Thursday, August 19, 2010

Pontianak 2# Ke Kantor Naik Pelampung

Pagi-pagi sekali saya sudah berbaur dengan para penduduk pontianak yang sudah memenuhi jalan berkendara ke berbagai tujuan di kota ini. Ada koko-koko dan cici-cici yang berboncengan menuju pasar. Sayuran dan buah segar hasil tangan dingin dan kerja ulet para chinese petani (di sini lebih dikenal dengan istilah "Cina kebun") tampak tersususun rapi di lapak-lapak pinggir jalan. Di seberang jalan sana saya melihat sekeluarga Chinese berpakaian rapi sedang menyetop bus jurusan Pontianak-Serawak. Bus eksekutif dengan tujuan Brunei Darussalam juga tampak melaju dari arah jembatan. Pedagang pakaian second hand mulai menata dagangannya menyambut para pembeli. Semua tampak sibuk. Di atas boncengan Honda Win 100 yang melaju perlahan saya merekam semua aktifitas di sekeliling saya dengan antusias. Kemacetan segera saja terjadi akibat dari kendaraan yang memadati jalan dengan berbagai macam tujuan itu.


 

Membayangkan kemacetan yang akan terjadi sepanjang jalan menuju seberang (sebutan untuk pusat kota yang memang berada di seberang sungai), Ridho segera saja membelokkan motor ke arah pinggir sungai. Untuk menghemat waktu, kami akan naik Ferry saja ke seberang. Memang lebih hemat, karena menyeberang dengan ferry hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Satu kendaraan dikenai Rp. 4.000 sekali naik ferry. Sedangkan kalau kami harus melewati jalan darat, waktu tempuhnya lebih lama arena harus memutar dan melewati dua jembatan panjang. Belum lagi kemacetan yang biasanya mengular ditambah dengan pengendara sepeda motr yang sangat tidak kenal rambu-rambu lalu lintas. Serobot sana-serobot sini dan berbelok seenaknya tanpa memberi tanda.


 

Dari atas ferry saya bisa lebih leluasa memperhatikan semua aktifitas di sungai yang menjadi jalur pelayaran nasional ini. Rumah-rumah kapal dengan penghuninya yang sedang sibuk beraktifitas pagi; madi dan mencuci dari atas kapal mereka. Para laki-laki chinese dan abang-abang melayu eksotis memenuhi 'anjungan mandi' dengan tubuh hampir telanjang. Anjungan mandi adalah sebutan saya untuk bangunan semacam dermaga kecil yang terbuat dari kayu sebagai tempat warga pinggi sungai melakukan aktifitas mandi dan mencuci. Anjungan speed boat yang sedang tertambat di pinggir sungai pun tidak luput menjadi tempat seorang perempuan melakukan aktifitas yang sama dengan kaum lelaki tadi.


 

Sementara itu perahu-perahu motor tempel seukuran perahu dayung bolak-balik mengantar penumpang yang ingin berbelanja ke pasar yang terletak di pinggir sungai di seberang sana. Hmm...saya ingin sekali mencoba naik perahu seperti itu menyusuri sungai ini.


 

Istana Qadariyah, istana kesultanan Pontianak tampak berdiri megah di atas tanggul tepat di persimpangan sungai Kapuas. Atap khas rumah melayu yang dimiliki mesjid istana tampak mencolok sekali terlihat dari anjungan ferry tempat saya berdiri. Sebuah tempat mengendalikan pemerintahan yang sempurna untuk sebuah peradaban sungai di masa lampau. Menurut sahabat saya, Ridho, kita bisa menyewa perahu-perahu motor kecil yang banyak tertambat di sepanjang sungai ini untuk river tour sepanjang sungai ini. Dan biasanya, para pengunjung memasukkan istana Qadariyah sebagai salah satu menu river tour ini.


 

Merapat ke dermaga kecil di seberang, saya langsung disambut oleh bangunan-banunan tua yang semakin mengokohkan ketuaannya dengan lumut-lumut yang menepel di tembok rumah. Begitu juga dengan rumah-rumah kapal dengan penghuninya yang tampak sedang bersantai menikmati pagi. Kapal yang merapat langsung disambut oleh arus penumpang yang ingin ke seberang.


 

Ternyata, di balik gedung-gedung tadi membujur jalan raya yang mengubungkan pelabuhan dengan pusat kota dan bagian-bagian lain kota ini. Dengan berkendara sebentar, sampai lah saya di kantor.

"Naik apa kesini Mr. Erik?"

"Naik Ferry"

'Ooo...naik pelampung!

"hah..???


 

Woalah, ternyata pelampung itu sebutan oarng-orang disini untuk kapal ferry. Padahal kapalnya sebesar ferry yang menghubungkan banyuwangi dan bali loh. Masih baru pula. Tidak seperti ferry Ketapang-Gili Meno yang tua seperti kaleng rombeng itu. Yah, begitulah. Hari pertama ke kantor, saya naik pelampung!

No comments:

Post a Comment

Whaddaya think?