Monday, November 11, 2013

#Cerita Jogja: EB Cafe; Academic Atmosphere di Langit Jogjakarta

Pic is taken from EB Cafe's twiiter account; @EB_cafe

Kuliah Prof. Sofyan Effendi hari ini kosong. Kabarnya beliau masih sakit. Saya tetap berangkat pagi-pagi dari rumah. Tujuan saya pagi ini adalah Pertamina Tower lantai 8. Dari majalah FEB, saya dapat informasi kalau di sana ada coffee Shop yang cozy. Dengan kemeja denim biru vintage dan celana Chinos merah marun, saya bergegas ke Pertamina Tower setelah memarkir sepeda motor. Jalan aja deh, nggak sempat ambil sepeda.

Sempat nyasar karena saya salah mengingat lantai tempat Coffee Shop ini berada. Begitu pintu lift terbuka di Lantai 8, hidung saya langsung menangkap aroma khas kesukaan saya. Aroma kopi. Sontak bibir saya melengkung kan senyum. Otak saya bersorak kegirangan. Saya selalu mengalami ‘trance’ ketika mendapati hal-hal yang saya sukai sekali. Kadang-kadang hal-hal simpel. Coffee Shop yang bagus, sudut nyaman di perpustakaan, lagu bagus di headset ketika bersepeda mengejar kuliah, pantai favorit saya di Bali sedang lengang dan kursi favorit saya di samping jendela darurat pesawat tersedia. Sesederhana itu.

Saya terbelalak ketika melihat ruangan coffee Shop di hadapan saya. Para barista, sofa cozy di sudut ruangan, papan bertuliskan kapur, taman kecil di tengah-tengah dengan lampu taman, halaman rumput dengan batu kali yang ditata di pinggirnya. Otak saya langsung merespon dengan membawa memori saya ke Bali. Owh, I really Miss Bali now. And when I Miss Bali, it must be you in my Mind! Yes, it's you, blue eyes!

Saya tidak sempat bersama-lama larut dalam kerinduan saya dengan Bali karena pendangan yang tersaji di hadapan saya benar-benar spektakular. Well, saya belum pernah berada di bangunan tertinggi di kota ini. Makanya, melihat pemandangan lepas ke seluruh penjuru Jogja dari dinding kaca dan jendela kafe ini begitu membuat saya takjub. Gunung Merapi di sebelah utara tampak menjulang dengan separuh badannya tertutup kabut. Bangunan-banguan padat yang berujung di pegunungan sebelah selatan menciptakan perspektif di otak saya bahwa kota ini tidak terlalu besar. Ia kota kecil yang vibrant dan berjiwa yang denyutnya dipompa oleh nuansa akademis dari berbagai perguruan tinggi yang tersebar di penjuru kota, ia dihidupkan oleh denyut-denyut kegiatan seni di berbagai sanggar, galeri, kafe-kafe, komunitas dan keseharian penduduknya. Ia adalah pusat beradaban tua, peradaban Jawa. Sekilas dari ketinggian ini saya melihat kota ini seperti sebuah kuwali yang pinggirannya adalah gunng-gunung dan bukit-bukit. Melihat sebuah kota dari atas langit seperti ini membuat kita seolah berkuasa dan mengendalikan. Rasa yang banyak menghanyutkan manusia sehingga menjadi sewenang-wenang.

Puas melayangkan pandangan ke seluruh penjuru Jogja, saya segera memesan secangkir Vanilla latte. Sejujurnya, saya tidak terlalu mempedulikan rasa kopi di hadapan saya karena saya lebih tertarik dengan apa yang ada di sekeliling saya. Mahasiswa-mahasiswa muda yang tengah asyik berdiskusi atau sekedar mengobrol melepas penat dari perkuliahan yang padat, seorang mahasiswa asing berambut pirang yang tengah asyik dengan diktat kuliah, beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang tengah seru berdiskusi sambil sesekali menyeruput minuman, para barista yang bercakap-cakap ramah dengan beberapa pelanggan yang diselingi suara lengkingan atau bas barista yang meneriakkan pesanan yang sudah siap,  dan pelanggan yang bolak-balik menuju bar mengambil pesanan mereka. Ini adalah suasana sempurna yang saya inginkan dari sebuah cafĂ© di kampus. Setidaknya, saya merasakan atmosfer sebuah kampus modern meruap di tempat ini.

Menciptakan academic atmosphere tidak melulu melaui pertemuan antara mahasisw dan dosen dalam sessi kuliah. Malahan public space yang asyik seperti ini di mana para akademisi bertemu dengan tidak formal dan terlibat dalam percakapan santai kan melahirkan ide-ide yang mungkin akan menjadi proyek yang dikerjakan bersama. Proyek research misalnya. Pertemuan kelas yang formal apalagi jika suasana yang tercipta tidak interaktif dan kaku hanya akan mengekang otak sehingga ide-ide kreatif tidak tercetus. Saya malah membayangkan kafe ini membuka booth-booth di setiap fakultas atau tempat mahasiswa beraktifitas seprti perpustakaan dan sekretariat UKM where people can easily grab their morning coffee while rushing for the next class or their first class in the morning. In certain extent, caffeine is really healthy. Believe me! Tentu saja variasi menu seprti fresh juice, cocktail, dan buah segar juga bisa menjadi pilihan alternatif bagi yang tidak suka kopi. And yes, real cake please!

Memperhatikan pengunjung beserta atributnya menjadi keasyikan tersendiri buat saya. Memperhatikan apa yang mereka kenakan, gadget yang mereka tenteng, dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Tentu saja saya menginginkan sepatu boot yang dipakai mahasiswa yang duduk sendiri di sudut dekat bar itu. Saya juga senang melihat paduan busana yang dikenakan oleh gadis dengan rambut teruai sebahu yang tertawa lepas di meja dekat taman.


Matahari mulai meninggi. Udara sudah terlalu hangat untuk dinikmati. Saatnya menuju ke kelas selanjutnya. Saya bersemangat karena merasa amat senang menemukan salah satu sudut lagi yang menjadi favorit saya di kampus ini. Sepertinya, saya akan sangat mudah untuk menyukai kampus ini.l mudah-mudahan itu juga membuat saya mulai menyukai Jogja. Tempat ini akan menjadi salah satu saksi perjuangan saya menuntut ilmu di kota ini.  

*Catatan awal masuk kuliah tahun lalu yang terselip di antara file-file paper dan bahan kuliah*

2 comments:

  1. Wah, jadi ingat dulu pernah sekali ke tempat itu. Pengen lagi menikmati pemandangan Gunung Merapi dari jauh disaat cuaca sedang cerah :)

    ReplyDelete
  2. wahh sudah lama nih nggak main ke cafe academic atmosphere

    ReplyDelete

Whaddaya think?