Showing posts with label Pendidikan Tinggi. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan Tinggi. Show all posts

Wednesday, April 8, 2015

Pendidikan Tinggi Indonesia di Pasar Internasional?


Abad Asia 2050 dan ASEAN Single Community 2015 akan membawa pola hubungan negara di wilayah ASEAN ke dalam hubungan yang sama sekali baru. Bukan hanya negara-negara di wilayah ASEAN sebenarnya, tetapi juga wilayah di sekitar regional ini seperti Australia dan Selandia Baru. Pada tahun 2013,  Australia bahkan sudah menerbitkan white paper yaitu sebuah naskah yang berisi strategi Australia dalam menyambut tantangan abad Asia 2050. Dalam dokukmen tersebut, Australia benar-benar menempatkan  ASEAN sebagai partner kerjasama regional yang penting. Hal ini bisa dimaklumi. Walaupun secara geografis Australia berada di dalam kelompok negara-negara Melanesia, tetapi dalam percaturan ekonomi, Australia lebih dekat dengan negara-negara ASEAN.

White paper  tersebut diturunkan ke dalam dokumen lain yang tidak  kalah menarik buat saya; Indonesia; Country Strategy. Dokumen ini berisi tentang strategi  dalam hubungan kerjasama dengan Indonesia.

“Each strategy outlines a vision of where Australia’s relationship with the country should be in 2025 and how we, the Australian Community, intend to get there (Indonesia Country Strategy: 2013)

Dalam bidang pendidikan, salah satu strategi  Australia dalam menghadapi tantangan tersebut adalah dengan menjadikan Bahasa Indonesia diajarkan sejak sekolah menengah. Dan tentu saja bukan rahasia apabila banyak universitas-universitas yang menawarkan program Studi Indonesia dan mendirikan research centre yang fokus mengkaji wilayah ASEAN dan juga Indonesia secara khusus. Kita mungkin juga familiar dengan program ACISIS yang mengirimkan mahasiswa-mahasiwa Australia untuk belajar tentang Indonesia langsung di  perguruan tinggi-perguruan tinggi di Indonesia secara langsung, lengkap dengan program-program lapangan dan research project yang langsung bersentuhan dengan masyarakat Indonesia. Bukan hanya Australia, sebenarnya mata negara-negara di dunia tengah tertuju kepada negara-negara Asia. Semua mata tertuju padamu. All eyes are on you.

Kota tempat saya berada saat ini pun, Yogyakarta, diramaikan oleh mahasiswa asing yang hanya khusus datang untuk belajar bahasa Indonesia, maupun belajar tentang politik dan pemerintahan di Indonesia. Bahkan, di Fakultas Bisnis kampus tempat saya kuliah, setiap semester selalu ada sekitar 50 orang mahasiswa yang datang untuk belajar  di sekolah bisnis untuk satu  semester maupun lebih. Tujuan mereka bermacam-macam. Mahasiswa dari Cina dan Korea yang biasanya banyak datang melalui program beasiswa Darmasiswa mungkin pemerintah mereka antusias mengirimkan mereka untuk belajar di Indonesia karena Indonesia adalah pasar yang besar untuk produk-produk mereka. Belajar langsung di negara yang menjadi pasar produk mereka tentu saja akan membuat mereka lebih mengenali dinamika pasar dari dekat. Sebuah aset masa depan.

Seorang teman dari Taiwan yang kuliah di Sekolah Bisnis di Beijing mengatakan dia dimotivasi oleh Bapaknya untuk datang belajar bahasa Indonesia di Yogtakarta untuk mempersiapkan kemungkinan ekspnasi bisnis IT keluarga mereka di Indonesia. Setelah dua semester di Yogyakarta,  teman Hongkong saya tersebut sudah memulai usahanya sendiri di Bidang Tour & Travel yang memfasilitasi para turis China datang ke Indonesia. Seorang teman yang lain lagi, mahasiswa master di Paul H. Nietze School of Advanced Internatioanal Studies, The John Hopkins University yang fokus belajar tentang keuangan internasional dan juga keuangan di Asia datang dua kali ke Indonesia. Yang pertama, dia datang khusus untuk belajar Bahasa Indonesia di Yogyakarta, yang kedua datang ke Jakarta untuk magang di perusahaan Malaysia yang beroperasi di Indonesia. Seorang teman yang lain lagi, berkewarganegaraan Portugal dan Brazil juga datang untuk belajar di sekolah bisnis di kampus saya selama satu semester, untuk mengenali atmosfir bisnis di Asia katanya. Bahkan dia berkongsi menulis paper tentang currency dalam ASEAN Single Community dengan seorang dosen muda di Fakultasnya. Itu akan menjadi nilai plus buat dia ketika terjun ke dunia kerja di Portugal sana, dia berwawasan “asia” dan siap membuat strategi bisnis perusahaan untuk pasar Asia, misalnya.

Percakapan dengan seorang teman Jerman lebih menarik lagi. Kami sedang berbincang tentang dinamika ASEAN Single Community sambil menikmati makan siang di kantin.Kami bercakap dalam bahasa Indonesia yang sangat formal, sesuai dengan KBBI, karena itulah standar bahasa yang diajarkan di sekolah bahasa tempat dia belajar di kota ini. Dia juga mengikuti perkuliahan di FISIP kampus saya.  Ketika pembicaraan menyentuh tentang Filipina, dia tidak punya banyak wawasan tentang negara tersebut. menurut dia, pemerintah mereka mungkin tidak menganggap negara tersebut “penting” dalam kerjasama internasional Jerman. Sebaliknya, Indonesia menurut dia adalah sebuah negara partner yang sangat penting.

Fenomena mobilisasi mahasiswa internasional ke negara kita tersebut sebenarnya menunjukkan bahwa demand untuk pendidikan tinggi di Indonesia sangat besar. Hal tersebut kemudian membawa saya kepada pertanyaan, sudah sejauh mana langkah yang dilakukan oleh Indonesia sebagai negara dalam merespon demand tersebut? Dalam hal visa misalnya, informasi yang menyelurus tentang pendidikan tinggi di Indonesia misalnya, dan hal-hal lainnya yang memudahkan mahasiswa tersebut untuk hidup di Indonesia, ataupun menarik mahasiswa lain di luar sana untuk datang dan belajar di Indonesia. Namun, dari hasil observasi dan wawancara yang dilakukan, belum ditemukan sebuah sistem terpadu yang memudahkan mobilisasi mahasiswa internasional ke Indonesia seperti website yang langsung mengarahkan mahasiswa internasional untuk mengetahui pendidikan tinggi yang ditawarkan oleh Indonesia.

Berdasarkan pengamatan saya terhadap teman-teman mahasiswa Internasional di sini, mereka sangat antusias untuk belajar di Indonesia walaupun dengan segala keribetannya. Mahasiswa dari belahan bumi lain tentu saja senang berada di negara tropis dengan nilai tukar mata uang yang lebih redah dengan mata uang mereka. Siapa sih yang nggak senang bisa kabur ke Bunaken untuk menyelam di akhir pekan. Siapa sih yang tidak senang menjelajah NTT yang eksotis itu di waktu kosong perkuliahan. Malahan, ada seorang teman mahasiswa asing lagi yang practically dia tinggal di Gili  Terawangan dan pantai-pantai di Lombok sana dan hanya terbang ke Jogja untuk mengikuti perkuliahan yang hanya dua hari. Ada low cost carrier ini! Belum lagi gunung-gunung yang menantang untuk didaki ada di mana-mana di negara kita ini. Dengan semua potensi keindahan alam tersebut, seharusnya bisa menjadi bahan marketing yang aduhai untuk menarik pemuda-pemuda benua sebelah tersebut berbondong-bondong belajar ke Indonesia. Belajar sambil menikmati alam tropis dan budaya yang eksotik!

Berbeda dengan Malaysia yang benar-benar melihat kesempatan “semua-mata-tertuju-padamu” itu dengan membuat portal informasi yang menawarkan mahasiswa internasional untuk belajar di Malaysia melalui www.studymalaysia.com, educationmalaysia.gov.my atau pemerintah Belanda yang mempunyai www.nuffic.nl. www.studyinholland.nl , bahkan sebuah institusi lengkap dengan website yang khusus untuk segmen pasar calon mahasiswa dari Indonesia di www. nesoindonesia.or.id. Sementara itu, negara tetangga di Pasifik juga gencar mentargetkan Indonesia sebagai pasar pagi pendidikan tinggi mereka (Autralian White Book: 2013).

Bagaimana dengan di level institusi Perguruan Tinggi? Seharusnya dengan semua sumber daya yang dimiliki, hal tersebut bisa dilakukan. Apalagi untuk perguruan tinggi yang berstatus otonom (PTNBH) yang mempunyai kewenangan memutuskan segala hal tanpa melibatkan pemerintah. Kewenangan yang dimiliki melalui otonomi perguruan tinggi seharusnya cukup untuk melakukan hal tersebut. Salah satu tujuan otonomi tersebut untuk membuat pengambilan keputusan menjadi cepat dan mudah bukan?

Dalam pola system thinking kasus ini bisa diklasifikasikan sebagai growth and under investment. Kondisi ini terjadi dimana sebenarnya sebuah institusi bisa mencapai target tertentu, sementara pengambil kebijakan (biasanya pemimpin) menunda mengambil keputusan besar yang drastis dan nyaman dengan keadaan biasa saja. Penundaan (delay) pengambilan keputusan tersebut tidak kelihatan dampaknya sekarang , tetapi dalam jangka panjang biasanya akan muncul sebuah akumulasi efek yang tidak menguntungkan institusi.

Kasus ini juga sama dengan kondisi Indonesia yang tengah menikmati bonus demografi dimana komposisi usia produktif populasi penduduk Indonesia lebih tinggi daripada populasi usia non-produktif. Kondisi ini hanya berlangsung sementara, yaitu sampai tahun 2020. Investasi kebijakan yang harus dilakukan oleh pemerintah atau siapa pun yang mempunyai kepentingan dengan fakta ini tentunya harus diambil saat ini. Dalam kasus investasi pendidikan yang hasilnya baru akan terlihat dalam jangka panjang, apabila kebijakan pendidikan di level negara, ataupun strategi organisasi di tingkat perguruan tinggi tidak diambil saat ini (seharusnya sudah dari beberapa tahun sebelumnya), menunggu lebih lama lagi tentu akan terlambat.


*Di sela-sela mengetik thesis, Bulaksumur, 8 April 2015

Friday, October 10, 2014

Catatan Akhir Kuliah 1: Seandainya Kampus Punya Juice Bar!

Saya memutuskan untuk mulia menulis lagi catatan-catatan kecil kehidupan saya menjadi mahasiswa di Yogyakarta Hadiningrat ini. Berhubung ini adalah menjelang masa akhir kuliah saya, saya akan menamakannya catatan akhir kuliah. Sebenarnya,  catatan ini juga adalah kebutuhan otak saya untuk refreshing dari menulis tesis yang saya inginkan rampung dalam tempo yang sesingkat-singkatnya ini. Begitulah.

Salah satu perkuliahan yang sangat berbekas di ingatan saya  dua semester lalu adalah perkuliahan Strategic Planning for Campus yang diampu oleh professor favorit saya. Profesor yang sudah sepuh ini fisiknya saja yang kelihatan sepuh tapi jiwanya masih muda. Kalau anda melihat gadgetnya maka mulai dari handphone, tablet dan laptopnya maka logo kinclong dari apel kecokot akan langsung nampak. Well, saya tidak sedang melabel bahwa muda itu identik dengan gadget canggih, tapi pemilihan brand beliau mewakilkan semangat anak muda; dinamis dan kreatif. Tapi, pada tulisan ini saya tidak sedang ingin membahas profil beliau. Saya akan bercerita satu tugas sederhana yang beliau berikan pada satu sessi perkuliahan kepada mahasiswa.

Pagi itu beliau meminta mahasiswa menuliskan satu ide tentang pengembangan fasilitas infrastruktur kampus untuk mendukung academic atmosphere. Mahasiswa bebas menuangkan idenya dengan prinsip singkat; what, why, dan how. Saya sendiri waktu itu menulis tentang bagaimana mengakomodir kebutuhan mahasiswa dengan menyediakan student lounge dengan konsep kafe, juice booth, dan convenient store di sudut-sudut strategis kampus. Semua berangkat dari pengalaman saya sendiri yang sangat kesulitan untuk mendapatkan makanan yang 'benar' dan kopi yang enak plus tempat yang nyaman untuk belajar dan bekerja di dalam kampus. Bayangkan kalau saya mempunyai jadwal kuliah jam 8 pagi sampai jam 4 sore dengan banyak waktu break diantaranya. Sangat tidak nyaman untuk keluar dari kampus hanya untuk sekedar mengisi tumbler kopi saya di Lagani atau harus menyeberang ke Pertamina Tower. Waktu yang saya habiskan untuk mengemasi tas dan barang bawaan, turun ke parkiran, menstarter motor, melewati checking di gerbang, terjebak macet, menunggu di coffee shop, kembali lagi ke kampus, terjebak macet, mencari tempat yang pas, membongkar barang dan mempersiapkan komputer, dan mulai kembali lagi menstarter mood untuk kembali belajar atau mengerjakan paper akan sangat banyak terbuang sia-sia. Dan tentu saja ada hambatan tak terduga yang muncul dalam perjalan tersebut. Misalnya, anda bertengkar dengan pengemudi yang menyebalkan di jalanan, ada makhluk bening yang membuat anda harus berhenti dan menyapa dulu, kemudian disambung dengan obrolan, atau mungkin kendaraan mogok di jalan.  Padahal bisa jadi ketika saya meninggalkan kampus untuk mendapatkan secangkir kopi itu, saya sedang dalam puncak mood untuk mengalirkan ide-ide saya ke dalam halaman-halaman iWork namun terputus karena kebutuhan perut atau mata saya yang harus didoping dengan kopi.

Kalau ada coffee booth di setiap sudut, saya bisa dengan gampang mendapatkan kopi saya tanpa membuang banyak waktu ataupun menurunkan mood kerja saya. Kalau ada juice booth, saya bisa mendapatkan fresh juice yang sehat dengan kualitas yang dikontrol oleh kampu. Bayangan saya, ada food & beverages commitee di kampus yang mengontrol standar dari makanan yang disajikan. Atau kalau saja kantin diseting dan dikelola dengan baik sehingga  menjadi pilihan prioritas mahasiswa untuk mendapatkan asupan nutrisi di kampus, mahasiswa akan semakin betah berkegiatan di kampus. Atau, kalau tidak mau repot, kampus bisa menggandeng chain coffee shop, juice bar, fruit bar atau milkbar yang tersebar di seantero Jogjakarta Hadiningrat dan mendapatkan sharing profit dari situ untuk menghindari keruwetan managemen dan resiko bisnis yang besar. Atau kalau mau profit maksimal tapi menanggung resiko bisnis besar, kampus bisa membuat manajemen sendiri untuk mengelola ini.

Kalau anda mengunjunhi kafe-kafe keren atau coffee shop hits di jogja, bisa dipastikan sebagian besar pengunjungnya adalalah mahsisiwa. Maka, ini saja sudah menjadi celah pasar yang besar. Belum lagi mahasiswa internasional yang diuntungkan oleh kurs mata uang mereka yang tidak keberatan untuk menghabiskan sekian puluh euro di kafe-kafe dan restoran di Jogja hanya karena alasan mereka butuh decent food, makanan yang sehat dan higienitasnya terjamin. Harusnya ini dilihat sebagai peluang oleh kampus sebagai usaha untuk menjaga kebutuhan nutrisi mahasiswa sekaligus sebagai peluang untuk mendapatkan profit. Well, membangun generasi itu kan tidak melulu aspek otak ya, tapi juga tubuh dan jiwa yang sehat juga. Kalau mahasiswa sehat, kehidupan akademiknya tidak terhambat.


Wednesday, November 6, 2013

Sit-in Class dan Student Mobilization; Unek-Unek Seorang Mahasiswa

Salah satu hal yang membuat peradaban manusia terus berkembang adalah karena adanya mobilisasi manusia baik itu antar kota, antar negara maupun antar benua. Mobilisasi ini kemudian menghasilkan interaksi, interaksi menghasilkan komunikasi dan pertukaran ide dan pada akhirnya mengarah kepada kerjasama.  Bayangkan ketika seandainya dulu Vasco da Gama tidak melakukan perjalanan dengan tim ekspedisinya (mobilization), maka belum tentu peradaban sebesar Amerika sekarang belum tentu ada. Negara ini pun kalau tidak ada mobilisasi orang-orangnya untuk mempelajari kelebihan peradaban negara lain yang lebih maju ataupun juga mengambil pelajaran dari negara yang terbelakang agar tidak melakukan kesalahan seperti negara tersebut, belum tentu Indonesia bisa berada pada posisinya yang sekarang ini.

Pergerakan ekonomi dan politik global membuat mobilisasi antar garis batas teritori semakin mudah dilakukan. Bahkan mobilisasi manusia tersebut menghasilkan kerjasama yang luar biasa seperti yang dilakukan oleh negara-negara Eropa yang membentuk Uni Eropa dimana bukan hanya mobilisasi antar negara yang semakin mudah tetapi juga kerjasama yang semakin tanpa batas. Bahkan mereka kemudian terhubung secara moneter dengan memakai satu mata uang tunggal yakni Euro. Secara regional Asia, kita pun akan menghadapi Asian community 2015 yang akan memberlakukan free transfers on goods and people.  Ada tiga kata kunci yang akan menjadi bahan cerita saya kali ini yaitu Mobilization, connectivity dan Cooperation.

Semua hal di atas tentu saja membutuhkan modal yang besar bukan hanya modal dalam arti sempit yang berupa uang tetapi terlebih mencakump modal manusia dan modal kebijakan. Modal manusia membutuhkan orang-orang yang berpikiran terbuka, melihat dengan perspective opportunity, dan bermental pembelajar. Ketika orang-orang mempunyai karakteristik tersebut mereka tidak akan menjadi orang yang takut dengan perubahan dan mencurigai hal-hal baru sebagai ancaman. Modal kebijakan menurut saya adalah kebijakan yang mengakomodir peluang, fleksibel dan deliberatif. Karakteristik kebijakan yang seperti ini akan menghasilkan peraturan yang tidak mengekang ide-ide baru dan menghalangi pergerakan perubahan.

Semester ini saya berniat mengambil SKS yang tidak terlalu banyak di program Master tempat saya belajar karena saya ingin mengikuti beberapa mata kuliah yang menurut saya sangat saya butuhkan untuk kompetensi saya ke depannya. Untuk itu saya berencana melakukan sit-in yaitu mengambil beberapa mata kuliah di program lain. Saya berniat mengikuti perkuliahan di program lain untuk kompetensi tersebut. Mata kuliah pertama yang ingin saya ikuti adalah Methodologi Penelitian, Analisis Kebijakan Publik dan konsep dan Isu Pembangunan. Mata kuliah yang saya inginkan tersebut tersebar di dua program Master berbeda di dua Fakultas yang berbeda pula. Untuk mata kuliah metodologi penelitian, saya beruntung saya bisa langsung bertemu dengan dosennya pada saat makan siang di kantin. Beliau sangat senang ketika saya mengutarakan keinginan saya untuk sit-in di kelasnya. Segera setelahnya saya bertemu dengan dengan pengelola program Master tempat dosen tersebut mengajar untuk membicarakan prosedur sit-in di program tersebut. Awalnya jawaban yang saya dapatkan adalah bahwa mahasiswa program studi lain bisa melakukan sit-in class di program tersebut dengan persetujuan pengelola. Saya segera menanyakan bagaimana prosedur untuk mendapatkan persetujuan yang menurut saya wajar karena ini hal formal. Akan tetapi pada akhirnya saya sangat kecewa karena setelah lama menunggu, jawaban yang saya perolah adalah bahwa saya tidak diperkenankan untuk melakukan sit-in di program tersebut dengan alasan bahwa sit-in hanya diperbolehkan bagi mahasiswa fakultas tersebut saja.

Saya akhirnya menuju ke Master Administrasi Publik yang mempunyai program master Kebijakan Publik. Sampai di sana, saya diterima dengan sangat ramah oleh bagian akademik yang mendengarkan pemaparan tentang rencana dan keinginan saya. Dia memang tidak memberikan keputusan saat itu karena ia harus membicarakan dengan pengelola program dan berjanji akan menghubungi saya secepatnya.

Benar saja, saya tidak perlu menunggu keesokan harinya untuk mendapatkan keputusan dari pengelola program Master Kebijakan Publik. Bagian akademik menghubungi saya sore itu ketika jam kantor hampir usai. Mereka menerima saya sebagai mahasiswa sit-in dengan beberapa ketentuan procedural. Ib ukepala bagian akademik malah mengatakan salut dengan usaha saya untuk self educating memenuhi pendidikan saya yang tidak bisa disediakan sepenuhnya oleh program master tempat saya belajar. Saya sangat terkesan dengan respon, keterbukaan dan keramahan mereka.

Menurut saya, fleksibilitas untuk bermobilisasi antar jurusan bahkan antar universitas sangat diperlukadengan alasan-alasan sebagai berikut . Pertama, dengan mempunyai mekanisme mobilisasi sebuah universitas memberikan kesempatan kepada mahasiswanya untuk belajar bidang yang di luar dari fokus bidangnya. Hal ini juga bisa membantu mahasiswa memilih untuk mengikuti mata kuliah tertentu yang sama dengan mata kuliah yang ada di jurusannya tapi dengan dosen pengampu yang berbeda yang lebih sesuai dengan pilihannya. Hal ini juga menjadi pilihan bagi mahasiswa yang mengulang mata kuliah tertentu tanpa harus menunggu beberapa semester sampai mata kuliah itu dipasarkan di jurusannya. Kedua, sistem mobilisasi seperti ini ketika diterapkan antar universitas bisa menciptakan kesetaraan dalam hal akses (equity access) terhadap kualitas pendidikan yang baik terhadap mahasiswa di Nusantara ini. Bayangkan berapa besar efek yang didapatkan oleh seorang mahasiswa Kebijakan Publik yang belajar di Universitas Nusa Cendana dengan mendapatkan kesempatan untuk mobilisasi satu semester di jurusan yang sama di Universitas Indonesia misalnya. Saya yakin dia akan mendapatkan pengalaman yang berbeda, cara pandang yang berbeda dan mungkin motivasi karena academic atmosphere dan kualitas perkuliahan yang dia dapatkan jauh lebih bagus daripada yang dia dapatkan di Universitas tempatnya kuliah. Ketika kembali, dia akan menginspirasi teman-temannya yang lain atau bisa jadi dia akan menjadi agen perubah di universitas tersebut. Ketiga, mobilisasi ini akan membuka sekat-sekat ekslusifitas bidang ilmu yang selama ini masih melekat. Dalam tantangan global seperti sekarang ini, perkembangan ilmu pengetahuan semakin inter-disipli (inter-disciplinary) dimana hubungan antar bidang keilmuan membuat seseorang tidak cukup hanya mengusai bidang keilomuan yang menjadi fokusanya saja tapi juga fasih berbicara dalam konteks bidang keilmuan yang lain. Apalagi syarat untuk menjadi expert dan  pemikir zaman ini seseorang dibutuhkan untuk menjadi lebih general. Artinya, kita membutuhkan seorang spesialis yang berwawasan global, seorang ahli pendidikan yang tidak buta ekonomi, kebijakan, dan politik, seorang ahli ekonomi yang mengerti pendidikan dan biodiversity dan sebagainya.


Mungkin luapan pemikiran saya dalam tulisan ini masih sangat emosional sehingga sedikit ruwet. Tapi pada intinya, kita harus terbuka dan fleksibel atau dengan bahasa yang lebih spesifik menghilangkan sekat-sekat yang membatasi seseorang untuk belajar dan mengembangkan interestnya di bidang keilmuan yang dia inginkan.   Saya sendiri sangat merasakan keuntungan sit-in mengikuti perkuliahan Analisis Kebijakan Publik yang sangat membantu saya memahami sisi kebijakan dari bidang keilmuan yang saya pelajari karena semua yang dijalankan dalam pendidikan Tinggi yang menjadi fokus perkuliahan saya adalah produk kebijakan publik.