Wednesday, September 28, 2011

A journey; Finding What I Love and What I Really Want



Duduk bersandar di sofa kafe ini, saya menerawang mencoba menyatukan titik-titik yang telah saya lalui dalam hidup. Titik-titik yang mengantarkan saya pada saya yang sekarang; seorang laki-laki muda seperempat abad yang masih gelisah mengejar mimpi-mimpi. Gamang pada kenyataan. Namun, saya tetap mencoba untuk melihat ke depan dan menggapai apa yang seharusnya saya gapai.

Bukan satu kali ini saya merasa gamang dan stuck seperti ini. Ini yang ke sekian kalinya. Bahan sebelum-sebelumnya saya pernah tenggelam dalam galau yang amat dalam dengan deraian air mata yang saya coba lampiaskan dengan berbagai cara. Kalau saja saya hdup dengan pikiran mainstream nan bersahaja, saya seharusnya merasa sangat bahagia dan tenang dengan apa yang saya dapatkan dan saya jalani dalam hidup saya sekarang. Saya hanya merasa galau dan merasa harus berada dalam satu titik dalam hidup saya yang sudah saya impikan sejak dulu.

Saya tidak tahu, apakah Tuhan memang mengumpulkan orang galau dengan orang galau lain. Tapi mungkin memang begitu. Atau saya harus percaya pada law of attraction; galau menarik galau yang lain, orang galau menarik orang galau yang lain. Sahabat saya ternyata tengah merasakan hal yang sama. Seorang sahabat yang telah saya anggap sebagai saudara atau lebih tepatnya soulmate.

Dalam rangka mengusir galau, kami sepakat untuk bersekutu dalam sebuah perjalanan backpacking extreme kea rah timur Indonesia. Kami tidak tahu kami akan mencapai titik sebelah mana. Tapi kami sudah bulat untuk melakukan perjalan dengan sepeda motor mencoba menyelami makna hidup, melihat permasalahan dari sisi berbeda. Seperti kata para ahli strategi; ketika mempunyai masalah, keluarlah dan coba lihat permasalahan dari luar.

Sebenarnya tidak harus keluar dengan melakukan perjalanan, tapi hasil obrolan dan curhatan kami, kami harus melakukan perjalanan untuk membicarakan hidup kami, masa depan kami, mengevaluasi ulang langkah-langkah kami dan melihat kembali titik-titik yang telah kami lewati untuk dihubungkan menjadi sebuah peta perjalanan yang lebih memandu. Kami akan membicarakannya di cafĂ©-kafe di tepi pantai di Bali mungkin. Atau di atas pasir di Lombok. Atau mungkin di atas puncak sebuah bukit di Sumbawa. Kami sengaja tidak merencanakan perjalanan yang detail; kami hanya akan berjalan semampu kami ke   arah timur. Perjalanan ini mungkin tidak dramatis seperti film Eat, Pray and Love. Tapi rangkuman perjalanan ini adalah dalam kerangka topic; I’ve got to find what I love and What I really want!

Insya Allah, dalam perjalanan kami, kami akan mengupdate melalui social media dan blog kami masing-masing. 

Tuesday, September 27, 2011

Mengurus Passport; Siapa Bilang Petugas Imigrasi Ribet?


Akhirnya saya punya juga kesempatan untuk mengurus passport setelah tertunda beberapa kali. Dokumen pelintas batas ini akan membawa saya menjadi warga global, warga dunia. Saya memilih untuk mengurus passport di kota kelahiran saya karena memang di KTP saya masih tercantum sebagai warga Kabupaten Bima. Selain itu, bertepatan dengan libur super panjang yang saya ambil dalam rangka lebaran. Dimana itu Bma? Googling deh.

Begitu sampai di Bima, saya baru tahu kalau di kota tercinta saya itu tidak ada kantor imigrasi. Kantor imigrasi adanya di Mataram dan yang terdekat di Sumbawa dengan jarak tempuh 7 jam naik bus. Oh tidak!

Dengan menghibur diri bahwa saya akan menyaksikan pemandangan indah sepanjang jalan Bima-Sumbawa dan keinginan kuat untuk memegang passport, saya pun berangkat ke Sumbawa dengan diringi doa dan cucuran air mata dan bekal seadanya (oke, itu lebay!).

Ternyata rencana yang saya buat tidak sesuia dengan di lapangan. Seharusnya berangkat jam 6, saya dapatnya bus jam 10. Dengan hitungan di otak saya, berangkat jam segitu pun saya masih bisa mengurus passport hari itu juga.tapi sekali lagi, realita berbicara lain. Saya baru sampai di Kota Sumbawa ketika sore menjelang dengan cahaya remang-remang dari balik semak-semak. Aduhh..! bakalan nginap deh. Belum juga berurusan dengan ribetnya kantor imigrasi, saya sudah harus ribet aja nyari tempat nginap di kota antah berantah ini.

Telfon sana-telfon sini, ternyata saya tidak perlu menginap di hotel karena saya punya keluarga di sini. Menguhbungi family dan keluarga di saat butuh doang adalah hal yang amat sangat pragmatis. Jadi, jangan ditiru. Akhirnya, saya menginap di rumah paman saya yang ternyata jaraknya cuma sekoprolan saja dari kantor imigrasi.

Keesokan paginya, saya sudah rapi jali berdiri di depan kantor imigrasi. Sengaja rapi jali karena saya sudah tahu bakalan berurusan dengan petugas imigrasi yang katanya ribet. Jadi, saya tidak mau menambah masalah di penampilan. Mainstream saja lah.

Begitu mau melangkahkan kaki ke pintu kantor, saya dicegat oleh dua lelaki sekaligus. Hey! Saya memang menarik, tapi ngantri duonng! (halah!). Rupanya mereka calo yang mau menawarkan bantuan. Dengan sangat baiknya meraka langsung meraih dokumen-dokumen saya buat diperiksa. Eits…tampang kayak lo, nggak boleh nyentuh-nyentuh dokumen gue. Tapi tentu saja saya tidak ngomong seperti itu. Bisa digebukin nanti. Yang saya lakukan adalah tersenyum ganteng lima jari dan bilang;

“terima kasih bapak-bapak yang kumisnya menakutkan (oke tiga kata terakhir itu nggak masuk). Saya akan mengurus sendiri”

Wajah manis bapak-bapak tadi berubah menjadi asem banget! Mereka ngedumel dalam bahasa Sumbawa yang lagi-lagi saya balas dengan senyuman. Tapi saya bertekad, itu adalah senyum terakhir yang saya berikan pada mereka. Tidak sudi aku!! Tapi rupanya dua bapak itu tidak rela, dia malah mengoper saya ke temannya yang menyerupai petugas (berseragam) di dalam kantor imigrasi. Akhirnya, karena bingung yang mana bagian informasi dan yang mana calo, saya minta bertemu dengan kepala bagian yang ngurus-ngurus passport (lupa namanya).

Ketika bertemu dengan bapak kepala bagian itu, saya menjadi tenang. Si bapak tersenyum ramah dan menanyakan keperluan saya. saya pun bercerita kemuadian bertanya calo-calo itu legal? Saya menyampaikan kalau saya tidak ingin ‘dibantu’ oleh mereka. Akhirnya si Bapak, memeriksa kelengkapan dokumen saya dan celaka!

Ternyata mereka mensyaratkan adanya surat pengantar dari orang tua, kampus atau kantor. Setelah berpikir sebentar, saya menyanggupi untuk melampirkan surat rekomendasi kantor. Saya segera menelfon sahabat saya Ridho yang masih ngantor dan juga Kak Dian. Saya minta tolong kedua-duanya untuk membuatkan surat rekomendasi dan minta dikirimkan melalui fax.

Nah, masalahnya sekarang mau cari tempat menerima fax di mana? Ah, tenang ada tukang ojek. Dengan bantuan tukang ojek, saya sampai di kantor Telkom yang mempunyai layanan faximile. Dan tenang saja, tukang ojek dan umumnya penduduk kota Sumbawa itu ramah-ramah banget kok. Calonya aja yang asem.

Setelah kering menunggu di dengan pemandangan customer service bertampang nan jutek itu, akhirnya surat rekomendasi sampai di tangan. Segera meluncur kembali ke antor imigrasi. Saya melangkahkan kaki di bawah tatapan sinis calo-calo yang ‘bantuannya’ saya tolak.
Sebelumnya saya membaca alur pembuatan passport dan ketentuan-ketentuannya yang terpampang besar di tembok. Oh, jadi passport 48 halaman biayanya Cuma Rp. 255.000 dan passport dengan jummlah halaman di bawah itu lebih murah pula.
saya menuju ke loket penyedia formulir. Saya mengambil formulir dengan gaya bahwa formulir itu memang gratis. Tapi kemudian saya berdiri bimbang. Yang saya baca di internet, map berisi formulir itu gratis, tapi petugas biasanya minta uang administasi. Petugas di depan saya juga kelihatannya bimbang. Dengan bodohnya saya bertanya;
“gratis kan?
“bayar mas. 30 ribu!
Ya sutralah ya. Makan itu 35 ribu!
Setelah saya buka map, terpampanglah tulisan besar-besar; FORMULIR INI GRATIS, TIDAK DIKENAKAN BIAYA APA PUN!
Halah! Harusnya saya tidak boleh bimbang.
Setelah mengisi formulir saya menyerahkan ke loket dan bertanya berapa lama saya harus menunggu. Si petugas blang Cuma 1 jam.
Oke lah kalau begitu!
Satu jam menunggu, saya dipanggil untuk scan sidik jari dan wawancara plus membuat pas foto. Satu lagi yang meleset dari informasi yang saya dapat di internet. Ternyata fotonya nggak boleh bawa sendiri. Padahal saya sudah foto ganteng pake jas rapi kemarin.

Yang judulnya wawancara ternyata Cuma obrol-obrol singkat mau kemana dan untuk apa sambil menanda tangani passport. Dan informasi yang membuat saya shock adalah ketika petugasnya bilang; silahkan datang untuk mengambil passport anda 4 hari lagi.

Waduh, bisa berabe ini. Bagaimana mau kembali 4 hari lagi kalau saya harus kembali ke Malang dua hari lagi? Petugasnya bilang pengambilannya bisa diwakilkan. Tapi, saya merasa kepalang tanggung. Sudah repot biar repot sekalian. Kalau bisa selesaikan hari ini juga deh.

Setelah berbagai alasan cantik nan rasional, salah seorang petugas wanita dengan senyum manis bersedia mengusahakan passport saya jadi hari itu juga. Saya mgotot mau selesai hari tu juga karena saya melihat dengan mata kepala saya sendiri ada yang passportnya langsung jadi seketika. Dengan pelicin sejumlah lembar rupiah tentunya.

Si Mbak baik hati itu dengan amat menyesal mengatakan tidak bisa membantu saya setelah bolak-balik ke berbagai ruangan mengusahakan passpot saya bisa diambil seketika. Saya hampir menyerah dan akan mewakilkan pengambilan passport kepada paman saya.

Tapi seberkas ide menyinari otak saya menjadi eureka! Saya menelfon abang saya dan minta untuk menelfon om saya yang pernah di Imigrasi propinsi dan sekarang ada di imigrasi Jakarta. Rupanya sang paman cepat tanggap dan merekomendasikan beberpa nama.

Dengan pede, saya minta bertemu dengan beberapa nama yang direkomendasikan om saya itu. Akan tetapi respon yang saya dapat adalah; mereka kebingungan karena nama itu tidak pernah ada dalam memori otak mereka.

Saya segera menanyakan kembali ke om saya. halah, rupanya beliau mengira saya ada di kantor imigrasi propinsi. Nama-nama yang beliau sebutkan itu adalah mantan staffnya di imigrasi propinsi. Akhirnya keluarlah dua nama yang harus saya hubungi di kantor ini setelah paman saya terlebih dahulu menelfon mereka.

Si Bapak kepala bagian yang tadi tempat saya bertanya turun langsung mengurus passport saya agar bisa diambil saat itu juga. Dan taraaaa….! Passport hijau sudah di tangan saya dengan waktu pengurusan tidak lebih dari 3 jam!. Selain itu petugasnya sama sekali tidak ribet (karena saya punya koneksi om saya).

Dengan hati riang saya, jalan-jalan dulu melakukan city tour sambil menunggu jadwal keberangkatan bus. Passport di tangan, saya merasa bebas. Tinggal koprol dan ngesot aja tuh ke Thailand. Tinggal lompat ke Swiss!



Murah



Saya sedang bosan sekali dengan koleksi bermuda saya yang kian hari kian bertambah. Sudah banyak, jarang terpakai pula. Bagaimana mau pakai bermuda,kalau pakai celana panjang saja masih dingin. Akhirnya bermuda-bermuda kebanyakan hanya menjadi penghias lemari dan jadi pakaian rumahan. Tadi pagi, terlintas ide untuk mix and match dengan menambahkan beberapa detail di bermuda terbaru saya. Bermuda baru ini potongannya bagus tapi detailnya kaku sekali,warnanya juga flat aja gitu.

Setelah menimbang dan menganalisis akhirnya saya memutuskan untuk menambahkan kancing-kancing. Menambah kancing merah dua buah di atas resleting sehingga kancing warna mocha itu diapit oleh dua kancing merah. Keren! Setelah itu kancing saku kiri kanan saya ganti juga dengan yang berwarna merah.

 Sebenarnya saya juga ingin logo brand di saku kiri dibordir merah. Akan tetapi dua tukang bordir yang saya datangi tidak sanggup mengerjakan permintaan saya. Ya, sudahlah. Yang penting sekarang bermuda saya tampil lebih ceria dengan detail kancing merah. Rencananya, kancing merah di kedua saku samping,mau saya padukan dengan kancing hijau dan kuning biar jadi merah,kuning, hijau. Akan tetapi toko dekat rumah tidak mempunyai persediaan warna itu.

Anyway, tulisan saya di paragraf sebelumnya itu hanya pembuka. Sepertinya terlalu panjang. Ya, maaf. Saya memang selalu bersemangat kalau berbicara tentang bermuda.

Sebenarnya saya mau menulis yang nyambung dengan judul yang saya tulis itu; murah!

Jadi, saya menunggu tukang jahit menyelesaikan kancing-kancing itu sambil mengetik tulisan ini di BB. Ketika kancing-kancing merah cantik sudah terpasang, saya mengeluarkan dompet untuk membayar.

"Berapa bu?
"Seribu mas (seribu rupiah maksudnya, bukan seribu dolar)"
"Hah? Beneran seribu bu?
"Iya mas, seribu saja"
"Dua ribu aja bu ya? Kata saya seraya menarik selembar dua ribuan di kantong terluar dompet saya.

Bayangkan, ibu itu menghargai keahliannya memperganteng bermuda saya dengan hanya 1,000 rupiah. Padahal apa yang bisa dilakukan dengan 1000 rupiah zaman sekarang?

Ketika kita menghargai diri kita murah,maka kita akan tercitra murah dan susah untuk menaikkan harga lagi. Ini berlaku dalam bisnis dan juga dalam kehidupan keseharian. Kita harus pede dengan produk maupun skill yang kita punyai. Banyak produk bagusyang dihargai murah dan sebaliknya produk yang kurang bagus tapi dihargai mahal. Contohnya bermuda yang saya pakai, produk ini tidak terlalu bagus menurut saya, tapi toh saya tetap membelinya karena saya sudah terlanjur terpikat dengan logo brand yang tersemat entah di mana. Akan tetapi mereka pede menjual mahal yang kalau ibu saya tahu, beliau bisa geleng-geleng kepala. Kalau kita menghargai diri kita tinggi, orang juga akan menghargai diri kita tinggi.

Pengalaman serupa juga saya alami ketika saya naik becak di Cirebon setelah turun dari bus dari Jakarta. Jarak yang saya tempuh cukup jauh. Tukang becaknya juga sudah renta. Ketika sampai di tempat tujuan saya sudah was-was saja karena uang di kantong saya pas-pasan sekali. Ketika saya bertanya harga dengan perasaan was-was tukang becak itu hanya menyebut angka 10 ribu rupiah. Saya terkejut. Karena merasa tidak pantas membayar segitu, saya membayarnya dua kali lipat. Tukang becak itu menerimanya dengan sangat sumringah sambil mendoakan saya. Saya yang murah air mata ini tentu saja mewek.

Teman-teman saya juga kaget ketika pertama kali datang ke Malang untuk menuntut ilmu. Mereka kaget dengan harga makanan yang murah. Kos-kosan yang murah dan nyaman. Jajanan yang juga murah. Kafe yang murah. Dan pengalaman saya tentang kaget murah ini semuanya terjadi di Jawa.

Efeknya, saya juga suka kagetan ketika membayar sesuatu entah itu makanan ataupun jasa di kota-kota di luar jawa. Mahal bo! Di Padang misalnya, kamar kos 120.000 di Malang dihargai sampai 500.000. Itu kamar kosong tanpa fasilitas apa-apa. Sedangkan di Malang, harga 120.000 sudah termasuk tempat tidur, lemari dan meja belajar.

Tentu saja semua harga tadi berlaku karena hukum supply and demand. Akan tetapi untuk kasus di Jawa sepertinya tidak sepenuhnya begitu. Barang murah karena karakter umum masyarakat yang bersahaja dan pemurah. Dan sebagai konsumen, tentu saja saya ingin harga yang murah dong. Jadi, ibu tukang jahit, mbok tukang pecel, tukang warung, mas manager cafe dan kakek tukang becak, jangan gara-gara tulisan ini kalian menaikkan harga ya. Stay bersahaja deh:)

Monday, September 5, 2011

Melepasmu Pergi

Suasana perpisahan tengah mewarnai. Seandainya ia mempunyai bau,pasti aromanya semerbak bersama hembusan angin sore ini. Aku tidak perlu berusaha keras menginderainya. Ia telah menyapa semua inderaku,bahkan ia telah menghujam ke dalam dada. Mencipta getarigetar pilu. Ia menstimulasi kelenjar air mata sehingga air bening itu perlahan-lahan menganak sungai di pipiku.

Perpisahan selalu menyisakan kesedihan bagiku. Apalagi bepisah dengan kamu. Kamu yang begitu istimewa. Kamu yang begitu luar biasa. Kepergianmu menyisakan sesak di dadaku. Sesak karena aku begitu menyesal. Menyesal karena aku merasa belum maksimal bermesraan denganmu. Menyesal karena terkadang aku mengabaikannmu dan mementingkan yang lain. Aku ingin memelukmu erat dan tak membiarkanmu pergi. Aku ingin mencumbumu lebih mesra. Aku ingin berbaring lebih lama dalam pelukanmu. Aku ingin menghabiskan malam yang lebih panjang bersamamu. Lebih panjang dan lebih mesra.

Tercenung aku memandangi lembayung sore ini. Jingga yang biasanya mempesona sekarang terasa sendu. Sebentar lagi aku harus melepasmu bersama senjakala. Aku tidak bisa berjanji untuk tidak menangisimu.

Kamu bilang kamu akan kembali menemuiku. Tapi tetap saja aku bersedih. Masalahnya aku tidak yakin akan bertemu denganmu lagi. Aku hidup atas kuasa yang mengendalikanku. Aku tidak memegang kendali atas diriku. Ada yang lebih kuat di atas sana.

Sebelum kau benar-benar pergi. Bergegas aku meninggalkan jendela yang memantulkan cahaya jingga. Kubasuh muka, tangan dan kakiku. Merasakan kesegaran air yang mengaliri anggota tubuhku, sebersit harap menguat di dadaku. Aku harus melepasmu dengan cara terbaik kekasihku.

Perlahan aku bersimpuh merendahkan diri dengan ketulusan yang luruh bersama air mata. Aku luruh dalam untaian-untaian indah surat cinta-Nya. Tersendat di waqaf-waqaf pemberhentian. Dari satu waqaf ke waqaf lain aku terus melaju. Inilah cara terbaik yang kupikir untuk melepasmu.

Aku memohon kepada-Nya untuk dipertemukan lagi denganmu. Aku memohon kesempatan untuk bisa bermesraan lagi denganmu. Dalam tangis kutumpahkan segala sesal. Dalam tangis aku memohon dengan sangat. Dalam kelemahan diri aku bersimpuh dan melepaskanmu pergi bersama pendar cahaya jingga sore ini. Segenggam asa di dadaku untuk pertemuan yang lebih baik lagi kekasihku.

Temui aku tahun depan Ramadhanku.
Happy Ied everybody.

Sambori, 29 Agustus 2011

Tuesday, August 2, 2011

10 Kuntum Melati


Pagi ini saya melangkahkan kaki keluar pagar. Kondisi saya tidak terlalu fit. Selain flu yang sangat mengganggu,mata juga rasanya agak perih. Dehidrasi juga karena persediaan minum habis. Selain itu, staf saya belum menyediakan beberapa file yang saya butuhkan hari ini. Semua itu berakumulasi menjadi satu bersekutu menurunkan bar semangat saya beberapa level.


Ketika akan melangkahkan kaki keluar, langkah saya terhenti di samping rumpun melati yang tumbuh tinggi merambat ke tembok. Kuntum-kuntum putihnya tenngah bermekaran menebarkan ruap wangi yang khas. Saya memejamkan mata dan menghirupnya dalam-dalam. Puas memanjakan indera penciuman, tangan saya bergerak meraih kuntum-kuntum putih itu. 10 kuntum melati sekarang ada di tangan saya. Sepanjang jalan saya menghirup aroma 10 kuntum melati di tangan saya.


Sesampai di ruangan kelas, saya meletakkan kuntum-kuntum melati itu di atas meja. Seorang peserta menyeletuk; wow,orchid! Saya tersenyum sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruaangan. Seberkas sinar brpijar di kepala saya. Sekarang semua mata peserta tertuju kepada 10 kuntum melati yang saya taruh di atas meja. Saya sudah mendapatkan perhatian mereka.


"Anyone know what we call this flower in English?" Saya bertanya sambil mengacungkan sekuntum melati. Sebagian besar peserta menjawab dengan benar.


"Okey, anyone of you want to describe us about this flower?" Saya bertanya sambil tersenyum memandang mereka satu per satu.


Salah seorang peserta perempuan yang duduk paling depan mengacungkan tangan dengan cepat sambil berdiri dari tempat duduknya. Saya menyerahkan kesepuluh kuntum melati itu ke tangannya. Sekarang 10 kuntum melati telah berpindah tangan. Dia menangkupkan telapak tangannya yang berisi melati ke hidung dan menghirupnya sejenak. Kemudian dia mulai bercerita menjelaskan seluk beluk bunga yang menjadi bahan banyak fragrance terkenal itu. Peserta lain berlomba-lomba berbicara ketika dia mulai menceritakan tentang bunga melati dan adat pernikahan di jawa. Salah seorang bapak-bapak menyeletuk;


"Did u spread jasmine blossom on your bed after wedding"? Oh, rupanya yang sedang bercerita adalah pengantin baru.

Peserta lain serempak menyahut keras "kick Eddy!! Sambil mencibir ke arah pak Eddy.


Start shoot yang antusias dan atraktif ini mempengaruhi keseluruhan sessi kelas. Sampai sessi bussiness talk di akhir kelas, performance mereka sangat bagus sekaligus menghibur. Saya tidak bisa berhenti tertawa menyaksikan peserta yang kocak dalam performance mereka. Tapi kekocakan itu tidak meninggalkan core inti training. See, kalau kita kreatif, mengelola speaking class akan sangat menyenangkan.


10 kuntum melati yang menyegarkan hari saya. Kuntum melati yang telah menyegarkan kelas saya. 10 kuntum kecil yang berefek besar. Alat yang kecil akan berefek besar kalau kita melihatnya bukan hanya dari fisik kecilnya. Perlu pikiran yang tidak tersekat dan berorientasi. It's about the man behind the gun!

Friday, July 8, 2011

Berbuka Puasa Bareng Mak-Mak; Terpesona dengan Om Keren


Kemarin sore saya berbuka bersama dengan Kak Dian dan Mbak Nita. Sudah satu bulan ini kita sepakat untuk terus menjaga puasa Senin-Kamis dan berusaha untuk berbuka bersama. Setelah mutar-mutar cari dompet dan tas, kita berlabuh di Salt and Pepper. Sebenarnya rencana awal kita mau berbuka di Pempek Palembang, tapi begitu di ujung escalator ada x-banner promosi dari Salt and Pepper, kita (lebih tepatnya duo mak-mak itu) sepakat untuk makan di Salt and Pepper saja. Saya sih setuju saja, soalnya belum ada satu pun diantara kita yang pernah makan di tempat itu.


Instead of berzikir dan tilawah untuk menunggui berbuka puasa, kita malah sibuk berdebat mana yang lebih cantik Shanty dan Mulan Jameela. Menurut saya mulan Jameela itu sama sekali tidak cantik. Menurut mereka justru Shanty lah yang tidak cantik. Eh, si Mbak Nita nyeletuk pula kalau Ariel nya Luna Maya itu ganteng. Hah? Terang saja saya kesedak. Nggak ada satu unsurpun dari Aril yang membuat dia berhak dibilang ganteng kecuali karena dia laki-laki. Menurut saya yang cakep itu si abang Marcel Siahaan, Surya Saputra, Ari Sihasale dan Ario Bayu. Pokoknya intinya kita tidak berdzikir deh.


Perdebatan siapa ganteng dan siapa cantik yang bergaya anak ABG labil itu terhenti ketika mata saya tertumbuk kepada seorang bapak-bapak yang tengah asyik menekuri laptopnya di depan sana. Usianya sepertinya telah memasuki kepala lima tapi tampangnya masih segar dan penampilannya menarik. Ia mengenakan Polo T-shirt warna biru strip putih dan blue jeans serta sandal jepit. Sangat santai. Akhirnya perhatian kita semua tertuju kepada bapak yang tengah asyik dengan laptopnya itu.


Saya : kalau saya sudah tua nanti saya mau seperti bapak itu.

Mbak Nita : ????

Saya : Saya mau tetap akrab dengan laptop, tetap setia sama blue jeans, dan tetap suka nongkrong sendiri di kafe! Pasti bapak ini tipe orang yang kalau bertemu bawahan suka menyapa akrab sambil nepuk-nepuk pundak.

Mbak Nita : (Angguk-angguk kepala)

Saya : Lihat, dia familiar loh sama lagu yang sedang diputar itu ( lagunya Sherina sedang mengalun di Salt and Pepper). Igh…dia beneran keren banget deh!


Saya tengah mengarahkan kamera saya ke arah bapak itu ketika tiba-tiba dia menoleh ke arah saya. Merasa tertangkap basah saya melengos malu. Mbak Nita nyuruh saya minta izin langsung saja sama bapak itu terus kenalan dan ngobrol-ngobrol. Hah? Tidak! Saya malu. Tapi lama-kelamaan saya semakin penasaran dengan bapak gaul kami itu. Apalagi dia mulai merokok. Asap rokoknya mengepul berputar-putar di depan mukanya membuatnya semakin menarik.



Berapa kali saya membatalkan untuk menghampirinya walaupun saya sudah berdiri dari tempat duduk saya. Rasa penasaran itu akhirnya mengalahkan semua malu dan sungkan saya. dengan sedikit grogi saya menghampiri bapak itu. Mbak Nita dan Kak Dia hanya melongo melihat saya yang tiba-tiba melesak ke arah om itu. Saya tidak tahu apa yang mereka pikirkan.


"permisi Om" saya menyapa dengan senyum lima jari terpasang di muka

"Iya" si om keren mengalihkan muka dari laptopnya dengan senyum yang sangat simpatik.

"saya boleh mengambil foto Om nggak" saya bertanya dengan harap-harap cemas.

"Saya kan sudah tua"

"Nggak apa-apa Om! Boleh ya" saya merasa dia tidak menolak sama sekali

Si Om keren menganggukkan kepala sambil tetap tersenyum.

Saya segera menyiapkan kamera dan menarik kursi di dkat om dan mulai bekerja dengan kamera saya. Si Om itu tetap dengan gayanya yang membuat penasaran tadi. Tia seolah-olah tidak peduli dengan kamera yang tengah menyorot ke arahnya. Tapi saya bisa menangkap kalau dia sebenarnya sangat sadar kamera. Gerakan tangannya memegang rokok dan menghisapnya sebenarnya adalah sebuah pose yang tengah dia buat tapi tidak kentara.


Jepret, jepret, jepret!

Setelah mengucapkan terima kasih kepada model om keren itu saya segera kembali ke meja saya dengan senyum kemenangan yang disambut tawa sama Mbak Nita dan Kak Dian. Mbak Nita memberondong saya dengan pertanyaan penuh rasa penasaran. Saya teteap tersenyum-seyum sambil memperlihatkan hasil jepretan saya.


Inilah om keren model saya sore itu. Sebenarnya lelaki dengan tampilan fisik seperti ini banyak kita temukan di mana-mana. Akan tetapi pembawaannya benar-benar berbeda dan membuat penasaran. Kharismatik? Tenang? Atau memang sangat kebapakan? Ah, seperyinya gabungan ketiga-tiganya.


Tuesday, July 5, 2011

Panduan Hidup Mahasiswa baru di Kota Malang; Welcome!

Memasuki tahun ajaran baru seperti ini jumah penduduk Malang naik drastic berlipat-lipat. Bukan karena masyarakatnya hobi melahirkan, akan tetapi serbuan mahasiswa baru yang ingin menimba ilmu di Kota berhawa sejuk ini puluhan ribu jumlahnya. Mereka datang dari berbagai daerah di pulau jawa maupun luar jawa. Malang sudah lama menjadi kota pilihan tempat studi karena memang di kota ini terdapat pulhan perguruan tinggi termasuk di dalamnya 4 perguruan tinggi negeri; UIN Maulana Malik Ibrahim , Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang dan Politeknik Negeri Malang. Kampus swasta seperti UMM dan Ma Chung University juga tak kalah kerennya dengan kampus negeri. Malahan dalam beberapa hal mereka lebih unggul.


Malang menjadi pilihan tempat studi karena suasananya yang memang sangat kondusif untuk belajar. Tak heran ia menyadang julukan kota pelajar. Warnet-warnet terdapat hampir di tiap gang dan kompleks ruko. Bagi yang membawa lapto, akses internet terdapat dimana-mana. Mulai dari hotspot free di kampus-kampus sampai kafe-kafe yang meyediakan akses internet via wifi gratis. Bahkan warung makan kecil di mulut gang pun menyediakan wifi gratis. Dan jangan lupa,kota Malang mempunyai sebuah perpustakaan umum yang besar dengan koleksi buku yang super lengkap dan up to date.


Selain fasilitas tadi, biaya hidup di kota ini cukup terjangkau untuk ukuran mahasiswa. Mau cari kos dengan budget 100 ribu per bulan? Ada! Makan enak dengan modal 3 rebu? Bisa!! Dengan modal 10 rebu, kamu sudah bisa menonton film kesayangan kamu di XI.


Kalau butuh refreshing akhir pekan setelah seminggu berjibaku dengan kuliah, tempat rekreasi bertebaran dimmana-mana karena Malang juga menjadi tempat berakhir pekan buat masyarakat Jawa Timur. Dari pemandian air panas sampai dengan wahana wisata modern tersedia dengan tiket masuk yang sangat-sangat murah.


Bagi kamu yang akan memasuki perguruan tinggi tahun ini, ada beberapa hal yang harus kamu siapkan. Kamu harus menyiapkan jaket sebagai salah satu fashion item yang wajib. Bulan Juni sampai dengan September adalah masa dimana suhu di Kota malang berada pada titik terendah. Apalagi kalau malam hari. Kalau mau hidup nyaman, siapkan selimut tebal dan jaket. Beli di malang juga bisa kalau mau lebih praktis. Distro-distro dengan koleksi fashion yang up to date bertebaran dengan jarak tidak lebih dari 100 meter. Mulai dari yang high class sampai yang murah meriah dengan koleksi sejuta umat.


Buat keperluan kuliah juga mudah di dapat. Took-toko Buku besar maupun kecil bertebaran. Dan hampir sepanjang tahun, ada saja event book fair tempat mendapatkan buku dngan harga obral. Selain itu, terdapat satu kompleks khusus yang menjual buku-buku second hand. Toko Buku diskon Toga Mas juga terdapat di kota ini.


Nah, sekarang kamu tinggal packing dan segera datang ke Kota Malang. Lots of fun awaits…!!

Tanjungpinang Trip; jalan Bareng Mak-Mak

Bar semangat dan bahagia saya sedang penuh. Ada banyak hal yang ternyata luput dari perhatian saya yang seharusnya membuat saya bahagia dan bersemangat. Saya bersyukur karena sekrang sudah menyadari dan menjadi booster semangat saya. Selain hal-hal kecil yang terabaikan tadi, satu anugerah yang membuat saya bahagia adalah karena memdapatkan seorang teman. Thanks berat seberat barbell 30 kilo deh buat Kak Dian Prima yang sudah mengenalkan saya dengan Nyonya Jumi the expat's wife itu. Baiklah, untuk membuat the expat's wife merasa muda kita ganti saja panggilan nyonyo dengan mbak ya. Sungguh, saya senang sekali bisa ngobrol-ngobrol sama beliau. Tapi pertanyaannya, beliau senang nggak ya? Hehe…anggap saja senang.


 

Setelah pertemuan pertama yang diisi dengan nonton "Serdadu Kumbang"nya Ari Sihasale, kami sepakat bertiga untuk jalan ke Tanjung Pinang. Membayangkan akan melakukan perjalanan melintas perairan, saya senang sekali. Prinsip saya, kalau jalan-jalan naik perahu, pasti bakal menyenangkan.


 

Ketika Kak Dian dan Mbak Nita the expatsSaya sudah siap dengan sling bag besar berisi kamera, buku, majalah dan perlatan 'kegantengan' serta tidak ketinggalan 1 botol air minum ukuran 1 liter berwarna hijau ngejreng dari Tupperware yang belakangan ini menjadi barang bawaan wajib saya kemana-mana. Sementara Mbak Nita sudah menyiapkan satu kotak kacang telor yang sumpah enak sekali di kotak tupperwarenya. Kotak Tupperware warna ungu beliau terus-terusan nangkring di pangkuan saya dan menjadi saksi kekatifan tangan dan mulut saya yang mencomot kacang tanpa jeda. Ternyata enak ya, jalan sama mak-mak:)


 

Memasuki kabin boat, hawa dingin langsung menyerang. Hfffhhhh….seharusnya saya membawa jaket atau minimal ham deh. Masalahnya saya tidak tahu kalau bakal berada dalam boat tertutup dengan AC yang menggigit begini. Seat terisi penuh dengan penumpang segala macam rupa. Ada ibi-ibu dengan anak-anak kecil yang tangannya aktif seperti saya; suka bantuin nyomot kacang dari Tupperware. Ada bapak-bapak yang tampaknya gold eddicted dengan dandanan eksekutif. Atau pejabat? Ah, mungkin dua-duanya.


 

Dengan nista saya diam-diam memandangi bapak berperut buncit yang menggenggam dua smart phone sekalgus itu. Jam tangannya berwarna emas menyala. Ada dua cincin emas berkilau-kilau di masing-masing jari manis kedua tangannya. Sya masih bertanya-tanya, mengapa sih namanya jari manis? Kenapa bukan jari cincin saja? Atau karena si jari itu dipakaikan cincin terus jadi manis? Wah, sepertinya penyebutan itu itu tidak cocok dialamatkan kepada jari laki-laki deh. Buktinya si Bapak itu walaupun sudah memakai dua cincin sekaligus, besar-besar pula, tapi jari-jarinya tidak tampak manis sama sekali. Kembali saya menelusuri aksesoris yang melekat di Bapak emas itu. Saku bajunya juga dihiasi dengan pulpen berwarna emas. Di lehernya juga mengintip malu-malu kalung emas segede rantai kaleng bisuit lebaran zaman saya kecil dulu. Tidak cukup sampai di situ, ketika saya menuju geladak untuk beraksi dengan kamera, saya melihat si bapak juga sedang berdiri di geladak sambil menghembus asap rokoknya dengan nikmat. Dan rokok itu pun berbungkus dengan kertas timah emas di setiap batangnya. Sepertinya bapak itu anggota sekte pemuja emas.


 

Beridiri di geladak menyaksikan laut yang terbelah karena dilewati oleh badan boat yang melaju kencang sangat menyenangkan. Laut biru,langit biru! Kita memang harus bersyukur ditakdirkan tinggal di Indonesia. Pengen merasakan perjalanan laut dengan pemandangan spektakuler begini saja tidak perlu menunggu liburan panjang dan terbang melintasi benua. Cukup berkunjung ke pulau tetangga dengan jarak tempuh tidak lebih dari satu jam.


 

Melangkahkan kaki keluar dari gerbang pelabuhan Tanjungpinang, saya merasa mendadak jadi seleb. Ada banyak orang yang melambai-lambaikan tangan dan memanggil-manggil. Ada juga yang langsung datang mengerubuti. Woiiii…wake up man! Itu tukang taxi yang berebut menawarkan jasa. Sesuai dengan pesan keramat yang kita jaga, bayar Taxi tidak boleh lebih dari Rp. 20.000. Tapi saya tidak membayangkan kalau kalau Mbak Nita the expats wife bakal sesadis itu menawar taxi; 20 rebu, take it or leave it! Love his way! Hoho….si Bapak Taxi tanpa banyak cingcong langsung membawa kami meluncur menyusuri jalanan sepanjang pantai menuju gubernuran tempat teman saya akan menyelsaikan urusannya sebelum kita city tour.


 

Kantor gubenrnur Kepri terletak di atas sebuah bukit kecil yang membuat kita leluasa memandang ke penjuru kota. Menunggu ibu-ibu itu menyelesaikan urusannya, saya memilih nongkrong di kantin gubernuran. Dari hanya tertarik mencoba ngopi di bawah payung-payung di bawah kerindangan pohon keinginan saya bergeser ke mencoba soto yang sepertinya menggoda seperti yang dilahap oleh bapak-bapak di sebelah saya. Wow! Rasanya boleh juga. Berbeda dengan rasa soto-soto di Jawa. Kuahnya juga berbeda.


 

Urusan selesai, saatnya makan-makan. Melalui panduan referensi terpercaya yang ditelfon bolak-balik berulangkali karena kami sempat bingung ketika sampai di simpang enam. Oalah…ternyata restoran yang dituju hanya berapa koprolan saja dari kantor gubernur. Sebuah restoran yang menyajikan makan secara prasmanan. Otak saya sudah bersorak-sorak melihat seafood dengan berbgai olahan yang seperti berlomba-lomba berteriak minta dicicipi.


 

Dengan pertimbangan tidak mau ribet, saya memilih makan cumi-cumi dengan kuah hitam pekat. Satu jenis makanan yang tidak boleh dilupakan kalau anda makan makanan khas suatu daerah. Sambal! Saking sukanya sama sambal, saya sering memaafkan rasa makanannya kalau sambalnya enak. Itu buah dari pengalaman 3 tahun tinggal di Lombok. Di restoran ini ada tiga pilihan sambal yang karena bingung memilih yang mana, saya ambil ketiga-tiganya. Di sambal yang pertama lidah saya langsung mendeteksi rasa nanas yang segar. Hmmm…saya suka yang ini. Sambal kedua cukup familiar; rasa udang-udang kecil yang lebih kecil dari ebi yang kalau di kota saya disebut sepi (dibaca seperti membaca 'semi' pada kata 'semi permanen'). Sambal yang ketiga yang paling pedas. Berisi irisan bawang merah dengan aroma ikan yang menggigit. Sayangnya saya lupa nama setiap jenis sambal itu. Tapi kalau anda ke Tanjungpinang, wajib dicoba.


 

Saya agak menyesal karena makan soto sebelumya. Akibatnya perut saya tidak bisa lagi mengakomodir keinginan otak saya untuk mencicipi makanan-makanan laut yang membuat ngiler itu lebih banyak lagi. Akan tetapi kami masih sempat mencomot beberapa potong kue untuk bekal dalam perjalanan pulang. Biasa mak-mak. Harus tetap jinjing sana dan sini. Dan saya bersyukur dengan kebiasaan bagus banget itu. Saya nggak bakal kelaparan.


 

Hari sudah beranjak sore ketika kami kembali menyusuri jalan di tengah kota Tanjungpinang. Dengan pertimbangan bijak dari dua orang mak-mak teman perjalanan saya, kita memutuskan untuk segera kembali pulang ke pelabuhan agar bisa menyeberang kembali ke Batam sebelum hari gelap. Tapi kami menyempatkan untuk duduk-duduk ngopi ganteng di pinggir pantai yang tidak landai tapi berangin sepoi asoy geboy itu. Sebuah keputusan yang dikutuk oleh salah satu mak-mak setelah hujan dengan lebatnya mengguyur pantai. Kalau saya sih malah senang banget. I love rain! Hujan selalu memberi saya syahdu.


 

Walaupun ada sedikit tragedi lupa yang selalu menghampiri saya kalau sedang trance dengan rasa senang ketika jalan-jalan, perjalanan kali ini sangat menyenangkan. Kali ini saya meninggalkan botol minum Tupperware kesayangan saya di restoran. Dengan tersipu-sipu malu yang membuat saya tambah ganteng kinyis-kinyis (oke, bagi yang tidak setuju, harap maklum dan diam), saya harus kembali naik angkot untuk menjemput si Tupperware itu.


 


 


 


 

Monday, July 4, 2011

Sexy Bermuda

sexy bermuda kreasi saya

Tinggal tidak sampai dua bulan di Batam membuat saya harus mengeluarkan duit yang cukup banyak untuk pakaian. Itu berawal dari konsep light traveling yang saya anut. Akan tetapi ternyata light traveling itu sekarang mulai bermasalah. Sebelumnya saya selalu enjoy dengan konsep itu karena saya hanya membawa satu backpack berisi laptop dan sling bag dari zaman kuliah dulu. Saya selalu menghindari membawa travel bag besar dan luggage dari dulu. Nggak mau ribet ketika jalan. Akan tetapi ribetnya light traveling gaya saya itu waktu packingnya. Maunya banyak tapi yang muat nggak bisa sebanyak itu. Akhirnya si sling bag itu kembung sana-sini karena kebiadaban saya menjejalkan barang-barang sampai tasnya tidak berbentuk.


Saya mulai tidak enjoy lagi ber light travelling sejak sampai di Batam ini. Saya tidak tahan memakai baju itu-itu saja. Saya merasa miskin dan tidak bersemangat. Apalagi setiap jalan dan ketemu turis-turis negeri tetangga yang kaus dan bermudanya selalu membuat iri. Bermuda-bermuda keren dengan potongan yang pas. Kaus-kaus v-neck dengan belahan dada rendah. Sebenarnya saya punya persediaan bermuda 7 biji. Lebih banyak daripada jeans yang menjadi pakaian keseharian. Tapi seperti kebanyakan pakaian saya, semua koleksi itu saya tinggal di Malang.


Seharian kemarin saya keluar masuk mal cari bermuda yang keren. Sampai kaki gempor, tidak ada satupun yang mengena di hati. Di tengah lutut gempor dan capek, saya segera menyetop Taxi dan pulang. Saya semakin mantap dengan ide saya.


Begitu sampai di kamar, saya segera meraih jeans di gantungan dan memakainya. Setelah mengukur-ukur, saya meraih gunting dan cekrek, cekrek, cekrek!


Voila….! Sebuah bermuda sexy tercipta. Dengan sedikit senthan lipatan, bermuda itu melekat manis berpadu dengan kaus v-neck dan hem putih yang kancingnya dibiarkan terbuka. Bukan hanya sexy, bermuda ini eksklusif karena setahu saya brand jeans ini tidak mengeluarkan koleksi bermuda. Nggak khawatir deh dikembarin bapak-bapak lagi. Ini jeans kedua yang menjadi korban saya.


Akan tetapi ke depannya saya harus membawa luggage besar kalau harus business travel lagi. Light travelling tidak cocok untuk business travelling pada pekerjaan saya. Karena tidak punya persediaan baju yang pas, saya pernah harus ketimpringan cari baju di mal 1 jam sebelum bertemu orang. Ketika harus berbicara di training juga saya terkena korban beli dua batik dapat diskon. Setelah saya pikir-pikir, light travelling hanya cocok untuk holiday traveling deh. Tepatnya holiday traveling ke bali yang hanya membutuhkan kaus dan bermuda plus swimwear.

Thursday, June 30, 2011

Alhamdulillah, I was not Born as A Shopaholic


Saya baru tahu kalau hari ini hari libur resmi. Maklum bukan PNS. Kebiasaan baru saya kalau sedang libur adalah berdiam diri di kamar dengan setumpuk buku atau nonton ulang dorama yang berepisode-episode itu dengan pakaian seadanya. Inilah saatnya menikmati 'the art of doing nothing'. Akan tetapi siang teman ngebuzz YM saya ngajak jalan untuk makan siang. Saya sebenarnya baru selesai makan siang ketika online di YM. Tapi karena ada embel-embel jalannya, saya sambut dengan riang gembira. Tidak sampai 15 menit kemudian saya sudah meluncur bersama dua gadis yang mau makan siang saja mesti ke ujung kota.


Hari libur begini memang orang-orang sedang ingin makan-makan yang berbeda dengan kesehariannya. Di tempat tujuan pertama yang katanya punya sambal hijau ueennnak banget itu makanannya sudah habis. Setelah berdebat mana yang bagus antara fastfood ABC dan Fasfood EFG akhirnya mobil berhenti di depan warung bakso. Hehe…nggak nyambung ya? Tapi begitulah.


Ketika diantar pulang, saya minta di drop di Mega Mall saja. Mau mampir ke supermarket buat beli susu telur sama buah. Saya harus sering membeli susu akhir-akhir ini. Susu yang saya beli paling cuma bisa bertahan sehari setelah ditaruh di kulkas. Saya sering kesal pagi-pagi begitu mendapati kotak susu saya kosong melompong. Entah setan ompong mana deh yang doyan ngembat susu orang. Padahal kan saya sudah siap dengan telur dan bahan-bahan pancake buat bikin sarapan. Hehe…sorry curcol sedikit.


Begitu memasuki pintu selatan mal, saya langsung disambut cowok ganteng yang senyum-senyum mulu. Eits…saya tidak mau digoda cowok lagi. Kucek-kucek mata, eh ternyata si store manager butik langganan saya, Celcius. jadilah saya ditarik masuk butiknya dan dipamerin baju-baju dan jeans keren dengan diskon gila-gilaan. Asem! Padahal kemarin saya sudah bisa menghindari baju incaran saya yang sebelumnya selalu mengganggu pikiran itu.


Jadi ceritanya saya hampir beli kemeja biru yang menurut saya keren banget. Saya sedang berusaha kabur dari warna merah dan variantnya yang banyak menempel di badan saya. Setelah berkali-kali di fitting room, baju itu menempel dengan sempurna di atas kulit saya yang exotic dark caramel itu. Si Mbak pramuniaga sudah membuatkan saya nota dan tinggal dibayar ke kasir. Tuing! Otak saya langsung mengingatkan saya tentang financial planning yang saya buat. Otak saya menang dan kemeja keren tidak jadi dibeli. Lega.


Sesampainya di rumah, si kemeja keren kembali membayang di benak. Saya merasa rugi karena tidak jadi membelinya karena sudah lama saya mencari kemeja seperti itu dan belum dapat-dapat. Besoknya, setelah makan siang saya jalan bareng Mbak Nita dan Kak Dian ke Mega Mall. Saya paksa mereka buat meliat baju yang mengganggu pikiran saya itu. Ternyata kata mereka baju itu biasa banget. Eh, setelah saya lihat lagi, saya juga merasa baju itu tidak telalu istimewa. Jadi dia tidak pantas dibanderol dengan harga segitu. Akhirnya baju itu tidak terlalu mengganggu saya walaupun semua detailnya masih saya ingat dan kadang-kadang suka membayangkan saya memakai blue jeans, blue sling back, blue sneaker plus baju biru keren itu.


Kembali ke butik Celcius. Ternyata saya tidak tahan melihat baju-baju incaran saya itu dibanderol dengan setengah harga. Ah, nggak ada salahnya deh beli satu saja. Lagipula saya tidak punya kemeja warna putih. White good shirt kan the must have item for a man's closet ya.


Keluar dari butik itu, saya teringat sama teman saya Indra yang juga pernah sangat menginginkan baju itu ketika kami jalan-jalan di sela annual meeting di tasikmalaya kemarin. langsung saja saya mengirimkan SMS profokatif tentang kemeja itu. Sambutannya singkat dan padat; if you think it's good I believe it's really good. I trust your taste. Take me one.


Kenapa tidak mengabarkan teman yang lain juga. Akhirnya saya mengirimkan SMS serupa dengan bahasa yang berbeda kepada tiga orang teman. Semuanya merespon. Dan satu orang langsung minta dibelikan. Oke, saya harus shalat maghrib dulu biar tenang dan bisa pilih baju bagus.


Kembali ke Butik Celcius saya disambut bahagia oleh teman saya dan gadis cantik temannya yang mengaku berasal dari Padang. Kita panggil saja Uni feby. Gadis cantik ini sekilas mirip Aura Kasih. Memilih ukuran untuk Indra bukan masalah besar. Kami sama-sama penganut ramping itu gagah perkasa. Tapi memilih baju untuk Adhen teman sya yang satunya lagi butuh perjuangan keras, lelehan air mata, kucuran keringat dan genangan darah. Alah, lebay!


Pelanggan butik tidak terlalu ramai. Kesempatan yang tidak saya sia-siakn untuk foto-foto koleksi mereka. Lumayan ada dua model ganteng dan cantik yang oke-oke saja dijepret sama saya. Ngobrol ngalor-ngidul sambil memperhatikan pelanggan yang rewel minta ini itu. Ada yang sudah pas sama ukuran dan model bajunya tapi waranya terlalu gelap. Ada yang warna krem sudah dapat katanya kurang krem. Haha…saya seperti berkaca. Saya juga seperti mereka kok kalau belanja. Sampai adik sepupu saya malas jalan sama saya kalau belanja. Malu katanya.


Ada seorang mas-mas dari tadi mematut-matut baju berbagai model dan warna. Pakaiannya sangat mencolok dengan bentuk tubuh yang dua setengah kali ukuran tubuh saya. Polo t-shirt yang dikenakannya berwarna merah menyala senada dengan headset yang terkalung di lehernya. Celananya bermuda putih selutut. Hoh….Merdeka bung! Tangannya sibuk meraba-raba bahan baju. Di sela-sela raba-rabanya itu entah berapa kali dia keluar masuk fitting room.Puas menggerayangi baju, dia pindah ke jeans dan juga berkali-kali bolak-balik masuk fitting room seperti penderita diare masuk toilet. Akhir-akhirnya saya juga jadi gatal untuk membantu teman saya meyakinkan kalau pilihan jeans yang dia ambil itu bagus banget. Eh, dia malah curhat.


Katanya dia sudah mutar-mutar ke semua tenant dan department satu mal ini hanya untuk mencari jeans yang dia inginkan. Seleranya langka sekali ya?

Pramuniaga dadakan (saya : Emang cari yang kayak gimana

Mas-mas merah putih : Saya kan lagi nyari yang bisa dipakai ke kantor pas weekend. Jadi, kalau saya pulang kantor saya langsung bisa hang out tanpa harus pulang buat ganti baju dulu.

Pramuniaga dadakan : Yang ini boleh loh. Ini bisa masuk ke casual tapi juga masih bisa dipakai ke kantor (sok-sok jadi fashion advisor)

Mas-mas merah putih : Akyu sudah punya warna yang itu. Maunya yang warna krem gitu.

Pramuniaga dadakan : (mengitari pandangan ke seantero butik dan tidak menemukan warna yang diingini si Mas-mas merah putih). Aha….beli punya saya saja mas. Warnanya sama seperti yang diinginkan mas. Itu keluaran brand bla..bla…. saya jarang pakai karena saya lebih suka blue jeans blab ala bla…(hoho…otak dagang saya langsung main. Tapi jatuhnya mendapat delikan mata dari teman saya. delikan mata yang berarti; hoiii….ini butik loh ya. Bukan pasar loak!)

Mas itu banyak maunya. Saya jadi malas melanjutkan advise gratis saya. Setelah membuat sibuk sesisi butik dengan detail keinginannya yang tidak terpenuhi si Mas-mas merah putih itu akhirnya membeli sebuah ikat pinggang yang menurut saya nggak banget. Hey man…., you need a fashion advisor!


Nah, itu ada mas-mas berlesung pipit manis masuk. Dia langsung terpaku di depan kemeja dengan motif kotak-kotak dan sehelai pullover rajut warna biru yang saya juga ngiler melihatnya. Karena logika saya mengatakan saya tidak butuh pullover di kota yang panas sehingga saya sering membayangkan boleh berkeliaran dengan singlet dan bermuda aja.


Kedua teman saya tidak sanggup meyakinkan si mas-mas belesung pipit manis dengan cambang mirip Lucca Argentero pemeran Giovanni di Eat, Pray and Love. Dia sudah beberapa kali keluar masuk fitting room sampai akhirnya meraih sebuah kemeja kotak-kotak dengan warna yang sangat klasik dari Celcius sama dengan motif bermuda saya. Tapi ternyata dia tidak sreg dengan pilihannya itu karena ia ingin yang warna hitamnya diganti dengan biru dongker. Warna biru dongker dengan ukuran S kosong. Padahal ukuran M itu sudah pas melekat di badan dia. Rupanya dia penganut paham "M = XL seperti saya.


Sepeninggal mas-mas itu kami sibuk ngobrolin dua mas-mas pelanggan rewel tadi. Oopppss…seperti ini juga kali ya, para pramuniaga itu membicarakan saya ketika saya meninggalkan butik mereka. Haha…tapi prinsip saya kan ' what people talk about me is not my business'. Capek kalau harus memikirkan dan menelusuri semua apa yang dibicarakan dan tanggapan orang tentang kita. Entah deh kalau nanti saya jadi presiden kayak SBY yang suka curhat itu.


Setelah berdadah-dadah ria, saya meninggalkan Celcius. Bertambah satu lagi pekerjaan yang ingin saya coba. Kalau ada kesempatan di hari libur misalnya, saya ingin mencoba menjadi barista dan pramuniaga di butik (sebutannya apa ya?)


Begitu melangkah meninggakan Celcius, entah ada magnet apa, kaki saya ringan saja memasuki Levi's store tidak jauh dari Celcius. Bahaya ini. Dan benar saja, the tragedy happened!


To be continued.