Monday, September 5, 2011

Melepasmu Pergi

Suasana perpisahan tengah mewarnai. Seandainya ia mempunyai bau,pasti aromanya semerbak bersama hembusan angin sore ini. Aku tidak perlu berusaha keras menginderainya. Ia telah menyapa semua inderaku,bahkan ia telah menghujam ke dalam dada. Mencipta getarigetar pilu. Ia menstimulasi kelenjar air mata sehingga air bening itu perlahan-lahan menganak sungai di pipiku.

Perpisahan selalu menyisakan kesedihan bagiku. Apalagi bepisah dengan kamu. Kamu yang begitu istimewa. Kamu yang begitu luar biasa. Kepergianmu menyisakan sesak di dadaku. Sesak karena aku begitu menyesal. Menyesal karena aku merasa belum maksimal bermesraan denganmu. Menyesal karena terkadang aku mengabaikannmu dan mementingkan yang lain. Aku ingin memelukmu erat dan tak membiarkanmu pergi. Aku ingin mencumbumu lebih mesra. Aku ingin berbaring lebih lama dalam pelukanmu. Aku ingin menghabiskan malam yang lebih panjang bersamamu. Lebih panjang dan lebih mesra.

Tercenung aku memandangi lembayung sore ini. Jingga yang biasanya mempesona sekarang terasa sendu. Sebentar lagi aku harus melepasmu bersama senjakala. Aku tidak bisa berjanji untuk tidak menangisimu.

Kamu bilang kamu akan kembali menemuiku. Tapi tetap saja aku bersedih. Masalahnya aku tidak yakin akan bertemu denganmu lagi. Aku hidup atas kuasa yang mengendalikanku. Aku tidak memegang kendali atas diriku. Ada yang lebih kuat di atas sana.

Sebelum kau benar-benar pergi. Bergegas aku meninggalkan jendela yang memantulkan cahaya jingga. Kubasuh muka, tangan dan kakiku. Merasakan kesegaran air yang mengaliri anggota tubuhku, sebersit harap menguat di dadaku. Aku harus melepasmu dengan cara terbaik kekasihku.

Perlahan aku bersimpuh merendahkan diri dengan ketulusan yang luruh bersama air mata. Aku luruh dalam untaian-untaian indah surat cinta-Nya. Tersendat di waqaf-waqaf pemberhentian. Dari satu waqaf ke waqaf lain aku terus melaju. Inilah cara terbaik yang kupikir untuk melepasmu.

Aku memohon kepada-Nya untuk dipertemukan lagi denganmu. Aku memohon kesempatan untuk bisa bermesraan lagi denganmu. Dalam tangis kutumpahkan segala sesal. Dalam tangis aku memohon dengan sangat. Dalam kelemahan diri aku bersimpuh dan melepaskanmu pergi bersama pendar cahaya jingga sore ini. Segenggam asa di dadaku untuk pertemuan yang lebih baik lagi kekasihku.

Temui aku tahun depan Ramadhanku.
Happy Ied everybody.

Sambori, 29 Agustus 2011

1 comment:

  1. Semoga kita masih di pertemukan dengan Ramadhan yang akan datang.Mohon Maaf lahir bathin

    ReplyDelete

Whaddaya think?