal yang sangat mencolok tentang angkot dan bus kota. Perbedaan yang paling mencolok adalah masalah kenyamanan, interior dan eksterior serta kesopanan pengemudi angkot. Supir angkot di Malang misalnya. Mereka cukup ramah namun angkotnya sangatnya sangat sederhana dan dengan warna biru yang membosankan. Rute angkot di Malang ditandai dengan huruf-huruf besar yang merupakan singkatan dari rute angkot tersebut. Yang lucu adalah di Balikpapan dan beberapa kota di Kalimantan Timur. Mereka menyebut angkot dengan sebutan Taxi. Begitu juga di Papua.


 

Nah, naik angkot yang paling menyenangkan menurut saya adalah di Kota Padang. Hari pertama sampai di kota itu saya langsung menjajal angkot sendirian. Angkot di sini sangat eye catching. Eksteriornya penuh ditempeli stiker-stiker dan tulisan seperti yang ada di mobil-mobil rally di F1. Kebanyakan angkot di sini dimodif sehingga menjadi ceper seperti mobil balap. Setiap rute mempunyai warna berbeda yang keren-keren. Ada yang berwarna pink yang hampir ke ungu. Orange, putih, dan biru. Saya suka banget yang berwarna pink dan putih. Badan mobil penuh. Sebagian lagi badan mobilnya ditutupi oleh gambar seperti yang ada di wallpaper computer. Ketika angkot-angkot ini sudah beriringan di jalan makin mirip dah sama mobil-mobil rally.


 

Begitu masuk ke dalam angkot, saya takjub mendapati interiornya yang luar biasa. Tempat duduknya nyaman dan bersih dengan posisi menyamping saling berhadapan. Seatnya tidak penuh berdesakan sehingga menciptakan ruang yang lapang yang membuat penumpang merasa nyaman walaupun angkot penuh. Seat depan yang ditempati pak supir lebih keren lagi. Posisinya dibuat lebih rendah daripada seat penumpang. Sandaran kursinya tinggi dan empuk seperti kursi kantor.


 

Yang paling keren menurut saya adalah pernak-pernik aksesoris yang melekat dalam angkot. Aksesoris yang paling dasar dan dipunyai oleh semua angkot adalah audio canggih yang super stereo. Biasanya perangkat audio itu terdiri dari satu buah speaker aktif yang besar dan 3-5 speaker aktif kecil di setiap sudut. Perangkat tadi tersambung ke pemutar audio (Mp4) yang semuanya menggunakan USB. Si supir tinggal mememncet remote control, music pun mengalun. Di beberapa angkot yang saya naiki bahkan dilengkapi dengan monitor layar datar Samsung 17 inci. Di angkot yang lain lagi dilengkapi dengan kamera CCTV yang di pasang di dashboard angkot. Biasanya angkot jenis ini menjadi rebutan anak-anak sekolah. Semua aksesoris itu dilengkapi dengan lampu-lampu dan botol-botol yang ditata dengan artistik sehingga menyerupai bar mini atau music room. Biasanya semua pernak-pernik tadi masih dilengkapi dengan aksesoris-aksesoris seperti yang saya lihat di mobil-mobil black men di film-film Hollywood. Hoho…saya tidak tahu nama-nama aksesoris itu karena pengetahuan saya akan otomotif jongkok banget.


 

Nah, aksesoris sudah oke, perangkat audio sudah keren. Bagaimana dengan musiknya? Hampir semua musiknya gue banget. Anda tidak akan mendapati music dangdut apalagi koplo. Ini Padang men! Kalaupun ada music daerah, ya lagu minang. Tapi saya nggak masalah. Telinga saya sangat menikmati lagu-lagu minang walaupun saya tidak tahu artinya. Tapi yang paling banyak diputar adalah music-musik hip-hop, electric pop , brit pop dan hip-hop yang menghentak. Makanya, mbak Lady Gaga, Uda Akon, Bang Usher, Mas Ne-yo dan Bang Craig David menjadi top hits di sini. Musik-musik keren dengan audio canggih tadi membuat anda merasa berada di sudut sebuah club. Malahan lagu-lagu yang menjadi ost. Drama Korea kerap terdengar. Kalau anda mau, anda juga bisa request kok. Saya pernah diputarin lagu-lagunya Mbak Lady Gaga sepanjang jalan gara-gara saya minta dia untuk replay lagu "Let's Dance".


 

Setelah saya pikir supir angkot di sini sangat customer oriented. Mereka tahu bagaimana memanjakan konsumen (angkot). Berbeda dengan bus-bus dan angkot di Jawa yang walaupun tertulis excecutive class/Patas, musik yang diputar adalah dangdut koplo group Palapa yang termasyhur itu. Padahal penumpangnya kebanyakan anak-anak muda. Malahan saya tahu lagu-lagu baru ketika saya naik angkot. Nggak perlu mantengin acara music di TV buat tahu lagu-lagu baru. Cukup mutar-mutar naik angkot saja.


 

Kalau supirnya bagaimana? Kebanyakan mereka masih muda dan tampil keren macam anak-anak gahul itu. Dari rambut ke kaki tertata apik. Sepertinya mereka sangat menikmati profesi mereka. Walaupun fitur wajah orang di sini gahar-gahar, ternyata mereka sangat sopan. Mereka akan memanggil anda dengan uda dan uni dan tidak segan-segan memberi bonus senyum lima jari.


 

Selama di sini, saya sudah mencoba 3 jenis angkot, dan saya paling suka angkot warna putih dengan rute pusat kota-Basko Mall. Desain eksteriornya keren-keren mulus. Interiornya juga keren-keren. Saya masih penasaran ingin mencoba naik angkot warna pink yang kelihatannya chic banget itu. Nah, kalau anda ke Padang, jangan ragu-ragu untuk naik angkot. Asyiknya pool pokoke!


 

Kalau anda, pengalaman naik angkot anda seperti apa? Cerita juga dong tentang angkot di kota anda!


 


 


 


 


 


 


 

Padang-Palembang Trip-Accross the Sumatran Jungle

Melintasi rimba Sumatera dahulu hanyalah imaginasi hasil bacaan buku-buku yang saya baca ketika masih kanak-kanak. Tapi sekarang saya benar-benar sedang di atas bus yang menyususri jalan lintas sumatera bagian barat. Melewati hutan, daerah pertambangan, lahan-lahan pertanian para transmigran membuat saya tidak tidur sepanjang siang sampai petang sejak berangkat dari Padang. Pemandangan di luar jendela terlalu sayang untuk dilewatkan. Sambil melayangkan pandangan menembus kaca jendela bus sesekali saya mengobrol dengan ibu-ibu Padang yang duduk di barisan kursi di samping saya. Sementara Adri, salah seorang tim yang saya bawa dari Padang, terlelap di kursinya sejak tadi.


 

Ada satu daerah berhutan sebelum Dharmasraya yang membuat saya berdecak kagum. Jalanan yang dilewati oleh bus diapit oleh dua bukit tinggi yang menyisakan lembah sempit yang cukup untuk jalan raya di bawahnya. Saya merasa sangat kecil seperti terhimpit dua bukit dengan hutan lebat itu. Sungai-sungai berair jernih mengalir searah dengan jalan yang dilewati bus.


 

Selain karena pemandangan hutan dan alam di luar jendela bus, ada satu hal yang membuat saya suka memandang ke luar. Saya selalu penasaran untuk tahu nama daerah atau desa yang saya lewati. Inilah beberapa nama daerah yang saya lintasi yang mampu saya rekam sebelum malam menjelang dan saya terlelap bersama deru mesin bus; Solok-Sawahlunto-Sijunjung-Muara Langsat-Kambang Baru-Kiliran Jao-Sungai Kambut-Pulau Punjung-Sungai Dareh-Jambi-Banyuasin-Palembang.


 

Penumpang bus yang saya tumpangi ini sebagian besar adalah para perantau dari Padang ke Jakarta. Apa yang digambarkan oleh film 'Merantau" itu ternyata tepat sekali. Masyarakat Minang punya tradisi untuk merantau.ibu di samping saya misalnya, beliau akan ke Jakarta untuk mengantarkan anaknya yang diterima bekerja di sana sekaligus mencari peluang untuk melebarkan usaha rumah makannya di Jakarta. Wuih…otak bisnis benar.


 

Setelah sekitar 19 jam melintasi bagian barat pulau Sumatera, jam 7 pagi saya sampai di kota Palembang. Di jemput Mr. Agung, manajer kami untuk cabang Palembang saya diantar ke penginapan. Wuih…., 19 jam di atas bus mengingatkan perjalanan mudik saya semasa mahasiswa dulu. Bedanya, kalau saya mudik bus yang tersedia banyak dan semuanya eksekutif. Jadi nyaman. Sedangkan bus yang saya naiki sekarang memang judulnya eksekutif. Di tiketnya juga tertulis begitu. Apalagi di Jawa bus ini memang bercitra ekslusif. Citra ekslusif itu langsung luntur ketika mendengar alunan music yang mengalun dari audio bus. Campursari men..!!


 

Aduh nggak di Jawa, nggak di Sumatera kok music ini melulu sih. Kok bukan Musik Minang atau Musik Melayu? Bukannya apa-apa, melintasi rimba Sumatera dengan iringan music campursari rasanya nggak nyambung banget. Feelnya nggak dapat! Kalau sedang melintasi jalur Pantura sih emang pas banget. Bolak-balik kuping saya mati rasa mendengarkan cengkokan genit penyanyi campursari yang diputar dalam volume maksimal itu. Kalau lagunya "Stasiun Balapan" atau "Terminal Tirtonadi" sih hati saya masih bisa ikut berdendang. Bahkan mungkin saya akan ikut bersenandung walaupun suara saya ini ngepas banget. Pas banget hancurnya maksud saya. Tapi kan kalau ditutupi suara Mas Ndidi Ngempot (iku ejaan Njowone acene koyok ngene kan yo rek yo?) itu suara saya pasti akan kedengaran bagus juga kan?


 

Kalau tadi Citra ekslusifnya luntur, sekarang pupus sama sekali. Apa pasal? Gimana nggak pupus kalau kenyataannya saya duduk dalam bus tapi kok di samping saya ada air terjun mini yang terus menetes sampai airnya mengalir. Benar sih saya suka alam dan sekarang sedang melintasi hutan Sumatera, tapi ya mbok air terjunnya jangan ikut dibawa-bawa masuk bus. Saya memang suka belajar dengan gaya visual, tapi kalau untuk ini kayaknya pengecualian deh. Rupanya, ada masalah dengan AC bus EKSEKUTIF ini. Atau mungkin AC itu singkatan dari 'Air crut…crut..!' ya?


 

Overall, perjalanan saya dengan bus EKSEKUTIF ini sangat menyenangkan. Seru malah. Tapi ada satu lagi yang mengganjal. Ketika malam hamper turun, bus berhenti di Sungai dareh untuk memberikan kesempatan buat penumpangnya mengisi perut. Karena mudik naik bus sudah menjadi tradisi saya, maka saya menganggap fasilitas bus eksekutif di mana saja sama. Makanya ketika sydah duduk di kursi rumah makan Padang itu, saya makan dengan tenangnya sambil menggenggam tiket di tangan. Anggapan saya adalah makanan kita ini adalah bagian dari pelayanan bus eksekutif itu. Saya baru tercengang ketika penumpang-penumpang yang lain satu-persatu menuju kasir setelah menyantap hidangan mereka. Oalah…, BDD toh? Bayar Dewe-Dewe! Padahal dari malang ke Bali yang harga tiketnya Cuma 80 rebu aja kita dapat jatah makan malam loh. Untunglah saya membawa uang cash yang cukup.


 

Tips:

  • Perjalan darat melalui jalan lintas Sumatera patut dicoba. Apalagi buat anda yang punya jiwa jalan-jalan terutama jiwa backpacker. Selain lebih murah daripada harus naik pesawat yang semuanya transit di Jakarta terlebih dahulu, anda punya kesempatan buat melihat kehidupan Suku Kubu (dari dalam bus tentunya, kecuali anda mau singgah dan menjadi santapan mereka. Nggak ding….! Mana ada orang yang nyantap orang di era digital kayak gini selain Sumanto?).


 

  • Bus yang khusus melayani rute Padang_palembang tidak ada. Yang ada hanyalah bus dengan Rute Padang-Jakarta-Bogor, Solok-Jakarta-Solo-Ponorogo-Banyuwangi-Padang Bai (ujung timur P. Bali) dan sebagainya. Tapi jangan khawatir, anda bisa menumpang bis-bis tadi dan minta turun di Palembang karena memang dia akan berhenti di sana untuk menaikkan penumpang. Bus berangkat dari Padang pukul 10 pagi setiap harinya. Bus EKSEKUTIF yang saya naiki itu harga tiketnya Rp. 245.000,-.


 

  • Berhubung ini perjalanan panjang melintasi hutan, pastikan tubuh anda dalam kondisi fit. Siapkan perbekalan minuman dan makanan ringan secukupnya. Jangan lupa membawa buku bacaan. Kalau tidak anda akan mati garing, terutama buat anda yang menganggap hutan, sungai dan gunung itu bukan pemandangan indah. Siapkan juga mental anda, karena begitu meninggalkan kota Padang, bus anda akan terseok-seok melewati jalanan berkelok mendaki yang sempit. Kadang-kadang bus akan berhenti di tanjakan dengan susah payah untuk memberi bus yang lainnya untuk lewat. Jadi, bersiap-siaplah untuk senam jantungJ


 

  • Sebenarnya ada pilihan lain. Anda bisa naik travel dengan armada Avanza atau Innova. Cukup membayar Rp. 300.000,- anda bisa sampai lebih cepat dibandingkan naik bus. Selisih waktunya sekitar 6 jam. Dari Padang jadwal berangkatnya jam 3 sore dan tiba di Palembang pukul 5 atau 6 pagi.


     

  • Pastikan membawa bacaan karena 'bingkai' keindahan versi anda belum tentu sama dengan yang saya miliki. Mungkin saja anda akan bosan melihat pemandangan hutan melulu.


 


 

Nah, bagi anda yang ingin mencoba, have nice trip deh!


 


 


 

Mabok Masakan Padang di Padang; Helepp….! Ada Makanan lain G sih?!

Apa makanan favorit anda? Kalau jawabannya adalah masakan Padang, saya sangat sedih. Berarti tidak ada yang merasakan penderitaan saya soal makanan di sini. Alah…! Lebay lo Rik!


 

Oke, jadi begini ceritanya. Sejak meninggalkan kota malang untuk tugas kerja ke Pontianak , pilihan makanan saya sangat terbatas (kecuali waktu lebaran kemarin ding!). Waktu tinggal di pontianak, ketika saya ingin makan yang mengenyangkan dan affordable buat kantong saya yang kembang kempis ini, pilihan bijak yang paling tepat adalah makan di warung Padang. Porsinya gue banget pokoknya! Selain itu bumbunya pas banget tidak seperti makanan di warung bahkan restoran lain yang cenderung hambar. Selama di Pontianak, makan masakan Padang bagi saya aman-aman saja walaupun tidak terlalu aman buat kantong.


 

Masalah dengan masakan Padang baru saya rasakan ketika meninggalkan Pontianak. Mentang-mentang akan ke Padang, saya sudah disambut langsung oleh masakan padang ketika masih berada di Jakarta. Waktu itu saya lagi jalan dengan investor SBS Cabang padang di daerah pasar Minggu. Beliau mentraktir saya makan siang masakan padang ful menu di sebuah warung padang di sana. Saya sih oke-oke saja karena memang perut saya minta diisi.


 

Begitu tiba di Padang pun saya juga langsung dibawa ke warung Padang. Nah, disni mulai terasa aneh. Kenapa masakannya asin dan berasa kunyit banget? Ah, mungkin kokinya masih muda dan ngebet kawin sehingga masakannya keasinan. Keesokan harinya ketika mau sarapan (lebih tepatnya makan pagi), saya berjalan kaki keluar komplek untuk memenuhi tuntutan perut saya.


 

Aha…! Di depan sana saya melihat gerobak bertuliskan tiga kata yang mencolok; Lontong, Gulai, Pical. Mata saya langsung berbinar membaca kata gulai. Saya agak-agak fetish dengan kata gulai. Liur saya langsung terbit. Setengah berlari (lebay banget!) saya menghampiri mak pemilik gerobak yang tengah dikerumini oleh pembeli yang mayoritas adalah gadis-gadis (well, I don't really know whether they are 'gadis' or not. However, since I'm a good boy, let's set positive thinking and consider them as 'gadis') muda yang kelihatannya sih mahasiswa kos-kosan.


 

Ketika giliran saya, dengan pede saya langsung menyerukan pesanan saya. Maklum saya ini rada-rada kepo. Jadi nggak perlu pake nanya-nanya dulu.


 

"Lontong Gulai Pical Mak (you have to call mak for every old woman here!)!"


 

"Apa dek?


 

"Lontong Gulai Pical Mak! Ulang saya lebih keras lagi.


 

Si Emak mengerutkan dahi. Tapi ia tetap mengambil piring dan menyiapkan makanan buat saya. Panggilan si Emak yang menyodorkan piring berisi makanan membuyarkan lamunan saya yang sedang membayangkan enaknya makan lontong sama gulai pical. Namun bayangan saya itu dibuyarkan oleh sepiring lontong yang bercampur pecel yang disodorkan si emak ke meja saya. Otak jenius saya langsung menganalisis. Hmm…pical. Saya mengurungkan niat saya untuk protes dan minta gulai karena saya sudah menyimpulkan kalau pical itu sebutan orang minang untuk pecel. Sekali lagi saya rada kepo. Jadi tidak perlu lah saya bertanya kepada si Emak. Rupanya tiga huruf tadi adalah pilihan. Lontong dengan pecel atau Lontong dengan Gulai.


 

Akhirnya saya yang baik ini (berbakat congkak. Astaghfirullahal adhim) dengan penuh syukur ke Tuhan Yang Maha Pemberi Rizki menerima kenyataan bahwa di depan saya adalah sepiring lontong dengan pecel dan membuang jauh-jauh nama gulai pical yang ternyata tidak eksis itu. Tapi saya masih penasaran dengan ingin merasakan makan lontong gulai. Pasti enak banget lah rasa si gulai ini. Rasa penasaran saya itu saya wujudkan ketika makan siang. Saya langsung memasuki lepau (sebutan untuk warung nasi) dan memesan lontong gulai (again karena saya kepo, nggak perlu lah bertanya dulu). Dan anda tahu apa yang tersedia di hadapan saya? Sepiring lontong dengan sayur berkuah dengan bumbu kental! Mata saya mulai mencari-cari kalau saja ada potongan daging diantara potongan nangka muda yang seperti mengejek saya itu. Nihil! Saya tidak menemukan sepotong daging pun. Akhirnya karena saya masih tetap anak yang baik seperti yang ibu saya bilang, saya menyantapnya dengan penuh rasa syukur (backsound; Opick: Syukur).


 

Sambil menyantap 'gulai' itu dengan penuh rasa syukur (suara Opick kembali mengalun), Saya teringat ke sebuah novel favorit saya waktu kanak-kanak dulu. Judulnya 'Hutan Keramunting di Bukit Kecil'. Salah satu adegan di novel itu yang saya ingat adalah ibu si Ipul menyediakan gulai daun Singkong yang lezat (waktu membaca buku itu, saya ikut terbawa dan membayangkan gulai daun singkong itu pasti enak sekali). Berdasarkan ingatan saya akan buku masa kanak-kanak saya itu, saya menyimpulkan kalau orang di sini pasti menyebut gulai untuk lauk berkuah yang berbumbu. Sekali lagi, karena saya rada kepo, saya nggak perlulah tanya ke orang sini. Slap me because I'm kepo!


 


 

Sejauh Mato Memandang, Kulihat Masakan Padang Udo!


 

Rasa-rasanya saya mulai diserang sindrom MMPKRIYLMTHR (Mabok Masakan Padang karena Itu Yang Lo Makan Tiap Hari). Bukannya saya tidak bersyukur atas apa yang ada, tapi kalau makan makanan Padang setiap hari kan bikin mabok juga. Ya, cari pilihan lain dong Erik cakep! Saya sih sudah mencoba berkeliling mencari makanan selain nasi Padang. Tapi mentok-mentoknya saya pasti akan ketemu nasi goreng dan lontong gulai juga. Sampai ketika saya mengunjungi Sijunjung (kota kecil denganjarak 2 jam dari Padang kalau ngebut, pilihan saya hanyalah lontong gulai itu.


 

Saya juga sudah tanya ke teman-teman saya di sini. Ada nggak sih makanan yang mengenyangkan selain nasi Padang, nasi goreng dan varian Lontong tadi? Jawaban mereka sih nggak ada. Padahal sebenarnya ada kok. Ada KFC, ada restoran steak yang nun jauh di mato, ada sea food di pantai Padang sana dan ada pecel lele (setelah saya lihat bentuknya sih bukan pecel lele tapi lalapan lele) di dekat Kedokteran Unand. Tapi itu kan nun jauh di mato udo! Masak iya setiap waktu makan saya harus ganti angkot beberapa kali plus jalan kaki? Lagipula, I'm not a type of men who like to have kinda junk food even they say it's fancy. Fancy dari Hongkong!


 

Apa kabarnya si warung nikmat di Malang sana? Kedai Assalamu 'alaikum sedang ngapain ya? Hello, waroeng steak n shake, how are you? (efek dari MMPKRIYLMTHR membuat saya mnceracau begini).


 

Tapi salut deh sama masakan Padang. Masakan in bisa ditemui di hamper semua belahan dunia , bukan hanya Nusantara. Di Belanda kabarnya banyak restoran Padang. di negerinya Om Obama juga banyak. Di tempat onta berkeliaran juga eksis katanya. Di negerinya Abang Rhys Meyer juga da kok nasi Padang. Artinya, masakan padang adalah masakan yang bias diterima oleh semua lidah penduduk bumi. Artinya lagi, suku Minang itu suku perantau alias eksodus dan bias meberikan pengaruh kepada orang lain. Ayo, tepuk tangan buat udo-udo, uni-uni, inyiak-inyiak dan datuk-datuk di sini!


 

Aduh, just forget my whining deh! Sebenarnya saya sudah mulai cinta masakan padang kok. Ayo kita sama-sama bernyanyi bareng Mas Opick. Satu, dua, tiga!


 

Bersyukur kepada Allah….


 

Bersujud sepanjang waktu…


 

"Eits…jeng Dee, Jeng Osya, pake suara satu dong! Suara mas Opick cukup saya yang mewakili"!


 

"Nah, jeung Ridho dan Jeung Sunu, cukup jadi backsound aja!!


 

"Oke, kalau Mas Radhen, bolehlah ikut suara saya. Suara sampeyan cukup mengimbangi suara saya kok! Mas Iqbal juga boleh gabung!"


 

Nah, gitu dong. Ayo kita mulai lagi…!


 

Bersyukur…bersyukur…bersykur…


 

Eng…., maafkan saya. Saya lupa teksnya.