Saturday, November 26, 2011

Alchemist, Banana Pancake, Personal Calling dan Bali


Pelan-pelan saya mengunyah banana pancake di mulut saya. Menu ini selalu menjadi pilihan menu utama saya ketika sedang berada di Bali. Bahkan kali ini saya mencombo banana pancake dengan scramble eggs, toast, fruit salad plus coffee au lait. Kalau saja abang saya, Christian saat ini ada di sini pasti dia sudah ngedumel sambil meledek porsi makanan saya. Dia pasti akan menggenggam pergelangan tangan saya sambil bilang ‘ you eat so much, but it doesn’t  influence your body at all. Where do all these food go?”. Biasanya saya akan tersenyum lebar sambil terus menyantap makanan saya dengan lahap.

Sesekali  saya menyelingi suapan pancake saya dengan coffee au lait yang kata abang saya menjadi lait au coffee karena saya mencanpur susu terlalu banyak.  Saya sangat betah berlama-lama di restoran ini. Selain harganya yang sangat terjangkau, hobi iseng saya terakomodir di sini. Ada banyak hal yang bisa saya komentari dari ramainya orang yang lalu-lalang di jalan kecil di depan restoran. Kadang  saya tersenyum, kadang kening saya berkerut karena berpikir dan kadang saya miris dengan apa yang saya lihat. Selain orang yang berlalu lalang, tidak ada perubahan yang berarti di jalan sempit tempat restoran favorit (karena murah dan enak) saya ini berada. Selama hampir lima tahun saya duduk di tempat ini paling tidak dua kali setahun. Dan dalam 4 bulan ini melonjak menjadi sepuluh kali. 

Toko-toko dan kios penjual souvenir di depan dan samping restoran masih sama seperti minggu lalu sebelum saya balik ke Malang dan kembali lagi ke sini, bulan lalu, dua bulan yang lalu, 7 bulan yang lalu dan 4 tahun yang lalu. Gadis-gadi yang menawarkan jasa pijat juga masih sama meneriakkan “Hello, massage please!” yang terkadang lesu. Kelesuan yang tercipta karena low session karena wisatawan tidak membludak seperti biasanya, yang artinya mereka harus berjuang lebih keras untuk menggaet pelanggan.

Memperhatikan semua itu membawa pikiran saya pada satu pertanyaan. Apakah mereka tidak bosan menjalani rutinitas yang itu-itu saja selama bertahun-tahun? Well, mungkin tidak itu-itu saja karena saya tidak tahu apa yang mereka lakukan di rumah mereka. Dari pandangan nanar gadis-gadis pemijat kepada wisatawan yang keluar masuk toko dan restoran, otak sok tahu saya bia menangkap sebenarnya mereka bosan dan ingin menikmati suasana berlibur seperti mereka dan juga saya. atau juga memimpikan bisa bertukar posisi dengan para wisatawan itu. Mereka menjadi wisatawan dan bule-bule itu menjadi penjaja jasa pijat seperti mereka.

Saya percaya bahwa sebenarnya semua orang mempunyai mimpi yang tinggi dan ideal untuk dirinya masing-masing. Buktinya, coba tanyakan kepada anak-anak TK atau keponakan anda yang sedang lucu-lucunya. Pasti mereka semua mempunyai cita-cita. Dan saya yakin kita semua pernah di sana, bergembira dengan cita-cita tinggi kita yang sepertinya akan mudah saja diraih. Itu sebelum terkontaminasi oleh pengaruh pesimisme terhadap realitas hidup dan prejudice orang-orang dewasa di lingkungan sekitar kita.

Cita-cita kita pelan-pelan terkubur karen akita diberitahu bahwa tidak semua yang kita inginkan akan tercapai. Kita diingatkan untuk tidak bercita-cita ‘terlalu tinggi’ karena akan menyiksa diri kita sendiri. Kita disuruh untuk melihat si Budi anak tetangga sebelah yang pernah bercita-cita tinggi  tapi sekarang stress karena cita-citanya tidak tercapai. Akan tetapi kita tidak disuruh untuk menengok si Iwan anak tetangga sebelahnya lagi yang sukses mampus dan berbahagia karena konsisten mengejar cita-citanya.

Lama-kelamaan cita-cita itu terkubur semakin dalam karena kita takut dengan konsisten mengejar cita-cita kita akan menyakiti orang-orang yang kit acintai; keluarga, sahabat, ataupun kekasih yang hatinya terpaut dengan hati anda. Padahal seharusnya cinta adalah energi. Kalau saya, saya yakin bahwa orang-orang yang saya cintai akan bahagia melihat saya bahagia karena saya menggapai mimpi-mimpi saya.

Paulo Coelho dalam novel fenomenalnya, Alchemist, menggambarkan dengan indah bahwa semua orang mempunyai keinginan yang disebut “personal calling”. Personal Calling adalah cita-cita atau keinginan setiap manusia seperti yang saya ceritakan tadi. Orang yang setia mendengar personal calling-nya akan menggapai personal legend; kejayaan dan kebahagiaan. They live happily because they live their life to the fullest”. Since they did all their best to achieve what they really want, they have nothing to regret.

Ada banyak orang yang mengubur personal callingnya dan berpikir bahwa penerus keturunannya bisa merealisasikan mimpi itu. Maka muncul lah orang tua yang memaksa anaknya masuk sekolah tertentu dan kuliah di jurusan tertentu untuk menggapai mimpi itu. Padahal anak-anak mereka bukan robot, mereka mempunyai personal callingnya masing-masing. You can put them in the best school in the town, but they have their own toys and interest.

Tugas orang tua adalah member masukan dan pertimbangan atas pilihan anak dan mensupport si anak jika apa yang di aimpikan memang hal yang positif.  Jangan sampai unrealized willing anda dibebankan kepada orang lain. Realisasikan sekarang selagi anda masih bisa. mumpung anda masih punya energy dan polusi pesimisme belum mencemari karena bisingnya suara-suara prejudice di sekeliling anda. Listen your heart, follow your personal calling!

Senada dengan “the Secret”, Melalui Achemist, Paulo Coelho juga mengatakan “ when you really want something, all the universe conspires in helping you to achieve it”.
Kopi di cangkir saya sdah habis. Banana pancake sudah tandas. Gadis-gadis pemijat masih berteriak “Hello massage”. Saya semakin yakin untuk mengikuti personal calling saya. Saya tidak ingin ketika saya tua nanti, saya mengutuk hidup saya karena berhenti berusaha merealisasikan “personal calling” saya.

PS:
Maaf, saya jadi terkesan menggurui. Mungkin karena efek kebanyakan makan banana pancake

Bali, 20 November 2011

5 comments:

  1. really good posting mr. you explain and write it so well. IMHO :p
    inspiring me! :D

    ReplyDelete
  2. Thanks:)
    I think I know what's your personal calling:)

    but what's IMHO?

    ReplyDelete
  3. haha! baru liat ada balasan comment :p

    hu'Uh mr, you know exactly what my personal calling is. I have told u. Wish me get it, would u?! :)

    IMHO=in my humble opinion
    as mr abdur said last meeting..hehe

    ReplyDelete
  4. All the door will open if you open it:)
    I'm praying for your wish

    waaa, I'm totally out-dated!

    ReplyDelete
  5. aaakkk..saya suka sekali dengan buku Alchemist, membuat kita jadi memikirkan ulang makna hidup dan bersemangat untuk mendesain kembali mimpi. Blog yg menyenangkan dengan kesederhanaannya, cheers..

    ReplyDelete

Whaddaya think?